Naruto dan segala propertinya milik Masashi Kishimoto. Saya pinjam buat di fanfict ini, tanpa bermaksud mengambil keuntungan apapun.
Selamat membaca ... Siji, ya.
.
.
"Jalan di sampingku. Bagaimana aku menjagamu kalau kau di belakang, Jenong?"
Perempatan siku-siku muncul di kening Sakura. Bagaimana mau jalan bersampingan kalau langkah bodyguard barunya itu, Sasuke, lebar-lebar? Sudah sore, masih saja membuat orang kesal, batin Sakura menjerit. Kekesalan Sakura dihitung sejak tadi pagi, kala itu Sasuke terlambat datang menjemputnya, sudah begitu tidak bawa kendaraan, alhasil ia sampai terlambat di kelas.
Lalu saat jam istirahat Sakura, Sasuke tiba-tiba saja datang ke kelas hanya untuk mengingatkan agar tidak lupa makan―yang membuat teman sekelasnya heboh seketika. Ketika itu, Sakura ingin melemparnya dengan uwabaki dan berkata. "Kau bodyguard-ku bukan babysister-ku." Tapi hal tersebut tak dapat ia luapkan lantaran seisi kelas yang berisi perempuan semua itu memborongnya dengan pertanyaan.
Satu lagi. Ketika berangkat sampai istirahat, yang Sakura ingat Sasuke memakai pakaian formal a la bodyguard begitu. Tapi sepulang sekolah, pemuda tersebut sudah necis dengan kaos yang ditutupi jaket model terkini, kacamata dengan navy frame, jam tangan berkelas, cincin polos dan pemuda itu bergaya di samping gerbang sekolahnya. Sakura tahu sih maksud Sasuke di sana itu menjemputnya pulang, tapi justru dengan gaya keren seperti itu, matilah Sasuke dikerubungi para gadis, sudah tahu sekolah Sakura itu khusus keputrian, murid-muridnya ganas lantaran haus akan belaian pejantan. Jadilah Sakura yang harusnya dilindungi justru berperan melindungi Sasuke saat itu.
Sakura menatap punggung tegap Sasuke, ia tak kunjung berhasil menyamai langkah pemuda itu. Haah, padahal baru hari pertama Sasuke menjadi bodyguard Sakura, entah sebanyak apa kekesalan yang akan Sakura dapat ke depannya.
SREK SREK
Sakura menoleh ke belakang. Ia hafal bunyi semak-semak tersebut menandakan apa. Sudah hampir dua minggu Sakura mengalami hal tersebut; ia sedang berjalan pulang dan merasa diikuti seseorang. Sakura pikir stalker itu bersembunyi di semak-semak, jadi setiap Sakura mempercepat langkahnya, stalker tersebut terburu-buru mengikuti hingga menimbulkan bunyi gesekan pada semak-semak.
"Bo-Bokong Ayam, tunggu." Sakura langsung berlari untuk menepuk pundak Sasuke yang sudah beberapa meter di depan. Ia balikkan tubuh Sasuke dan memberi isyarat lewat matanya, namun kalau hal itu dilihat dari jauh, Sakura hanya terlihat sedang menatap intens Sasuke saja.
Sasuke memberi rencana dengan menggerakkan jari. Kemudian ia berjalan lebih cepat, Sakura melambai padanya untuk mengelabui. Lalu Sasuke menghilang dengan berbelok pada sebuah gang.
Kini Sakura kesulitan menelan salivanya. Ia mulai berjalan seperti biasa, menuju arah gang yang dilalui Sasuke. Kedua tangan Sakura sudah siap posisi meninju, hanya itu keahliannya untuk berjaga-jaga, ia berharap sang stalker tidak membawa senjata tajam.
Seperti rencana Sasuke, begitu Sakura berbelok ke gang tempatnya menunggu, stalker itu menampakkan diri, lekas Sasuke mengejarnya. Sebagai pelari tercepat saat di akademi militer, ia dapat menangkap kerah baju stalker tersebut. Begitu Sasuke membalik badan stalker itu, ia terkejut.
Sasuke manatap pemuda itu dari atas ke bawah. Stalker tersebut berambut kuning jabrik, berkacamata sejenis yang dikenakan Sasuke, memiliki garis-garis di pipi, memakai jam tangan dan cincin yang sama dengan Sasuke pula. Hal yang membuat Sasuke berdecih setelahnya sebab stalker itu menyengir lima jari.
"T-Teme," cicit si Stalker.
"Dobe." Ini dia orang yang mengaku paling akrab dengan Sasuke saat di akademi militer, Sasuke memanggilnya dobe, tapi nama aslinya adalah Naruto Uzumaki. "Kau naksir dia?" Sasuke menunjuk ke belakang dengan rahang, meski di belakangnya tidak ada Sakura, tapi yang dimaksud Sasuke tetaplah dia.
