Tsukimori and Momochi colab
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : M
Genre : Angst/Romance
Pairing : SuiSaiSasu
Warning : OOC, AU, Nista, Abal, Angstnya mungkin nggak kerasa, colab fic pertama kami. Mature content, Bloody scene, gore banget, LEMON (tapi belum muncul di chap ini), don't like don't read, anak dibawah umur disarankan nggak baca, bahaya muntah di tempat. Bila tidak keberatan dengan warning kami, maka silahkan arahkan kursor anda kebawah, untuk membaca fic ini.
.
.
Presenting :
Behind The Mask
Author's :
Tsukimori Raisa and Momochi Mimi'san
.
.
Action 2
.
.
Sasuke membelai lembut kepala kekasihnya yang sedang bergelayutan di lengannya dengan tangan besarnya yang pucat. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis setipis benang yang hanya ia berikan pada Sai seorang. Ia senang akan kebiasaan Sai yang suka menggelayuti lengannya. Tubuh Sai memberikan kehangatan tersendiri yang mendalam pada tubuhnya yang dingin.
Tak perduli akan beberapa pasang mata yang menatapnya jijik maupun iri. Bahkan banyak ibu-ibu yang menutup mata anak mereka saat mereka melewati pasangan homo itu. Banyak pula ibu-ibu yang langsung mengajaknya pulang dari taman itu. Tapi, ada juga baby sitter yang dengan noraknya mengeluarkan handphone BlackBerry jadi-jadian mereka, lalu mengabadikan pemandangan itu.
Ya, mereka sedang duduk di sebuah bangku taman. Taman yang dipenuhi anak kecil itu kini menjadi tempat kencan mereka. Sasuke memang terlahir dengan darah Uchiha yang terkenal angkuh, kaya raya, bangsawan, dan sebagainya. Tapi Sasuke lain, dia adalah pemuda berdarah Uchiha yang angkuh, namun suka hal yang sederhana. Dan keangkuhannya lenyap begitu saja ketika ia bersama Sai.
Ia tak suka hal yang terlalu elit atau bagaimana. Contohnya Sai. Ia menyukai Sai apa adanya. Pemuda miskin yang berasal dari keluarga yang tidak begitu jelas. Rumahnya kecil dan sempit, dan ia hanya tinggal berdua dengan ibunya yang mati-matian mencari uang dengan menjadi pelayan di sebuah cafe untuk membiayai hidup mereka. Sedangkan Sai berjualan gorengan setiap pulang sekolah. Dan semua itu berubah semenjak Sai bertemu dengan Sasuke. Keadaan ekonomi Sai membaik karena biaya makan yang ditanggung ibu Sai berkurang.
Pemuda Uchiha ini tak jarang mengajak Sai makan di tempat-tempat sederhana, seperti kedai, dan warung pinggiran. Dan Sasuke hampir tak pernah mengajak Sai ke tempat makan yang mewah seperti restoran berkelas. Karena tempat seperti itu membuat Sai tidak nyaman. Dan kenyamanan Sai adalah prioritas utama bagi Sasuke.
Itachi Uchiha, sebagai seorang kakak, tentu tidak suka dengan perlakuan manis adiknya pada seorang pemuda miskin dan tak jelas itu. Ia terang-terangan menentang hubungan adiknya. Bukan karena ia tak mau adiknya menjadi seorang homoseksual, toh Itachi sendiri berpacaran dengan laki-laki. Tapi karena asal-usul Sai yang tak jelas.
Tapi walaupun badai yang sekuat apapun menerjang, ombak sebesar apapun menghantam, angin sekencang apapun bertiup, batu karang tetap berdiri tegak dan tak pernah goyah. Sasuke tetap mempertahankan cinta mereka apapun yang terjadi.
Matahari lagi-lagi bersinar cerah dengan cahaya jingga yang kental. Tak sadar kalau mereka sudah hampir 3 jam duduk disana. Terhanyut dalam kenyamanan masing-masing.
