Kipas angin berputar, kirimkan sensasi sejuk. Gintoki menghela napas, serahkan tubuhnya pada pualam. Suhunya cukup dingin untuk singkirkan rasa gerah yang enggan menyingkir dari tubuh. Tak lama, ponsel pintar menyalak. Gintoki meraihnya dari atas meja belajar, lalu menekan layar tipis itu. Ia bahkan tak perlu melihat siapa yang memanggilnya; ia tahu siapa yang cukup senggang untuk mengusiknya di tengah hari begini.
"Apa, Zura?"
"Bukan Zura, tapi Katsura! Omong-omong, aku, Tatsuma, dan, ehm–"
"Takasugi?" putus Gintoki. Sebab ia sudah tahu, bila Katsura diringkus ragu kala berbicara padanya, pastilah itu soal sang iris gulma. "Nde? Ada apa?"
"Kami mau ke kolam renang. Kau mau ikut?"
Gintoki mengerang kesal. "Tidak," sahutnya. "No comment. Bye."
"Hey, tung–"
Beep.
Lalu, ponsel itu dilempar ke atas, membentuk parabola rendah dan mendarat di atas kasur. Suara jangkrik kembali berlari di udara. Beberapa ingatan kembali menampakkan diri, padahal Gintoki yakin telah menguncinya, agar pikirannya tak melulu berserakan bila menyangkut Takasugi Shinsuke. Tak lama, pemuda bersurai perak menjerit kesal.
"SIALAN ZURA! DASAR TIDAK PEKA!"
Gintama © Hideaki Sorachi
Warning! Teacher!Hijikata Toshiro x student!Sakata Gintoki, slight Okita SougoxKagura, AU! school life, lemon, friendship, family, romance, drama, OOC, typo(s), EyD semoga betul seluruhnya, rate mature (18+), dan lain-lain. Penjelasan lebih lanjut ada pada author note di akhir.
A Year by Saaraa
Suara itu mengundang Kagura untuk berlari dengan langkah berderap, membuka pintu kamarnya, dan memperlihatkan kepala dengan mahkota sewarna senja. "Kau mengagetkanku, aru! Ada apa, sih?"
"Ada apa, Cina?"
Samar namun pasti, Gintoki mendengar suara dari ponsel Kagura. Gelengen diberikan dan ia melenguh panjang. Ia menarik napas sebelum menjawab, "Mengesalkan. Rasanya liburanku hari ini langsung terasa jelek."
Kagura menautkan alis, tidak mengerti. "Oh, ya, Gin-chan. Sadis baru menelepon, dia dan Toshi mengajak kita pergi ke pantai. Kau ingin ikut?"
Gintoki mengangkat wajah.
"Dasar, meski libur, aku banyak kerjaan sebagai guru, tahu!"
"Maa, maa, Hijikata Konoyarou, jangan terlalu kaku."
Gintoki terkekeh tipis mendengar hal itu. Kagura, mau tak mau, mengukir kurva pada bibirnya. Selanjutnya, si iris darah berdiri dan berujar keras, "Mau! aku ganti baju dulu."
Kagura mengangguk. Pintu ditutup dan gadis itu sendiri pergi untuk bersiap-siap. Kala Gintoki dengan gesit membuka lemari baju dan merogoh isinya demi celana renang serta baju ganti, ia terdiam.
Aneh. Padahal tadi aku sedang bad mood.
.
"Jadi?"
Gintoki mengedarkan iris darah, asal tidak bertemu iris samudra dalam yang berkilat terkena sinar sang surya. Ada hujatan dan makian tak kasat mata melalui refleksi yang terpantul di bola mata samudra itu. Senyum diulas, meski kata-kata belum diberikan. Gintoki memilih melihat Sougo dan Kagura yang kini tengah bermain voli pantai dengan kekuatan tidak manusiawi.
Ia rasa bahkan beruang liar dapat terbunuh oleh tendangan sederhana dari Sougo dan adiknya itu.
"Siapa, ya, yang tadi bilang ingin semangat ke pantai, tapi ternyata tidak bisa berenang?"
