" Wig rapi. "

" Make up pas. "

" Baju cakep. "

" Sepatu sip. "

"Yooooosssshhhhi, Shino san mari kita berkencan!"

Setelah berjam jam membeli bahan – bahan yang akan dijual ditokonya, Naruto maupun Shino beristirahat sebentar di sebuah kedai ramen.

"Come on baby, I will feed you. " Naruto mencoba tetap usil pada temanya yang bahkan gosipnya tidak tertarik terhadap manusia. Respon Shino biasa saja saat Naruto yang dengan mesranya menyuapinya mi ramen. Pembeli lainya hanya bisa terdiam dan terus memandangi aksi si gadis yang sungguh agresif.

Sasuke yang baru saja keluar dari toko buku merasa lapar dan memasuki kedai ramen terdekat dari toko buku.

"Come on baby, feed me back, geez baiklah, say aahh " Sasuke membuka matanya lebar saat melihat si blonde dengan senangnya menyuapi seseorang di sampingnya, dengan geram Sasuke berjalan cepat menuju dimana Naruto berada.

"Apa – apa'an kau? Siapa dia?! Kau menghianati Itachi?!" Sasuke mencengkram lengan Naruto yang akan menyuapi Shino.

"Aww!" Naruto mengerang sakit, karena tanganya dicengkram cukup kuat. Sasuke menggeret Naruto keluar dari toko, sedangkan Shino melanjutkan makannya.

"Duh..duh..duh.. sakit!" Naruto menghempakan tangan Sasuke agar melepaskan cengramanya.

"What the fuck are you doing Brat!" Naruto mengelus lenganya yang kesakitan.

"Kau.. kau kekasih Itachi kan? Lalu kenapa?" Naruto ikut memasang wajah bingung dengan atas yang dikatakan Sasuke.

"Kau kekasih Itachi kan!" Sasuke mulai emosi karena si blonde di depanya ini malah memasang wajah tidak mengertinya. Naruto masih mencoba mencerna perkataan adik Itachi yang sedang ngamuk tidak jelas di depanya kini.

"hooohh! No – no – no, kau salah mengerti bocah, aku dan Itachi tidak ada apa – apa, pagi itu aku hanya ingin mengerjainya untuk melihatnya memakai kimono, aku dan Itachi hanya teman satu jurusan."

"Berarti….?"

"Ya, begitulah, dan lagi yang didalam sana tadi juga bukan kekasihku, dia hanya lelaki yang hanya tertarik pada suatu hal selain manusia."

Sasuke memegangi kepalanya mencoba mencerna semua yang baru saja di katakana blonde di depanya ini.

"haha.. hahaha.. ahahahahaa!" Sasuke tanpa berpamitan ngeloyor pergi sambil tertawa untuk mencerna semuanya, mencerna tentang ia yang setiap hari memikirkan gadis blonde yang ternyata kekasih kakaknya, namun sekarang itu semua ternyata bohong.

Di sabtu malam Naruto menutup toko sendiri, karena teman temanya yang lain sudah meninggalkan toko lebih awal.

"Aaahhhh! Jikuso, kupotong gaji kalian setengah!" Naruto memulai fase berbicara sendiri sedang melap kaca toko di jam 10 malam, melihat berbagai pasangan meliwati tokonya.

Andai aku bisa melihat Sasuke sekarang

…..

What! No no no!

Naruto melap kaca tokonya jauh lebih keras setelah membayangkan ingin melihat Sasuke sekarang.

"Hei Naruto, sedang apa kau? " Naruto terdiam dari enggilanya melap kaca, tampaklah bocah berambut hitam, dengan wajah stoic tepat di depanya yang hanya berjarak sebuah kaca.

"Aku tunggu disini, cepat selesaikan" Sasuke membalikan badan berjalan menuju tembok dan bersandar sembari memandangi Naruto yang masih terbengong.

"Tuhan kau baik sekali.' Naruto nyengir, lalu menaiki tangga menuju lantai dua untuk berganti baju dan sedikit memakai makeup dengan sedikit parfume, tak lupa merapikan wignya.

Saat keluar toko dan menguncinya sudah ada Sasuke yang menunggu disudut sana.

"Ada apa Sasuke kun?"

"Tidak, hanya saja ada yang ingin kubicarakan, sejak tau ternyata…kau bukan kekasih Itachi.." Sasuke menghentikan kalimatnya sejenak

"Bagaimana kalau duduk ditaman sana?" Naruto nurut saja dibawa Sasuke di sebuah taman yang ak terlalu jauh dari toko.

