Dia masih berdiri di sana, di bawah tetesan air dari langit yang menangis mengguyur bumi. Suara petir yang menggelegar dahsyat tak membuat dirinya takut. Dia seperti benteng kokoh yang sengaja dibuat untuk menahan segala serangan.
Gadis itu —gadis berambut merah jambu itu masih senantiasa melihatnya. Melihat bagaimana ketika tatapan kosong itu menatap gundukan tanah basah di bawah pijakan kakinya.
Pemuda itu masih tak memperdulikan dinginnya cuaca yang menyergap, betapa butiran-butiran air itu mengujam dirinya seperti batu es, tak terpengaruh sedikit pun yang membuat dirinya bergerak sesenti, seolah-olah tubuh itu terbuat dari besi berlapis baja.
"Gaara-kun, ayo kembali," Dengan lembut gadis itu menarik tangannya, mencoba membawanya kembali pulang dengan cara halus. "Kau bisa sakit Ga –"
"…Sakura!" Suara Gaara terdengar parau di telinganya. "Semua orang telah meninggalkan aku sekarang. Apa kau juga akan pergi?" Gaara berbalik menatap Sakura dengan jade sayunya. Menghujam tepat permata emerald gadis di hadapannya.
"Apa kau juga akan pergi, seperti orang-orang itu?"Gaara melepaskan tangan Sakura yang memegang lengannya dan kini balik menggenggam tangan mungil yang mulai mendingin akibat hujan itu.
"Tentu saja tidak!" Jawabnya tegas. " Aku akan selalu disampingmu … selamanya." Gaara tersenyum dan langsung memeluk erat gadis di depannya. Satu-satunya orang yang paling ia cintai saat ini. Gaara bersumpah dengan nyawanya akan melindungi Sakura apapun yang terjadi.
Tanpa tahu, bahwa ada lubang hitam di tengah takdir hidup mereka.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
A SasuSaku's Fanfiction by
Bang Kise Ganteng
Warning!
Au, ooc, typo, misstype, hurt/comfort, romance, etc.
Say Hello to Destiny
(remake)
.
.
Happy Reading, minna-san ^_^
.
.
.
Sasuke memandang derasnya hujan yang mengguyur bumi dari jendela kaca kelasnya. Sekolah sudah dibubarkan tiga jam yang lalu, tetapi pemuda tampan generasi klan tersohor ini masih berdiam diri di sana, memandang titik-titik air hujan yang kian menderas itu dalam diam.
Air hujan sedikit mengetuk jendela kaca yang ada disana, menghasilkan bunyi 'tuk..tuk..tuk' yang tak bisa dibilang pelan.
Hujan deras yang mengguyur ditambah sapuan angin kencang itu membuat pohon-pohon yang ada di sana bergoyang, seakan-akan bisa roboh kapan saja.
Sasuke menghela nafas pelan sebelum berjalan kembali ke bangku miliknya. Remaja tanggung itu mengambil tasnya yang tergeletak tak berdaya di atas meja, kemudian menyampirkannya di punggung kokohnya.
Suara pintu yang terbuka kemudian tertutup menjadi suara terakhir sebelum ruangan itu diselimuti keheningan.
Hanya suara derap langkah kakinya saja yang memenuhi sepanjang lorong yang ia lewati. Netranya sewarna green-sea miliknya menatap dingin setiap benda yang ia lewati. Kontras dengan dinginnya cuaca karena hujan di luar sana… atau mungkin lebih.
Bercak-bercak cahaya menyembul sedikit ketika lelaki itu sampai di penghujung jalan. Ia berjalan sedikit dengan langkah pelan, sebelum berhenti.
Tap.
Rei Gaara sedikit menggulirkan bola matanya ke samping ketika mendengar adanya langkah kaki lain dari sebelah sana, sebelum menatap kembali kedepan. Seolah-olah guyuran air itu lebih menarik untuk dilihat saat ini.
Sedangkan Uchiha Sasuke sedikit terkejut melihat adanya pemuda selain dirinya yang belum pulang. Entah menanti hujan sampai reda sepertinya atau untuk hal lain, Sasuke tak mau tahu.
Tanpa memperdulikan lelaki yang sedang menatap hujan di sana, ia berjalan pelan dan berdiri tepat di samping pemuda berambut merah darah itu. Jarak yang tak lebih dari dua meter, itulah yang menjadi batas di antara mereka.
Keduanya berdiri dalam diam sehingga suara air yang beradu dengan lantai semen itu terdengar jelas dan satu-satunya suara yang mendominasi di sana. Bau tanah menguar ke luar menyapa indra penciuman mereka namun tak sampai membuat ke duanya mengernyit.
Sasuke lebih memilih memainkan handphone di tangannya, sedangkan Gaara masih memilih menatap hujan yang tampaknya belum ingin behenti itu, seolah mencari rahasia tersembunyi di balik tetesannya.
Sasuke tidak pernah merasakan perasaan seperti ini. Dia melirik sedikit ke arah pria berambut merah bata di sampingnya dan tak mendapati ekspresi yang berarti dari pemuda itu.
Jadi… inikah Rei Gaara, itu? batinnya bertanya. Ternyata, Gaara itu benar-benar mirip seperti yang dibicarakan banyak orang.
Tiba-tiba cahaya keemasan menembus dari sela-sela rinai hujan, sedikit mengusik mata. Sasuke mengernyitkan alis hitamnya untuk menormalkan kapasitas cahaya yang tiba-tiba tertangkap retinanya. Tak lama, sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka.
Sang supir, dibalut jas hitam itu keluar dari dalam mobil seraya membawa payung hitam. "Gaara-sama!" Panggilnya.
"Aa, kau terlambat lagi."
Sasuke sedikit tersentak ketika suara berat milik pemuda itu keluar merasuk indra pendengarnya. Sangat dingin dan tanpa intonasi yang jelas. "Gomenasai, Gaara-sama. Saya mengantar— "
Lelaki dengan surai merah darah itu langsung masuk ke dalam mobilnya tak menunggu sang supir memberi penjelasan padanya. Sedangkan lelaki yang memiliki garis melintang seperti bekas sayatan di wajahnya itu hanya bisa menarik nafas lega.
Eh? Lega karena apa?
Entah tidak melihat Sasuke yang masih berdiri di sana atau tidak, sang supir tersebut langsung masuk ke dalam mobilnya.
Suara mesin yang dinyalakan membuat perhatian Sasuke kembali tertarik pada mobil tersebut yang kini perlahan-lahan meninggalkan pelataran sekolah.
=0=0=0=
Sinar mentari pagi mulai memayungi kota Konoha, menyembul malu-malu dari celah ventilasi jendela. Udara sejuk yang mulai merayap masuk ke dalam ruangan, membuat seseorang dibalik selimut tebal itu sedikit menggeliat sebelum bangkit dari tidurnya.
Wajahnya yang dipahat dengan begitu sempurna oleh Tuhan, walau dengan penampilan kucel sehabis bangun tidur tak melunturkan karisma yang memang sudah ada pada dirinya.
Rambutnya memang sedikit awut-awutan plus matanya yang mungkin masih menyimpan rasa kantuk di sana. Dengan langkah gontai ia berjalan ke sisi lain ruangan, memgambil selembar handuk dari sana dan mulai berjalan pelan ke dalam kamar mandi.
Suara gemericik air yang terdengar dari dalam sana menandakan bahwa sang Pemuda mulai mengguyur dirinya dengan air.
.
.
"Ohayu," adalah sapaan pertama yang ia dapatkan ketika tungkainya menuruni undakan tangga. Sang ibu yang tengah menata makanan di atas meja, tersenyum manis ketika melihat anak bungsunya menuruni tangga dengan seragam sekolah yang telah rapi.
"Hn," jawabnya singkat. Sasuke segera menarik kursi, kemudian duduk di sana sementara Mikoto mengisi piringnya dengan nasi.
