Chapter 2: Yamete kudasai

Disclaimer:Kurobas punya Fujimaki Tadatoshi tapi ceritanya punya saya

Pair: AOKAGA

Rated: T+

OOC, GARING, ABAL, TYPO YANG TIDAK BERPERIKEANUSIAAN.

Don't like Don't read~(*w *~) (~*w*)~


"HOAAAAAHMMM..."

Seorang pria jejadian genderuwo *di meteor jam Kagami* maksud saya seorang pria tinggi, macho, berkulit tan eksotis, baik, pandai, dan pastinya rajin menabung, berjalan ke SMA Fukusen sambil menguap dengan tidak berperikemanusiaan.

"Ohaiyou Aomine-kun."

"HUWAAAH...tetsu sejak kapan kau disitu, berhentilah mengagetkanku."

"Sumimasen aomine-kun tapi aku sudah berada disini sejak tadi."

"haah...terserahlah, kau berangkat sendiri?"

"Un." Kuroko mengangguk.

"Etto...bukannya kau biasanya berangkat bareng si baka itu, b-bukan berarti aku perduli juga sih."

Kuroko sweatdrop.

"Kami biasanya hanya bertemu di jalan, tapi entah kenapa tadi aku tidak bertemu dengan Kagami-kun."

"hmm begitu."

Tumben sekali si baka ini terlambat, seingatnya Kagami itu tidak pernah terlambat, toh jarak dari rumahnya kesekolah tidak terlalu jauh. Ah sudahlah. Aomine segera masuk kedalam kelasnya. Biasanya Aomine akan langsung tidur begitu nemplok di bangkunya tapi kali ini beda pemirsah, seorang AOMINE DAIKI yang notabene adalah makhluk paling aho di SMA Fukusen belajar pemirsah. SEKALI LAGI, AOMINE DAIKI BELAJAR PEMIRSAH. Warbyasah. Kuroko menatap Aomine.

"Aomine-kun?"

"hm?"

"Kau sehat?"

"Ha?"

"Maksudku ini bukan seperti Aomine-kun yang ku kenal, kau bukan Aomine-kun temanku, Aomine-kun tidak pernah belajar. Katakan dimana Aomine-kun yang asli."

Kuroko mengeluarkan sabit dari dalam tasnya.

"W-WOIIII B-BENTAR TETSU KOK ITU SABIT LO DAPET DARIMANA, EH SALAH INI FICT HUMOR WOIIII BUKA GOREEE...JADI GK BAKAL ADA ADEGAN BUNUH BUNUHANNYA."

"Katakan dimana Aomine-kun yang asli."

Kuroko mulai mengayunkan sabitnya.

"WOIII THOR, LU SARAP ATO GIMANA HADUH INI SI TETSU NGAPAIN PAKE BAWA SABIT SEGALA."

Author: *nyamperin Kuroko* "Dek dek disekolah gk boleh bawa benda tajam dek." *ambil sabitnya* *balik lagi ke kamera.*

"Jadi Aomine-san, bisa tolong jelaskan kenapa kau tiba tiba belajar?"

"hmmm jadi gini tet..."

"Manggilnya jangan setengah setengah Aomine-kun."

"Udahlah sama aja, jadi gini...ya gk papa sih biar ini fict lucu aja wokwokwokwokwok."

Hening...

"THOR, BALIKIN SABIT GW THOR."

"ETDAH TET GW BECANDA IYA IYA GW JELASIN."

Seketika Kuroko kembali dari alam bawah sadarnya.

"Hmm jadi begini...umm Kagami bilang kalau aku bisa menambatkan nilai bagus di ulangan kali ini...dia akan mengajakku kencan."

Terlihat sedikit semburat merah di kedua pipi Aomine. Kuroko terdiam, tiba tiba ia berjalan kembali ke kursinya.

"Oi Tetsu, kau kena..."

Aomine hendak menahan tangan Kuroko, tiba tiba Kuroko menepisnya.

