It's You

By minslatte

Taehyung x Yoongi as maincast

.

.

ENJOY~!

.

.

.

Yoongi membenci Taehyung.

Sebenarnya tidak begitu membencinya. Hanya saja, Yoongi tidak suka dengan cara Taehyung mendekatinya!

Seperti saat ini. Yoongi menemukan beberapa surat dan coklat di lokernya. Oh, ada juga setangkai mawar merah. Sialan, Yoongi bukan seorang gadis yang suka diberi bunga dan coklat. Dan lagi, ayolah, ini zaman modern, bukankah Taehyung bisa mengirimnya pesan lewat ponsel daripada surat? Atau jangan-jangan Taehyung tidak bisa menggunakan ponsel?

Yoongi meremas surat-surat beramplop merah muda itu. Kemudian membuangnya ke tempat sampah bersamaan dengan setangkai bunga mawar. Yoongi mendecak kemudian mengambil coklat yang ada di lokernya. Menutup lokernya kemudian mengedarkan pandangannya.

"Oi, Hoseok!" Yang dipanggil Hoseok menoleh dan menangkap coklat dari Yoongi. Hoseok berseru terima kasih dan Yoongi mengacungkan jempolnya. Kakinya melangkah meninggalkan bagian loker. Moodnya sedang tidak baik kali ini.

Tujuan utamanya saat ini adalah rooftop. Tidur di sana mungkin bisa menetralkan pikiran Yoongi yang sedang penuh dengan ujian. Maklum, berada di kelas tiga membuatnya harus terus belajar jika ingin masuk universitas.

"Oh, shit," Yoongi mengumpat. Dia baru saja membuka pintu rooftop dan disuguhi pemandangan seorang alien—maksudku, Kim Taehyung—yang sedang merebahkan tubuhnya di tempat yang biasa Yoongi tempati.

"Oh! Hai, Yoongi hyung!" Taehyung menyapa Yoongi kelewat ceria. Yoongi mendecak sebal kemudian menutup pintu rooftop kembali dan pergi.

Taehyung tersenyum mamandang Yoongi yang pergi meninggalkannya. Menurutnya lucu melihat Yoongi yang akan berjengit kesal tiap kali melihatnya. Mata sayunya akan sedikit membola dan membuatnya benar-benar menggemaskan.

Ah, Taehyung jadi ingin hari-harinya penuh dengan Yoongi.

Yoongi memasukkan seluruh buku dan alat tulisnya asal—asal cepat, itu yang ada di pikiran Yoongi. Inginnya cepat-cepat keluar kelas setelah bel berbunyi dan berlari keluar area sekolah. Sebelum ia bertemu dengan Kim Taehyung. Ukh, membayangkan bertemu dengan Taehyung saja sudah membuatnya dongkol. Adik kelasnya itu memang benar-benar berkemauan keras.

"Seokjin, aku duluan," Yoongi menggendong tasnya kemudian berjalan cepat menuju pintu. Meninggalkan Seokjin yang masih santai memasukkan buku-bukunya.

Yoongi melangkahkan kakinya lebar-lebar. Tinggal menuruni tangga dan melewati lorong kelas dua dia akan sampai ke halaman sekolah.

Tunggu dulu. Lorong kelas dua?

What the fuck. Taehyung pasti akan menunggunya di depan kelasnya. Sialan double sialan.

Yoongi membalikkan tubuhnya. Berjalan lawan arah dengan siswa lain yang ingin pulang. Satu-satunya jalan ia pulang adalah melewati gerbang belakang sekolah. Dan itu berarti ia harus berjalan lebih jauh, menuruni tangga dan berjalan lagi menuju gerbang belakang yang cukup jauh dari ujung tangga.

"Kau mau ke mana?" Itu Seokjin. Yoongi menoleh pada Seokjin sebentar.

"Pulang," Yoongi melambaikan tangannya pada Seokjin. Dia berlari kecil menuju tangga.

Yoongi pikir ia akan terhindar dari Taehyung jika lewat sini. Sebenarnya Yoongi sudah biasa diikuti Taehyung ketika pulang sekolah. Yang membuatnya risih hanya suara Taehyung yang terus-terusan mengoceh mengagumi Yoongi.