"Di mana ayah dan kakak?" Sasuke bertanya sambil menerima piring yang diberikan ibunya. Tangannya terjulur, mengambil sendok yang terletak di tengah-tengah meja. Pemuda yang berumur hampir genap tujuh belas tahunan itu mulai menyantap makanannya dengan khidmat.
"Ayah dan kakakmu sudah pergi pagi-pagi sekali, Sasuke-kun. Biasalah," Mikoto menghela napas sejenak sebelum duduk di samping putra bungsunya.
"Ibu kira kau demam setelah hujan-hujanan kemarin," katanya lagi. Sasuke hanya mengangkat alis, tak menyahut perkataan ibundanya. Lagipula, mana mungkin ia terserang demam karena hujan-hujanan tadi malam.
Keheningan seketika menyelimuti ruang makan itu setelah Mikoto beranjak ke dapur. Sasuke juga telah selesai menghabiskan sarapan miliknya. Pria itu sedang mengambil tasnya ketika ibunya kembali datang.
"Aku bawa motor," katanya. Pemuda raven itu langsung ke luar dari rumah setelah mecium kedua pipi putih Mikoto.
…
Saat Sasuke memarkirkan sepeda motornya di pekarangan sekolah, saat itu juga sebuah mobil BMW berhenti di sampingnya. Pemuda berambut merah ke luar dari sana dengan gadis berambut pink dalam genggaman tangan besarnya.
Sasuke menghela napas.
Pagi-pagi begini saja ia sudah disuguhi pemandangan tak mengenakkan begini. Ditambah lagi dari kejauhan Naruto, Kiba dan Chouji melambai-lambai ke arahnya.
Sasuke berjalan pelan ke arah teman-teman barunya itu. Naruto dengan antusias langsung merangkul bahunya ketika Sasuke sampai di hadapan mereka, membuat sang Pemuda sedikit membungkuk karena tak siap dengan perlakuan temannya itu.
"Hei, hei. Langit begitu cerah hari ini, Man! Lalu kenapa wajahmu mendung begini, huh?" Mereka berjalan beriringan menuju kelas, lalu menarik kursi masing-masing mengelilingi tempat duduk Sasuke.
"Diamlah, Dobe!" Ketus Sasuke. Bibir Naruto mengerucut dalam saat mendengar tawa melengking Kiba di depannya.
"Kau seperti tidak tahu saja, Bro!" Kiba membalas sambil berusaha meredam tawanya, "gadis Haruno itu datang bersamaan dengan Gaara tadi," lanjutnya kemudian.
"Loh, bukannya itu sudah biasa, ya?" Tanya Chouji bingung, begitu terlihat dari raut wajahnya. Pemuda berbadan gemuk yang suka nyemil itu mengoyak bungkus keripik kentang miliknya sebelum melahap dengan pelan.
"Yeah, berbeda dengan Sasu-teme," sahut Naruto. Pemuda itu mengangkat bahu tak acuh, sedangkan Chouji hanya manggut-manggut saja. Tampaknya pemuda itu tidak begitu peduli dengan yang dibicarakan teman-temannya.
"Hm," Sasuke hanya menggumam tak jelas, dan mulai membuka bukunya saat Genma-sensei masuk ke kelas.
…
Istirahat ini entah mengapa Sasuke lebih memilih menghabiskan waktu di atap sekolah dari pada menerima ajakan Naruto ke kantin, walau hanya untuk sekedar nongkrong guna melepas stress sehabis pelajaran Genma —Guru Fisika mereka.
Sasuke merebahkan tubuhnya di atas sofa tua yang tak terpakai di sana dan baru saja akan memejamkan matanya, ketika remaja Uchiha itu mendengar suara pintu yang di dorong.
Pemuda itu sedikit melirik lewat sudut matanya, siapa gerangan orang yang berpikiran sama dengannya dengan menghabiskan waktu istirahat selama 30 menit lamanya di atap, yang sangat jarang di kunjungi.
Kaki jenjang berbalut kaus kaki putih yang hampir menutupi betis itu membuat Sasuke terkejut. Ditambah lagi, angin-angin nakal yang meniup rambut bubble-gum itu.
Sasuke sedikit memejamkan matanya, berupaya meminimalisir jantungnya yang berdegub sedikit cepat dari biasanya.
Sakura dengan sekantung plastik kresek berisi wortel di tangannya dengan seekor kelinci putih berbulu lebat —yang membuatnya terlihat gendut —dalam gendongan tangannya yang lain.
Pelan-pelan, Sakura berjongkok dan menaruh si kelinci gendut itu di lantai. Gadis itu mengelus pelan tubuh sang kelinci agar ia tidak lari, kemudian membuka bungkus pelastik berisi wortel yang dibawanya.
"Makan yang banyak ya, Buddy," Buddy adalah nama yang Karin pilihkan untuk kelinci yang tak sengaja Sakura temukan di halaman belakang sekolah dua hari yang lalu.
Sasuke sendiri tersenyum samar saat mendengar suara Sakura yang tengah bercanda dengan binatang peliharaannya. Tapi, sepertinya ada yang kurang di sini, membuat Sasuke menghilangkan senyumnya digantikan dengan kerutan di dahinya.
Dimana, si rambut merah protective itu?
Iya, di mana Gaara? Bukankah biasanya di mana ada Sakura makan pria itu juga akan ada. Oh, atau jangan-jangan Gaara telah menjelma menjadi seekor kelinci yang saat ini bersama Sakura.
Uhm, yang terakhir itu jelas tidak mungkin.
Lalu… apa ini sebuah peluang dari Tuhan yang diberikan untuk Sasuke merebut Sakura. Semacam langkah awal begitu. Ah, mengapa jalan pikirannya menjadi begitu rumit?
Sasuke terkekeh sendiri dalam hati.
Pemuda itu lekas bangkit dari duduknya. Sakura segera menoleh ketika mendengar suara langkah kaki berbalut sepatu itu mendekat.
Wajahnya jelas menampilkan keterkejutan saat melihat pemuda tampan yang ia temui seminggu lalu di perpustakaan kini berdiri di hadapannya. Sasuke sebenarnya sudah merasa tidak tahan terus-menerus menahan bibirnya yang berkedut-kedut sedari tadi menahan senyuman ketika hijau klorofil itu menatapnya.
Sasuke berusaha untuk menutupi perasaan senangnya yang membucah ketika melihat Sakura.
"Kau mengganggu tidurku, jadi aku ke sini," Katanya begitu melihat raut bertanya Sakura. "Kukira siapa, ternyata itu kau."
Sakura masih diam, tak bergeming sedikitpun atau sekedar membalas perkataan Sasuke. Sasuke pun tampak tak ambil pusing dengan hal itu dan langsung berjongkok di depan Sakura.
Walau enggan, Sasuke tetap menjulurkan tangannya untuk mengelus tubuh berselimutkan bulu halus itu.
Sasuke mengerjab terkejut saat merasakan keresahan gadis di sampingnya kini. Sakura tampak tak tenang berada begini dekat dengan Sasuke.
"Ada apa?"
Sakura begitu terkejut mendengar suara Sasuke. Tatapan laki-laki itu juga berubah menjadi tajam dan menusuk. Sakura lekas bangkit dan akan segera pergi dari sana sebelum tangan Sasuke mencekal lengannya.
"Apa yang terjadi?" Suara itu kembali mengalun merasuk pendengarannya. Sakura tak mengerti untuk apa pertanyaan itu dan ia juga tak mau tahu. Yang ada di pikirannya sekarang adalah segera pergi dari tempat ini.
Sasuke memicing tak suka, menerima rontaan Sakura yang ingin tangannya dilepas oleh pemuda itu. Sasuke mempersempit jarak mereka dengan melangkah mendekat, "Kita bertemu seminggu yang lalu, kau ingat?" Sakura ingin membuka mulut, namun perkataannya dengan cepat disela Sasuke, "Dan seingatku kau tak bersikap begini."
"Maaf — "
"Kau tak ingat!" Tandas Sasuke dengan nada tajam yang membuat Sakura seketika terkejut. Sasuke kembali berjalan mendekat. "Memangnya apa yang dilakukan Gaara padamu, hm?"
