Oneshoot Fict³(Oneshoot X Oneshoot X Oneshoot x)=?

Title : Kyuubi, My Lovely Cat Part 2(Naruto POV)

Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Warning : AU, OOC, GJ….

Rated : T.

Genre : Romance 50% and Frienship 49% /slight humor 1%

Pairing : NaruSaku.

A/N : This is all about Naruto POV. Kusarankan baca yang Sakura POV...


Ohayouuuu...

Bertemu lagi dengan Mya-chan disini...

Dengan sequel dari fict sebelumnya yang berjudul sama...

Kemaren banyak yang bilang ceritanya menyedihkan y?

Gomen harusnya pas Naru ultah itu aku bikin cerita yg happy, eh ini malah bikin sedih...

Terus banyak miss-typo!

Gomennansai semuanya!

Tapi hanya ide ini yang muncul di kepalaku...

Untuk itu aku ingin menebusnya dengan mengupdate super kilat fict ini...

Tadinya aku mu bikin fict ini sebanyak 3 chapter tapi kayaknya bakalan lebih deh...

Oh iya chapter ini ceritanya sama ama chapter kemarin, tapi tentu saja dari segi Naruto's POV juga ada tambahan beberapa adegan yang gk ada Sakunya juga ada kelanjutan mengenai kecelakaan yang dialami Naru kemarin...

Mungkin jadi membuang waktu readers tapi..

Kusarankan bacalah chapter ini..

Makasih bwt para reviewers chapter kemarin..

Semoga chapter kali ini tidak mengecewakan..

ooooooo

Mya-chan Presented for all of you...

Kyuubi, My Lovely Cat.

Part 2

Happy Reading All^o^

ooooooo


Angin musim gugur berhembus di pagi yang cerah ini, daun-daun kecokelatan bertebaran dimana-mana. Kicauan burung-burung seakan menjadi nyanyian dalam perjalananku di taman minggu pagi ini. Kucing kecilku, Kyuubi kini tengah mengejar seekor kupu-kupu, aku yang melihatnya hanya tersenyum kecil. Kembali kulangkahkan kakiku memasuki lebih jauh area taman ini. Kini aku berada di depan sebuah danau, terlihat jelas kompleks pemakaman di seberang danau ini. Terlihat sebuah jembatan kecil yang mengarah ke seberang danau. Kucingku Kyuubi, masih sibuk dengan urusannya dengan si kupu-kupu. Kupu-kupu itu pergi menyeberangi danau, namun Kyuubi tidak menyerah, ia malah melewati jembatan kecil itu.

"Kyuubi, tunggu!" ujarku sambil mengejar Kyuubi.

Kini aku tengah sepenuhnya berada dalam kompleks pemakaman, kuedarkan pandangan biru sapphireku ke sekeliling dan berhenti tepat di sebuah semak-semak dekat danau yang seolah melambai padaku dan menandakan ada sesuatu di dalamnya.

"Kyuubi, kutemukan kau!" ucapku mantap.

Aku pun bergegas ke arah semak-semak itu dan..

'Hup,' aku menangkap sesuatu sambil menutup kedua mataku.

Aku menangkapmu Kyuubi, tapi ini lain kenapa Kyuubi seukuran tubuhku, dan tercium lembut aroma cherry blossom yang langsung masuk ke dalam indera pernafasanku. Perlahan kubuka mata biru sapphireku lalu yang kulihat pertama kali adalah sesuatu yang berwarna merah muda seperti rambut. Aku sadar bukan Kyuubi yang aku tangkap tapi seorang anak perempuan berambut merah muda.

"Gomen," ucapku pada anak perempuan itu.

Aku pun langsung berdiri sehingga membuat mata emerald anak itu langsung menatap mata biru saphireku. Kulihat anak perempuan itu menatapku heran. Aduh dasar Naruto-baka membuat malu saja, huh kenapa pipiku memanas begini melihat kedua mata yang indah itu.

"Kau, dewa kucing?" tanyanya polos sambil menggendong Kyuubi.

Heh? Dewa kucing katanya?

"Bukanlah, aku ini manusia tau," ucapku sambil membantunya berdiri.

"Heh, maaf aku kira kau ini dewa kucing soalnya kamu punya kumis yang mirip kaya kucing, hehe," ujarnya sambil tersenyum.

Senyum itu, entah mengapa membuat hatiku tenang.

