.
Camaraderie
.
Kuroko no Basket adalah milik Fujimaki Tadatoshi. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dalam pembuatan fanfiksi ini, ini dibuat semata-mata untuk hiburan dan berbagi kesenangan.
Akashi Seijuuro – Furihata Kouki, K, Friendship
© kazuka, january 18th, 2014
.
"Si Chihuahua takut pada Si Singa, Singa tampak tak peduli. Tapi siapa bilang, tak akan terjadi suatu hal pun di antara keduanya?"
.
.
Furihata sekarang berpikir bahwa dia mulai harus melatih nyali dan jantung kalau dia tidak ingin lagi dikejutkan dengan takdir hidup bahwa dia semakin sering dipertemukan dengan Akashi Seijuuro. Hal ini berlaku dalam semua aspek kegiatan yang dia lakukan, baik itu disengaja maupun tidak. Ambil contoh, kejadian kopi tempo hari.
Dan yang ini adalah yang kedua. Dia sudah bersyukur bahwa kopi yang dia minum hari itu tidak membuatnya sakit perut (suatu pemikiran yang konyol karena Akashi sendiri sama sekali tidak ikut turun tangan membuatnya apalagi menambahkan zat kimia beracun di sana), tapi ternyata dia harus bertemu Akashi lagi.
Walau secara tak langsung.
Ceritanya dimulai dari uang jajannya yang telah terkumpul, berhasil dia sisihkan sendiri sejak minggu lalu (uang jajannya memakai sistem bulanan dan dia harus menyisakannya di penghujung hari, setiap hari, begitu terus). Dia, sejak lama, memang berniat untuk membeli majalah sport remaja edisi khusus dengan uang yang ditabung secara spesial itu.
Furihata berhasil membelinya ...
... hanya untuk bertemu Akashi Seijuuro lagi di dalamnya. Ternyata, profil khusus yang ditampilkan di majalah itu, yang menjadi rubrik kejutan setiap bulannya, adalah si kapten Rakuzan!
Furihata mulai takut untuk menghadapi rentetan takdir yang menanti di depan sana, jangan-jangan delapan puluh persen di dalamnya melibatkan Akashi lagi dan hanya akan membuat dia gemetaran?
Bagus, dia memang harus mulai melatih diri untuk tidak takut pada Akashi yang sesungguhnya masih manusia itu. Furihata pun mencobanya dengan mulai membaca halaman yang berisikan Akashi secara full itu. Akashi berpakaian biasa, sepertinya baru selesai latihan basket yang ringan. Mungkin wawancara untuk rubrik ini diambil secara kasual di rumah laki-laki itu. Dari latar belakang foto Akashi, terlihat interior yang mewah dan perabot yang mahal, Furihata bisa dengan gampang menebak dan menyimpulkan kemungkinan yang tersebut di atas karena berdasarkan cerita Kuroko, laki-laki itu punya gaya hidup yang wow dan kekayaan yang cukup untuk membuat mata terbelalak.
Tunggu.
Sesuatu yang melingkar di pergelangan tangan Akashi—wristband merah dengan logo yang khas itu—terlihat tidak begitu asing di mata Furihata. Seperti pernah melihatnya, mengenalnya, dan benda itu pernah menjadi bagian dari memorinya. Entahlah, kenapa dirinya malah merasa pernah melihatnya di suatu tempat? Tidak mungkin Akashi membeli barang sembarangan. Mungkin dirinya hanya berilusi.
.
xxx
.
Furihata kembali terusik setelah menemukan secarik kertas tebal berwarna hijau di bagian paling bawah di lemari bukunya, ketika dia mencari selebaran tentang acara street basketball yang akan diadakan tiga hari lagi. Kartu ucapan selamat tahun baru, dan kalau Furihata lihat tahunnya, itu adalah tahun dimana dia masih duduk di kelas 5 SD. Bahkan ia sempat lupa ia memiliki benda ini.
Yang membuat Furihata terusik adalah, kenapa dia bisa diingatkan kembali akan wristband Akashi di majalah hanya karena melihat kartu ucapan ini? Hubungannya apa?
