I'M NOT THE ONLY ONE

By asisten madjikan shim-jung

.

.

.

Pairing: ChangHo alias MinHo alias Changmin!seme& Yunho!uke

bittersweet-hurt/comfort-fluff/NC-17

.

.

.

CHAPTER 2: part A

.

.

.

"Ikut tur Jepangnya BoA?!"

"Kenapa kamu histeris seperti itu sih?"

"Tunggu...itu tur...berapa lama?"

"Sebulan."

"No...no..no...sebulan kamu tidak pulang?"

"Aku masih bisa pulang 2 minggu sekali lah. Kenapa sih? Seperti kita tidak pernah pisah lama saja."

"Kita baru saja berbaikan honey, tidakkah kamu ingin menghabiskan waktu denganku?"

Yunho menatap malas Changmin yang cengirannya makin lama makin hilang ditelan kenyataan. "Oke, jadwalku juga padat sih sebulan ini."

Tiba-tiba Changmin menyergap punggung Yunho dari belakang dengan pelukan eratnya, semacam memeluk Teddy Bear saja. "I don't want to leave."

"Just don't leave."

"But i must to work mochi-kun~ apa sebaiknya kamu kujadikan manajer saja ya biar bisa ikut kemanapun denganku...auuw!"

Tentu saja Yunho memukulkan kepalanya ke kepala Changmin yang bersarang di bahunya. "Kenapa tidak kamu saja yang pensiun dan jadi dancer denganku?"

"Yah...kamu kan tahu danceku jelek." Changmin lalu melepaskan pelukannya dan menghadap Yunho, membuatnya duduk di tepian meja makan (jelek). Tiba-tiba wajahnya berubah serius dengan tatapan tajam yang sudah dihapal Yunho. Pasti mau bahas sesuatu yang serius.

"Sebenarnya ada yang menawariku main film, sudah sebulan aku mempertimbangkannya dan aku menyukainya tapi aku belum memberikan jawaban. Batasku sampai akhir minggu ini. Bagaimana menurutmu?"

"Kamu minta persetujuanku?"

"Tentu saja. Tapi aku tidak bisa menunjukkan naskahnya padamu. Top secret. Tapi kalau sinopsisnya sih ada, nanti kuberikan padamu."

"Lalu kenapa bertanya padaku? Tahun lalu kamu main di variety show, jadi cameo di drama dan film yang syuting di luar negeri pun tidak tanya dulu padaku. Tau-tau syuting, tau-tau tayang dan bahkan tau dari manajer-ssi."

Nah itu dia!

Changmin tampak menggigiti bibirnya dan menatap Yunho takut-takut. "Karena ada sex scene-nya."

Yunho yakin sekali dia salah dengar.

Sangat berharap salah dengar saja.

"Memangnya kamu tidak ada tawaran film yang lain?"

"Ada sih tapi paling komedi romantis atau semacamnya. Aku lebih suka cerita yang ini hyung, aku sudah bisa membayangkannya akan seperti apa. Saat tes kamera juga katanya aku yang paling pas. Mereka bahkan rela menunggu jawabanku."

"Jadi saat ini kamu tidak bertanya tapi memberitahuku, 'hei aku mau main film ini'. Begitu?"

"Bukan begitu hyung..."

"Ya memang seperti itu kan. Bagaimana kalau aku tidak setuju dan menyuruhmu tidak mengambil itu? Apa kamu mau menurutiku?"

Changmin terdiam, sebenarnya tahu itu memang benar. Kalaupun dijawab tidak boleh maka dia akan berusaha segala cara membujuk sampai dapat. Sama-sama dead end sebenarnya.

"Apa kata ayah dan ibu? Kamu pasti bertanya pada mereka kan?"

"Mereka keberatan tapi ya terserah aku juga sih."

"Kalau aku juga keberatan." Yunho menghempaskan tubuhnya di sandaran sofa. Sikapnya menyilangkan tangan di dada sudah jelas. "Itupun kalau pendapatku benar-benar kamu anggap serius."

Matih kau Shim Changmin!

Hanya dari kilatan mata dan intonasi bicara Changmin saja Yunho sudah tahu pacarnya itu begitu menginginkan main di film tersebut. Sejak dulu dia memang ingin jadi aktor setelah merasakan beberapa kali akting. Tapi tidak bisa bebas mengambil proyek demi karir menyanyi yang juga disukainya. Setelah solo barulah banyak yang menawari dan beberapa kali jadi cameo sambutannya bagus.