"Ya bukanlah, eh kemarikan kucingku," ujarku pada anak itu.

"Ini kucingmu?" tanyanya sambil meyodorkan Kyuubi dalam gendongannya.

"Hm," gumamku sambil nyengir lebar.

Kulihat raut muka anak itu yang kecewa, tapi aku tidak tahu apa alasannya. Sudahlah Naruto ayo cairkan situasi, apa yang harus aku katakan ya?

"Siapa namamu?" tanyaku.

"Aku Haruno Sakura, kau?" tanyanya.

"Aku Uzumaki Naruto," jawabku sambil nyengir kuda.

"Hehe, makasih kamu sudah menemukan Kyuubi," ujarku sambil menggendong Kyuubi.

"Kyuubi? Nama kucingmu Kyuubi?" tanyanya padaku heran.

"Ya, begitulah," ujarku.

"Kok, bisa sama sih sama nama kucingku? Mereka juga bahkan mirip sekali," ucapnya tak percaya.

"Heh? Masa sih? Coba aku ingin lihat kucingmu!" ujarku.

"Kucingku sudah ke surga bersama dengan Kaasanku," ucapnya sambil menundukkan wajahnya.

Bagus Naruto, sekarang kau sudah membuatnya sedih. Aduh apa yang harus kulakukan sekarang.

"Eh, gomen Saku-chan aku—" ucapku tak terselesaikan karena ia keburu memotongnya.

"Hm, sudahlah tak apa, tapi boleh kan aku bermain dengan kucingmu?" tanyanya.

Kulihat mata emerald hijaunya yang berbinar-binar. Ah untunglah ia tidak marah atas ucapanku tadi.

"Tentu saja," ucapku.

Haruno Sakura, seorang gadis yang cantik, ceria, sekaligus tegar. Di usianya yang masih 6 tahun ia sudah kehilangan ibunya, tepat bersamaan dengan hari dimana kucingnya yang mirip dengan Kyuubi itu meninggal. Begitu banyak derita yang dialaminya membuatku ingin selalu membuatnya tersenyum supaya ia tidak mengingat kejadian pahit itu. Aku juga ingin melindunginya dari bahaya apapun, agar ia tidak kembali merasakan kenangan pahit. Aku selalu menunjukkan kekonyolanku di depannya berharap sedikit senyum akan tersungging di bibir mungilnya ataupun secercah tawanya yang terasa merdu di telingaku itu.

10 TAHUN KEMUDIAN

Tak terasa sekarang aku sudah berusia 16 tahun, selama ini aku terus menemani Sakura dalam kesendiriannya, walaupun sebenarnya ia masih memiliki ayah. Oh iya ngomong-ngomong ayah Sakura, sepertinya ia tidak menyukaiku karena sifatku yang terkesan urakan ini, tapi tak apalah apapun akan kuperjuangkan asal aku tetap bersama Saku-chan. Perasaanku kini telah berbeda pada Saku-chan, dulu aku hanya ingin mellindunginya dan membuatnya tersenyum tapi kini muncul lagi satu keinginan di hatiku yaitu 'Keinginan untuk memilikinya,'. Keinginanku untuk memiliki senyum manis itu, tawa renyah itu, dan semua kebaikan serta keburukan yang ada pada dirinya.

Seperti biasa, pada hari libur aku selalu mengajak Kyuubi ke taman. Sebenarnya tujuanku untuk selalu datang kesini adalah Sakura-chan. Ya gadis itu selalu melukis di tepi danau setiap hari libur. Kini aku tengah menyusuri taman dengan sebuah kamera khas fotografer tergantung di leherku. Memotret adalah hobiku.

'Splash'

Kuambil sebuah gambar Kyuubi yang tengah berlari-lari di rumput hijau. Jika ditanya, mungkin ada beribu-ribu gambar Kyuubi dalam kameraku. Sekilas ku lihat foto itu, ternyata Kyuubi sudah sangat besar sekarang! Tingginya saja hampir 40 cm. Maklumlah usianya hampir 10 tahun lebih.

Kini aku sudah sampai di tepi danau, lalu kupincingkan mataku untuk melihat lebih jauh. Kini kulihat seorang gadis berambut merah muda tengah melukis di seberang danau tepatnya di pemakaman.

"Sakura-chan," gumamku.

