Hi minna ketemua lagi sama Ai

Ai update chap 2 nih

Ada yang bilang kalau fic Ai sekarang ini mirip sama drama Korea

He...he...he... emang bener kok :D

Ai buat fic ini terinspirasi dari drama Korea yang judulnya Yuu hee the witch *kalau gak salah*

Tapi alurnya Ai ubah, walaupun ada beberapa adegan yang Ai masukin ke fic ini he...he... *nyengir kuda*

Tapi mudah-mudahan para reader suka sama fic Ai yang geje ini

Sama kaya Ai suka sama drama Korea yang udah menginspirasi Ai buat bikin fic ini *gak ada yang nanya*

Desclaimer : Ai nyadar deh Bleach hanya milik om Tite Kubo

Rating : T

Pairing : Ichiruki

Genre : Romance and Drama

Warnings : Geje, Abal, Ancur, OOC, AU, Kalimat tidak baku, dll

.

Selamat membaca ^_^

.

Fashion Style

Chapter 2

.

.

XXXXXX

.

.

Ichigo POV

Aku sekarang sedang berada di dalam ruangan kerja wanita yang mengaku dirinya sebagai manager butik milik bos ku, Rukia Kuchiki.

"Jadi. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyaku to the point ke inti masalah.

Aku kini menunggu jawaban wanita itu, sambil duduk di kursi yang berada di depan meja kerjanya.

"Tadi pria-pria yang datang kemari mereka adalah penagih hutang." Katanya sambil menunjukan muka yang serius.

"Penagih hutang? Apa maksudmu? Apa butik ini punya hutang pada mereka?" Tanyaku tak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh wanita itu. Yang benar saja. Masa butik seorang Rukia Kuchiki memiliki hutang. Itu adalah hal yang mustahil.

"Bukan. Bukan butik ini yang memiliki hutang." Katanya.

Aku semakin tidak mengerti dengan semua ini. Kalau butik ini tidak berhutang, lantas kenapa mereka menagih hutang ke sini? Lalu jika butik ini tidak berhutang kepada mereka, kenapa manager itu memberikan uang yang tadi ku bawa?

Tapi aku tidak mengeluarkan sedikit pun pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal di pikiranku ini. Aku hanya diam menunggu wanita itu melanjutkan ceritanya dengan mengerutkan alis-alisku.

"Sebenarnya yang memiliki hutang adalah salah satu pegawai di sini. Dia meminjam uang kepada rentenir, tapi dia menandatangani surat perjanjian dengan rentenir itu atas nama butik ini. Makannya tadi para penagih hutang itu datang kemari karena pegawai itu tidak mengembalikan hutangnya yang sudah jatuh tempo." Jelasnya sambil menopangkan dagunya di ke dua tangannya.

"Kenapa tak suruh pegawai itu saja yang bertanggung jawab. Ini kan masalah yang cukup besar."

Aku berhenti dari ucapanku sejenak. Tak lama aku memulai kembali ucapanku yang aku tunda.

"Apakah pegawai itu sekarang masih kerja di sini?" Tanyaku penasaran.

"Em. Masih." Sontak aku membulatkan mataku. Bagaimana bisa dia masih dipekerjakan di sini? Dia bahkan tidak bertanggung jawab dengan perbuatannya. Apa lagi perbuatannya itu telah merugikan perusahaan. Kenapa dia masih bekerja di sini? Aku semakin bingung dengan situasi sekarang ini.

"Kenapa dia tidak dipecat saja? Perbuatannya ini kan sudah merugikan perusahaan." Kataku memutuskan untuk bertanya.

"Entahlah. Aku tidak tau dengan hal itu." Katanya sambil menaikan ke dua bahunya.

"Kenapa entahlah? Apa nona Rukia sudah tau dengan masalah ini?"

"Tentu saja sudah. Kau pikir nona Rukia menyuruhmu ke sini untuk apa?" Katanya lagi malah balik bertanya.

"Aku tidak tau. Dia tidak ceritakan hal itu padaku." Kataku dengan nada kesal.

"Kau ke sini disuruh oleh nona Rukia untuk mengantarkan amplop yang berisi uang itu padaku kan?" Tanyanya lagi. Aku hanya menganggukan sedikit kepalaku.

"Uang itu adalah uang untuk membayar hutang pekerja itu." Sahutnya lagi. Aku semakin tidak percaya bagai mana mungkin seorang Rukia Kuchiki dengan mudahnya menyerahkan uangnya untuk membayar hutang, yang hutang itu sama sekali bukan hutangnya. Walaupun aku baru sehari ini menjadi asisten pribadinya, tapi aku tau sedikit banyak sifat-sifat bos ku itu dari nona Rangiku.