Naruto mengangguk. "Habis Sakura Haruno ternyata sangat cantik, Teme," tuturnya sambil menyengir lebar. Sesaat kemudian ia mendapati tatapan mematikan dari Sasuke yang membuat nyalinya ciut. Jadi sebelum hal mengerikan yang Naruto bayangkan akan dilakukan Sasuke terjadi, ia menjelaskan. "Tugas perdanaku di ANBU mengawasi Mebuki Haruno, tapi kupikir anaknya lebih menarik, jadi aku pilih anaknya. Makanya jadi stalker begini."
Sasuke bersedekap, tak menyangka juga kalau Naruto lolos sebagai ANBU pemula dengan tugas yang sama seperti dirinya. Tapi mendengar penerangan Naruto, Sasuke menyimpulkan kalau pemuda itu tidak menanyakan lebih lanjut maksud mengawasi Mebuki Haruno untuk apa, jadi asal memutuskan mengawasi anaknya saja. "Dengar."
Tidak sampai lima menit, Sasuke telah selesai memberi penjelasan ringkas pada Naruto berikut pekerjaan samaran yang sedang dijalaninya. "Kalau kita berdua mengawasi Sakura, tidak efektif. Kau awasi saja Mebuki Haruno dan serahkan Sakura padaku."
Dengan begini, Sasuke mendapat keringanan lagi untuk tugasnya. Ia tidak perlu bingung membagi waktu antara mengawasi Mebuki dengan menjadi bodyguard Sakura yang menuntutnya selalu stay di samping gadis itu.
"Okelah, Teme. Aku juga sudah lelah menjadi stalker gadis itu, tidak pasti kapan aku memiliki kesempatan berkenalan langsung dengannya." Itu keputusan Naruto. Pemuda itu tidak sadar saja kalau secara tidak langsung diperalat Sasuke.
"Lakukan tugasmu, Dobe. Aku akan kembali pada Sakura." Setelah itu mereka berpisah di persimpangan jalan. Naruto menuju butik Haruno tempat Mebuki bekerja dan Sasuke mengarah ke gang tempat Sakura menunggunya. Tapi sebelumnya, mereka sepakat untuk membagi informasi sekecil apapun yang berkaitan dengan tugas perdana mereka.
.
.
Pekerjaan bodyguard benar-benar mudah bagi Sasuke, terlebih tak ada lagi stalker yang harus dibasmi. Sehari-hari, tugas Sasuke hanya mengantar Sakura ke sekolah, mengingatkan makan, menunggu pulang, menjemputnya dan menuruti kemanapun mau gadis itu.
Kadang Sakura mengajak Sasuke menonton teater, pergi melihat pameran atau sekadar makan di kafe. Gadis itu begitu berambisi melampaui kemampuan sang Ibu, buktinya saja ketika menonton teater, ia sibuk membuat desain perbaikan kostum yang seharusnya dikenakan pemain dalam bentuk sketsa. Pameran yang mereka kunjungi pun membahas sketsa-sketsa pakaian di zaman kuno dari berbagai negara, Sakura tak ketinggalan mencatat setiap info pentingnya.
Bahkan ketika di kafe, sambil mengopi, gadis itu menggambar pakaian pelayan kafe yang lebih imut dibanding yang dikenakan pelayan pada kafe yang mereka kunjungi. Sasuke cukup salut akan kegigihan Sakura, padahal ketika mereka kecil, Sakura tak pernah tertarik pada hal apapun, meskipun saat itu kebanyakan teman gadis Sakura memuja ketampanan Sasuke.
"Sudah berapa lama kau di SMA?" Pada suatu hari, Sasuke menanyakan itu pada Sakura, tepat di perjalanan mereka menuju sekolah keputrian.
"Hampir tiga tahunlah. Ada apa?" Sakura mengendikkan bahu cuek. Ia sedang malas dengan Sasuke, bodyguard-nya itu membangunkan Sakura dengan ekstrim tadi pagi agar tidak kesiangan berangkat ke sekolah, padahal Sakura baru tidur dua jam lantaran bergadang. Dasar tidak pengertian, keluh batin Sakura yang ditujukan pada Sasuke.
"Ada berapa banyak anak tangga di sekolahmu?"
Segera saja Sakura menatap konyol pada Sasuke. "Mana kutahu, buat apa aku hitung."
"Menyedihkan. Hampir tiga tahun dan tidak mengenali sekolah sendiri, untuk apa waktumu selama ini?" Sasuke mengatakannya dengan nada datar, bahkan sepasang obsidiannya lurus menatap ke depan.