Sasuke merasa bahwa ia sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya pada gadis ini. Apalagi gelagat Sakura yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Lalu… pura-pura tak mengingat dirinya, huh?
"Lepaskan Sasuke," Sakura mencicit pelan, gadis itu masih berusaha melepaskan tangannya yang digenggam paksa Sasuke.
Sasuke memang melepaskan tangan Sakura namun pria itu balik memegang bahunya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian sebelum ini dan aku tak akan peduli. Tapi gara-gara kau, semua ini begitu berarti."
Sakura makin mengerutkan dahi tak mengerti. Apa maksud perkataan Sasuke ini?
"Aku menyukaimu, Sakura Haruno!" Tukas Sasuke tegas. Sakura terbelalak terkejut, apalagi ketika pemuda itu menarik kepalanya dan menciumnya dengan kasar. Sakura memukul dada bidang pemuda di depannya berusaha lepas, namun Sasuke malah menarik pinggangnya dan memperdalam ciuman mereka.
Ciuman itu segera terlepas tepat saat pintu atap terbuka. Kedua manusia berbeda gender itu langsung menoleh dan mendapati Karin berdiri di sana.
"Oh, Tuhan! Aku sudah mencarimu ke mana-mana, ternyata kau di sini," gadis itu menjerit sok dramatis. Sakura tak mempedulikannya apa lagi Sasuke. Pemuda itu tengah memperhatikan wajah merona dan mata gadis itu yang merah seperti menahan tangis.
Sasuke baru saja akan membuka mulutnya untuk berbicara sebelum dengan kecepatan cahaya Sakura berlari ke luar. Karin yang sejak tadi meluapkan kekesalannya, kini berhenti, seperti terhipnotis dengan pergerakan Sakura yang tiba-tiba.
Sasuke baru saja akan berlari menyusul gadis itu sebelum Karin mencekal tangannya. Ruby di balik kaca mata berframe miliknya menatap tajam Sasuke.
"Aku tahu pasti sesuatu telah terjadi di sini," ketusnya. Sasuke hanya terdiam tidak menampik sedikitpun perkataan Karin, karena nyatanya memang sesuatu telah terjadi. Gadis berambut merah itu sempat memberi silau tajamnya pada Sasuke sebelum berlari menyusul Sakura.
…
Sakura masih ingat jelas bagaimana bola hitam milik Sasuke menatapnya begitu dalam saat ciuman itu terjadi. Bahkan masih kental dalam ingatan gadis itu bagaimana rasa bibir Sasuke ketika terkecap olehnya. Lalu, bagaimana gerakan saat bibir itu memagut bibirnya.
Sakura seolah-olah bisa merasakan….cinta pemuda itu di sana.
Sakura bahkan sempat menyentuh bibir bawahnya yang masih basah karena saliva mereka. Ini aneh. Perasaan ini, bukan tak pernah ia rasakan. Bukan sekali dua kali. Mungkin berpuluh-puluh kali. Perasaan ini sama seperti perasaan yang ia rasakan pada Gaara dulu saat pertama kalinya lelaki itu mengungkapkan perasaannya.
Hanya saja ada sedikit perbedaan di sini. Perasaan yang ditorehkan Sasuke lebih mendebarkan —mendebarkan dalam arti sebenarnya dari pada perasaan takut yang didominasinya ketika bersama kekasihnya sendiri.
"Hei, Saki!" Sakura begitu terkejut saat mendengar suara Karin di sampingnya. Gadis berambut merah darah itu sedikit menaikan frame kacamatanya sebelum kembali berujar, "Aku tahu ada sesuatu yang terjadi." Ia sedikit menoleh kearah Sakura yang tampak tersentak akibat kata-katanya. "Tapi tenang saja. Aku tidak akan memaksa mu untuk bercerita." Katanya lagi.
Sakura tanpa sadar menarik napas lega. Jujur saja ia belum siap menceritakan perihal kejadian di atap tadi pada Karin, walaupun gadis itu adalah sahabatnya sendiri.
"Aa, maafkan aku Karin."
Sakura menunduk tak enak. Karin yang paham situasi segera mengalihkan pembicaraan. "Kau tahu, aku bertemu dengan manusia paling menyebalkaaaan kemarin." Karin mulai menceritakan kekesalannya akibat ulah pemuda berambut cokelat yang ia jumpai di café kemarin. "Dia menumpahkan cappuchino susunya di pakaianku dan langsung melenggang pergi. Tidak sopan!" Karin mendengus. Sakura mendengarkan dengan seksama setiap perkataan Karin. Sesekali ia hanya tersenyum namun tak menimpali perkataan gadis itu. Mereka terus bercerita sampai bel masuk berbunyi dan seperti biasa Karin akan menarik lengannya menuju kelas.
=0=0=0=
Sasuke tidak pernah tahu karena ulah bodohnya yang dengan lancang mencium Sakura di atap tempo hari akan membuat gadis itu menjauh darinya.
Sakura terlihat menghindarinya dan ini sudah terhitung tiga hari sejak kejadian itu. Sasuke bukannya tak cukup peka untuk menyadari situasi. Bahkan saat ia bertemu dengan Sakura di perpustakaan kemarin gadis itu segera ambil langkah seribu untuk pergi jauh-jauh darinya. Sakura bahkan tak mau menatap wajah Sasuke.
Ah, bukankah mereka seperti sepasang kekasih yang baru saja bertengkar dan saling menghindari.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi 10 menit yang lalu, Naruto dan Kiba sudah pulang lebih dulu karena Sasuke menolak ajakan pulang bareng mereka. Pemuda itu hanya diam duduk di bangkunya dengan kepala yang ditopang oleh sebelah tangan.
Sasuke sudah merasa bahwa ia mirip ayahnya yang selalu disuguhi kertas-kertas berderet huruf yang selalu tertumpuk di mejanya.
Oh, mungkin saja masalahnya lebih rumit dari pada kertas-kertas yang minta di bubuhi tanda tangan ayahnya itu. Sasuke tidak tahu. Maka dari itu, ia hanya bisa menghela napas panjang karenanya.
Pemuda itu kemudian bangkit berdiri, menyampirkan tasnya di pundak lalu bergegas jalan ke luar kelas.
…
Sasuke menghentikan langkahnya saat matanya melihat sesuatu dari dalam kelas yang memang harus ia lewati jika akan pulang. Sasuke tak akan begitu peduli jika matanya tak melihat sosok pink di dalam sana… dan juga sosok berambut merah.
Rei Gaara.
Sasuke melihatnya, dengan kedua matanya sendiri bagaimana kedua bibir mereka tertaut. Pemuda merah di sana memeluk erat-erat pinggang Sasuke sementara bibirnya dengan gerakan liar menyambangi bibir Sakura.
Gadis itu hanya bisa meronta-ronta saat Gaara tak jua melepas tautan bibir mereka. Sasuke bisa melihat bagaimana manik jade pemuda merah itu melihat ke arahnya sebelum melepaskan ciuman mereka.
Sasuke bahkan dapat melihat bagaimana cara Sakura meraup begitu banyak oksigen, seakan-akan gadis itu tidak pernah bernapas sebelumnya. Lalu onyx kelamnya melirik ke arah Gaara yang juga melihat dirinya.
Sasuke merasa tatapan Gaara seperti…. Psychopath. Pemuda itu seperti predator yang haus akan darah mangsanya.
"Aku tidak menegerti mengapa, tetapi tatapan Gaara begitu dingin. Dia seperti… psikopat."
Entah mengapa perkataan Naruto beberapa minggu yang lalu terngiang-ngiang di kepala. Menari-nari seolah menunjukkan pada Sasuke bahwa apa yang dikatakan pemuda tan itu benar adanya. Tapi tetap saja, bagaimana pun keadaannya, Sasuke telah bersumpah akan merebut Sakura dari tangan Gaara. Apa pun caranya.
