Naruto punya Mbah Kishimoto bukan punya saya...

Tapi cerita ini punya saya kok, asli deh ciyus ... :3

Warning : Rated-M anak kecil dilarang masuk! Hati-hati ranjau typo!

Pair : SasuHina (always!)

Don't like must read!

chappie ini ga ada lemon, gomeeeennnnnn u,u

Nanti akan ada flashbacknya kok.

Flashback akan Coro-chan kasih underline loh, eh ga jadi ding

Karena banyak yang protes pake underline akhirnya coro-chan ganti pake italic sama dibold u,u

Coro-chan sengaja potong flashbacknya biar reader penasaran ;)

Chapter sebelumnya :

'Harusnya aku sadar Naruto-kun tidak akan melihatku. Dia bahkan menyapaku hanya untuk berbasa-basi saja. Sebatas formalitas'

.

"Aaaaaaaa! Dasar Naruto bodoh! Menyebalkan! Persetan dengannya, persetan dengan Sakura! Aku benci kaliaaaannn!"

.

"Suaramu sangat menggoda Hyuuga"

.

Bulu kuduk Hinata meremang saat dirasakannya sebuah kecupan mendarat di lehernya disusul dengan sesuatu yang basah menyentuh lehernya. Itu lidah Sasuke!

.

"Hentikannhh mmmhhh"

"Aku tau kau menikmatinya Hyuuga"

.

Ia bergairah sekarang, dan Ia butuh seks!

.

Hinata merasa lelah, dan dingin. Tubuhnya merosot turun menempel ke dinding bilik kamar mandi, tubuhnya terus tersiram air shower. Pandangannya menggelap.

.

.

.

.

.

"Miss Yamanaka! Sebaiknya anda mencuci muka anda sekarang juga!" teriak Anko-sensei saat mendapati Ino sedang tertidur lelap di bangku paling belakang.

Ino terlonjak kaget, Ia mengucek matanya dan berdiri dari kursinya.

"Gomen Sensei.." Ino sedikit menundukkan badannya dan berjalan keluar kelas.

"Hoahhmmm Anko-Sensei benar-benar mengerikan. Lain kali aku tidur ke UKS saja deh" gumam Ino sambil berjalan ke kamar mandi perempuan.

Ino memasuki pintu menuju ke kamar mandi perempuan, matanya menangkap genangan air yang cukup luas di salah satu sudut kamar mandi.

'Hmm sepertinya dari bilik nomer 2 deh'

Ino lalu berjalan mendekati bilik nomer 2 dan mengetuk pintu bilik tersebut dengan perlahan.

Ia mendengar guyuran shower dari bilik tersebut.

Ia mengetuk pintu itu sekali, dua kali, tiga kali namun pintu bilik tersebut tidak kunjung terbuka.

Iseng Ino mencoba mendorong pintu tersebut, ternyata pintunya tidak terkunci.

Ia membuka pintu bilik tersebut hingga terbuka separuh lebih.

'Kosong?'

Pikiran Ino dipenuhi adegan film horror yang kerap ditontonnya.

'Jangan-jangan ada hantu'

Ino mengusap lehernya yang terasa merinding.

Ino mendengar suara lirih dari balik punggungnya, dan ...

Tep...

Sebuah tangan pucat menyentuh bahu kirinya.

Ino melirik kebelakang dan...

Voila!

Ia melihat sesosok mahluk dengan muka pucat dan bibir yang membiru serta rambut yang acak-acakkan tengah menatapnya sendu.

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa"

Ino berteriak histeris lalu lari tunggang langgang menjauhi kamar mandi.

Sesosok mahluk itu menatap nanar kearah pintu keluar kamar mandi ketika Ino tak lagi dapat ditangkap retinanya.

Ia lalu jatuh terduduk dan mulai menangis.

"Hikss... pa-padahal a...a...akk-ku cu-cummaa mmau mint-ta tol..longg ..."

Bruuk...

Ia menjatuhkan seluruh tubuhnya yang basah ke marmer yang dingin.