"Kenapa dia membayar hutang yang tidak dia perbuat? Dan kenapa juga dia tidak memecat pegawai yang kau ceritakan tadi? Apakah nona Rukia benar-benar tau masalah yang sebenarnya terjadi?" Aku menghujani wanita yang ada di hadapanku itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggelayuti pikiranku saat ini.

"Tentu saja dia tau. Soal kenapa dia membayar hutang itu dan kenapa dia tidak memecat karyawan yang membuat hutang itu aku tidak tau. Dia itu orangnya tertutup. Kenapa tidak kau saja yang menenyakan hal itu langsung padanya?" Jawab manager itu.

Aku hanya memejamkan mataku dan mengecak rambut orange ku prustasi.

"Aghh... Kenapa bos ku itu terlalu tertutup sih?" Tanyaku pada diri sendiri. Entah mengapa aku sangat-sangat penasaran dengan wanita yang menjadi bos ku itu.

"Kau kenapa?" Wanita itu melihat ke arah ku dengan tatapan yang khawatir karena ulahku tadi.

"Apa? Tidak apa-apa." Ucapku padannya untuk meredakan kekhawatirannya kepadaku.

"Sebaiknya kau istirirahat saja dulu, kau pasti cape dari tadi sudah bekerja kan." Tawarnya padaku sambil berdiri dari tempat duduknya. Lalu mengambil satu botol air mineral dari meja tamu yang ada di ruangan ini.

"Ini. Minum ini dulu." Katanya ramah padaku sambil memberiku air mineral yang tadi ia ambil.

"Ya terima kasih." Aku menerima air mineral yang berada di tangannya dan langsung meminumnya sampai setengahnya.

"Jadi kau ini asisten pribadi barunya nona Rukia ya?" Tanyanya sambil kembali duduk di tempatnya semula.

"Em.. Begitulah. Aku baru bekerja hari ini." Kataku sambil kembali meminum air mineral yang ada di tanganku.

"Pantas aku baru melihatmu. Tapi aku tidak pernah terkejut dengan semua itu. Nona Rukia selalu mengganti asisten pribadinya jika dirasa olehnya asisten pribadinya itu sering melakukan kesalahan. Tapi ia hanya akan memecat bawahannya jika bawahannya itu melakukan kesalahan dalam bekerja. Tapi kalau kesalahan itu menyangkut dengan diri pribadinya dia tidak pernah memasalahkannya. Dia itu sepertinya tipe orang yang sangat susah sakit hati ya. Pasti enak menjadi orang seperti dirinya itu. Tidak pernah merasa sakit hati atau merasa jengkel di bicarakan orang yang tidak-tidak. Aku ingin menjadi orang yang seperti dirinya." Kata wanita itu panjang lebar

"Kau mau seperti dirinya yang dingin, judes dan galak itu? Nanti kalau kau menjadi seperti dirinya kau tidak bisa dapat kekasih lo." Kataku tersenyum ramah ke arahnya. Sekilas aku melihat perubahan wajah dari lawan bicaraku itu. Sepertinya tadi aku melihat wajahnya berubah menjadi sedikit merah.

"Ka-kau benar ha...ha...ha..." Katanya dengan gaya kikuk dan tawa yang garing.

"Mungkin itulah yang membuat sampai sekarang nona Rukia belum mendapatkan kekasih. Aku dengar sampai umurnya kini menginjak 23 tahun, dia belum pernah sekali pun mendapatkan seorang kekasih." Katanya sekarang jauh lebih tenang.

Hey tunggu dulu. Apa yang barusan dia katakan? Bos ku itu yang menurutku sangat-sangat manis itu belum pernah mempunyai seorang kekasih? Masa sih tidak ada laki-laki yang mau dengannya? Tapi wajar juga sih kalau di pikir-pikir. Sifatnya yang seperti itu, akan membuat laki-laki yang ingin menjadi kekasihnya takut sebelum bertanding. Kasihan juga ya dia. Tapi apa dia tidak mau mencari seorang kekasih? Tampaknya dia itu santai-santai saja dengan statusnya saat ini yang tidak pernah punya kekasih.

"Apa benar semua itu?" Tanyaku sedikit mendekatkan wajahku ke wajah manager itu.

"Be-benar. I-itu yang ku dengar." Kata wanita yang bernama Orihime itu. Kalau aku tidak salah mengingat namanya.

"Begitu ya." Aku menjauhkan kembali wajahku yang mungkin berada satu meter dari wajah wanita itu tadi.

"Menurut mu nona Rukia itu orangnya seperti apa?" Tanyanya sedikit malu.

"Bagaimana ya." Kataku sambil memainkan jam weker yang ada di meja kerja Orihime.