Urat di pelipis Gintoki rasanya naik ke permukaan. Menoleh ke sampingnya, pemuda itu membalas beringas, "Hei! Tidak apa, kan? Lagipula kau juga kenapa tidak berenang, Mayora-sensei?"
Toshiro menarik napas, lalu mengempasnya. Ia melihat ke arah laut. Ombaknya bergelung-gelung, busa putih melapisi birunya air. Sapuannya membawa milyaran pasir pantai, namun juga terkadang mengirim cangkang kerang yang begitu mengkilat. Pemandangan yang membikin rindu, sebab dulu, bukannya ia jarang ke pantai.
"Dulu, Mitsuba tidak bisa berenang."
Gintoki menatap lelaki itu. "Oh. Tidak bisa, ya?"
"Yah, lebih tepatnya–tidak diperbolehkan. Ia memiliki masalah dengan paru-parunya sedari dulu. Karena itu, dokter membatasi aktivitasnya. Jadi ketika keluargaku, Kondo-san, dan keluarganya pergi jalan-jalan ke pantai bersama, hanya kami yang terduduk di pesisir, seperti ini."
Pemuda bersurai perak tersenyum. "Jadi, kau menemaninya, ya."
"Hu-um. Dia akan selalu minta maaf soal itu," ujar Toshiro, tertawa. Masa lalu memang tak akan kembali. Reka ulang boleh saja, asal tidak menjadi adiksi dalam hidup. Toshiro merasa lega. Ia rasa, ia mengalami kemajuan. Sebab kini, berbicara soal Mitsuba tidak sepahit sebelumnya. Tak ada lagi cengkraman pada perut hingga bergemuruh, atau pun desakan kristal bening pada pelupuk mata. Tak ada lagi relung yang dapat mendadak diisi oleh kenyataan akan absensi sang gadis.
Oh, benar. Ini karena lelaki di sebelahnya.
"Sankyuu," Toshiro menggumam, kecil sekali. Bukan maksudnya untuk membiarkan kata-kata itu dikumandangkan, lalu didengar oleh manusia yang lalu-lalang. Namun, daun telinga Gintoki bergerak, mendengar itu. Berpura bodoh, dia tersenyum lebar.
"Untuk apa?"
"Yosh." Toshiro berdiri dari tempatnya duduk. "Ayo, kuajari berenang. Lagipula kita sudah di sini. Sayang sekali, kan, kalau tidak bermain air."
"HEH–tidak! Aku pernah dikerjai tahu ketika main membelah semangka, lalu jatuh ke air, jadinya aku trauma!" Gintoki menggeleng-geleng keras, menyilangkan lengan.
"Dikerjai siapa?"
"Itu, Takasu–"
Gintoki menutup suara. Ah. Lagi-lagi. Perasaannya kembali mendung bagai awan kelabu yang berarak di angkasa, siap teteskan air mata. Gintoki mengacak surainya.
Duh, langsung jelek begini, ekspresiku.
Tanpa tedeng aling-aling, Toshiro menarik lengan Gintoki, sebabkan pemuda itu untuk berdiri di atas kedua kakinya.
"Sudah, ayo!"
Gintoki tersentak, tapi lalu ikut mengangkat berat tubuhnya. Ia mengembungkan pipi, tertawa tipis. "Kalau aku tenggelam dan habis napas, kau harus menciumku dan melakukan CPR, ya!"
Toshiro menyambit si helai perak itu. Protesan disuarakan, tapi Toshiro hanya tertawa menanggapi. Lalu, kepalanya kembali menelusuri kotak dalam memori berisi nama-nama murid yang diajarinya.
Takasu?
Takasu … gi Shinsuke?
.
.
.
"Yamazaki, baca halaman 200."
"Ehh– Setiap sel makhluk hidup dapat mengalami mutasi setiap saat, tetapi tidak semua mutasi dapat diwariskan pada keturunannya. Mutasi yang terjadi pada sel soma atau, sel tubuh, tidak akan diwariskan."
"Si bodoh," Toshiro merespon. "Baca sampai bawah, dong, anpan!"