"Itu hal yang sia-sia, Bokong Ayam. Hanya orang konyol yang menghitung anak tangga di sekolahnya." Sakura mengibas-ibaskan satu telapak tangannya, seolah menertawakan daya pikir Sasuke. Ck, yang seperti ini disebut lulusan akademi militer, batin Sakura meremehkan.
"Jika kau tahu jumlah setiap anak tangga itu, saat mati lampu dan kau sendirian, kau dapat memperkirakan jumlah anak tangga yang harus kaulalui meski tanpa bantuan cahaya." Sasuke berhenti melangkah, begitu pun Sakura, pemuda itu menatap manik mata Sakura. "Hal kecil saja kau remehkan, bagaimana kau dapat mengalahkan kehebatan desain mamamu, Jenong."
Kedua bola mata Sakura membesar, tampak tertegun. Ia diam-diam kagum akan daya pikir Sasuke. Setelah sekian lama mengenal pemuda itu, Sakura baru sadar kalau ternyata Sasuke itu cerdas. Habis yang ada di pikiran Sakura selama ini hanyalah tingkah menyebalkan Sasuke, tidak lebih.
Tapi setelah Sakura pikir lagi, contoh yang diberikan Sasuke tadi seolah mengatakan agar ia dapat menjaga diri dan hati-hati. Menyadari itu, senyuman Sakura terbit. "Sasuke."
Sasuke menoleh. Ini pertama kalinya Sakura memanggil nama kecil Sasuke, bukan nama keluarga maupun nama ejekan. Sasuke menaikkan sebelah alisnya, tanda menyuruh Sakura melanjutkan omongan.
"Arigatou ne, Sasuke ... -kun."
Sasuke berkedip sekali. Dua kali. Kemudian ia melihat Sakura lari. Sepintas terlihat wajah gadis itu merona sekali.
Diam-diam Sasuke tersenyum tipis. "Sakura," lirihnya. Ini pun pertama kalinya bagi Sasuke memanggil nama kecil gadis itu. Mengingat hal tersebut sontak membuat wajah Sasuke dihiasi garis-garis kemerahan.
Kemudian pernah di suatu ketika, Sakura berpapasan dengan saingannya di sekolah. Karena saat itu saingannya bersama seorang lelaki, Sakura lantas mengapit lengan Sasuke dan menghadapi saingannya. Kala itu Sakura mengaku sedang kencan dengan Sasuke, ia mengenalkan Sasuke sebagai pacar.
"Buktikan kalau dia pacarmu, Forehead," kata saingan Sakura, Sakura sempat menyebut gadis itu dengan Ino-pig.
Pegangan Sakura pada lengan Sasuke mengerat. Mampus, dengan apa harus membuktikannya? Sakura yang panik mengerakkan telapak tangannya yang bebas merayap naik lalu membelai bahu Sasuke mesra. "Sasuke-kun."
Cara Sakura memanggil terdengar bak desahan tertahan di telinga Sasuke, pemuda itu sampai tak dapat melepaskan tatapannya dari wajah Sakura. Ia terhayut dalam bening emerald gadis tersebut. "Sakura."
Dengan degub jantung menggila dan wajah bersemu seluruhnya, Sakura mempersempit jarak wajahnya dengan Sasuke. Ia memejamkan mata, ia benar-benar malu pada Sasuke. Tapi di sisi lain, ada inner-nya yang menginginkan hal tersebut terjadi. Lantas Sakura mengecup pipi Sasuke. Tiga detik berlalu, barulah Sakura membuka mata dan langsung berhadapan dengan sepasang mata onyx Sasuke.
Sasuke dan Sakura masih akan terlena pada pesona pancaran mata masing-masing, kalau saja Ino-pig tidak bertepuk tangan. Tersadar jika sedang di tempat umum, Sakura menyudahi kegiatan mengecupnya dan menjauhkan wajah, sementara Sasuke memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha menutupi garis merah jambu di wajah.
"Oke aku percaya. Well, paling hubungan kalian tidak akan lama," sinis Ino-pig. Gadis cantik itu mengibaskan rambut pirangnya.
Sakura benar-benar tidak fokus dengan apa yang dikatakan Ino-pig, jantungnya masih berdebar-debar, layaknya orang dimabuk cinta. Kepala Sasuke seolah berputar-putar mengelilingi wajah Sakura. Jadi, Sakura menggigit bibir bawahnya, menekan rasa cemasnya.
Melirik Sakura yang diam saja dengan ekspresi yang sulit diartikan, dengan inisiatif Sasuke menautkan tangannya pada jari-jari Sakura. "Urusanmu biarlah urusanmu. Urusan kami bukanlah urusanmu."
