Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto (pastinyaaa!)
Pair : Sasuke dan Sakura (sedang mencoba Sasusaku nih!), Sai dan Ino (cuma sedikit sebenernya)
WARNING : Gak jelas, gak danta, miss typo, dan yang terpenting masih pemula! hehe (sekarang gak girang lagi kok, tapi tetep seneng bisa buat fanfict)
Hope y'all like it!
REVIEW-REVIEW-REVIEW~! (kalo gak review aku salto nih) (yaudah sih salto aja, ribet bener)
Happy Reading^^
-ooo-
Good Bye, Past!
CHAPTER 2
Aku melihat ke arah ramen Ichiraku dari rumah Naruto. Sesekali, angin berdesir membelai rambutku.
"Hai, Ino! Maaf ya kalau menunggu lama, hehe," Naruto menatap ke arahku lalu tertawa.
"Hah, kau ini. Suka sekali sih membuat orang menunggu! Di misi yang lalu juga kami selalu menunggumu kan?!" kataku marah. Lumayan, sesaat bisa menghangatkan badan.
"Gomen na sai (maaf), Ino! Tidak kulakukan lagi deh," Naruto hanya bisa menggaruk kepalanya. "Jadi, mengapa kau datang ke sini?"
"Ada yang mau kutanyakan padamu," aku melihat Naruto dan mengisyaratkan dia untuk duduk.
"Apa itu?" kata Naruto lalu duduk di sampingku.
"Ye, duduknya jangan terlalu dekat! Modus kan?!" amukku lagi.
"B-bukan begitu. Aku masih menyukai Sakura juga kok. Jadi, ada apa?" tanya Naruto.
"Ini ada kaitannya dengan Sakura," aku mulai melihat ke arah ramen Ichiraku.
"Sakura - chan?"
"Hmm."
"Ada apa dengannya? Dia sakit?" Ekspresi Naruto langsung berubah menjadi panik.
"Gak kok," aku menenangkannya.
"Lah, terus?" Naruto tak mengerti.
"Kau tau kan, Sakura telah jadian dengan sahabatmu?" aku melihat Naruto sekilas.
Plis, aku harus tegar!
"Sasuke maksudmu?" kata Naruto.
"Iya."
"Ya, aku tau itu," kata Naruto.
"Terus, apa pendapatmu?" aku mulai bertanya lagi.
"Kan sudah aku bilang, kalau Sakura bahagia, aku pasti bahagia juga," kata Naruto lalu tersenyum. "Lagipula, Sakura kan jadian dengan Sasuke. Aku yakin Sasuke bisa melindungi dan menjaga Sakura lebih baik daripada aku."
"Aku gak puas dengan jawabanmu, Naruto!" aku bangkit berdiri.
"Ya, itu pendapatku," kata Naruto.
"Ah, percuma aku ke sini mendapatkan jawaban yang tidak ku inginkan! Aku pamit pulang dulu!" kataku mulai meninggalkan Naruto.
"Hei, Ino. Ingat satu hal. Menurutku, lebih baik kita kehilangan pacar atau orang yang kita suka, dibanding sahabat! Karena, menurutku sahabat itu susah dicari!" kata Naruto.
Aku terdiam mematung. Aku pun berusaha membalikkan badanku sebentar.
"Sahabat pertamaku adalah Sasuke! Dia yang pertama kalinya menerimaku dengan apa adanya! Aku tak akan mau kehilangan sahabat sepertinya! Sahabat yang selalu mengerti aku. Sahabat yang tidak pernah egois! Aku tau, mungkin dia adalah orang tercuek yang pernah ada, tapi aku tetap ingin menjadi sahabatnya!" kata Naruto sambil berteriak.
Aku gak sanggup mendengarnya lagi. Aku pun pergi meninggalkan Naruto.
-ooo-
Di kamar, aku mulai menumpahkan semua laraku. Aku tak tau harus berbicara dengan siapa lagi. Akhirnya aku hanya bisa menangis dan menangis.