Gelak tawa menyusul setelahnya. Yamazaki Saguru mengukir senyum. Ikut tertawa, malah. Satu hal yang tak pernah terlintas dalam kepala adalah bahwa gurunya mengingat makanan kesukaannya. lalu matanya kembali menelusuri baris-baris dalam lembar buku, menelanjangi setiap kata yang tercetak di sana.
"Rasanya Hijikata-sensei lebih santai, ya, sejak libur musim panas berakhir."
"Iya. Syukurlah, aku sebetulnya sedikit khawatir, loh."
Telinga Gintoki tidak terasah untuk mendengar perbincangan anak gadis. Namun, bagaimana pun, suara itu menabuh gendang telinga. Atas konversasi kecil yang ia dengar, Gintoki mengangkat sudut bibir, sedikit.
Tak lama, denting bel terdengar. Murid melenguh puas kala akhirnya mereka sampai pada titik akhir pelajaran. Toshiro membereskan buku di atas mejanya. Teringat akan sesuatu, belah bibirnya terbuka, nyatakan isi pikiran, "Oh, ya. Sakata Gintoki ke ruanganku habis ini."
"Ehhhhh!" protes itu disalurkan melalui suara rendah yang kuat. Murid-murid lain tertawa; tidak heran. Sakata Gintoki ialah seorang pemalas serta perancang alasan soal sikap culas. Maka bila ia sering melangkahkan kaki pada ruang guru, itu pastilah disebabkan oleh tugas yang kosong nilainya.
Katsura tertawa, meraih tali tasnya, lalu sampirkan pada bahu. Ia mendekati Gintoki, bersama Tatsuma yang tangannya bertengger pada pundak Gintoki. Si pemuda bersurai perak mengembungkan pipi.
"Makanya, kerjakan tugasmu, tahu," ujar Katsura.
"Hahahaha, Kintoki dihukum melulu, ya!"
"Beriiiiisssiiiiik."
.
"Apa, Mayora-sensei?"
Alis Toshiro berkedut. "Sudah kubilang, jangan panggil Mayora, murid kurang ajar!"
Gintoki terkekeh tipis. Ia mendatangi Toshiro di mejanya. Benda kecil yang terbaring di atas meja menjadi sentral fokus Gintoki. Sekon berikutnya yang datang, iris merah darah membola, nyatakan kegembiraan dan sarat akan harapan, meski nirsuara. Toshiro mendengus. Ia meraih benda itu, menyodorkannya pada Gintoki.
"Eh! Serius boleh buatku?"
Toshiro mengangguk. "Gratisan dari paket mayones."
Jemari Gintoki terulur untuk meraih cokelat batangan. Kadang, Toshiro ingin komentar soal kesukaan sang pemuda yang begitu melewati batas akan sesuatu yang manis. Namun, ia sadar ia tidak ada di posisi untuk itu, mengingat ia bisa merengkuh mayones sedemikian rupa dan menjaga seolah benda itu adalah hidupnya.
"Uwah, sankyu!"
Ketukan dua kali pada pintu menyadarkan mereka. Gintoki terkesiap, menoleh ke belakang. Sebuah suara menggema dari sana, "Permisi."
Toshiro yang memberi izin. "Masuk."
Gintoki terdiam. Sebab ia tahu siapa sang empunya suara. Ketika pintu itu bergeser, Gintoki tidak kaget akan siapa yang masuk. Langkahnya tenang dengan uwabaki putih yang mengetuk pualam, repetitif. Shinsuke melihat ke arah Gintoki, mengangkat alis, "Di sini, toh."
"Yo," Gintoki sukses mengumpulkan suara. Kala Shinsuke menyerahkan tugasnya pada sang guru, iris darah Gintoki menangkap satu sosok lagi di depan ruang guru. Pemuda dengan helai biru abu yang menunggu di depan. Gintoki tahu siapa itu.
"Hmm, oke, sudah bagus. Beri penjelasan dan analogi lebih rinci bagaimana cara kerja alel; kenapa seorang anak bisa lebih mirip ayahnya, atau ibunya, atau keduanya. Seperti itu."
