Disc: BoBoiBoy © Animonsta Studios
Warn! Future!All chara. Rivalry. Harem!Yaya. Typo. AT.
[Chapter II – Panggung dan Sandiwara]
Note:
Sebelum memulai cerita, sebelumnya aku pengen memberitahu tentang peran Boboiboy disini. Dalam cinta segitiga biasanya dua tokoh cowok itu yang good selalu biasa saja, sedang yang bad selalu 'lain' (bahasa kasarnya menyimpang dari tokoh good) dan itu yang buat tokoh antagonis itu lebih banyak fangirlnya. Tapi sayang, tokoh good selalu berakhir menang kalau soal romance straight harem.
Boboiboy dan Halilintar itu udah beda karakter, yesh memang benar. Boboiboy sebagai tokoh good dan Fang sebagai tokoh bad. Pasti semua condong Boboiboy yang bakal menang. Tapi jika yang keluar Halilintar, kesannya jadi Fang yang good sedang Hali jadi bad 'kan? Yaya yang selera cowoknya tinggi jadi dilema.
Awalnya memang aku ngambil Hali lalu mencari plotnya, tapi disini alasan terbesar aku mengambil AT karena tokoh Boboiboy itu cocok menjadi unpredictable personal. Jadi, skor Fang dan Hali(Boboiboy) itu bakalan sama.
=oOo=
Pertunjukan yang tidak dipasang tirai dan panggung, selamanya bukanlah cerita sebenarnya.
Sandiwara selalu dipraktekkan bukan hanya dari depan kursi-kursi kosong yang terpenuhi oleh para penonton. Tidak ada satu makhluk yang bisa dipercaya kalau ia berkata, "Aku telah jujur!" Kalian bisa saja sedang terbuai oleh aktingnya. Mungkin tidak apa, selama hal itu tidak mengancam nyawamu sendiri.
Suatu kebohongan, jika Boboiboy bukan pelaku utama dari segala keamarahan Halilintar jika berhadapan dengan Fang dan Yaya. Hanya saat dia bisa mengetahui rumus matematika jika irisnya berubah itu belum cukup. Alasan yang dikatakan dengan suara seakan pelan dan nada bingung itu tidak bisa dipegang teguh.
Tapi ia selalu bisa berbohong.
"Lagian apa yang kalian lakukan untuk mengisi waktu melamun membersihkan lantai?"
Pemuda beriris merah itu mengambil topi kebanggannya dari dalam tas. Tangannya yang satu lagi menyeimbangkan agar gagang sapu tidak jatuh. Sambil itu, kepalanya terus menatap lurus laki-laki berambut acak yang juga tidak kalah berwajah sinis.
"Sungguh mulia pasti niat Fang, ya Yaya? Atau..."
"Heh, Boboiboy! Niatku hanya untuk membantu Yaya di kelas menyapu karena dia sendirian! Aku tidak ada niat lebih dari itu!" sembur Fang membela.
"Terus kenapa kalau alasannya hanya berniat bantu kau membela kasar begitu? Mana ada orang yang bisa percaya ucapanmu, hmph!"
Ujung sapu teracung dengan jarak satu senti dari batang hidung pemilik kuasa petir. Tanpa tahu-tahu, pemuda berdarah Tionghoa itu sudah dekat dengan Boboiboy. Tatapan kedua mata Fang tajam. Tangannya sudah bergetar, menahan antara ingin memajukan jarak sapunya dan ingin sekali meninju hidung Boboiboy, ataumengurungkan niatnya dengan memundurkannya kembali.
"Aku tidak mengerti juga, kenapa kau harus ada di kelas saat aku sudah ada. Kau mengawasi gerakanku, ya?"
"Menguntit?" Halilintar mengendikkan kedua bahunya tertawa mengejek. "Lebih baik mengurusi hal seperti menjaga kedai kakek dari sekedar menguntitmu. Mau tahu kenapa?"
