Ai no Uta
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rate : T
.
.
Disclaimer : Sengoku Basara © Capcom
.
.
Pair : D. Masamune x fem! S. Yukimura
.
.
Genre : Romance, Family, Humor, Angst(?), Friendship.
.
.
WARNING : OOC, AU, Gender Bender, Typo everywhere, Humor gagal, dll..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author's Note :
.
.
.
Ro : Halo... bertemu lagi dengan saya Ro~~ ^0^)/
Yukimura : Dan saya Yukimura... Uwoohhhh *0*)9
Ro & Yukimura : *noleh ke Masamune* ._.
Masamune : Hahh... aku... Dokuganryuu... -_-)
Ro : Yahhhhhh... maaf baru update. Maaf sekaliiiii Q.Q)v Idenya terkadang macet. Dan...
Masamune : Bilang aja lu males.
Ro : *sambit sandal Masamune* '')/ Diemm luhhh...
Masamune : Sialan luhhh! *bales sambit*
Yukimura : *liat yang perang sandal* ._. Yahhhh,,,, biarkan saja mereka. Aku saja yang baca. Happy read^^
.
.
End of Author's Note
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
I hope you like it...
.
.
.
.
.
.
.
.
Enjoy...
.
.
.
.
.
.
.
And...
.
.
.
.
.
.
.
Happy read...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2 :
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sanada Yuki desu... Yoroshiku onegai shimasu..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Masamune melongo mendapati siapa yang tengah berdiri di depan kelas.
"Apa Kami-sama mendengar perkataanku tadi? " batinnya setengah tak percaya.
"Baiklah Sanada. Kau boleh duduk di samping Date. Dan Date, tolong angkat tanganmu."
Shingen-sensei lalu melihat ke arah tempat Masamune duduk. Tapi Masamune tak kunjung mengangkat tangannya. Kelihatannya ia tak mendengar perkataan Shingen-sensei tadi. Ia masih terpana(?) akan kehadiran Yuki.
.
.
.
"Date?" panggil Shingen-sensei.
.
.
Tak ada respon.
.
.
"Date!"
.
.
Tetap tak ada respon. Shingen-sensei mulai marah.
.
.
.
"DATE MASAMUNE!"
.
.
.
Shingen-sensei sangat sangat sangat dan sangat marah.
.
.
.
.
.
.
.
.
'BLETAKK!'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Wadawwwwwww! Ittai! Siapa yang melempar penghapus papan tulis ini hah?! Apa mau kutendang?!"
.
.
.
.
.
.
"Hohhhhh? Jadi kau mau menendangku huh? DATE MASAMUNE?!"
.
.
.
.
.
.
'Glek!'
.
.
.
.
.
.
"Shi.. Shingen-sensei?"
.
.
.
Sekarang Shingen-sensei sedang dalam dark mode karena telah diabaikan oleh salah satu muridnya.
.
.
.
.
"SEKARANG LARI KELILING LAPANGAN BASKET 50 KALI! DAN SETIAP KAMU BERHENTI MAKA HUKUMANMU AKAN KUTAMBAH 2 KALI LIPATTTTTTTTTTT!"
.
.
.
.
"WHAT THE..?!"
Masamune terbaring lemas di pinggir lapangan basket. Dia baru saja mengalami run like hell keliling lapangan selama 50 kali. Poor Masamune. Peluhnya menetes membasahi tubuh dan kemeja seragamnya. Nafasnya tersengal-sengal.
"Shingen.. hosh.. sialan.. hosh.. Damn you.. hosh.."
Masamune menatap langit lagi ditengah nafasnya yang memburu.
"Tak kusangka hari ini panas juga.."
.
.
'Kruuukkkkk...'
.
.
"Si.. sial... aku lapar. Perutku sampai berbunyi.. Lebih baik aku ke kantin, lagipula sudah waktunya istirahat.."
Masamune lalu dengan susah payah berdiri dan berjalan ke arah kantin.
"Ahh..., aku mau makan apa?" Masamune menatap kumpulan makanan yang berjajar rapi di etalase kantin.
"I want it..." Ia lalu mengambil sekotak dango ukuran kecil dan membayarnya.
"Apa hari ini Motochika tidak masuk? Biasanya dia sudah duduk di pojok kantin... . Ahh..., biarlah..."