Kepalanya pening ditambah dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat menjatuhkan diri ke lantai,belum lagi Ia dikira hantu rasanya sangat menyakitkan.

Tangan kirinya bergerak menutupi wajahnya.

Ia menangis dalam diam.

.

Sasuke berjalan menuju ke kelas, Ia melihat sosok Ino yang sedang berlari sambil terus berteriak tentang hantu kamar mandi.

"Keh dasar mahluk berisik"

Sasuke berjalan memasuki kelasnya dengan santai, Ia tahu Kakashi-Sensei pasti hanya memberikan tugas di kelas lalu pergi meninggalkan murid-muridnya.

Matanya menjelajahi seluruh ruangan kelas, namun sosok yang dicarinya tak jua ditemukan.

Nihil.

Hanya ada tas milik gadis itu.

Ia lalu berbalik dan berjalan menuju UKS.

'Mungkin dia ada disana' pikir Sasuke.

Sasuke membuka pintu UKS dengan kasar.

'Kosong...'

Namun seolah ingin memastikan Ia langsung membuka semua tirai yang berfungsi untuk memisahkan tiap-tiap ranjang.

Tetap tidak ada, matanya berkilat tajam dan dengan gerakan cepat Ia langsung menundukkan badannya dan melihat ke arah kolong ranjang.

'Cih kemana perginya si Hyuuga itu! Bagaimana mungkin Ia berjalan-jalan tanpa celana dalam?'

Tiba-tiba ingatan Sasuke melayang ke saat di menuruni tangga.

Apa mungkin yang di maksud hantu oleh Ino adalah Hinata?

Yah, Sasuke akui walau gadis itu manis tapi ia agak menyeramkan mirip sadako.

Sasuke langsung berlari secepat mungkin ke arah kamar mandi perempuan.

Ia membuka seluruh bilik yang ada namun tetap Ia tidak menemukan sosok Hinata di sana.

Ia mengacak rambutnya frustasi, dengan geram ia langsung membanting pintu kamar mandi dan bergegas menjauhi tempat itu sebelum ada yang memergoki dia.

Ia jelas tidak ingin dicap sebagai pria mesum yang gemar mengintip!

Dengan langkah lebar Ia berjalan melewati lorong tangga dan pandangannya menangkap sesosok manusia yang sedang tergeletak tak berdaya tepat di anak tangga kedua.

Matanya melebar, dengan segera Ia berlari menuju ke sosok tersebut.

'Sialan dia benar-benar merepotkan! Bagaimana mungkin Ia justru pingsan di tempat seperti ini. Dasar gadis bodoh!' Sasuke mengumpat dalam hati.

Ia segera menggendong sosok tersebut dengan bridal style, kemeja bagian depannya melembab karena bersentuhan dengan tubuh basah milik si gadis Hyuuga yang saat ini sedang pingsan dalam gendongannya.

.

Hinata mengerjapkan matanya,pandangannya terasa kabur.

Ia mencoba berdiri namun badannya terlalu lemas.

Ia meringis saat kepalanya terasa seperti dipukul godam, benar-benar pening!

Ia memutuskan untuk menidurkan tubuhnya lagi, dan mengamati kamar yang saat ini ditempatinya.

'Aku berada di apartemen siapa? Siapa yang menemukanku pingsan? Kenapa rasanya sunyi sekali disini?' berbagai macam pertanyaan berkelebat dalam pikirannya.

Saat Ia merasa tubuhnya tidak selemas tadi, gadis itu lalu berjalan tertatih menuju ke pintu yang Ia yakini adalah kamar mandi.

Ia merasa sangat haus dan wajahnya benar-benar butuh untuk dibasuh.

Ia lalu membuka keran air yang ada di wastafel dan menampung air yang keluar dari keran dengan kedua tangannya lalu meminumnya dengan rakus.

Setelah itu Ia membasuh kedua wajahnya dan melihat ke cermin di depannya.

Wajah pucat dengan bibir yang terlihat agak membiru menyapa penglihatannya.

Rambutnya terlihat acak-acakkan dan kusut.

