"Luhan! Sudah ditunggu!"
"Iya!"
Perempuan yang baru saja menyahut itu memasukkan tumpukan buku dimeja dengan cepat ke dalam tasnya. Kemudian sambil menutup resleting tasnya, ia berlari kecil keluar dari kamar dan menutup pintu. Perempuan bernama Luhan itu menuruni tangga, dan tersenyum ketika wanita bermata sipit menyambutnya dengan senyuman di bawah sana.
Luhan memberi wanita itu kecupan singkat di pipi kanannya sebelum pergi. "Bibi, aku berangkat, ya."
"Ya, hati-hati." sahut si wanita dengan suara kencang. Luhan sudah menghilang dibalik pintu ketika ia mengatakan hal tersebut.
Senyum yang sebenarnya sudah tercetak jelas dibibir, kini semakin melebar. Luhan membinarkan matanya dengan cerah ketika melihat di depan sana ada seorang laki-laki yang menunggunya. Laki-laki itu tersenyum ketika melihat Luhan menghampirinya. Apalagi saat Luhan menyebut namanya seraya menepuk akrab lengannya, ia tidak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya sendiri.
"Sudah menunggu lama?" tanya Luhan. Si laki-laki menggeleng masih dengan senyumannya.
"Tidak. Aku baru datang dan bibi Kim segera tahu tanda-tanda kehadiranku." jawab si laki-laki kemudian.
Luhan terkikik kecil. Sebelah tangannya terselip disela lengan si laki-laki dengan cepat. Luhan memeluk lengan laki-laki ini. Masih dengan senyumannya, Luhan berkata, "Jadi kita berangkat sekarang?"
Senyuman si laki-laki semakin lebar. "Tentu."
A Letter For Little Fairy
Author : gerinee
Genre : School life, romance, fantasy, hurt, maybe I wanna put crack pair in it (again). Sorry~
Cast : Luhan, Sehun, Jongin, Flo or Flory (OC), and others.
It's mine! Copy? You are plagiat! :) Sorry for any similar story. Karena aku juga terinspirasi dari beberapa cerita yang pernah aku baca.
...
01. Luhan
Saat jam istirahat seperti ini, lapangan basket benar-benar ramai. Banyak siswi yang berada di pinggir lapangan basket outdoor disana. Matahari menyengat begitu panas saat itu, namun suara mereka seolah mengalahkan apapun. Mereka tidak perduli pada panasnya cuaca, tidak perduli pada suara mereka yang mungkin akan habis karena terlalu banyak berteriak, juga tidak perduli pada keringat mereka sendiri—Eww...
Karena yang mereka perdulikan hanya satu. Yaitu seorang laki-laki yang sedang me-drible bola di tengah lapangan itu. Laki-laki yang kini mengoperkan bola pada kawan satu tim mainnya, yang kini berlari mendekati ring basket dan berusaha bebas dari penjagaan lawan.
"Disini!"
Seketika semua kepala menoleh ke sumber suara. Entah itu yang berada di dalam lapangan atau yang berada di luar lapangan. Mata mereka sama sekali tidak lepas dari seseorang yang berlari kecil memasuki lapangan. Permainan pun berhenti. Mata-mata mereka menatap seorang perempuan berkucir kuda itu dengan aneh.
"Kenapa berhenti?" tanya perempuan itu bingung. "Apa seorang kapten basket putri tidak boleh ikut bermain dengan kalian?"
Mereka yang berada di dalam lapangan mengerjap. Sebelum pada akhirnya salah satu diantara mereka mengambil bola basket yang dekat dengannya untuk dioperkan pada perempuan itu.
Si perempuan tersenyum lebar ketika bola basket itu berada di tangannya. Ia me-drible bola, memandang waspada lawan mainnya, dan mulai bergerak di celah-celah yang berada di depannya. Begitu gesit, sampai lawan mainnya cukup kesulitan menghadangnya.
Sorak-sorai mereka yang tadi didominasi oleh siswi saja, kini berganti dengan sorak-sorai siswa yang menyoraki si kapten basket putri. Beberapa siswi bahkan ada yang berbisik malas dan pergi begitu saja dari sana. Mereka tidak suka pemain basket kesayangan mereka bermain bersama perempuan tadi. Namun masih banyak juga siswi yang bertahan disana.
Tidak berapa lama, si perempuan berhasil mencetak three point. Membuat siswa-siswa yang baru saja bergabung bersorak-sorai lebih ramai. Si perempuan tersenyum senang. Ia menerima highfive dari seorang laki-laki yang tadinya menjadi pusat perhatian di lapangan.
"Seorang kapten basket putri memang selalu keren." kata si laki-laki bangga. Si perempuan tertawa kecil menanggapinya.
"Terima kasih, omong-omong. Aku hanya ingin bergabung saja sebenarnya." si perempuan menggidikkan bahu sekilas. "Namun ternyata aku mengacaukan suasana." katanya. Ia melirik sekitar dengan senyuman tertahan.