Naruto sedang menunggu Sasuke berbicara sambil berdiri di ayunan yang sedang berayun, sedangkan Sasuke hanya memandangi Naruto dari bawah.

"Aku suka padamu, mau berpacaran denganku?" Naruto terkejut hingga hampir terjatuh, Naruto perlahan dengan tenang turun dari ayunan dan berdiri di depan Sasuke.

"Apa yang kau suka dariku?" Kini wajah Naruto maupun Sasuke sangat dekat, sambit bertatapan mata.

"Ntahlah, hanya saja tak bisa mengeluarkanmu dari kepalaku"

"Aku lebih tua darimu."

"Tak masalah, aku akan tumbuh juga."

"Aku lebih tinggi darimu dan tidak manis."

"hn"

"Tapi Sasuke kun aku-"

"Cukup Naruto! Aku tak peduli dengan apapun kekuranganmu! Walaupun kau tak manis, tak cantik, bahkan jika kau tidak mampu berjalan, aku akan tetap menyukaimu! Mengerti? Lalu apa jawabanmu?!"

Sasuke mulai kesal karena Naruto terus member alasan dan tak menjawab, Naruto yang tadinya menatap lurus Sasuke menundukan wajahnya.

"Aku..aku juga menyukaimu." Akhirnya Naruto memberi jawaban dengan tetap menundukan kepala, Sasuke terdiam sesaat, lalu tersenyum lalu menarik Naruto, menaiki sebuah pijakan yang membuatnya terlihat lebih tinggi dari Naruto.

Grrrraaapppp

Sasuke memeluk Naruto hingga beberapa saat melepas pelukanya, Naruto menengadahkan wajahnya sambil tersenyum karena kini Sasuke terlihat lebih tinggi darinya, dan terlihat jelas wajah Sasuke yang juga tersenyum kepadanya.

Perlahan Sasuke mendekatkan wajahnya, mempererat pelukanya, hingga bola mata secerah musim panas di hadapanya perlahan tertutup.

Bibir Sasuke perlahan menyentuh bibir hangat Naruto, beberapa saat Sasuke mencoba memasukan lidahnya kedalam mulut Naruto, Sasuke memperdalam ciumanya dengan mengadu lidahnya dengan lidah Naruto.

"mmhh..saa mm." Naruto mencoba mencari ruang untuk bernafas, namun tak dibiarkan Sasuke karena Sasuke yakin Naruto mampu bernafas lewat hidung.

Badan Naruto terasa lemas hingga membuatnya jatuh terduduk, Sasuke malah mendapat posisi yang pas diatas Naruto, perlahan Sasuke hampir memulai membuka baju Naruto, sadar Sasuke akan membuka bajunya Naruto mendorong dengan keras hingga Sasuke terjungkal di semak – semak yang berada di belakangnya. Naruto merasa kaget dan mencoba membenahi rok terusan warna kuningnya.

"Maafkan aku Naruto!" Sasuke segera bangkit melihat wajah Naruto yang terlihat terkejut, membantu Naruto berdiri dan membawanya duduk di bangku taman.

"Maafkan aku Naruto, aku…"

"Hehe taka pa, aku hanya terkejut." Naruto tersenyum kecil sambil meminum jus kaleng yang dibeli Sasuke baru saja. Malam itu Naruto diantar oleh Sasuke kembali ke toko, karena mobil Naruto masih berada disana, dan Sasuke yang rumahnya dekat pulang sendiri.

Naruto tak langsung menuju rumahnya, dan menuju apartemen dimana Kiba tinggal, berlari menaiki tangga untuk mempercepat sampai dikamar kiba hingga, menggedor gedor kamar Kiba.

"Ada apa Naruto!?" Kiba membukakan pintu dan melihat Naruto yang ngos ngosan sambil nenteng wig blondenya. Tanpa diberi izin Naruto nyelonong masuk, dan tampaklah seorang lelaki yang sedang duduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut diatas kasur Kiba. Naruto menoleh kea rah Kiba meminta penjelasan.

"Tenang saja, kita sudah selesai." Naruto menarik nafas lega karena tak mengganggu ritual Kiba bersama pasangan homonya.