=0=0=0=
"Bagaimana sekolahmu, Sasuke?" Itachi bertanya saat pemuda itu mengunjungi kamar Sasuke. Tampaknya hari ini kakak laki-lakinya itu libur dari pekerjaannya.
"Begitulah." Jawabnya tak acuh. Pemuda berumur tujuh belasan itu mengambil buku yang ada di atas mejanya lalu memasukkannya ke dalam tas. "Seperti kau tidak pernah sekolah saja." Sambungnya lagi. Itachi terkekeh pelan mendengar perkataan adik semata wayangnya itu, sebelum duduk di tepi ranjang Sasuke.
"Ya, terkadang memang membosankan. Tetapi akan menyenangkan di saat bersamaan." Itachi mulai merebahkan tubuhnya di ranjang king size Sasuke sebelum melanjutkan perkataannya, "Kudengar kau sekelas dengan Naruto ya?"
Sasuke hanya mengangguk pelan sebelum ikut merebahkan diri di samping Itachi. Itachi hanya tersenyum simpul. "Aku bahkan masih ingat bagaimana kalian sering berkelahi dulu Sasuke." Itachi mulai menyelami masalalu, saat sebelum Sasuke dibawa oleh kakeknya —Madara ke London. "Tapi dia juga yang menangis saat kau pergi."
Sasuke mendengus, tentu saja ia ingat hal itu.
"Hm, enak sekali ya di kamarmu ini." Itachi menggumam sambil menarik guling Sasuke untuk dipeluknya.
"Hei, jangan tidur disini, baka Aniki."
Namun sepertinya Sasuke sudah terlambat mengatakannya setelah mendengar dengkuran halus yang samar-samar ke luar dari bibir tipis Itachi.
…
Pagi ini Sasuke dengan segala tekadnya yang sudah bulat akan meminta maaf pada Sakura. ia sudah tak tahan berhari-hari hanya mengintipi gadis itu, melihatnya dari jauh apabila ada kesempatan.
Dan kejadian kemarin, Sasuke tak mau terus-terusan melihat adegan itu terjadi di depan matanya. Maka saat Sakura berjalan sendirian melewati gym Sasuke segera menarik tangan gadis itu. Pemuda itu sempat membekap mulut Sakura dengan tangan besarnya untuk berjaga-jaga agar gadis itu tidak berteriak.
Sakura sendiri terbelalak saat melihat Sasuke di depannya. Menghujam tajam kilau emeraldnya.
"Kau menghindariku!" Sasuke mendesis pelan untuk menjaga agar tak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka. Pria Uchiha itu menempat satu tangannya di samping kepala Sakura sedangkan tangan yang lain memeluk pinggang gadis itu agar tidak melarikan diri.
Sakura sendiri menolak menatap wajah Sasuke membuat lelaki itu menarik dagunya, memaksa Sakura bertatap muka dengannya. "Kau boleh menamparku, memaki aku. Tapi jangan gunakan cara konyol seperti menghindariku." Desisnya lagi, kali ini menahan amarah.
Sakura mendelik tak suka, ia sedikit mendorong tubuh Sasuke yang semakin menghimpitnya ke dinding. Merasa usahanya percuma saja, Sakura menghentikan kegiatannya. Membiarkan kedua tangannya menggantung di sisi tubuhnya.
"Aku menghindarimu bukan tanpa alasan." Lirih suaranya terdengar mencapai telinga Sasuke. Sasuke mengatupkan rahangnya, mencoba menahan amarah. Namun baru saja ia ingin berkata, Sakura sudah lebih dulu menyelanya. "Aku hanya takut jatuh cinta pada Sasuke-kun."
Dan Sasuke tidak bisa menahan keterkejutannya saat mendengar penuturan gadis itu. apalagi, ketika Sakura mengangkat wajahnya —menatap Sasuke yang jauh lebih tinggi darinya dengan wajah bersimbah air mata.
"Karena aku, takut jatuh cinta padamu!" Tegas Sakura sekali lagi. Emerald bening yang sedang berkaca-kaca miliknya menatap Sasuke yang masih berdiri di depannya. Pria itu hanya diam, dengan mata yang masih sedikit melebar menatapnya.
Kemudian, secara perlahan tangan yang tadi ia tempatkan pada sisi kepala Sakura mulai terangkat, menghampus lelehan air mata yang senantiasa menganak sungai di pipi ranum Sakura. Ibu jarinya bergerak dengan lembut, menyeka air mata yang dikeluarkan oleh gadisnya.
"Kenapa?" Tanyanya. Sorot onyx-nya masih terlihat tajam seperti pisau, menuntut jawaban dari permata emerald gadis di depannya. Sakura menundukkan kepalanya, tak sanggup menatap jelaga yang seperti mengintimidasi dirinya tersebut.
Namun Sasuke tak menyerah. Ia mengangkat dagu gadis itu agar menengadah menatapnya yang jauh lebih tinggi. "Kau bilang takut jatuh cinta padaku?" ada jeda sebentar dalam kalimatnya, "Atau… kau sudah jatuh cinta padaku." ujarnya kemudian.
Mata sang gadis sedikit melebar mendengarnya, sedikit terkejut. Namun entah mengapa ia tak bisa menampik perkataan Sasuke.
Kenapa?
Apa benar dia yang telah jatuh cinta pada pemuda Uchiha itu?
"Ya. Karena kau sudah jatuh cinta padaku, makanya bilang begitu kan?" Fokus Sakura tertarik kembali saat Sasuke lanjut berbicara. "Kalau begitu kau gadis munafik!" tandas Sasuke. Sakura melempar tatapan tak sukanya pada pemuda itu, tangan-tangannya kini pun mulai mendorong tubuh pria itu menjauh. Namun tangan Sasuke malah memegang pergelangan tangannya.
"Lepaskan, Sasuke-kun!" Sakura mulai merintih sakit saat cekalan tangan Sasuke begitu kuat. Sasuke tak menghiraukan rintihan itu, malahan dia menarik Sakura makin mendekat padanya.
"Dengarkan aku, Sakura— "
"Lepaskan dia Uchiha!" Suara desisan penuh penekanan itu berhasil membuat dua anak manusia tersebut menoleh. Sasuke membalikkan badannya perlahan untuk melihat siapa pelaku yang telah seenaknya memotong kata-katanya.
Netra hijau dedaunan milik Sakura pun begitu terbelalak ketika helaian merah darah itu tertangkap penglihataannya. Itu sahabatnya, Karin.
"Jangan memaksanya." Gadis itu berjalan dengan angkuh melewati tubuh Sasuke dan langsung menarik tangan Sakura —melepasnya dari genggaman tangan Sasuke. Sasuke menatap tidak suka gadis berkacamata di depannya kini, yang juga menatap tak suka kearahnya.
Karin sedikit menaikkan frame kacamatanya yang sedikit melorot dengan tangan kirinya yang bebas. Ruby di balik kaca tipis itu sedikit berkilat melihat tatapan Sasuke.
"Aku ingin berbicara dengannya, bisa kau berikan kami privasi?" Tukas Sasuke dengan nada sedikit ketus. Jelaganya kini bergulir, menatap Sakura yang sedang menundukkan kepalanya.
"Kau bukan berbicara padanya, tapi memaksanya." Lagi, gadis Uzumaki itu menjawab dengan tenang. "Dan kupikir.. waktu tiga puluh menit tadi sudah cukup untuk kata 'berbicara' yang kau maksud."
Karin tanpa basa-basi lagi langsung menarik Sakura pergi. namun, Sasuke dengan cepat menangkap tangan Sakura membuat dua gadis itu mengehentikan langkahnya.
"Kita akan berbicara lain kali. Dan aku tak akan menyerah. Aku akan membawamu pergi dari iblis bernama Gaara itu." Karin dan Sakura sama-sama terpekur mendengar kata tegas Sasuke. Dari sorot matanya saja, Karin tahu bahwa pemuda itu tengah serius, apalagi…
"Aku bersumpah."
…dengan pernyataannya yang dibumbui dengan kata sumpah.
