Rated : T

Genre: Romance/Friendship/Humor

Warning :OOC

Disclaimer: forever and ever Naruto never can be mine.

Aku tengah berjalan di koridor sekolah menuju ruang kelasku yang berada di lantai dua, namun teriakan seseorang yang memanggil namaku menghentikan langkahku, aku menoleh ke belakang di mana arah suara berasal, seorang anak perempuan sebayaku berambut kuning panjang yang dikucir satu itu sedang berlari menghampiriku. "Sakura, pagi!" sapanya ketika sudah di sebelahku, nafasnya masih naik turun tidak teratur.

"Pagi juga Ino." Balasku padanya, lalu kami berjalan bersama menuju kelas kami yang sekelas. Ino adalah sahabatku sejak SD, dia adalah anak dari seorang penjual bunga dan orang tuanya memiliki toko bunga yang cukup terkenal sejak beberapa tahun belakangan ini, Ino tiap hari selalu membantu orang tuanya di toko makanya tidak heran jika ia tahu banyak tentang tanaman terutama bunga tentunya.

"Tumben kau tidak datang pagi-pagi sekali." Pernyataan bukan pertanyaan, aku hanya menggelengkan kepala saja. "Tuan mudamu itu lagi?" aku mengangguk kali ini, ya hanya Ino dan kedua sahabatku yang lainlah yang tahu tentang statusku sebagai pelayan pribadi Sasuke-sama, sedangkan yang lain hanya tahu kalau aku adalah pelayan di kediaman Uchiha. Karena kalau mereka tahu hal itu, bisa-bisa aku sudah habis di tangan sepasukan fans Sasuke-sama, kecuali Ino tentunya, sekedar tahu saja Ino juga adalah fans Sasuke-sama namun ia tidak pernah ikut-ikut kegilaan fans-fans yang membabi-buta itu.

"Aah, menyenangkan ya jadi dirimu Sakura, tiap hari ada sdi samping Sasuke, bisa melihatnya dalam keadaan baru bangun tidur Sasuke yang aku yakin pasti terlihat lebih tampan saat itu," cibir Ino padaku yang hanya mendesah panjang, aku yakin pasti sekarang Ino sedang tenggelam dalam fantasinya. "Huh, aku iri padamu, Sakura." Aku hanya diam tak menyahut, malas menjawab ucapannya.

"Sasuke! Kyaa Sasuke-sama!" teriakan para anak perempuan membahana di kantin sekolah siang itu seperti biasa, dan itulah yang menjadi penyambut kami saat memasuki kantin yang cukup luas itu. aku pun tahu kalau sekarang Sasuke-sama sedang duduk di meja kantin paling sudut bersama teman-temannya seperti Naruto Uzumaki, Neji Hyuuga, Shikamaru Nara, dan Sai. Tanpa memeriksa pun aku sudah hapal, dan aku dengan cuek berjalan memasuki kantin bersama Ino, Tenten, dan Hinata. Kami duduk di meja tepat di ujung lain kantin, meja kami berseberangan dengan meja Sasuke-sama karena enggan untuk dekat-dekat dengan fans-fans gila itu.

"Wow! Seperti biasa dari dulu Sasuke memang populer sekali ya, aku jadi pesimis bisa jadian dengannya." Kata Ino dengan wajah manyun, aku memutar bola mataku seakan itu hal bodoh yang tidak perlu dikatakan. "Tapi kurasa lebih mudah mendapatkan Sai." Timpalnya dan lagi-lagi aku memutar emerald-ku.

"Menurutku Neji lebih keren," sergah Tenten sambil menopang dagunya dengan kedua tangan. "kalau tidak salah dia itu masih sepupumu kan, Hinata?" Tanya Tenten melirik Hinata disampingnya, putri pemalu itu hanya mengangguk. Yeah, keluarga Hyuuga memang keluarga bangsawan yang juga cukup terkenal meski masih kalah dengan klan Uchiha, dan salah satu putri penting di keluarga itu adalah salah satu sahabatku. Herannya, orang-orang sepertiku, Tenten, dan Ino yang bukan merupakan keluarga bangsawan dan tipe yang dipilih sebagai urutan terakhir dalam berteman di sekolah ini malah berteman baik dengan Hinata. Memang sikap Hinata yang pemalu dan rendah hatilah yang menjadi salah satu alasannya, selain itu aku juga tak tahu mengapa Hinata memilih jalan bersama kami ini.

"Sakura! Sakura! Coba lihat, kuperhatikan si Sasuke sedang menatapmu!" bisikan bersemangat Ino mengembalikanku kembali dari lamunanku, setengah tak percaya, aku menatap ke arah Sasuke-sama yang cukup jauh di seberang tempatku berada. Aku juga tidak tahu Sasuke-sama sedang melihatku atau memperhatikan yang lain, ekpresinya datar. Namun aku sadar kalau ia sedang menatapku karena saat aku menatapnya dengan sembunyi-sembunyi, ia malah menaikkan alisnya seperti sedang menggodaku, sama seperti biasanya.