"Kkkkiiiibaaaaaaa..! tolong aku" Naruto memeluk Kiba dengan histeris sambil mengusap usapkan wajahnya ke dada Kiba yang telanjang tanpa busana.

"Baka Naruto! Apa – apa'an kau!" Kiba berusaha melepaskan pelukan si blonde gila ini, sambil meringis kea rah kekasihnya yang terlihat terkejut. Naruto melepas pelukanya dari kiba dan berlari menuju ranjang dimana pacar Kiba berada.

"Bagaimana ini?!" Naruto menjatuhkan tubuhnya di depan kekasih Kiba berada, "Tch, bersihkan tubuhmu dulu bodoh!" Kiba menggeret paksa Naruto untuk membasuh badanya yang kotor dan berbau. Selama Naruto mandi, Kiba menjelaskan tentang teman blondenya yang sedikit sakit dan mulai menjadi Okama.

Saat Naruto sudah keluar dari kamar mandi, Kiba maupun Kankurou uke si Kiba sudah mengenakan baju lengkap dan duduk di depan tv. Naruto dengan tenang duduk dibawah mereka yang duduk di atas sofa.

"Kau tau, Naruto menyatakan perasaanya padaku hari ini, lalu aku menjawab iya, lalu kita berciuman, lalu dia mau membuka bajukuo." Naruto bercerita datar sembari meminum jus jeruk yang dia ambil dari kulkas kiba.

"Lalu masalahnya?" Kiba juga menanggapi dengan datar dan santai

"Masalahnya? Kau bertanya masalahnya homo!?" Naruto membalikan badan dan mendekatkan wajahnya ke wajah Kiba.

"hoh! Aku homo juga sekarang, maafkan aku, kita sesame homo sekarang, bukan hanya kita seluruh pekerja toko mungkin berhomo semua hehe" Naruto menarik kembali wajahnya dan kembali menikmati jus jeruknya. Kiba hanya sedikit merinding atas temanya yang satu ini keseringan ngomong sendiri.

"Masalahnya Sasuke tau aku wanita, dia tak tau bahwa aku laki – laki."

"Katakan saja padanya kau laki – laki."

"Aku taut dia akan meninggalkanku, aku mungkin tak akan bisa kalau tidak dengan Sasuke."

"Lalu apa maumu sekarang? Cepat atau lambat Sasuke akan mengetahui identitasmu, memangnya kalian tidak akan melakukan sex se umur hidup? Heehh konyol."

Perkataan Kiba yang terakhir membuat Naruto terdiam, hingga dirinya sendiri lelah dan tertidur.

Hubungan Sasuke maupun Narutopun dimulai, hingga sudah mencapai hampir lima bulan lamanya.

Beredar kabar di seluruh penjuru Konoha High School, bahwa pangeranya telah memiliki kekasih, banyak gadis yang mengincar Sasuke menyerah karena merasa tak mampu menandingi Naruto nama pelayan di sebuah cake shop yang sedang digosipkan dengan pangeran mereka.

Desember datang, dimana udara yang sangat dingin akan menyelimuti setiap sudut jalan, salju bertumpuk dimana mana, dan bahagianya karena natal akan tiba dilanjutkan pergantian tahun.

Sasuke sedang menikmati green tea di tanganya, mencoba menghangatkan diri setelah perjalanan dari rumahnya menuju toko dimana kekasihnya bekerja.

Beberapa saat kemudian toko ditutup, setelah tidak menerima pengunjung lagi.

Tapi masih ada satu pengunjung yang sedang duduk sendiri sembari memandangi teh yang digenggam kedua tanganya.

"Sasuke chan, kau tak pernah begini kan?!" Gaara yang sengaja ingin mengusili bocah Sasuke mencium Nagato yang masih berpakaian maid, memasukan tanganya kedalam baju Nagato sembari terus melumat bibirnya.

"Cepat pulang pasangan mesum!" Naruto mendorong paksa Gaara maupun Nagato dari hadapan Sasuke.

"Kenapa kita tak mencobanya sedikit?" Sasuke memandangi Naruto sambil sedikit memiringkan kepalanya namun masih tetap memasang wajah stoic.