Mendengar apa yang dikatakan Sasuke membuat Ino-pig geram. Dengan kesal tanpa dapat membalas kata, gadis itu berbalik dan melenggang pergi begitu saja.
"H-Hei, kenapa kau membelaku? Bukankah tanpa persetujuanmu tadi, aku sudah seenaknya menjadikanmu pacar pura-puraku?" tanya Sakura menuntut, ia pikir Sasuke akan marah dengan tindakannya, bukan malah berdiri membelanya.
Sasuke mengendikkan bahu tak acuh. "Lakukan sesukamu."
Sakura yang mendengar itu mengartikan kalau Sasuke tidak keberatan menjadi pacar pura-puranya. Yang benar saja, sudah menjadi bodyguard, sekarang pacar pura-pura pula. Sakura tidak habis pikir mau seberapa banyak Sasuke mendominasi lakon hidupnya. Tapi lagi-lagi, ada inner Sakura yang menjerit senang mengetahui hal tersebut.
Sejak itu, Sasuke menjadi sering memerhatikan bibir Sakura. Bagaimana bibir itu tersenyum, mencebik, dan betapa kenyalnya bibir itu saat mengecup pipi Sasuke. Karena itu Sasuke sering uring-uringan dalam diam, merasa seperti orang kasmaran, tapi dia tak ingin merasa demikian.
Kadang kala Sakura akan menjebaknya seharian di butik Haruno. Seperti saat ini. Jadi Sasuke dapat mengawasi bibir Sakura lebih leluasa. Ah, tidak-tidak. Jadi ia beruntung dapat mengawasi Mebuki di sana. Tidak ia lewatkan sekecil apapun kegiatan Mebuki saat itu.
Ketika Mebuki mengangkat telepon, ia menjauh dari Sasuke dan Sakura. Sasuke lekas beralasan ingin ke toilet pada Sakura dan menguping percakapan Mebuki. Sebagai persiapan, ia mengedipkan kata kananya dua kali, lalu kacamata yang Sasuke kenakan mulai merekam. Tidak hanya merekam gambar, kacamata itu dapat merekam suara dengan jelas.
"Aku kehabisan bahan kulit."
"Bagaimana lagi, kualitas kulit ini paling cantik, aku butuh lebih banyak."
"Bisakah secepatnya kau kirim?"
"Ya, jangan sampai ketahuan siapapun."
Sasuke hanya mampu mendengar kata-kata itu saja yang dikeluarkan Mebuki, ia tidak tahu dengan siapa Mebuki berbicara, tapi suara yang didengar dan turut direkamnya ini bisa dijadikan bukti untuk tugas perdananya di ANBU
Lekas Sasuke kembali ke tempat Sakura, menjadi bodyguard gadis itu lagi. Begitu Mebuki datang menghampiri mereka, sebagai kedok : Sasuke memusatkan pandangannya pada rambut Sakura yang bergerak-gerak lucu. Tapi memang benar-benar lucu sih, warnanya pink pula.
"Pulanglah, Nak Sasuke," kata Mebuki ketika melewati Sasuke untuk menuju meja kerjanya. "Sakura aman di sini," tambahnya sambil tersenyum.
Tak mau membuat curiga, Sasuke mengangguk dan menyentil jidat lebar Sakura sebagai pengganti pamit. Gadis itu tak sempat membalas karena Sasuke melangkah lebar-lebar untuk segera keluar dari butik tersebut.
Dalam perjalanan pulang, Sasuke masih berkutat dengan spekulasinya. Ia berusaha membuat hipotesis. Jika perkiraannya benar, maka sebentar lagi Mebuki akan memulai operasi menggunakan kulit mayat manusia lagi. Seharusnya Sasuke berada di sana dan mengambil bukti.
"Tadaima."
"Okaerinasai, Sasuke-kun." Mikoto menyahut begitu Sasuke berjalan melewati tempat bekerjanya. Ia memerhatikan anak bungsunya yang terlihat lesu. Mikoto pikir mungkin Sasuke sedang ada masalah dengan pekerjaan. Buktinya pemuda itu pulang lebih awal. "Ah, tunggu sebentar, Sasuke-kun."
Sasuke yang sudah memegang ganggang telepon di dekat telinga, berniat memanggil anak tetangga untuk bermain play station dengannya, lekas menaruh ganggang telepon itu kembali demi memerhatikan Mikoto-ibunya. "Ada apa, Okaasan?"
"Tunggu di sana. Aku akan segera kembali."