Laki-laki itu tertawa. Ia menepuk-nepuk pundak si perempuan dengan akrab.
"Luhan!"
Perempuan itu, Luhan, menoleh ke belakang. Ia tersenyum pada laki-laki yang baru saja memanggil namanya itu. Sedangkan si laki-laki pertama, ketika melihat laki-laki yang memanggil nama Luhan barusan, langsung menghentikan tawa. Kedua laki-laki itu melunturkan senyum ketika menyadari kehadiran masing-masing.
Luhan yang menyadari ada atmosfir aneh diantara kedua laki-laki ini, akhirnya membuka suara. "Kalian ini kenapa, sih?"
Si laki-laki kedua melirik Luhan. "Ayo cepat ke kantin. Jam istirahat hampir habis dan kau belum makan sampai sekarang."
Luhan meringis, menggaruk lehernya yang sebenarnya tidak gatal. "Eung, maaf." katanya pada si laki-laki pertama. "Aku harus ke kantin."
Si laki-laki pertama mengangguk. Membiarkan Luhan ditarik pergelangan tangannya oleh laki-laki lain yang baru saja datang untuk menjauh darinya. Matanya tidak pernah lepas dari kedua orang itu. Bahkan sampai kedua orang itu menghilang dari jarak pandangnya sekalipun.
"Hei, Jongin!" yang lain menginterupsi. "Jangan melamun. Ayo main lagi!"
Laki-laki bernama Jongin itu menoleh pada teman-temannya yang bermain basket sendiri. Ia berjalan mundur, masih memandang tempat terakhir kali Luhan dan laki-laki itu menghilang. Baru setelah itu ia berbalik dan berlari kecil untuk kembali bergabung bermain basket.
.
.
.
"Sudah aku bilang. Kalau main basket, habis pulang sekolah saja."
Luhan cemberut. Ia memasukkan sesendok makanan kedalam mulutnya dengan jengkel. Matanya sempat melirik laki-laki yang berada dihadapannya ini dengan sebal pula sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dimenit-menit terakhir jam istirahat, kantin malah terlihat lebih luas. Banyak yang sudah makan dan kembali ke kelas, dan hanya ada beberapa saja yang masih menetap di kantin untuk keperluan masing-masing.
"Aku kan ingin main basket." sahut Luhan masih dengan rengutannya. "Main sama anak-anak basket itu menyenangkan. Kalau pulang sekolah, mereka pasti sudah pulang. Lalu akhirnya aku main sendiri. Malah tidak menyenangkan."
Laki-laki itu tersenyum masam. Tangannya terulur untuk mengusak poni Luhan dengan pelan. "Jangan banyak mengomel. Cepat habiskan."
Luhan menekuk bibirnya lagi. Meskipun begitu, ia tetap menghabiskan makanannya.
"Oiya—"
"Telan dulu, baru bicara."
Luhan memandang laki-laki berkulit putih susu ini dengan sebal. Laki-laki yang sedang memainkan ponsel itu memang selalu menyebalkan. Ia sering berkata seenaknya, mengatur ini dan itu dengan mudah. Namun meskipun menyebalkan, Luhan merasa laki-laki ini memang benar adanya. Apa yang dilakukannya adalah hal yang terbaik untuk Luhan. Jadi Luhan hanya iya-iya saja.
"Nanti sore ke rumah, ya? Ajari aku fisika."
"Hadiahnya?"
Luhan menepuk lengan si laki-laki hingga ia mengaduh kecil. Si laki-laki menatapnya jengkel sedangkan Luhan makin mengerucutkan bibirnya.
"Kalau tidak bisa, bilang saja tidak bisa. Jangan minta hadiah terus." Luhan meletakkan sendok makanannya di piring dan bangkit begitu saja. Si laki-laki mengekorinya dan terus mendengarkan omelan Luhan dari belakang. "...kau ingin aku bangkrut? Kemarin sudah minta ini dan itu. Kau berniat mengerjaiku, ya? Astaga..." Luhan mengerang kecil seraya berbalik pada si laki-laki. Lengannya bersedekap. "Kalau tidak mau, aku bisa meminta Jongin mengajariku fisika. Dia tidak pernah—"
Si laki-laki memutar kedua bola mata malas. "Iya, iya. Tanpa hadiah."
Luhan mengembangkan senyum senang. Kalau sudah nama Jongin disangkut-pautkan, laki-laki ini pasti mengiyakan kemauannya. Senang sekali!
"Ayo cepat ke kelas. Sebentar lagi—" bel berbunyi. "—tuh, sudah berbunyi."
Luhan tertawa kecil. Ia kembali berjalan setelah menarik pergelangan tangan si laki-laki untuk berdampingan dengannya. Disekelilingnya, banyak siswa yang berlarian menuju kelas mereka masing-masing. Dan hanya ada beberapa yang berjalan santai, salah satunya adalah Luhan dan laki-laki ini.
Sebenarnya.. Namanya siapa, sih?
"Luhan,"
Luhan mendongak. "Ya?"