"Sasuke kan sudah kubilang, aku tak mau sebelum menikah." Naruto menggembungkan pipi dengan manisnya, jika kekasih blondenya sudah begini Sasuke hanya bisa tersenyum lalu menarik Naruto agar duduk didekatnya, menarik tubuh Naruto agar mendekat dengan tubuhnya, mempertemukan dirinya dengan mata emerald kesukaanya, lalu perlahan mencium bibir pink lembut kekasihnya, melumatnya perlahan lalu memasukan lidahnya untuk bermain dengan lidah Naruto, hingga untuk beberapa saat dan Sasuke melepaskan ciumanya, terbentuklah jalur saliva diantara keduanya. Naruto menaiki tangga dan berganti pakaian untuk segera pergi meninggalkan toko bersama Sasuke di sabtu malam.

Pergi ke game center, membeli barang – barang lucu untuk Naruto, dan berakhir dengan makan malam disebuah kedai ramen kesukaan Naruto juga.

"Ooohh Kiba dan Kankurou!" Naruto sumringah melihat Kiba sedang berkencan seperti dirinya dan berakhir di kedai ramen.

"Kalian berpacaran ya?" Sasuke yang memang penasaran dari dulu akhirnya bertanya juga, karena merasa ganjil atas Kiba sahabat Naruto dengan Kankurou yang selalu terlihat bersama Kiba.

"Iya, kenapa?" Kiba menjawab dengan enteng, sedangkan Naruto sudah dag dig dug dibuatnya.

"Ohh." Jawaban Sasuke malah membuat Naruto terheran karena tidak terkejut atau apa. Kiba maupun Kankurou pergi lebih awal dibanding Sasuke dan Naruto yang baru saja memesan.

"Tch, kenapa dengan temanmu itu? Masih banyak wanita, dia malah menyukai sesame jenis." Sasuke berkomentar sembari memakan ramenya, tanpa disadari raut wajah Naruto yang terkejut dan hampir mengeluarkan air mata karena ketakutanya sendiri. Tanpa disadari Naruto beranjak lalu berlari pergi, Sasuke yang kaget atas apa yang dilakukan kekasihnya berusaha mengejar tanpa lupa meletakan uang untuk bayaran ramen. Saat Sasuke sudah berlari cukup jauh, namun tak menemukan Naruto juga, ponselnya juga tak diangkat. Sedangkan Naruto sudah berada di dalam taxi untuk menuju rumahnya. Setelah sampai dirumah, Naruto mengguyur tubuhnya dengan masih mengenakan sepatu, baju, lengkap dengan wig blonde panjangnya, nafasnya tak teratur, mencoba menenangkan dirinya sendiri yang ketakutan, ketakutan dirinya yang sebenarnya laki – laki, ketakutan Sasuke akan pergi darinya.

Setelah merasakan dirinya tenang, Naruto melepas semua atributnya dan mengeringkan badanya dengan handuk, mengambil tasnya dan memandangi ponselnya yang penuh dengan panggilan maupun pesan masuk dari Sasuke.

Naruto menarik nafas panjang dan menelfon kekasihnya ini.

"Kau kenapa?! Sekarang kau dimana? Ada apa denganmu Naruto?!" Terdengar suara kawatir dan sedikit marah dari seberang sana

"Hehe maafkan aku Sasuke, hanya saja tadi aku tiba tiba teringat bahwa ayahku akan pulang dari Inggris, maka dari itu aku terburu buru, kau dimana sekarang?"

"haa? Alasan macam apa itu? Aku baru saja tiba dirumah setelah mencari carimu tak ada."

"Kita bicarakan besok saja ya? Jaa ne."

Klik

Naruto menutup telepon tanpa mengetahui jawaban dari Sasuke.

Sedangkan ditempat Sasuke hanya melongo bego atas apa yang sama sekali tak ia mengerti ini.

"Ggghhhh kuso!" Sasuke membanting dirinya sendiri ke kasur dengan perasaan marah dicampur penasaran, apakah yang ia perbuat hingga Naruto pergi mendadak dengan sendirinya, lalu menelfon kembali membawa alasn yang tak masuk akal.

Keesokan harinya seusai pulang sekolah, Sasuke langsung menuju tempat dimana Naruto bekerja. Dan kini keduanya hanya duduk berdua saling berhadapan tanpa sepatah katapun keluar setelah beberapa menit telah berlalu.

"Sasuke, aku tak berbohong, alasanku yang kukatakan padamu kemarin." Naruto memasang wajah puppy eyes untuk meluluhkan kekasihnya yang sedang memandanginya dengan aura hitam berkumpul disampingnya.

"Tapi itu terlalu.."