Dengan itu, Mikoto bergerak cepat ke arah dapur, sementara Sasuke memutuskan duduk di sofa terdekat. Dalam keheningan, Sasuke memandangi hasil pekerjaan sang Ibu. Ada beberapa lipatan pakaian yang terbuat dari bahan kulit. Sasuke dapat menilai kualitas setiap bahannya dari tempatnya duduk sekarang. Semakin matanya menelusuri ke bawah tumpukan pakaian itu, Sasuke melihat satu pakaian dengan bahan kulit yang mengkilap cantik. Ia lekas menegakkan badan, hendak memastikan objek yang dilihatnya.
"Ini dia. Antar ke butik Haruno ya, Sasuke-kun." Tiba-tiba saja Mikoto muncul di hadapan Sasuke, mengatakan itu dan menghentikan aksi Sasuke.
"Haruskah sekarang, Okaasan?"
Mikoto mengangguk kelewat antusias. "Sekarang dan cepat, Sasuke-kun."
Hal yang membuat Sasuke menerima mengerjakan perintah Mikoto saat itu tak lebih dari iming-iming benaknya yang mengatakan dapat mengawasi Mebuki lagi tanpa dicurigai maksud kehadirannya di sana.
Saat sampai di butik Haruno, Mebuki telah menunggunya di depan pintu masuk. Wanita itu lekas mengambil bungkusan plastik yang dibawa Sasuke, amanat dari sang Ibu. Kemudian Mebuki menghilang dari pandangan Sasuke, setelah menyuruh pemuda tersebut menemani Sakura menjaga butik Haruno sejenak.
"Memang apa yang akan dilakukan Mebuki-basan?" tanya Sasuke pada Sakura, di saat mereka sedang berdua saja.
Sambil membalik halaman majalah yang sedang ia baca, Sakura berkata. "Tadi Mama mendapat pesanan baju berbahan kulit. Mungkin Mama akan mengerjakannya sekarang." Ia kembali fokus membaca, biasanya kalau sudah membaca, Sakura tidak memerhatikan apapun di sekitarnya.
Sasuke memalingkan wajahnya. Ia berdehem, memastikan Sakura tidak akan mendengar. "NU. Target sedang beroperasi. Lakukan tugasmu." Sasuke menghubungi Naruto Uzumaki dengan pin yang terpasang di balik kerah kemejanya. Dengan pin itu, Sasuke dapat terhubung dengan anggota ANBU di mana pun selama mengucapkan inisial nama mereka.
"Roger. Dilaksanakan," balas Naruto di suatu tempat.
"Ne, Bokong Ayam. Aku bosan." Sakura menaruh majalah yang dengan serius ia baca tadi di atas meja. "Bisakah kita jalan-jalan sebentar? Lagipula menurut insting calon pemilik butik milikku, tidak akan ada pelanggan selama satu jam ke depan. Yah anggap saja kita akan kencan perdana sebagai pacar pura-pura." Di akhir kata, wajah Sakura merona.
"Tidak bisakah kita tidur saja?" Sasuke menatap ke luar kaca butik Haruno, panasnya sinar matahari di luar membuat ia malas ke mana-mana, baginya tidur siang terdengar lebih menggiurkan. Lalu ia menatap Sakura, wajah gadis itu sudah seperti tomat. Merah berkilau dan cantik.
"M-Maksudmu, kau (menunjuk Sasuke) dan aku (menunjuk diri sendiri), tidur saja, berdua?" Ketara sekali kalau Sakura terkejut dengan perkataan Sasuke sebelumnya. Ia yang biasanya bertingkah seenaknya justru dibuat malu-malu karena itu.
Menyadari kalau Sakura salah paham membuat Sasuke menyentil jidat gadis tersebut, tentu saja Sakura memekik tidak terima. "Lupakan. Ayo kencan," ungkap Sasuke datar. Dengan sedikit semburat merah di pipi, Sasuke beranjak menuju pintu keluar butik Haruno, sedangkan Sakura berlari kecil untuk menyamai langkah mereka.
Semula mereka tidak tahu ingin berjalan-jalan ke mana. Kemudian tanpa sengaja Sakura melihat kedai es krim, ia menarik Sasuke memasuki kedai tersebut. Lalu ia menyuruh Sasuke mencari tempat duduk, sementara Sakura memesan es krim untuk mereka. Posisi mereka saat itu tidak jauh, hanya dibatasi se-set kursi pelanggan saja.
"Hei, Bokong Ayam. Kau mau es krim rasa apa?" Sakura bertanya dengan nada sedikit keras, Sasuke sudah pasti menoleh, tapi beberapa pelanggan di dekat mereka pun turut memperhatikan dan terkikik, mungkin lantaran nama panggilan kesayangan a la Sakura.
"Rasa kopi, Jenong." Tak kalah keras Sasuke menyahut, lagi-lagi menjadi perhatian pelanggan kedai es krim di sana.