"Aku baru satu hari ini bekerja dengannya, itu pun aku hanya bertemu dengannya 2 kali. Tapi. Menurutku dia manis. Sayang sifatnya itu, aku sedikit tidak suka." Kataku masih memainkan jam weker itu di tangan ku.

Ngomong-ngomong soal jam. Sudah jam berapa sekarang? Ku lihat baik-baik jarum yang menunjukan angka setengah empat kurang sepuluh menit. Mataku kini benar-benar membulat sempurna. Jam setengah empat kurang. Oh tidak.

"Akh... Gawat, gawat." Aku berteriak sampai hampir saja kursi yang ku duduki itu menjatuhkan ku.

"A-ada apa?" Tanya Orihime khawatir.

Aku benar-benar melupakan tugas untuk mengirimkan surat undangan pelirisan majalah fashion nona Rukia. Kalu aku sampai telat untuk mengirimkannya, matilah aku. Tapi kalau aku sekarang pergi mengambil laptopku yang berada di dalam mobilku. Tidak akan sempat saat ini.

"Orihime apakah aku boleh meminjam laptop mu?" Tanyaku di sela-sela kepanikan yang ku rasakan.

"Bo-boleh." Katanya sepertinya dia bingung aku meminjam laptonya.

"Ini." Ia memberikanku tas yang berisi laptop miliknya.

"Terima kasih. Apakah kau punya modem. Kalau boleh aku pinjam juga." Kataku sambil duduk di atas kursi tamu di ruangan kerja wanita yang baru saja ku kenal itu.

"Ambil saja. Ada di dalam tas itu juga."

"Oh. Ya." Aku membuka tas itu dan mengeluarkan laptop dan modem yang ada di dalamnya.

"Akan ku ganti pulsanya nanti." Kataku sembari menghidupkan laptop itu.

"Tidak usah. Gunakan saja. Tidak usah memikirkan pulsanya." Katanya ramah padaku

"Ehm.. Terima kasih Orihime." Ucapku tulus.

"Ya. Kalu begitu aku keluar dulu ya. Ada banyak yang harus aku urus." Katanya sambil pergi menginggalkan ku yang tinggal sendiri di ruangan ini.

Aku hanya mengangguk ke arahnya. Setelah dia pergi aku fokuskan pandanganku menuju layar laptop yang menjadi penentu hidup dan matiku sekarang.

.

.

XXXXXX

.

.

Ah...! Akhirnya selesai juga pekerjaanku yang satu ini. Jam 03.55 P.M, itulah waktu yang ditunjukan oleh jam tanganku sekarang. Berarti aku menyelesaikan tugas ini sebelum jam empat sore. Untunglah mungkin jika aku tidak mengerjakan tugas ini sesuai dengan tepat waktu bos ku itu pasti sudah menendangku dari kantornya. Aku beruntung sekarang. Tapi lain kali aku harus benar-benar berhati-hati jika sedang bekerja. Ingat waktu jika sedang mengobrol apa lagi disaat waktu kerja. Itulah hal yang akan selalu aku ingat dalam memori pikiranku.

Kreek...!

Aku melihat Orihime membuka pintu ruang kerjanya dan menutupnya kembali sedikit pelan.

"Jadi. Apakah urusanmu sudah selesai sekarang?" Katanya bertanya disaat yang tepat. Saat pekerjaanku ini sudah selesai.

"Sudah. Ini, terima kasih." Ucapku sambil mengembalikan laptopnya. Kemudian memposisikan tubuhku setengah berbungkuk di hadapannya.

"Tidak usah seperti itu. Aku jadi tidak enak." Sahutnya. Lalu menaruh tas berisi laptopnya ke atas meja kerjanya.

"Aku benar-benar berterima kasih padamu. Jika kau tidak membantuku tadi, mungkin aku sudah di pecat oleh nona Rukia."

"Memangnya kenapa nona Rukia harus memecatmu?" Tanyanya, terlihat sekali raut mukanya yang kebingungan.

Oh ya aku ingat. Aku belum memberitahukannya kenapa aku tadi meminjam laptopnya tiba-tiba.

"Tadi itu aku diberi tugas oleh nona Rukia untuk mengirimkan surat undangan pelirisan majalahnya yang ke 78 dua hari lagi. Aku harus mengirimkannya via e-mail, dan harus mengirimkan surat undangan itu sebelum jam empat sore." Jelasku padanya.

"Oh." Katanya ber oh ria.

"Aku benar-benar berhutang padamu. Bagaimana aku membalasnya?" Tanyaku. Aku merasa tidak enak jika diberi bantuan secara cuma-cuma. Apalagi aku mungkin saja mengganggu pekerjaannya.

"Tidak usah." Aku semakin tidak enak padanya saat ini. Raut mukaku mungkin sekarang sudah berubah menjadi raut muka malu sekaligus tidak enak kepadanya.