"Percayalah kepadaku…." Kini Naruto menambahnya dengan berkaca kaca, Sasuke memandangi sejenak kekasihnya lalu menghela nafas panjang.

Menyentuh kepala Naruto yang berada di depanya, ditariknya agar dahi mereka saling bersentuhan.

"Aku mencintaimu Naruto." Naruto tersenyum manis disusul Sasuke yang tersenyum kecil memandangi wajah blonde manisnya kembali sumringah.

Dari bar pesanan ada Kiba yang tersenyum kecil sembari menghela nafas lega, karena kemungkinan jika sekarang dua pasangan itu bertengkar, Kiba merasa itu semua adalah kesalahanya.

Seminggu lagi natal akan tiba, banyak pernak pernik Natal terpampang di toko – toko, termasuk yellow cake shop yang semula serba kuning kini menjadi serba merah dan putih(Indonesia dong :p ) pernak pernik Natal bertengker disana sini, seragam para pelayanpun juga berganti ala santa.

Jam 8 malam waktunya toko tutup, seperti biasa aka nada Sasuke disetiap hari Sabtu maupun minggu malam ngejagrok nungguin blondenya, seperti sekarang ini minggu malam Sasuke sedang membaca buku sembari menunggu blondenya berganti pakaian.

"Ano.. umm Shino san ada?" Ada seonggok gadis manis, mungil, rambut bergelombang panjang, seputih salju sedang berdiri sembari membuka sedikit pintu toko dan menyelipkan sedikit badanya. Semua terdiam melihat penampakan barby baby di depan sana.

"Aahh gadis manis, masuklah." Gaara yang sedang melap meja menghampiri si barby baby lalu mengajaknya masuk.

"Uuum… Shino san..?" Untuk kedua kalinya seisi ruangan terdiam mencoba mencerna siapa yang baru saja diucapkan si gadis mungil nan cantik bin gemesin ini.

"Umm tunggu dulu, Shino? Kau tadi berkata Shino?" Gaara mencoba meyakinkan sang gadis sekali lagi, dengan manisnya seperti mainan negri dongeng sang gadis mengangguk dua kali.

"SHINO!?" Gaara berteriak kaget dan melonjak kaget sedikit menjauhkan tubuhnya dari sang gadis yang di duga hantu natal buatan Shino.

Mendengar namanya diteriakan, Shino yang baru saja berganti pakaian mrnuruni tangga, yang disusul oleh Naruto. Oh ya larangan bagi maid adalah berganti pakaian Saat masih ada Sasuke di dalam toko. Kalau pelayan yang bertugas di dapur yang tak perlu memakai pakaian maid tak masalah ganti kapan saja.

Ok kembali ke Shino.

"Ah! Shino san." Sang gadis sumringah mendapati orang yang dicarinya berjalan mendekatinya. Sebelum Shino sampai ditempat sang gadis, Gaara menariknya di balik dapur dan dikerumuni teman temanya termasuk Naruto yang tak mau tertinggal tentang temanya Shino yang tak bisa dibilang manusia ini.

"Kau membuatnya dari apa?"

"Kau habis dari surga ya?"

"Kau dari planet mana sebenarnya?"

"GADIS ITU SIAPA?" serempak seluruh pekerja yang mengerumuni Shino menanyakan berasaan.

"Dia kekasihku yang tinggal dirusia tiga tahun ini, dia asli Jepang dan kuliah di Rusia, setiap tahun kita bertemu seminggu sebelum natal hingga tahun baru, wajar kalian tidak mengenalnya, karena aku baru kalian ketahui keberadaanya tujuh bulan yang lalu, maka dari itu walaupun kalian melihat dvd porn atau menyewa gadis mapun laki – laki menari telanjang di depanku, barangku tak akan bangun, karena aku tak bisa melakukanya jika bukan denganya."

JJJJJLLLEEEEEEEPPPPPPP

Seperti ada besi menusuk masing masing kerongkongan semua orang disana kecuali Shino.

Shino melepaskan diri dari kerumunan, dan menghilang bersama barby baby yang ternyata kekasih Shino manusia yang selama ini dikira manusia jadi jadian.

"haa..haha..hahaha.." Gaara tertawa kecil sambil beranjak dan melap meja kembali sembari terus tertawa seperti orang sakit ==''

"Hhhhh…lemas sekali aku untuk beberapa menit tadi, ternyata Shino juga manusia, berarti persepsiku bahwa ia makhluk mars itu salah besar, hhhh bopong aku Sasuke" Naruto terduduk lemas menyandarkan kepalanya di meja sambil memandangi Sasuke.

