n. b : ini cerita dari Sandra Brown berjudul Envy (lelaki penuh luka). Jujur, aku suka banget dengan jalan ceritanya. Maka dari itu, aku buat ff ini dari cerita itu dengan cast-nya sungmin dan kyuhyun (couple favorit aku). Don't like don't read, oke? Tidak terima bash. Terima kasih.
Chapter 1
"mwooo? Tapi pasti ada." Choi sungmin mengetukkan pensilnya ke notes yang telah dicoretinya dengan gambar-gambar abstrak. Dibawah gambar itu, ia mengambar sketsa kasar sebuah sampul buku.
"C. K. H., benar?"
"ne."
"mianhamnida, aghassi, tidak ada di daftar. Aku sudah memeriksa ulang."
"C. K. H. tidak terdaftar dikode daerah ini?"
"di kode daerah manapun," balas si operator. " aku sudah mengakses seluruh korea selatan."
"mungkin di daftar nomor telepon bisnis, bukan rumah." Coba sungmin pantang menyerah.
"aku sudah memeriksa keduanya."jawab si operator membuat sungmin mengembungkan pipinya frustasi.
"apa mungkin nomornya tak terdaftar?" Tanya sungmin sambil mengetuk-ngetuk pensil yang dipegangnya.
"mestinya sih ada tandanya kalau memang tidak terdaftar. Aku tidak punya catatan apa pun dengan inisial seperti itu. kalau anda punya nama belakangnya-"
"aku tidak punya."potong sungmin.
"kalau begitu maaf."sesal si operator.
"gwenchana."
Karena frustasi, sungmin mempertimbangkan kembali sketsanya, lalu mencoret-coretnya. Itu membawanya kembali pada prolog envy yang dibacanya siang itu. ia menemukannya diantara setumpukan naskah yang terabaikan. Berbulan-bulan lamanya tertumpuk memenuhi satu rak dikantor, menunggu hingga dibaca oleh si penerbit yang mau menerbitnya.
Dua belas halaman prolog ini menjanjikan. Halaman-halaman ini membuat sungmin tertarik lebih dari apapun yang dibacanya akhir-akhir ini. Prolog itu memancing rasa penasaran sungmin. Ia ketagihan ingin membaca kelanjutan kisah itu. apakah kelanjutan kisah itu sudah ditulis? Sekelebat pertanyaan demi pertanyaan ada dipikiran sungmin saat itu.
Tidak ada apapun yang menunjukkan jenis kelamin si penulis, meskipun naluri sungmin mengatakan penulisnya adalah seorang namja. Dialog cerita didalam hati Jordan Kim sesuai dengan kepribadiannya sebagai pelaut dan terdengar seperti bahasa yang akan digunakan namja dalam berpikir. Ceritanya cocok dengan jiwa sipelaut tua yang puitis, meskipun kasar.
Namun halaman-halaman itu dikirim oleh orang tak berpengalaman. Semua peraturan standar di langgar. Amplop beralamatkan si pengirim yang sudah di tempeli perangko tidak di lampirkan. Karangan itu tidak memiliki surat pengantar. Tidak ada nomor telepon, alamat, kotak pos, atau alamat email yang bisa di hubungi. Hanya ada tiga inisial dan nama pulau yang belum pernah sungmin dengar sebelumnya. Bagaimana mungkin si penulis berharap bisa menjual naskahnya jika ia tidak bisa di hubungi?
"kau belum siap?"
Siwon muncul di pintu kantornya yang terbuka, mengenakan setelan jas Armani-nya. Sungmin berkata. "astaga, kau kelihatan tampan." Sambil melirik jam dimejanya, ia sadar dirinya telah lupa waktu dan ia memang terlambat. Sambil menyisir rambut dengan jari-jarinya, ia melontarkan tawa pendek yang mencela diri sendiri. "sementara aku berantakan."
Suaminya yang sudah menikah dengannya selama dua puluh dua bulan itu menutup pintu dibelakangnya dan melangkah mendekati sungmin. Ia melemparkan majalah perdagangan ke kemeja sungmin, lalu bergerak kebelakang kursinya dan mulai memijiti leher dan bahu wanita itu,
"hari yang berat?"
"sebenarnya tidak seburuk itu. hanya ada satu rapat siang tadi. Sebagian besar hari ini kugunakan untuk menyediakan ruang kosong disini." Ia memberi syarat ke arah tumpukan naskah yang sudah ditolak dan sedang menunggu dibuang.
"kau membaca tumpukan naskah yang ditolak? Sungmin, yang benar saja." Cemooh siwon enteng. "kenapa repot-repot? Bukankah kebijakan penerbit lee company adalah, jangan membeli apapun yang tidak dikirim oleh agen."
"itu peraturan resmi perusahaan, tapi karena aku seorang lee, aku bisa membengkokan peraturan jika mau."
