Disclaimer:
Harry Potter © J.K Rowling
Saya hanya meminjam para karakter tokoh yang ada di novelnya. Izinkan ya. ^^
.
.
.
TWO SHOT
Pairing: Harry x Hermione
Genre: romance/friendship
Rating: M
Setting: AU (kisah berbeda dengan kisah aslinya)
Jumat, 20 November 2015
.
.
.
Fic request untuk 92 Uzumaki
.
.
.
JEALOUS
By Hikari Syarahmia
.
.
.
CHAPTER 2
.
.
.
CHAPTER SEBELUMNYA:
Mereka pun saling mengangguk bersama-sama. Sementara Harry belum juga mengetahui semua yang terjadi padanya sekarang. Dirinya yang dikejar dua cinta. Tapi, entah bagaimana perasaan Harry sekarang. Adakah seorang gadis yang disukainya saat ini?
Entahlah, siapa yang tahu. Jawabannya akan datang di waktu berikutnya.
.
.
.
Beberapa hari ini, Hermione benar-benar menjauh dari Harry dan Ron. Mereka benar-benar menjadi orang asing bagi Hermione. Hermione tidak mau berbicara dengan mereka lagi. Ia masih tersinggung dengan kejadian di ruang rekreasi itu.
Setiap kali mereka mendekati Hermione, pasti Hermione selalu pergi menjauh dari mereka. Kalau diajak bicara, pasti tidak dipedulikan. Sudah berapa kali usaha mereka untuk membujuk Hermione, tidak berhasil juga.
Sekarang perlakuan Hermione membuat mereka semakin bersalah dan menyesal. Terlebih bagi Harry sendiri. Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membuat Hermione berbaikan lagi dengannya dan Ron. Dia harus melakukan sesuatu agar pertemanan ini tidak putus karena masalah sepele seperti ini.
Usai bel pulang berbunyi, Hermione pun keluar bersama teman-teman yang lain. Gadis itu cepat-cepat berjalan karena dua teman laki-lakinya mengejarnya tanpa lelah sedikitpun. Mereka bersepakat untuk terus membujuk Hermione.
"HERMIONE, TUNGGU!" teriak Ron sekeras mungkin.
Hasilnya, langkah Hermione terhenti juga. Dia membalikkan badannya ke arah dua temannya yang sudah bersusah payah untuk terus mendekatinya.
"Apa, hah?" ujar Hermione dengan nada yang ketus.
Ron dan Harry tersenyum karena Hermione mulai mau mempedulikan mereka.
"Hm, Hermione, kami minta maaf atas kejadian waktu itu," ujar Harry dengan tampang yang sangat serius."Sungguh kami tidak bermaksud membohongimu. Kami memang menyimpan rahasia yang tidak kamu ketahui."
Semuanya dikatakan Harry dengan jujur. Dengan berharap Hermione tidak marah lagi. Jadi, atas persetujuan Ron, akhirnya Harry mau memberitahukan semuanya pada Hermione.
"Oh ya, ternyata benarkan kalau kalian menyimpan rahasia di belakangku. Kalian jahat tidak memberitahukannya padaku. Kita berteman, kan? Tapi, malah simpan rahasia cuma berdua saja. Tanpa mau berbagi denganku," Hermione menatap mereka dengan tajam.
"Karena itu, kami meminta maaf padamu. Kamu mau memaafkan kami, kan Hermione?"
Sekali lagi Harry meminta maaf. Hermione terdiam sebentar.
Sedetik kemudian, Hermione menghelakan napasnya.
"Haaaah, baiklah. Aku memaafkan kalian."
Harry dan Ron saling pandang sambil tertawa lebar.
"Syukurlah, Hermione. Kamu sudah memaafkan kami," kata Ron yang sangat tenang.
Hermione melipat tangan di dada. Ia masih berwajah sewot.
"Tapi, katakan dulu rahasia yang kalian simpan itu," Hermione penasaran.
"Rahasia itu ... Ya, waktu itu aku menemui seseorang. Namanya Ginny Weasley, adiknya Ron," Harry menunjuk Ron disertai anggukan dari Ron.
