Remake dari Emma Chase "Tangled".

Alur cerita sesuai dengan novel aslinya, hanya akan disesuaikan dengan cast & setting lokasi ^^

Karena ini Remake, kalau ada cerita (ff) yang mirip-mirip dengan pairing yang berbeda, itu wajar ya :)

Kali ini karakternya mayoritas OOC. Dan FF ini akan bercerita dengan POV Jimin.

Main Cast: MinYoon

- Park Jimin (!SEME!)

- Min Yoongi (!UKE!GS!)

Support Cast:

All BTS member (GS: Kim Seok Jin, Jung Hoseok, Jeon Jungkook) & other Idol (random)

Rate M

Genre: Humour, Romance, Drama, Fluffy.

DON'T LIKE DON'T READ


CHAPTER 2

Pernahkah aku mengatakan kalau aku mencintai pekerjaanku?

Jika diibaratkan perusahaanku adalah NBA, maka aku adalah MVP-nya.

Aku seorang partner di salah satu bank investasi terkemuka di Seoul, yang mengkhususkan diri dalam bidang media dan teknologi.

Ya, ya ayahku dan kedua sahabat dekatnya yang mulai merintis perusahaan ini. Tapi bukan berarti aku tidak bekerja keras untuk memperoleh posisiku sekarang—karena aku melakukannya.

Kalau kalian tanya, apa yang dilakukan seorang bankir investasi?

Well, kalian tahu di film Pretty Women, ketika Richard Gere memberitahu Julia Roberts bahwa perusahaannya membeli perusahaan lain, dan menjualnya bagian demi bagian? Akulah orang yang membantu dia melakukan itu.

Well, aku bertugas menegosiasikan transaksi, menyusun kontrak, mengelola rancangan perjanjian kredit, dan banyak hal lain yang kuyakin kalian tidak tertarik untuk mendengarnya.

Sekarang mungkin kalian bertanya pada diri sendiri kenapa pria seperti aku mengutip film cewek seperti Pretty Women?

Jawabannya sederhana:

Saat tumbuh besar, setiap minggu ibuku mewajibkan kami mengikuti "malam film keluarga" pada anak-anaknya yang masih kecil. Si Menyebalkan bisa memilih film setiap minggunya. Dia terobsesi pada segala hal tentang Julia Roberts dan memaksaku menerimanya, sekitar satu tahun. Aku bisa mengutip dialog film itu kata demi kata. Meskipun harus kuakui—Richard Gere lumayan keren.

Sekarang kembali ke pekerjaanku.

Bagian terbaik tentang pekerjaanku adalah perasaan mabuk yang kurasakan ketika menutup kesepakatan, kesepakatan yang sangat bagus. Ini seperti mendapat blackjack ketika berjudi. Seperti dipilih oleh lima gadis untuk bermain di film porno bersama.

Tidak ada—dan maksudku tidak ada—yang lebih baik dari itu.

Aku yang mencari pelanggan untuk klienku, merekomendasikan langkah apa yang seharusnya mereka lakukan. Aku tahu perusahaan mana yang sangat ingin dibeli dan perusahaan mana yang perlu pengambil-alihan secara paksa.

Kompetisi untuk mendapat klien sangat sengit. Kalian harus menarik perhatian mereka, membuat mereka menginginkanmu, membuat mereka percaya tidak ada orang lain yang dapat melakukan untuk mereka seperti yang bisa kalian lakukan.

Ini agak mirip seperti melakukan hubungan seks.

Tapi bukannya mendapatkan seorang wanita yang menarik pada penghujung hari, aku mendapatkan cek yang sangat besar, aku menghasilkan uang untuk diriku sendiri dan juga untuk klienku—banyak sekali.

Anak-anak dari para mitra ayahku juga bekerja di sini, Kim Taehyung dan Kim Namjoon.

Ya Namjoon—suami Si Menyebalkan.

Seperti para ayah kami, kami bertiga tumbuh besar bersama, masuk ke sekolah yang sama, dan sekarang bekerja di perusahaan yang sama.

Para orangtua menyerahkan pekerjaan yang sesungguhnya kepada kami. Mereka memeriksa dari waktu ke waktu, untuk merasakan bahwa mereka masih menjalankan sesuatu, dan kemudian pergi menuju Jack Nicklaus Golf Club untuk bermain golf di sore hari.

Namjoon dan Taehyung juga bagus pada pekerjaannya—jangan salah paham.

Tapi akulah bintangnya. Akulah jagoannya. Aku orang yang klien minta.

Senin pagi aku ada di kantorku jam sembilan, sama seperti biasa.