Aku pun langsung beranjak dari tempatku menuju ke arah jembatan, namun diluar dugaan ternyata jembatan itu ditutup untuk perbaikan. Aku pun meliarkan pandanganku ke sekeliling danau untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa digunakan untuk sampai ke seberang danau. Dan ya! dewi fortuna masih berpihak padaku, kulihat sebuah sampan kecil tengah terombang-ambing di pinggir danau. Aku langsung menaikki sampan itu, tak lupa Kyuubi ku ikutkan dalam perjalanan kecilku. Aku terus mengayuh dayung hingga sampai 10 meter dari tempat Sakura berdiri.

Kulihat wajah cantiknya yang semakin indah diterpa sinar matahari pagi. Momen bagus pikirku. Aku langsung mengangkat kamera yang ada di leherku dan...

'Splash'

Sekilas aku ambil beberapa foto Sakura yang tengah asyik melukis.

'Splash'

'Splash'

'Splash'

Kuambil beberapa gambar lagi. Aku bersyukur pada Kami-sama karena telah mengizinkanku melihat keindahan ini. Aku pun berusaha sebaik mungkin supaya Sakura tidak mengetahui keberadaanku. Aku mengayuh sampanku lebih mendekat ke arah Sakura untuk mendapat angle yang lebih bagus tentu saja sepelan mungkin supaya ia tidak tahu akan kehadiranku.

"WOYYY NARUTO APA YANG KAU LAKUKAN DISITU!" teriak seorang laki-laki berambut mangkuk, Lee.

"HUWAAA!" teriakku kaget.

Jantungku langsung berpacu cepat. Aku pun sedikit meloncat dari posisi dudukku yang membuat sampan tidak stabil sehingga...

'Byuurrr,' terdengar suara percikan air.

Aku terjebur ke dalam danau yang dangkal dengan kedua kakiku yang mengapung ke udara. Perlahan aku berusaha berdiri. Lalu kugendong Kyuubi yang tengah kesusahan berenang. Tiba-tiba saja kudengar suara yang tidak asing bagiku.

"Naruto-kun?" tanya seorang gadis bermata emerald.

Shittt, akan kubunuh kau Lee setelah ini. Semoga saja Sakura tidak mengetahui apa yang aku lakukan tadi. Ayolah bersikap biasa Naruto.

"Hehehe, Ohayou Saku-chan," ujarku sambil nyengir.

"Ohayou Naruto-kun, kenapa kau bisa tercebur ke danau?" tanyanya.

Apa yang harus kukatakan padanya, aduh kenapa aku jadi kehabisan kata-kata begini?

"Hehe, itu tadi ada yang mengagetkanku saat aku menikmati keindahan sesuatu," ucapku.

Aku pun beranjak keluar danau lalu menurunkan Kyuubi ke tanah seketika Kyuubi langsung menghampiri Sakura dan menggeliat di kakinya. Sakura pun langsung menggendongnya.

"Keindahan apa?" tanyaku lagi.

Lagi-lagi mulut besarmu membuat masalah Naruto! Sekarang apa yang harus kukatakan?

"Ra-ha-si-a," ujarku.

"Huh, kau ini! Oh iya kenapa Kyuubi dari hari ke hari makin gendut aja ya?" tanyanya sambil mengusap-ngusap kepala Kyuubi.

"Hehehe, kau harus berterimakasih Saku-chan aku merawat Kyuubi dengan sangat baik, buktinya setiap hari aku selalu berbagi ramen dengannya," ujarku sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya.

Kulihat Sakura berjalan ke arahku dan sebuah jitakan keras mendarat di kepalaku.

'Bletak'

"Ittee," gumaku mengaduh kesakitan sambil mengusap-ngusap kepalaku.

"Kau ini! Kenapa kau memberi Kyuubi ramen? Itu bukan makanan kucing tau, apalagi nanti dia jadi bodoh kalau makan ramen!" ujarnya kesal.

"He? Mana ada orang yang bodoh gara-gara makan ramen?" tanyaku heran.

"Tentu saja kau buktinya," ucapnya asal sambil berbalik meninggalkanku.

Apa sih yang dia katakan aku tidak mengerti! Kenapa aku harus dilahirkan menjadi orang lemot gini sih*gomen Naru FC*.

"Aku?" tanyaku tak mengerti.

"Tuh kan benar kau ini memang bodoh," ucapnya lagi.