Kepala Hermione miring sedikit ke kanan.
"Terus untuk apa kamu menemui adik Ron di sana, Harry?"
"Mengajarinya belajar tentang kimia dasar."
"Kamu mau mengajari dia, Harry?"
"Ya, tentu saja aku mau mengajari dia. Dia minta aku mengajarinya belajar. Tidak mungkinkan aku tolak?"
Seketika wajah Hermione menjadi kusut. Lipatan tangan di dadanya dilepaskannya. Membuat Ron dan Harry keheranan melihat perubahan wajah Hermione.
"Hermione, kamu kenapa?" tanya Harry.
"Huh, Harry. Kamu menyebalkan!"
Setelah mengatakan hal itu, Hermione berbalik badan dan segera meninggalkan dua temannya itu. Kembali mereka bengong dan tercengang.
"Lho, kenapa Hermione marah lagi?" tukas Ron yang ternganga habis.
"Kali ini dia marahnya sama aku. Bukan sama kamu, Ron," Harry memasang wajah suramnya.
Mereka menatap kepergian Hermione sampai hilang dari pandangan. Mereka benar-benar terpaku di antara orang-orang yang lalu lalang di koridor itu. Sejenak suasana sangat ramai dan berisik.
"Mungkin ... Hermione itu cemburu," ucap Ron tiba-tiba lagi.
Harry melirik ke arah Ron.
"Cemburu?"
"Ya, cemburu sama kamu, Harry. Hermione marah karena kamu mengajari Ginny belajar kimia. Itu berarti ..."
Ron melirik ke arah Harry. Harry merasa berdebar-debar menanti kelanjutan dari perkataan Ron.
"Berarti apa?"
"Itu berarti Hermione itu suka sama kamu, Harry."
Harry pun kaget mendengarnya. Ron memasang wajah yang sangat serius.
"Hermione suka sama aku?"
"Ya, begitulah, Harry. Tapi, itu baru dugaanku saja. Jadi, jangan dipikirkan terlalu dalam. Bisa-bisa kamu akan gila nantinya. Gila mikir terus."
Harry tertawa kecil sambil mendorong kepala Ron pelan.
"Hahaha ... Bisa-bisanya kamu bercanda, Ron."
"Hei, aku serius kok!"
"Lupakan saja. Ayo, kita kembali ke asrama dulu!"
Harry berjalan duluan meninggalkan Ron. Ron yang terbengong-bengong dibuatnya.
"HARRY, AKU SERIUS! INI BUKAN CANDAAN BIASA!"
Ron pun mengejar Harry. Harry yang terus berjalan tanpa menunggu Ron. Mereka pergi ke arah yang berlawanan dari Hermione pergi tadi. Mereka berjalan menuju ke asrama untuk beristirahat sejenak dari kegiatan belajar yang sangat menuntut kinerja aktifitas otak. Apalagi sebentar lagi ujian semester akan tiba. Saatnya untuk belajar dengan serius.
.
.
.
Harry berjalan sendirian saat menyusuri halaman dalam sekolah. Banyak orang yang lewat di sana. Sampai ada seseorang yang berlari-lari kecil mengejar Harry sekarang.
"HARRY!"
Harry menyadarinya dan menoleh ke arah asal suara tersebut, tepatnya dari belakang.
Rupanya Ginny. Ia senang bisa bertemu dengan Harry saat pagi hari seperti ini. Harry juga senang bisa bertemu dengan Ginny.
"Hai, Ginny! Selamat pagi!"
"Hai juga Harry! Selamat pagi!"
Mereka saling tersenyum sambil menyapa dengan ramah. Lalu mereka saling berhadapan.
"Mau ke kelas ya?" tanya Ginny.
"Iya," jawab Harry."Ayo, kita sama-sama pergi. Arahnya sama, kan?"
Ginny mengangguk-angguk.
"Boleh juga."
"Ayo."
Mereka berdua pun langsung berjalan bersama menuju ke gedung sekolah. Menuju ke arah yang sama dengan orang-orang.
