.
.
ESTROUS CYCLE
.
.
.
Chapter 2: Estrus
.
.
.
.
Catatan tentang AU:
Di dunia ini semua manusia dibagi menjadi tiga golongan: Alpha, Beta, dan Omega, kelas sosial yang mirip dengan pembagian kelas dalam kelompok serigala. Secara fisik tidak ada yang membedakan mereka kecuali aroma mereka. Alpha adalah kelas yang dominan, mereka memiliki tubuh yang kuat dan memiliki posisi yang dihormati dalam masyarakat. Beta adalah kelas yang berada ditengah dan memiliki jumlah paling banyak, mereka seperti laki-laki dan perempuan pada normalnya. Omega adalah kelas yang langka, namun dianggap sebagai kelas terbawah. Omega memiliki siklus seksual setiap tiga bulan, ketika mereka berada dalam siklus mereka berada dalam kondisi siap untuk dibuahi dan mengeluarkan aroma yang bisa merangsang alpha/beta.
.
.
Satu bulan sejak ia bertemu dengan Sehun, dan Luhan belum melihatnya lagi. Itu tentu saja disebabkan oleh apa yang ia ucapkan begitu ia terbangun setelah Sehun memberikan orgasme terbaik sepanjang hidupnya. Ia terbangun dalam pelukan anak itu dan selama beberapa saat Luhan panik melihat ada seseorang di tempat tidurnya—sebelum ia teringat apa yang terjadi. Atau lebih tepatnya, apa yang seharusnya tidak terjadi.
"Aku tahu bahwa kita—partner sekarang," ujarnya sehati-hati mungkin sambil melirik ke arah anak yang menatapnya dengan mata lebar penuh harap, "tapi aku membutuhkan waktu untuk terbiasa."
Terutama, ia tidak mau kehilangan kontrol atas tubuhnya lagi. Sehun bisa merangsangnya dengan satu sentuhan dan Luhan tidak ingin menjadi budak nafsu, pelacur yang akan merintih setiap Sehun menginginkannya. Ia tidak mau anak berumur enam belas tahun memegang kendali atas dirinya, menjadikannya semacam mainan seksual. Keingintahuan remaja tidak memiliki batas dan Luhan tidak mau mengambil risiko.
"Dan aku tidak ingin ini terjadi lagi," ujar Luhan menambahkan, memberikan penekanan pada kata 'ini' untuk memastikan Sehun mengerti. Ini, Sehun menyentuhnya dan Luhan membiarkan karena ia terlalu mabuk dalam orgasme untuk menghentikan anak itu.
Sehun terlihat terkejut, terluka, lalu kemudian pasrah. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu, mulutnya membuka, lalu menutup. Akhirnya ia hanya menganggukan kepalanya dan pergi dari apartment Luhan dengan kepala tertunduk.
.
.
Satu bulan berlalu tanpa kontak. Luhan memiliki nomor untuk menghubungi Sehun, begitu juga sebaliknya. Tapi nihil. Luhan merasa kehidupannya kembali normal. Ia kembali menghabiskan waktunya untuk kuliah dan mengerjakan tugas, pergi bersenang-senang dengan Minseok dan Yixing (dan Yifan kadang-kadang). Semuanya kembali normal. Biarpun ada malam-malam ketika Luhan merasakan seseorang memanggilnya, membuat kulitnya tergelitik. Tapi itu tidak terlalu mengganggunya. Luhan bisa melupakan bahwa ia memiliki partner.
.
.
Sebulan lagi berlalu tanpa insiden, tanpa ada Oh Sehun. Tugas-tugas kuliah memenuhi kepala Luhan dan yang ia pikirkan belakangan ini hanya bagaimana cara mendapatkan nilai A di kuliah Semiotika yang dosennya terkenal tidak mau memberikan nilai lebih dari B minus. Luhan sudah hampir tidak pernah ingat bahwa ia memiliki partner ketika Sehun tiba-tiba muncul.
Mereka sedang berada di café langganan mereka—Luhan, Minseok, dan Yixing—mengerjakan tugas masing-masing karena ujian tengah semester akan dimulai minggu depan.
"Yixing," gerutu Minseok, "berhenti mengetukkan jari, aku tidak bisa berkonsentrasi."
"Maaf, hyung," balas Yixing seraya menghentikan tangannya dan mengangkat kepala dari kertas music yang sedang ditulisinya. "Menurut kalian lebih bagus yang mana?' Ia mendendangkan satu bagian nada, lalu satu lagi.
"Pertama," jawab Minseok dan Luhan bersamaan.
Yixing tertawa lalu mengucapkan terima kasih sebelum ia kembali menekuni musiknya. Tapi ketika itu Yixing melihat seseorang di pintu masuk.
.
Luhan tahu bahwa Sehun datang sebelum Yixing bersuara, sebelum Minseok menyikutnya. Rasanya seperti hari itu lagi, aroma Alpha Sehun begitu kuat hingga terasa seperti merengkuhnya. Lembut namun kokoh. Luhan tanpa sadar menarik nafas dalam-dalam, meraup aroma partnernya. Tapi ketika ia sadar apa yang ia lakukan, Luhan meringis dan cepat-cepat meminum kopinya. Berharap harum biji kopi bisa setidaknya mengurangi aroma Sehun.
