Yosh! Akhirnya bisa juga ngetik fic ini.
Trima kasih utk para Senpai-senpai yg sdh membaca dan mereview fic punyaku yg abal nan gaje ini.
Okay, bagi yg berkenan utk membaca silahkan. Tapi ingat! Jangan memberi Flame yg pedas2, tapi jika memberi flame yg bersifat membangun & tdk memakai kata2 kasar itu tidak apa2.
Gak suka? Gak usah baca.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : AbaL nan Gaje, aLur berantakan, khayaL(maybe), dLL.
"Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu Haruno sialan!" ancam seorang gadis yang dari tadi melihat adegan SasuSaku itu.
Gadis Setengah Manusia
"Tadaima." Ucap seorang gadis cantik berambut soft pink saat memasuki rumahnya.
"Okaeri." Jawab seorang wanita berambut pirang dari dalam rumah sambil menghampiri gadis pink itu.
"Saku-chan, cepat ganti seragammu kemudian makan siang bersama kaa-san. Kaa-san sudah menyiapkan sushi kesukaanmu." Kata wanita itu.
"Baik, kaa-san." Jawab gadis pink yang bernama Sakura pada wanita pirang itu yang ternyata adalah ibunya. Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam rumah.
Saat makan bersama tidak ada di antara mereka berdua yang berbicara, sampai akhirnya wanita pirang itu selesai makan kemudian membuka pembicaraan.
"Saku-chan, apakah kau menyukai sekolah barumu?" tanya wanita berambut pirang yang tak lain adalah ibu Sakura.
"Ya." Jawab Sakura singkat.
"Apa teman-temanmu di sekolah tadi mengetahui tentang identitas dirimu yang sebenarnya?" tanya ibu Sakura sekali lagi.
"Tidak. Di sekolah itu tidak ada yang mengetahui siapa diriku yang sebenarnya karena aku masih belum menunjukkannya kaa-san." Jelas Sakura. "Tapi cepat atau lambat mereka pasti akan mengetahui siapa diriku karena aku tidak bisa bertahan jika tanpa meminum darah." Lanjut Sakura sambil menundukkan kepalanya, meratapi nasibnya yang setengah manusia dan drakula ini.
Tsunade, ibu Sakura jadi merasa bersalah pada putri tunggalnya ini. "Maafkan kaa-san ya, karena sudah membuatmu terjebak dalam kehidupan seperti ini." Kata Tsunade yang sudah merasa sangat bersalah.
"Ah, ini bukan kesalahan kaa-san. Kaa-san jangan merasa bersalah begitu. Tidak apa-apa kok, aku bisa menerima jika aku memang di takdirkan menjadi seperti ini." Jawab Sakura sambil berusaha tersenyum agar ibunya tidak sedih.
"Kaa-san, aku tidur dulu ya? Aku sangat lelah." Lanjut Sakura sambil beranjak menuju kamar tidurnya di lantai 2.
"Ya." Jawab Tsunade sambil tersenyum. Sakura pun langsung menuju kamarnya untuk segera tidur, dia benar-benar lelah hari ini.
"Saku-chan terlihat lelah sekali. Seandainya jika aku dan Orochi-kun tidak menikah ini semua tidak akan terjadi pada Saku-chan." Gumam Tsunade.
Malam harinya pukul setengah 8
"Saku-chan, ayo makan malam dengan kaa-san." Kata Tsunade untuk yang ke tiga kalinya sambil mengetuk pintu kamar Sakura. Tetapi tidak ada respon dari Sakura dan Tsunade langsung membuka pintu kamar Sakura yang ternyata tidak dikunci.
"Ternyata kau masih tidur, padahal kau kan tidur sejak pukul 2 siang. Kau memang benar-benar lelah ya. Ya sudah, lebih baik kau tidur saja." Kata Tsunade sambil beranjak dari kamar Sakura.
*Skip time*
Keesokan harinya
"Kau terlihat lemas, Saku-chan baik-baik saja?" tanya Tsunade saat melihat kondisi Sakura yang lemas.
"Aku sepertinya sedang 'haus', kaa-san." Jawab Sakura. Tsunade yang mengerti arti kata 'haus' yang Sakura ucapkan hanya berkata "Ini sudah saatnya jiwa drakulamu hidup. Jiwa drakula yang kau miliki sudah ingin meminum darah, Saku-chan."
"Kaa-san benar." Jawab Sakura singkat sambil memakan sarapannya, roti keju.