"Tapi jika kau mau. Bagaimana kalau kau menteraktirku makan hari ini?" Katanya mengubah pendiriannya. Mungkin dia menyadari raut mukaku yang berubah.

"Baiklah. Di mana kita akan makan?" Tanyaku bersemangat seperti biasa.

"Aku tau restoran Itali yang menu-menunya enak di Tokyo." Jawabnya bersemangat juga.

"Ok. Aku juga sekalian ingin pulang."

"Sekarang?" Tanyanya

"Tentu saja." Aku bergegas untuk keluar dari ruang kerja Orihime.

"Apa nona Rukia tidak akan marah?" Tanyanya lagi. Aku yang kini sudah berada di luar ruang kerjanya, menghampirinya yang kini masih diam mematung di dalam sana.

"Ini kan memang sudah waktunya untuku mengakhiri pekerjaanku hari ini." Jelasku padanya

"Tapi kau kan asisten pribadi nona Rukia. Jadi kapan saja dia membutuhkanmu kau harus selalu siap kan?" Tanyanya lagi sambil menundukan kepalanya.

"Memang. Tapi dia juga tidak bisa melarangku untuk pergi bersenang-senang kan. Jika dia melakukannya nanti aku akan melaporkannya ke Komnas HAM." Jawabku sedikit bercanda. Tapi memang benar ko. Walaupun aku ini asisten pribadi nona Rukia, tapi dia tidak bisa semaunya melarangku mendapatkan kebahagianku.

"Tapi bagaimana ka~."

"Ah! sudahlah ayo." Kataku memotong ucapannya sambil menarik pergelangan tangannya menuju parkiran di mana mobil ku terparkir.

Entah aku yang salah lihat atau hanya perasaanku saja. Tadi aku sedikit melihat wajah Orihime yang berubah menjadi sangat berseri, matanya juga berbinar-binar. Ditambah lagi suhu badannya sepertinya sedikit naik. Apa dia senang aku menarik pergelangan tangannya?

Ichigo POV End

.

.

XXXXXX

.

.

Rukia POV

"Baiklah apakah anda setuju dengan kontrak yang saya tawarkan?" Tanyaku pada calon salah satu modelku yang akan memperagakan busana-busana karyaku pada fashion show minggu malam nanti.

"Jika anda setuju, anda bisa menandatangani kontrak ini di sini." Kataku sambil menunjukan tempat model itu membubuhkan tanda tangannya di atas kertas kontrak.

"Atau mungkin anda mau mempertimbangkannya lagi, juga boleh. Hanya saja besok anda harus sudah tau jawaban anda. Yah anda tau kan saya sudah tidak punya banyak waktu lagi." Kataku ramah dengan senyum yang mengembang di wajahku. Aku tau senyum itu pasti terlihat seperti senyum yang dipaksakan, karena memang begitulah adanya. Aku paling tidak bisa tersenyum tulus setelah kejadian itu.

"Tidak. Saya terima kontrak ini. Saya akan merasa terhormat sekali jika bisa memperagakan busana-busana yang anda buat. Model mana sih yang tidak mau dikontrak oleh perancang terkenal seperti anda." Kata perempuan berambut panjang hijau toska itu. Dia kemudian menandatangani kertas kontrak yang sebelumnya telah kutandatangani.

"Baiklah. Selamat bergabung dengan perusahaan kami." Kataku sambil menjabat tangan model yang bernama Neliel itu.

"Ya mohon bimbingannya." Sahutnya ramah.

"Baiklah. Karena urusannya sudah selesai saya pamit dulu." Kataku padanya.

"Oh kenapa buru-buru. Kita makan saja dulu." Katanya menawariku. Memang sekarang ini aku sedang berada di salah satu restoran masakan Jepang yang terkenal di Tokyo.

"Terima kasih. Tapi saya masih memiliki banyak urusan." Kataku sambil bergegas berdiri dari tempat duduk.

"Oh. Ya tidak apa-apa kalau begitu, saya mengerti seorang presdir seperti anda pasti sangat sibuk kan?" Katanya sambil berdiri dari tempat duduknya juga.

"Iya, begitulah." Kataku sambil tertawa garing.

"Kalau begitu saya pamit." Kataku sambil menundukan kepalaku sedikit ke arahnya.

Dia hanya menanggapinya dengan menundukan kepalanya juga ke arah ku.