Halilintar memegang gagang sapu milik Fang, menurunkannya keras sampai tangan Fang juga ikut turun. Iris merah delima Boboiboy menatap lekat, memancarkan aura kengerian. Ditambah dengan ia mengenakan topi ke depan seperti itu, bayangan ujung topi yang menutupi sepertiga wajahnya menambah aksen kengerian bagi yang memandangnya.
"Aku melihat kau menunggu lama di tembok dekat aula. Kau tahu, kukira kau mau menculik Yaya untuk menjadi mainan pelepas stressmu," jari telunjuk Halilintar mengangkat kuat dagu Fang. "Dan asal kau tahu, kalau kau berani saja menyentuh Yaya... bahkan rambutnya sehelai saja, aku takkan mengampunimu. Kau tahu kalau listrik statis itu bisa membuat orang mati, hmm?"
Bibir Fang bergetar. Ia berkeringat dingin. Tentu Fang tahu bagaimana sakitnya terkena listrik. Juga tidak jarang ada desas-desus kebanyakan orang yang tinggal pada tempat mereka mati karena 'itu' juga.
Plak! Sesuatu menepak tangan Halilintar menyentuh wajah Fang. Sangat kuat.
"Dari kecil kau tidak pernah berubah pandangan pada Fang!"
Halilintar menoleh, mendapati wajah kusut perempuan berhijab merendam panas hatinya sampai wajahnya memerah.
"Saat itu juga kau menuduh Fang jahat, mentang-mentang dia bersengkokol dengan Adu Du saat itu!" semprot Yaya. "Kembalikan Boboiboy biasanya! Aku tidak suka Boboiboy ini! Halilintar jahat!"
Halilintar membelalakkan matanya. Kaget dengan mulut tidak manis dilontarkan perempuan muslim itu.
"Kau selalu kelihatan kayak orang cemburu—FANG ITU HANYA BERNIAT BANTU!"
Langsung saja Yaya membuang sapunya pada lantai kelas, mempercepat langkahnya mengambil tas yang tergeletak pada meja.
"Yaya!" Halilintar mendekati Yaya buru-buru. Ketika mereka berpapasan pun, Halilintar juga ikut berpaling dari arah jalannya awal dan menggiring jalan perempuan itu. "Yaya! Kau harus mengerti, aku melakukan hal ini untuk melindungimu. Percayalah—"
Poin telunjuk teracung pada wajah pemilik kuasa petir. Spontan Halilintar menghentikan langkahnya.
"Jangan banyak alasan. Aku capek lihat kamu seperti orang cemburuan! Apalah apalah aku selalu dilarang. Memang kau siapa aku? Pemimpin geng superhero? Jadi karena itu kau jadi senonoh mengaturku?"
Fang merasakan aura mengerikan dari Yaya. Ia hanya bisa berdiam, lalu memungut sapu milik Yaya yang terjatuh.
"Jangan ganggu hidupku lagi. Tolong, jangan."
Laki-laki bertopi itu membiarkan Yaya meninggalkannya. Tatapan pemuda beriris merah itu sekilas sendu. Ia menoleh Fang sebentar, dan mimik wajahnya langsung menjadi dingin. Namun hanya berlangsung kian detik saja. Setelahnya, Halilintar menghela napasnya.
Susana kelas begitu hening. Sebenarnya Fang mengambil kuda-kuda, andai saja pemilik kuasa petir itu sudah mengacungkan pedangnya. Tapi ia rasa pemuda itu kali ini tidak mau mengambil kericuhan.
"Halilintar, aku tahu kau begitu menyayangi Yaya. Tapi poin terpenting untuk bersaing, adalah kesabaran."
"Jangan sok menasehatiku."
"Dan juga kau harus mengerti, mana disaat orang memang membantu juga mana disaat orang modus. Aku memang berniat untuk bersaing denganmu, tapi tidak dengan cara sampai menyakiti perasaan permaisuri kita sendiri!"