"Mungkin nanti aku tidak bisa ke rumahmu." katanya.
Luhan menghentikan langkah, begitu juga dengan si laki-laki. Senyumnya luntur, kepalanya tertunduk. "Oiya. Aku lupa kalau kau harus menemani ibumu di rumah sakit."
Si laki-laki mengangguk kecil. "Maaf, ya?"
Dan Luhan membalasnya dengan anggukan. Sambil tersenyum, ia berkata, "Ya sudah. Kapan-kapan saja tak apa."
"Oh. Gurunya!"
Luhan mengerjap cepat. Tiba-tiba saja laki-laki ini menarik pergelangan tangannya dan mengajaknya untuk berlari bersama. Sempat juga Luhan melihat beberapa guru mulai berjalan menuju kelas yang akan mereka isi.
Begitu sampai di depan kelas, Luhan mengintip ke dalam. Belum ada guru yang masuk, teman-teman sekelasnya juga ramai. Ketika kembali menghadap laki-laki ini yang juga memeriksa kelasnya sendiri, Luhan menghembuskan napas lega. Ia tersenyum sembari menepuk lengan si laki-laki dengan pelan.
"Aku ke kelas dulu, ya?"
Laki-laki itu menatap Luhan sejenak, melirik kelasnya Luhan, lalu mengangguk. Ada senyum samar yang tersemat ketika Luhan berbalik dan meninggalkannya untuk masuk ke dalam kelas. Kemudian, laki-laki tersebut kembali melangkah. Menjauhi kelas Luhan, menuju kelasnya yang tidak jauh juga dari kelas Luhan.
"Wah, Luhan."
Luhan yang merasa namanya disebut jadi berbalik. Seorang perempuan yang duduk disebelah bangkunyalah yang menjadi pemilik suara barusan. Luhan mengerjap, dan mendesis. Baru saja Luhan menangkap seringai jahil dari si perempuan teman sebangkunya itu.
"Apa?" tanya Luhan seraya duduk di bangkunya. "Kenapa kau memasang ekspresi seperti itu?"
"Diantar sama pacar baru, nih?" tanyanya balik, masih dengan senyuman yang sama. Namun tanpa disangka-sangka, Luhan tergelak. Menepuk-nepuk lengan teman sebangkunya hingga yang menjadi korban menatap Luhan aneh. "Kau ini kenapa, sih?"
"Astaga, Kyungsoo." Luhan menghentikan tawanya dengan perlahan. "Sehun itu bukan pacarku." katanya lalu tertawa kecil. "Berhentilah menyebutnya pacarku. Kami hanya teman."
"Iya, teman." Kyungsoo berkata dengan sebelah tangan yang menyangga dagunya, menatap Luhan seolah ia berkata teman atau teman? secara menggoda. "Teman yang terkadang bisa membuatmu jadi orang sinting."
Luhan mengerutkan kening. "Orang sinting?" beonya, bertanya maksud dari kata itu pada Kyungsoo. Namun Kyungsoo hanya menggidikkan bahu acuh. Tubuh perempuan itu menegak dan merapikan mejanya yang penuh akan buku karena sang guru baru saja masuk ke dalam kelas.
"Psst, Kyungsoo," bisik Luhan. Kyungsoo meliriknya sedikit sebal. "Apa maksudmu tadi?"
"Nanti kau juga tahu sendiri, Luhan." balas Kyungsoo berbisik.
.
.
.
Bel pulang baru saja berbunyi. Dan beberapa detik setelah itu, banyak siswa yang keluar dari kelas. Mereka keluar dan melewati kelas-kelas yang masih memiliki jam tambahan. Seolah meledek siswa-siswi yang berada didalamnya.
Seperti kelas Luhan. Hari ini kelasnya mendapat jam tambahan beberapa menit. Dan itu benar-benar menyebalkan.
Dikelas, setelah sang guru baru saja memberikan soal untuk dikerjakan, Luhan menguap bosan. Tiba-tiba saja Luhan merasa malas untuk mengerjakannya. Luhan meletakkan pulpennya di atas buku, dan menutup bukunya begitu saja. Lalu Luhan memandang pintu kelas yang terbuka. Banyak siswa yang berlalu-lalang di depan kelasnya, mengejek. Luhan cemberut melihatnya. Namun bibirnya mengulas senyum cerah ketika melihat seorang laki-laki berlari melewati kelasnya, dan muncul lagi tidak berapa lama tepat di depan kelasnya. Laki-laki itu Sehun.
Pasti tadi Sehun berlari dan mencoba untuk menghentikan larinya sampai melewati kelas Luhan.
Luhan menahan senyuman gelinya. Melihat Sehun yang kini sedang melambaikan tangan padanya, dan mengatakan, "Aku menunggumu digerbang sekolah." tanpa suara. Luhan hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia kembali pada pelajaran tambahan ketika Sehun berjalan menjauhi kelas.