"Kalau begitu hari ini kaa-san akan mengantarmu berangkat sekolah." Kata Tsunade sambil mengambil kontak mobilnya.
"Tapi bagaimana dengan pekerjaan kaa-san?" tanya Sakura pada Tsunade, ibunya yang seorang dokter itu.
"Ah, itu tidak masalah. Lagipula sekarang masih pukul setengah 7 sedangkan kaa-san kan harus masuk pukul 07.00 jadi masih ada waktu untuk mengantarmu." Jawab Tsunade. Sakura hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti ibunya yang sudah bersiap untuk mengantarnya ke sekolah.
"Kaa-san, apa tidak masalah jika aku harus membunuh orang di Konoha?" tanya Sakura saat berada di dalam mobil. Tsunade yang mendapat pertanyaan seperti itu dari putrinya hanya terdiam sebentar lalu berkata "Maaf Saku-chan, tidak ada cara lain lagi selain itu. Memangnya apa yang kau takutkan?"
"Aku dengar Konoha ini berbeda dengan Oto, di Konoha kita tidak bisa membunuh orang sesuka hati seperti di Oto. Jika kita membunuh orang, itu melanggar aturan hukum Konoha, kaa-san." Terang Sakura sambil menatap ibunya yang sedang menyetir mobil.
"Ya, kaa-san tahu. Tapi mau bagaimana lagi? Kau tahu apa akibatnya jika berusaha berhenti meminum darah segar manusia kan? Kaa-san tidak mau kehilangan orang yang kaa-san sayangi untuk kedua kalinya." Jelas Tsunade sambil tetap mengemudikan mobil. Sakura bisa melihat mata hazel ibunya sempat meredup saat mengatakan kalimat yang baru saja dikatakan ibunya.
"Saku-chan, sudah sampai." Kata Tsunade sambil menghentikan mobilnya di depan gerbang sekolah Sakura.
"Iya. Aku turun dulu ya kaa-san." Jawab Sakura sambil membuka pintu mobil. "Hati-hati di jalan kaa-san." Lanjut Sakura saat sudah turun dari dalam mobil. Tsunade hanya tersenyum kemudian mengemudikan mobilnya menuju Konoha Hospital, kantornya. Sakura pun langsung memasuki sekolahannya.
Saat sudah memasuki ruang kelasnya, Sakura langsung tersentak kaget karena melihat tempat duduk dan mejanya dipenuhi dengan serangkaian bunga-bunga yang indah dan banyak cokelat juga tak lupa dengan mencantumkan surat cinta untuk Sakura. Sakura hanya menghela napas panjang dan menuju tempat duduknya itu. Dengan susah payah Sakura mencoba mengambil bunga dan cokelat yang banyak sekali dari para fansboynya itu.
"Wah, Sakura mendapat banyak cokelat ya?" tanya Hinata yang baru saja datang.
"Ah, Hinata bisa bantu aku tidak?" jawab Sakura yang malah balik tanya karena kerepotan membawa bunga dan cokelat yang kelewat banyak itu. Tanpa banyak omong, Hinata langsung membantu Sakura yang sedang kerepotan akibat ulah fansboynya.
"Padahal sekarang bukan hari valentine, tapi kau sudah mendapat bunga dan cokelat sebanyak itu." Kata Hinata setelah selesai membantu Sakura sambil mendudukkan diri di bangku sebelah Sakura, tempat duduknya. "Apa yang akan kau lakukan dengan bunga dan cokelat sebanyak itu?" lanjut Hinata pada Sakura.
"Tentu saja semuanya akan aku buang." Batin Sakura dalam hati.
"Entahlah, aku tidak tahu." Jawab Sakura. "Hah, merepotkan. Padahal inikan masih pagi, kalau ketahuan para guru bagaimana ini?" tanya Sakura pada Hinata.
"Kau masukkan saja ke dalam tasmu." Jawab Hinata sambil menunjuk tas milik Sakura. Sakura hanya mengangguk dan mulai memasukkan hadiah dari para fansboynya itu. Tapi baru setengah saja tas Sakura sudah tidak muat.
"Hah? Semua ini tidak cukup masuk ke dalam tasku!" ucap Sakura yang mulai jengah.
"Kalau begitu sebagian kau taruh d ilaci mejamu saja dan jika masih tidak muat taruh didalam laci mejaku." Kata Hinata yang berbaik hati mau meminjamkan laci meja miliknya pada Sakura.