Kini dari masing-masing belah tangan Fang memegang sapu. Salah satunya lagi-lagi mengacung pada lawan bicaranya. Namun kali ini, arahnya menuju pada dada bidang pria berjaket merah itu.
"Kalau kau sekali lagi menyakiti hati putriku, mau kau pangeran atau raja dari negeri lain... aku akan angkat pedangku, menghunus bilah milikku meski dadaku terhunus. Aku akan lenyapkan siapapun yang berani menyakiti Yaya!"
Halilintar memilih untuk diam. Fang menurunkan gagang sapunya.
"Dan juga, kalau aku menyakitinya... aku akan bunuh diri."
"Cih, kau bahkan terlihat melankolis dari dulu."
Halilintar menggunakan sapu yang dari tangannya yang digenggam sejak lama. Tangannya menggerakkan sapu itu ke kiri dank e kanan, menyapu lantai.
"Tapi sudahah, Halilintar memang Halilintar. Daridulu memang serba emosian jika diremehkan."
Kali ini Halilintar mendongak, menoleh pada Fang yang demikian giat menyapu. Bibirnya tersenyum sedih.
'Yah, Halilintar...'
=oOo=
Halilintar dikenal sebagai personal yang tidak pandang bulu bertutur. Dia juga tidak mau diremehkan. Mereka menganggap sisi Boboiboy yang ini cukup menyeramkan, karena dia meledak pada situasi yang siapapun juga bila berada dalam posisinya pasti akan marah.
Hanya saja Boboiboy sedikit bingung dengan kebanyakan temannya yang menganggap pecahannya itu adalah orang lain—selain Gempa tentunya.
Tadi juga Yaya marah dan mengatakan Boboiboy lebih baik menjadi Boboiboy saja.
'Sebenarnya, apa pendapat mereka tentangku? Orang yang baik?'
Boboiboy menghempaskan tas ranselnya pada ranjang. Ia membuka jaket simpel jingga berlengan panjang miliknya kemudian menggantung pada sisi dinding kamar miliknya.
Kamar yang sudah ia huni sejak dari kelas 5 SD. Ia masih nyaman dengan kamar tidurnya yang berada pada bawah atap langsung. Enak tahu, punya kamar di lantai dua. Meski kini bed covernya yang dulu adalah gambar, diubah menjadi polos saja. Lalu juga dari meja belajarnya tergeletak sebuah laptop.
Pemuda itu menghempaskan badannya pada ranjang. Ia memposisikan tubuhnya ke kanan, memandang keluar jendela.
"Yaya marah denganku. Padahal menurutku Halilintar itu keren, tapi—"
Boboiboy langsung saja menghela napasnya.
"Tapi... "
Tubuhnya ia posisikan menjadi duduk. Kepalanya menunduk, merenung.
"Khhh—Kenapa? Aku kira kau bakal terpesona dengan laki-laki pemberani yang pencemburu—" kedua mata laki-laki yang belum mau melepaskan topinya itu menyipit. Bibirnya ia gigit cukup kuat.
'Kukira kau suka aku yang menjadi Halilintar—tidak... kukira kalau aku menjadi Halilintar, akan lebih nyaman menyatakan perasaan ini..'
"Boboiboy, ayo makan!"
'Yaya... Yaya... Andai kau sadar perasaanku padamu bagaimana...'
"Boboiboy?"
Boboiboy terperanjat kaget. Ia merasakan pundaknya disentuh barusan. Kepalanya ia toleh, mendapati sosok robot berbentuk bola dengan nuansa kuning kini ada di sampingnya.
"Kenapa sih? Kau kayaknya sedih," tegur robot kuasa.
"Eh? Memang seperti itu ya, Ochobot?"
"Hmm... sudahlah. Ayo kita makan bareng, kakek menyuruhku memanggilmu makan."
"Oh... tunggu, aku ganti baju dulu. Baru pulang sekolah"
"Dasar."
"Hehe."