Ia menatap pantulan bola matanya, pucat dan sayu dengan kelopak yang membengkak dan berwarna gelap.

Mungkin efek menangis tadi.

Ia baru sadar saat ini Ia mengenakan kemeja putih pria yang kebesaran, menampakkan salah satu bahu mungilnya.

Ia merasa sedikit ngeri saat menyadari Ia tidak mengenakan underwear dibawahnya.

Berbagai pikiran buruk menyambangi otaknya.

Ia lalu bergegas keluar dari kamar mandi namun karena ceroboh tempurung lutut kaki kanannya justru membentur sudut pintu.

"Auchhhh... ssshhh... " Hinata meringis kesakitan, tangannya menyentuh lutut kanannya yang terasa berdenyut.

Seluruh kaki kanannya terasa kram dan kesemutan, Ia lalu menyeret kakinya dan berjalan menuju ke ranjang namun tiba-tiba Ia berhenti.

Iris matanya bertubrukkan dengan iris kelam seorang lelaki berambut panjang. Badannya bergetar hebat dan matanya mulai berkaca-kaca.

"Hnn jadi kau Hyuuga ya? Aku kira Sasuke itu homo, ternyata dia punya pacar juga" ucap lelaki tersebut sambil tersenyum kecil.

"Aa...aku bu-buk...kan ..."

"Pergi kau Itachi, jangan ganggu dia" Sasuke berkata sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Ia bersender di pintu kamar.

"Cih , kau menyebalkan sekali. Aku kan cuma mau menyapa calon adik ipar" kata lelaki berambut panjang yang ternyata adalah kakak Sasuke, Uchiha Itachi. Itachi lalu merangkul bahu mungil Hinata yang bergetar dan dengan santainya mengecup pipi Hinata.

"Kau imut sekali ya, sayang sekali kau pacar Sasuke. Kalau kau putus dengan Sasuke, jadian denganku saja ya" goda Itachi.

Sasuke lalu melepaskan rangkulan Itachi dengan kasar.

"Kau menakutinya bodoh"

"Aaa apa aku menakutimu manis? Hey ngomong-ngomong siapa namamu?" Itachi menggoda Hinata lagi.

"A...a...akk-ku..."

"Dia Hyuuga" Sasuke memotong perkataan Hinata.

"Kalau itu sih aku sudah tahu, dengan melihat matanya juga semua orang akan tau kalau dia Hyuuga"

Hinata hanya bisa menunduk semakin dalam saat Sasuke menatapnya tajam.

"Namanya Hyuuga Hinata. Jadi bisakah kau sekarang keluar dari apartemenku Nii-san?" Sasuke menekankan suaranya saat mengucapkan kata 'Nii-san'

"Hyuuga Hinata ya? Bukannya kau ini tunangannya Sabaku? Sasuke, kenapa kau malah memacari tunangan orang sih?"

"Bukan urusanmu. Cepat keluar!"

"Aaaa kau menyebalkan Sasuke. Baiklah aku pulang saja, ingatlah untuk sesekali pulang Sasu-chan. Okaa-san merindukanmu bodoh " Itachi melenggang santai menuju ke pintu kamar Sasuke.

Sasuke menatap Itachi kesal karena di panggil Sasu-chan. Ia benar-benar benci dengan panggilan bodoh itu.

"Aa dan kau Hina-chan. Hanya ingin mengingatkanmu saja. Hati-hatilah dengan Sasu-chan. Ia sangat beringas ketika di ranjang lohh" Itachi berbalik menghadap Hinata dan Sasuke lalu berkata kepada Hinata sambil sedikit mengerling ke Sasuke.

"Kau... !" Sasuke berteriak kepada Itachi sementara yang diteriaki langsung keluar kamar dan menutup pintu dengan kecepatan setara pesawat jet Concorde.

Mereka berdua lalu diliputi keheningan.

Hinata merasa seolah-olah ada beban berat yang menggelayut di bahunya.

Udara di sekitarnya terasa menipis, Ia kesulitan bernapas.

Sasuke menghembuskan napas dengan kasar.