"Apa tidak apa-apa Hinata?" tanya Sakura. Hinata hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sakura pun langsung menempatkan hadiah dari fansboynya yang sangat banyak itu di laci miliknya dan milik Hinata, Hinata juga membantu Sakura meletakkan semua itu karena tidak tega membiarkan Sakura sendiri yang membereskan hadiah dari fansboy Sakura yang nekat itu.
"Akhirnya selesai. Thanks, Hinata." Kata Sakura pada Hinata. Hinata hanya tersenyum menanggapi Sakura.
"Sakura, aku punya hadiah untukmu. Ini." Kata Sasuke yang baru saja datang sambil menyerahkan sekotak cokelat berbentuk hati pada Sakura.
"Cokelat lagi?" kata Sakura sambil memandang kotak cokelat yang ada di tangan Sasuke.
Sasuke yang tidak mengerti maksud Sakura hanya menaikkan sebelah alisnya dan berkata "Apa maksudmu dengan 'cokelat lagi'?"
Sakura mengambil napas panjang lalu membuka tasnya sehingga terlihatlah beberapa bunga dan cokelat yang terlihat berantakan karena Sakura masukkan dengan seenak jidatnya.
Sasuke pun terkejut dengan apa yang dilihatnya. "Kau mendapat bunga dan cokelat sebanyak itu?" tanyanya tak percaya.
Sakura hanya mendengus sebal dan mengambil sekotak cokelat berbentuk hati dari Sasuke. "Aku tidak ingin membuatmu kecewa. Jadi, terima kasih atas cokelat yang kau berikan." Kata Sakura sambil tersenyum.
"Kau kasihan padaku?" tanya Sasuke sambil menatap wajah cantik Sakura.
"Kasihan? Kau ini jangan berpikir seperti itu, aku kan…" perkataan Sakura terpotong karena tiba-tiba saja si kacamata datang.
"Selamat pagi sayangku…" kata Karin yang tiba-tiba datang sambil menggelendot manja di lengan Sasuke.
"APA-APAAN KAU! LEPASKAN BAKA!" ucap Sasuke yang membentak Karin karena seenaknya sendiri memeluknya di depan Sakura, satu-satunya gadis yang dicintainya.
"Ah, kenapa kau seperti itu sayang?" tanya Karin dengan nada yang dibuat manja sehingga yang mendengarnya membuat bergidik ngeri.
"KAU PIKIR KAU ITU SIAPA, HAH! BERANINYA MEMANGGILKU SAYANG!" bentak Sasuke yang bertambah emosi pada Karin. Bukannya malah takut, Karin malah bertambah berani memeluk Sasuke. Yang dipeluk bukan tangan Sasuke lagi melainkan tubuhnya! Sakura yang melihatnya merasa sangat cemburu sekali karena jauh di lubuk hatinya yang dalam sebenarnya ia menyukai Sasuke.
"Hinata-chan, kau bisa temani aku ke kantin tidak? Aku belum sempat sarapan tadi." Kata siswa berambut duren pada Hinata.
"Ah, Na..Naruto-kun. Baiklah." Jawab Hinata pada siswa berambut duren yang ternyata bernama Naruto. Naruto pun langsung menggandeng tangan Hinata.
"Apa aku boleh ikut? Kebetulan aku juga mau ke kantin." Ucap Sakura tiba-tiba, entah memang benar-benar ingin ke kantin atau hanya pura-pura, agar tidak melihat kejadian yang membuatnya cemburu.
"Em..baiklah kau boleh ikut." Jawab Naruto sambil tersenyum. Hinata pun mengangguk, menyetujui Naruto. Mereka bertiga pun langsung menuju ke kantin.
"Sayang, sekarang tinggal kita berdua. Lebih baik kita ngapain ya?" tanya Karin dengan nada yang dibuat-buat (sok) manja.
PLAKK
"Ke..kanapa kau menamparku?" ucap Karin sambil memegangi pipinya yang telah ditampar Sasuke dengan cukup keras.
"Gara-gara kau Sakura jadi pergi! Dasar perempuan jalang!" kata Sasuke yang sudah sangat emosi. Karin pun langsung pergi meninggalkan Sasuke sambil menangis tersedu-sedu. Sasuke hanya menatap kepergian Karin dengan tatapan benci.
Saat itu di kantin sekolah
"Kalian berdua tunggu di sini ya? Aku mau memesan ramen dulu, apa kalian juga mau aku pesankan?" tanya Naruto pada Hinata dan Sakura.