"aku menikahi anarkis," goda siwon, membungkuk untuk mencium leher istrinya. "tapi jika kau merencanakan pemberontakan, tidak bisakah bila alasanmu sesuatu yang mempelancar operasi perusahaan, bukannya yang menghabiskan waktu beharga penerbit dan wakil presdir senior kita?"
"itu gelar menjijikan." Balas sungmin bergidik sedikit. "membuatku merasa seperti wanita tua kuno yang berbau obat batuk pelega tenggorokan dan memakai sepatu yang pantas."
Siwon tertawa, " itu membuatmu terdengar berkuasa, yang memang benar. Dan luar biasa sibuk, yang memang benar."
"kau lupa menyebutkan pintar dan seksi."
"itu sudah pasti. Berhentilah mencoba mengubah topik. Kenapa repot-repot membaca tumpukan naskah yang sudah ditolak? Bahkan para editor kita yang paling junior sekalipun tidak mau membacanya."
"karena Appaku mengajariku untuk menghargai siapa pun yang mencoba menulis. Bahkan kalaupun bakat si penulis itu terbatas, usahanya saja sudah berhak dipertimbangkan."
"aku tidak berani membantah lee han kyung yang patut dimuliakan."
Meskipun siwon mencela dengan ringan, sungmin tidak memperdulikannya dan berniat melanjutkan kebiasaannya membaca tumpukan naskah yang sudah ditolak. Bahkan jika itu memakan waktu dan tidak produktif, itu adalah salah satu prinsip mendasarinya hingga menjadi wanita yang sukses kini.
"aku mendapat advance-copy artikel itu." cetus siwon.
Sungmin mengambil majalah yang dibawa suaminya secarik post-it menunjukkan halaman tertentu. Setelah membalik kehalaman itu sungmin berkata, "ah, foto yang hebat."
"fotografer yang bagus."
"subjek foto yang bagus."
"gomawo."
"choi siwon berusia tiga puluh tiga tahun, tapi bisa dianggap jauh lebih muda," sungmin membaca keras-keras artikel itu. sambil mendongak, Ia melemparkan tatapan kristis. "aku setuju. Kau tidak terlihat lebih tua seharipun dari usia tiga puluh dua."
"ha-ha."
" 'olahraga setiap hari di gym penerbit lee company dilantai enam-salah satu inovasi choi ketika bergabung dalam perusahaan itu tiga tahun lalu-menjaga sekujur tubuhnya yang setinggi 180 cm tetap ramping dan berotot.' Yakkk, penulis ini benar-benar terpikat. Apa kau pernah berhubungan dengannya?"
Siwon terkekeh. "sama sekali tidak."
"dia salah satu dari sedikit wanita yang tidak."
Pada hari pernikahan mereka, dengan bergurau sungmin mengatakan pada siwon, begitu banyak yeoja lajang sedang berduka karena kehilangan salah satu namja single yang paling memenuhi syarat dikota itu.
"apakah dia menyebutkan ketajaman bisnis dan kontribusi yang telah kau berikan pada penerbit lee company?"
"lebih kebawah lagi."
"mari kita lihat… ' rambut hitam membuat penampilannya yang tampan jadi lebih berwibawa'… dan sebagainya dan selanjutnya blablabla dan blablabla mengenai sikapmu yang berwibawa dan pesonamu. Apa kau yakin dia benar-benar tidak tertarik-oh, ini ada sesuatu. 'ia berbagi kepemimpinan di penerbit lee company dengan ayah mertuanya, lee hankyung, sang penerbit legendaris, yang bertindak sebagai pimpinan dan CEO. Dan istrinya, choi sungmin, yang ia nyatakan memiliki seleksi serta keahlian editorial sempurna. Dengan rendah hati, ia memuji istrinya serta reputasi perusahaan sebagai penerbit buku-buku bestseller'." Merasa senang, sungmin tersenyum mendongak pada suaminya. "apa kau bilang begitu?"
"lebih banyak lagi, tapi tidak dituangkannya disitu."
"kalau begitu terima kasih banyak."
"aku hanya mengatakan apa yang kutahu sebagai yang sebenarnya."
Sungmin membaca sisa artikel yang memuji-mujinya itu, lalu meletakkan majalah itu. "bagus sekali. Tapi walaupun dia sangat antusias, dia melewatkan dua inti biografis yang penting."
"dan apakah itu?"
"bahwa kau juga penulis yang menakjubkan."
"the vanquished itu berita lama."
"tapi seharusnya disebutkan kapanpun nama novelmumu dalam artikel."
"apa hal kedua?"tanyanya dengan nada kasar yang ia gunakan setiap kali sungmin bicara tentang satu-satu novelnya yang diterbitkan.