.
.
.
=0=0=0=
.
.
.
Gaara menoleh ketika Sakura dan Karin memasuki kelas. Sebelumnya, dua gadis itu tampak membicarakan hal yang serius sebelum Sakura menoleh menatapnya. Gadis itu tersenyum kikuk, sebelum duduk di sampingnya.
"Lama sekali." ujarnya pelan namun dengan nada yang begitu dalam, membuat Sakura susah payah menelan ludahnya.
"Aku menemani Karin ke toilet sebentar, Gaara-kun." Gaara hanya melirik Sakura lewat ekor matanya. Dia dapat melihat tatapan mata Sakura yang bergerak gelisah. Namun ia tak mau ambil pusing dan langsung memalingkah wajah ke arah luar.
Sedangkan Sakura masih memikirkan pekataan Sasuke tadi.
"Aku tidak akan menyerah! Dan aku akan merebutmu dari iblis itu."
Ada sedikit rasa yang mengusik benaknya. Tentang tatapan Sasuke, kata-katanya, bahasa tubuhnya…
"Aku menyukaimu, Sakura Haruno!"
….dan pernyataan cintanya.
Sungguh, mereka baru bertemu beberapa kali dan Sasuke sudah menyukainya. Dan… pemuda itu juga menciumnya. Namun, semua akan beda ceritanya jika mereka sudah saling mengenal cukup lama. Dan yang lebih parah dari itu semua adalah; Sakura tidak bisa mengenyahkan wajah pemuda itu dari pikirannya.
Apakah ia menyukai Sasuke atau apakah ia mencintai Sasuke?
Lalu bagaimana dengan Gaara? Dia sudah berjanji untuk tidak akan meninggalkan pemuda itu? lagipula—mungkin saja— pemuda itu tidak akan melepaskannya. Gaara sendirilah yang mengatakan hal itu padanya.
Yah, berdoa saja semoga perasaan absurd yang tengah melanda dirinya kini bukanlah perasaan cinta seperti yang ia pikirkan sejak tadi.
.
.
.
.
Sasuke masih duduk dimeja belajarnya, ditemani remang-remang cahaya bulan yang meluncur masuk melewati jendela kamarnya yang tirainya sengaja ia singkap. Semua tugas sekolahnya telah ia kerjakan bahkan untuk bab-bab berikutnya.
Tangan-tangannya yang masih menggenggam pensil, tampak bergerak-gerak di atas buku tulisnya, membentuk gambar abstrak. Pikirannya tengah melayang ke kejadian tadi siang di mana ia bertemu dengan Sakura dan Gaara.
Sasuke berdiri menunggu Naruto yang mengajaknya pulang bersama menaiki bus siang ini. Pemuda dengan kulit tan dan berambut jabrik itu sedang pergi ke toiliet. Hanya lima menit katanya. Ya, lima menit yang serasa seperti lima jam.
Matahari semakin terik di atas sana. Terasa membakar kulit putihnya yang tak tertutupi. Wajahnya terlihat memerah, entah karena cahaya matahari yang menyengat, atau menahan kekesalan karena sobatnya, Naruto Uzumaki belum datang juga.
'apa dia tertidur di dalam sana?' —batin Sasuke.
Sudah lebih dari lima belas menit Naruto pergi ke toilet, dan jika dalam lima menit lagi pemuda itu masih tidak menampakkan batang hidungnya, Sasuke bersumpah ia akan pulang lebih dulu tanpa Naruto.
Namun saat berbalik untuk menyusul Naruto, ia melihat Gaara ke luar dengan Sakura dalam seretan tangannya. Gadis itu sedikit meronta minta dilepaskan namun tampaknya sang pemuda tak menggubrisnya.
"Gaara-kun! Kau terlalu kuat memegangnya." Sakura mencicit pelan namun masih dapat didengar oleh Sasuke yang berdiri tak jauh dari tempat ke duanya.
Tak ada perubahan ekspresi yang berarti dari Gaara dan ia makin menyeret gadis itu ke arah mobilnya yang terpakir rapi. Namun, Gaara langsung menghentikan langkahnya saat melihat tatapan Sasuke yang memandang tangan mereka dengan rahang yang mengatup rapat.
Sakura membeku ketika bersitatap dengan pemuda Uchiha itu. Apalagi ketika pandangan onyx itu naik, menghujam tepat di netra hijaunya. Sakura menggulirkan matanya ke arah lain, berusaha menghindar dari jelaga Sasuke.
Sakura tersentak kaget saat tubuhnya tertarik ke depan akibat langkah Gaara. Pria itu kemudian berhenti lagi saat jarak mereka hanya beberapa langkah dari Sasuke.
Sasuke dapat merasakan bagaimana dinginnya jade Gaara menyambar jelaganya. Mereka hanya diam tak mengatakan apa-apa. Namun sorot mata mereka yang sangat kontras memancarkan kebencian terpendam.
Lalu, untuk pertama kalinya Sasuke melihat sudut bibir pemuda itu tertarik ke atas, membentuk seringai. Dan setelahnya, tangan-tangan pemuda itu kembali menyeret Sakura masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Sasuke yang mematung di tempat ia berpijak.
Sasuke masih ingat jelas bagaimana ketika bibir pria itu tertarik ke atas membentuk seringai yang benar-benar menyeramkan. Bahkan Sasuke tidak bergerak barang secenti pun karenanya. Hingga akhirnya Naruto datang dengan cengiran lebarnya dan menepuk pundak Sasuke.
Bahkan Sasuke tidak jadi meluapkan kemarahannya pada pemuda jabrik yang sudah membuatnya menunggu lama.
Sasuke hanya terus membayangkan seringai yang Gaara torehkan padanya tadi. Pertama kalinya ada seseorang yang dapat membuat hatinya bergetar.
Namun entah mengapa, Sasuke malah merasa tertantang oleh seringai itu. Seolah-olah dari seringainya Gaara mengatakan, 'ayo lawan aku. Mari kita saling membunuh Uchiha, dan buktikan milik siapa Haruno Sakura itu.'
Dan Sasuke dengan senang hati menerima tantangan itu.
=0=0=0=
Sakura berbaring di kamarnya yang bernuansa merah itu. Ia hanya sendiri di sini ditemani beberapa orang pelayan yang memang bekerja untuknya. Keluarganya sudah lama meninggal dunia dan ia hanya hidup sebatang kara.
Ayah ibunya meninggal karena kecelakan pesawaat yang akan membawa mereka menuju Negara Hi. Ia memang anak satu-satu dari orang tuanya dan setahnya, kedua orang tuanya itu tidak mempunyai sanak keluarga di Konoha ini.
Awalnya Sakura pikir ia akan selalu hidup sendiri. Namun, ternyata ia salah. Ada Gaara dan Karin di sisinya. Karin adalah tetangganya sedangkan Gaara adalah teman semasa ia SMP.
Mereka memang sudah saling mengenal sejak dulu, sejak mereka masih kecil. Sakura juga tahu bagaimana seluk-beluk kehidupan Gaara dan keluarganya. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Dan ayahnya juga kedua kakaknya yang lain membencinya.
Gaara diasingkan ke Konoha oleh ayahnya, entah karena apa. Dan saat itulah ia mulai dekat dengan pemuda itu. Anak lelaki yang paling pendiam dan cenderung memiliki aura mengerikan di sekelilingnya.
Sakura mulai penasaran dan ingin sekali dekat dengan pemuda itu. Sampai akhirnya semuanya mengalir seperti air. Dia mulai dekat dengan pemuda itu dan tertarik pada Gaara.
"Gaara-kun, mau makan siang bersama?" Sakura kecil, waktu berumur sebelas tahun adalah seorang gadis paling cantik di kelasnya. Dengan rambut berwarna unik yang panjangnya sepunggung lalu di jepit disisi kirinya.
"Aa." Gaara hanya mengeluarkan gumaman andalannya. Sakura saat itu hanya tersenyum dan membuka kotak bento yang khusus dibuatkan ibunya untuknya dan Gaara.