"Sebaiknya kau istirahat saja sampai demammu turun. Aku akan membuatkan bubur"

Sasuke bingung dengan kata-kata yang tiba-tiba saja meluncur keluar dari bibirnya.

'Sejak kapan aku jadi orang yang pedulian begini, dan keh... yang benar saja aku bahkan tidak pernah membuat bubur sebelumnya' pikir Sasuke dalam hati.

"Aa... aku...l-lebih b-baik aku p-pul-lang saja Uchi-..."

"Tidak. Kau tetap disini setidaknya sampai demammu turun. Kalau kau pulang tidak akan ada yang mengurusmu bodoh " kata Sasuke datar sambil berjalan menuju ke pintu.

"Ta-tapi..."

"Tetap disini!" ucap Sasuke sambil menatap Hinata tajam.

Hinata hanya bisa mengangguk pasrah karena Ia tahu Ia tidak akan bisa menolak si Uchiha satu ini.

"Tidurlah.. " kata Sasuke sambil menutup pintu kamarnya.

.

Sasuke memperhatikan wajah damai Hinata saat tertidur, Ia mengusap lembut helaian rambut indigo milik Hinata.

"Kau gadis paling bodoh yang pernah aku temui, benar-benar bodoh " kata Sasuke lirih.

Ia lalu mengecup dahi Hinata dengan pelan dan beranjak untuk ke ruang tengah sambil membawa nampan berisi bubur hasil eksperimennya yang belum sempat di makan Hinata karena gadis itu telah tertidur.

.

Hinata berjalan dengan langkah pelan di belakang ayahnya, Hyuuga Hiashi.

Sesekali Ia mengangkat wajah cantiknya untuk sekedar melihat orang yang menyapa ayahnya.

Ia benar-benar salah kostum sekarang, salahkan saja pada Tou-sannya yang tiba-tiba menyuruhnya untuk segera berdandan karena akan diajak untuk bertemu dengan koleganya .

Dan bodohnya Hinata tidak mengira bahwa yang dimaksud Tou-sannya dengan bertemu koleganya adalah bertemu di pesta salah satu rekan bisnisnya.

Pesta yang sangat meriah mengingat penyelenggara pesta ini adalah keluarga Uchiha.

Tempatnyapun sangat megah, salah satu hotel kelas internasional yang tentunya milik Uchiha.

Ballrom hotel dengan pilar-pilar yang berukir sulur dan bunga daffodil yang memanjakan mata.

Di salah satu sudut terdapat sebuah mini bar yang dipenuhi oleh putra-putri pengusaha yang merupakan rekan bisnis Uchiha.

Di sekeliling mini bar tersebut terdapat beberapa sofa berbagai ukuran yang juga dipenuhi anak-anak dari rekan bisnis Uchiha.

Ia pikir Ia hanya akan makan malam dengan kolega di restoran seperti biasa, makanya Ia memakai kimono dan menyanggul rambutnya.

Dan Tou-sannya pun tidak memintanya untuk mengganti kimononya, jadilah dia disini menjadi satu-satunya yang memakai kimono diantara gadis-gadis bergaun mahal anak rekan-rekan bisnis Tou-sannya.

Ya, Tou-sannya meninggalkannya di tengah pesta dan menyuruhnya untuk bersosialisasi dengan gadis-gadis berisik ini sementara dia, maksudku Tou-sannya sibuk berbincang dengan koleganya di ruangan entah apa namanya.

Dia benar-benar ingin menghilang sekarang, berada di tengah-tengah gerombolan gadis yang hanya bisa saling memamerkan kekayaan bukanlah hal yang Ia sukai.

Dan Hinata juga benci saat mereka berteriak-teriak centil hanya karena melihat lelaki tampan.

Astaga betapa jalangnya mereka!

Oh dan yang paling menyebalkan adalah saat mereka menatap Hinata dengan pandangan yang menghina seolah-olah Hinata adalah pengemis disana.

"Hyuuga Hinata?" sebuah suara menyapa gendang telinganya.