Masamune lalu melangkah pergi keluar kantin. Dirinya hendak pergi ke atap sekolah. Karena di sanalah tempat favoritnya. Selain sepi dan tenang, ia juga bisa memandangi langit dengan lebih jelas.
Hobimu nak...
Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di atap sekolah. Tangan Masamune terulur hendak membuka pintu untuk menuju atap.
"Yahh..., waktu istirahat masih lama... Dan kurasa aku akan mem-"
.
.
.
.
.
'Osanai koro mabuta wo tojiru to nee
Itsumo kikoeta yasashikatta ano merodii...'
.
.
.
.
.
Perkataan Masamune terputus. Dari balik pintu terdengar suara gitar dan nyanyian.
"Su.. suara ini..."
Masamune membuka sedikit pintu untuk mengintip.
Dan suara itu, kalau benar dugaannya adalah...
.
.
.
.
Sanada Yuki...
.
.
.
.
Ya..., gadis itu yang tengah bernyanyi sekarang. Dan untuk yang kedua kalinya..., Masamune terhipnotis akan merdu suaranya. Ohh... dan jangan lupa paras malaikatnya.
.
.
.
.
.
'Itsu kara darou?
Kizutsuku koto osore
Kikoenai furi o shita kokoro no naka no merodii
AH me ni mieru mono bakari
AH ukeire you toshite
AH hontou wa kizuiteta yo
AH kokoro wa sakendeta
Kizutsuite mo ushinatte mo kawaranu mono ga
hitotsu arun da yo
Boku no mune ni ima mo nagareru
Ano hi no mama no kimi no uta
BELIEVE utai tsuzukeru yo
BELIEVE boku dake no uta wo nee
Hora ima utaeteru yo merodii
Mirai, kako, ima no naka de
Deai, wakare, hanare banare
Demo itsumo kawarazu mune no naka
Isshoni ita no wa anata ga kureta uta
Mou naka nakute iin da yo
Mou kizutsuka naide
Kimi ga warau tabi ni mune ni mata yomigaeru ano
merodii
AH dare ka no tame ni bakari
AH mou hohoeba nakute ii yo
AH anata no sono egao wa
AH anata no mono dakara
Subete kanaeru jibun ja nakute
Saigo made akiramenai jibun wo
Boku wa mou ichido shinjite miyou
Dare ni mo wakara nai asu to iu gosen fuuni hibike
merodii
Kizutsuite mo ushinatte mo tomerarenai uta ga
koko ni aru yo
Boku no mune ni ima mo nagareru
Ano hi no mama no kimi no uta
Naite te mo waratte te mo kanashii hi mo tachi
Tomatta toki mo boku no mune ni kitto nagareru
Kyou minna to kanadeta uta
BELIEVE yakusoku shiyou
BELIEVE mata aeru tte
Soshite bokura wa mata aruki dashite iku
Anata wa nani wo egaite yukimasu ka? Ima...'
'Anata wa nani wo egaite yukimasu ka? Ima...'
.
.
Sambil memetik gitar, Yuki menyanyikan lirik terakhir dari lagunya.
"Huahhhh... Aku lapar..." kata Yuki sambil meletakkan gitar di samping tempat ia duduk. Tiba-tiba ia mencium sesuatu.
"Bau ini... ja.. jangan-jangan..."
.
.
.
.
1...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
2...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
3...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"DARI MANA?! BAU INI BERASAL DARI MANA?! AKU HARUS MENDAPATKANNYA!"
.
.
.
.
.
.
Entah kenapa tiba-tiba saja Yuki berteriak-teriak kesetanan. Ia menengok ke arah kiri dan kanan seperti sedang mencari sesuatu. Dan pandangannya terhenti di pintu, yang mana Masamune tengah bersembunyi di baliknya.
Sementara Masamune?
.
.
.
.
.
'Entah kenapa perasaanku tidak enak..' batin Masamune.
.
.
.
.
.
.
"HAHAHAAAA! DARI SANA RUPANYA! BAIKLAH!"
Mata Yuki menatap tajam iblis tergambar jelas di parasnya yang kinijuga sudah hampir menyamai iblis.
.
.
.
"HYAAAAAAAA!"
.
.
.
'Whusssssssssss!'
.
.
.
.
.
.
.
Dengan kecepatan cahaya, Yuki berlari ke arah pintu.