"Aomine-kun..."

"..."

"Kau bukan temanku lagi."

"A-apa? Tetsu yang benar saja."

baru saja Aomine ingin menghampiri Kuroko, terdengar bunyi bel tanda kelas akan dimulai. Sensei mulai membagikan lembar jawaban dan lembar soal tapi sampai saat ini Kagami masih belum datang. Tidak mungkin Kagami tidak masuk. Aomine mulai khawatir.

DRAP...DRAP...DRAP...BRAAAAK.

"SUMIMASEN...HOSH...SAYA TERLAMBAT...HOSH...SENSEI..."

Seisi kelas terkejut dan spontan menengok kearah pintu kelas mereka yang sepertinya hampir jebol saat Kagami membuka...ah lebih tepatnya membanting pintu itu.

"Ya sudah, cepat duduk di tempatmu."

"Terimakasih sensei."

Aomine berbinar saat melihat kedatangan sang uhukkekasihuhuk. Kagami duduk di kursinya dengan keadaan masih ngos-ngosan, tapi ada yang berbeda dengan dirinya hari ini, wajahnya terlihat sedikit pucat dan memerah, ah mungkin karna efek berlari larian tadi. Hari ini Aomine mengerjakan ulangannya dengan tenang. Aomine sesekali melirik kearah Kagami. Wajahnya semakin lama semakin pucat, dan sepertinya Kagami mengeluarkan banyak keringat padahal cuaca hari ini tidak panas sama sekali.

"Kagami..."

Kagami menengok ke arah Aomine.

"Kau tidak apa apa?"

Kagami hanya tersenyum lalu kembali mengerjakan soalnya. Apa arti senyuman itu? "Duh dek, jangan bikin abang khawatir dek, kokoro abang ndak kuat dek." Batin Aomine OOC. Aomine menghela nafas panjang.

"Kagami..."

Kagami kembali menengok kearah Aomine.

"Gw udah selesai nih, lo mau liat?"

Kagami menggeleng dan kembali fokus pada soalnya. Aomine kembali menghela nafas. Jelas jelas Kagami sedang Tidak-Tidak apa apa yang artinya pasti ada apa apa. Apa mungkin Kagami sedang PMS? Yang benar saja memangnya Kagami bisa PMS? Tapi terkadang kelakuannya mirip macan yang sedang PMS. Sambil menunggu waktu habis Aomine tidur di mejanya.

Suara bel menandakan ulangan selesai. Aomine segera bangun dan dengan semangat 69-nya segera mengumpulkan jawabannya. Ia kali ini yakin sekali kalau hasil ulangannya pasti bagus.

BRUKH...

loh suara apa itu? Kok seperti ada orang yang jatuh yah? Ah masa sih, Aomine menengok kearah datangnya suara itu dan...

"KAGAMIIII/KUUNNN."

Aomine dan kuroko kompak berteriak saat melihat Kagami jatuh pingsan. Kuroko baru saja akan mendekat kearah Kagami saat tiba tiba Aomine berteriak.

"SENSEI...AKU AKAN MEMBAWA KAGAMI KE RUANG UKS."

"Ah um baiklah, tolong ya Aomine-san."

Aomine langsung menggendong Kagami ala bridal style ke ruang UKS. Ia berharap Akechi-san sedang tidak berada di ruang UKS, jadi dia hanya perlu mengambil obat yang Kagami butuhkan dan membawa Kagami ketempat yang lebih aman. Tanpa pikir panjang Aomine langsung membuka pintu UKS dengan kasar.

"Fufufu...ternyata ada tamu...tak bisakah kau mengetuk pintu."

"KYAAAAAAH."

Aomine berteriak dengan tidak elitnya saat melihat sang iblis penjaga UKS sedang duduk di meja kerjanya. Memang hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Atau mungkin hidup Aomine sengaja tidak dibuat seperti yang Aomine inginkan karna demi kelancaran fict ini. Rasanya mata Aomine hampir copot dari tempatnya saat melihat seorang pria bertubuh tinggi dengan kulit sepucat mayat dan rambut putih panjangnya yang tergerai indah.