"Kamu benar-benar ingin jadi aktor?" tanya Yunho datar setelah entah berapa lama hanya terdengar dengungan AC. Bahkan lupa belum menyervis AC yang sudah beberapa hari ini berdengung dan tidak dingin.

Changmin mengangguk dan tidak menghindari tatapan Yunho.

"Jangan terburu-buru. Tolak saja yang ini, bermainlah di beberapa project akting dulu hingga kamu benar-benar menguasainya."

"Ini kesempatan yang langka. Aku tidak yakin bakal diberi script seperti ini lagi. "

"Itu karena kamu sudah langsung suka sejak pertama membacanya. Tidak ada gunanya kan kamu bertanya karena jawabannya pasti itu, pasti kamu mengambilnya! Kamu hanya cari pembenaran dan dukungan ."

Changmin tampak membuka mulut tapi menutupnya lagi karena Yunho mulai menaikkan nadanya.

"Kamu kan selalu seperti itu."

"Maksudmu apa?"

"Ya seperti itu! Jika kamu sudah suka, siapapun tidak akan kamu dengarkan."

Changmin merasakan emosinya benar-benar terpancing sekarang, tapi pada akhirnya kembali tak bisa apa-apa ketika Yunho menyodorinya kenyataan.

"…karena itu kan kita bisa bersama saat ini. Tapi aku berharap kamu tidak bersikap seperti itu untuk semua hal."

.

.

.

.

Changmin membenamkan wajahnya di bantal sofa di rumahnya, benar-benar rumah yang ada ayah dan ibunya. Diakuinya, ia memang sengaja kabur sebentar mencari belaian sang ibu karena terlalu pusing memikirkan urusan ini. Tentu saja sang ibu tahu.

"Kalian pasti tidak bisa berkompromi."

"Omma…kenapa to the point sekali?" keluh Changmin yang masih saja sibuk mengunyah hasil masakan ibunya.

"Karena aku ini ibumu."

"Apa karena itu omma bilang terserah aku mau main film itu atau tidak? Karena Yunho bilang aku orangnya seperti itu, keras kepala kalau sudah punya target."

"Ah…anak itu memang mengenalmu dengan baik."

"Omma!" Changmin manyun total mendengar ibunya tak membelanya. "Kalau aku ambil, kalian semua jangan nonton ya."

"Kalau malu kenapa diambil?"

"Entahlah, aku benar-benar menyukai script-nya walau aku tahu mungkin akan lebih banyak yang menentangku. Rasanya seperti jatuh cinta."

"Cinta buta itu namanya."

Changmin membuka ponselnya dan mendapati jawaban chat dari Kyuhyun "take it and u will die".

Entah kenapa dengan banyaknya orang yang tidak setuju malah membuatnya semakin penasaran dan semangat membuktikan dirinya bisa. Dia pernah mengobrol dengan seorang sunbaenim yang mengatakan nantinya banyak yang membuatmu ragu melangkah jadi harus teguh dan memang ada yang harus dikorbankan.

Tapi Yunho bukan untuk dikorbankan, demi apapun itu.

"Ibu yakin kamu akan baik-baik saja, apapun yang terjadi, karena kamu anak yang kuat dan tenang."

Sebenarnya ucapan itu membuat Changmin tertegun. Ibunya bukan tipe ibu yang mudah mengatakan hal seperti itu. Kini ia terlalu takut menanyakan apa maksud ucapan itu. Seperti terjebak dalam kamar gelap gulita dan ia meraba-raba mencari jalan keluar.

Karena ibunya menggunakan "kamu", bukan "kalian".

Changmin menggenggam ponselnya terlalu kuat saat ibunya meninggalkannya untuk mengangkat telepon. Sekarang dia tahu harus memberi jawaban apa atas tawaran film itu.

.

.

.

.

Yunho merasakan benar dirinya jadi tidak fokus kerja gara-gara ucapan Changmin itu. Bagaimana bisa kan?! Kenapa orang itu selalu membuat hidup dan hatinya begitu sulit begini?!

Sekarang dia tak memegang sinopsis naskah itu, karena bersifat rahasia jadi hanya membaca dan menyerahkan lagi pada Changmin, namun masih mengingatnya jelas. Tidak ada yang aneh, sepintas ceritanya normal-normal saja dan memang menarik. Changmin sendiri bilang sangat menginginkan naskah itu dan yakin sutradaranya bisa melakukannya dengan baik meski ini akan jadi film debutnya.