"Syukurlah," Yoongi menghela nafas lega. Dia sudah sampai di ujung tangga, omong-omong. Dan dia tidak menemukan Taehyung.

Yoongi mendudukkan dirinya di anak tangga terakhir. Menetralkan nafasnya yang masih tersengal. Yoongi menundukkan kepalanya. Menyeka keringat yang ada di dahinya.

Yoongi mendongak ketika seseorang menempelkan sesuatu yang dingin pada lehernya. Cola dingin. Yoongi menggembungkan pipinya, mata sayunya sedikit membola ketika ia sadar siapa yang memberinya cola.

"Hai, hyung!" Sapaan dengan suara husky itu mendenging di telinga Yoongi. Yoongi mendesis.

"Kim Taehyung," Yoongi mendecak. Taehyung tersenyum riang menatap Yoongi. Yang ditatap masih setia menggembungkan pipi. Oh, jangan lupakan bibir mungilnya yang mulai mengerucut lucu.

Ukh, Taehyung jadi gemas sendiri jadinya.

"Kau tidak mau menerimanya, hyung? Udara sedang panas sekali, loh,"

Inginnya Yoongi menolak. Gengsilah menerima pemberian dari orang yang selalu dihindarinya. Tapi, hell, ini pertengahan musim panas. Dan suhu udara memang sangat panas hari ini. Ditambah Yoongi yang mati-matian menghindari Taehyung hingga ia nekat lewat gerbang belakang.

"Baiklah," Yoongi mengambil cola dingin dari tangan Taehyung. Taehyung tersenyum senang kemudian duduk di sebelah Yoongi.

"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu, hyung?" Taehyung membuka colanya. Di sampingnya, Yoongi sedang asik dengan colanya.

"Terima kasih," Yoongi berucap pendek kemudian berdiri dan beranjak dari tangga. Meninggalkan Taehyung yang masih meminum colanya.

"Hyung, tunggu! Aku bahkan tidak mendengar apa yang kau katakan," Taehyung berlari menyusul Yoongi. Kemudian menyamai langkahnya dengan langkah Yoongi.

"Pergilah ke dokter jika telingamu bermasalah," Datar. Tapi Taehyung menyukainya. Yoongi memang dingin, tertutup, dan blak-blakan. Dan Taehyung sangat menyukainya.

"Ah~ hatiku jadi hangat mendengar Yoongi hyung memerhatikanku," Taehyung memegangi dadanya dengan senyum konyolnya. Yoongi merotasi bola matanya.

"Ini musim panas, bodoh," Taehyung tertawa. Yoongi mencibir.

Inginnya ia berlari saja dari Kim Taehyung. Atau kubur saja Yoongi hidup-hidup asalkan ia tidak bertemu Taehyung. Abaikan pilihan kedua karena Yoongi masih ingin hidup lebih lama.

"Benar juga, hyung. Aku salah memakai kalimat, ya?"

"Dasar bodoh," Yoongi merotasi bola matanya kembali. Taehyung tersenyum.

Memandang Yoongi dari jarak sedekat ini sebenarnya biasa Taehyung lakukan. Dia bahkan mengikuti Yoongi pulang. Alasannya? Rumah Taehyung berjarak dua rumah dari rumah Yoongi. Hanya saja Yoongi tidak tahu.

Omong-omong soal rumah Taehyung, yang Yoongi tahu, dua rumah setelahnya adalah rumah Kim Seokjin. Taehyung sepupu Seokjin. Yoongi saja yang terlalu cuek dengan eksistensi Kim Taehyung jika ia berada di rumah Seokjin.

"Hyung, hyung, ikut aku yuk," Taehyung menarik lengan Yoongi. Yoongi berjengit kesal kemudian memukul tangan Taehyung yang masih menarik-narik lengannya.

"Aku akan ujian dua minggu lagi, bodoh. Aku harus belajar," Taehyung menurunkan bibirnya. Yoongi bersumpah ekspresi Taehyung terlihat benar-benar mengerikan.

"Anggap saja ini refreshing, hyung," Yoongi mendecak.

"Jika yang kau maksud refreshing adalah menghabiskan waktuku denganmu, tidak terima kasih," Yoongi mempercepat langkahnya. Taehyung menahan lengan Yoongi. Membuat yang lebih tua kembali berjengit kesal dengan pipi menggembung lucu.