Beberapa belas menit kemudian, sang guru menutup pelajaran. Siswa-siswi yang tadinya gemas karena ingin segera pulang akhirnya menghembuskan napas lega. Begitu sang guru keluar kelas, mereka ikut keluar seperti lebah yang keluar dari sarang. Dan Luhan berada diantaranya.
"Luhan, aku ingin tahu sesuatu."
Luhan menoleh dan mengerjap pada Kyungsoo yang berjalan disebelahnya. "Ingin tahu apa?"
Kyungsoo tidak menjawab selain menarik Luhan agar berjalan lebih cepat. Mereka berpisah dengan teman yang lain ketika sampai di tempat loker. Hanya ada mereka berdua disini. Dan Luhan mulai mengerti kenapa Kyungsoo membawanya kemari.
"Aku ingin tahu bagaimana isi suratmu hari ini." kata Kyungsoo dengan senyuman cerahnya.
Luhan terkekeh. Ia mendekati loker miliknya dan membukanya. Terdapat sepucuk kertas berwarna biru laut yang terselip diantara buku-bukunya. Surat itu masih baru, terlihat dari stiker yang berbeda di sisi yang terlihat dari kertas itu. Luhan menarik kertas itu, dan membuka lipatannya. Sedangkan Kyungsoo mendekatkan diri pada Luhan untuk ikut membaca surat itu.
Jangan terlalu banyak main basket. Nanti kau lelah, lalu sakit. Aku tidak mau kau sakit. Tapi omong-omong, tembakan three point-mu tadi keren sekali! Aku suka, hehe.
Peterpan
"Kau tadi main basket?" tanya Kyungsoo setelah membaca tulisan tersebut. Luhan mengangguk seraya melipat kertas tadi dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Kenapa?" tanya Luhan balik.
"Aku tidak melihatmu tadi."
Luhan memutar kedua bola matanya malas. "Iya, kau tidak melihatku. Soalnya yang kau lihat itu hanya Jongin saja."
Kyungsoo mendelik jengkel. Wajahnya bersemu merah namun tidak membalas apa-apa.
Kemudian keduanya beranjak dari tempat itu untuk segera pulang. Tadi Luhan bilang kalau Sehun sudah menunggunya di gerbang sekolah. Luhan tidak ingin membuat Sehun menunggunya terlalu lama.
.
.
.
"Ya ampun!" keluh Luhan pelan, jengah. Ia membalik-balik lembar di bukunya dengan sebal, menggaruk pipinya yang tak gatal, dan kembali mengeluh. "Fisikaku..."
Luhan menekuk bibirnya ke bawah. Kepalanya tertempel pada lengan yang berada di atas tempat tidur. Sekarang sudah lewat dari jamnya tidur, dan Luhan merasa benar-benar mengantuk. Namun tugas fisikanya belum selesai. Masih banyak yang harus dikerjakan.
Tapi... Ah, masa bodoh. Besok ia bisa meminjam catatan Kyungsoo dan menyalinnya dengan mudah.
Luhan memejamkan mata yang terasa berat kemudian. Ia menguap, lalu mengeluh kecil. Kepalanya pusing. Untuk mendengar suara detik jam yang sedari tadi bernyanyi dikamarnya saja bisa membuat Luhan semakin mengantuk.
Namun kemudian, suara ketukan suatu benda dari jendelanya membuat Luhan mengernyit kecil sebelum membuka mata kembali. Kepalanya makin pusing ketika ia mendudukkan diri di tempat tidur. Setelah itu Luhan melirik jam dinding yang masih asyik menyanyikan lagu tidur untuknya. Pukul sebelas lebih beberapa menit. Siapa orang yang berani mengetuk-etuk jendelanya semalam ini, sih?
Jangan-jangan...
"Psst.. Luhan," Luhan membulatkan matanya horor. Pikirannya mulai bercabang kemana-mana. "Ini aku, Sehun."
Ah, ternyata Sehun.
Segera Luhan turun dari tempat tidur dan menghampiri jendelanya. Ia membuka jendela tersebut dan langsung menunduk ketika tiba-tiba saja sebuah kerikil melayang ke arahnya. Begitu Luhan menatap Sehun dibawah sana dengan tatapan jengkel, Sehun meringis. Baru saja ia hampir membuat kepala Luhan terluka karena lemparan kerikilnya.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" tanya Luhan, tidak berani berteriak karena takut bibinya akan bangun.
"Fisikamu." Sehun menunjuk-nunjuk Luhan, dengan suara yang sama pula. "Sudah selesai?"
Luhan mengerjap, lalu menoleh pada buku paket tebal dan buku tulisnya yang masih terbuka diatas tempat tidur. Luhan menguap, lalu menggeleng. Ia tersenyum lebar ketika melihat Sehun berdecak seraya menggeleng menatapnya.
"Ayo kita selesaikan. Sebelum jam dua belas malam."
Luhan mengangguk semangat. Cepat-cepat ia berlari kecil untuk mengambil selimutnya. Kemudian selimut itu ia ikat pada balkon kecil yang muat dua orang, dan sisanya ia jatuhkan ke bawah. Luhan membuat tali dari selimut agar Sehun bisa memanjat menuju kamarnya dilantai dua dengan mudah.