'Gawat ternyata aku ketahuan..., aku harus lari...' Masamune hendak mengambil langkah seribu. Tapi...
.
.
.
.
.
"DANGOOOOOOOOOO!"
.
.
.
.
.
'BRAKKKKKKKK! BRUAKKKKKK! KLONTANG! MIAWWWWWW(?)! JDUAKKKKKK! BOOMMMMMMMM! DUARRRRRRRRRR! '
.
.
.
.
.
.
.
.
"AAAAAAAAAAAAAAAARRRRGGGGHHHHHHH!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Shingen-sensei apa kau mendengar sesuatu?"
"Iya Nouhime-sensei..., dan kedengarannya seperti teriakan Date. Sudahlah biarkan saja..."
Masamune kaget. Dirinya masih terlalu kaget. Entah tiba-tiba ada yang menyerang- ralat... menubruknya dan mencengkeram kedua pergelangan tangannya.
Dan yang dilihatnya sekarang, di atasnya ada seseorang yang dengan rakusnya tengah memakan dango. Tunggu? Di atas? Masamune cengo. Itukan?
.
.
.
.
"Sanada Yuki?"
.
.
.
.
Ya, Sanada Yuki. Tapi, kenapa sangat dekat sekali?
Dan Masamune masih cengo. Sedang memproses apa yang tengah terjadi.
.
.
.
.
.
.
.
Loading Please Wait...
.
.
.
.
.
.
.
Start Loading...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
10%
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
20%
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
50%
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
75%
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
99%
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
100%
.
.
.
.
.
Loading Completed
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"WHAT?! SANADA YUKI?!"
Masamune menatap Yuki histeris. Matanya hampir melompat keluar. Dia sadar betul posisi mereka yang ehem-ehem, yaitu..., Masamune di bawah dan Yuki di atas. Silahkan bayangkan sendiri karena author tak mau menjelaskannya lebih rinci. Muka Masamune memerah sempurna.
"Yahh..., dangonya habis..." Yuki membolak-balik kemasan dango dengan polosnya. Kemudian matanya menangkap Masamune.
"Ahhh..., Kau yang kutabrak tadi pagi kan?! Wahhh..., tak kusangka kita bertemu lagi. Tapi kurasa di kelas tadi kita juga bertemu. Ahahahaaa... . Kalau tidak salah namamu Date Masamune kan? Kau juga yang duduk di sebelahku?" Yuki tersenyum dengan polosnya ke arah Masamune. Masamune tidak menjawab. Mulutnya melongo.
"Kau kenapa? Mukamu merah. Apa kau sakit?" Yuki lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Masamune.
"Da... da... dango. Kau... lalu... kau... kau... di..." Masamune gelagapan karena Yuki menyentuh dahinya. Yuki menatap Masamune polos tapi tak lama matanya terbelalak.
'Di... dia... sadarkah?' batin Masamune.
"ASTAGAAAAAAA! ITU KAN DANGO MILIKMU KAN YA? AKU MEMAKANNYA... AKU SUNGGUH MINTA MAAF...! AKU SELALU SEPERTI ITU JIKA MENYANGKUT SOAL DANGO.." Yuki berteriak tiba-tiba.
'Shit! Ku kira dia sadar.. ' Masamune sweatdropped sendiri.
"Kau kumaafkan Sanada Yuki. Sekarang.. err... tolong menyingkir dari atasku. Kau sangat berat.." Masamune memalingkan wajahnya ke kanan. Ia akhirnya berhasil mengeluarkan perkataannya.
"Ehh? Dari atas?" Yuki lalu melihat posisi mereka.
"UWAAAAAA! DATE-DONO AKU MINTA MAAF SEKALI LAGI! AKU BENAR-BENAR MINTA MAAF!"
Sekali lagi Yuki berteriak dan dengan cepat ia berdiri menjauh dari Masamune.
"Huft... . Akhirnya..." Masamune bernapas lega dan mencoba untuk berdiri. Semburat merah masih terlukis di pipinya.
"Da... Date-dono.., aku sungguh minta maaf. Aku sungguh bodoh. Dari pertama bertemu aku selalu berbuat salah pada Date-dono. AKU MINTA MAAF!" Yuki bersujud di hadapan Masamune berulang kali.