Setelah itu aku bergegas pergi dari restoran itu dengan sedikit berlari. Masih ada 5 pertemuan lagi yang harus aku urus. Aku harus cepat-cepat sekarang, aku sudah hampir telat untuk bertemu dengan Direktur dari Sakura Blue corporation, Grimmjow Jeagerjaquez. Sakura Blue corporation adalah salah satu perusahaan yang akan mengiklankan hasil produksi mereka di majalah fashionku edisi bulan depan, atau edisi 79 tepatnya. Memang perusahaanku itu baru saja akan meliris majalah fashion edisi yang ke 78. Itu berarti edisi 79 masih satu bulan lagi baru akan diliris, itu pun jika tidak ada gangguan. Tapi perusahaan-perusahaan yang meminta agar produk-produk mereka diiklankan di majalahku sudah sangat menumpuk. Aku bersukur dengan keadaan yang seperti ini, berarti usahaku ini sudah lebih maju dari pada yang sebelumnya.

.

.

XXXXXX

.

.

Aku cepat-cepat memarkirkan mobil semi sport merahku di tempat parkiran yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk restoran yang menjadi tempat bertemuku dengan Direktur Grimmjow. Agar jika nanti aku sudah selesai dengan pertemuan atau bisa dibilang sebuah rapat ini aku bisa langsung pergi ke tempat pertemuanku yang lain, tanpa harus mencari tempat parkiran mobilku yang jauh. Aku cepat-cepat berlari menuju pintu masuk restoran itu. Aku sudah telat satu menit dari jadwal yang telah ditentukan.

"Aduh." Kataku mengaduh. Aku merasa tadi ada yang menabrak ku atau aku yang menabraknya, aku tidak tau. Kini aku terduduk di lantai pintu masuk restoran.

"Ah. Maaf aku tidak sengaja." Kata orang yang mungkin tadi menabraku. Dia kemudian mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

Aku tidak menanggapi uluran tangannya itu. Aku bisa berdiri sendiri. Ku Dongkakan kepalaku untuk melihat orang yang menabraku tadi. Tapi, sepertinya aku pernah melihat setelan baju ini.

"Kau. Sedang apa kau disini?. Bukannya aku menyuruhmu untuk mengirimkan undangan pelirisan majalahku." Aku berkata ketus kepada orang yang sudah menabraku tadi.

"Semua tugas yang anda berikan kepada saya sudah saya selesaikan dari tadi. Lagi pula ini sudah waktunya saya untuk menikmati waktu-waktu istirahat saya nona." Katanya padaku.

Aku hanya mendecak mendengar jawabannya itu. Ku alihkan pandanganku kini ke belakang asisten pribadiku. Aku melihat manager butiku yang berada di Karakura ada di sana.

"Orihime." Kataku memastikan apakah orang yang kulihat itu adalah Orihime atau bukan. Walaupun sebenarnya akau sudah tau sih dia itu manager butiku di Karakura.

"Selamat sore nona." Katanya menyapaku ramah, seperti biasa.

"Em... Jadi kalian sudah saling mengenal sekarang. Apakah kalian datang ke sini untuk berkencan?" Tanyaku pada mereka berdua dengan suara dinginku seperti biasa.

"Ti-tidak nona. Aku mengajaknya ke sini karena aku ingin membalas kebaikannya padaku." Kata asisten pribadiku itu.

"Oh, ya sudah." Kataku ketus.

"Nona ke sini sedang ada urusan apa?" Tanya Orihime ramah padaku.

"Aku ad~." Oh my God. Bukannya aku kemari karena ada meeting yang harus aku urus. Kulirik jam tangan berwarna ungu di pergelangan tanganku. Sudah lewat 5 menit dari jadwal. Oh tidak, aku harus segera cepat.

Aku berlari ke dalam restoran itu, meninggalkan ke dua pegawaiku yang masih mematung di depan pitu masuk restoran. Mungkin mereka merasa heran dengan sikapku.

.

.

XXXXXX

.

.

"Maaf saya terlambat." Kataku sembari mengatur alat pernapasanku agar bekerja normal kembali.

"Tidak apa aku juga baru datang." Katanya sambil mempersilahkan aku untuk duduk.

"Jadi tuan Jeagerjaquez apakah anda masih berniat untuk memasang produk perusahaan anda agar diiklankan di majalah perusahaan kami ini?" Tanyaku seformal mungkin.

"Tidak usah seformal itu. Cukup panggil aku Grimmjow." Katanya padaku sangat ramah.

"Oh" Kataku memberi jeda yang cukup lama kepada kata-kataku selanjutnya.

"Jadi bagaimana Grimmjow apakah anda masih mau mengiiklankan produk perusahaan anda itu dimajalah perusahaan kami?" Kataku mengulang.

"Tentu saja. Tidak ada alasan untuk membatalkan rencana mengiklankan produk perusahaan kami di majalah mu." Katanya sambil tersenyum kepadaku.

"Ah. Begitu." Kataku sedikit canggung.