"Dobe.." Sasuke hanya tersenyum kecil sambil memangku dagunya dengan tangan kiri sembari tangan kananya yang bebas mengelus rambut Naruto.

Natal sudah hampir dekat tinggal dua hari lagi, Sasuke juga sudah mempersiapkan hadiahnya untuk kekasih blonde manisnya. Pagi – pagi sekali Sakura dan teman teman wanita lainya sudah bergosip, hari ini bahkan lebih ramai dan berisik, karena Sakura baru saja mendengar dari ruang guru, bahwa nanti aka ada siswi pindahan dari Inggris yang akan ditempatkan di kelasnya 2E.

Bel dimulainya pelajaranpun berbunyi, semua murit memasuki kelasnya masing masing, termasuk Sasuke yang hari ini tidak terlambat.

Semua guru juga memasuki kelas yang akan diajarnya masing masing, termasuk Kakashi sensei yang akan mengajar pelajaran Jepang modern di kelas 2E dengan membawa seorang gadis di sampingnya.

"Selamat pagi anak – anak."

"Pagi Sensei." semua murit menjawab dengan kompak.

"Baiklah, ada siswi pindahan dari Inggris yang akan menjadi teman baru kalian, silakan masuk." Semua siswi sangat menanti nanti detik dimana aka nada teman wanita yang akan menambah daftar pertemanan mereka, apalagi dari Inggris.

Masuklah seorang gadis dengan rambut blonde panjang terurai indah, dengan kulit putih porselenya.

"watakushi wa namae Uzumaki Naruko, yoroshiku."

Sasuke yang semula tak tertarik dan memandangi keluar jendela, kini terbelalak melihat pemandangan di depan kelasnya.

"Naruto?!" Sasuke berdiri kaget karena memang yang di depan kelasnya mirip sekali dengan Naruto, bukan hanya mirip, itu memang Naruto hanya saja kulitnya putih.

"Naruto? Ohh kau mengenal Naruto niichan? Aku adik kembarnya, yoroshiku." Untuk yang kedua kalinya Naruko membungkuk.

"Niichan? Bukanya Naruto- "

"Baiklah Sasuke, aku tau dia cantik, tapi aku harus memulai pelajaran." Kakashi memtong perkataan Sasuke, Naruko juga berjalan menuju mejanya yang jauh dari Sasuke. Banyak juga siswi yang heran seperti halnya Sasuke, karena yang dimaksut murit pindahan ini mungin Naruto si pelayan yellow cake shop, dan Naruto itu perempuan, bukan laki – laki.

Istirahat tiba, Sasuke langsung memboyong Naruko ke atas atap untuk menjawab banyak pertanyaan yang sedari berputar putar dikepalanya.

"Kau kembaran Naruto? Dan kenapa kau memangginya niichan? Bukankah dia perempuan…?" Sasuke bertanya serius sambil memandangi gadis yang sedikit lebih pendek darinya ini.

"Ppfffttt.. haha.. Walaupun dia lemah lebut, tapi kumohon…haha kumohon jangan salah sangka dia perempuan..hahaha haaah hhhh.. aduh sudah tiga tahun aku tak melihatnya." Naruko tertawa geli membayangkan kakaknya yang berdandan perempuan.

"Ikut aku." Sasuke menggeret paksa Naruko menuju toko dimana Naruto bekerja.

Crrriiiiing

Pintu toko terbuka

"Selamat datt-" Naruto terdiam

"Naruto niichan! Aku rindu sekali padamu, moo geez, pantas saja Sasuke mengira kau wanita, penampilanmu seperti ini sih." Naruko berlari dan memeluk kakanya yang terdiam.

Sasuke berjalan pelan dengan wajah dinginya, sudah lama sekali Naruto tak melihat wajah Sasuke yang seperti ini, wajah Sasuke yang seperti ini hanya dilihat sekali dalam ingatan Naruto, saat pertama kali Sasuke memesan espresso.

Naruto melepaskan pelukan Naruko untuk menyambut Sasuke yang sudah di depanya.

"Yooo chibi Naruto, kemarilah, mereka sedang ada urusan." Kiba memboyong Naruko untuk tau akan situasi. Semua pengunjung toko yang tak terlalu padat sama – sama merasakan hawa tegang.