Masamune sweatdropped untuk yang kedua kalinya. Perasaannya campur aduk. Antara kesal dan... senang? Hei tunggu?! Senang?! Masamune segera menepis pikiran itu.
"Sudahlah... aku memaafkamu Sanada Yuki. Dan berhentilah bersujud di hadapanku! Itu membuatku malu.."
Yuki menatap ke arah Masamune. Ia belum juga berdiri. Setitik air mata menetes dari matanya. Masamune yang melihatnya langsung panik.
"Hei... hei... sudah... ja... jangan menangis..."
"Dari dulu aku selalu ceroboh. Aku pantas menerima hukuman. Hukumlah aku Date-dono! Hiks..."
Masamune semakin panik. Jika ini tempat umum, pastilah orang-orang mengira Masamune telah melakukan sesuatu kepada Yuki sampai ia menangis. Tapi untung saja ini atap sekolah yang sepi. Masamune pantas bersyukur. Tapi gadis di depannya ini…
"Tidak perlu menangis. Aku memaafkanmu…" ujar Masamune sembari mengusap air mata Yuki dengan ibu jari tangannya.
"Manusia memang wajar bila telah melakukan sebuah kesalahan. Dan kau tidak perlu menyesalinya.." tambahnya lagi. Dalam hati Masamune bersyukur lagi dulu pernah melakukan latihan drama waktu kelas lima SD. Ternyata itu ada gunanya juga.
"Hiks… tapi…" Yuki masih menangis. Ia menatap Masamune dengan mata berkaca-kaca.
Masamune tersenyum. Ia lalu menarik pelan lengan kanan Yuki dan membantunya berdiri. Walau sebenarnya Yuki tak ingin dibantu berdiri karena ia memang belum mau berdiri. Tapi Yuki menurut saja.
"Berhenti menangis. Aku tidak marah." Masamune berkata masih dengan senyumnya.
Entah kenapa Yuki menelan ludah melihat senyuman Masamune. Ia menundukkan kepalanya.
"Apa kau mengerti? Sanada Yuki?" Tanya Masamune.
"U..uhmm…" Yuki mengangguk pelan. Ia lalu mendongakkan wajahnya.
"Ta.. tapi.. dango Date-dono…"
"Tch. Kau masih mempermasalahkannya? Sudah kubilang tidak apa-apa." Masamune memutar bola matanya bosan. Ia lalu berjalan keluar ke arah pagar pembatas dan berbaring di atas bangku yang disediakan di dekatnya. Dan Masamune melakukan hobinya, yaitu menatap langit. Yuki mengikuti Masamune di belakang dan berdiri tidak jauh darinya.
Hening. Tak ada yang berbicara. Masamune sibuk akan kegiatannya, dan Yuki sibuk menatap Masamune dengan tatapan bersalah. Ia masih merasa tidak enak dengan kejadian tadi.
'Teng… teng... teng…'
Bel masuk berdentang. Tanda waktu istirahat telah usai. Tapi Masamune masih belum bergeming dari tempatnya.
"Uhmm… Date-dono… ini sudah masuk. Sebaiknya kita kembali ke kelas." Ujar Yuki mengingatkan.
"Memang kenapa? Aku ingin membolos.."
"Itu tidak baik Date-dono.."
"Ayolah… aku malas. Kalau kau mau masuk, masuklah. Atau… kau temani saja aku membolos di sini. Bagaimana?" Masamune menatap Yuki. Ia lalu memposisikan dirinya untuk duduk.
"Ta.. tapi.." Yuki berpikir sejenak. Ia bukan tipe anak yang suka membolos, tapi di lain pihak ia juga masih merasa bersalah kepada Masamune. Dan mungkin jika ia menemani Masamune, ia bisa menebus kesalahannya. Mungkin. Atau ini ide gila? Cukup lama Yuki berpikir.
"Hmmppff…. sudahlah. Kau sudah membolos. Ini sudah lewat 20 menit dari waktu jam pelajaran.." Masamune berusaha menahan tawa dengan tangan kanannya. Yuki cengo menatap Masamune.
"Aaaaaaaaa?! Apaaaaaaaaa?! Padahal ini hari pertamaku tapi aku sudah berbuat salah lagi!" Yuki tiba-tiba panik. Ia mengacak-acak kasar rambutnya sendiri.
"Ahahahahahahaaaa…" Masamune tertawa.