Sekretarisku—wanita cantik berambut dark brown, berpayudara besar— sudah ada di sana, siap dengan jadwalku untuk hari ini, pesananku dari akhir pekan, dan secangkir kopi terbaik.

Tidak, aku belum pernah menidurinya.

Bukan berarti aku tidak senang melakukannya. Percayalah, jika dia tidak bekerja untukku, aku akan merayu dia lebih keras daripada seorang Casanova.

Tapi aku punya aturan—standar, kalau menurut istilah kalian.

Salah satunya adalah tidak main-main di sekitar kantor. Aku tidak berhubungan asmara dengan rekan kerja, aku tidak bercinta dimana aku bekerja. Belum lagi masalah pelecehan seksual akan muncul.

Ini bukan bisnis yang bagus. Tidak profesional.

Jadi, Hoseok, adalah satu-satunya wanita selain kerabat sedarah yang memiliki interaksi secara platonis denganku, dia juga satu-satunya anggota dari lawan jenis yang pernah aku anggap sebagai teman.

Kami memilki hubungan kerja yang baik. Hoseok sungguh...mengagumkan. Itu alasan lain aku tidak akan menidurinya bahkan jika Hoseok berbaring telentang di atas meja memohonku untuk melakukannya.

Percaya atau tidak, seorang sekretaris yang bagus—yang sangat bagus—sulit ditemukan. Aku pernah punya beberapa sekretaris yang sangat bodoh. Aku pernah punya sekretaris yang berpikir mereka bisa sukses hanya dengan telentang, jika kalian tahu apa maksudku.

Mereka adalah gadis-gadis yang ingin aku temui di sebuah bar pada malam Minggu—bukan tipe gadis yang aku inginkan untuk menjawab teleponku di senin pagi.

Jadi sekarang kalian punya sedikit pengetahuan, kan?

Mari kita kembali ke kisah perjalananku menuju neraka.

"Aku memindahkan jadwal makan siang dengan Mecha jam satu ke pertemuan jam empat," Hoseok mengatakan padaku saat dia memberiku setumpuk pesan.

Sial.

Mecha Communications adalah konglomerat media yang bernilai miliaran won. Aku telah mengerjakan akuisisi mereka pada jaringan kabel berbahasa-Spanyol selama berbulan-bulan, dan CEO-nya, Radolpho Scucini, selalu lebih gampang menerima saat perut kenyang.

"Kenapa?"

Dia memberiku sebuah berkas.

"Hari ini—makan siang di ruang konferensi. Ayahmu memperkenalkan rekan kerja baru. Kau tahu bagaimana ayahmu tentang urusan ini."

Ayahku mencintai perusahaan ini dan menganggap semua karyawan sebagai keluarga besarnya. Dia selalu mencari alasan untuk mengadakan acara pesta kantor, acara pesta ulang tahun, baby shower, makan siang, chuseok, prasmanan President's Day, makan malam pengakrabkan diri... perlu aku lanjutkan?

Sebuah keajaiban jika pekerjaan yang sebenarnya dapat terselesaikan.

Dan Natal? Lupakan tentang itu. Pesta Natal ayahku legendaris. Semua orang pulang dengan mabuk. Beberapa orang tidak pulang sama sekali.

Tahun lalu kami menangkap sepuluh karyawan dari bank saingan yang berusaha menyelinap masuk, hanya karena pesta di malam hari yang fantastis. Dan itu semua dilakukan untuk memperoleh atmosfer—suasana—yang diinginkan ayahku pada perusahaan ini.

Ayahku mencintai karyawannya, dan mereka balas mencintainya.

Pengabdian, kesetiaan—kami mendapatkannya secara melimpah. Itu bagian yang membuat kami menjadi yang terbaik.

Namun, ada hari—seperti sekarang ini, ketika aku butuh melayani klien—yang membuat perayaan ayahku bisa menjadi sangat menjengkelkan. Tapi begitulah keadaannya.

Jadwal Senin pagiku penuh, jadi aku pergi menuju mejaku dan mulai bekerja. Kemudian, sebelum aku bisa berkedip, sudah pukul satu, dan aku menuju ke ruang konferensi. Aku melihat kepala berambut pirang terang yang melekat pada tubuh pendek dan kekar. Itu pasti Wang Jackson. Jackson mulai bekerja di perusahaan ini enam tahun yang lalu, tahun yang sama denganku.

Dia pria yang baik dan sering menjadi kawan berakhir pekan. Di sampingnya adalah Taehyung, asyik mengobrol sambil mengusap rambut coklat terangnya dengan tangannya yang besar. Aku mengambil makanan dari prasmanan dan bergabung dengan mereka saat Taehyung menceritakan malam Minggunya.