Aku yang mendengarnya hanya cengengesan sendiri. Kulihat Sakura memanjat Pohon Sakura tua lalu duduk di salah satu batangnya sambil menaruh Kyuubi di pangkuannya sambil menutup matanya. Aku lalu menghampirinya dan duduk di sampingnya.

"Saku-chan," panggilku.

"Hn?" gumam Sakura sambil masih menutup matanya.

"Kau mau berjalan-jalan ke tengah danau?" tanyaku.

"Waahh! Mau!" ucapnya semangat sambil berbalik dan menatapku.

"Haha, ayo cepat!" ujarku senang.

Kami berdua pun turun dari Pohon Sakura lalu berjalan ke arah danau. Aku lalu masuk ke danau dan membalikkan sampan yang terbalik lalu mendorongnya ke tepian. Aku langsung naik ke atas sampan itu lalu aku pun meletakkan Kyuubi di atas sampan itu.

"Ayo naik Saku-chan," ujarku sambil menjulurkan tangan ke arah Sakura.

"Hm," gumamnya sambil akan naik ke sampan itu dan menerima uluran tanganku.

Saat aku baru ia menapakkan sebelah kakinya ke dalam sampan itu, tiba-tiba ia tersandung sesuatu dan terjatuh ke depan. Dan ia langsung menindih tubuhku yang tepat berada di depannya. Aku lalu menutup mataku lalu kurasakan sesuatu yang manis di bibirku. Perlahan aku membuka mataku dan melihat rambut merah muda.

'Blush'

Aku langsung blushing, denyut jantungku berdetak lebih cepat karena kini Sakura menimpa tubuhku dan bibir kami saling bersentuhan. Bahkan aku bisa merasakan dengan jelas hembusan nafasnya serta degup jantungnya yang memburu.

"Meoww," suara Kyuubi memecah keheningan.

Sakura pun sadar dan langsung menarik tubuhnya sedikit menjauh dariku hingga bibir kami tidak saling bersentuhan lagi . Huh, dasar Kyuubi mengganggu saja. Pipiku kini sudah bersuhu 100° C.

"Go-gomen Na-Naruto-kun," ucapnya terbata.

Aku lalu berdiri dan menatap kedua mata emerald Sakura.

"Hehehe,"aku hanya bisa cengar-cengir gak jelas sambil menggaruk kepalaku.

"Aku tersandung ini, tapi kok ada kamera disini ya?" tanyanya heran.

"Hehe, itu milikkku Saku-chan," ujarku sambil mengambil kamera itu dari tangannya.

Huh hampir saja ketahuan.

"Oh, sejak kapan kau hobi memotret?" tanyanya heran.

"Sejak- ah sudahlah tidak penting," ujarku cepat.

"Yasudah, coba aku ingin lihat foto-fotomu!" ucapnya.

"Gak boleh, weeee.." ucapku sambil menjulurkan lidahku ke arahnya.

"Huh, yasudah," ucapnya kesal.

Aku mendayung sampan kami ke tengah danau.

"Naruto-kun kau tahu?" tanya Sakura padaku.

"Apa?" tanyaku balik.

"Waktu aku pertama kali bertemu denganmu sepuluh tahun yang lalu aku merasa kau adalah kado yang diberikan Kaasan untukku," ucapnya sambil tersenyum.

Sungguh indah kau bisa mengatakan itu padaku Sakura. Aku lalu tersenyum pada Sakura.

"Sepertinya hari sudah sore ayo kita pulang Saku-chan," ucapku

"Hm," gumamnya sambil menganggukkan kepalanya.

Sesampainya di tepi danau.

"Terimakasih ya, Naruto-kun," ucap Sakura sambil tersenyum manis.

"Hehehe, apapun untukmu Saku-chan," ucapku gombal sambil meletakkan Kyuubiku di tanah.

Tiba-tiba aku mendengar suara Otousan Sakura yang memanggil namanya.

"Sakuraaa,! Kau dimana?" ucap Otousan Sakura.

Sakura langsung menatapku cemas.

"Naruto-kun cepat sembunyi," ujarnya cepat.

Kuedarkan pandanganku ke sekeliling tapi aku tidak menemukan tempat persembunyian satupun

"Iya tapi sembunyi dimana?" tanyaku bingung.

"Sudahlah pokoknya kau sembunyi cepat!" ucapnya.