"ia tidak mengatakan apa-apa tentang teknik pemijatanmu yang luar biasa."
"dengan senang hati aku akan melayanimu."
Sembari memejamkan mata, sungmin memiringkan kepala. " sedikit lebih kebawah lagi, disebelah… ahh~ disitu." Siwon menekan ibu jarinya yang kuat dititik antara tulang belikat sungmin, dan ketegangan tersebut mulai luntur.
"kau tegang sekali." Cetus siwon. "sudah sepantasnya, karena kau mengeruk-ngeruk tumpukan sampah itu seharian."
"tapi ternyata waktuku mungkin tidak terbuang sia-sia. Sebenarnya aku menemukan sesuatu yang membangkitkan ketertarikanku."
"kau bercanda?"
"tidak."
"fiksi atau non-fiksi?"
"fiksi. Hanya prolog, tapi menarik. Dimulai dengan-"
"aku ingin mendengar semuanya, chagi. Tapi kau benar-benar harus bergegas jika kita mau tiba disana tepat waktu."
Siwon mencium puncak kepala sungmin, lalu berusaha mundur. Tapi sungmin menggapai kedua tangan suaminya dan menariknya keatas bahunya. "apa malam ini merupakan kewajiban?"
"kurang-lebih."
"kita bisa melewati satu pesta, bukan? Dan minta izin untuk kita tidak hadir malam ini."
"karena itu sebaiknya kita hadir. Penerbit lee company membeli sebuah meja. Dua kursi kosong, Pasti kentara. Bukankah salah satu penulis kita akan menerima penghargaan."
"agen dan editornya menghadiri pesta bersamanya. Ia pasti sudah punya pendukung yang bersorak sorai." Sungmin membawa tangan siwon kepayudaranya. "ayo kita telepon dan bilang sakit. Kita pulang dan mengurung diri dari dunia. Kita buka sebotol wine, lebih murah lebih baik. Kita berendam di Jacuzzi dan saling menyuapkan pizza. Kita bercinta disatu ruangan lain selain tempat tidur. Bahkan mungkin dua ruangan."
Sambil tertawa, siwon meremas payudara istrinya dengan sayang . "kau bilang prolog itu tentang apa?" ia menarik tangannya dari bawah tangan istrinya dan berjalan kepintu.
Sungmin mengerang kecewa. "kupikir aku memberimu tawaran yang tak bisa kau tolak."
"menggoda. Sangat. Tapi kalau kita tidak hadir pada acara makan malam ini, itu akan membangkitkan kecurigaan."
"kau benar. Aku tidak ingin orang-orang berpikir kita masih bersikap seperti pasangan baru menikah yang mendambakan malam hari berduaan."
"kau benar."
"tapi… ?"
"tapi kita juga punya tanggung jawab professional, sungmin. Seperti yang sudah kau ketahui dengan jelas. Penting bagi semua orang dalam industri ini untuk mengetahui bahwa saat mereka mengacu pada penerbit lee company, lebih baik mereka mengucapnya dengan mengacu pada masa kini atau masa mendatang, bukan masa lalu."
"dan karena itulah kita menghadiri hampir setiap acara penerbit apa pun yang diselenggarakan di seluruh kota seoul" Tutur sungmin, seolah-olah itu bagian kata-kata yang sudah dihafalnya.
"tepat sekali." Ia melirik jamnya. "berapa lama waktu yang kau perlukan? Aku harus memberitahu sopir kapan kita turun."
Sungmin menhela napas menyerah. "beri aku dua puluh menit."
"aku akan bermurah hati. Ambillah tiga puluh menit." Ia melemparkan ciuman sebelum pergi.
Tapi sungmin tidak langsung beranjak. Sebaliknya, ia meminta asistennya untuk menelpon. Ia sudah punya ide lain untuk menelusuri penulis envy.
Seharusnya aku berdandan untuk acara itu, sungmin mengingatkan diri sendiri, tepat saat teleponnya berbunyi. "dia dijalur satu." Asistennya memberitahu.
"gomapta. Kau tak perlu menunggu. Sampai jumpa besok." Sungmin menekan tombol yang berkedip-kedip. "yeobseoyo?"
"ne. kepolisian chungnam, shin dong hee disini."
"yeobseoyo, shindong-ssi. Terima kasih sudah mau menerima teleponku. Naneun choi sungmin imnida."
"mian?"
Sungmin mengucapkannya lagi.
"uh-huh."
"aku ingin kau menghubungi seseorang yang aku yakin tinggal di pulau hwanjunam."
"itu ada diwilayah kami."
"apakah hwanjunam benar-benar sebuah pulau?".
"tidak juga. Maksudku, pulau kecil. Tapi memang pulau sih. Kurang dari dua mil dari daratan. Anda sedang mencari siapa?"