Namun Sasuke merasa ada sesuatu yang berbeda dari kehangatan Sai. Ada yang janggal. Tidak sehangat biasanya. Hatinya telah terpaut pada seseorang nun jauh disana. Dan Sasuke tentu dengan jelas dapat merasakan itu. Sang kekasih mulai jatuh cinta dengan orang lain.
"Sai." Bisikan lembut Sasuke menarik jiwa Sai yang hampir terhanyut dalam buaian mimpi ke alam sadar. Sai membuka matanya yang sudah setengah tertutup dan menatap Sasuke dengan tatapan lembut selembut kain yang dicuci dengan Multi ultra sekali bilas.
"Kenapa sayang?" tanyanya, masih dengan posisi memeluk Sasuke.
Sasuke menyentuhkan jemarinnya ke dagu Sai. "Apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu?" tanya Si Raven serius, "katakan saja."
Sai memundurkan posisi duduknya, memperlebar jarak antara kedua wajah mereka yang semakin dekat itu. "Tidak, memangnya ada apa?"
"Sai," Sasuke menghela napasnya, "jangan berbohong padaku. Sepintar apapun kau, aku tak bisa dibohongi."
Pemuda pucat itu menunduk dalam diam. Sampai Sasuke kembali angkat bicara. "Kau menyukai si kakek Hozuki tua bangka itu kan?"
"Hmmph—!" Tawa tertahan hampir keluar dari bibir Sai saat ia mendengar panggilan 'kakek Hozuki tua bangka' yang di lontarkan kekasihnya itu. "Dia itu masih seumur kita loh," sahutnya santai.
"Hn, tapi ia berambut putih seperti kakek tua bangka." Perkataan itu membuat Sai tertawa. Sai memang orang yang mudah tertawa, dan itu termasuk salah satu point mengapa Sasuke menyukai Sai.
Dan sore itu, Sasuke masih membiarkan perasaan baru Sai yang mulai tumbuh karena Sai yang selalu mengalihkan pembicaraan dan berusaha menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang menginterogasi.
.
O.O
.
Waktu memang berjalan dengan cepat. Terutama bila perasaan sedang bahagia. Waktu terasa terlewati begitu cepat.
Ya, sudah hampir sebulan Suigetsu pindah sekolah. Dan sepertinya targetnya sudah berubah. Dari Sasuke, menjadi Sai. Sepertinya Suigetsu lupa akan janjinya.
Sejak hari pertama, Suigetsu sudah menetapkan kalau Sailah yang menjadi teman pertamanya. Dan ia memutuskan untuk memperdalam hubungan mereka. Target berubah, perasaan juga berubah.
Tapi, apa yang dirasakan Sasuke? Apa dia merasa cemburu? Terang saja, Sasuke merasa cemburu. Tapi ia tak menggertak Suigetsu. Hanya beberapa kali memperingati Sai akan kesetiaan yang selalu dijanjikan Sai. Dan Sai berusaha keras untuk menarik hatinya seutuhnya untuk kembali ke dalam hati Sasuke.
Keadaan sudah cukup banyak berubah dalam sebulan ini. Banyak gadis yang putus dengan pacarnya karena mengejar Suigetsu. Dan banyak pula pemuda populer di kalangan para gadis yang imagenya rusak karena mereka ketahuan sedang mengejar Suigetsu. Namun malang nasib mereka, karena Suigetsu sama sekali tidak tertarik dengan mereka. Suigetsu sedang, ya, bisa dikatakan jatuh cinta, dengan Sai.
Sejauh ini, Suigetsu bisa dikatakan berhasil dalam rangka memperjauh hubungan antara Sai dengan Sasuke untuk mendapatkan Sai. Terbukti dari pertengkaran yang kini tengah dialami oleh pasangan yang terkenal tak pernah bertengkar itu. Dan Suigetsu menari-nari di atas pertengkaran mereka dengan menggunakan koteka(?).