Mereka menjalani hari-hari dengan bahagia, walaupun itu hanya tampak di wajah cantik Sakura. Tapi tidak sampai di mana hari itu datang. Hari di mana Sakura melihat sisi lemah Gaara untuk yang pertama kali.
Hari itu, hari dimana mereka mendengar bahwa ayah beserta dua saudara Gaara meninggal dunia akibat kecelakaan mobil di perbatasan Suna dan Konoha.
Pertama kalinya Sakura melihat punggung Gaara yang begitu rapuh. Dan seolah-olah merasakan kesedihan yang sama dengan yang dialami Gaara, perlahan hujan deras mengguyur kota Konoha.
Hati Sakura ikut bergetar saat menatap jade sayu Gaara yang menatap kosong tanah basah yang dipijakinya. Maka —dengan keberanian yang teguh, Sakua perlahan menarik tangan pemuda itu, mengajjaknya pulang dengan cara yang halus.
"Gaara-kun, ayo kembali. Kau bisa sakit Ga— "
"…Sakura!" Namun suara Gaara yang parau memotong perkataannya.. "Semua orang telah meninggalkan aku sekarang. Apa kau juga akan pergi?"
Sakura mengernyit tak mengerti maksud dari perkataan Gaara tersebut. Namun, seperti bisa membaca raut bingung gadis itu, Gaara kembali menambahkan, "Apa kau juga akan pergi, seperti orang-orang itu?" tangannya menggenggam dengan erat tangan Sakura, menuntut jawaban gadis itu.
Namun Sakura bisa apa? Saat itu ia hanya tidak ingin membuat Gaara tambah bersedih. Maka ia menjawab dengan tegas, "Tentu saja tidak! Aku akan selalu di sampingmu…" Dan Sakura sedikit ragu saat menambahkan kata ini di akhir kalimatnya, "—selamanya."
Dan sejak hari itu, hidupnya benar-benar berubah. Bahkan ketika pertama kali pemuda itu mengatakan bahwa ia mencintai Sakura, ada perasaan asing yang merasuk dirinya. Sakura tidak menampik bahwa dia juga mencintai pemuda itu dengan segala kekurangannya. Namun saat itu entah mengapa, ia sedikit pesimis dengan pilihannya.
Dan ternyata semua benar. Pemuda itu terobsesi padanya. Gaara memang mencintai dirinya di awal, namun semua itu berubah menjadi obsesi semata.
Terbukti dari perlakuannya kepada Hidan —senior mereka di Konoha Gakuen. Pemuda mesum itu sudah lama menggoda Sakura namun selalu berakhir dengan diabaikan sang gadis.
Namun, entah bagaimana caranya, ketika Sakura hendak berganti pakaian olahraga, Hidan malah menyeretnya ke kamar mandi wanita yang memang dekat dengan ruang ganti tersebut.
Senpai itu berniat mencabulinya saat itu. Bahkan ia sempat merasakan beberapa kali tamparan dan pukulan dari pria itu ketika Sakura menolaknya dan malah berteriak kencang, setidaknya agar ada seseorang yang menolongnya dari niat jahat senpai-nya ini.
Sakura hanya bisa menangis meraung ketika tubuhnya sudah hampir setengah telanjang di bawah tindihan tubuh Hidan. Beruntunglah saat itu Karin langsung mendobrak pintu toilet dan menemukannya sedang dipaksa memuaskan syahwat Hidan.
Dan tanpa segan, gadis berambut merah panjang itu segera memukul lelaki itu dengan balok kayu yang entah ia temukan di mana. Mungkin setengah kalap, jadi Karin tidak memikirkan kosekuensi dari perbuatannya ini.
Hidan sempat oleng dan jatuh terduduk di lantai toilet sebelum bangkit berdiri dan akan memukul balik gadis berambut merah itu. Namun, sepertinya ia kalah cepat karena Karin sudah memukulnya lagi dengan kekuatan penuh sehingga pria mesum itu pingsan dengan darah merembes keluar dari kepalanya.
Sakura saat itu hanya bisa menangis tergugu dan memeluk Karin untuk menyalurkan ketakutannya pada gadis berambut merah itu.
Dan akhirnya, ketika ia diberi izin untuk pulang ke rumah, Sakura menemukan Gaara sedang berdiri di sana dengan mata jade-nya yang menatap tepat ke iris emerald-nya.
"G-gaara!" Sakura mencicit takut saat pemuda itu datang dan langsung mencengkram dagunya sedikit kasar. Sakura mendesis lirih saat bibirnya yang sedikit robek akibat tamparan Hidan disentuh oleh Gaara.
Sakura hanya bisa memekik terkejut saat Gaara menarik tangannya secara kasar masuk ke dalam kamar. Kemudian pemuda itu menghempaskan tubuhnya ke ranjang, membuat badannya terasa sakit akibat pukulan yang di terimanya dari Hidan tadi semakin bertambah sakit.
"Buka!" titahnya dengan nada datar. Sakura menatap kekasihnya dengan mata yang berkaca-kaca. Gadis itu menggeleng pelan sambil menunduk, tak mau menatap permata jade Gaara yang tak di kenalinya saat ini. "Buka atau aku yang akan menelanjangimu di sini." Lagi. Suara itu terdengar lebih dingin di telinganya, membuat Sakura menengadah menatap wajah kekasihnya.
Ada kilat terkejut di matanya saat Sakura melihat tatapan dingin itu mengarah kepadanya. Ini tak seperti Gaara. Lelaki di depannya ini bukanlah kekasihnya.
Gaara adalah pribadi yang hangat dan tenang. Ia tidak pernah sekalipun menunjukkan sisi dirinya yang ini selama Sakura melakukan kesalahan. Tak peduli sebesar apa kesalahan itu sendiri.
Namun kali ini….
"Sakura." Datar dan tanpa intonasi yang jelas.
Sakura mengangkat tangannya yang bergetar, dengan pelan melucuti seragamnya sesuai perintah sang kekasih. Air matanya bahkan sudah menetes ketika melihat tubuhnya sendiri yang di penuhi lebam kebiruan akibat pukulan tadi.
Kini gadis itu hanya menggunakan pakaian dalamnya saja. Dari bawah tatapannya, ia bisa melihat kaki yang bersepatu milik Gaara berjalan mendekat ke arahnya. Pria itu duduk di sisi ranjang miliknya dan dengan gerakan lembut menarik tubuh Sakura menghadap padanya.
Ia pandangi tubuh kecil penuh luka itu dalam diam. Ada beberapa bercak kemerahan di dekat leher sang gadis. Namun lebam kebiruan lebih banyak memenuhi tubuh gadisnya.
Gaara kemudian menunduk, menciumi satu persatu luka yang yang ada di tubuh Sakura termasuk ruam kemerahan yang ada di leher Sakura. Lalu perlahan naik, meciumi rahang dan pipi Sakura yang sedikit merah. Dan yang terakhir, kepada benda kenyal dengan setitik darah kering di sudutnya.
Sakura meringis sakit, saat Gaara menghisap dengan kuat bibirnya. "Siapa yang melakukannya?" tanya Gaara pelan. Bibirnya masih menempel pada bibir gadis itu, menjilati dengan pelan sudut bibir yang sedikit robek itu.
"Katakan siapa?" tegas Gaara. Sakura sendiri hanya bisa mengangguk pelan, sebelum menjawab,
"Hidan-senpai, Gaara-kun." Lirihnya. Gaara menghentikan semua aksinya dan menyuruh Sakura mengenakan pakaiannya lagi. Pria itu tanpa mengatakan apapun segera berjalan ke luar, meninggalkan Sakura yang hanya bisa termenung sendiri di dalam kamarnya. Dan kembali menangis.
"Kenapa kau membawaku kesini, Karin?" Sakura bertanya saat ia dan Karin sampai di gedung sekolah mereka. Awalnya Karin mengatakan bahwa ia akan mengajak Sakura ke suatu tempat untuk menunjukkan sesuatu. Tapi, Sakura harus dibuat bingung saat sekolah merekalah yang ia datangi.