"Tapi mungkin untuk beberapa edisi majalah saya yang akan datang tidak bisa saya urus sendiri. Mungkin akan saya berikan tanggung jawab itu kepada manager Nemu Kurotsuchi sebagai pengganti saya. Anda tau kan selama beberapa bulan ini saya akan melakukan tour promosi karya saya yang baru. Jadi mungkin untuk proyek ini tidak akan langsung saya tangani sendiri. Bagaimana?" Tanyaku menanyakan pendapatnya.

"Tidak masalah. Bagiku asalkan proyek kerja sama perusahaan kita ini masih saling menguntungkan dan tidak ada masalah, ku rasa semuanya ok ok saja. Hanya saja, aku ingin proyek kerja sama kita ini sama bagusnya saat kau yang menanganinya langsung." Katanya memujiku.

"Te-tentu saja. Akan saya pastikan itu." Kataku sedikit malu dengan pujiannya tadi.

"Kalu begitu dimana aku harus menandatangani kontraknya?" Katanya yang sudah siap dengan sebatang bolpoint di tangannya.

Aku mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tas merah marunku. Dokumen itu berisi surat-surat kontrak perusahaanku dengan perusahaan-perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaanku untuk mengiklankan hasil produksi perusahaan mereka di majalahku.

"Di sini." Tunjuku pada bagian kosong untuk tanda tangan di surat kontrak itu. Dia kemudian membubuhkan tanda tangannya di kertas kontrak itu tanpa membacanya terlebih dahulu.

"Apakah tidak sebaiknya anda membacanya terlebih dahulu?" Tanyaku pada Grimmjow yang kini sedang meneguk wine yang tadi dia pesan.

"Tidak perlu. Aku percaya seorang Rukia Kuchiki tidak akan pernah berbohong soal perjanjian pekerjaannya." Katanya sambil tersenyum ramah ke arahku.

"Ah. Te-terima kasih." Kataku sedikit terbata-bata. Mungkin karena nada bicaranya yang kelewat ramah padaku.

"Baiklah. Mari bersulang untuk kerja sama perusahaan kita ini." Katanya sambil mengangkat gelas berisi winenya ke arahku.

Aku menyambut niatnya itu dan mengadukan gelasku dengan gelasnya, agar terdengar bunyi yang merdu saat gelas itu saling beradu. Aku kemudian meneguk sedikit gelas berisi wine miliku. Kemudian kembali menatap mata biru milik Grimmjow. Mata yang hangat. Itulah pikirku. Akh! Kenapa kau ini Rukia. Apakah seorang Grimmjow Jeagerjaquez telah berhasil merebut hati seorang Rukia Kuchiki yang dingin sedingin es itu. Apakah dia sudah berhasil mencairkan es di dalam hatiku ini? Entahlah, padahal aku baru pertama kali ini bertemu dengannya. Tapi, aku merasakan perasaan yang berbeda saat berbicara dengannya. Apakah ini yang dinamakan dengan perasaan suka, ataukah ini hanya perasaan kagum semata?

"Jadi hari jumat ini kau akan meliris majalah edisi terbarumu?" Tanya Grimmjow mengakhiri kesunyian yang kami buat.

"Be-begitilah. Kau juga boleh datang jika kau ada waktu." Kataku ramah padanya.

"Akan aku usahakan." Katanya sambil meneguk kembali winenya.

"Sepertinya aku harus segera pergi. Masih ada urusan di perusahaan yang harus aku urus." Kata Grimmjow sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Ah. Ya silahkan, aku juga kebetulan masih ada urusan." Kataku kecewa. Kecewa? Apakah aku benar-benar merasa kecewa karena Grimmjow kini akan pergi?.

"Kalau begitu aku duluan." Katanya lalu pergi meninggalkanku yang masih terduduk di kursiku. Aku tediam sebentar di kursi tempat ku terduduk saat ini. Lalu meneguk habis air putih yang ada di meja dalam sekali helaan napas. Sepertinya masih ada sekitar satu setengah jam lagi dari jadwal meetingku selanjutnya. Tapi aku putuskan untuk segera pergi ketempat pertemuan selanjutnya. Dari pada aku telat seperti tadi. Lebih baik aku menunggu saja di sana.

Aku kemudian berdiri dari duduk ku lalu pergi menuju mobilku. Aku melewati meja yang digunakan oleh asisten pribadiku dan juga manager butik ku di Karakura. Sepertinya mereka terlihat akrab sekali, mereka makan sambil sesekali tertawa renyah. Aku tidak mempedulikan mereka dan terus berjalan melewati mereka.

"Nona Rukia." Aku mendengar asisten pribadiku memanggilku. Aku menghentikan langkahku dan memutar tubuhku agar menghadap asisten pribadiku itu.

"Kenapa kau memanggilku?" Tanyaku seperti biasa dengan nada yang dingin.