"Huh, tipikal bodyguard sekali sih seleranya," gumam Sakura pelan. Ia segera memesan. Kemudian berpangku tangan pada meja counter dengan posisi badan berdiri. Dalam penantian Sakura terhadap es krim, pelayan yang sempat mendengar gumaman Sakura di sana bertanya apakah benar Sasuke bodyguard gadis itu. "Tidak, dia pacarku." Sakura menggeleng tegas. Lantas pelayan wanita yang bertanya tadi hanya ber-oh saja.
Kemudian Sakura menepuk dadanya pelan. Ia baru tersadar kalau telah berbohong. Tapi tidak sepenuhnya berbohong sih, selain bodyguard kan Sasuke memang pacar ... pura-puranya. Hal tersebut sebenarnya hanya berlaku saat berhadapan dengan Ino-pig saja, namun entah mengapa Sakura repot-repot menegaskan kalau Sasuke berstatus pacarnya pada pelayan wanita tadi. Mungkinkah?
Ya, mungkinkah yang Sakura khawatirkan terjadi? Kemungkinan kalau ia menginginkan posisi sebagai pacar bodyguard-nya. Kemungkinan kalau ia telah jatuh cinta pada pemuda itu. Kemungkinan kalau tadi ia sedang cemburu. Wajah Sakura tiba-tiba memanas, ia menggeleng untuk mengembalikan kesadarannya. Tak lama, es krim yang ia pesan telah berpindah ke tangannya.
"Berhenti memanggilku Bokong Ayam." Adalah kata yang Sasuke ucapkan ketika Sakura menyodorkan es krim pada pemuda tersebut dan duduk di hadapannya.
"Dan berhenti memanggilku Jenong." Tanpa perlu penjelasan, Sakura mengerti alasan yang mendasari keinginan Sasuke tadi. Jelas saja, karena ia pun merasakan betapa memalukannya mendapat sebutan jenong di kala usianya hampir melewati fase remaja. "Lalu kupanggil apa? Sasuke, begitu?"
Sasuke mengangguk. "Dengan sufiks –kun."
Sakura mendengus, memanggil Sasuke dengan nama kecilnya saja sudah membuatnya malu dan berdebar, apalagi ditambah sufiks –kun? Tapi karena Sasuke mengancam tidak akan menghentikan panggilan jenong sebelum Sakura menyetujui penambahan sufiks tersebut, akhirnya Sakura setuju.
Selama memakan es krim di kedai itu. Beberapa kali Sakura mengungkit pengalaman masa kecil yang mereka lalui bersama. Bagaimana Sasuke yang pernah ngompol saat pertama kali menginap di rumah Sakura, lalu Sakura yang hanya mandi dua kali sehari ketika libur sekolah semasa mereka SMP dan betapa menyebalkannya masa SMP mereka karena terpilih menjadi king and queen of the year di sana.
"Padahal saat itu aku kelas satu dan kau kelas tiga. Kau terlalu tua untuk menjadi king-ku, bukan?" Sakura masih membahas kenapa mereka yang terpilih sebagai king and queen of the year di sekolah dulu.
"Pria yang lebih tua, lebih jantan." Dan Sakura mendecih kala mendengar sanggahan Sasuke. "Baiklah, Sakura, mari pulang."
Sakura melihat jam tangan rolexnya. Karena sudah hampir dua jam lamanya mereka meninggalkan butik Haruno, jadi ia menyetujui ajakan Sasuke. Untuk sampai di butik Haruno sendiri tidak jauh, hanya perlu berjalan melewati dua persimpangan jalan selama sepuluh menit. Dan sampai.
"Tunggu. Itu Mamaku, kan, Sasuke-kun?" Sakura menunjuk seorang wanita yang mirip perawakan mamanya. Wanita itu berdiri di pintu masuk butik Haruno, dua orang polisi berdiri di kanan dan kirinya. Yang lebih membuat Sakura lebih terkejut, salah seorang polisi itu memborgol tangan wanita tersebut.
Mengikuti arah pandangan Sakura, Sasuke dapat memastikan kalau wanita yang berjarak tiga meter dari mereka memang Mebuki Haruno. Ia segera menganalisis keadaan sekitar. Dua detik kemudian, Sasuke melihat Naruto berbicara dengan seorang polisi tak jauh dari mobil dinas yang akan membawa Mebuki itu.
Dengan satu hipotesis di kepala. Sasuke tetap memasang wajah tenangnya pada Sakura. Kemudian ia genggam tangan kanan Sakura dan mengajaknya berjalan mendekat ke butik Haruno. Genggaman tangan Sasuke seolah menyalurkan rasa hangat yang menenangkan bagi Sakura, menghilangkan gelisah juga membuka pikiran untuk berpikir positif. Di saat menegangkan bagi Sakura itu, ia bersyukur ada Sasuke di sisinya.