Pertengkaran macam apa yang sedang menguasai kedua pemuda stoic ini? Apakah perang bintang? Perang lempar barang pecah belah? Perang adu mulut? Perang dengan menggunakan belati? Bukan perang seperti itu. Tapi perang dingin yang menguasai hati mereka. Mereka saling diam dan tak saling menyapa. Ya, kalau anak muda zaman sekarang bilang namanya 'digantung'. Dan perang ini sudah terjadi selama 1 minggu. Waktu yang cukup lama untuk sepasang kekasih yang tak pernah bertengkar bukan?
Suigetsu yang otaknya pas-pasan dalam hal pelajaran—terutama pelajaran Fisika—seringkali mengajak Sai kerumahnya dengan alasan minta diajari mengerjakan PR. Tapi nyatanya, mereka hanya belajar sebentar, lalu setelah itu main kartu dan senang-senang. Payah sekali Sai, bisa-bisanya ia melupakan masalahnya dengan Sasuke.
Sepahit apapun kenyataan, tetap harus diterima. Sasuke memang harus menerima kenyataan bahwa ada kemungkinan hubungan mereka akan berakhir karena Sai yang lebih bahagia bersama Suigetsu. Ya, sepertinya Sai memang terlihat lebih riang saat bersama Suigetsu. seperti malam ini.
Sai dan Suigetsu sedang bermain congklak di kamar Suigetsu yang bercat violet. Mereka berdua duduk di atas ranjang ukuran dua orang yang berwarna putih polos. Saling menertawakan kekonyolan satu sama lain. Saling bermain curang. Tak ada keraguan sedikitpun dalam tawa mereka.
"Hahaha, kau curang Sui. Kau kan sudah mati disini tadi." Sai meraup biji congklak yang ada di dalam ceruk papan congklak iu, lalu memindahkannya kesebelahnya.
"Kau juga, ini kan seharusnya tidak boleh dimakan, hahaha." Suigetsu balas meraup biji congklak yang menumpuk di gawang Sai.
"Ah, aku kan sudah susah payah mendapatkannya. Kau jahat ah, sini kembalikan," keluh Sai sambil merambet tangan Suigetsu yang menggenggam banyak biji congklak.
"Hahaha, tidak mau ah," balas Suigetsu sambil menjulurkan lidahnya.
"Ih Sui imut deh kayak puppy," ujar Sai manja seraya mencubit pipi Suigetsu.
"Sai genit ah cubit-cubit." Suigetsu balas menggelitiki perut sexy Sai.
Dan tawa riang mereka menggema ke seluruh penjuru kamar Suigetsu. Namun ada suatu perasaan tak enak yang mengganjal di hati Sai saat itu. Seperti rasa bersalah yang mendalam pada sang kekasih. Mereka juga sepertinya tak sadar akan sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka dari balik jendela.
.
O.O
.
Sai berjalan di dalam gelapnya malam yang tak berbulan. Hanya cahaya lampu tiang di setiap ujung gang yang sudah redup saja yang menerangi langkahnya. Juga cahaya dari BB(Buatan Bakrie) ngacanya yang dengan senangnya meninari wajah pucat Sai sampai ia terlihat seperti hantu.
To : Dear Sasuke :*
Sayang, kau masih marah padaku? Gomeeen. Aku tidak ada maksud lain kok dengan si Hozuki. Hanya teman. Kita sudahi saja perang dingin ini. Aku lelah, Sasuke. Kau ingat sumpah setiaku kan? Aku tak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Tapi terserah kau kalau tidak mau memaafkanku. Itu hakmu. Sekali lagi, aku minta maaf.
Suki dayo :*
Setelah memperhatikan deretan kata-kata itu selama beberapa saat dan mempertimbangkannya, akhirnya Sai menekan tombol SEND!
Sai menghela nafasnya sambil terus melangkahkan kakinya. Perasaannya tak karuan. Apalagi tiba-tiba ia teringat kejadian waktu itu.
Waktu itu, kira-kira 1 setengah tahun lalu ...