Berpura-pura tidak tahu apa-apa untuk menangkal pertanyaan orang. Itu cara ampuh Boboiboy untuk mengusir jika masalahnya terancam akan dicampuri orang lain. Disertai senyuman. Padahal dalam hati begitu kecut mendengar orang begitu perhatian padanya.
Seragam putihnya terganti dengan kaos oblong abu-abu polos juga celana pendek. Ia berdiri untuk menyambut robot melayang yang ada pada kamarnya itu.
"Yuk, kita makan."
Seakan menyatakan, biarkan hanya Boboiboy yang tahu akan masalahnya sendiri.
=oOo=
Boboiboy sudah membayangkan karma dari perbuatannya kemarin. Dibenci Yaya sampai membuang muka jika mereka bertatap empat mata. Dalam kelas ia hanya bisa mendengar suara gadis itu bersenda gurau, yang ditujukan bukan kepadanya.
Kenyataannya memang seperti yang dibayangkan pemiik kuasa lima itu. Pagi hari, Yaya tidak mencoba bersapa hangat dengan memamerkan senyuman. Namun pada Fang, Yaya masih bisa bersikap biasa.
'Aku janji, Yaya... Aku janji tidak akan membuatmu marah...'
'Aku khilaf, maafkan aku Yaya...'
Beberapa kali Boboiboy meluapkan rasa gelisah hanya lewat batin. Dalam pelajaran kimia dimana seorang guru sedang menjelaskan pun, Boboiboy hanya bisa memapah sebelah pipinya dari belakang dan memandang punggung perempuan yang ia sebut-sebut namanya.
Mana bisa Boboiboy konsentrasi untuk belajar.
Suara bel tiga kali tanda istirahat dibunyikan. Kelas terdengar riuh oleh suara kemerdekaan teman-temannya. Kebiasaan, selalu begitu saat di depan pelajaran membosankan.
Boboiboy menurunkan tangannya dari pipi. Ia hela napas. Perempuan yang duduk pada bangku di depan dia belum juga bangkit. Satu sisi Boboiboy kagum dengan Yaya yang jarang memanfaatkan waktu istirahat untuk melepas rasa penat di otak.
Aura kali ini sedikit berbeda dari beberapa menit silam. Boboiboy menegapkan posisi duduknya ketika perempuan di depan itu memutar tubuhnya tepat di depannya. Kedua pasang mata mereka saling memandang. Sejenak, Boboiboy mendapati Yaya memberi senyumnya.
"Boboiboy, maafkan aku kemarin."
Yaya mengatakan kalimat itu begitu hangat.
"Aku kemarin terlalu memikirkan ingin cepat pulang karena mau bantu ibu masak. Pikiranku memang sempit waktu itu," sesal Yaya. "Maafkan aku, ya?"
"Engh—m—masama—" lidah Boboiboy begitu kelu.
"Kok masama? Gapapa dong!"
Boboiboy mengerjapkan sepasang matanya, "A—ah! Aku mau bilang itu tadi!"
"Lagian juga aku tahu, kau tidak mungkin menganggap Fang musuh sekarang," ucap Yaya lembut. "Aku tahu yang salah itu Halilintar, bukan kamu."
Jantung Boboiboy berderup cepat. Sesaat paparan wajahnya terlihat sedih.
"...Iya, Halilintar memang sedikit labil," balas Boboiboy diselingi tawa. "Dia terlalu menganggapmu teman."
"Dia terlalu posesif, makanya aku tidak suka dengannya. Tapi kau beda, Boboiboy. Kau baik, tidak mudah marah, kuat, jagoan juga."
Sesaat Boboiboy merasakan dadanya begitu sesak. Ia tidak dapat menarik napas seperti biasa. Udara serasa mati.
Tapi ia mencoba tenang. "Iya, aku juga tidak tahu kenapa Halilintar berbeda denganku."
Boboiboy tersenyum.
'Yaya memang tidak boleh tahu, sebenarnya biar aku berubah atau tidakpun... aku memang cemburu kalau kau bersama laki-laki lain.'