"Ha'i, Sensei." Shinsuke membungkuk sedikit. Ia bertukar haluan, melangkah menuju pintu. Sebelum benar-benar menutup pintu, seringai dengan maksud kirimkan sindiran dilaksanakan. "Dihukum mulu, ya? Kasihan."
Urat Gintoki menegang. "Brengsek. Sana pergi, Shitsuke!"
"Sensei, Gintoki berkata kasar!" Dan, pintu tertutup. Ruangan kembali diselimuti hening. Suara semacam "yuk, habis ini pergi makan" terdengar halus dan semakin lama semakin memudar.
Takasugi Shinsuke, kah …
Toshiro tidak mengangkat pendapat soal anak muridnya yang baru saja muntahkan pisuhan. Lelaki dengan juntaian sewarna malam memilih diam, bertindak sebagai pemerhati akan sikap dan tindak-tanduk si murid yang menatap ke arah pintu untuk beberapa lama.
Rasanya Toshiro sedikit paham.
.
.
.
"Siapa yang mau?"
Katsura sodorkan setengah popsicle. Tatsuma mengangkat tangan, melonjak girang. Suaranya yang keras dan menulikan terdengar, "AKU!"
Sadar ada sesuatu yang tak wajar, Katsura dan Tatsuma menoleh bersamaan pada sosok pemuda bersurai perak yang bersikap submisif.
"Gintoki?"
"Hmm?" Gintoki serahkan gumam tak jelas. Masih bersandar pada dinding di depan minimarket. Isi kepalanya terlalu berhamburan ke mana-mana untuk diajak bicara. Hatinya terlalu terpaku di tempat untuk diajak berlari ke lain titik.
Katsura menahan pundaknya. Apa yang selanjutnya pemuda yang juntaian hitamnya diikat satu ke atas lihat itu adalah sebuah gurat ekspresi yang tak terdefinisi. Alis yang menukik, juga kerut di bawah mata. Tatapan yang kirimkan signal berbahaya bagi siapa pun yang melihat.
Uh, oh. Tatsuma mengerjap. Seseorang sedang jelek perasaannya.
"Ada apa?"
Gintoki mendecak. "Tidak ada–"
"Oh, ada kalian di sini."
Saat itu juga, Gintoki betulan ingin menyumpah. Apa saja, asal isi otaknya yang telah keruh dan berkabut dapat dicurahkan, meski melalui susunan kalimat sampah melalui lidah, mau pun tinju yang menghunus tubuh orang lain.
Kenapa dia selalu muncul?
Kenapa mereka selalu muncul?
"Takasugi," Katsura menyapa.
"Kawakami," Tasuma melanjutkan. Yang disebutkan namanya memberi anggukan, tanda sopan serta formalitas yang sehari-hari dilaksanakan.
"Oi, kau kenapa?" Shinsuke sadar bahwa manusia pemilik netra darah terlalu bungkam hari ini. Menghampiri, ia membawa jemarinya untuk berlabuh di dahi Gintoki. "Sakit? Keracunan makanan manis?"
Tangan itu ditepis. Katsura sudah menangkap tanda bahwa situasi tidak akan berakhir baik. Keputusan diambilnya untuk segera memisahkan ladang minyak dan setangkai korek api, "Gintoki–"
Sayang sekali, bukan hanya korek, namun di sini ada bubuk mesiu yang berhamburan di udara dengan keadaan siap lahirkan letupan eksplosif. "Takasugi, sudah, yuk. Kita mau nonton, kan?"
"Eh? Uh–ya," jawab Takasugi, semakin mengernyit akan tingkah kawan lamanya. "Kalau kau sakit, harusnya kau istirahat di rumah, idiot."
Cukup sudah.
"Sakit?"
Suara itu merendah. Setiap silabel diberi tekanan tak wajar. Tatsuma sudah siap memisahkan namun ada pula secercah keraguan; tak ingin terseret dalam baku hantam yang memilukan dan ciptakan luka juga darah.
"Kau yang sakit, sial!"