"Kemudian gadis itu mengeluarkan borgol dan cambuk. Sebuah cambuk! Kukira aku akan kehilangan akal saat itu juga, aku bersumpah demi Tuhan. Maksudku...dia masuk ke suatu biara...sebenarnya dia belajar untuk menjadi biarawati, bro!"

"Aku sudah bilang, orang pendiam selalu suka yang aneh-aneh," tambah Jackson dengan tertawa.

Taehyung mengalihkan mata coklatnya pada Namjoon dan berkata,

"Serius, bung. Kau harus keluar dengan kami, sekali saja, aku mohon."

Aku menyeringai mendengar kalimat itu karena kutahu persis apa yang akan terjadi.

"Maaf, pernahkah kau bertemu dengan istriku?" Namjoon bertanya, alisnya berkerut dengan kebingungan.

"Jangan menyebalkan," Jackson menyikutnya. "Katakan pada istrimu kau akan main kartu atau sesuatu yang lain, bersenang-senanglah sedikit."

Namjoon melepas kaca matanya dan menyeka lensa dengan serbet saat ia tampaknya mempertimbangkan ide itu.

"Benarrrr. Dan ketika istriku tahu—dan Jin pasti akan tahu, aku jamin—dia akan menghidangkan bolaku di atas piring perak. Dengan saus colek di sampingnya dan anggur yang enak."

Namjoon mengeluarkan suara menghela nafas keras yang membuatku tertawa terbahak-bahak.

"Disamping itu," Ia merenungkan dengan senang, memasang kembali kacamatanya dan meregangkan tangan di atas kepalanya.

"Di rumah aku sudah punya 'beef wagyu', kawan. Aku tidak tertarik pada 'steak lokal'."

"Dasar penakut," Taehyung terbatuk, sementara Jackson menggeleng kearah kakak iparku dan berkata,

"Bahkan wagyu yang enak akan membosankan kalau kau memakannya setiap hari."

"Tidak," Namjoon membela diri dengan penuh arti. "Jika kau memasaknya dengan cara yang berbeda setiap kalinya. Istriku tahu bagaimana membuat 'makanan'ku tetap menarik."

Aku mengangkat tanganku dan memohon,

"Tolong. Harap berhenti di situ."

Ada beberapa visualisasi yang tidak ingin ada dalam kepalaku. Sekalipun.

"Bagaimana denganmu, Jimin? Aku melihatmu pergi dengan gadis kembar itu. Apa rambut mereka asli berwarna merah?" Jackson bertanya padaku.

Aku merasakan senyum puas meregang atas bibirku.

"Oh ya rambutnya asli."

Kemudian aku mulai mendeskripsikan malam Minggu liarku secara jelas dan mendetil.

Oke mari kita berhenti sekarang karena aku bisa melihat pandangan menghakimi di wajah kalian. Aku juga bisa mendengar ketidaksetujuan bernada tinggi dari kalian:

'Dasar brengsek. Dia berhubungan seks dengan seorang gadis—well, dalam hal ini dua gadis—dan sekarang dia menceritakan semua itu ke teman-temannya. Itu sangat tidak hormat.'

Pertama-tama, jika seorang cewek ingin aku menghormatinya, dia perlu bersikap seperti seseorang yang layak dihormati.

Kedua, aku tidak berusaha bersikap brengsek, aku hanya menjadi pria umumnya. Dan semua pria berbicara dengan teman-teman mereka tentang seks.

Mari kuulangi, kalau saja kalian melewatkannya:

SEMUA PRIA BICARA PADA TEMAN-TEMANNYA TENTANG SEKS.

Jika seorang pria memberitahumu dia tidak melakukannya?

tinggalkan dia, karena dia telah membohongimu.

Dan satu lagi—aku juga pernah mendengar kakak perempuanku mengobrol soal itu bersama sejumlah temannya. Beberapa cerita yang keluar dari mulut mereka bisa saja membuat mereka tersipu. Jadi jangan bersikap seolah wanita tidak membicarakan tentang seks seperti halnya kami kaum pria... karena kutahu pasti mereka melakukannya.

Setelah menguraikan poin-poin terperinci akhir pekanku, pembicaraan di meja berganti ke football dan olahraga lainnya. Di kejauhan aku mendengar suara ayahku saat ia berdiri di depan ruangan, menjelaskan secara rinci prestasi besar dari rekan kerja kami yang baru, yang filenya tidak repot-repot aku buka pagi ini.

Obrolan memudar saat pikiranku beralih ke bagian dari malam Mingguku yang tidak kuceritakan ke teman-temanku:

Interaksi dengan salah satu dewi berambut pirang, tepatnya. Aku masih bisa melihat dengan begitu jelas mata cokelat tua gelapnya di kepalaku. Bibir lezatnya, rambut bercahaya yang tidak mungkin selembut seperti kelihatannya.