"Kenapa semua orang tak sepertiku? Mereka seakan - akan menerima Sakura dan Sasuke jadian! Misalnya seperti Naruto!" aku menangis sejadinya.
"Apa aku yang terlalu egois?"
"Hiks, aku tak pernah seegois ini!"
"Gak, aku gak egois! Sakura saja yang suka menghancurkan hubunganku dengan Sasuke - kun!"
"Hiks, sahabat apaan? Sahabat egois!"
Tak tersadar, mataku mulai berat. Aku berusaha tetap membuka mata. Namun apa daya, aku sudah tak tahan lagi. Aku pun tertidur, seakan dengan tidur, aku bisa melupakan Sakura dan juga Sasuke.
-ooo-
Pagi hari. Aku sudah siap untuk keperluan hari ini. Aku pun turun, bergegas untuk pergi ke rumah sakit hari ini.
"Ohayō Gozaimasu! (halo)" aku menyapa ayahku. "Hari ini ayah ada misi?"
"Ya, hari ini hokage menyuruh ayah melakukan suatu misi. Namun, ayah belum tau misi apa. Ayah berangkat dulu ya. Kamu jangan lupa kunci pintu rumah."
"Ya. Hati - hati yah!" aku melambaikan tanganku pada ayah yang mulai pergi.
"Aku juga harus mulai berangkat!" aku mulai keluar rumah, dan mengunci pintu rumah tentunya.
-ooo-
Aku mulai berjalan menuju rumah sakit. Aku berjalan dengan bersemangat, sambil melihat ke arah kanan dan kiri. Siapa tau ada hal menarik kan?
Langkah kakiku berhenti di kedai yang menjual Custard Pudding. Ya, karena aku belum sempat sarapan, lebih baik untuk mengganjal perut, aku akan membelinya.
"Custard pudding-nya satu!" aku memesan.
"Sebentar ya!"
"Ya!" aku menjawabnya dan menunggunya.
Pagi ini memang menyenangkan! Cuaca yang cerah, suasana desa yang menyenangkan...
Tapi, tiba - tiba...
Sepasang kekasih berdiri di sampingku, dan seketika saja membuat mood ku turun drastis.
"Yuuna - chan, kamu yakin, pagi hari seperti ini membeli Custard Pudding?"
"Iya, Haruto - kun! Kau kan tau kalau aku suka Custard Pudding!"
"Hah, kau ini memang benar - benar keras kepala ya!"
"Hentikan mengacak rambutku. Kan susah beresinnya lagi. Emang dandan gampang?"
"Tenang, kau kan tetap cantik."
Benar - benar deh, pasangan kekasih itu membuatku iri setengah mati. Itu membuatku ingat pada Sasuke.
*flashback*
"Sasuke - kun cepat!" aku mulai berlari.
"Ino - chan, kau ini masih pagi sudah lari saja," Sasuke menyelipkan tangannya di saku celana.
"Ih, kau ini. Bersemangatlah di awal musim dingin ini!" aku menarik tangan Sasuke.
"Ino - chan! Gak enak dilihat banyak orang!" kata Sasuke melepaskan tangannya.
"Iya deh," aku pasrah.
"Jangan sedih gitu lah," Sasuke mengacak rambutku pelan.
"Nah, ayo cepat jalannya!" aku menggandeng tangan Sasuke lagi.
"Sasuke - kun, lihat!" aku menunjuk kedai makanan yang hanya ada di musim dingin.
"Hm?"
"Itu, Custard Pudding!" aku menggandeng tangan Sasuke dan mengajak ke kedai itu.
"Custard Puddingnya satu! Kau mau Sasuke - kun?"
"Iie (tidak), Ino - chan," Sasuke tersenyum. Senyum yang jarang dia munculkan pada orang lain.
"Ini Custard Pudding - nya!"
"Arigatou! (terima kasih)" kataku lalu mulai memakannya. "Kau mau, Sasuke - kun?"
Sasuke menggeleng.
"Ah, sudah. Makanlah!" aku mulai menyendokkan Custard Pudding dan memasukkannya ke mulut Sasuke. "Gimana?"