Yunho? Jangan tanya. Dia orang A yang akan memikirkan dari segala sudut hingga kepalanya seperti mau pecah.

Yunho sendiri merasakan tawaran itu terlalu gambling karena sama-sama proyek pertama di layar lebar. Film itu bisa mengangkat popularitas Changmin atau malah membuatnya hancur lebur tak bersisa di saat dia sedang laris begini. Dari naskahnya, itu bukan film ringan dan memang ditargetkan untuk masuk ke festival film.

Jang Woo Hyuk hanya melirik dari sudut matanya melihat betapa gelisahnya Yunho.

"Kamu benar-benar mau ikut tur Jepang BoA? Aku harus memberikan jawaban hari ini untuk mengatur jadwalmu."

"Iya, aku ikut." Yunho kaget sendiri menjawabnya tanpa pikir panjang.

Kalau dia bisa ngotot maka aku juga bisa.

Tak berapa lama ada telepon dari Changmin dan Yunho sudah bisa menebak topiknya. "Kamu menerima tawaran itu,"tembak Yunho tanpa basa-basi.

"Iya akhirnya aku menerimanya, maaf Yunho, aku…"

"Jangan minta maaf. Itu akan membuatku semakin menyesal, it's enough."

"Please support me…please…"

Yunho menghela nafas panjang dan memukul-mukulkan ringan kepalanya ke dinding. Sudah berjalan sejauh ini melewati jalanan terjal berliku dan menerjang badai bukan untuk menyerah begitu saja kan.

"I will."

"Thank you baby, really really thank you."

Selama dua tahun ini hubungan mereka tidak goyah meski Yunho sempat 3 bulan ikut dance school di New York yang didapatnya dari rekomendasi ikut kompetisi dance. Saat itu ia mendapat beberapa tawaran ikut audisi untuk jadi backdancer penyanyi Amerika terkenal tapi ditolaknya karena harus pulang. Karena ada Changmin yang menunggunya pulang dan itu lebih penting daripada berkarir di Amerika.

Karena Changmin bukan untuk dikorbankan, demi apapun.

Di Korea dan Asia sudah cukup baginya, bahkan bisa dance di garasi rumah atau dimanapun tak masalah, asalkan bersama Changmin.

Lalu sekarang ini yang didapatnya dari seorang Shim Changmin?

Ini?

.

.

.

Changmin sendiri merasa lega luar biasa setelah memberitahu Yunho dan responnya tidak seburuk dugaannya. Tinggal pintar-pintar merayunya saat bertemu di rumah nanti. Kini ia lebih memilih fokus menyiapkan mental di-bash saat nanti berita konfirmasinya di film mulai muncul di media.

Dan benar saja. Dalam 3 jam berikutnya beritanya sudah muncul. Sesuai dugaan Changmin, rumah produksi itu langsung mengumumkan walau belum teken kontrak agar dia off market dan jelas terkunci untuk project ini. Toh kontraknya akan ditekennya hari ini juga.

"Gila kamu Min! Kamu menyanggupinya?! Daebak~~" Kyuhyun langsung menelepon setelah temannya memberitahukan berita itu. "Kupikir kamu akan mundur demi dia. Emangnya dia berubah pikiran jadi setuju?"

"Dia masih tidak setuju kok."

"Gila…nekat banget kamu. Daebak dua kali!"

"Aku akan membuktikan bahwa ini bukan salah pilih. Aku akan melakukannya sebaik-baiknya. Membuatnya bangga memilikiku."

Changmin bisa membaca pikiran Kyuhyun yang masih diam saja, semacam membuat-dia-bangga-tanpa-bisa-mengatakan-memilikimu-itu-kau-sebut-membanggakan?

"Aku hanya bisa bilang good luck," ucap Kyuhyun dengan tenangnya. Ketenangan yang membuat Changmin parno sebenarnya

"Gomawoyo," jawab Changmin lirih seperti tak percaya pada dirinya sendiri.

Apakah ini akan jadi "terlanjur"?

Setelah itu hanya yang indah-indah saja yang diingat Changmin. Dengan hati riang seperti berhasil mendapatkan boneka di vending machine dengan mesin penjepit yang menyebalkan, ia datang ke makan malam untuk teken kontrak debut filmnya itu. Bertemu dengan orang-orang rumah produksi itu membuatnya merasa semakin yakin tidak salah pilih. Bahkan ia tidak peduli dengan membanjirnya kritikan dari netter tentang pilihannya ini.