"hmm...ada yang bisa kubantu? Aomine-san..."

"D-d-darimana kau tahu namaku?"

"Itu tidak penting, lagipula...bukankah dia cukup berat?"

Akechi menunjuk orang yang kini masih berada di gendongan Aomine.

"Ah benar."

Aomine segera membaringkan Kagami di tempat tidur UKS.

"Kau bisa kembali kekelasmu."

"Aku akan disini saja."

"Jam pelajaran belum selesai Aomine-kun."

Aomine memberikan death-glarenya kearah Akechi.

"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan sesuatu kepada KA-GA-MI-KU."

Aomine memberikan penekanan di akhir katanya. Akechi terkekeh.

"Oh...jadi ini yang namanya Kagami-san, ah dia yang akan membantuku selama 6 bulan kedepan kan? Kalau dilihat lihat...dia manis juga."

Aomine terbakar amarah dan menarik kerah baju Akechi.

"Dengar...jika kau berani melakukan sedikit saja kesalahan kepada Kagami aku akan merobek mulut kotormu itu dan mencongkel matamu agar kau tidak punya kesempatan untuk melihat atau bahkan melirik Kagami."

Akechi kembali terkekeh.

"Fufufu...tidak kah kau mengerti apa yang disebut sopan santun? Kau tahu aku masih termasuk gurumu, bahkan monyet saja masih bisa menghormati orang yang lebih tua darinya."

Aomine mengepalkan jemari jemarinya dan siap untuk melayangkan tinjunya kearah Akechi saat sebuah tangan lain menahan tangannya.

"J-jangan...Aomine."

"KAGAMI."

Aomine melepaskan cengkramannya dari Akechi dan segera memeluk Kagami.

"Kau tidak apa apa? Astaga aku sangat mengkhawatirkanmu bodoh kau membuatku cemas, astaga tubuhmu panas sekali."

Kagami tersenyum dan membalas pelukan Aomine.

"Aku baik baik saja sebelum kau menanyaiku dengan rentetan pertanyaanmu dan memeluku dengan pelukan mautmu."

"Ah maaf."

Aomine melepaskan pelukannya. Akechi memberikan sebuah botol berisi pil kepada Kagami.

"Kau terkena demam, tapi demammu cukup parah kau boleh beristirahat disini jika kau mau."

"Ah arigatou."

"Obatnya hanya boleh diminum setelah kau makan."

"Kagami, kau sudah makan kan?."

Kagami memegang perutnya. Entah kenapa disini adegannya terlihat seperti seorang dokter yang mengatakan "Selamat, istri anda hamil." Ah atau mungkin itu hanya pikiran sarap saya yang berharap Kagami bisa hamil.

"Kagami..."

"Aomine...aku hamil..."

Author: "Eit...cut cut, salah scenario, etdah Kagami lo ngapain ngikutin pikiran sedeng gw duoh."

Kagami: *blush* "A-aku hanya terbawa suasana."

Aomine: (in: "K-kawaii")

Kagami: "Oi aho, ngapain lo melototin gw?"

Aomine: "mi...izinkan saya meng-anu dirimu."

Kagami: "Anjrot."

Akechi: "Neee author-san bisa kita lanjutkan?"

Author: "Ah iya benar."

Aomine: "cih mengganggu saja."

Lanjut~

Kagami nyengir ke arah Aomine.

"Aku belum makan, tadi pagi aku terburu-buru."

"A-APA? Cih baka, akan ku belikan makanan untukmu tunggu sebentar."

Baru saja Aomine ingin berjalan ke arah pintu, Akechi melemparkan sebungkus roti ke arah Kagami.

"Tidak perlu, makanlah."

"Ah umm a-arigatou."