Shinsuke mengepalkan tangan. Buku-buku jari memutih. "Apa, sih! Otakmu itu sedari dulu dangkal, ya. Aku hanya bertanya, kenapa kau–"
"Bertanya? Tidak usah berlagak bodoh!"
Gintoki mencengkram kerah putih Shinsuke. Detik berikutnya, tubuh ringkih diempas. Punggung telak tabrak dengan pot keramik dekat pintu minimarket. Pecah bersetai-setai, suaranya mengundang fokus sang kasir yang ada di dalam. Gintoki menindih tubuh itu, kembali meremas kerah.
"Kau tahu perasaanku, persis! Aku menyatakannya padamu dan kau–sialan–pura-pura tidak mendengar soal itu! Sekarang kautanya apa aku sakit?! Kau yang sakit jiwa, bangsat!"
Aku baru mendengar soal itu! Bansai menuntut eksplanasi melalui cara pandangnya. Shinsuke memberi isyarat ia akan memberikannya nanti.
"Gintoki!" Katsura maju, menahan lengan yang sudah siap lancarkan tinju dengan pipi Shinsuke sebagai target mulus. Tenaganya tidak seberapa untuk menyaingi kekuatan Gintoki, Shinsuke harus membantu menahan lengan berurat itu.
"Tatsuma, jangan diam saja, bodoh!"
"Eh, eh–iya!"
"MINGGIR!" Gintoki menyergah, meremat kerah putih semakin erat. Katsura menggeleng keras. Mantap, meski sedikit takut terkena hajar. Tatsuma datang, mendekap pinggang Gintoki, menariknya ke belakang. Sia-sia saja.
Seberapa monster orang ini, sih!
Sebelah lengan masih ditahan Tatsuma. Opsi terakhir adalah satu hal yang mendadak terlintas. Dahi dipertemukan keras dengan kening Shinsuke. Bunyi memilukan menyayat pendengaran. Selanjutnya gigitan pada perpotongan leher, hasilkan darah. Shinsuke mengaduh, meronta, lutut menghajar sisi perut Gintoki, melempar pemuda itu dari tubuhnya. Tatsuma dan Katsura ikut lepas, terpelanting dari sana.
Tidak memberi kesempatan bagi Gintoki untuk bangkit, pemuda bersurai hitam bergaris ungu balik menindihnya, menekan dahi Gintoki hingga belakang kepala sang perak menabrak aspal.
Bansai memucat. Pertengkaran antar dua binatang buas yang binal, sepenuhnya dikendalikan insting, dibalut nalar paling purba serta hewani. Meski bukannya Katsura dan Tatsuma tidak tahu seperti apa kedua kawan dekatnya bila telah murka, ini adalah kali pertama mereka saksikan satu sama lain saling menerkam.
Baku hantam masih berlanjut untuk tiga puluh menit selanjutnya sebelum akhirnya tenaga terkikis habis dan manager minimarket dapat meringkus mereka untuk kalem barang sesaat.
.
Toshiro lemas pundaknya ketika melihat apa yang ada di hadapan. Sama halnya dengan Kagura dan Sougo, tak satu kata pun termuntah. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Manager toko telah melampiaskan seluruh murka melalui nada tinggi melengking pada Toshiro sebelum akhirnya menyuruh membawa sang biang keladi pergi. Polisi tidak dipanggil, ada negosiasi yang terjadi serta selipkan beberapa lembar uang. Perkara mudah.
Brengsek, Toshiro memaki dalam hati. Brengsek, mereka bahkan tidak mau repot-repot mengobatinya.
Sakata Gintoki terduduk di atas kursi tanpa sandaran. Surai perak begitu sengkarut, belum lagi sedikit warna merah yang menghiasi belakang kepala. Sudut bibir tergores, biru, ruam ungu tercipta. Pemuda itu tak sudi memalingkan wajah. Mata lurus melihat pualam putih pasi yang harusnya tidak menarik. Toshiro menekan dahi dengan kepalan tangan. Sesal merajai hati sebab baterai ponselnya habis dan tak ingat untuk diisi. Kabar soal tawuran sepasang anak remaja terkait anak didiknya baru ia terima pukul setengah sepuluh ketika akhirnya ia mengisi daya baterai. Takasugi Shinsuke sudah entah ke mana, sementara di sinilah Gintoki, tidak ada yang menjemput.