Aku langsung mengambil langkah seribu, dengan sigap aku menyelam ke pinggiran danau yang dangkal, lalu bersembunyi di bawah sampan yang tadi kami gunakan.

Aku menahan nafas sebisa mungkin di dalam air. Apa aku akan mati konyol seperti ini? Kudengar samar-samar pembicaraan Sakura dengan Otousannya. Selang beberapa menit aku mendengar teriakan Sakura.

"Naruto-kun, ayo keluar Otousan sudah pergi," teriaknya.

Tak lama aku keluar dari persembunyian, lalu menghampiri Sakura dengan terengah-engah.

"Hah,hah,hah tadi harusnya kuhitung berapa menit aku bertahan di dalam air," ujarku sambil mengambil nafas.

"Hehe, gomen Naruto-kun daripada kau harus kena omelan Otousanku," ucapnya sambil tersenyum.

"Hm," gumamku sambil mengangguk.

Keesokan harinya, aku terbangun di pagi hari. Kulihat Kyuubi tengah tertidur pulas di sampingku. Aku pun beranjak melakukan aktifitas pagiku. Lalu turun ke ruang makan.

"Naruto-kun? Sudah bangun?" tanya Kaasanku.

"Hehehe," seperti biasa aku hanya cengengesan.

"Oh iya besok kau jadi kan ke rumah Obaasan untuk menjenguknya?" tanya Kaasanku lagi.

"Tentu," ucapku.

Sore harinya di rumahku, aku baru saja pulang sekolah lalu aku masuk ke kamarku dan kulihat Kyuubi masih dalam posisi yang sama dengan yang tadi pagi.

"Hei, Kyuubi!" ucapku sambil mengoyang-goyangkan tubuh Kyuubi.

Namun Kyuubi tidak berespon apapun.

"Naruto-kun, Kyuubi dari tadi pagi belum bangun," ujar Kaasanku yang tengah masuk ke kamarku.

"A-Apa?" tanyaku.

Ssegera ku berlari keluar rumah sambil menggendong Kyuubi di tanganku lalu aku berlari menuju ke rumah salah seorang dokter hewan yang terkenal di dekat sini. Keluarga Haruno. Sesampainnya disana aku langsung memencet bel, lalu tak lama Otousan Sakura terlihat dari balik pintu.

"Kau? Untuk apa kau kesini?" tanya Otousan Sakura sinis.

"Tolonglah kucingku Tuan Haruno," ujarku lirih sambil menunjukkan Kyuubi yang tidak berdaya

"Baiklah ayo masuk," ujar Otousan Sakura sedikit ramah.

Sakura langsung menghampiriku dan mengikutiku.

"Tolong keluar sebentar," ujar Otousan Sakura padaku.

Aku dan Sakura pun berjalan pergi meninggalkan Otousannya yang tengah memeriksa keadaan Kyuubi.

"Naruto-kun ada apa?" tanyanya cemas.

"Sakura-chan, dari tadi pagi Kyuubi belum sadarkan diri," ujarku khawatir.

"Sudahlah Naruto-kun, jangan khawatir Otousanku pasti bisa menyembuhkan Kyuubi," ujarnya berusaha menenangkanku.

"Hn, aku percaya pada Otousanmu tapi-," ujar ku tak terselesaikan.

"Tapi apa?" tanyanya.

"Sebenarnya, besok aku harus pergi ke Suna untuk mengunjungi Obaasanku yang sedang sakit, mungkin aku pergi selama seminggu," ucapku.

"Yasudahlah, cuma seminggu kan? Kyuubi dititipkan saja disini," ujarnya menawarkan.

"Benarkah?" tanyaku.

"Hm," dia hanya menganggukkan kepalanya.

Sontak aku memeluknya erat, entah kenapa aku ingin sekali melakukan ini.

"Tolong jaga Kyuubi untukku ya Sakura-chan," ucapku dalam pelukan lirih.

Sakura pun melepas pelukanku. Lalu menatap sepasang mata biru sapphireku.

"Kau ini kenapa Naruto-kun? Kau kan cuma pergi seminggu seperti mau pergi selamanya saja," ucapnya heran.

"Entahlah, hanya saja- sudahlah," ucapku.

Aku juga tidak tahu mengapa, tapi aku merasa sangat berat meninggalkanmu dan Kyuubi Sakura.

"Oh iya kapan kau pergi?" tanyanya.