Kagami melahap rotinya, dengan satu gigitan roti itu sudah habis dan berpindah tempat ke perutnya. Aomine memandangi pipi Kagami yang masih penuh akibat roti itu, Aomine terkikik geli dan memberikan air kepada Kagami.

"Ini...minumlah."

"Awigatou..."

"Habiskan dulu makananmu baka."

Kagami menggembungkan pipinya pura pura ngambek. Tapi itu malah membuat pipinya semakin chubby. Aomine tak tahan dan mencubit kedua pipi Kagami.

"EHEM."

Sebuah deheman menginterupsi kegiatan berlovey dovey mereka.

"Kau bisa kembali ke kelasmu Aomine-san."

"Eh? Tapi..."

"Jam pelajaran belum selesai Aomine-san."

"Cih baiklah. Kagami aku akan kembali saat jam pelajaran sudah selesai."

"Ah, un baiklah, terimakasih."

Aomine mengecup pipi Kagami meninggalkan semburat merah di pipinya.

"Hehehe jaa~."

"A-aho."

Aomine membuka pintu UKS dan...

"Apa yang kau lakukan disini...tetsu?"

Kuroko berdiri di depan pintu UKS, sepertinya ia baru saja akan mengetuk pintu. Kuroko menundukan kepalanya.

"Oi tet..."

"Sudah kubilang aku bukan temanmu lagi, dan jangan panggil aku dengan nama kecilku."

Kuroko berlari menjauhi ruang UKS. Aomine masih tidak mengerti apa yang terjadi dengan kuroko. Tapi...ya sudahlah. Aomine memutuskan untuk segera kembali kekelasnya.

Bunyi bel istirahat menandakan jam pelajaran keempat sudah selesai. Aomine segera berlari ke ruang UKS. Seorang pemuda bersurai baby blue lagi lagi berdiri di depan pintu ruang UKS.

"Ketuklah pintunya."

Kuroko terkejut melihat Aomine. Kuroko sama sekali tidak menyadari kedatangan Aomine.

"Kenapa kau hanya berdiri disana?"

Kuroko menghela nafas dan memutuskan untuk pergi namun tangannya ditahan oleh sebuah tangan lain.

"Sebenarnya apa masalahmu? Kenapa kau bertingkah aneh seperti ini."

"JANGAN SENTUH AKU."

Kuroko menepis tangan Aomine. Aomine terkejut, ia tidak pernah melihat Kuroko semarah ini.

"O-oi tetsu..."

Lagi-lagi Kuroko berlari menjauh dari pintu UKS. Aomine benar benar tidak mengerti apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Aomine hampir melupakan tujuan utamanya kemari. Ia mengetuk pintu UKS.

"Permisi..."

Ruangannya terlihat kosong. Akechi-san sepertinya sedang istirahat. Aomine menghampiri seseorang yang masih terbaring di kasur ruang UKS.

"Kagami..."

"Uh...A-Aomine...panas..."

Hening...Aomine mencoba berfikir jernih, ia menyentuh dahi Kagami. Ah suhu tubuhnya tidak separah tadi pagi tapi Kagami masih mengeluarkan cukup banyak keringat. Keringatnya lebih parah dari yang tadi pagi.

"B-bukan d-disitu...a-akh."

Krik...Krik...Krik...bunyi jangkrik diatas genting. Kagami mengeluarkan desahan desahan ambigu. Aomine masih kuat iman ia tidak mau meng-anu Kagaminya yang masih unyuk polos dan moe moe ini.

"Kagami...kau kenapa?"

"A-akuh minum obat dari Akechi-san d-dan t-t-tubuhkuh j-jhadi panas b-bheginih."

"Kau minum obat apa?"

"I-ituh."

Kagami menunjuk sebuah botol di meja kerja Akechi. Ia mengambil botol itu dan...TA-DAAAAH...Botol itu menunjukan sebuah deretan huruf bertuliskan A-P-H-R-O-D-I-S-I-A-C. Atau dibaca APHRODISIAC.