Sai dan Sasuke sedang bermain Playstation dengan serius di ruang tamu rumah Sasuke yang luas. Tiba-tiba, seseorang membuka pintu dengan kasar. Spontan, mereka berdua langsung menolehkan kepalanya. Itu kakaknya Sasuke, Uchiha Itachi. Sai langsung menyunggingkan senyum manisnya sambil menundukkan kepalanya. "Konbanwa, Itachi-san."
"Konbanwa," balas Itachi jutek. Ia langsung mendekati mereka dan menarik Sasuke menjauh ke dapur.
Sai dapat mendengar sedikit percakapan mereka. Walau mereka berbicara sambil bisik-bisik, tetap saja Sai dapat mendengarnya karena Itachi berbicara dengan sewot tingkat tinggi.
"Sedang apa bocah miskin itu disini?" tanya Itachi sewot.
"Main, memang kenapa?" Sasuke menyahut dengan santai dan ekspresi datar.
"Aku kan sudah bilang kalau aku tak suka kau berhubungan dengannya! Orang tua kita juga pasti tidak suka kalau mereka tahu kau berpacaran dengan orang miskin seperti itu! Apa kata Uchiha yang lain? Mau ditaruh dimana mukamu, hah?" Itachi melirik sinis ke arah Sai yang sedang memainkan BB bututnya.
"Kau tidak suka, mereka tidak suka, tapi aku suka," sahut Sasuke sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding dibelakangnya. Tangannya ia silangkan di depan dada.
Itachi melirik sekali lagi pemuda pucat yang sedang duduk di sofa cream itu, memperhatikan dan mencari bagian menarik dari orang itu. "Cih! Apa menariknya dia? Menjijikan kau Sasuke! Cepat bawa pergi dia!"
Sasuke melangkahkan kakinya menjauh dari Itachi, kemudian menoleh sedikit, melirik Itachi dengan ekor matanya, "Baiklah kalau itu maumu. Aku dan Sai mau jalan-jalan ke taman."
Sai langsung menoleh mendengarnya. "Eh? Kenapa tiba-tiba?"
"Ada yang tidak senang akan keberadaanmu," ujar Sasuke dan langsung menarik tangan Sai, meninggalkan Itachi yang langsung mengabsen hewan di kebun binatang. Sai hendak menoleh untuk mengucapkan salam, tapi gerakan kepalanya langsung dihentikkan oleh tangan besar Sasuke.
Sejak saat itu, Sai selalu menolak bila Sasuke mengajak kerumahnya.
Apa salahku sampai-sampai Itachi-san membenciku seperti itu? Apa karena aku ini miskin dan tak berguna? Gumam Sai dalam hati. Ia menghela nafas panjang lagi. Tiba-tiba ia dikagetkan oleh getaran dari handphone yang berada dalam genggamannya. 2 pesan sekaligus. Sai sangat berharap itu Sasuke. Jantungnya berdegup lebih cepat saat membukanya.
From : Sui ikan :p
Saiii! Kau yakin tak mau di antar? Aku khawatir tauuu. Ini kan sudah malaaam. Kalau belum jauh, ku jemput yaa? Yaa? Yaaa?
Sai sweatdrop. Sebegitu khawatirkah? Biasanya juga Sai selalu pulang sendiri. Sejak tadi juga, Suigetsu sudah memaksa Sai untuk di antar pulang. Tapi Sai tak mau.
Masih ada 1 pesan lagi. Buru-buru Sai membuka pesan itu dan membacanya.
From : Dear Sasuke :*
Hn
Urat di dahi Sai langsung berkedut tidak senang. "Dasar pelit kata! Huh menyebalkan!" teriaknya.
Kesal, Sai memasukkan BB beserta kedua tangannya ke kantung. Ia berjalan cepat dengan sebal sambil menendang-nendang yang ada di depannya.
Jarak rumah Sai dan Suigetsu memang cukup jauh. Sekarang Sai sudah mencapai hampir setengah perjalanan. Tapi tiba-tiba ia dikagetkan lagi oleh sebuah deru knalpot motor yang terdengar nyolot.