"Apakah anda sudah selesai bertemu dengan pacar anda?" Katanya lagi. Aku mendekati meja Ichigo dan Orihime sekarang.

"Pa-pacar. Siapa yang kau sebut pacarku?" Tanyaku padanya sedikit agak gugup.

"Pria berambut biru tadi. Dia pacar anda bukan?"

"Bu-bukan. Dia bukan pa-pacarku. Dia itu rekan bisnisku." Kataku terbata-bata. Tapi kalu boleh jujur aku merasa senang Ichigo menyebutkanku pacar Grimmjow. Apakah kami terlihat seperti sepasang kekasih?

"Masa. Tapi tadi nona terlihat akrab sekali dengannya." Kata Ichigo menggodaku.

"Ti-tida juga." Kataku sangat-sangat gugup.

"Kau dan Orihime juga tampak akrab. Berarti kalian juga pacaran." Kataku mengalihkan topik pembicaraan. Aku sengaja melakukan itu supaya aku tidak terus terlihat bodeh dengan kelakuanku saat ini di depan asisten pribadi baruku itu.

"Begitu ya. Apakah kami ini terlihat seperti sedang pacaran?" Tanyanya cengengesan. Orihime saat ini hanya menundukan wajahnya ke arah lantai. Mungkin dia merasakan apa yang tadi aku rasakan saat Ichigo menyebutkanku pacaran dengan Grimmjow.

"Kenapa tanya padaku hah?" Tanyaku balik sambil melipat kedua tanganku di perutku.

"Tadi sendiri nona yang bilang begitu. Jadi saya bertanya pada anda. Jadi bagaimana, apa kami terlihat serasi?" Tanyanya lagi masih cengengesan.

"Kurosaki sudah aku jadi malu." Kata Orihime masih menundukan kepalanya.

"Aku tidak tau." Kataku ketus.

"Sudahlah kalian membuang waktuku saja." Kataku menurunkan lipatan tanganku. Dan membalikan tubuhku, lalu mulai berjalan menjauhi mereka.

"Heh." Aku membalikan lagi tubuhku untuk mengatakan sesuatu kepada asisten pribadiku yang kini tengah melahap makanan yang ia pesan.

"Siapkan makan malamku nanti. Kau beli saja di restoran ini. Apa saja, bawa saja ke apartemenku. Dan ingat aku ingin saat aku pulang nanti makan malamku sudah tersedia di meja makan. Ini kode kunci apartemenku." Kataku sambil melemparkan sebuah kertas yang ku gulung bertuliskan kode untuk membuka pintu masuk ke apartemenku.

"Jangan beri tahu siapa-siapa tentang kode itu. Hanya kau yang boleh tau. Jika sampai ada yang tau selain dirimu, maut akan segera menjemputmu." Kataku padanya dengan tatapan yang tajam. Siapa saja yang melihatnya pasti akan merasa takut.

"Kenapa nona tidak makan di sini saja?" Tanyanya dengan mulut yang masih mengunyah makanan. Dasar tidak sopan.

"Mana sempat aku makan disaat pekerjaanku sedang menumpuk seperti sekarang ini. Bodoh" Kataku dengan nada kesal.

"He...he..." dia tertawa kecil sambil menelan makananya.

"Sudahlah. Pokoknya saat aku pulang nanti, makanan untuku sudah selesai kau siapkan." Kataku lagi.

"Siap nona." Kata laki-laki berambut orange itu bersemangat.

Aku pun kemudian melanjutkan langkah kakiku lagi menuju mobil ku.

Rukia POV End

.

.

XXXXXX

.

.

Normal POV

Seorang pemuda berambut orange sekarang sedang memasuki sebuah apartemen mewah di kawasan elit di kota Tokyo. Apartemen itu bertiliskan nomor 1020 yang tertera di pintu depan apartemen itu.

"Jadi ini apartemen nenek sihir itu. Ternyata besar juga." Sahut pemuda itu sambil menjingjing sebuah bungkusan berisi makanan. Kemudian pemuda itu menaruh bungkusan itu ke atas meja makan di apartemen itu. Dia lalu melanjutkan acara meliha-lihat ruangan apartemen yang lebih luas dari apartemennya itu.

"Apa dia di sini hanya tinggal sendirian?" Tanya pemuda itu. Pastinya pertanyaan itu dia tunjukan untuk dirinya sendiri, karena tidak ada orang selain dirinya di dalam apartemen dengan nomor 1020 itu.

"Baiklah sekarang tinggal menyiapkan makan malam si nenek sihir itu." Kata pemuda itu. Ia lalu membuka bungkusan berisi makanan yang ia bawa tadi lalu meletakannya di piring yang sudah di sediakan sebelumnya.

"Selesai."