"AUTHOR KAMPREEEET INI FICT RATED T+ WOIIII NGAPAIN LO KASIH KAGAMI GW BEGINIAAAAAN."

"MUAHAHAHAHA BIARIN, INI FICT GW SUKA SUKA GW LAH MUAHAHAHA."

"DASAR AUTHOR BIADAB...TERIMALAH PUKULAN MAUTKU INI CIAAAAAAT."

Aomine memberika bogem mentahnya kearah author tapi dengan cepat dihindari oleh sang author.

Kagami: "ETDAH STOP STOP STOP, DI RUANG UKS GK BOLEH BERANTEM WOIIII. DAN KUROKO. BUKANNYA MISAHIN MALAH BACAIN NARASI."

Kuroko: "Maaf Kagami-kun, soalnya tadi author-san udah beliin saya vanilla shake ukuran jumbo."

"MUAHAHAHAHA KAU DENGAR ITU KAGAMI? SEKARANG TIDAK AKAN ADA LAGI YANG BISA MENGGANGGU PERTARUNGAN KITA. MAJU LO ITEM."

"TERIMALAH INI HIAAAAAT."

Aomine melemparkan sebuah sofa kearah Author dan lagi lagi dihindari oleh Author.

"HANYA SEGITU KEMAMPUANMU HAH? RASAKAN INI...ODAMA RASENGAN."

Author mengcopy jurus dari anime ninja ninjaan dari fandom sebelah dan tanpa di duga dihindari oleh Aomine. Aomine telah masuk ke dalam zonenya.

"Yang bisa mengalahkanku...hanyalah diriku sendiri. PERSONAAAAA."

Aomine mengarahkan sebuah pistol ke arah kepalanya dan memanggil personanya yang ia pinjam dari fandom persona personaan(?). Persona itu mengayunkan pedangnya kearah Author dan kembali di hindari oleh author.

"MUAHAHAHA CUMA SEGITU? KAU TIDAK AKAN BISA..."

KLEK. Pintu ruang UKS terbuka menampilkan sesosok pria bertubuh tinggi. Pria itu cengo. Aomine bengong. Author melotot. Kuroko komat kamit. Kagami pingsan.

"RUANG KERJA GUEEEEEEE."

Dan terdengarlah suara melengking Akechi-san. Okeh yang tadi itu cuma imajinasi sarap author aja, jangan dibawa serius oke lanjut lagi kecerita.

Aomine membuka pintu UKS. Keadaan terasa sepi sekali sepertinya Akechi-san sedang keluar untuk istirahat. Aomine menghampiri Kagami, sepertinya keadaannya mulai pulih. Terlihat dari wajahnya yang sudah tidak sepucat sebelumnya dan juga suhu tubuhnya yang sudah tidak sepanas tadi.

"Kau sudah mendingan?"

Kagami mengangguk.

"Kau lapar? Aku bisa membelikanmu sesuatu dikantin."

"Tidak usah. Aku masih kenyang. Lebih baik kau saja yang makan."

"Tapi kau belum makan."

"TAPI AKU SUDAH MEMBUATKANMU BENTO."

Hening...Kagami dengan semangatnya berteriak sampai ia tidak sadar kalau ia keceplosan. Ia reflek menutup mulutnya.

"A-apa?"

"E-etto...tadi pagi aku membuatkanmu bento m-makanya aku terlambat."

Wajah Kagami kembali dihiasi semburat merah.

"G-gomene..."

"Pfffft...untuk apa kau meminta maaf? Harusnya aku yang berterima kasih. Nah sekarang bentomu ada dimana?"

"Etto...ada di kolong mejaku, tadi aku sudah minta tolong Akechi-san untuk mengambilkannya."

"Ha? Jadi sekarang orang itu sudah menjadi babumu?"

"Bukan begitu...Tadi Akechi-san bilang ingin membagikan hasil ulangan di kelas 1-2 jadi sekalian saja aku minta bantuannya."

"Hoh begitu...jadi karna kau membuatkanku bento kau jadi demam."