"Mama, ada apa sebenarnya?" Suara Sakura bergetar. Ia tak sanggup melihat tangan Mebuki-ibunya, yang biasa digunakan membuat pakaian indah itu diborgol.
Mebuki tak berniat menyahuti ucapan Sakura. Ia justru tersenyum keibuan, senyum yang biasanya menentramkan hati Sakura saat melihatnya, tapi kini justru menimbulkan kekhawatiran yang sangat kentara.
"Nak Sasuke, jaga Sakura," pesan Mebuki sebelum digiring para polisi menuju mobil dinas mereka.
"Aku janji akan menjaganya." Sasuke benar-benar serius saat mengatakan itu.
Ketika Mebuki melewati tempat Sasuke dan Sakura berdiri, Sakura berteriak dan hendak mengejar wanita itu, namun di tahan Sasuke. Secara serentak air mata Sakura bercucuran. Wanita yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang, mengajarinya banyak hal, menjadi motivasi hidupnya dan sosok yang ingin Sakura kalahkan dalam bidang desain itu tak mungkin bersalah. Ia pikir polisi-polisi itu hanya gadungan. Atau polisi-polisi itu telah menjadi bodoh karena salah tangkap.
Tak membiarkan Sakura mendekati Mebuki, Sasuke merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Kemeja Sasuke langsung terasa basah, tapi Sasuke tidak mempedulikannya. Tangisan Sakura saat itu benar-benar melodi termenyakitkan yang pernah Sasuke dengar.
Sasuke mempererat dekapannya pada Sakura kala melihat isyarat tangan Mebuki yang diborgol di belakang tubuh wanita tersebut. Ia yakin isyarat itu ditujukan padanya. Ia kini merenung, Mebuki Haruno ... sebenarnya apa yang wanita itu sembunyikan?
Begitu mobil polisi menghilang dari pelataran butik Haruno, Sasuke mengajak Sakura masuk ke dalam butik. Ia menyuruh Sakura duduk nyaman di sebuah sofa kemudian menyediakan secangkir teh lemon hangat untuk gadis itu. Setelahnya, Sasuke pamit ke toilet.
Tapi sebenarnya Sasuke tidak ke toilet, ia hanya berdiri di jarak aman untuk menghubungi seseorang. "GR. Apakah NU telah menemukan bukti jika MH pelaku tunggal kasus itu?" GR merupakan inisial dari Gaara Rei, kepala pembimbing kesatuan intelijen ANBU pemula, atasan Sasuke. Benar, pemuda itu menghubungi Gaara menggunakan pin kecil peralatan pemula miliknya.
"Ya. Tapi ini terlalu sempurna. Semua bukti mengarah pada MH. Aku curiga kalau ada ikan yang lebih besar di baliknya."
"Aku akan menemui MH besok, kurasa dia menyembunyikan sesuatu." Sasuke memutuskan sambungan. Ia mengedipkan mata kanannya dua kali sehingga membuat kacamata yang sedang ia kenakan dalam mode merekam. Instingnya mengatakan kalau sedang ada badai besar mendekat.
BUAGH
Tersentak dengan suara tinjuan khas Sakura. Sasuke bergerak cepat menuju tempat gadis itu beristirahat. Di sana ia menemukan Sakura sedang memasang kuda-kuda. Ada seseorang berpakaian serba hitam dengan topi, masker, kacamata dan sarung tangan terjatuh. Bisa saja karena tinjuan Sakura.
Sasuke tidak dapat mengenali sosok itu, namun begitu sosok tersebut mengeluarkan pisau. Sasuke segera menendang tangan sosok itu dan membuat pisaunya terlempar jauh. Dengan lihai Sasuke mengambil rempah roti pada saku celananya dan meraih leher terbuka sosok tersebut kemudian memutarnya, tapi sosok itu lekas menendang Sasuke.
Sasuke bangkit dengan meninju perut sosok tersebut, tubuhnya sampai terpental saking kuatnya tinjuan Sasuke. Tak sampai sedetik Sasuke sudah melancarkan pukulan pada pundak sosok itu dan membuatnya terduduk karena kesakitan. Belum sempat Sasuke menyerang lagi, sosok tersebut menendang selangkangan Sasuke kemudian lari dengan cepat.
"Sasuke-kun!" pekik Sakura yang berdiri semeter di belakang tubuh Sasuke.
Sasuke tak menghiraukan pekikan Sakura maupun sakit pada organ penting masa depannya. Ia lekas berlari mengejar, namun sosok itu menaiki mobil dan hilang dalam sekejap mata. Satu yang menjadi pertanyaan Sasuke : apa tujuan sosok tersebut mengincar Sakura?