"Sekali saja, hyung. Sebelum kau lulus, ya?" Taehyung memohon. Yoongi merotasi bola matanya malas. Tapi kemudian mengangguk setuju. Membuat yang lebih tinggi bersorak dan berucap terima kasih berulang kali.

"Satu syarat," Taehyung menatap Yoongi berbinar dan menganggukan kepalanya. "Sebelum jam 10 kau harus mengantarku pulang,"

Jangankan mengantar Yoongi pulang, mengantar Yoongi ke luar angkasa pun Taehyung mau.

"Tentu, hyung!"

"Bukit belakang kompleks rumahku?" Yoongi menautkan alisnya ketika Taehyung membawanya ke bukit yang ada di belakang kompleks rumah Yoongi. Taehyung menunjukkan cengiran bocahnya pada Yoongi. Kemudian menarik Yoongi agar duduk di sebelahnya.

"Duduklah, hyung. Matahari sudah terbenam dan ini musim panas,"

"Ya. Lalu?" Taehyung menekuk lututnya. Bersandar pada pohon di belakangnya dan mendongakkan kepalanya.

"Stargazing," Yoongi mengalihkan pandangannya dari Taehyung ke langit. Menekuk lututnya kemudian menyembunyikan sebagian wajahnya diantara lengannya.

Yoongi terdiam. Begitu pula Taehyung. Tidak ada percakapan diantara mereka. Sesekali helaan nafas terdengar diantara keduanya.

"Ini pertama kalinya aku melakukan stargazing setelah 8 tahun," Yoongi bergumam lirih setelah tiga puluh menit mereka diam memandangi langit. Taehyung melirik Yoongi sejenak. Menatapi betapa manisnya Yoongi ketika ia terdiam dan memandangi langit dengan mata sayu yang berbinar.

"Kau harus berterimakasih padaku, hyung," Taehyung berucap main-main. Yoongi bergumam.

"Hei! Apa itu pasar malam?" Yoongi menunjuk tempat yang penuh dengan lampu bersinar terang.

"Ya. Aku baru akan mengajakmu ke sana. Kau mau, hyung?" Taehyung dapat melihat gurat bahagia di wajah Yoongi ketika ia menganggukkan kepalanya. Ah, ternyata semudah ini membuat Yoongi senang. Jika Taehyung tahu lebih awal, dia akan sering mengajak Yoongi ke tempat seperti ini.

"Kau mau aku gendong, hyung?" Taehyung bertanya ketika mereka sama-sama berdiri. Yoongi menatap Taehyung datar. Yang ditatap menunjukkan cengiran bocahnya. "Daripada kau capek turun dari sini dan tidak bisa berjalan-jalan di pasar malam,"

Yoongi menarik nafas. Kemudian menghelanya pelan-pelan. Taehyung ada benarnya. Yoongi benar-benar ingin refreshing malam ini. Tapi, jika ia harus kelelahan karena menuruni bukit dan tidak bisa menikmati pasar malam kan sia-sia.

"Baiklah,"

Yoongi lebih kurus dari yang terlihat.

Taehyung bersumpah jika ia menjadi kekasih Yoongi, ia akan menjejali mulut Yoongi dengan makanan yang bergizi. Taehyung bahkan tidak merasa lelah ketika ia sampai di bawah bukit sambil menggendong Yoongi. Yoongi benar-benar perlu asupan gizi.

"Tae, ayo kita ke sana!" Yoongi menarik tangan Taehyung menuju stan yang terlihat ramai. Stan tembak alien.

Taehyung sih senang-senang saja ditarik Yoongi ke sana ke mari. Apalagi ia bisa merasakan bagaimana tangannya digenggam yang lebih mungil.

"Kenapa ke sini, hyung?" Taehyung bertanya ketika Yoongi memberinya pistol air untuk menembaki alien yang lewat.

"Kau harus membantuku mendapatkan boneka kumamon itu, Tae," Yoongi menatap Taehyung dengan pipi menggembung dan bibir sedikit mengerucut seperti biasa. Bedanya Yoongi menatapnya dengan pandangan memohon. Yoongi merajuk. Ukh, manisnya. Taehyung jadi ingin memeluk dan mencubit pipinya.

