Title: Beneath The Night Sky
Characters/ Pairing: Hatake Kakashi & Haruno Sakura
Type: Multiple Chapter
Rating: M
Genre: Romance/ Crime
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Om MK)
.
BENEATH THE NIGHT SKY
(Chapter Dua)
.
Sakura duduk di atas meja dapur. Mata hijau beningnya menelusuri tiap kolom yang menawarkan flat kosong yang disewakan. Dia sudah melingkari beberapa yang menarik perhatiannya. Sebenarnya dia sedang tidak berada dalam kondisi untuk pilih-pilih tapi jika lokasi flat yang akan ditinggali dekat dengan lokasi pembunuhan berantai yang terjadi beberapa hari lalu, rasanya Sakura masih harus berpikir dua kali.
Sakura menarik napas panjang, menengadah pada jendela kecil di atas wastafel dan menatap ke jalanan. Tidak banyak orang yang berlalu-lalang di luar sana. Gang tempat Naruto tinggal terletak jauh dari pusat distrik Lampu Merah Konoha, dan pencopet kecil banyak berkeliaran di sini. Sakura berani bertaruh jika orang-orang yang tinggal di sini tidak pernah mengenal kata 'dompet'. Sakura sendiri baru merasa aman membawa dompet di daerah ini jika diikatnya dengan rantai sebesar rantai motor.
Gadis itu meraih cangkir teh yang sedari tadi diabaikannya lalu meneguknya. Dia menerawang jauh pada kampung halamannya, sebuah desa kecil tempat nelayan miskin yang sangat-sangat jauh dari sini. Saat tahu akan dijual ke distrik Lampu Merah, dia yang masih berusia enam tahun saat itu, berlari ke muara sungai tak jauh dari rumahnya, dan menangis sejadi-jadinya. Dia memang masih kecil tapi dia tahu apa yang akan terjadi saat anak-anak seusianya dikirim ke sana.
"Hei."
Sakura sedikit terkejut mendapati seseorang memegang lembut pundaknya dari belakang. Seketika tubuhnya menjadi rileks lalu tersenyum pada Naruto.
"Aku memanggilmu dari tadi. Apa yang kau pikirkan?"
"Kampung halaman," desah Sakura pelan.
Naruto duduk di bangku, kedua sikunya berada di atas meja. "Kukira kau sedang memikirkan pria tampan yang kini sedang duduk di depanmu."
Sakura memutar kedua bola matanya. Dia lalu teringat pertemuannya dengan Naruto saat dalam perjalanan menuju distrik Lampu Merah. Bagaimana anak laki-laki itu berusaha menenangkannya yang sedang menangis tersedu-sedu. Tapi Naruto tidak tahu, saat itu dia menangis bukan karena dibawa ke distrik ini. Dia menangis karena rasa sayang pada orang tuanya seketika berganti rasa benci. Sakura membenci orang tuanya. Mereka tidak pernah sekali pun berniat untuk mempertahankan dirinya, atau mencegah orang-orang itu datang dan mengambilnya paksa. Yang didengarnya dari orang-orang berseragam itu bahwa Sakura kini milik mereka, bahwa orang tua Sakura telah menerima uang banyak karena menjual dirinya.
Sakura menyelipkan pensil ke telinganya, melipat koran lalu melompat turun dari meja. "Aku sudah membuat makan siang untukmu. Makan siang yang terbuat dari ramen lagi." Dia tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Naruto. "Aku harus pergi sekarang, menginspeksi flat-flat yang mungkin bisa kusewa."
"Kau terdengar seperti pasukan elit yang akan mengolah TKP."
Sakura tergelak. "Kuharap aku bisa seperti itu, Naruto."
"Hei, terima kasih untuk makan siangnya! Kalau kau tinggal lama di sini, tubuhku akan gemuk meski cuma makan mi tiap hari!"
"Dengan senang hati, Naruto. Melihatmu semakin gemuk tiap harinya, membuatku penasaran apa para pelanggan masih tetap mau menyewamu atau tidak," kedip Sakura sambil berjalan menuju sofa dan memakai hoodie hitamnya.
.