Hinata mendongak dan menemukan sesosok gadis yang terlihat fashionable sedang berdiri angkuh di hadapannya.

"Y-yaa..?"

"Kau sendirian kan? Mau ikut bersamaku?"

Hinata yang jujur saja merasa bosan karena tidak ada teman bicara merasa senang saat seseorang menyapanya, tanpa pikir panjang Ia segera menerima ajakan gadis tersebut.

.

"Aa jadi Hinata, kau bersekolah dimana?"

"Konoha High School, dan kau?" Hinata berbicara tanpa tergagap, ini karena setiap diajak Tou-sannya untuk bertemu kolega, Tou-sannya selalu menekankan untuk tidak membuat Ia malu karena memiliki putri yang gagap.

Yah sedikit demi sedikit Hinata bisa mengikis kebiasaan gagapnya itu, tapi entah kenapa kebiasaan buruknya itu terus kambuh jika Ia tidak sedang bersama Tou-sannya untuk bertemu kolega.

"Aaa aku bersekolah di Tokyo High School, sebenarnya aku ingin masuk ke sekolahmu itu. Tapi karena lokasinya jauh dari Tokyo dan Kaa-sanku tidak ingin aku tinggal tanpa pengawasannya jadilah dengan terpaksa aku bersekolah di Tokyo"

"Sou ka..."

"Bagaimana rasanya bersekolah disana?"

"Menyenangkan"

Hinata merasa sedikit bersalah karena berdusta kepada gadis di hadapannya, jelas-jelas Ia merasa sangat tertekan di sekolahnya dan sekarang Ia justru bilang sekolahnya menyenangkan ?

Cih dasar pembohong...

"Aaa... begitu ya...Kau mau minum apa Hinata? Biar kuambilkan"

"Apa tidak merepotkan Karin-san?"

Oh jadi gadis di hadapannya adalah Karin sodara-sodara...

"Tentu saja tidak, ah dan perlu kau tahu saja disini tidak ada minuman yang alcohol free kecuali lemon squash yang rasanya sangat tidak enak. Barusan aku sudah mencicipinya."

"Benarkah? Kalau begitu aku ingin air mineral saja"

"Kau bercanda Hinata?" Karin menatap Hinata dengan pandangan tak percaya.

Hinata hanya tersenyum canggung.

"Aaa baiklah, akan kuambilkan" kata Karin sambil tersenyum.

.

"Ice Smirnoff dan Red Wine" ucap Karin pada bartender di hadapannya.

Tangannya menumpu pada meja bar, seringai di bibirnya tak pernah lepas sejak meninggalkan Hinata di sudut yang bersebrangan dengan bar yang saat ini didatanginya.

Karin kemudian membawa kedua gelas yang baru saja diberikan oleh bartender.

Gelas berwarna merah berada di tangan kanannya, sementara di tangan kirinya terdapat sebuah gelas dengan cairan bening di dalamnya.

.

"Hinata, ini minumanmu" kata Karin sambil menyodorkan gelas berisi cairan bening.

"Aaa terimakasih Karin-san" Hinata tersenyum lembut pada Karin.

Ia lalu meneguk sedikit cairan yang ada di dalam gelas.

"Mmm rasanya sedikit aneh Karin-san, pahit..."Hinata sedikit memeletkan lidahnya.

"Ah benarkah? Mungkin itu karena kau sedang sakit Hinata, jadi lidahmu selalu terasa pahit"

"Aaa sou ka...,aku memang sedikit demam hari ini"

"Kalau begitu kau harus banyak minum, kata Kaa-sanku kalau demam kita harus banyak minum"

"Emm! Akan aku habiskan, terimakasih sudah mengambilkanku minuman Karin-san"

"Ya, cepat habiskan" Karin tersenyum sinis sambil meneguk sedikit red wine yang dipegangnya.

.

'Kepalaku rasanya pusing sekali, pandanganku juga mengabur. Apa demamku bertambah parah ya?' pikir Hinata.

"Nee Hinata? Kau baik-baik saja kan?"