Selama dalam perjalanan ke kelas, mereka saling mengobrol dengan akrab. Hingga tanpa terasa mereka tiba di depan kelas 10-B. Kelasnya Ginny.
"Hah, sudah tiba di kelasku rupanya," Ginny menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Harry."Oh iya, Harry. Aku mau masuk ke kelasku dulu ya."
Harry juga menghentikan langkahnya. Ia mengangguk.
"Ya, Ginny."
"Sampai nanti, Harry!"
"Sampai nanti, Ginny!"
Tiba-tiba, Ginny mencium pipi Harry. Setelah itu, ia tersenyum malu-malu begitu dan langsung berlari masuk ke dalam kelasnya. Sementara Harry yang diciumnya, berdiri kaku dengan wajah yang syok. Ia kaget sekali karena mendapati pipinya dicium tiba-tiba oleh seorang gadis.
Ini pertama kalinya, dia dicium seperti ini. Berarti ini adalah ciuman pertamanya.
'Ginny menciumku?' batin Harry yang masih syok.
Lalu ia tersenyum kecil sambil memegangi pipi yang dicium Ginny tadi. Ia benar-benar tidak menduga bakal mendapatkan kejutan di pagi hari seperti ini.
TAP! TAP! TAP!
Ia pun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang senang.
Tanpa ia sadari juga, ada seseorang yang mengamatinya dari kejauhan. Seseorang itu menggeram saat Ginny mencium pipi Harry tadi. Ia melihat adegan itu. Sangat membuatnya cemburu sekarang.
"Dasar, Harry! Berarti kamu memang suka sama adik Ron. Huh, kamu memang semakin menyebalkan," gumam Hermione yang sudah sangat cemberut sambil memegang erat dua tali tas yang bergantung di dua bahunya.
Lantas ia pun berjalan ke arah yang sama di mana Harry pergi tadi. Ia semakin kesal saja terhadap Harry sekarang.
.
.
.
Pelajaran pun selesai. Semua murid dan guru pun keluar dari kelas masing-masing.
Di kelas 11-B, di mana Harry dan dua temannya berada. Terlihat Harry yang sibuk mengemasi buku-bukunya. Lalu Hermione pun datang menghampirinya.
"Harry!"
Harry pun menyadari Hermione sudah berada di dekatnya. Ia pun kaget sedikit.
"Hermione?" Harry memegang kacamatanya dengan erat."Ada apa?"
"Aku ingin bicara empat mata sama kamu."
"Bicara empat mata?"
"Iya. Tapi, tidak di sini."
Sekilas Hermione melihat ke arah Ron yang duduk di sebelah Harry. Harry juga melihat ke arah Ron.
"Kenapa?" Ron keheranan saat dua temannya memandanginya dengan aneh.
"Maaf, Ron. Sebaiknya kali ini kamu tidak usah ikut aku sama Harry. Soalnya aku mau bicara empat mata sama Harry di tempat lain. Kamu tidak keberatan, kan?" kata Hermione dengan muka yang sangat serius.
Ron tercengang sebentar. Lalu ia pun menggelengkan kepala dengan pelan.
"Oke, aku mengerti. Tidak masalah," Ron tersenyum.
"Baiklah, Ron. Aku pergi dulu sama Harry."
Langsung saja Hermione menarik tangan Harry. Harry pun terseret oleh langkah Hermione.
"Sampai nanti, Ron. Maaf, aku duluan," sahut Harry yang merasa tidak enak dengan Ron karena harus meninggalkan Ron sendirian.
"Ya, Harry!" Ron tetap tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia masih duduk di bangkunya sendiri dan memilih menatap kepergian dua temannya itu.
Maka Harry dan Hermione pun pergi meninggalkan Ron sendirian. Tiada lagi orang yang menghuni kelas tersebut.
.
.
.