Ini bukan pertama kalinya bayangan wanita itu muncul di kepalaku, tanpa diminta, selama satu setengah hari terakhir. Sebenarnya, seperti setiap jam sebuah gambaran dari beberapa bagian dirinya datang padaku, dan mendapati diriku membayangkan apa yang terjadi padanya. Atau, lebih tepatnya, apa yang bisa terjadi jika aku tetap tinggal dan pergi mengikutinya.

Ini aneh. Aku bukan tipe pria yang akan mengenang orang asing yang kutemui selama petualangan akhir pekanku. Biasanya, mereka memudar dari pikiran saat aku pergi dari ranjang mereka.

Tapi ada sesuatu tentang dirinya.

Mungkin karena dia menolakku. Mungkin karena aku tidak tahu siapa namanya. Atau mungkin pantat indahnya yang kencang membuatku ingin memegangnya dan takkan pernah membiarkannya pergi.

Saat bayangan yang ada dalam pikiranku mulai terfokus pada sosok itu, geliatan akrab mulai terjadi di organ bawahku, kalau kau tahu maksudku. Secara mental aku memperingatkan diriku sendiri. Aku tidak pernah lagi mengalami ereksi spontan sejak berumur dua belas tahun.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Sepertinya aku harus menelepon cewek seksi yang menyelipkan nomer teleponnya padaku di coffehouse pagi ini. Biasanya aku menunda aktivitas semacam itu untuk kegiatan akhir pekan, tapi rupanya kejantananku ingin membuat perkecualian.

Pada saat ini, aku telah sampai depan ruangan, dalam antrian untuk berjabat tangan seperti lazimnya menyambut semua karyawan baru. Saat aku mendekati ujung depan barisan, ayahku melihat dan datang menyambut dengan tepukan sayang di punggungku.

"Senang kau sudah datang, Jimin. Gadis baru ini punya potensi yang sesungguhnya. Aku ingin kau secara pribadi membantu dan melindunginya, membantu dia memperoleh pengalaman untuk pertama kalinya. Kalau kau melakukan itu, nak, aku jamin dia akan menjadi sukses dan membuat kita semua bangga."

"Tentu, ayah. Tidak masalah."

Bagus.

Seperti aku tidak punya pekerjaan sendiri untuk diurus.

Sekarang aku harus menuntun seorang pemula saat dia berjalan di kegelapan dunia yang menakutkan. Sungguh sempurna.

Terima kasih, ayah.

Akhirnya giliranku tiba. Dia memunggungiku saat aku melangkah. Aku menatap rambut lembutnya yang diikat menjadi sanggul rendah, kecil, sosok tubuh mungilnya. Mataku menatap pada punggungnya, saat ia berbicara dengan orang di depannya.

Berdasarkan insting tatapanku tertuju pada pantatnya dan... tunggu.

Tunggu, tunggu sebentar.

Aku pernah melihat pantat ini sebelumnya.

Tidak mungkin.

Dia berbalik.

Tidak.

Senyum di wajahnya melebar saat matanya terhubung denganku. Mata cemerlang tak berujung yang telah kuimpikan dan sekarang baru kuingat. Dia mengangkat alis sebagai tanda mengenali dan mengulurkan tangannya.

"Mr. Park."

Aku merasa mulutku membuka dan menutup, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Kaget melihat dia lagi—di sini dari semua tempat—sesaat keterkejutan itu pasti telah membekukan bagian otakku yang mengontrol kemampuan bicara. Ketika syarafku mulai berfungsi lagi, aku mendengar ayahku berkata,

"...Min Yoongi. Dia akan jadi orang sukses, nak. Dan dengan bantuanmu dia akan membawa kita bersamanya."

Min Yoongi.

Gadis di bar. Gadis yang aku biarkan pergi. Gadis yang mulutnya masih sangat kuinginkan untuk berada di sekitar kejantananku. Dan dia bekerja disini. Di kantorku, di mana aku telah bersumpah untuk tidak pernah... sekalipun... berhubungan seks dengan rekan kerja.

Tangan hangat lembutnya dengan sempurna meluncur ditanganku, dua pikiran secara bersama masuk ke dalam kepalaku.

Yang pertama: Tuhan telah membenciku.

Yang kedua: aku telah menjadi cowok yang sangat, sangat nakal hampir sepanjang hidupku

dan ini adalah balasannya.

Dan kalian tahu kutipan yang sering orang katakan tentang pembalasan, kan?

Benar.

Dia salah satu wanita yang sulit dihadapi.

.


-TBC-