"Sai," ujar seseorang yang sedang duduk di motor itu.
Suara itu kan... batin Sai. Matanya terbuka lebar, melangkah maju untuk melihat wajah orang di balik helm itu.
.
O.O
.
"Jus tomat 1 ya," ujar Sasuke pada bapak penjaga kantin. Suasana kantin sudah agak sepi karena para murid banyak yang sudah kembali ke kelasnya.
"Eh, Sasuke ya?" kata si penjaga kantin.
"Hn."
"Tadi ada yang menitipkan ini padamu." Si penjaga kantin itu menyerahkan sebuah botol minuman tertutup yang dalamnya berisi cairan kemerahan seperti jus tomat. "Kata orang itu, kalau Sasuke mau beli jus tomat, berikan ini saja," lanjutnya.
Sasuke menerima botol itu sambil mengernyitkan dahinya bingung.
"Sasukeee!" teriakan cempreng itu terasa menusuk gendang telinga Sasuke. Kedua kelopak matanya tertutup, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Dengan sok akrabnya, pemuda yang berteriak itu langsung menggapai pundak Sasuke. "Sasuke, Sai kemana sih? Smsku tidak dibalas."
"Mana ku tahu," balas Sasuke ketus.
Suigetsu memanyunkan bibirnya. "Memang kau belum coba sms dia? Kau kan pacarnya!"
"Ya, dan kau adalah hama pengganggu yang ingin merusak hubunganku dengannya," sahut Sasuke, "Pak, siapa yang menitipkan ini?"
"Eh? Aku kan hanya berteman dengannya. Apa kau tidak khawatir padanya?"
"Aku tidak tahu, orang itu berpakaian serba hitam, dan memakai topeng orange berbentuk lolipop," jawab si penjaga kantin.
"Bapak tidak tahu namanya?"
Si penjaga kantin hana menggeleng.
"Hei, Sasuke, kau mendengarkanku tidak sih? Nogomong-ngomong, apa itu yang di tanganmu?"
"Bukan urusanmu," Sasuke berbalik dan hendak pergi, "terima kasih ya, pak."
"Sasuke tunggu! Kau marah padaku ya?" Suigetsu mencoba menyamakan langkahnya dengan Sasuke.
Pemuda raven itu hanya menggumam tidak senang. Ia duduk di salah satu kursi kantin dan membuka tutup botol itu. Bau amisnya langsung menusuk hidung Sasuke.
"Iyuck!" umpat Suigetsu geli saat duduk di hadapan Sasuke. "Lebih baik kau buang benda menjijikan itu, Sasuke."
Sasuke tak menggubris perkataan Suigetsu. Cairan dalam botol itu berwarna merah darah pekat dengan bau amis yang kuat. Dan, sepasang bola mata sedang berenang di dalam cairan itu. Sasuke memandangnya dengan tatapan jijik. Suigetsupun tak kalah jijik.
"Ini..." Mata Sasuke terbelalak, "darah siapa?"
"GYAAA!" teriakan itu langsung membuat mereka berdua dan pengunjung kantin yang tersisa menolehkan kepala mereka secara serentak ke satu arah. Ke luar kantin.
"Itu suara Hinata," kata Sasuke yang langsung bergegas menghampiri asal suara sambil tetap memegangi botol bau itu.
"Sasuke, tunggu!" teriak Suigetsu yang kemudian langsung mengejar pemuda Uchiha itu. Begitu juga beberapa orang yang asih ada di kantin.
Sasuke menemukan teman kecilnya itu sedang berdiri di bagian belakang seklah dengan mata yang terbuka lebar dan mulut yang menganga tak kalah lebarnya. Sampai-sampai ia tak menyadari lalat yang sedaritadi keluar-masuk ke mulutnya. Urat-urat di sekitar mata nya menonjol. Nafasnya terengah, dan tangannya menutupi hidungnya. Tubuhnya gemetaran.