"Aku baik-baik saja Karin-san, hanya sedikit pusing"

"Benarkah? Ah sepertinya demammu bertambah parah, wajahmu merah sekali." Karin mengulum seringainya.

"Aku rasa dengan mencuci muka keadaanku akan semakin membaik. Aku permisi ke toilet Karin-san" ucap Hinata sambil beranjak dari kursinya dan berjalan menuju toilet.

"Aah aku rasa toilet yang disana penuh, lebih baik kau ke toilet yang disebelah bar saja Hinata. Biar kuantar"

"Ah terimakasih Karin-san. Tapi aku bisa sendiri"

"Nee, aku akan tetap mengantarmu. Aku tidak bisa membiarkan kalau tiba-tiba kau pingsan di toilet"

"Maaf merepotkan Karin-san"

"Tidak apa-apa, ayo biar kupapah. Kelihatannya kau benar-benar lemah"

'Cih ternyata gadis ini lemah sekali, baru minum segelas saja sudah mabuk' inner Karin.

.

Karin menunggu Hinata di mini bar, Ia mengetukkan jemarinya yang lentik di meja bar.

Tiba-tiba Ia menyeringai dan langsung berbicara dengan bartender, mengorder dua gelas liquor yang berwarna cerah.

"Nee Hinata? Apa kau baik-baik saja? Duduklah saja disini" ucap Karin saat melihat Hinata keluar dari pintu toilet.

"Minum ini saja dulu, ini lemon squash kok. Aku sudah mencicipinya, yah lebih enak dari yang tadi kurasakan. "

Hinata hanya diam dan langsung menenggak minuman yang disodorkan Karin.

"Aaa sepertinya kau kehausan ya"

"Hmm...rasanya aneh, tidak seperti lemon squash yang biasa kuminum. Tapi aku ingin lagi. Semuanya jadi terasa ringan"

"Minum saja punyaku"

"Aaaaa terimakasih Karin-san, kau benar-benar baiiiiiikkkkkkk..." Hinata mulai mabuk.

"Hahaha kau bisa saja, akan kupesankan lagi untukmu" Karin mengerling ke arah bartender dan membuat isyarat untuk memberikannya minuman lagi.

.

"Kau tau Hinata, gadis-gadis yang ada disana sangat suka menggosipkanmu loh"

"Benarkaaaahh? Mereka bicaraaa... apa tentaaangkuuuu...?"

"Mereka bilang kau ini jalang, dan kau juga suka tidur dengan banyak lelaki"

"Brengsekkkk, biar kutaaammmpaaaarrr saajjaaa mereekaaaaa..."Hinata hendak berdiri namun ditahan Karin.

"Jangan, kau tidak akan menang melawan mereka semua. Kau tau gadis dengan rambut pirang itu, dia bahkan mengatakan kepadaku bahwa kau pernah aborsi dua kali"

"Cihhh...,dasar gadis keparraaaaatttt"Hinata menggenggam tangannya dengan kuat.

"Aku tau cara yang bagus untuk membalasnya. Kau mau dengar?"

"Cephaaat kaatakaaan padaku!"

"Lelaki yang ada disana itu, yang berambut hitam dengan potongan rambut cepak itu, dia adalah tunangan gadis itu"

"Hmm, laluu?"

"Rebut dia, buat dia bertekuk lutut padamu lalu campakkan. Bagaimana?"

"Kehh, ithuu haal yang mudaaaahhhh"

"Nah untuk langkah pertama, cium lelaki itu. Cium di depan si pirang "

"Baiklah, itu mudah buatku "

Hinata mencari sosok lelaki berambut hitam yang dimaksud Karin.

Tapi ada banyak orang berambut hitam disana, bagaimana caranya Ia menemukan lelaki yang dimaksud Karin.

Ia hendak berbalik dan bertanya kepada Karin, namun Ia mengurungkan niatnya saat sesuatu hal menarik perhatiannya.

Gadis berambut pirang yang sepertinya tadi ditunjuk Karin terlihat berbincang dengan seorang lelaki berambut hitam, gadis itu terlihat sedang menggoda lelaki itu.