"Sekarang tunggu nenek sihir itu datang dan~" Kata-kata laki-laki itu terpotong karena sekarang sudah ada seorang perempuan bermata amethyst yang tengah berdiri di hadapannya.

"Kau sedang apa di sini?" Tanya wanita berperawakan mungil itu pada laki-laki tadi.

"Apakah nona lupa. Nona menyuruhku untuk menyiapkan makan malam untuk anda. Dan anda sendiri yang memberiku kode apartemen nona ini." Jelas pemuda itu. Tapi raut mukanya sepertinya shock berat, karena mungkin dia tadi mengatakan sesuatu yang akan membunuhnya. Tapi untung saja yang di kata-katai tidak mendengarnya. Dia sangat beruntung.

"Oh. Benar." Kata perempuan tadi dingin.

"Jadi apakah makan malamku sudah siap?" Tanya perempuan itu ketus.

"Tentu saja nona. Sudah tersedia dengan rapi di atas meja makan." Kata-laki-laki bermata amber tadi. Perempuan itu pun pergi menuju dapur diikuti oleh laki-laki tadi dari belakang. Perempuan yang tidak lain adalah Rukia Kuchiki itupun duduk dia atas kursi dan mulai memakan makanan yang di sediakan oleh asisten pribadinya itu.

"Bagaimana nona. Enak?" Tanya laki-laki bernama Ichigo itu sambil tersenyum ramah ke arah perempuan yang dia tanya.

"Memangnya kenapa. Aku katakan enak juga ini bukan masakanmu kan?" Tanya balik perempuan itu dengan nada bicaranya yang seperti biasa. Ketus.

"Me-memang iya. Tapi kan~."

"Cepat siapkan air untukku mandi." Kata Rukia memotong ucapan Ichigo.

"Iya nona." Jawab laki-laki itu bersemangat sambil tersenyum tulus ke arah Rukia yang masih menyantap makan malamnya.

.

.

XXXXXX

.

.

"Airnya sudah siap nona." Pemuda berambut orange itu berteriak dari dalam kamar mandi.

Tapi yang di panggil malah tidak menjawab sama sekali. Karena penasaran Ichigo pun keluar dari kamar mandi dan mencari keberadaan bosnya itu.

"Nona airnya sudah si~." Ichigo tidak melanjutkan kata-katanya. Karena mendapati bosnya itu kini sudah tertidur di atas sofa di ruang menonton TV.

Ichigo kemudian mendekati tubuh mungil yang kini telah terbaring di atas sofa itu. Wajahnya kelihatan sangat cape tapi sangat bercahaya saat ini. Dia kemudian semakin mendekat ke arah perempuan itu. Sesekali dia tersenyum melihat wajah damai yang dia lihat saat ini. Dia bermaksud untuk memindahkan Rukia ke kamarnya. Tapi

"Ehm... Ichigo, apakah airnya sudah siap?" Tanya Rukia sambil mengucek matanya dengan ke dua tangannya. Sontak Ichigo menjauhkan tubuhnya dari wanita yang menjadi bosnya itu.

"I-iya sudah nona." Jawab Ichigo terbata-bata. Kalau dia ketahuan oleh bosnya tadi, habislah dia saat ini.

"Baiklah. Aku mandi dulu." Kata Rukia masih terduduk di atas sofa yang menjadi tempatnya tidur tadi.

"Tapi sepertinya nona sangat lelah. Tak apat istirahatlah, tak usah mandi dulu." Kata Ichigo mencoba menghalangi.

"Tidak. Badanku rasanya sangat lengket. Aku mau mandi Ichigo." Jelas Rukia masih dengan suaranya yang serak dan matanya yang sesekali terpejam.

Rukia pun berdiri dari tempatnya duduk saat ini. Entah karena dia masih merasa ngantuk atau karena dia tersandung sesuatu dia kehilangan keseimbangannya. Dan...

Brukk!

Rukia terjatuh dia atas tubuh bidang Ichigo. Kini tubuh Rukia berada di atas tubuh Ichigo. Jarak antara wajah merekapun sangat dekat. Mata Rukia dan Ichigo kini benar-benar membulat sempurna. Yang mereka lakukan saat ini hanya saling menatap satu sama lain, tidak melakukan apa pun selain menyelam ke dalam mata orang yang sedang mereka tatap masing-masing.

Normal POV End

.

Bersambung

.

.

XXXXXX

.

.

Sip chap 2 selesai

Jangan lupa Reviewnya ya

Ai tunngu

Review chap 1 Ai bales pake PM

Jadi liat aja ya di inbox masing-masing

Kalau gak ada boleh protes nanti Ai kirim ulang

Sudah ya Ai benar-benar berterima kasih sama yang baca ataupun enggak, sama yang review ataupun enggak.

Review