Setetes Cinta dalam Rinai Hujan
By: Yuri Misaki and Auramour Pixie
Disclaimer : All of charas in Gundam Seed/Destiny by © Sunrise
( OOC, typo, dan lain-lain )
One...
-Normal's POV-
Langit tampak mendung. Awan hitam mulai bergerombol menyelimuti atmosfer. Suhu di bumi melonjak turun, udara dingin menguar, menyelubungi setiap sudut tempat di kota besar ini. Tetesan-tetesan air jatuh perlahan menyentuh permukaan tanah, mengikis jalanan beraspal yang mulai tergenangi air. Hari ini hujan turun lagi.
Seorang gadis remaja coordinator dan berrambut merah muda tengah bersandar pada sebuah kursi di dekat jendela. Sebuah selimut tebal melapisi tubuh mungilnya yang menggigil kedinginan. Secangkir coklat hangat yang masih mengepul bertengger manis di meja sebelahnya. Sepasang mata biru mudanya memandang pemandangan di balik jendela. Ia menghela napas panjang. Di raut wajahnya tersirat sebongkah rasa bosan dan kesal. Satu hal yang dari dulu tidak berubah, ia tetap membenci hujan.
"Lagi-lagi hujan," gumamnya pasrah. Ia mengeratkan selimut yang dikenakannya kala udara semakin dingin. Sesekali ia meraih cangkir pada meja sebelahnya kemudian menyesap isinya perlahan.
Berkali-kali ia pandangi suasana hujan dari balik jendela kamarnya, berharap akan reda suatu saat. Namun tiada hasil, hujan masih tetap setia mengguyur kota ini. Urat-urat kecewa timbul di wajah gadis itu. Ia menopangkan wajahnya pada kedua belah tangannya di meja. Ingin rasanya ia keluar rumah. Namun lagi-lagi hujan menghambatnya. Penyebab utama ia membatalkan janjinya.
"Hufth…" lagi-lagi gadis itu menghela napasnya. Seharusnya saat ini ia tengah berkumpul bersama kawan-kawan dekatnya, berbincang-bincang ringan, berceloteh ria, bercanda-tawa. Bukannya terperangkap di dalam rumah seperti ini. Benar-benar membosankan! Ah ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya mengutuk hujan ini. Mengapa dirinya dan hujan selalu menjadi musuh bebuyutan?
Cklek. Terdengar suara pintu terbuka. Gadis itu sejenak mengalihkan perhatiannya dari jendela, menoleh ke asal suara tersebut. Ia melihat sesosok wanita cantik paruh baya tengah berada di muka pintu kamarnya, sang ibunda tercinta.
"Kau tidak keluar kamar, Lacus?" tanya ibunya lembut.
"Aku sedang bosan, Bu," ujar gadis yang dipanggil Lacus itu pelan.
Sang ibu tersenyum prihatin, kemudian berjalan mendekat menuju anaknya. Ia melihat suasana di balik jendela. Hujan. "Nampaknya kau masih tidak menyukai hujan ya, bukan begitu, Lacus?"
Gadis itu hanya menganggukan kepalanya sejenak, matanya masih tertumbuk pada pemandangan dari balik jendela.
"Bagaimana kalau sekarang kamu membantu ibu membuat cake arbei kesukaanmu?" tawar sang ibu yang sontak berhasil membuat anaknya menolehkan pandangan ke arahnya. Nampaknya mulai timbul rasa tertarik dari raut wajah gadis itu. Apalagi setelah mendengar ibunya akan membuat cake arbei. Makanan manis favoritenya.
"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kamu pergi sebentar keluar untuk membeli bahan-bahannya."
"Tapi di luar masih hujan, Bu," gerutunya malas.
Mendengar jawaban anaknya, sang ibu malah semakin menyunggingkan senyumannya, "Tidak ada salahnya kan daripada hanya berdiam diri di kamar. Lagipula sepertinya hujan mulai agak reda, tidak selebat tadi," setelah melontarkan kalimat terakhirnya, ia bergegas keluar dari kamar anaknya perlahan.
Gadis itu hanya menghela napas malas berkali-kali. 'Sungguh merepotkan,' batinnya dalam hati. Namun sejenak kemudian ia beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan gontai keluar kamar menyusul ibunya.