"seseorang dengan inisial C. K. H"
"apa anda bilang C. K. H?"
"apa anda pernah mendengar seseorang dengan inisial itu?"
"kurasa tidak, aghassi. Apa kita membicarakan namja atau yeoja?"
"sayangnya, aku tidak tahu."
"anda tak tahu? Huh. " setelah satu atau dua detik, si polisi bertanya, "jika anda tak tahu itu namja atau yeoja, apa yang anda inginkan dengannya?"
"urusan bisnis."
"bisnis."
"ne."
"huh."
Jalan buntu. Sungmin mencoba lagi. "kupikir mungkin anda tahu, atau mungkin pernah mendengar seseorang yang-"
"tidak pernah."
Percakapan ini tidak berlanjut kemana-mana dan waktu yang sungmin sediakan mulai habis. "yah, khasamnida buat waktunya, shindong-ssi. Mian aku telah merepotkan anda."
"gwechana."
"apa anda keberatan mencatat nama dan nomor teleponku? Jika kita terpikir sesuatu atau anda mendengar seseorang dengan inisial itu, aku akan berterima kasih jika anda sudi memberitahuku."
Setelah sungmin memberikan nomor teleponnya, polisi itu berkata, "aghassi? Jika ini mengenai sokongan bagi anak terbelakang atau surat perintah penangkapan orang terkenal atau sesuatu seperti itu, dengan senang hati aku akan mencari tahu apakah-"
"ani, ani. Ini bukan mengenai masalah hukum."
"bisnis."
"ne."
"yah, arraseo."katanya dengan kekecewaan yang jelas. "mianhamnida aku tidak bisa membantu anda."
Sungmin berterima kasih lagi, lalu menutup kantornya dan bergegas keujung lorong menuju kamar kecil yeoja. Ia telah menggantung gaun koktailnya disana, sejak ia tiba pagi-pagi tadi. Karena ia sering menukar pakaian bisnisnya dengan gaun malam sebelum keluar meninggalkan gedung, ia menyimpan seperangkat lengkap peralatan rias dan komestik dilemari. Ia menggunakan itu sekarang.
Saat ia bergabung dengan siwon di lift lima belas menit kemudian, suaminya bersiul panjang seperti namja bermata keranjang, lalu mencium pipi sungmin. "perubahan yang bagus. Sebenarnya keajaiban. Kau tampak fantasis."
Saat mereka turun kelantai dasar yang sejajar dengan jalan, sungmin mengamati bayangannya dipintu lift metal dan menyadari usahanya tidak sia-sia. "fantastis," sedikit berlebihan, tapi mengingat sebelumnya ia kusut, ia tampak lebih baik ketimbang yang ia harapkan.
Ia memilih mengenakan gaun sutra ketat berwarna cranberry dengan tali kecil dan garis leher rendah membulat. Pengakuannya terhadap kegemerlapan acara malam itu muncul dalam bentuk anting bertatahkan intan ditelinganya dan tas tangan berbentuk kupu-kupu yang bertaburan Kristal, hadiah natal dari ayahnya. Ia membawa syal pashmina yang dibelinya diparis sewaktu mampir disana setelah pameran buku internasional di Frankfurt.
Ia mengikat rambutnya yang sebahu menjadi ekor kuda rendah yang rapi. Tatanan rambut itu tampak chic dan modern, bukannya putus asa, padahal sebenarnya begitu. Ia telah memulas kembali riasan matanya, mempertegas garis bibirnya dengan pensil bibir, dan memoles bibirnya dengan lip gloss. Untuk memberi warna diwajahnya yang pucat dibawah lampu neon, ia memoleskan bedak berwarna perunggu kepipi, dagu, dahi, dan bagian diatas garis leher bajunya. Bra push-upnya, suatu keajaiban pabrik, menciptakan belahan dada indah yang membusung digaris leher gaunnya.
"kulitnya cokelat dan payudaranya tidak asli."
Pintu lift terbuka dilantai dasar. Siwon menatap istrinya dengan penasaran saat ia menepi untuk membiarkan sungmin keluar lebih dahulu. "mian?"
Sungmin tertawa pelan. "gwechana. Hanya menguntip sesuatu yang kubaca hari ini saja."
To be continued….
n.b: mian, buat pulau-pulau yang kutulis itu seratus persen dari imajinasi aku sendiri jadi mau kalian cari di mbah google pun tidak akan ada dimanapun. Kalaupun ada, mungkin itu adalah suatu hal yang kebetulan.
Thanks to review :
icaiiank : ada kok baca aja chingu
Rilianda-Abelira : mian, ini udah diedit seedit-editnya chingu... kalau masih keliatan kaya novel terjemahan... mohon dimaklumi karena saya masih baru disini.
Sung-Hye-Ah : abu-abu? aku liatnya hitam putih chingu *loh