"Besok pagi-pagi sekali aku pergi ke Suna menggunakan kereta Shinkansen pertama," ujarku.

Lalu Otousan Sakura keluar dari ruangannya dan menghampiriku.

"Kucingmu kritis, mungkin karena usianya yang sudah tua, jantungnya jadi sedikit lemah," ujar Otousan Sakura menjelaskan.

"A-apa?" ujarku lirih.

Aku terus menjaga Kyuubi sampai malam hari, Sakura menemaniku duduk di sampingku. Kini jam menunjukkan pukul 10 malam, namun Kyuubi tak kunjung sadar.

"Sepertinya hari sudah malam, sebaiknya kau pulanglah dulu, biarkan kucingmu menginap disini," ujar Otousan Sakura menghampiri kami di ruang perawatan.

"Ta-tapi," ucapku.

"Sudahlah Naruto-kun, kau harus pulang, besok kau kan pergi pagi-pagi, biar aku yang menjaga Kyuubi disini," ucapnya.

"Hm, baiklah, kalau begitu aku pulang dulu Tuan Haruno," ucapku sopan sambil membungkukkan badanku pada Otousanku.

"Hn," Otousannya hanya mengangguk kecil.

"Sakura-chan tolong jaga Kyuubi untukku ya," ujarku.

"Hn, tenang saja aku pasti akan menjaga Kyuubimu," ucapnya sambil tersenyum.

Aku pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Haruno..

o-o-o-o-o-o

Keesokan harinya aku bersiap-siap membawa koper kecil berisi beberapa buah baju dan barang lainnya. Lalu aku menaikki kereta Shinkansen jurusan Sunagakure. Entah kenapa aku merasa sangat berat untuk pergi hari ini.

Perjalanan berlangsung begitu cepat, tiba-tiba saja terdengar suara keras dari arah gerbong depan. Orang-orang dalam kereta seketika panik. Aku pun begitu, kudengar percakapan dari seorang petugas dengan seorang penumpang ternyata salah satu roda di gerbong depan tergelincir. Masalahnya tidak akan besar jika kereta anjlok di jalan biasa, tapi petugas itu mengatakan bahwa kereta akan melewati jembatan yang membentang jurang di bawahnya. Tak lama setelah mendengar percakapan tadi, seperti ada sesuatu yang membuat gaya gravitasi berpindah dari bawah ke depanku, yang membuatku langsung terpental ke depan. Setelah itu yang kurasakan hanya sakit di sekujur tubuhku terutama di bagian kepalaku yang sepertinya membentur dinding kereta dan lama-lama pandanganku menghitam...

o-o-o-o-o

Aku terbangun di suatu tempat dengan semua aksen putih mengelilingiku. Bau obat menyengat langsung masuk ke dalam indera penciumanku. Perlahan kubuka mataku lalu mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Kulihat seorang gadis bermata lavender tengah menatap ke arahku.

"Siapa kau? Dimana aku?" tanyaku.

"Tenanglah, kau ada di rumah sakit sekarang, namaku Hyuuga Hinata, lalu siapa kau?" tanya gadis itu.

"A-aku," ucapku.

"Ya, siapa namamu?" tanya gadis itu lagi.

"Na-namaku—ARRRGGHHH," teriakku.

Siapa namaku? Sama sekali aku tidak menemukan itu dalam otakku. Sakit kurasakan pada bagian kepalaku, seakan kepalaku ini akan pecah. Sebelum akhirnya aku merasakan seseorang menyuntik lenganku dan membuatku mengantuk lalu kehilangan kesadaranku.

*OWARI*


Huwaaa!

Chapter ini kayaknya gk ada artinya ya?

Gomen!

Semoga gak kecewa y...

DONT FLAME PLEASE...!*takut*

Mu bales review yg gk log-in dulu..

To: Rie HanaKatsu

Iya aku jahat banget y bikin nasib Saku-chan kayak gitu...

Gomennnnnnn...

Nah? Bagaimana terjawabkan pertanyaannya!

Narutonya gk mati kok..

Tenang nanti mereka akan bertemu lagi!

Makasih udah mau review nd baca fict aku..

Jika ada waktu review lagi y...

o-o-o-o

Okay selesai...

Chapter depan mungkin aku update agak lama..

Makasih udah mau review or baca fict aku yg aneh ini...

Tunggu aja y^_^