Tak ambil waktu lama, Toshiro mengambil tempat tepat di hadapan Gintoki. Ia berlutut, mengangkat dagu si remaja perancang masalah.
"Maaf aku telat, ya."
Oh–sudut matanya memerah.
Aneh, Toshiro menggigit bibir. Kasih bisa membuat orang senang, tapi terluka sekaligus.
"Kita pulang, oke?"
Gintoki mengangguk lemah.
"Gin-chan–"
Sougo menahan lengan si gadis. Menggeleng. Hendak serahkan seluruh masalah ini pada guru di sana. Sebab meski bualan adalah hal yang terlalu tergores loyal pada kata-kata Gintoki, sikapnya sejernih rintik air dari angkasa. Begitu transparan, begitu jelas. Begitu kentara bahwa ada kenyamanan tak wajar yang merekah di antara sang guru dan muridnya.
Apa aku harus memanggil Takasugi Shinsuke ke ruang guru?
"Jangan …," Gintoki menyahut lemah. Seolah dapat menerka rencana macam apa yang tersusun di dalam kepala Toshiro. "Tidak usah memanggil dia. Ini urusan kami pribadi. Tidak usah ikut campur, Sensei."
Kata "sensei" mendadak terdengar pahit. Toshiro meneguk ludah. Bagaimana, ya … dibilang tidak ikut campur, pun, gimana caranya, kalau dia mau menangis begini?
Apa–hal macam apa yang dapat ia lakukan? Sebab ketika ia masih berduka atas Mitsuba, pemuda perak di hadapannya ini hanya laksanakan hal sederhana. Mengajaknya makan, main game, serta adu sarkasme untuk hal-hal tidak berguna. Itu saja cukup untuk menjaga hatinya yang terancam rusak. Itu saja cukup untuk tidak membuatnya menjatuhkan diri sendiri pada dasar jurang lara.
Namun Hijikata Toshiro ialah pemilik personaliti yang kaku dan tak paham caranya nyatakan afeksi. Bahkan ketika dengan Mitsuba, gadis itu yang selalu membikinnya nyaman. Limpahkan seluruh kasih padanya, hingga Toshiro tidak sadar, bahwa terkadang luput dari ingatannya untuk membalas ekspresi kasih itu.
Ah–sebentar. Ada satu tindakan universal yang sederhana. Maka, ia membuka lengannya, melingkarkan pada tubuh yang duduk membungkuk itu. Gintoki menautkan alis, memberi sedikit perlawanan, meski sudah kelelahan dan rengsa.
"Diamlah," ujar Toshiro, menepuk-nepuk punggung itu. Perlahan. Kaku. Penuh ragu. Namun, ia tahu itu berhasil. Sebab detik berikutnya, sang pemuda pemilik netra merah darah membalas dekapan simpel. Menaruh kepala pada perpotongan tengkuk si guru. Mereka diam dalam posisi itu meski lutut Toshiro sudah terasa kaku.
.
.
.
"Gin-chan sudah tidur, aru?" Kagura berbisik, memastikan volume suara tidak mengganggu kakaknya yang tengah terlelap.
Toshiro memberi anggukan. Dibenahinya pinset, kapas berbalut alkohol dan obat merah, serta perban. Kotak P3K itu diberikannya pada Kagura dan sang gadis menaruhnya di tempat asal. Sougo mengarahkan iris apel masak ke arah pintu kamar.
"Dasar," ujarnya, mendengus lembut. "Setelah Aneue, ternyata masih ada orang lain yang harus kita khawatirkan, Hijikata-san."
Kagura, mendengar itu, tak tahan untuk tidak mengulas senyum simpul. Ia telah menjadi kawan sekaligus lawan bagi Sougo sejak tungkai mereka masih berlarian di sekolah dasar. Tumbuh bersama sang pemuda bersurai cokelat keruh membuatnya paham cara Sougo menyatakan kasih. Cara yang tidak eksplisit, namun mengandung kesungguhan di dalamnya.