"Ada apa?" tanya Sasuke berusaha sesantai mungkin. Tapi perasaannya sudah tak enak.
Hinata hanya menunjuk kardus di hadapannya yang tersandar di dinding belakang sekolah. Sasuke melangkah maju dan berjongkok di depan kardus itu. Berusaha keras untuk menahan bau busuk menyengat yang menguar dari kardus itu.
'GOOD BYE POOR BOY!' kata itu terukir secara menyerong di atas kardus yang tampaknya bekas membeli televisi 21 inci itu. Dan bisa dipastikan kalau tulisan itu terukir oleh darah, dilihat dari teksturnya.
Sasuke mengernyitkan dahinya. Kini dibelakangnya sudah berdiri Suigetsu, dan segerombolan murid yang berkerumunan mengelilingi mereka. Dengan perasaan tak karuan, ia membuka tutup kardus itu perlahan. Tangannya mulai gemetar.
Terlihatlah kepala Sai—yang hampir tak dikenali kalau saja rambut hitamnya dipangkas—dengan darah yang menyelimuti seluruh permukaannya. Matanya yang terpejam dijahit secara kasar oleh sang pelaku. Begitu juga mulut yang sudah robek dari ujung telinga kanan hingga telinga kirinya yang penuh darah dan terjahit secara kasar. Kepalanya jelas dipenggal sampai batas leher. Kedua pipi pucatnya dicongkel sampai tengkoraknya yang berwarna putih jelas terlihat. Bagian jidatnya terlihat seperti habis dibuka paksa, dan dijahit zigzag. Sepertinya otaknya sudah dikeluarkan. Kedua cuping telinganya terpotong dan hampir lepas. Dan salah jari kelingkingnya disusupkan ke dalam lubang telinga Sai. Kulit hidungnya lepas, hingga yang terlihat hanyalah tulang hidungnya yang berlimuran darah saja. Sungguh mengenaskan.
Emosi Sasuke jelas langsung meningkat. Secuek-cueknya Sasuke, dia juga pasti tidak tahan dengan pemandangan ini. Tentu saja ia berteriak murka melihatnya. Sangat terpukul atas perlakuan orang tak beradab ini. Apa salah dan dosa Sai pada orang itu? Mengapa orang itu begitu tega pada Sai?
Belum lagi, masih banyak bagian tubuh Sai lainnya yang tercabik-cabik. Kaki dan tangannya yang terpisah dari tubuhnya sudah terpotong-potong entah menjadi berapa bagian. Dan sepertinya itu menggunakan pisau daging. Semua jari tangan dan kakinya―kecuali jari kelingking yang disusupkan di dalam lubang telinga―dijahit secara sambung menyambung menjadi satu dan panjang. Tampaknya si pelaku ini seorang tukang jahit. Oh oke, ini hanya persepsi author.
Tubuhnya―dari bagian leher sampai bawah perut―sudah tak karuan. Kulitnya terbuka begitu saja, memperlihatkan tulang rusuknya yang tak utuh. Patah dimana-mana. Bagian dalam tubuh itu kosong. Jantungnya tak ada, paru-parunya tak ada, ginjal, hati, perut, usus, dan lainnya sudah tak ada. Hanya darah yang hampir mengering saja yang tertinggal bersama rusuknya yang remuk dan hancur.
Sedangkan Suigetsu, ia tak mau kalah heboh. Ia berteriak sambil menangis meraung-raung. Tak kalah terpukul dengan Sasuke. Dan tampak lebih seperti orang gila dibandingkan Sasuke.
"SAAIII! SIAPA YANG TEGAA MEMBUNUHMUUU? KATAKAN PADAKUUU SAAII! KENAPA KAU HARUS MENINGGALKANKU SECEPAT INI? AKU... AKU MENCINTAIMU SAAII!" teriak Suigetsu tak karuan.
Tiba-tiba Sasuke menghentikan teriakannya dan menoleh ke Suigetsu. "Sui, kau berlebihan. Yang pacarnya Sai itu aku. Seharusnya aku yang mengatakan itu. Kau merebut dialogku," kata Sasuke sinis.