"Tidak usah Naruto-kun, aku sudah sarapan tadi." Jawab Hinata.
"Kalau aku tidak terlalu suka ramen, jadi aku mau beli minum saja." Jawab Sakura sambil beranjak dari tempat duduknya menuju ke tempat pembelian minuman.
"Tunggu, aku juga mau beli minuman." Ucap Hinata sambil mengejar Sakura yang telah pergi dulu sedangkan Naruto langsung memesan ramen.
Beberapa saat kemudian mereka bertiga sudah duduk di tempat mereka tadi dengan makanan atau minuman yang mereka beli.
"Kenapa kau diam saja? Kau ada masalah?" tanya Hinata pada Sakura.
"Ah, tid..tidak kok." Jawab Sakura yang tersadar dari lamunannya sambil langsung meminum jus jeruk yang ia beli tadi.
"Kau sedang memikirkan masalah Sasuke tadi?" tanya Naruto yang telah selesai memakan ramennya.
"Tidak." Jawab Sakura dengan singkat dan cepat.
"Kalau masalah itu tadi sebaiknya tidak usah kau pikirkan. Karin si kacamata itu memang orang yang seperti itu. Dia itu memang menyukai Sasuke, tapi cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Sasuke tidak pernah menganggapnya." Jelas Naruto.
"Benarkah?" tanya Sakura memastikan.
"Ya, itu memang benar. Aku rasa Sasuke itu hanya menyukaimu." Jawab Hinata disertai anggukan oleh Naruto.
"Kupikir juga begitu, buktinya saat kau pertama kali pindah ke sekolah ini Sasuke bersikap seperti itu. Kau masih mengingatnya kan?" kata Naruto lalu meminum jus hanya mengangguk karena ia masih ingat jelas tentang rayuan gombal menjijikkan itu.
"Padahal Sasuke itu orang yang sok cool dan selalu menjunjung tinggi harkat martabat klannya, tapi demi kau dia rela kehilangan semua itu. Itu sudah membuktikan bahwa dia memang mencintaimu." Lanjut Naruto.
"Ya, aku tahu. Bahkan dia sudah pernah memintaku untuk menjadi pacarnya." Terang Sakura.
"Benarkah? Lalu apa jawabanmu?" tanya Naruto sambil menatap Sakura dengan serius.
"Aku menolaknya. Aku memilih untuk menjadi temannya saja." Jawab Sakura.
"Jadi, kau menolak pernyataan cinta dari seorang Uchiha Sasuke? Sungguh sulit dipercaya." Ucap Hinata.
"Memangnya kenapa? Kalau kau menyukainya suruh dia menjadi pacarmu saja." Kata Sakura yang langsung mendapat deheman dari Naruto.
"Ehem ehem." Kata Naruto yang sedang berdehem-dehem itu.
"Kau kenapa sih Naruto?" tanya Sakura sambil menatap aneh pada Naruto.
"Tentu saja aku tidak mau menjadi pacar Sasuke karena aku su..sudah punya pacar." Jawab Hinata sambil malu-malu.
"Oh, jadi kalian berdua itu sudah pacaran ya?" tanya Sakura yang baru menyadari jika NaruHina itu adalah sepasang kekasih.
"Ya, begitulah." Jawab Naruto sedangkan Hinata hanya diam saja karena sedang blushing.
Teeettt Teeettt
"Wah, sudah waktunya masuk kelas. Ayo." Ajak Naruto pada Hinata dan Sakura. Kemudian mereka pun langsung beranjak meninggalkan kantin menuju ke kelas mereka.
Saat di dalam kelas
"Anak-anak, hari ini kalian pulang lebih awal karena guru-guru sedang melakukan rapat. Kalian pulang pukul 9." Jelas Kakashi sensei, wali kelas itu.
Seluruh murid pun langsung bersorak-sorak senang karena mereka pulang lebih awal. Kemudian pelajaran pun di mulai seperti biasa.
Teeettt Teeettt Teeettt
"Baiklah anak-anak, pelajaran hari ini sampai di sini dulu. Sampai jumpa besok." Ucap guru bermasker itu sambil berlalu pergi. Murid-murid pun langsung berhamburan keluar kelas.
"Hari ini Tayuya tidak masuk. Aku jadi pulang sendirian deh.." dengus siswi berkacamata yang tak lain adalah Karin. "Oh iya." Lanjutnya yang seperti telah teringat sesuatu.