"Kau ini, sudah kubilang aku tidak mau," kata Sasuke dengan mulut penuh.
"Tapi enak kan?" kataku. Sasuke hanya tersenyum sekilas.
"Custard Pudding memang enak!" aku tertawa.
*kembali ke kehidupan nyata*
"Ano... aku tidak jadi membeli. Gomen na sai," aku mulai pergi dari kedai, dan melanjutkan perjalananku.
-ooo-
"Ohayō Gozaimasu, Sai!" aku menyapa Sai. "Ada apa?"
"Ano... Apakah kak Shizune ada?" tanya Sai.
"Silahkan masuk dulu. Aku juga belum tau kak Shizune ada atau tidak," kataku, lalu Sai berjalan beriringan denganku.
-ooo-
Aku mulai memasuki rumah sakit. Tampaknya, semuanya sudah mulai sibuk.
Dan aku melihat dia lagi.
Orang menyebalkan.
Maksudku, sahabat menyebalkan.
Dengan pacarnya yang juga sama menyebalkannya di mataku.
"Ino!"
"Sakura," kata Sai.
"APA?! KAU MAU MEMANGGILKU JELEK LAGI?!" kata Sakura galak.
"T-tidak. Apakah kak Shizune ada?" tanya Sai melihat Sakura yang menyeramkan.
"Ada di sana," Sakura menunjuk ke kanan. Aku pun mengikuti langkah Sai karena tujuanku sama, yaitu ingin menemui Kak Shizune. Siapa tau ada tugas kan?
"Ino! Tunggu!" Sakura menahan langkahku.
"Nani (apa)? Sasuke lagi?" aku menjawabnya dengan nada datar.
Habis mau gimana? Daripada dia menangis. Bahaya kalau dia sampai menangis di rumah sakit.
"Aku mau minta maaf. Soal kemarin. Aku memang gak tau diri," kata Sakura.
"Nah, akhirnya kau sadar juga," aku menepuk bahu Sakura. "Ya, aku maafkan. Jangan diulangi lagi."
"Akan aku usahakan," Sakura memeluk tubuhku, lalu kulepaskan.
Aku masih kesal saja.
-ooo-
Akhirnya sudah mulai sore. Matahari sudah mulai bersembunyi. Matahari tau, kalau tugasnya sudah mulai berakhir. Aku tau itu, karena tugasku di rumah sakit juga sudah mulai berakhir.
"Ino, mau pulang bareng?" tanya Sakura.
"Gak bareng Sasuke?" tanyaku balik.
"Aku takut, kalau aku membawa Sasuke ke sini, kau akan marah. Ini demi kamu, makanya aku gak bawa dia ke sini."
Demi aku katanya? Astaga. Aku terkejat - kejut dibuatnya. Lebay memang.
"Oh, suruh Sasuke saja menjemputmu. Aku bareng... Sai," kataku. Tadinya mau pulang sendiri. Kebetulan aku melihat Sai yang mau pulang. Aku asal ceplos deh. Hehe.
"Oh begitu. Baiklah, Mata ashita (sampai jumpa besok)," kata Sakura.
"Ino, apakah kita akan pulang bersama?" Sai bingung.
"Gomen na sai! Tidak, tadi aku hanya tak mau pulang bersama Sakura," kataku pada Sai.
"Doushite (kenapa)?"
"Ano..."
"Masalah Sasuke dan Sakura, hm?"
"B-bagaimana kau tau itu?" aku bingung.
"Tau. Menurut buku yang aku baca, ekspresimu itu menandakan cemburu," kata Sai menunjukkan sebuah buku. "Kau cemburu dengan Sakura?"
"Mmmm..."
"Kau masih menyukai Sasuke?"
"Mmmm..."
"Ino, aku tau pandanganmu itu. Kau masih menyukai Sasuke kan?"
"Mmmm..."