Sakura mengusap peluh di dahinya, menatap sebuah bangunan yang berdiri di depannya. Bangunan tiga lantai itu, tampak berdiri ganjil dengan catnya yang berwarna biru gelap sementara bangunan lain di gang itu hanya berwarna hitam atau abu-abu kusam. Sejak tiga hari lalu dia mengunjungi flat-flat yang masuk dalam daftarnya. Bangunan di depannya kini adalah rekomendasi terakhir dari salah satu kenalan Naruto, yang ternyata terletak tak jauh dari gang tempat tinggal pemuda itu. Dasar Naruto. Sakura tersenyum dalam hati sambil mendorong pintu kayu dan masuk. Ini yang terakhir. Semoga aku bisa cocok dengan flat kali ini.
.
"Bolehkah aku membayar patungan uang sewanya nanti? Aku janji. Aku punya uang sekarang tapi kurasa itu belum cukup. Begitu terima uang, akan langsung kuberikan padamu."
Hatake Kakashi terkesan dengan kata-kata yang meluncur dari bibir gadis di depannya. Dari nada bicaranya, Kakashi mendapati rasa penuh percaya diri—bahkan terlalu percaya diri—untuk gadis seusianya. Dia belum memutuskan apakah gadis itu boleh tinggal bersamanya di flat yang baru ditempatinya selama tiga bulan. Sebenarnya dia tidak keberatan tinggal sendirian. Tapi melihat salah satu kamar menganggur dan tetap membayar sewa secara penuh, membuatnya sedikit… kesulitan. Bukankah dua lebih baik daripada satu?
"Kenapa aku harus menerimamu?" Kakashi mengajukan pertanyaan sambil menatap gadis itu. Jujur saja, dia mengharapkan seorang wanita cantik dengan tubuh seperti gitar Spanyol. Paling tidak pemandangan indah bisa membuatnya selalu semangat. Tapi yang berdiri di depannya sekarang adalah gadis kurus kering dengan wajah tirus penuh bekas lebam kebiruan. Mungkin seorang junkie.
"Karena aku benar-benar membutuhkannya," ujar Sakura sambil menunduk sebelum kembali melihat Kakashi. Sialan, dia benar-benar tidak suka meminta dikasihani.
Saat mata keduanya bertemu, Kakashi terhenyak. Ada kilasan permohonan namun penuh harga diri terpancar di mata hijau bening gadis itu, membuatnya mengambil keputusan akhir. Dia lalu menarik napas panjang sebelum berkata, "Baiklah. Dengan satu syarat: bayar setengah uang sewamu lebih dulu. Kuberi waktu dua hari dan kau bisa pindah ke sini setelah membayarnya."
"Aku pasti kembali dua hari lagi." Sakura mengangguk mantap dan tak banyak bicara lagi saat meninggalkan bangunan tiga lantai itu.
Kakashi hanya mengedikkan bahu dan kembali ke ruang tengah untuk bersantai membaca novel favoritnya. Saat itu hari Jumat sore jadi yang bisa dilakukannya adalah menunggu gadis itu sembari melewati akhir pekan dengan tenang. Dan begitulah adanya, di Minggu siang dengan udara yang berhembus lumayan panas, saat Kakashi baru saja kembali dari mini market, dia mendapati gadis itu tengah duduk di ujung anak tangga paling bawah.
Penampilan gadis itu tampak lebih berantakan dari pertemuan pertama mereka. Sudut bibirnya pecah dan ada darah mengering. Lebam di mata kirinya sudah mulai memudar namun digantikan pelipis kanannya yang sobek. Kakashi bisa melihat semua luka itu meski poni panjang gadis berambut merah jambu itu menutupi separuh wajahnya. Kakashi sibuk berpikir dan menebak-nebak apakah dia tengah berhadapan dengan seorang junkie, korban KDRT, atau bisa jadi 'wanita lampu merah' yang habis melayani pelanggan pengidap sadomasokhis. Kakashi tahu,bukan haknya untuk menghakimi hidup orang lain. Akhirnya dia pun hanya angkat bahu acuh tak acuh.
Tanpa menunggu lagi, gadis itu menghampiri Kakashi, membawa ranselnya ke dada, membongkarnya untuk mengeluarkan sebuah amplop putih dan mengulurkannya. Kakashi tidak bicara saat menerimanya. Dia hanya memasukkan amplop itu ke saku jeans-nya kemudian menjejalkan kantong plastik berisi buah-buahan ke tangan gadis itu, sementara dia melenggang masuk setelah membuka pintu flatnya.