...
Clak clak. Suara gemuruh sepatu beradu dengan aspal yang sudah digenangi air. Sang pemilik sepatu itu berjalan ringan, melintasi jalanan yang basah oleh tetesan air hujan. Di tangannya tergenggam sebuah payung berwarna baby pink yang menyelimuti dirinya dari air hujan yang jatuh perlahan. Hujan memang sudah sedikit reda, tidak terlalu deras. Namun tetap saja gadis yang satu ini masih tidak suka dengan hal-hal yang berbau unsur hujan. Jika bukan karena masalah cake arbei, ia tidak mau repot-repot keluar rumah hanya untuk menerobos hujan.
"Ayolah supermarket sudah tidak jauh dari sini," gumamnya pada diri sendiri seraya mempercepat gerak langkahnya. Namun perlahan langkahnya terhentikan sesuatu. Di hadapannya terhampar genangan air yang cukup besar. Ia menatap genangan itu dengan seksama. Bias-bias cahaya memantulkan siluet dirinya dalam genangan. Ia memandang bayangan dirinya yang terpantulkan.
'Craaassh'. Sebuah mobil sedan berwarna hitam melenggang cepat tepat di depan dirinya menghantam genangan air itu. Sontak rok terusan yang dikenakan gadis itu basah kuyup terkena cipratan air. Ia terdiam memandangi pakaiannya yang basah. Terkejut? Pasti. Kesal? Jangan ditanya. Mana mungkin ia tidak merasa kesal sedikitpun?
Tak jauh dari tempat ia berpijak, mobil sedan tersebut berhenti. Kemudian keluar sesosok lelaki berperawakan atletis dan berrambut cokelat. Dilihat dari wajah dan style-nya, nampaknya lelaki itu masih remaja, umurnya berkisar antara 17-18 tahun. Ia berjalan tegap, mendekat ke arah gadis yang hampir ia tabrak. Lelaki itu kemudian berhenti tepat dihadapannya. Ia menatapnya dari atas sampai bawah dengan pandangan yang sulit diartikan. Gadis itu menatap balik sinis, ia tidak suka dipandangi seperti itu. Kemudian ia bermaksud mengatakan sumpah serapahnya.
"Hei kamu! Lihat-lihat jalan dong kalau lagi menyetir! Lihat nih, bajuku jadi basah semua! Untung saja aku gak ketabrak! Dasar, kau ini!"
"Maaf..aku tak sengaja...apa ada yang luka?" tanpa disangka, lelaki itu malah berusaha mendekatinya dan mulai menyentuh lengannya, dan tentu saja ia tak mengindahkannya.
"Jangan macam-macam ya!" serunya tajam.
"Aku kan' sudah minta maaf...," entah mengapa lelaki ini seolah tak peduli dengan kemarahan gadis di depannya itu, dan ia mengucapkan kata-kata itu dengan nada menyesal dan seperti mau... menangis?
"Eh...," melihat kenyataan yang ada di depannya, gadis itu menjadi bingung. Matanya membulat sempurna. Raut mukanya menjadi serba salah. Tentu saja, ia tak menyangka bahwa reaksi lelaki itu akan menjadi melankolis seperti ini.
Ia akhirnya merasa bersalah juga telah memarahi habis-habisan lelaki itu, apalagi ketika melihat mata violet lelaki itu berkaca-kaca. Tapi karena gengsi, gadis itu akhirnya beranjak dari tempat ia berpijak, melanjutkan kembali perjalanannya yang tertunda. Ia menghentak-hentakan kakinya pada genangan air tersebut, tak peduli sepatunya kini menjadi basah kuyup terkena cipratan air. Hanya satu hal yang kini sedang ia rasakan. Kesal.
Ah ingin sekali rasanya ia mengutuk dan mencincang-cincang lelaki sialan itu! Kalau saja lelaki itu tak berusaha minta maaf padanya dengan nada yang teramat sangat menyesal tadi, sudah pasti ia akan menghajarnya. Bayangkan saja dia sudah membuatnya mood-nya 'jauh' lebih buruk. Camkan itu, jauh lebih buruk! Padahal sebelumnya mood gadis itu sudah down lantaran hujan turun dan sekarang ditambah lagi kejadian barusan yang melibatkan lelaki-sialan-tak-tahu-diri itu. Bagus! Cukup sudah moodnya hari ini hancur berantakan.