"Sebentar lagi, Sakura." Karin hanya meliriknya lewat ekor mata. Entah mengapa, sahabatnya yang satu ini seperti merahasiakan sesuatu darinya. Dan itu menarik rasa penasaran Sakura keluar.
"Sampai." Gumamnya pelan. Sakura menoleh ke arah Karin untuk meminta penjelasan. Namun, permata emeraldnya sudah membelalak duluan ketika melihat kekasihnya berdiri di sana.
Menyiksa seseorang yang ia kenal sebagai Hidan —seniornya di Konoha Gakuen.
"Gaara-kun!"
Gaara langsung menghentikan gerakan tangannya yang memukuli Hidan menggunakan tongkat bisbol, ketika mendengar jeritan suara Sakura yang memanggilnya. Pemuda bersurai merah itu dengan tenang berjalan ke arah Sakura yang tampak ketakutan melihatnya setelah memberikan pukulan terakhir pada tubuh Hidan, yang langsung membuat pemuda itu tak bergerak. Ia melempar tongkat dalam pegangannya dengan asal.
"Apa yang kau lakukan, Gaara-kun. Dia bisa mati!" Sakura berucap dengan nafas tersenggal-senggal menahan luapan emosinya pada Gaara. Bagaimana mungkin Gaara tega mengikat kedua tangan Hidan dan ia memukuli tubuh senpai-nya itu hingga babak belur. Tanpa ampun pula.
Emeraldnya sedikit berkaca-kaca saat permata jade Gaara menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sakura sendiri sedikit mengkeret ke belakang saat Gaara maju selangkah mendekatinya. Gadis itu tanpa sadar memegang lengan Karin yang berdiri di sampingnya.
"Dia mati pun aku tak peduli." Nada suaranya begitu dingin membuat Karin dan Sakura sedikit bergidik ngeri. Sakura menggelengkan kepalanya tak percaya dengan perkataan Gaara. Matanya menatap penuh ketakutan jade Gaara yang kini menatapnya dengan sorot lembut. "Jangan takut padaku, Sakura. Aku akan melindungimu— " Sakura merasa separuh nyawanya terbang terbawa angin malam ketika tangan dingin Gaara memegang lengannya.
"—selamanya." tambahnya lagi dengan nada mutlak. Dan dari sanalah, hari-hari penuh dengan luka Sakura dimulai.
.
.
.
Sakura tersentak saat ia terbangun dari tidurnya. Kenangan masa lalu nya terasa begitu nyata dalam mimpi tadi. Bagaimana pertama kalinya ia melihat sisi lain dari Gaara.
Gadis itu menyeka keringat dingin sebesar biji jagung yang membasahi dahinya dan turun dari atas ranjang. Ia menyingkap gordennya, dan cahaya mentari pagi tanpa aba-aba langsung menerobos masuk menyinari kamarnya.
Kemudian gadis itu berjalan menuju kamar mandi. Hari ini seperti biasanya ia akan menjalani aktivitasnya sebagai seorang pelajar.
Sasuke tidak pernah tahu, bahwa hidupnya akan dipermainkan takdir sebegininya. Hari ini –entah berapa kali ia berpas-pasan dengan Sakura di lorong. Gadis itu tidak menatapnya. Ia hanya menundukkan kepalanya dan berjalan dengan cepat sebelum Sasuke sempat berbicara.
Pemuda itu mendengus kesal sebelum berjalan cepat ke dalam kelasnya. Lagi-lagi gadis itu menggunakan cara konyol untuk menghindarinya.
Naruto, Kiba dan Chouji sedang tertawa saat ia masuk ke sana. Tiga pemuda berisik itu langsung terdiam ketika Sasuke memasang wajah yang tampak tak ingin diganggu sedikitpun.
"Kutebak, pasti Haruno lagi ya?" Tanya Kiba dengan antusiasme yang tinggi. Pemuda dengan tato segitiga terbalik itu hanya mendapat lirikan Sasuke sekilas.
"Kalau kubilang kau menyerah saja." Ucap Naruto sambil menepuk bahu Sasuke pelan. Sasuke mendelik tak suka sambil menghempaskan tangan Naruto yang menempel di bahunya. Sasuke duduk di bangkunya dan menghadap ke luar, tak memperdulikan dengusan dari dua temannya.
"Biar saja. Kalau Sasuke tak sanggup pasti akan menyerah sendiri." Samar-samar ia mendengar suara Kiba yang berbisik dengan Naruto.
Biarlah mereka mau mengatakan apa, namun yang jelas Sasuke tidak akan menyerah. Tidak akan pernah.
.
.
.
Entah angin dari mana yang membuatnya sampai ke tempat ini. Seingatnya sendiri, ia hanya pernah mengunjungi tempat ini sekali, saat di beri tugas oleh Orochimaru. Dan entah kebetulan atau memang sudah digariskan begini, Sasuke melihat dia sekarang. Duduk di pojokan —sendiri, tentu saja.
Beberapa tumpukan buku tergeletak rapi di atas meja. Tangannya sibuk mencatat sesuatu dalam buku, tampak tekun tak terganggu apa pun.
Sasuke berjalan pelan ke rak buku Biologi, mengambil salah satu buku di sana sambil matanya sekali-kali melirik ke arah gadis itu. Sekedar memastikan bahwa Sakura masih di sana. Kemudian ia berjalan mendekati Sakura, menarik satu kursi yang ada di samping bangku gadisnya.
Sakura sendiri masih tampak tak perduli, padahal ia jelas mendengar suara gesekan bangku dengan ubin. Dia masih terus menggores tinta di atas buku catatannya. Membalikkannya ke halaman setelahnya saat catatan tersebut penuh dengan tulisannya.
Sasuke sendiri mencuri intip hal apa yang tengah dilakukan gadisnya. Ia menjulurkan lehernya panjang-panjang, sampai poni raven-nya menyentuh pipi Sakura. Gadis itu segera menoleh dan mendapati wajah Sasuke begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan hembusan napas masing-masing mengenai wajah mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya gadis itu terkejut. Sasuke memundurkan badannya sebelum mengangkat buku yang ada dalam pegangannya.
"Membaca buku, memang apa lagi?" Pria itu mengangkat bahu tak acuh, sedikit mendengus karena pertanyaan Sakura. Gadis itu kembali berkutat pada bukunya dan mengacuhkan Sasuke. "Sakura…"
"Kumohon jangan ganggu aku, Sasuke-kun." Pintanya dengan nada lirih. "Tugasku banyak sekali." Katanya lagi. Sasuke kembali melirik Sakura yang berusaha konsentrasi di kegiatannya, tanpa ia ketahui tentunya.
Sakura sendiri tidak tahan berada dalam jarak sebegini dekatnya dengan pemuda Uchiha itu. Gadis itu cepat-cepat memebereskan bukunya dan akan segera ingkah dari sana sebelum Sasuke menahannya.
"Jangan pergi, Sakura. Aku janji, aku tak akan mengganggumu." Katanya sambil mencari-cari emerald bening milik Sakura yang kini menunduk. "Aku janji, asal kau tetap di sini." Jelasnya lagi. Tanpa meminta persetujuan dari Sakura, Sasuke langsung menarik tangan gadis itu, membuatnya kembali duduk.
Sasuke memegang kata-katanya dengan erat. Dia tidak menganggu gadis itu —bukan dalam artian sebenarnya. Dia hanya sesekali curi pandang ke arah Sakura, memastikan gadis itu masih ada di sampingnya.
Karena bagi Sasuke saat ini, melihat wajah Sakura dengan jarak sedekat ini saja sudah membuat hatinya senang.
Dan Sasuke tidak akan memaksakan kehendaknya kepada gadis ini. Walaupun Sasuke ingin sekali memiliknya dan mengenyahkan Gaara dari muka bumi ini.