"Jadi kurang berapa?" tanya Sehun setelah berada didalam kamar Luhan.
Luhan naik ke tempat tidurnya, menggaruk tengkuk, lalu menjawab, "Banyak. Aku hanya menjawab beberapa soal dari yang sudah ditugaskan."
Sehun berdecak, mengusak pucuk kepala Luhan dengan gemas seraya ikut naik ke tempat tidur. "Kau ini, sampai kapan kau bisa paham pelajaran fisika?"
Luhan cemberut. Dan hal itu membuat Sehun terkekeh kecil. "Ayo cepat kerjakan. Aku benar-benar mengantuk."
Sehun menggeleng-geleng pelan, heran dengan Luhan. Luhan itu perempuan yang pintar. Kalau sudah menyangkut pelajaran, semua materi bisa masuk dengan mudah ke dalam otaknya. Kecuali pelajaran fisika. Mungkin otak cantik milik Luhan memang khusus dibuat otak anti-fisika hingga ia sama sekali tidak bisa mengerti dengan materi dipelajaran satu itu.
Sehun mulai memberi penjelasan pada soal yang tidak dimengerti Luhan. Sedangkan perempuan yang sering menguap itu akan mengangguk-angguk mengerti kalau Sehun bertanya, "Paham?" padanya. Kalau Luhan mulai menutup mata dengan kepala yang lama-kelamaan jatuh ke bawah, Sehun akan membangunkannya dengan mengetuk kepala Luhan menggunakan pensil. Kalau sudah begitu Luhan pasti terbangun dengan wajah cemberut.
"Kurang satu soal. Sabar." kata Sehun pada Luhan yang sering menguap.
Luhan mengangguk pelan. Kepalanya ia tempelkan pada lengan dengan mata yang masih tertuju pada Sehun. Laki-laki itu sedang membaca soal untuk dipahami.
"Sehun," Luhan menginterupsi dengan suara pelan.
"Hm?"
"Tadi kau habis dari rumah sakit, ya?" tanya Luhan. Masih dengan memandangi Sehun yang fokus membaca soal terakhir. Laki-laki itu mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Luhan. "Lalu kenapa kau nekat datang kesini malam-malam?"
"Aku kasihan padamu." jawab Sehun balas menatap Luhan. "Kau payah kalau sudah berurusan dengan fisika."
Luhan cemberut, sudah jadi kebiasaan untuk bereaksi demikian kalau Sehun berkata seperti itu untuknya. "Bagaimana dengan keadaan ibumu?"
"Baik. Seperti terakhir kali kau menjenguknya." jawab Sehun seadanya. Ia merebut pulpen yang ada ditangan Luhan dan mengerjakan soalnya sendiri.
"Kapan ibumu pulang dari rumah sakit?" tanyanya. Lalu melirik pekerjaan Sehun di buku tulisnya. "Aku rindu sup buatan ibumu."
"Belum tahu. Mungkin bulan-bulan ini dibolehkan pulang." jawab Sehun seadanya.
Luhan mengangguk-angguk mengerti. Kemudian menguap lagi. Sehun yang melihat Luhan yang benar-benar tidak bisa menahan rasa kantuknya jadi tersenyum kecil. Luhan terkadang perempuan yang keras kepala. Padahal tadi Sehun sudah bilang biar Luhan tidur saja dan ia yang mengerjakan tugasnya. Namun Luhan tetap keukeuh ingin menemani Sehun sampai laki-laki itu selesai mengerjakannya.
Setelah menggaris bawahi jawaban yang berada dibuku dan menyilang huruf pilihan pada soalnya, Sehun meletakkan pulpen diatas buku tulis Luhan. Sehun mengintip Luhan yang mati-matian menahan kantuk. Perempuan itu sedang berusaha untuk mendudukkan diri dengan mata setengah terpejam. Sehun tersenyum geli, mencubit pipi Luhan agar perempuan itu bangun.
"Aku pulang, ya?"
"Eh," Luhan membuka mata seraya menahan tangan Sehun. "Sebentar. Belum jam dua belas."
"Besok kau bangun kesiangan."
"Biar saja." Luhan menjulurkan lidah hingga membuat Sehun terkekeh. "Sebentar, aku ingin kau melihat sesuatu."
Sehun menaikkan kedua alisnya samar. Matanya memandang Luhan yang turun dari tempat tidur untuk mengambil tas sekolahnya di kursi belajar. Sebelah alisnya makin terangkat tinggi ketika Luhan membuat seluruh isi tasnya tumpah di tempat tidur. Perempuan itu terlihat sedang mencari-cari sesuatu. Dan ketika mendapatkan barang yang ia cari, matanya yang mengantuk jadi terlihat berbinar. Kening Sehun berkerut makin dalam.
"Apa itu?"