...
Klang. Pintu sebuah supermarket terbuka. Seorang gadis melenggang keluar. Kedua tangannya nampak penuh dengan kantong-kantong plastik belanjaannya. Ia menengadah ke atas sejenak. Bulir-bulir air hujan masih setia turun, sepertinya sedari tadi hujan belum surut juga. Gadis itu memindahkan kantong-kantong belanjaannya ke satu tangan sementara tangan yang lain sibuk membuka payung. Ia mulai menerobos hujan yang tidak terlalu deras itu.
Langkah-langkah kakinya yang ringan beradu dengan jalanan basah. Gadis itu berjalan pelan sembari kedua matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling jalanan. Seketika matanya tertumbuk pada sebuah cafe di seberang jalan. Une Tasse deCafé, cafe yang baru saja didirikan di tengah kota ramai ini nampaknya tak pernah sepi dari pengunjung. Wajar saja karena lokasinya yang strategis, tempatnya yang cozy, serta harganya yang cukup terjangkau mampu membuat cafe ini selalu ramai.
Gadis itu memandang suasana cafe itu dari balik dinding kacanya yang transparan. Hampir di setiap sudut tempat duduk di cafe itu penuh dengan orang-orang yang tengah menyesap minuman hangat dan cemilan-cemilan ringan. Sekilas muncul keinginan untuk mampir ke cafe itu.
"Hmm sepertinya nikmat sekali mencicipi secangkir café au lait ditemani dengan sepiring pai apel," gumamnya pelan. Kemudian ia kembali memandang ke atas, "Sepertinya hujan juga belum reda, tak ada salahnya kan untuk mampir sebentar," gadis itu masih menimbang-nimbang keinginannya.
Tergiur oleh hasrat untuk mampir sejenak, akhirnya gadis itu memantapkan keputusannya. Ia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, memastikan kendaraan yang lewat tidak terlalu padat. Setelah dirasa jalanan sudah cukup lenggang, gadis itu kemudian menyeberangi jalanan dan lantas berjalan riang memasuki Une Tasse deCafé.
Secangkir café au lait dan sepiring pai apel telah lengkap menemani gadis itu di sebuah meja café. Ia memandang pemandangan di luar dari balik dinding kaca café itu yang transparan. Ia sengaja memilih meja di pojok ruangan. Tak terlalu ramai dan yang paling penting ia mendapatkan sebuah ketenangan. Biarpun terletak di sudut, namun dari meja ini dapat terlihat jalanan di luar dengan jelas. Itulah mengapa ia memilih untuk duduk di meja ini.
Gadis itu tersenyum puas menatap piring dan cangkir yang telah kosong di hadapannya. Keinginannya untuk mampir ke café telah ia penuhi. Kini tiba saatnya pulang ke rumah. Di rumah pasti sang ibunda tercinta tengah menanti kedatangannya. Ia menatap jalanan di luar. Bagus! Nampaknya hujan sudah mulai reda. Ia pun beranjak dari bangkunya dan bergegas ke luar café.
Jalanan memang masih basah, tetapi butir-butiran hujan sudah tidak mengguyur aspal lagi. Entah mengapa mood gadis yang kini tengah menyusuri jalanan itu berubah drastis. Ia yang tadinya dilanda mood buruk kini malah menampakkan wajah riangnya. Sepertinya dampak berhentinya hujan sangat memengaruhi moodnya. Lihat saja sedari tadi senyum tak kunjung surut dari raut wajahnya. Ia terus berjalan sembari bersenandung ria sembari memutar-mutarkan sebelah tangannya.
Namun langkahnya tiba-tiba semakin lambat, lambat, dan akhirnya ia berhenti. Ia menatap heran tangannya yang sedari tadi ia putarkan. Rasanya ada sesuatu yang janggal kala ia mengayunkan tangannya. Seperti ada yang hilang dari genggamannya. Ia berpikir sejenak, memutar otak, dan mengingat-ngingat kembali. Kemudian ia kembali melirik tangannya. Ah, sepertinya ia menyadari sesuatu yang luput dari pikirannya. Pantas saja ia merasa ada yang aneh ketika tangannya diayun-ayunkan. Ternyata ia melupakan payungnya yang masih tertinggal di café tadi.