Merasa menjadi lelaki sejati.

Sangat percaya diri dengan insting, pertimbangan dan keputusannya.

Karena saking senangnya, Changmin membeli bunga. Meski konyol memiliki ide memberikan bunga mawar pada sesama pria tapi itu toh tetap dilakukannya dengan memilih mawar merah untuk Yunho. Sebuket besar dan sebotol wine.

Jadi ingat malam pertama.

Bedanya wine kali ini hasil usaha sendiri, bukan pemberian Kyuhyun.

Tapi akhirnya Changmin malah salah tingkah sendiri ketika mendapati dirinya tak sengaja masuk apartemen bersamaan. Sejak awal mereka memutuskan bersikap dingin jika di area apartemen agar tidak menimbulkan gossip, jadi kini Changmin kikuk membawa buket mawar yang begitu mencolok. Bahkan tadi sekuriti menggodanya. Kelihatan sekali ya bunga ucapan selamat dan untuk orang yang spesial.

Yunho sendiri sempat membeku sesaat melihat Changmin berusaha menyembunyikan buket bunga itu dan akhirnya menyerah. Pertahanan Yunho untuk poker face akhirnya runtuh disodori benda itu saat berduaan di dalam lift. Bahkan Changmin tak peduli aksinya itu terekam CCTV dan jadi tontonan sekuriti di control room. Setidaknya masih bisa menahan diri untuk tidak mencium bibir itu.

Seperti biasanya, Changmin tidak mengatakan apapun saat menyerahkan buket itu. Tapi Yunho sudah terlalu terbiasa membaca setiap gesture pacarnya itu yang kini tersipu-sipu sendiri. Jujur, Yunho menyukai perhatian ini jadi ia menciumi aroma mawar segar itu bahkan hingga berada di depan pintu apartemen mereka.

"Kamu menyogokku degan bunga? Memangnya aku cewek?"

Changmin kemudian mengambil sebatang mawar hingga membuat Yunho memperhatikan gerakannya. "Flower is a flower. Not for woman or man, kids or elder. It just flower, a love."

Yunho menaikkan alis matanya ketika mawar itu mendarat di saku kemeja oversized-nya yang acak-acakan. "Gombal."

"Karena itu kamu menyukaiku kan?"

Oke, siapa yang bisa bertahan dari kedipan mata Changmin dan smirk-nya yang fenomenal. Jadi Yunho memilih langsung menciumnya saat itu juga, masih dari balik pintu yang bahkan belum melepas sepatu mereka.

Jelas Changmin tidak ingat soal sudah melepas sepatu atau belum, bahkan lupa apakah wine-nya dibawa turun dari mobil atau tidak tadi. Entahlah dan sudahlah. Peduli amat kan kalau lebih menarik untuk melucuti pakaian Yunho dan membalas ciumannya.

Tak terpikirkan oleh Changmin bahwa Yunho melakukan itu sekedar untuk menghalau pikiran buruknya. Yunho menyadari ia belum rela dengan keputusan itu, ia hanya terpaksa untuk rela. Ia hanya menuruti nalurinya yang masih berhasrat pada pria yang mendekapnya lekat saat ini. Sekedar, oh ternyata aku masih mencintaimu. Ternyata.

Yunho tak mengingat melakukan apa atau Changmin memperlakukannya seperti apa. Rasanya waktu seperti berhenti. Tak ada warna apapun. Yang dia tahu hanya berpikir...

Merelakan mempertontonkan tubuh polos Changmin-nya pada jutaan pasang mata dalam keadaan sedang bercinta.

yang benar saja!

"Yun…ho?"

Panggilan itu menyadarkan Yunho atas apa yang sedang dilakukannya sekarang. Changmin menatapnya bingung. Kemeja mahal Changmin sudah sobek dan tangannya mengcengkeram kerah itu dengan sangat kuat, menekan tubuh itu ke dinding. Yunho yakin tadi malah menghantamkan kepala Changmin ke dinding.

Dengan lembut, tangan Changmin membujuk Yunho melepas cengkeramannya.

Cengkeraman di lehernya.