"Aku sering cerita padamu soal surat misterius, bukan?" kata Luhan, lalu menguap sekali. "Ini surat yang aku maksud." sambungnya. Tangannya yang menyodorkan lipatan kertas biru laut itu digerak-gerakkan meminta Sehun agar cepat menerimanya.
Sehun meraih kertas itu, lalu membuka lipatannya. Kerutan di keningnya menghilang, tergantikan oleh senyum geli dibibir yang membuat Luhan kebingungan.
"Kenapa?"
"Aku tidak menyangka kau punya secret admirer." kata Sehun jenaka. Ia kembali menyerahkan kertas itu pada Luhan dan menahan gelak tawanya sendiri. "Aduh ya ampun, seorang Xi Luhan punya secret admirer? Mimpi apa aku kemarin malam?"
Luhan cemberut. Sehun mengejeknya lagi. "Ah, sudahlah. Pulang saja sana." usirnya ketus, jengkel.
Sehun menghentikan tawa. Ia menatap Luhan yang mengantuk sambil cemberut dengan lucu. Kemudian Sehun mengacak rambut Luhan, membuat Luhan menjerit tertahan memanggil namanya. Sehun bangkit dan berjalan mendekati jendela. Ia melompat keluar, lalu turun menggunakan selimut Luhan. Sedangkan Luhan, perempuan itu mengikuti kemana Sehun akan pergi dengan matanya dan mengawasinya dari dalam kamar.
"Hei, selamat malam Rusa jelek! Cepat tidur dan mimpi indah!"
Luhan yang melihat Sehun yang sedang melambaikan tangan padanya hanya bisa membalas dengan senyum kecil. Ia mengambil kembali selimutnya, lalu menutup jendela. Tidak perduli pada Sehun yang masih berada disana, pada Sehun yang memandangi jendela kamarnya.
.
.
.
"Luhan! Cepat bangun! Lihat jam dindingmu, Putri Tidur!"
Luhan mengernyit, merengek ketika bibinya mengguncang bahunya. "Bibi, sebentar saja ya ampun."
"Sebentar, sebentar. Sehun sudah menunggumu diluar, tahu."
Lantas Luhan membuka mata dengan cepat. Tubuhnya seperti tersengat listrik hingga ia bisa terduduk dan turun dari tempat tidur. Bibinya yang tadi repot membangunkan Luhan, jadi mengerjap bingung. Apalagi ketika melihat Luhan berlari menuju kamar mandi dengan tergesa-gesa sampai tersandung buku-bukunya sendiri yang berada dilantai.
Oh, ternyata nama laki-laki itu mengandung sihir tersendiri untuk Luhan.
"Bibi, tolong beritahu Sehun kalau aku segera turun!"
Wanita itu menahan senyum geli seraya mengangkat bahu sekali. Meskipun baru saja ia menjawab "Iya," atas permintaan Luhan, ia berkata dalam hati, padahal Sehun belum datang.
Ah. Tapi tumben Sehun belum datang jam segini. Biasanya Sehun selalu datang kurang dari pukul setengah tujuh pagi. Dan sekarang Sehun belum datang ketika jam dinding di kamar Luhan menunjukkan waktu pukul setengah tujuh tepat.
Mungkin Sehun kesiangan.
Tidak berapa lama, Luhan turun dengan seragam lengkapnya. Rambutnya yang hitam lurus ia ikat kuda seperti biasa. Lalu tas punggung itu hanya ia gantung disalah satu bahunya. Disalah satu tangannya yang bebas, Luhan menenteng sepatu sekolahnya dengan perpaduan warna hitam dan putih—warna kesukaan Luhan—. Dan Kim Jung Ah, bibi Luhan, yang melihatnya hanya bisa maklum.
Sudah jadi kebiasaan bagi Luhan untuk berperilaku demikian. Luhan punya kebiasaan seperti anak laki-laki. Mungkin karena hobby-nya yang suka main basket.
"Bi, Sehun mana?" tanya Luhan seraya mendekati meja makan sebelum menggigit roti berselainya. Matanya melirik ruang tamu dan halaman rumah kemudian. "Sehun bel—Bibi bohong, ya?"
Wanita berumur setengah abad itu tertawa melihat Luhan yang cemberut padanya. Giginya masih mengunyah roti yang berada didalam mulut, namun Luhan masih tetap berceloteh panjang lebar.
Luhan itu perempuan yang banyak bicara. Apapun yang ia katakan, pasti akan mengundang gelak tawa dari orang yang mendengarnya.
"...Bibi itu menyebalkan. Aku masih mengantuk, tahu. Tadi malam aku cuma tidur lima jam. Itu juga aku mengira-ngira. Lalu bibi membangunkanku, dan bilang kalau—Sehun!"
Sehun yang baru saja datang dan hendak memanggil nama Luhan dari halaman depan, mengerjap bingung. Luhan tiba-tiba berlari ke arahnya setelah memberi kecupan singkat dipipi bibinya. Binar dimata Luhan terlihat menyenangkan sekali untuk dipandang pagi itu. Luhan memasang senyum manis setelah memakai sepatu dan sudah berada didepannya. Benar-benar cantik.