"Yah," Toshiro mengusap tengkuk. "Dia memang begundal. Dan aku tidak menyalahkannya bila dia ada satu atau dua masalah dengan kawan baiknya."
Dengan orang yang disukainya, lanjut Toshiro, lebih pada dirinya sendiri.
"Makasih, Toshi. Kalian boleh pulang, aru, aku akan baik-baik saja," aku Kagura, menyengir.
"Mana terima kasih untukku, Cina?"
"Tidak ada untukmu, Sadis!"
Toshiro tertawa. "Tidak apa," katanya. "Kami di sini saja, ya, kan, Sougo?"
Sougo mengangguk kecil. Lagipula, besok ialah hari Sabtu. Tak akan ada aktivitas sekolah dan mengajar. Sebab rasa cemas mengulik hatinya ketika mengingat sang surai perak tengah berada pada kondisi terburuk dan menyisakan anak perempuan di rumah sendirian.
"Yakin, aru? Aku hanya punya satu futon tambahan."
"Berikan untuk Sougo saja," kata Toshiro. Ia merogoh kantung celana, lalu mengeluarkan setangkai rokok. Sougo menguap, selanjutnya ia berjalan mengikuti Kagura.
"Ya sudah, kau tidur di sofa ruang tamu saja, ya, Hijikata-san. Aku akan ke kamar tamu."
"Aku akan mengambilkan selimut, untuk Toshi, aru."
.
Toshiro mengusap sudut matanya. Melapisi tubuhnya dengan selimut, ia masih saja fokus akan layar tipis bercahaya dari ponselnya. Angka 12 tertoreh di sana, lalu selanjutnya kuapan tercipta.
Saatnya tidur.
Baru saja kepala itu ditaruh di atas sofa, Toshiro mengangkat wajah kala didengarnya suara derit lembut dari engsel pintu. Saat pintu menampakkan sosok remaja dengan surai perak dari arah dalam kamar, Toshiro berdiri. Ia menghampiri sang pemuda.
"Terbangun?"
"Ehn." Gintoki mengangguk. Irisnya bergulir ke bawah. Sebelah tangan mengusap daun telinga–gestur sederhana untuk gugup dan menginginkan sesuatu. Toshiro mengusap helai perak.
"Tidurlah, aku temani."
Gintoki tidak buang-buang tenaga untuk menolak. Maka itu, ia kembali pada kamarnya, disusul si lelaki beriris biru baja. Menyamankan diri di balik selimut, Gintoki melirik ke arah Toshiro. Gurunya terduduk di sisi kasur.
Gintoki meraih tangan Toshiro, menggenggamnya, erat. Meski lebih terasa seperti meremas. Toshiro menghela napas pendek. Anak didiknya bagaimana pun masihlah seorang remaja, penuh ambivalensi, dan sekelumit emosi yang membasuh seluruh tindakannya.
Toshiro memiliki skenario di otaknya ia tak akan terlelap sampai pagi. Namun ketika rasa lelah benar-benar menghujam kesadarannya, ia terlelap hingga subuh datang. Begitu sadar, pada pagi hari, mereka mendekap satu sama lain, merasa begitu hangat di sana.
.
.
.
To be continued ...
A/N : Halooo! Honestly, chapter ini dan chapter selanjutnya adalah bagian terbaik, menurut saya. Saya sendiri sangat suka dengan adegan berkelahi Gintoki dan Shinsuke. Ketika menonton Gintama, saya selalu suka dengan fighting sequence-nya. Jadi saya harap saya bisa memberi sedikit gambaran tentang bagaimana perkelahian yang bisa terjadi di antara Gintoki dan Shinsuke, namun di lain universe, hehe. Oh iya, stay tune, guys! Chapter selanjutnya adalah yang terakhir, sekaligus dengan adegan intim yang menjadi puncak relasi antara Gintoki dan Toshiro ;)
Akhir kata, thank you udah membaca! Semoga enjoy, ya, dengan ceritanya. See you~