"Apa yang lucu?!" Yuki mengembungkan pipinya kesal.
"Tentu saja kau. Ahahahaaaaa..." tawa Masamune semakin keras.
"Uffftttt..." Yuki semakin mengembungkan pipinya.
"Ahahaa... kemari dan duduklah..." Masamune lalu bergeser sedikit, menyisakan tempat untuk Yuki duduk.
Yuki menghembuskan napas pasrah dan kemudian menuruti perkataan Masamune.
"Aku tadi melihatmu bernyanyi." Ucap Masamune. Yuki menoleh.
"Sungguhkah?!" Tanya Yuki. Mukanya memerah malu.
"Suaraku yang jelek jadi terdengar." Kata Yuki pelan hampir berbisik.
"Hmm? Jelek? Menurutku itu bagus. Kelewat bagus. Sangat merdu." Masamune memuji Yuki. Jujur ia jarang memuji.
"Kalau Date-dono bilang begitu aku senang.." Yuki tersenyum.
'Kami-sama tolong aku.' Masamune melongo (lagi?) melihat senyuman Yuki. Jantungnya berdetak kencang.
"Date-dono?" Yuki memiringkan kepalanya bingung.
"A.. ahh? Ya?" Masamune berusaha mengendalikan detak jantungnya yang semakin memburu.
"Kau kenapa?" Tanya Yuki.
"Tidak apa-apa?" Masamune memalingkan wajahnya.
"Ohhh… uhmm… aku boleh bertanya?" Tanya Yuki lagi.
Masamune menoleh ke arah Yuki. Dan dilihatnya gadis itu tengah menunduk sambil memainkan jarinya. Masamune bingung.
"Tanya saja."
"U… umm… apa aku boleh memanggil Date-dono dengan Masamune?" Yuki menatap Masamune ragu.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku tidak akan melarangnya." Masamune tersenyum kecil.
"Yahh.. mungkin saja kau tidak suka."
Hening.
"Ummm.. Ma.. Masamune-dono?" Tanya Yuki memecah keheningan.
"Ya?" jawab Masamune.
"Tidak.."
"Kau aneh Sanada…" Masamune kembali menatap langit. Yuki terdiam. Ia lalu mengambil gitarnya yang terletak tidak jauh darinya.
"Apa Masamune-dono mau menjadi temanku?"
Masamune menoleh. Ia bingung. Untuk apa gadis ini bertanya hal seperti itu? Kenapa ia selalu menanyakan hal yang aneh dari tadi? Perlahan Masamune menyeringai kecil.
"Kau benar-benar gadis yang aneh. Untuk apa juga kau menanyakan hal seperti itu?"
"E.. ehh? Itu…" Yuki menunduk. Ia memeluk erat gitarnya.
"Tentu saja boleh. Kau Sanada Yuki, mulai sekarang adalah temanku…" Masamune menunjuk Yuki dengan jarinya. Seringainya semakin melebar.
Yuki menatap Masamune. Ia tersenyum bahagia.
"Yoshhh! Arigatou...! Masamune-dono...!"
Hari ini adalah hari yang menyenangkan untuk Masamune. Dan hari dimana Yuki mendapat teman untuk yang pertama kali di sekolah barunya.
To be continued...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yukimura : Yahhh..., bagaimana minna? Tapi kok endingnya aneh ya? Author Ro bilang, jaklin lalala yang dipake pembatas dihilangkan. Lalu..., PERANKU BAGAIMANAAAA MINNA-SANNNNNNN?! BAGUSKAHHHHHHHHHHHHH? *Q*)/
Ro : *dorong Yukimura* Maaf minna.. lama... sekarang ayo mulai ceritanya..
Yukimura : sudah selesai -,-)
Ro : Ekhhh?! Kapan?! :v
Yukimura : Baru saja. Sekarang cepat ditutup.
Ro : Begitu ya..? Oiya karena kata Yukimura sudah selesai, sebagai tambahan. Lagu yang muncul kali ini adalah dari FUNKIST-Melody.
Masamune : Yeahhhh! Review please or Death Fang! *nyerobot* I'm death serious Ya know?! (mind : sapa tau gaji gue naek! Kalo naek kan bisa buat ngelamat Yuki. Ufufufufu...)
Ro & Yukimura : -.-)" Review please~ ^0^)/ *tebar bunga*
.
.
Suika Maou