"Ayo berangkat sekarang." katanya pada Sehun. Lalu menoleh pada bibinya yang menggeleng-gelengkan kepala karenanya. "Bi, aku berangkat, ya!"
"Ya. Hati-hati."
.
.
.
"Nanti jangan tidur dikelas, ya?"
Luhan cemberut, menahan tawa sejenak, lalu mengangguk. Ia memasang senyum hingga kedua matanya membentuk bulan sabit yang melengkung kebawah pada Sehun yang juga tersenyum padanya. Laki-laki itu mengusak poni Luhan dengan gemas dan kembali berjalan menuju kelas mereka yang hanya dipisahkan oleh satu kelas saja.
Diperjalanan, Luhan selalu banyak mengoceh. Perempuan itu selalu bercerita tentang ini dan itu, sedangkan Sehun akan mendengarkan. Terkadang, Sehun menanggapi cerita Luhan dengan kalimat-kalimat yang bisa membuat Luhan cemberut atau tersenyum senang. Luhan itu berisik, dan Sehun suka. Entah karena apa, sebenarnya Sehun tidak tahu. Padahal Sehun lumayan risih dengan yang namanya berisik.
Jujur saja, Sehun cukup sebal karena kalau Luhan sudah mulai asyik dengan ceritanya, terkadang Luhan tidak bisa dihentikan. Perempuan itu baru bisa dihentikan dengan tawaran tentang hal-hal yang Luhan sukai. Namun kalau Luhan sudah terlanjur diam, Sehun malah uring-uringan sendiri. Ia tidak bisa mendengarkan ocehan Luhan yang sebenarnya tidak penting. Ocehan Luhan itu penghibur bagi Sehun soalnya.
Selama Luhan mengoceh, selama itu pula banyak pasang mata yang memandangi Sehun dan Luhan yang berjalan bersama-sama. Si kapten basket putri sedang berjalan bersama si dancer sekolah. Sama-sama populer, sama-sama punya penggemar yang banyak, dan sama-sama menyenangkan untuk dipandang.
Yang satunya cantik. Yang satunya lagi tampan.
Cocok.
"Oiya, tadi malam kau dimarahi kakakmu karena pulang telat, tidak?" tanya Luhan tiba-tiba, mengganti topik pembicaraan mereka.
Sehun yang tadi memandang lurus ke depan, jadi menoleh pada Luhan. Ia terdiam sejenak, lalu menjawab, "Tidak. Kakakku lembur di rumah sakit."
"Oh..." Luhan mengangguk-angguk mengerti. Ia mengubah langkahnya menjadi loncatan-loncatan kecil seraya mempercepat langkah agar berada didepan Sehun. "Aku ke kelas dulu, ya? Ada yang harus aku kerjakan bersama Kyungsoo sebelum bel masuk."
Sehun memandangi Luhan yang meloncat-loncat di depannya dengan senyuman. "Ya." jawabnya singkat. Setelah itu ia tertawa geli ketika Luhan berseru senang dan berlari kecil meninggalkannya.
"Dah, Sehun! Sampai bertemu nanti!"
.
.
.
"Hai, Sehun!"
"Iya, Sehun!"
"Sehun!"
"Oh Sehun-ku!"
Luhan membekap mulutnya yang ingin meledakkan tawa. Begitu ia dan Sehun melewati lapangan basket indoor, para cheerleader yang sedang berlatih dihari itu, dengan genit menyapa Sehun. Dan Sehun yang memang suka tidak perduli dengan keadaan sekitar, hanya melirik sekilas.
Kelas sudah usai sepuluh menit yang lalu. Dan hanya ada beberapa ekstrakulikuler saja yang masih bertahan untuk kumpul dihari Rabu ini. Sebenarnya basket tidak memiliki jadwal latihan hari ini. Luhan seharusnya bisa pulang dan tidur-tiduran di rumah. Namun karena ia berangkat dan pulang sekolah bersama Sehun, jadi ia harus menunggu. Dihari Rabu ini Sehun punya jadwal latihan dance di sekolah.
Dan kini mereka sedang dalam perjalanan menuju ruang dance.
"Hei, kenapa tidak dibalas?" tanya Luhan pada Sehun setelah baru saja mereka melewati lapangan basket indoor.
Sehun hanya meliriknya, lalu memutar kedua bola mata malas. "Kalau ditanggapi, mereka pasti semakin genit padaku."
Luhan tertawa. Tidak memperdulikan Sehun yang meliriknya jengkel.
"Hai, Luhan!"
"Oh, hai Chanyeol!"
Laki-laki yang menampilkan senyuman lebar ketika Luhan datang itu, bangkit dan berjalan menghampiri si kapten basket putri. Dan laki-laki itu, Chanyeol, tetap memasang senyuman yang sama ketika berada didepan Luhan. Tidak memperdulikan Sehun yang berjalan memisahkan diri dari keduanya.
"Menunggu Sehun lagi, ya?"