"Hei Fang mana ya? Kita ke kantin bareng yuk!"
'Antara sandiwara atau tidak, aku juga tidak tahu. Tapi aku juga merasakan sensasi lain setiap kali menjadi Halilintar. Karena ketika aku berubah menjadi elemen lain, rasa hatiku tidak sepanas saat menjadi Halilintar. Dan—'
"Boboiboy?"
"Eh?"
Yaya menarik tangan Boboiboy segera. "Ayo, Ying dan Fang sedang di kantin."
Boboiboy membiarkan tubuhnya ditarik perempuan itu keluar kelas. Sebenarnya ia sedikit heran dengan sikap Yaya yang jauh lebih hangat padanya dari hari biasa. Wajahnya ia rasa sedikit hangat.
'—Aku tidak tahu—aku tidak mengerti, Halilintar memang jatuh cinta padamu atau aku—aku atau personaku sendiri...'
'—Siapa yang jatuh cinta pada Yaya? Tolong jawab!'
=oOo=
Yaya membalas lambaikan laki-laki dan perempua yang duduk berdua pada satu bangku bundar. Boboiboy saat itu juga ikut menoleh, mengulas senyum.
"Hei! Kalian pesan apa?" tanya Yaya sesudah menghampiri kedua insan ras Tionghoa itu. Fang memamerkan sebungkus donat dari tangannya.
"Cie yang masih belum bisa move on dari makanan kegemaran," ejek Boboiboy.
"Mana ada makanan enak disini. Kalau ada, itu makanan berat," timpal Fang. "Kalian mau pesan apa? Biar Ying yang traktir," lanjut Fang sambil tersenyum penuh makna.
"Heh! Harusnya kamu yang traktir!"
"Alah tadi katanya habis menang olimpiade se-negeri. Pasti banyak honornya," balas Fang.
Ying mengerucut bibirnya, "Ya sudah, kalian mau pesan apa?"
Boboiboy melihat daftar yang terpampang pada papan tulis di dekat sana, menimbang-nimbang. Sedangkan Yaya malah melirik pada donat yang ada pada genggaman lelaki berambut hitam keunguan itu.
"Donat? Aku boleh coba?" Yaya membuka suaranya.
"Kenapa tidak pesan saja?" sahut Ying.
"Sedikit saja... aku hanya sedikit penasaran bagaimana rasanya."
Yaya memang jarang sekali bisa mampir ke kantin. Jadi tidak heran ia tidak tahu rasa makanan dari daftar menu sana.
"Ya sudah."
Pemilik donat membukakan bungkus miliknya. Jemarinya menjepit satu sisi donat itu, menariknya. Awalnya Fang hanya mau mmenaruh bagian itu pada telapak tangan Yaya—
—tapi entah kenapa Yaya malah mencondongkan badannya ke depan, membuka mulutnya, seperti minta disuap.
Tangan Fang gemetar. Dia takut kalau melakukan seperti niatnya, Yaya akan tersinggungb karena menganggap tindakannya memalukan. Jadi ia pun menggerakkan tangannya pada mulut pemilik kuasa gravitasi itu... dan...
Saat itu juga iris coklat laki-laki lain disana terbelalak. Sekejap, nuansanya berubah menjadi merah delima.
"DASAR COWOK MURAHAN! PEDANG HALILINTAR!"
Entah bagaimana kantin sekolah bisa jadi lapangan pertarungan adu kuat.
Dan disaat begini, mana Gopal?
"...ups," Ying berbisik. "Aku lupa bilang aku udah di kantin sama Gopal."
To be Continued
A/N:Makasih buat review, dan maaf chap ini kurang dibuat scene fangirl karena ada yang tanya kenapa harus Hali bukan Boboiboy. Makanya kalian jangan anggap diri kalian kalo berbuat aneh itu orang lain, ntar kayak Boboiboy ga ngerti dia siapa Hali siapa.
Saran dan kritik sangat diterima!