Hermione mengajak Harry berbicara sambil duduk di bangku kayu di halaman dalam sekolah yang bersatu dengan taman sekolah. Suasana sangat berisik dan ramai karena banyak orang yang bertebaran di tempat ini. Semua orang menghabiskan waktu istirahatnya sejenak di tempat ini bersama orang-orang terdekat.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan padaku, Hermione?" tanya Harry mengawali percakapan duluan.
Hermione menatap Harry dengan pandangan yang serius.
"Begini, aku mau cuma tanya saja. Apa kamu sudah berpacaran sama Ginny, adiknya Ron itu?" ungkap Hermione secara langsung.
Harry tertegun sebentar. Sedetik kemudian, dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak berpacaran dengan Ginny."
"Nah, terus ... Kalau tidak berpacaran, kenapa Ginny mencium pipimu? Hayoooo ...," Hermione menunjuk ke arah muka Harry. Sehingga membuat Harry sangat kaget mendengarnya.
"Kapan kamu melihatnya?" wajah Harry sedikit memerah. Kelihatannya begitu.
"Tadi pagi."
Sekali lagi Harry tersentak kaget. Setelah itu, dia tertawa kecil.
"Hahaha ..."
Hermione tercengang melihat Harry malah tertawa.
"Kenapa kamu malah tertawa, hah?"
"Hahaha, Hermione. Kamu benar-benar lucu. Dengar ya aku dan Ginny itu tidak ada apa-apa. Kami hanya teman biasa kok. Jadi, kamu tidak usah cemburu begitu."
"Hiii ... Siapa yang cemburu sama kamu? Kamu merasa saja, Harry."
"Terus ngapain kamu nanya begituan sama aku? Apa tidak cemburu namanya?"
"Haaah, Harry. Sudah beberapa kali aku bilang sama kamu kalau aku itu tidak cemburu. Kamu salah paham. Jadi, jangan terlalu dianggap serius. Oke?"
Hermione mengatakan semuanya dengan muka yang serius. Dia terus menunjuk ke arah Harry dengan tegas.
"Tapi, aku memang menganggapnya serius, Hermione."
"Apa maksudmu, hah? Jangan bilang lagi kalau aku itu cemburu. Kamu mengerti, kan?"
"Memang aku tidak bilang kamu cemburu lagi. Tapi, bagaimana jika aku bilang kalau aku suka padamu?"
SIIIING!
Hening sejenak.
Malaikat lewat sebentar walaupun memang tidak terlalu sepi karena masih banyak orang yang berkumpul di sekitar Harry dan Hermione.
Hermione terdiam sebentar. Sementara Harry memandang Hermione dengan lama.
Setelah itu, Hermione menurunkan tangannya dan membuang muka dari hadapan Harry sekarang juga.
"Hahaha ... Kamu pasti bercanda, Harry. Kamu pasti bercanda kalau kamu suka sama aku. Mana mungkin itu," Hermione tertawa ngakak.
Namun, Harry tetap bersikap serius. Ia pun memegang tangan Hermione dengan erat.
"Aku serius, Hermione. Aku benar-benar suka sama kamu. Ini tidak bohong ataupun candaan belaka. Cuma kamu, gadis yang kusukai sejak dulu."
Membuat Hermione berhenti tertawa. Ia pun menoleh ke arah Harry. Apalagi tangannya kini digenggam kuat oleh Harry.
"Harry ... Kamu benar-benar suka sama aku?"
Harry menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Ya, benar. Aku benar-benar suka sama kamu. Aku benar-benar sayang kamu, Hermione."
Hermione terpaku mendengarnya. Sedetik kemudian, dia tertawa kecil.
"Aku ... Aku juga suka kamu, Harry."
GREP!
Secara langsung Hermione merangkul leher Harry. Harry membalas pelukan Hermione. Ia tersenyum senang. Sementara Hermione menitikkan air matanya saking terharunya.
Mereka berpelukan dengan erat di antara orang-orang yang mondar-mandir di tempat itu. Tidak ada seorang pun yang menonton kemesraan mereka. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Begitulah keadaan orang-orang di luar sana.