"Baiklah," Taehyung mengusak surai blonde Yoongi. Yoongi tersenyum kemudian mulai menembaki alien yang lewat.

Setengah jam mereka menghabiskan waktu di stan itu. Yoongi tersenyum senang. Senyum yang bahkan Taehyung jarang melihatnya. Membuat Taehyung jadi ikut senang. Di tangan Yoongi, boneka kumamon berukuran sedang terus saja ia tatapi.

"Semua karena kau hanya mendapatkan skor sedikit. Coba kau mendapatkan skor sama denganku pasti dapat yang besar," Yoongi menatap kesal Taehyung. Tapi kemudian tersenyum. "Terima kasih,"

Tulus. Taehyung tau Yoongi mengucapkannya dengan tulus. Tidak seperti sore tadi ketika ia memberinya cola.

"Tentu, hyung," Taehyung membalas senyuman Yoongi. Yoongi mengedarkan pandangannya ke sekitar pasar malam. Pasar malam semakin ramai. "Kau lapar, hyung?"

Yoongi mendongak menatap Taehyung kemudian mengangguk. Entah sengaja atau tidak, Yoongi menatap Taehyung dengan pandangan polos. Yoongi jadi seperti anak kecil yang merajuk dengan boneka yang ia peluk.

"Ayo makan,"

"Terima kasih makanannya," Yoongi menyelesaikan makannya lebih dulu dari Taehyung. Taehyung tersenyum kecil melihat tingkah Yoongi yang mengipasi wajahnya karena suhu yang panas.

"Mau pulang, hyung?" Yoongi melirik jam di sudut warung ramen. Masih pukul 9.15. Tapi Yoongi sudah merasa benar-benar mengantuk setelah makan satu mangkuk besar ramen. Ditambah jalan-jalan di pasar malam tadi cukup membuatnya lelah.

"Ayo pulang," Yoongi berdiri dari duduknya. Kemudian menyampirkan tas gendongnya.

"Baiklah," Taehyung melakukan hal yang sama dengan Yoongi setelah ia meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.

Taehyung dan Yoongi berjalan pulang beriringan dalam keadaan diam. Sesekali Taehyung akan mengoceh dan dibalas deheman atau 'ya' oleh Yoongi.

"Ah!" Yoongi memekik ketika Taehyung tiba-tiba menariknya mendekat. Yoongi mendongak menatap yang lebih tinggi.

"Kau hampir tertabrak pengendara sepeda, hyung," Yoongi menguap. Mata sayunya terlihat benar-benar mengantuk. Taehyung jadi tidak tega membiarkan Yoongi berjalan. "Mau aku gendong, hyung?"

Yoongi menguap sekali lagi. Dia mengucek matanya pelan kemudian membalik tubuh Taehyung. Tangannya terulur dan memeluk leher Taehyung dari belakang.

"Aku mengantuk," Yoongi berbisik. Taehyung tersenyum kecil kemudian menggendong Yoongi.

Taehyung dapat mendengar nafas teratur Yoongi di lehernya setelah lima belas menit mereka berjalan. Boneka kumamon yang mereka dapatkan Yoongi genggam. Taehyung tampak seperti seorang kakak yang menggendong adiknya sekarang.

"Hyung," Taehyung bermonolog. "Aku tau kau tidak akan mendengarnya, jadi aku akan mengatakannya,"

"Ini sudah satu tahun sejak aku menyukaimu. Aku tidak tahu apa Seokjin hyung memberitahumu jika aku adalah saudara sepupunya. Sebenarnya saat itu Seokjin hyung berniat membantuku mendekatimu. Tapi aku tidak mau. Tentu saja! Akan lucu jika aku mendapatkanmu tanpa usahaku sendiri. Jadi aku memutuskan untuk mendekatimu dengan caraku sendiri," Taehyung terkekeh.

"Hyung, aku takut berharap padamu. Tapi hari ini aku tahu kau akan membuka hatimu untukku entah kapan. Dan aku akan menunggunya. Aku mencintaimu, hyung,"

"Ini pernyataanku yang kedua, kan? Aku—"

"Aku juga mencintaimu," Taehyung menghentikan langkahnya ketika suara Yoongi menyapa telinganya. Taehyung melirik Yoongi yang masih memejamkan matanya dengan wajah sedikit merona.