Furihata merasa dunianya berputar ke arah yang tidak jelas sama sekali.
.
xxx
.
Adalah sebuah mimpi yang membuatnya tersadar bahwa seseorang yang tak dia kenal di alam masa lalunyalah yang memberikan kartu ucapan itu. Furihata sampai langsung terduduk begitu mimpi itu selesai dan dia mendadak terbangun tanpa alasan yang jelas.
Hari itu, dia kawannya sedang bermain bola kaki di lapangan kecil. Toru, nama sang kawan yang berambut cokelat pula—kurang lebih sama dengannya, sebelumnya berkata bahwa dia sedang menunggu sepupunya yang akan berkunjung ke Tokyo. Sepupunya itu akan dikenalkan pada Furihata, hitung-hitung menambah kawan, saran Toru pada Furihata.
Memang, sepupunya Toru datang (Gon namanya, mereka langsung berkenalan ketika Gon menemui mereka di lapangan), tapi tidak sendiri. Gon membawa satu orang lain yang dia akui adalah sepupunya, yang otomatis menyatakan bahwa laki-laki itu juga sepupu Toru.
Furihata sempat mengamati laki-laki itu lekat-lekat, memperhatikan detil dirinya yang sepertinya anak orang kaya. Dari segi pakaian saja, dia sudah kelihatan berbeda. Dia memakai tudung merah yang menutup habis seluruh rambutnya, matanya beriris warna darah, tubuhnya agak lebih kecil dari Furihata, Gon dan Toru, ekspresinya selalu datar.
Dia memakai wristband dan bahkan memeluk bola basket dengan tangan kanannya.
"Untukmu," laki-laki mungil itu memberikan kartu ucapan untuk Furihata.
"Eh?" Furihata mengerutkan kening, mulutnya setengah terbuka.
"Keluargaku terbiasa memberikan kartu ucapan tahun baru untuk kenalan mereka."
"Oh—tapi ... kita 'kan baru kenal," Furihata agak ragu.
"Ayahku memberi banyak kartu ucapan untuk diberikan tahun ini. Kurasa aku tidak mau menyimpannya lama-lama di laci meja."
"Begitu ... ya, baiklah, kuterima. Terima kasih. Selamat tahun baru juga untukmu."
Leher Furihata terasa dicekik dan tengkuknya diserang rasa dingin yang hebat begitu dia menghubungkan wristband di photoshoot majalah tersebut dan siapa yang memberikan kartu ucapan tahun baru itu.
Oh, tunggu, tunggu, mungkin bukan—begitu dia mencoba menenangkan diri. Akashi memiliki iris yang heterokrom. Sedangkan kawan yang memberinya kartu itu—
—wait.
Kuroko pernah bercerita bahwa ada perubahan besar terjadi di diri Akashi saat mereka SMP dulu, bukan? Siapa tahu ...
... tidak salah lagi. Berani tidak berani, mau tidak mau, Furihata harus mengakui bahwa orang yang dia temui kurang lebih lima-enam tahun yang lalu, adalah orang yang sama dengan kapten Rakuzan, sang student council, seorang pemain basket jenius yang sangat ditakuti (—dia takuti)!
Apalagi, setelah menajamkan ingatannya, dia bisa mengingat warna alis laki-laki itu. Merah. Dapat dipastikan sama dengan rambutnya—yang waktu itu tidak bisa Furihata lihat sama sekali.
Penyangkalan apapun tidak berlaku.
Berarti Akashi sudah menggentayangi kehidupannya bahkan sebelum rasa takut itu muncul.
.
.
.
| e n d |
.
A/N: kenapa wristband yang dipake akashi di kelas 5 masih muat saat dia kelas 10? jawabannya ada dua; 1) wristband kan ~agak~ elastis 2) akashi nggak mengalami pertumbuhan drastis alias dia masih keliatan kayak bocah SMP sekarang jadi ya wristband yang elastis itu masih muat di pergelangan tangannya dong ehe he lain cerita kalo akashi segede aomine/murasakibara :3
/kabur