"Sakura, kau mau kan pulang bersamaku?" tanya Sasuke pada Sakura.
"Maaf, aku tidak bisa." Jawab Sakura.
"Aku bisa kok pulang denganmu." Sela Karin yang tiba-tiba saja datang.
"Aku tidak mengajakmu. Aku sama sekali tidak berminat pulang denganmu." Jawab Sasuke sambil berlalu pergi. "Sampai jumpa Sakura." Ucapnya pada Sakura sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruang kelas itu.
"Cih, kau ini sangat menyebalkan sekali. Gara-gara ada kau, aku jadi tidak bisa mendekati Sasuke." Ucap Karin dengan nada bicara yang sinis pada Sakura.
"Apa yang kau perbuat pada Sasuke sehingga dia bisa tergila-gila padamu, Hah!" lanjutnya. "Apakah rambut pink anehmu ini yang memikat hati Sasuke?" ucapnya sambil menjambak rambut Sakura tapi itu langsung ditepis oleh Sakura.
"Sebenarnya apa maumu! Jaga ucapanmu!" geram Sakura yang mulai kehabisan kesabarannya.
"Kau berani melawanku rupanya. Brengsek!" maki Karin pada Sakura sambil berniat untuk mencakar wajah cantik Sakura.
SREEK
"Aah.." erang Karin yang kesakitan karena terkena cakaran Sakura.
"Heh, kau itu tidak sebanding denganku. Kau ini sangat lambat sekali." Ucap Sakura sedangkan Karin masih memegangi luka di wajahnya akibat cakaran Sakura yang cukup lebar dan dalam itu sehingga mengeluarkan darah yang cukup banyak.
"Ap..apa yang kau lakukan?" ucap Karin yang terkejut saat melihat Sakura sedang menjilat beberapa jari tangannya sendiri yang berlumuran darah segar milik Karin.
"Hm, rasa darah milikmu kurang memuaskan. Tapi aku menyukainya. Bagaimana jika aku buat luka yang cukup lebar lagi di wajahmu?" tanya Sakura sambil berjalan mendekati Karin. Karin yang sedang ketakutan karena melihat Sakura tidak seperti biasanya itu berniat melarikan diri, tapi sayangnya itu langsung di tahan oleh Sakura dengan menjambak rambut merahnya.
"Kau mau kemana? Kenapa kau sudah mau kabur, bukankah yang cari masalah duluan itu kau? Kau takut denganku ya? Tapi, urusan kita belum selesai!" kata Sakura yang jiwa manusianya sudah dikuasai sepenuhnya oleh jiwa drakula yang ada di dalam tubuhnya.
"Lepaskan aku! Dasar perempuan iblis!" maki Karin sekali lagi pada Sakura. "Kau tidak seperti Haruno Sakura yang biasanya, sebenarnya siapa kau?" lanjutnya yang sudah sangat ketakutan melihat Sakura yang berbeda dari biasanya ini.
"Kau belum mengerti ya? Inilah diriku yang sebenarnya. Haruno Sakura yang sebenarnya memang seperti ini." Jawab Sakura yang bersiap untuk menghisap darah Karin lebih banyak.
"Hentikan!" ucap Karin sambil berusaha melawan Sakura, tapi nihil. Kekuatan Sakura yang seperti ini tidak bisa ia lawan. Tanpa banyak omong lagi, Sakura langsung menggigit leher Karin dan menghisap darahnya. Setelah merasa puas, Sakura meninggalkan jasad Karin yang sudah tidak bernyawa itu begitu saja.
"Aku sudah merasa sehat lagi. Lebih baik aku langsung pulang ke rumah saja." Ucap Sakura sambil berjalan meninggalkan kelas dan jasad Karin.
Continue
Hwaaaaa cerita apa ini?
Kenapa jadi berantakan begini ceritanya?
Entah kenapa jiwa sadisticku (masih) belum bisa membuat cerita yang sangat sadis sekali.
Tanpa banyak omong lagi, apakah para readers sekalian mau meREVIEW?
Nge-Flame boleh aja, tapi HARUS memakai BAHASA YANG SOPAN, yang bertujuan utk memperbaiki & membangun crita ini. Bukankah kita memiliki hak untuk bebas berimajinasi, kan?
Oh iya, aku mau nanya suka ngisap darah manusia itu drakula ya? Kalau vampire kan (kalau tidak salah) hantu dari China, benar tidak?
REVIEW PLEASE.,