"Duh kenapa bisa sampai lupa?" gumamnya pelan. Sedetik kemudian ia memutarkan tubuhnya, berbalik arah menuju café yang tadi ia singgahi.
...
Seorang gadis tengah mengedarkan pandangannya kala memasuki Une Tasse deCafé. Pandangan matanya langsung tertuju pada meja di pojok café. Namun ada yang berbeda. Meja tersebut kini telah ditempati seorang remaja lelaki yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya. Hah lelaki? Ia memerhatikan lelaki itu dengan seksama dari jauh. Parasnya nampak tak asing lagi baginya. Rasanya ia mengenali wajah itu.
Timbul rasa penasaran di benak gadis itu. Ia ingin sekali beranjak menghampiri meja itu namun kakinya mendadak lumpuh, sulit digerakkan. Sejenak tersirat keraguan dalam hatinya. Tetapi mau tak mau ia harus berjalan ke meja itu. Terlebih lagi payungnya masih tertinggal di sana. Ia berpikir sebentar kemudian ia memutar sepasang matanya sembari menghela napas. Baiklah, lagipula ia hanya ingin memastikan saja dan mengambil balik payungnya.
Gadis itu berjalan perlahan menghampiri meja di pojok café. Langkahnya semakin dekat ke arah meja itu. Kemudian ia menghentikan langkahnya ketika berada tepat di hadapannya. Ia memerhatikan lelaki yang masih sibuk dengan laptopnya. Sejenak kemudian ia membelalakkan matanya, pandangannya tak lepas dari lelaki itu. Urat-urat kekesalan mulai nampak di wajahnya. Ternyata benar dugaannya. Pantas saja ia merasa tak asing lagi melihat lelaki itu.
'Huh! Kenapa aku harus bertemu lagi dengan lelaki-sialan-tak-tahu-diri yang hampir menabrakku itu?' ia membatin kesal dalam hati. Ingin sekali rasanya ia menumpahkan segala amarahnya kepada lelaki-sialan-tak-tahu-diri di depannya. Namun ia memendam keinginannya itu. Ia harus menahan emosinya kali ini, 'Baiklah, aku hanya meminta izin saja mengambil payungku lalu langsung keluar dari café ini.'
"Maaf, bolehkah aku mengambil payungku yang ada di sebelah sana? Tadi aku sempat mampir ke sini dan payungku ketinggalan. Jadi, bolehkah?"
Tak ada reaksi dari lelaki tersebut, entah karena suaranya yang kecil atau karena lelaki ini tak memperhatikannya?
"Permisi, apa boleh aku mengambil payungku yang di sana?" Ia mencoba mengulang kembali dengan sedikit memperbesar volume suaranya.
Namun nihil, tetap tak ada reaksi dari lelaki yang masih saja menatap serius laptopnya. Bahkan ia tak menoleh sedikit pun pada gadis di samping mejanya ini.
'Sebenarnya dia ini bisa denger orang ngomong gak sih?' umpat gadis itu dalam hati.
Gadis itu hanya bisa terpaku di tempat. Ia terpaksa mengatupkan kembali mulutnya yang sempat terbuka. Bagus! Sudah dua kali ia dibuat kesal. Kali ini ia tak bisa lagi menahan amarahnya. Ia sudah terlanjur kesal dengan kelakuan lelaki-sialan-tak-tahu-diri di depannya itu. Namun ia malas untuk meladeninya, ia tak ingin membuat lebih banyak masalah lagi dengannya.
Akhirnya ia menyambar payung yang tertopang di kursi café itu. Matanya menatap sinis lelaki-sialan-tak-tahu-diri di hadapannya. Kemudian ia melenggang pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Cukup sudah moodnya yang sempat membaik kini kembali hancur berkeping-keping hanya karena lelaki-sialan-tak-tahu-diri itu.
Sementara lelaki itu hanya melirik sejenak gadis itu yang kini sudah berada di luar café. Kemudian sepasang mata violetnya beralih kembali pada laptop dihadapannya.
...