Aku menunduk malu, air mukaku nyaris memerah. Karena tidak tahu harus membalas bagaimana, aku hanya mengangkat kepalaku dan menunduk sekali memberi hormat padanya. Namun begitu kutegakkan kembali kepalaku ia sudah menatap ke arah lain, tetapi entah kenapa aku bisa melihat senyumnya yang usil itu meski sekilas. Kurasakan tatapan ketiga temanku yang membuatku kembali sadar, "Kalian kenapa?" tanyaku bodoh pura-pura tak mengerti, cepat-cepat kuteguk colaku untuk menyembunyikan kegugupanku.

"Harusnya aku yang bertanya mengapa kau merona begitu, Sa-ku-ra." Sahut Tenten sinis dengan nada dilambat-lambatkan saat menyebut namaku, aku membuang mukaku ke arah lain untuk menyembunyikan wajahku yang pasti sudah sangat aneh sekarang ini.

Pulang sekolah seperti biasa aku jalan kaki sama seperti berangkat sekolah tadi pagi. Setelah berpisah dengan Ino dan Tenten yang arahnya berlainan denganku, kini aku hanya berjalan sendirian ke kediaman Uchiha. Biasanya setiap aku melewati rumah di dekat persimpangan itu aku selalu mendengar nyalak anjing, "Guk!" itu dia. Aku berlari ke arah rumah itu dan mendekati pagar rumah yang tertutup itu, namun masih ada celahnya.

Kuulurkan tanganku memberi isyarat pada anjing putih jantan yang jinak dan lucu itu untuk mendekatiku, "anjing baik, anjing baik." Kubelai bulunya yang halus sambil tertawa melihat wajahnya yang menatapku, anjing itu sangatlah imut.

Saking asyiknya bermain dengan anjing yang tak kuketahui namanya itu, aku sampai tidak sadar seseorang di belakangku tengah memelototiku. Jika saja ia tidak menegurku aku pasti benar-benar tidak sadar dengan kehadirannya, "Sedang apa kau cewek aneh?" aku berbalik menengadah menatap seorang anak laki-laki sebayaku dengan seragam SMA yang sama, tas sekolahnya ia pegang dari atas ke belakang pundaknya. Aku menjaga ekspresiku agar tetap sopan, "Kutanya kau sedang apa? Apa yang kau lakukan dengan Akamaru-ku?" tanyanya ulang sama kasarnya dengan yang sebelumnya.

"Oh, jadi nama anjing ini Akamaru." Aku tidak menjawab pertanyaannya, malah aku membelai puncak kepala Akamaru. Ia mendengus marah melihat tindakanku.

"Ha? Jangan sok akrab dengan Akamaru-ku! Pulang sana!" usir anak itu, aku mencibir sebal padanya. Aku bangkit berdiri sambil menghentakkan kakiku karena kesal, "Permisi!" ujarku ketus dengan penekanan dalam kataku lalu mengambil langkah untuk pergi dari tempat itu. kulirik sekilas papan nama yang ditempel di dinding rumah dekat pagar itu, tertera nama keluarga 'Inuzuka' di sana. Oh, jadi nama anak itu Inuzuka, eh? Rasanya aku belum pernah melihatnya di sekolahku, padahal jas sekolahnya menunjukkan bahwa sekolah kami sama, namun aku hanya mengangkat bahu tak peduli tak mau ambil ambil pusing lagi.

Aku berjalan kembali, ketika aku hendak menyeberang tiba-tiba saja seorang anak laki-laki bertubuh gempal berlari dari sisi yang tak terlihat olehku, aku terjungkang ke belakang dibuatnya. Anak yang menabrakku tadi tampak tak merasa bersalah karena ia masih terus berlari seakan tak merasa telah menabrakku, atau memang? Ah, tapi gara-gara terjatuh dengan posisi begini rasanya pantatku terasa sangat ngilu dan kaku.

Tampaknya ini hari sialku, mengapa tidak? Baru saja aku diusir oleh anak laki-laki Inuzuka itu, kemudian kejadian di kantin kumasukkan dalam hitungan, dan lagi terjatuh begini… aku mengerang frustasi. Sebuah siulan usil mengagetkanku, aku menoleh ke arah sumber siulan itu berasal, kulihat langkah kaki seseorang sedang berjalan mendekatiku, aku mendongak menatap orang tersebut. Tubuhku serasa membeku begitu kulihat siapa orang itu, sepersekian detik kemudian wajah dan telingaku terasa amat sangat panas dan kuyakin pipiku pasti sangat merah sekarang.