"Flatini tidak besar tapi memiliki satu dapur, ruang tamu, ruang tengah, dua kamar tidur dan satu kamar mandi," ujar Kakashi sambil menyimpan kunci ke dalam mangkuk ukuran sedang di atas meja tak jauh dari pintu masuk. Dia menoleh ke belakang untuk melihat gadis itu mengikutinya dengan dua kantong di masing-masing tangannya sementara ranselnya sendiri berada di dadanya.
Kakashi terus berjalan menuju dapur, menyuruh gadis itu meletakkan kantong-kantong tadi ke atas meja lalu membawanya ke ruang tengah sebelum melangkah ke ruangan lain. Di sana, Kakashi menunjukkan kamar gadis itu. Saat melihat pintu lain di sana, gadis itu akhirnya membuka suara.
"Di sana kamar mandi?"
"Mm." Kakashi mengangguk sambil melangkah ke tengah ruangan dan membuka pintu tersebut. Tampak sebuah kamar mandi dengan shower yang tertutup tirai coklat muda. Dan sebuah bath-up. Kakashi menyeringai saat mendapati mata gadis itu nampak terkejut dan terpesona sekaligus. "Hebat, bukan?"
Oh, Sakura bisa melompat jungkir balik karena senang sekarang. Tempat ini keren! Belum lagi biaya sewanya tidak semahal yang kukira!
"Yeah," angguk Sakura sebelum mengalihkan matanya ke sebuah pintu di sisi lain pintu kamar mandi dan merasa aneh melihat dalam kamar mandi ini bisa ada dua buah pintu.
"Itu pintu menuju kamarku," sahut Kakashi singkat, mendapati tatapan gadis itu.
"Kamarmu?"
Kakashi membuka pintu yang satu lagi sedikit untuk menunjukkan kamarnya lalu menutupnya sebelum gadis itu bisa menatap isinya.
"Jadi…" Sakura menengadah menatap Kakashi. "Kamar kita hanya dipisahkan kamar mandi? Maksudku, saat aku atau kau di kamar mandi, salah satu dari kita bisa masuk?"
"Yup." Kakashi bersandar di wastafel, melipat tangannya ke dada. Dia menatap mata gadis itu, menemukan raut keterkejutan yang lain dan menunggunya berbicara. Mata abu-abu terangnya juga tak luput memperhatikan gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Aneh sekali. Dia tampak... bimbang. Berarti dia bukan wanita lampu merah. Beberapa detik berlalu dalam diam, akhirnya dia memutuskan untuk berkata, "Karena itu sangat kuharapkan darimu untuk menghargai privasiku. Aku pun akan melakukan hal yang sama untukmu."
"Aku tidak keberatan. Kau bahkan bisa menganggapku tidak ada," sahut Sakura setelah menarik napas panjang sambil mengibas-ngibaskan tangannya seperti sedang mengusir lalat, setelah cukup lama terdiam.
"Oke." Tubuh Kakashi menegak. Dia berjalan keluar dari kamar mandi dan kini berdiri di tengah ruangan—kamar gadis itu. "Hal pertama yang harus kau lakukan adalah membuat kunci duplikat. Setelah itu kau bisa pindah kapan pun kau mau."
"Aku bisa pindah sekarang," ujar Sakura membuat Kakashi mengangkat alis. Dengan wajah yang merona, gadis itu kembali berkata, "Barang-barangku… tidak banyak."
Kakashi mengangguk-angguk sebelum beranjak menuju pintu keluar. "Saat pindahan, kuharap kau tidak berisik dan mengganggu akhir pekanku."
"Tenang saja, anggap aku tidak ada." Sebuah senyum tipis akhirnya tersungging di bibir Sakura. "Errr… Tuan?"
Langkah Kakashi berhenti. Alisnya kembali terangkat.
"Terima kasih."
Suara gadis itu terdengar lirih, membuat Kakashi hampir memutar tubuh untuk melihatnya. Tapi dia mengurungkan niat itu dan memilih keluar dari kamar tanpa menyahut.
.
TBC
.
A/n : Bagaimana chap kali ini? Kalian puas? Atau bahkan kecewa? Sampaikan semua isi hati (Eaaaa XDDD) kalian lewat ripyu.
Thx udah bersedia membaca. Lebih thx lagi kalau berkenan ripyu. :D