Suigetsu langsung menghentikan tangisannya. "Aku berlebihan?" tanyanya sambil menunjuk diri sendiri dengan wajah innocent. "Baiklah, maaf."
Sasuke langsung melanjutkan tangisannya sambil membaca dialognya yang direbut Suigetsu tadi. Air matanya meledak tak tertahan. Ini bukan Sasuke yang biasanya.
Sementara itu anak-anak disekitar yang melihat langsung berhamburan sambil berlari dan berteriak "Ada Sai! Sai dimutilasi! Sai mati! Saingan kita untuk mendapatkan Suigetsu dan Sasuke berkurang! Sai menyeramkan! Tubuh Sai tak karuan!" dan teriakan-teriakan lainnya.
Sementara Hinata hanya bisa duduk dan menangis di belakang Sasuke. Ada sesuatu di dalam hatinya yang membuat perasaannya tak enak. Ia menangis dalam diam. Ia takut. Ada sesuatu...
Sasuke mencoba meraih botol itu dengan tangannya yang gemetaran hebat. Tidakkah sakit kalau kau melihat orang yang kau cintai, matimengenaskan dengan tubuh hancur lebur dan tak karuan seperti itu?
Tangan pucat Sasuke yang sekarang semakin pucat seperti orang yang kekurangan darah itu mengangkat botol itu memperhatikannya baik-baik dari segala sudut pandang. Dan ia menemukannya, sebuah tulisan di atas secarik kertas yang ditempel dengan perekat bening di bagian bawah botol itu. Tertulis dengan darah pula, 'OTAK.'
"Otak," bisik pemuda itu pelan. Ia langsung mengerti apa maksudnya.
"Kau bilang apa Sasuke?" tanya Suigetsu tiba-tiba di sela isakan pelannya.
"Ini otak." Sasuke meletakkan botol itu di tanah dan kembali mengintip di dalam kardus. Sesuatu yang memantulkan sinar matahari mengundang perhatiannya. Ada sebuah kotak kaca kecil dalam kardus itu. Sasuke meraihnya dan melihat isinya. Dua buah bola kecil yang seperti kelereng yang dilapisi kulit pucat Sai. Itu...
"Ini buah zakarnya Sai.." Suara Sasuke terdengar bergetar. "SIALAAAN!" teriak Sasuke frustasi.
"SIALAAAN! AKU BERSUMPAH AKAN MENANGKAP BAJINGAN ITU! BRENGSEEEK!" Suigetsu ikutan berteriak.
"JANGAN MENGAMBIL DIALOG ORANG SEENAKNYA, BODOH!" bentak Sasuke kejam yang membuat Suigetsu langsung diam dan duduk manis di samping Hinata yang masih menangis.
Mengingat kata-kata "poor boy" yang terukir gemulai di atas kardus itu, Sasuke langsung ingat seseorang. Seseorang yang selalu melecehkan Sai dengan kata-kata itu.
Dia...
Uchiha Itachi.
.
To Be Continued?
.
Woke woke, kami (?) kembali
Nah Mo, ini yang kau tadi ingatkan di Buku Muka hahahaha
Karena ini bagian Tsuu yang update, gomen atas keterlambatannya.
Saya juga lupa :D terimakasih Mo, saya diingatkan untuk mengupdatenya.
Err, gomen kalau ada miss typo. Ini murni tulisan Momo (ngga mau disalahkan) #ditendang Momo.
Aduh saya ngga tau mesti ngisi A/N ini dengan apa, pokoknya saya WB sialnya.
Yep, bagi yang tidak suka Lemon, ada chapter yang harus di skip.
Thanks to : Kika malas login (Sagara Ryuuki), kavinott, Mitsuhiko Zahra, Ninja-edit, and Natsumi Kohinata.
Hehe :D
Dan sekali lagi, kami minta review! Osh!
REVIEW YANG BANYAAAAAAKKKKKKK!