"Sayang sekali kau memakai celana pendek, Sakura. Coba kalau tidak…" ia bersiul sekali lagi seperti orang mesum meski kutahu ia bukan tipe seperti itu, aku langsung menutupi rokku tapi sayangnya aku tak dapat menyembunyikan wajahku yang terlanjur terlihat semakin memerah.

"Sa… Sasuke-sama, kenapa anda ada di sini?" tanyaku gelagapan seperti orang bodoh, kukutuk diriku sendiri karena kebodohanku itu, yakin pasti Sasuke-sama akan semakin asyik menggodaku.

"Tadinya aku mau pulang, tapi tiba-tiba saja kulihat pemandangan menarik jadi aku berhenti." Jawabnya dengan santai dan nada menggoda yang kentara sekali. Kalau saja dia bukan tuanku, aku pasti sudah melempari lelaki dihadapanku ini dengan tasku. Setidaknya itu yang akan kulakukan meski dia adalah tuanku tetapi tentu saja sebelum aku diperingati oleh kepala pelayan Homura dan Koharu.

Yeah, tepatnya tiga bulan setelah aku menjadi kepala pelayan Sasuke-sama, mereka datang untuk memarahiku karena nada bicaraku yang seenaknya dan tidak seharusnya diucapkan oleh pelayan sepertiku. Tidak profesional kata kedua kakek nenek itu. Perlahan-lahan aku merubah sikapku meski agak kesusahan awalnya sesuai dengan 'profesional' yang mereka sebutkan itu, apalagi awalnya Sasuke-sama selalu mengeluh dan memarahiku karena cara bicaraku dan sikapku yang berubah drastis itu, membuatku serba salah diawal namun aku berpikir sudah seharusnya aku terbiasa dengan cara bicara formal tersebut.

Lama-kelamaan pun kami berdua mencoba menerimanya tanpa perlu memberi tahu Sasuke-sama apa yang sebenarnya membuatku berubah begitu dan mulai mencoba menghilangkan ekspresiku di depannya, atau mungkin ia memang tak pernah mau mencoba menerimanya? Aku tak tahu, yang jelas perlahan-lahan Sasuke-sama juga mulai berhenti mengeluh namun ia malah sering menggodaku. Mungkin itulah caranya agar aku dapat mengeluarkan ekspresiku sebenarnya padanya, meski itu hanyalah semburat merah di pipiku, namun ia selalu dapat tersenyum puas setelahnya. Mungkin pikirnya ia menang dan aku kalah, yeah, sedikit banyak aku juga berpikir seperti itu.

Aku tak pernah memberi tahu Sasuke-sama tentunya alasanku merubah itu semua, tentu saja karena aku tahu ia takkan bisa menerimanya dan yang kutakutkan adalah ia malah memarahi besar-besaran kake nenek tetua itu. Lagipula sudah seharusnya aku seperti ini, kan.

"Sakura?" Sasuke-sama menatapku dengan tatapan khawatir karena aku terdiam cukup lama dan asyik tenggelam dalam pikiranku sendiri.

"Ah, kenapa Sasuke-sama berhenti di sini kalau begitu?" tanyaku cepat-cepat mengalihkan perhatianku dan dirinya karena sikapku barusan. Ia berdecak.

"Kan sudah kujelaskan tadi, bodoh!" ujarnya sebal karena pertanyaan bodohku barusan, aku menunduk sedikit takut menatap mata onyxnya jika tiba-tiba nanti ia marah padaku, namun sedetik kemuadian ucapan Sasuke-sama membuatku terkesiap dan menatapnya setengah termangu karena ajakannya, "Kalau sudah begini kenapa tidak bareng saja? Lagipula tampaknya sebentar lagi hujan, jadi lebih baik kau naik mobil bersamaku." Sambil berkata Sasuke-sama menunjuk langit yang memang mulai tampak gelap karena mendung.

"Tenang saja, kalau kau takut akan ada anak sekolahan kita yang melihatmu bersamaku sekarang, kupastikan tak ada. Lagipula paling mereka juga berpikir karena rumah kita kurang lebih bisa dibilang sama dan kau hanyalah pekerja di tempatku saja, jadi paling tak ada yang mau ambil pusing." Kata Sasuke-sama saat aku masih belum menjawab, aku menunduk mendengar perkataannya, benar juga bagaimanapun aku hanyalah seorang pelayan bagi semua orang. Saat aku berpikir begitu kurasakan setengah kehangatan membungkusku karena gumaman Sasuke-sama yang nyaris tak terdengar namun masih bisa tertangkap olehku, tahu dia bilang apa? "walau bagiku kau bukanlah hanya seperti itu."