Setelah lama berpelukan, Harry dan Hermione melepaskan pelukan masing-masing. Mereka tersenyum bersama karena sudah menyatakan cinta mereka.
"Aku mau tahu sejak kapan kamu menyukai aku, Harry? Terus kenapa kamu bisa menyukai aku?" tanya Hermione seraya menggenggam tangan Harry.
Harry tersenyum sambil melihat ke arah lain.
"Aku suka kamu sejak lama. Ya, waktu SMP-lah. Terus kenapa aku menyukai kamu, karena kamu adalah temanku yang terbaik. Itu saja."
"Itu saja alasannya?"
"Ya, begitulah."
"Hm, baiklah. Aku paham kok."
Harry menatap wajah Hermione lagi. Hermione juga menatap wajah Harry.
Lantas Hermione melepaskan kacamata Harry. Membuat Harry tersentak.
"Eh, Hermione. Apa yang kamu lakukan?" Harry kelabakan dan mengedipkan matanya yang kurang jelas untuk melihat.
Hermione menyembunyikan kacamata Harry di saku baju seragam sekolahnya. Lalu ia memegang dua pipi Harry. Diperhatikannya dengan seksama wajah Harry.
"Ternyata tanpa kacamata, kamu tampan juga ya, Harry."
"Tapi, tanpa kacamata. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Jadi, kembalikan kacamataku sekarang juga."
"Aku tidak akan mengembalikannya."
"Hermione, kamu mau apa?"
Terjadilah suatu peristiwa yang tidak disangka-sangka. Namun, yang pasti mereka saling mendekat dan mendekat. Lalu terjadilah insiden yang sangat mendebarkan hati di antara Harry dan Hermione.
Saat adegan itu berlangsung, ternyata ada seseorang yang melihatnya. Dia adalah Ginny. Dia menangis karena Harry sudah berdekatan dengan teman baiknya. Bahkan sudah mesra seperti itu.
Ginny cemburu. Ginny kecewa. Ia pun berlari cepat meninggalkan tempat yang sangat menyesakkan dadanya sekarang. Cemburu dan sakit hati menguasai jiwanya. Cintanya sudah bertepuk sebelah tangan.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ... Harry. Kamu sudah melukai hatiku. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Kak Ron, aku gagal mendapatkan cintanya Harry. Hiks ...," gumam Ginny pelan. Ia terus menangis sambil berlari menuju asrama. Menerobos orang-orang yang lewat. Tanpa mempedulikan sumpah serapah orang-orang yang ditabraknya. Paling penting, dia segera menenangkan hatinya di asrama nantinya.
Inilah akhirnya. Kisah cinta Harry dan Hermione yang berakhir bahagia.
.
.
.
TAMAT
.
.
.
A/N:
Bagian yang terakhir, saya update juga nih!
Seharian ini, saya selesaikan mengetik cerita ini. Berhubung idenya ada dan masih hangat, semoga aja tepat sasaran.
Akhirnya, happy ending. Saya sudah berusaha agar endingnya happy dan nggak ada sedihnya. Mungkin karena baru di fandom ini, saya nggak tahu feelnya udah dapat atau belum. Soalnya saya udah lama nggak nonton Harry Potter lagi. Jadi, lupa-lupa ingat tentang siapa-siapa aja karakter di dalam Harry Potter itu.
Boro-boro mau nonton, saya aja dilarang nonton film sampai lewat tengah malam sama abang saya. Saya disuruh tidur cepat. Jadi, nggak bisa nonton deh. Apalagi kalau ada film horror atau acara-acara mistis kayak Dunia Lain gitu. Pasti abang saya menukarnya dengan channel lain dan menyuruh saya tidur cepat karena sudah lewat tengah malam. Ya, udah daripada diomelin mending saya tidur aja sambil mengetik cerita di hp sampai tertidur. Hehehe ... ^^
Sekian dari saya dan terima kasih udah mau singgah membaca cerita ini.
Thank you for attention.
FROM
HIKARI SYARAHMIA
Jumat, 20 November 2015
Harap berikan review kamu di bawah ini ya. Pleaseeeeeee! ^^