Seketika Sasuke teringat Sakura. Ia lalu kembali ke dalam butik dan langsung diterjang Sakura. Gadis itu mendekapnya. "Sakura, kau baik-baik saja?" Sasuke dapat merasakan kepala Sakura mengangguk. Hal itu setidaknya membuat Sasuke lega, namun ia tetap dalam kondisi siaga.
Sakura melepas pelukannya pada tubuh Sasuke. Wajahnya sedikit merona, ditambah banyak gurat kecemasan di sana. "Aku lebih mengkhawatirkanmu, Sasuke-kun. Jika kau terluka, bagaimana kau menepati janjimu pada mamaku untuk menjagaku?" Kemudian Sakura teringat akan serangan terakhir penjahat tadi. "Sasuke-kun, apa yang terakhir tadi tidak sakit?"
Sasuke terdiam sejenak. Kemudian menyadari rasa ngilu yang merambat ke seluruh tubuhnya. Ia menunduk, melihat letak kunci pahanya. "Shit, aset masa depanku."
"Sasuke-kun no baka!" Sakura mengeplak kepala Sasuke. Wajahnya merah padam saat menyadari apa yang dimaksud Sasuke.
Setelah kejadian itu Sasuke mengajak Sakura tinggal sementara di rumahnya. Akan lebih mudah bagi Sasuke untuk menjaga Sakura di sana. Lagipula Sakura akan aman bersama Mikoto-ibunya, ketika Sasuke tinggal pergi keluar. Ada beberapa hal yang harus diurus Sasuke.
Pertama, Sasuke-lah yang mencari pengacara untuk Mebuki, biarpun seharusnya ini tugas Sakura. Kedua, melapor pada Gaara untuk mencari posisi sebenarnya penjahat yang menyerang Sakura, karena tiba-tiba saja jam tangan Sasuke hanya menunjukkan posisi rumahnya, padahal seingat Sasuke ia menanamkan rempah roti pelacak pada leher penjahat tersebut. Jadi mana mungkin penjahat itu berada di dalam rumahnya.
"Mebuki-basan, bicaralah." Dan inilah tugas ketiga Sasuke, yaitu menemui Mebuki Haruno di penjara. "Kau menyuruhku datang padamu, apa ada yang mengancammu agar tidak berbicara apapun?"
Sasuke dapat melihat sekilas Mebuki menampilkan raut terkejut. Baiklah, ia mengerti sekarang. Saat Sasuke hendak membujuk Mebuki, ponselnya bergetar. Sasuke mengambilnya dan mengeryit ketika melihat nama Gaara di sana, padahal biasanya atasan Sasuke itu menghubunginya lewat pin kecil saja.
"Sasuke, aku sudah memeriksa rekaman yang kau kirim. Dengar, kita telah ditipu. Penjahat yang menyerang Sakura kemarin adalah pelaku yang sebenarnya."
Mengabaikan raut wajah Mebuki yang tampak ingin tahu dengan siapa Sasuke berbicara, pemuda itu bersuara. "Siapa dia?"
"Mikoto Uchiha, ibumu. Dia yang memberi bahan kulit mayat manusia pada Mebuki dan juga penjahat kemarin, bukankah pelacak yang kaupasang pada penjahat itu terus menunjukkan posisi di rumahmu, Sasuke?"
Tenggorokkan Sasuke tercekat. Ia sampai sulit menelan salivanya sendiri demi mendapati ibunya yang lemah lembut itu menjadi pelaku sebenarnya. Ia memutuskan sambungan panggilan dan menatap dalam-dalam mata Mebuki. "Mebuki-basan, apakah benar Okaasan-ku pelakunya?"
.
.
Bersambung.
.
.
Balasan review :
FiaaATiasrizqi : Hai, Fia. Apakah chapter ini cukup menjawab harapan kamu kemarin? Terima kasih loh atas tanggapannya. Terus jadi fan SasuSaku ya, ehehe XD
Hyemi761 : Ini sudah dilanjut. Aduh, terima kasih atas pujiannya. Btw, jangan panggil senpai, Tsumugi aja biar akrab, ehehe XD
Rhein98 : Jangan dibayangin dong Rhein, imajinasiin aja /apabedanya /dihajar. Ooh ya, pesenan kamu telah dilaksanakan, oke, tapi maaf kalau sok tahu, huhu. Terima kasih buat koreksinya ya, Rhein XD
rimbursa : Waah, senang kalau kamu suka. Iya, Sakura masih SMA, masih unyus-unyus gitu /dorr. Terima kasih atas tanggapannya XD
Akhir kata terima kasih telah membaca sampai di sini, yaaa. Silakan kritik dan concritnya~~~