Hinata menyeringai, dengan penuh percaya diri Ia berjalan ke arah sepasang manusia itu.

Hinata menerobos kedua manusia yang sedang berbincang itu, ah lebih tepatnya hanya gadis itu yang bicara sementara sang pria hanya diam.

Hinata berdiri diantara mereka berdua, dengan gerakan cepat Ia membalikkan badannya menuju pria berambut hitam dengan potongan rambut seperti pantat bebek.

Sepertinya Ia lupa kalau lelaki yang dimaksud Karin memiliki potongan rambut cepak, bukan seperti yang ada di hadapannya.

Si pirang mengernyit heran sementara Karin melotot melihat Hinata salah sasaran.

Dengan gerakan cepat Hinata menarik dasi yang di kenakan lelaki itu dan berjinjit untuk mempertemukan bibirnya dengan bibir lelaki itu.

Suasana mendadak menjadi begitu hening.

Semua orang yang berada di mini bar menatap mereka berdua dengan pandangan tak percaya.

Hyuuga dan ... ?

Sejak kapan mereka menjalin hubungan?

Apa mereka dijodohkan?

Bukankah si sulung Hyuuga sudah mempunyai tunangan?

.

To Be Continued-

Review anda akan membuat saya bahagia

So, tinggalkan jejak okeee ;)

Aaa Coro-chan hampir lupa, ini dia balesan buat yang udah review di chappie satu. Jangan lupa review lagi yaaa :*

kirei- neko : em! di chapter ini udah mulai dijelasin sedikit kok :) Yah waktu itu kan Sasuke juga posisinya agak galau karena dia sebenernya ngga mau sampai ke seks jadi dia ngga siap pas Hinata tiba-tiba ngedorong. Lagian setiap orang disaat lagi terdesak pasti punya kekuatan yg lebih besar daripada biasanya. Contohnya kalo tiba-tiba lagi naik motor terus nyungsep masuk selokan, kita bisa aja ngangkat ntu motor sendirian loh *pengalaman* Review lagi ya :)

Moku-Chan : chapter ini no lime nih, maaf yaaa u,u Aku tunggu reviewmu lagi loh Moku-chan yang baik :* :)

sheren : sudah nih mba sheren sungkar yang cantik ;p review lagi ya :)

Yuki'the-snow : hehehe terimakasih ya, ini sudah dilanjut mba cantik. Jangan lupa review lagi :p

Yukori Kazaqi : sudah nih yuko gantengg :* jangan lupa review lagi yaa...

Hirano Lawliet : ini udah ada flashbacknya, tapi cuma sepotong kok. Review lagi yaaa :*

aisanoyuri : nanti-nantinya jadi baik kok, hem kalo mau tau baca terus fic ini ya... ripiuw lagi okee

ajunkzhyuuhi : wah terimakasih pujiannya ajunggg...,aku cium kamu deh nih :* review lagi yaaaa... :)

amesthy : nantinya Hinata ga disakitin kok :) review lagi okee ;p

livylaval : wah terimakasih sudah diingatkan, ini sudah Coro-chan bikin panjang loh *bohongbanget* :p review lagi dooong...

giant-hime : engga semua kok, tergantung juga dari fasilitas sekolahnya loh ;)

Hime No Rika : mungkin lupa, ntar deh Coro-chan tanya ke Hinata ;p Howhowhow kalo pengin tau pantengin terus ya apdetan fic ini. ripiuw lageehhh oke :p

SweetMafia : terimakasih ya mba mapiaa :p nih aku cium kamu :* review lagi dooong ;)

Boucha : apelu..., cuci piring dulu sanaaahhhh :p

Nivellia Neil : Belum suka, baru sedikit tertarik. Oke siap! ini udah update paling kilat hehehe :p review lageeeeee :)

Ryzka. Ramalia : sudah nihhh, bagus ngga chap ini ? review lagi dongsss...

Ingat-ingatlah untuk meripiuw!

Salam cinta dari author ! Muamuamuamua :*

Coro-chan