A/N: Kelamaan banget ya? Aku masih bingung gimana cara nulis nih fanfic. Bukannya aku nggak tau cara menulis sih, malahan tulisanku banyak banget. Cuman gimana yah…. Ya gitu deh. Sudah dengan basa-basinya. Let's start the story!
Axis Power Hetalia © Himuraya Hidekazu
Do you think so? © ampotaku
Warning: OOC, OC's, human name, gaje, dll…
Chapter 2: Just my feeling?
Malaysia P.O.V
Hening.
Ruangan ini hening.
Untuk pertama kalinya, tempat ini hening.
Setelah mendengar saran yang diberikan oleh kakak yang paling ku benci (dibaca: sayang) itu, semua orang terbungkam diam dalam keheningan.
"Tumben kau pintar, kak." Kulihat Simha* yang memecah kesunyian dengan suara datarnya.
"Benarkah? Kurasa aku ini tidak pintar, cuman agak smart saja." Indonesia berkata dengan santainya. Oh, jangan lupa dengan seringaian jahilnya!
"Bukankah kedua hal itu sama saja?" Tanyaku malas.
"Oh iya-ya! Hehehe…." Jawab Indonesia polos sambil tertawa lepas.
Kuputar mataku dan kembali memandang kearah Germany. Dia yang sedari tadi diam melongo kearah Indonesia, tersadar dan segera menepuk pelan meja didepannya itu.
"Baiklah, semuanya! Saran yang disampaikan oleh Indonesia sudah cukup bagus. Akan tetapi, aku masih ingin mendengarkan saran-saran dari negara lain." Ketegasan dari suara Germany kini sampai ditelingaku.
Kurasa pertemuaan ini akan kembali seperti yang seharusnya. Karena kulihat America sudah menggangkat tangannya tinggi.
"Ya, America?"
"Bagaimana kalau kita menggunakan robot super besar untuk menyelamatkan dunia?" Sepertinya Ameica tidak lelah untuk menyampaikan saran bodohnya itu.
Dan begitulah, meeting ini secara official dimulai kembali seperti biasanya. Penuh teriakan, tamparan, dan tangisan. Sudah kuduga, begini lebih baik.
Tunggu dulu. Ini perasaanku saja atau apa? Sekilas aku tadi melihat Indon ingin menangis. Tidak, itu tidak mungkin. Indonesia mana mau menangis dihadapan orang banyak, apalagi tanpa sebab.
Mungkin itu hanya halusinasiku saja. Ya, hanya halusinasi saja.
Indonesia P.O.V
Tidak Malaysia. Kau sama sekali tidak berhalusinasi. Aku memang ingin menangis, apalagi karena aku tak akan pernah melihat tawa kalian lagi setelah ini. Aku pasti akan merindukan semuanya.
*Simha= Singapure human name
Oke, selesai juga dah nih chapter. Susah amat sih nulisnya, padahal cuman gini doing. Apalagi aku masih bingung mau ngegendering OC's ku ini semua apaan. Dasar aku ini!
Tapi kalau aku ngikutin voting, seharusnya Indo itu lelaki sih. Okalah kalau begitu akan kubuat Indonesia seorang lelaki yang jantan.
Oh ya, Guest-san, terima kasih karena sudah mereview ceritaku ini. Sungguh terima kasih. Sudah kuperbaiki kok semua kesalahannya. Jadi, oke!
Sampai jumpa lagi ya!
Mind to R&R?