Yunho terkesiap dan langsung melepasnya. Kilatan rasa bersalah terlihat jelas di mata itu, apalagi saat melirik bekas kemerahan di leher Changmin dan wajahnya yang merah menahan nafas. "So…sorry…aku tidak bermaksud…"

Seketika itu juga Yunho berbalik, berjalan cepat menuju kamarnya, dan Changmin menahan tangannya. "It's okay, Yunho, it's okay. I'm fine."

Changmin sebenarnya hanya pura-pura tenang. Sungguh.

Ia tak menyangka Yunho bisa bersikap begitu kasar padanya tadi. Yunho benar-benar mencekiknya cukup serius untuk sesaat!

Ini pertama kalinya tak mengenali Yunho dan itu membuat bulu kuduknya meremang. Meski selintas, namun Changmin mengakui sempat berpikir dirinya akan diperkosa atau dicelekai atau semacamnya. Itu tidak baik-baik saja kan namanya?

Tapi sorot mata penyesalan Yunho saat ini membuat Changmin luluh. Yunho semakin menautkan alisnya saat menyentuh bibir Changmin. Baru sadar sendiri ternyata berdarah. Yunho ingat tadi menggigitnya saat berciuman dan mungkin bakal ada lebam lainnya.

"It's not okay Min-ah…not at all…I almost rape you." Matanya menelusuri leher Changmin.

"No…no…no…" Changmin refleks merengkuh Yunho dalam pelukannya. Pria yang lebih tua 2 tahun darinya itu membenamkan wajahnya di bahu Changmin dan mulai menahan tangisannya sendiri. "You love me and I love you."

Changmin meraih wajah yang sembab itu dan mengecup dahinya. Mengatakan semuanya baik-baik saja dan itu hanya emosi sesaat karena stress yang tak perlu dianggap serius.

"Let's sleep alone tonight. Aku tidak mau melukaimu…" Yunho tanpa sadar menahan nafasnya. "…tanpa sadar."

"No. Kita tetap akan tidur bersama seperti biasanya, okay?" Changmin berusaha mengindahkan tatapan memohon dari Yunho. "Aku janji kalau kamu melukaiku, aku akan keluar dan menguncimu di kamar."

Dengan berat hati Yunho menerima usulan itu, membiarkan Changmin menggiringnya ke kamar tidur.

Membiarkan Changmin memeluknya sepanjang malam, merasakan kegelisahannya.

.

.

.

.

Changmin ingat dulu pernah mengobrol santai dengan Jihye saat Yunho sedang pergi. Obrolan itu tanpa sengaja menyentuh hal yang tidak diketahui Changmin tentang Yunho. Sesuatu yang membuat Jihye tampak merasa bersalah setelah keceplosan.

"Aku tidak menyangka kamu bisa mengatasi temperamennya."

"Temperamen apa? He really calm, mature and soft. Malah sabar juga menghadapi aku yang keras kepala dan terlalu cuek ini."

Jihye tertawa kecil sambil menuangkan soju untuknya. "Coba kutebak…hmm…Yunho oppa tidak pernah minum alkohol di depanmu kan?"

Changmin menggeleng. "Dia bilang lambungnya bermasalah."

"Iya itu memang benar." Sampai di situ Changmin tidak yakin Jihye tidak mulai mabuk. "Karena dia dulu alkoholik, tapi memang sudah sembuh sih. Dia tidak cerita ini padamu?"

Changmin tak bisa merespon karena terlalu terkejut.

"Kamu tidak tahu kan bagaimana dia kalau mengamuk? Ngamuk lho ya, bukan sekedar marah."

"Apa yang terjadi?" Changmin merasakan detak jantungnya meningkat, anggap saja karena pengaruh soju.

"Hal seperti itu bukan untuk diceritakan, tapi dirasakan sendiri."

.

.

.

.

***TBC part B***

.

.

.

author's note:

Terima kasih banyak untuk sambutannya temen-temen reader~~*ketjup atu-atu*

hmm...aku tidak tau apakah mungkin ada reader baru yang berharap aku mengganti atau bikin ff Homin. Kutegaskan itu tidak akan terjadi, apalagi untuk mochi-kun. Saya bukan tipikal nulis ff demi reader. Jadi saya akan tetap bikin pairing yang kusukai, tak peduli apapun trendnya, dan no NC yang vulgar-vulgar, daaaan...pasti ceritanya slice of life yang membosankan. Fans pairing siapapun silahkan baca ff saya dan thank's for the comment!