"Ino, menurut buku yang aku baca, hal itu memang kerap terjadi pada wanita. Tapi, seiring berjalannya waktu, kita harus tetap maju. Hapus kesedihan itu, kita harus tetap bisa melanjutkan hidup. Kita tidak boleh terus bersedih, walaupun sesuatu atau seseorang yang pernah kita cintai itu tiba - tiba hilang. Itu yang aku baca di buku," kata Sai.
"Mata ashita (sampai jumpa besok), Ino," Sai lalu berlawanan arah denganku.
Seiring Sai pergi, aku pun mulai meneteskan air mata, dan awan pun mulai meneteskan air matanya juga.
-ooo-
Saat ini, aku sedang menunggu hujan reda. Ya, aku masih di rumah sakit.
Kenapa Sai mengatakan hal seperti itu? Emang Sai tau apa soal perasaanku? Dia sama saja kayak Naruto! Aku benci pendapat Naruto dan Sai! Memuakkan. Sungguh memuakkan!
"Ino?"
Suara itu.
Suara itu.
SUARA YANG SELAMA INI AKU RINDUKAN!
"S-sasuke?" aku melihatnya.
"Sakura - chan mana?"
Lagi - lagi gadis menyebalkan itu. Hmph.
"Gak tau, udah pulang kali," kataku jutek.
"Dengar, Ino," kata Sasuke. "Aku tau kau cemburu."
"Huh, kata siapa?" aku langsung melihat ke arah jalan.
"Sai yang bilang, saat aku lagi di jalan," kata Sasuke, lalu berdiri di sampingku.
ADUH, SAI KENAPA KAU JUJUR SEKALI?
"Kau masih menyukaiku? Kok cemburu?"
"Yaiyalah! Siapa sih yang gak cemburu? Aku masih menyukaimu, Sasuke - kun!" kataku. Oke, aku menangis lagi.
"Dengar, Ino. Aku tau, aku pembohong besar. Tapi, kalau kau mau tau, aku lebih menyukai Sakura ketimbang dirimu," kata Sasuke. Aku shock.
"Kenapa Sakura? Kenapa sahabatku? Kenapa?!" aku mulai membentak Sasuke kesal.
"A-aku gak tau. Tiba - tiba perasaanku terhadapmu hilang. Tiba - tiba saja aku langsung menyukai Sakura," kata Sasuke.
Aku terdiam. Aku gak bisa berkata lagi.
"Ino, aku tau kau membenciku. Bencilah aku sepuas yang kau mau. Maafkan aku, Ino," kata Sasuke lalu meninggalkanku tanpa perasaan berarti.
Kenapa hidupku sial begini?
Sasuke - kun, kau jahat!
Aku menangis sejadi - jadinya, tanpa menghiraukan hujan yang semakin deras dan malam yang semakin pekat.
-ooo-
Konnichiwa! Bertemu lagi dengan saya, MissYamanaka, Fandom favorit di seluruh dunia!
*readers langsung demo seriusan deh ya*
Well, di cerita ini aku mulai make bahasa jepang (walaupun sangat teramat jarang). Maaf kalau ada bahasa jepang yang salah, eke masih belajar cyin (menjelma menjadi bencong)
AKHIRNYA, AKU MENCOBA SEKUAT TENAGA UNTUK MENEMUKAN INSPIRASI CERITA, DAN WORDNYA MAKIN BANYAK (mencucurkan air mata bahagia) (disemprot sama readers) (padahal wordnya masih dikit) (fandom paling belagu ya aku doang kayaknya)
Okeee, sepertinya masih gak nyambung, cuma saya masih mencari lem untuk menyambungkannya (apaan sih gak jelas woo)
Tunggu kehadiran fandom cantik ini di chapter 3 yaa! (fandom gak waras yaampun) mungkin akan dilahirkan lagi di waktu yang lamaa, masih persiapan UN! Lagi nyiapin senjata(?)
Oke, daripada aku atau saya semakin gila, mending curhatnya udah dulu.
Review dong tolong, saya sedih ngeliat review yang dikit ;;) (kedap kedip gak waras)
ARIGATOU! (review jangan lupa lelz)
*oke fandomnya maksa minta review* (fandom yang jahat)