=0=0=0=
Ini semua hanya perasaannya saja, atau memang pemuda itu mengikutinya akhir-akhir ini. Gaara memang tidak ada di sisinya saat ini, karena lelaki itu sedang pergi ke Suna, mengurus perusahaan mendiang ayahnya yang ada di sana.
Dan tampaknya Sasuke juga menyadari hal ini dan ia menggunakan kesempatan itu karena Gaara tidak ada. Bahkan Karin sedikit mengeluh karena kelakuan Sasuke yang terkesan konyol.
"Lelaki bodoh itu… Seharusnya dia datang dan mengajakmu berbicara di sini, bukannya hanya sembunyi di balik punggung teman-temannya."
Sakura berusaha menenangkan Karin yang tampak geram dengan Sasuke. Gadis berambut merah nyentrik itu meremas kuat-kuat kotak susu yang tadi ia minum sambil menatap tajam Sasuke yang tengah memperhatikan Sakura dari balik poni raven-nya.
Braakkk!
Sakura hanya bisa memekik terkejut saat Karin menggebrak meja yang tengah mereka duduki dengan Kasar.
"Aku sudah tidak tahan, Sakura!" Katanya sambil berjalan cepat menuju meja Sasuke. Karin tanpa aba-aba langsung menarik kerah seragam pria itu dan mendesis di depan wajah Sasuke.
Sakura sendiri tidak bisa mendengarnya karena suara Karin begitu pelan. Akhirnya, dengan tergesa-gesa, ia langsung berjalan ke arah Karin dan melepaskan genggaman tangan sahabatnya itu dari kerah seragam Sasuke.
"Dengar itu, Uchiha!" Setelahnya gadis itu langsung pergi meninggalkan semua pandangan yang masih tertuju padanya dan meninggalkan Sakura yang kini menatap punggungnya tak percaya.
Sakura berjengit terkejut saat tangannya digenggam tangan besar Sasuke, dan lagi, ia harus dibuat tak mempercayai yang terjadi padanya hari ini ketika Sasuke menyeretnya tanpa kata-kata.
"Sasuke lepaskan!"
Pemuda itu langsung melepaskannya ketika mereka telah sampai di atas atap sekolah. Sasuke langsung mengunci pintu dan menatap ke arahnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sakura berjalan mundur ketika pemuda itu berjalan ke arahnya. Ia terus mundur dan mundur sampai tubuhnya membentur pagar kawat pembatas. Jarak mereka sudah dekat dan Sakura tidak bisa melarikan diri ke mana-mana lagi.
"Sakura." Suara Sasuke yang memanggil namanya terdengar begitu dalam dan tenang. Pria itu menatap lurus-lurus permata hijau yang sejak awal menghipnotisnya itu.
"Aku tidak pernah melakukan ini seumur hidupku, terutama pada seorang gadis." Sakura mengernyit tak paham dengan kata-kata Sasuke namun ia tetap mendengarkan. "Tapi kepadamu mungkin berbeda." Katanya kemudian.
Sakura agaknya mengerti ke mana arah pembicaraan Sasuke ini akan berlanjut, dan lagi, ia tetap mendengarkan kata-kata pemuda raven ini. "Saat aku bilang cinta, maka aku benar-benar mencintaimu." Sakura berusaha menghindari tatapan Sasuke yang berubah tajam menatapnya, namun semua itu hanya sia-sia saja. Sasuke terus mengikuti gerakan kepala Sakura dengan onyx-nya yang menghunus tajam emerald gadis di depannya. Tak berniat sedikitpun melepaskannya.
"Aku tahu kalau kau belum yakin dengan perasaanmu yang juga mencintaiku, tapi aku akan menunggu dengan sabar. Aku tidak akan memaksamu." Tangannya menangkup pipi putih Sakura mengelusnya dengan lembut.
"Malam ini, ikutlah denganku ke rumah. Agar kau tahu dan yakin dengan perasaanmu itu." Sakura mendorong bahu Sasuke menjauh saat lelaki itu akan menciumnya. Sasuke sendiri sedikit terkejut dengan perlakuan Sakura. Apalagi dengan sorot mata sang gadis yang berubah menajam.
"Kenapa aku harus ikut denganmu. Kau pikir kau siapa?" Wajahnya berubah merah padam dan menatap Sasuke dengan sengit.
"Kau bukan siapa-siapaku, Sasuke-kun— "
"Belum." Potong Sasuke datar, begitu juga dengan tatapannya. Walaupun ia sedikit tak suka dengan kata-kata Sakura barusan dan ingin berteriak di depan gadis ini, namun Sasuke masih bisa menahan emosinya.
"Belum, Sakura. Maka dari itu, ikutlah denganku. Kita buktikan dan lihat hasilnya nanti." Setelah itu Sasuke langsung melenggang pergi meninggalkan Sakura yang masih terdiam mematung di tempatnya berpijak. Menatap punggung Sasuke sebelum hilang di balik pintu.
.
.
.
Sakura begitu terkejut saat melihat Sasuke sudah berdiri di depan kelasnya —menunggu dirinya. Karin yang berada di sebelah Sakura pun sama, terlihat dari pandangan matanya yang menatap Sasuke sedikit horror, seolah-olah pemuda itu adalah zombie seperti dalam film Resident Evil yang patut dihindari.
"Uzumaki, Sakura akan pulang bersamaku." Katanya dengan wajah datar. Karin hanya bisa menghela nafasnya pelan, sebelum melepaskan pegangan tangannya dari Sakura. Sakura sendiri menatap Karin tak percaya, pun dengan kata-kata gadis itu setelahnya.
"Baiklah, Uchiha. Titip Sakura kalau begitu." Katanya lagi. Sakura baru saja akan bertanya pada Karin 'mengapa' namun keburu didahului Sasuke yang menarik tangannya. Ia sempat menoleh ke belakang dan menatap Karin yang masih berdiri di depan kelas mereka dengan seulas senyum.
'Aku percaya pada pemuda itu, Sakura. Semoga setelah ini kau bahagia.'
Sakura memperhatikan rumah besar tempat mereka berhenti. Ia melirik Sasuke yang kini membuka helm-nya dan langsung menggenggam tangannya, ketika mereka masuk ke dalam rumah.
"Ini rumahmu, Sasuke-kun?" Tanya Sakura ketika mereka sampai di ruang tamu. Sasuke hanya mengangguk dan masih menggenggam tangan Sakura sebelum melepaskannya. Sakura melirik ke sekeliling rumah dan mengernyit heran, "Kok sepi? Memangnya kau tinggal sendiri?"
Sasuke menarik sudut bibirnya tak menjawab apa-apa dan langsung berjalan ke lantai atas rumahnya. Sakura mengangkat bahu dan langsung duduk di sofa besar milik Sasuke –sambil menunggu pemuda itu kembali turun.
Tak lama kemudian Sasuke muncul dengan pakaian santainya. Hanya celana jeans panjang dan kaus berwarna biru dongker menutupi tubuhnya.
"Kau mau makan?" tanya Sasuke yang hanya dibalas gelengan oleh gadis itu. "Haus?" Hanya gelengan lagi dan itu berhasi membuat Sasuke mendengus pelan sebelum duduk di sofa samping Sakura.
"Langsung saja, Sasuke-kun. Aku harus segera pulang." Katanya pelan. Sakura menatap Sasuke meminta penjelasan—yeah, penjelasan atas bukti yang pria itu katakan tadi. Sasuke sendiri sedikit terkejut dengan perkataan Sakura yang to the point tampak tak ingin bertele-tele. Pria itu menarik sudut bibirnya karenanya.
Yosh! Karena Sakura sendiri yang tidak ingin bertele-tele, maka Sasuke pun sama. Oleh karena itu, "Apa kau mencintai Gaara, Sakura?" tanyanya sambil menatap permata emerald di depannya yang sedikit membola. "Jawab pertanyaanku dengan jujur!"
Dan Sakura sendiri pun sedang bersusah payah menelan ludahnya, ketika tatapan jelaga Sasuke tak pernah beralih darinya.
.
.
.
.
.
tbc