Luhan mengangguk. "Ya." jawabnya singkat. Ia tersenyum ketika melihat seorang perempuan sedang cemberut di balik tubuh tinggi Chanyeol. "Kau bersama Baekhyun juga?"
Chanyeol menoleh ke belakang. Ia meringis ketika mendapat tatapan tajam dari seorang perempuan yang sedang memegang sebuah ponsel disebelah tangannya.
"Hehe, iya maaf."
Luhan terkikik. Ia menepuk lengan laki-laki jangkung itu beberapa kali sebelum menghampiri perempuan lain bernama Baekhyun tadi.
"Hai, Baekhyun." sapa Luhan ramah. Dan yang disapa hanya membalasnya dengan senyuman. Luhan cemberut. "Jangan marah, tadi itu Chanyeol hanya menyapaku saja." ujarnya.
Baekhyun melirik Luhan, berdecak, lalu berkata, "Ah, jangan cemberut. Kau tahu? Daya tarikmu sebenarnya adalah ekspresi kesalmu. Jadi jangan pasang wajah seperti itu. Nanti Chanyeol malah berpaling dariku."
Luhan tersenyum sebelum pada akhirnya tertawa. Dan tawanya membuat Baekhyun ikut tertawa juga.
Baekhyun adalah perempuan manis kekasih Chanyeol, teman satu ekstra-nya Sehun. Dan sudah jadi kebiasaan pula untuk Luhan dan Baekhyun menunggu dihari Rabu setelah pulang sekolah. Mereka akan menunggu teman pulang mereka sampai kegiatan dihari Rabu itu selesai.
Sambil menunggu, kadang kala Luhan dan Baekhyun bercanda diantara obrolan mereka, membicarakan para siswa tampan yang bisa membuat konsentrasi Chanyeol pecah, atau kadang lagi membuat rencana jadwal hangout yang pasti bakal berubah menjadi wacana.
Tidak sampai tiga jam, latihan pun selesai. Baekhyun dan Luhan yang mulai sibuk dengan ponsel, kini mengalihkan perhatian. Yang pertama bangkit adalah Baekhyun, karena Chanyeol terlebih dahulu menghampirinya dan mengajak pulang. Sedangkan Luhan, ia hanya mengangguk dan tersenyum ketika pasangan itu berpamitan padanya. Ia harus menunggu Sehun sampai laki-laki itu selesai dengan urusannya.
"Bosan menunggu, ya?"
Luhan mendongak, lalu melipat bibirnya lucu. "Kau lama." balasnya singkat pada Sehun. Ia bangkit tanpa perduli dengan tangan Sehun yang sudah terulur didepannya. "Ayo cepat pulang. Aku ada banyak tugas untuk besok."
Sehun berdecak pelan melihat punggung perempuan mungil itu yang menjauhinya. Ia mengambil langkah lebar untuk menyusul Luhan kemudian.
"Hei, Luhan." tegur Sehun. Luhan meliriknya enggan menjawab. Sehun mendengus. Ia mempercepat langkah agar berada di depan Luhan, berbalik, dan berjalan mundur. Lengannya bersedekap ketika ia berkata, "Kau marah karena bosan menunggu, ya?"
"Biasanya hanya satu setengah jam. Tapi tadi itu lebih dari biasanya." Luhan menghentak-hentakkan kakinya dengan gemas. "Aku kehilangan waktu berhargaku untuk tidur, tahu!"
Sehun tertawa, membuat Luhan yang mendengarnya jadi cemberut.
"Jangan tertawa!"
"Jangan cemberut." Sehun memasukkan kedua tangannya pada saku celana seragamnya. "Kau malah terlihat seperti itik buruk rupa."
Luhan makin cemberut. Hentakan pada kakinya berubah menjadi hentakan kesal. "Sehun!"
Ah, Sehun lupa kalau Luhan benci disebut seperti itu. Ia hanya tertawa ketika Luhan memanggil namanya dengan jengkel. Dan bersiap-siap untuk lari ketika Luhan mengatakan, "Awas kau, ya!" padanya. Setelah itu Sehun benar-benar berlari menghindari Luhan yang mengejarnya. Menghindari Luhan yang nantinya bakal mencubiti dan menggelitikinya kalau ia tertangkap.
Suara langkah cepat mereka menggema di koridor yang sepi. Menciptakan suasana tersendiri di sekolah pada sore hari menjelang malam. Membuat burung-burung Parkit yang bermain-main di atap gedung sekolah kala itu berterbangan ke langit senja karena suara berisik Sehun dan Luhan. Ah, indahnya langit senja...
.
.
.
.
To be continue...
Tolong bantu aku ngilangin logat WP dichapter pertama ini. :3 Kebanyakan baca cerita dari sana soalnya, terpengaruh deh -_-
Ohooo... Kepo ya siapa pengirimnya? :v Kepo jugaya siapa itu Flory?
Aku berasa gimana gitu karena udah bikin kalian kepo di chapter pertama :v wkwk
Aku minta review kalian, ya~
Makasi... {}