"Hehe dia adik kembaranku. . Aku. . Aku bahkan tidk tau ia kemari dan bersekolah ditempat yg sama denganmu." Naruto mencoba tersenyum berusaha mencairkan suasana antara dirinya dan sasuke.

"kau laki laki?"

JJJDDDDDDDDDDEEEEEEEEEENGGGGGGGGGGGGGGGGG

Naruto sukses membeku mendengar pertanyaan sasuke yang lagi lagi tanpa nyebarang jepang Indonesia.

"Ikuti aku." Pertama kalinya sasuke diajak kelantai dua toko ini mengikuti ajakan Naruto.

Sasuke duduk di sofa dengan masih melekatkan pandanganya kearah Naruto yang sedang berdiri sambil bersandar di meja yang berada di belakangnya.

"Semua pelayan di toko ini laki - laki, orang yang berpakaian maid juga laki - laki, aku… Akupun laki – laki." Detak jantung sasuke berdegup kencang, mendengar penjelasan Naruto, bahkan darah yang semula beraliran tenang dan nyaman ditubuh sasuke jadi terasa berkumpul dikepala.

Sasuke sangat marah hingga meremas jemarinya sendiri.

Serasa tak punya tenaga saat melihat naruto melepas wig blonde panjangnya, lalu melepas pakaian maidnya dan berganti celana panjang dengan tetap bertelanjang dada, menunjukan bahwa ia benar benar lelaki.

"Kenapa kau berbohong?" Sasuke mencoba menenangkan dirinya agar tak memukul lelaki yang berdiri di depanya ini.

"Maafkan aku, tp kau sendiri juga tak pernah bertanya." Sasuke menghela nafas panjang dan mengalihkan pandanganya dari naruto.

"Ini menjijikan, membayangkan ternyata aku berpacaran dengan laki - laki" Sasuke menutup mulutnya dengan satu telapak tangan,keduanya terdiam beberapa saat.

"Kau membohongiku Naruto!" Sasuke mulai meninggikan nada bicaranya karena kembali kesal mengingat ia dibohongi.

"Padahal aku benar benar mencintaimu, kena. . .!"

"KAU TAK PERNAH MENCINTAIKU SASUKE! Kau hanya menyukaiku dalam sosok wanita! Kau tak pernah menyukaiku atau mencintaiku, bahkan setelah tau aku laki - laki kau mengatakan aku menjijikan! Jangan katakana kau mencintaiku Sasuke!" Naruto memotong perkataan sasuke dan juga ikut emosi berteriak balik pada sasuke

"Itu karena sejak awal kau wanita..! Jika aku tau kau laki - laki….." Sasuke tak melanjutkan kata katanya karena tersadar apa yang dikatakan Naruto baru saja benar, bahwa dirinya hanya menyukai Naruto dalam sosok wanita, dan mengatakan Naruto menjijikan setelah tau Naruto laki laki.

"Ini memang keslahanku, tak memberitahumu sejak awal…."

"Tapi aku... Aku menyukaimu, tidak! Aku mecintaimu Sasuke, dan... Dan… Hingga aku tak tahu harus bgaimana, aku takut... Aku takut mesrusak kebahagiaanku sendiri dan memutuskan tetap seperti ini, walaupun aku tau cepat atau lambat kau akan mengetahui ini semua.."

Keduanya kembali terdiam, Sasuke terdiam mendengar apa yang dikatakan Naruto baru saja.

"Aku benar - benar menyukaimu Sasuke… Kupikir kau juga masih bisa menyukaiku jika akhirnya kau tau aku laki - laki, ternyata aku sangat menjijikan sekarang di depanmu." Naruto berusaha tetap tegar dan tidak meneteskan air matanya.

"Ya kau menjijikan, dan kau sudah berbohong padaku selama ini." Sasuke dengan kalimat terakhirnya tanpa memandang Naruto melenggang pergi menuruni tangga dan meninggalkan Naruto sendiri yang terdiam.

Untuk yang pertama kalinya Naruto bahkan tak sanggup berdiri dan jatuh terduduk dilantai karena lemas.

Dan untuk pertama kalinya juga sejak ia masuk SMP hingga kuliah menangis sederas dan sekencang sekarang ini. Malam natal yang seharusnya menjadi malam yang penuh makna untuk setiap pasangan, menjadi malam yang penuh dengan kehancuran untuk Naruto maupun Sasuke.