Ingin sekali aku percaya dengan pendengaranku itu, bolehkah? Kuanggap ya, setidaknya aku juga ingin sedikit merasa lebih di mata Sasuke-sama, kubiarkan diriku berpikir egois menafsirkan maksud dari kata-kata Sasuke-sama itu, yaitu aku ia anggap sebagai teman masa kecilnya, kau tahu cukup dengan berpikir seperti itu saja aku bahagia. Meski tak benar, aku ingin percaya, sangat. Karena ia adalah salah satu orang yang paling kusayangi, karena orang-orang yang kusayang telah meninggalkanku lebih dahulu yaitu orang tuaku. Setelah mereka tiada, Sasuke-sama lah yang selalu melindungiku meski sikapnya yang terkadang bahkan sering terasa dingin dan ketus, namun aku tahu ia adalah orang yang lebih baik daripada yang terlihat itulah.

"Karena itu kau ikut naik di mobilku." Desak Sasuke-sama yang tampak ngotot dengan ajakannya itu, bahkan nada perintah terselip dalam ucapannya barusan. Akhirnya aku mengangguk setuju dan bangkit berdiri seraya dibantu oleh Sasuke-sama yang mengulurkan tangannya membantuku. Kemudian kuikuti tuanku itu untuk masuk dalam mobil limousine hitamnya itu, ketika masuk aku memberi senyum tipis pada Hayate yang melirikku dari kaca belakang, ia adalah supir Sasuke-sama.

Mobil kembali melaju dan kami berdua pun terdiam tak ada yang membuka obrolan hingga akhirnya aku yang penasaran dengan pikiran bodohku bertanya pada Sasuke-sama yang menatap ke arah luar jendela dengan pandangan menerawang sementara tangannya menopang dagu bersender di sisi pintu berjendela itu, "Sasuke-sama," panggilku hati-hati, ia hanya melirik sekilas dengan ekor matanya sebelum kembali menatap ke luar jendela.

"Hn?" Sahutnya pendek nampak tak terlalu memudilkan, aku mendesah pelan menyadari sikapnya, heran mengapa moodnya gampang sekali berubah.

"Kenapa anda menyuruh saya untuk ikut dalam mobil anda? Padahal kalau misalkan hujan saya bisa…" aku memotong ucapanku sendiri karena kulihat Sasuke-sama memutar kedua bola matanya seakan menganggap itu hanya pertanyaan bodoh. Lalu ia menatapku masih menopang dagu seraya mengacungkan tiga jarinya dengan tangannya yang lain, "eh?" aku memiringkan kepalaku bingung dengan maksudnya.

"Tiga. Kau sudah tiga kali bertanya dengan menggunakan awalan yang sama 'kenapa', ketiga-tiganya bukan pertanyaan yang cerdas, Sakura. Dan jika kau sekali lagi bertanya padaku dengan kata itu, maka aku benar-benar akan mengacuhkanmu." Ancam Sasuke-sama ketus dan dingin tanpa menyembunyikan rasa bosannya di depanku. Aku menunduk sebentar, kemudian mengangguk mengerti. "Bagus." Sasuke-sama tersenyum puas padaku sesaat lalu kembali memandang menerawang keluar jendela.

Diam-diam aku mendesah panjang, akhirnya tak dapat jawaban darinya. Aku mengingat-ingat kata-katanya yang sebelum ini tentang aku takut dilihat oleh teman sekolahanku, entah kenapa rasa sedih menjalariku. Yeah, kami membuat perjanjian untuk tidak memberitahukan bahwa aku pelayan pribadi Sasuke-sama dan tak terlihat terlalu dekat dan itu semua adalah permintaanku agar Sasuke-sama tak merasa terganggu oleh hal tersebut, dan mungkin juga supaya aku selamat dari pasukan fans Sasuke yang terkenal garang itu. Tapi yang membuatku sedih bukanlah itu, namun kenyataan yang tampaknya Sasuke-sama tampak salah paham menangkap maksudku yang sebenarnya.

To Be Continued.

Hwaa~ gomen telat update! Padahal rencana mau cepet update malah baru bisa sekarang, gomen…

gomen juga karena udah salah genre kemarin, harusnya romance/humor tapi malah kepencetnya romance/hurt,comfort saya ngaku saya emang ceroboh deh…

arigatou buat yang udah ingetin kesalahan dan ngoreksi masalah genre ataupun typo ya, hehe :b

thanks buat yang udah suka bahkan nunggu-nunggu ni fanfic klasik sih bisa dibilang :? tapi entah kenapa saya juga suka cerita beginian XD

Makasih banyak juga buat yang udah ngeriview maupun sekedar baca fanfic saya ini, pokoknya: hontou ni arigatou! *speechless* maah gak bales satu-satu *nunduk*

Please R&R nya ya! ya! ya! :3