"Bukan, ini gara gara kejadian kemarin."

"Kemarin?"

"Un."

Kagami mengangguk.

Flashback kejadian kemarin~

Aomine, Kagami, dan Kuroko keluar dari majiba.

"Ah hujan."

"Hujannya cukup deras, kalau begini kita tidak akan bisa pulang kan?"

Kagami terdiam memikirkan sesuatu, tiba tiba ia menjentikan jarinya.

"Kuroko, Aomine tunggu disini."

"Kau mau kema..."

Belum sempat Aomine menyelesaikan kata katanya Kagami sudah berlari menerjang hujan.

"Tch dasar bodoh."

10 menit kemudian~

Kagami kembali sambil membawa dua payung.

"Ini kupinjami, jangan lupa kembalikan besok ya."

Aomine menjitak kepala Kagami.

"SAKIT AHO. Harusnya kau berterima kasih padaku."

"BERTERIMA KASIH APA HAH? KAU LARI LARIAN DITENGAH HUJAN BEGITU SAMPAI BASAH KUYUP BEGINI? NANTI KALAU KAU SAKIT BAGAIMANA HAH? NANTI KALAU KAU BLA...BLA...BLA..."

Kagami dan Kuroko sweatdrop mendengar ocehan Aomine yang mirip emak-emak PMS.

"Haaah...sudahlah rumahku juga tak terlalu jauh dari sini, sudah yah jaaa~"

Kagami kembali berlari ketengah hujan menuju rumahnya.

"OI BAKA."

"TERIMAKASIH KAGAMI-KUN."

Flasback end~

"Memangnya setelah itu kau ngapain?"

"Oh, aku ganti baju, belajar terus tidur."

"Nggak mandi?"

"Nggak, dingin."

Aomine mencubit pipi Kagami gregetan sampai kedua pipi chubbynya memerah.

"Adududuh sakit AHO."

"Kau membahayakan dirimu sendiri hanya demi aku? Kau ini spesias bodoh macam apa sih?"

"Adududuh lepasin Aomine sakiiit...lagian kan sesama teman harus saling membantu."

Hening...tak terasa sebuah pedang imajiner menancap di kokoro Aomine. Apa tadi katanya? Teman? Teman? Sekali lagi TEMAN? Aomine melepaskan cubitannya dipipi Kagami dan terduduk di pinggir ranjang.

"Oi kenapa sih?"

"..."

"Oi."

"..."

"Oi item dekil lo kenapa dah?"

"Jadi...selama ini...aku hanya dianggap teman?"

"Hah?"

KLEK.

"Kagami-san ini bentomu."

Aomine segera pergi keluar ruang UKS. Sepertinya Akechi datang disaat yang tidak tepat.

"Hmm? Ada apa dengan Aomine-san?"

Kagami menggeleng.

"Tidak...tidak ada apa-apa."

To Be Continued~

HALOOOO SAYA DATANG LAGI MEMBAWA FICT GAJE NAN ABAL MUAHAHAHA.

Kuroko: "Kok peranku dichapter ini gk berguna banget ya?" *pundungan*

Eh? E-etto kuroko-kun tenang saja kan masih ada chapter selanjutnya.

Aomine: "Emang yakin tuh bakal di update."

Urusei...diem aja lo

Kagami: "Kok hubunganku sama Aomine dibikin ngegantung kayak gini?" *pundungan*

E-etto tenang aja dichapter berikutnya semuanya bakal jelas

Aomine: *pasang death glare.*

K-KYAAAAAAH AMPUNI KAMIYAAAAAAA *kabur*

Akechi: "Yak terimakasih readers yang sudah menyempatkan diri membaca fict ini. Terima kasih juga readers yang sudah me-review di fict sebelumnya. Jangan kapok untuk membaca dan mereview fict kami ya, sampai jumpa di fict delanjutnya."

JANGAN LUPA DI REVIEW YAAAA~ ~(*w*~) (~*w*)~