"A—apa hyung?" Yoongi mengeratkan rangkulannya pada leher Taehyung.

"Kau benar-benar harus ke dokter telinga, Tae," Yoongi berbisik masih dengan mata yang terpejam. Taehyung mengulum senyumnya. Inginnya sekarang ia memeluk Yoongi dan menciuminya. Duh, Taehyung jadi ingin cepat-cepat bertemu matahari besok.

"Terima kasih, hyung,"

"Hn," Yoongi menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Taehyung. Taehyung sih senang-senang saja. Tentu saja.

.

.

.

.

.

"Kim Taehyung berhenti memainkan rambutku!" Yoongi berteriak kesal. Karena kekasih bocahnya terus-terusan mengganggunya belajar. Padahal ujian masuk universitas tinggal satu minggu lagi.

Well, mereka berpacaran. Ini sudah minggu pertama mereka menjalin hubungan sejak Yoongi mengakuinya minggu lalu.

"Kau mengabaikanku lebih dari tiga jam, hyung," Taehyung merajuk dengan suara huskynya. Membuat Yoongi merinding.

"Aku harus belajar, Taehyung-ie," Yoongi memutar tubuhnya menghadap Taehyung yang duduk bersila di atas tempat tidurnya. Taehyung mengerucutkan bibirnya kemudian memegangi kedua lengan Yoongi.

"Kau perlu istirahat, hyung. Kau bahkan belum makan sejak aku ke sini," Yoongi mendesah lelah. Kemudian menaiki ranjangnya dan mendekatkan tubuhnya pada Taehyung. Pemuda Min itu menyandarkan kepalanya pada dada bidang Taehyung. Dan Taehyung memeluknya.

"Aku lelah," Yoongi berbisik. Taehyung mengelus sayang punggung Yoongi.

"Makan ya, hyung? Aku tidak mau kau sakit,"

"Ibuku tidak meninggalkan masakan matang untukku. Aku tidak bisa memasak," Yoongi menggesekkan ujung hidungnya pada dada Taehyung. Yoongi merajuk.

"Aku masakan ya?" Yoongi mendongakkan kepalanya menatap kekasihnya. Mata sayunya menatap Taehyung ragu. "Aku bisa masak. Jangan khawatir," Taehyung tersenyum kemudian menyentil dahi Yoongi. Yoongi tersenyum dan menganggukan kepalanya.

.

.

"Sialan kau, Taehyung. Kenapa hanya ada sayur?" Yoongi mendecak tidak suka. Taehyung menunjukkan cengirannya. Kemudian mendekati Yoongi dan menarik tubuh kurus kekasihnya untuk duduk di meja makan.

"Kau harus banyak makan sayur, sayang. Dua hari ini kau hanya makan kimchi dan ramen instan, kan? Tubuhmu perlu asupan gizi, hyung," Taehyung duduk di samping Yoongi. Yoongi mendecak sebal.

"Aku tidak mau sayur," Yoongi berkata datar, tapi tajam. Taehyung tersenyum kemudian mengambil mangkuk di depan Yoongi yang berisi sup berbagai sayur.

"Aku suapi ya?" Taehyung menyendokkan supnya pada Yoongi yang masih menutup mulutnya rapat-rapat.

"Buka mulutmu, hyung," Yoongi menggeleng. "Kita makan daging setelah ini, bagaimana?" Taehyung membujuk Yoongi. Yoongi menoleh menatap kekasihnya. Mata sayunya berbinar menatap Taehyung.

"Janji?" Taehyung mengangguk. Yoongi tersenyum dan mengambil mangkuk supnya dari tangan Taehyung. Memakannya dengan tenang. Tangab Taehyung terulur dan mengusap sayang puncak kepala Yoongi.

"Aku mencintaimu, Yoongi hyung. Sungguh," Taehyung berucap tulus. Yoongi menghentikan suapannya dan menatap Taehyung.

"Diamlah," Dan Taehyung tertawa.

.

.

.

Hi!

Ga sesuai janji ya he he.

Ini pernah aku post, dan akhirnya aku hapus dan masukin ke sini ehe.

Yang nunggu vkook, ntar malem ya kalo koneksinya lancar ㅠㅠ.

Review, okay?( ͡ ͜ʖ ͡)