Luhan pikir Sehun akan datang ke mejanya. Ia tahu Sehun pasti tahu ia ada di sini. Aromanya pasti sudah memberitahu, memanggil Sehun sejak ia menginjakan kakinya masuk.
Lima menit, sepuluh menit. Tidak ada yang terjadi.
Luhan mengangkat pandangannya dari cangkir kopi dan menemukan Minseok dan Yixing menatapnya.
"Kenapa?" .
Minseok hanya melirik sekilas ke arah kasir, isyarat yang cukup jelas. Luhan menarik nafas dan menolehkan kepalanya.
Sehun berdiri di sana, mematung menatapnya. Tapi tidak sampai sedetik, begitu Sehun menyadari bahwa Luhan melihatnya, wajahnya langsung berubah menampakan ekspresi terkejut dan ia langsung mengambil pesanannya, pergi tanpa mencoba melihat Luhan sekali lagi.
Luhan tidak mengerti apa yang terjadi.
.
"Wah, wah, wah."
Minseok mengangkat alisnya, menatap kea rah Luhan dengan ekspresi yang sangat judgemental hingga Luhan merasa tidak nyaman. Yixing juga menatapnya bingung. Luhan ingin lari dari sana.
"Apa yang kau katakan padanya, Lu-ge?"
"Bocah malang…"
Luhan menghela nafas.
"Kenapa kalian jadi mendukungnya?"
"Mudah saja," ujar Minseok sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, "Kau membutuhkan alpha. Dan lebih baik dia daripada kau tetap menggunakan hubungan anehmu dengan Yifan."
"Aku tidak membutuhkan alpha," tanggap Luhan keras kepala. Ia tidak ingin mengakui bahwa ada bagian dirinya yang kecewa ketika melihat Sehun pergi tanpa mengatakan apa-apa padanya. Tapi ia yakin itu semua insting omega-nya, bukan karena keinginannya sendiri.
"Terserah apa katamu, Lu," ujar Minseok sambil mengangkat bahu sebelum memberikan tatapan memperingatkan pada sahabatnya itu, "tapi kau tidak bisa mengubah kenyataan bahwa kau adalah omega."
.
.
.
Esoknya hal yang sama terjadi. Sehun datang dan pergi begitu saja. Luhan lagi-lagi merasakan tubuhnya bereaksi ketika mencium aroma Sehun, familiar dan membuatnya rileks. Tapi Luhan tidak mau terlihat bahwa ia terpengaruh oleh Sehun, jadi ia mengerjakan tugasnya dan tidak mengangkat kepalanya sama sekali selama masih ada Sehun.
Minseok dan Yixing sibuk berspekulasi.
.
Esoknya masih sama.
Sehun masih datang dengan menyebarkan aromanya. Ia tidak menyapa Luhan, dan Luhan juga tidak mengakui keberadaannya. Minseok dan Yixing menyuruhnya untuk melakukan sesuatu. Luhan tidak mau.
.
Esoknya masih sama.
.
Dan esoknya juga.
.
Esoknya kembali berulang. Sehun masuk membeli sesuatu, menatap Luhan dari jauh. Sedangkan Luhan berpura-pura tidak menyadarinya. Semuanya sama lagi, ulangan dari kejadian yang sudah terjadi beberapa hari terakhir. Tapi kali ini Minseok yang sudah tidak sabar memutuskan bahwa beberapa hari ini sudah cukup.
"Ini konyol," gumam Minseok sambil berdiri, "aku akan bicara padanya."
Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Minseok dengan mata terbelak.
"Minseok—" desis Luhan ketika sahabatnya itu bangkit.
Tapi Minseok tidak menghiraukannya.
Luhan menatap frustasi punggung Minseok yang menjauh. Di sebelahnya Yixing tersenyum dan menepuk bahunya.
"Ge, hyung ingin kau bahagia," ujarnya lembut, dengan senyum polos yang membuat Luhan tanpa sadar membalas senyumnya. Ia menghela nafas, tahu bahwa ia konyol, bahwa ia tidak akan bisa menghindari Sehun selamanya. Luhan menundukan kepalanya, tidak ingin melihat Minseok dan Sehun.
Tapi ketika aroma Sehun menghilang, Luhan mengangkat kepalanya, terkejut. Minseok kembali seorang diri. Ekspresi sahabatnya itu tidak bisa ditebak dan Luhan merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Apa yang Minseok katakan pada Sehun, apa yang Sehun katakan tentang Luhan. Pertanyaan-pertanyaan itu bertalu-talu di dalam kepalanya tapi Luhan tidak mengatakannya. Ia hanya tersenyum lemah ke arah Minseok dan menundukan kepalanya lagi.
"Dia anak baik, Lu," ujar Minseok sambil kembali duduk di kursinya, "Kau tahu apa yang ia katakan ketika aku bertanya kenapa ia tidak mendatangimu? 'Luhan tidak akan senang' sambil tersenyum sedih dan pergi." Minseok mendengus dan meneruskan, memberikan tatapan aneh pada Luhan. "Alpha apanya. Aku berani bertaruh dia akan mengikuti apapun yang kau inginkan. Dia selembek puding."
Luhan tidak tahu harus berkata apa.
"Dia anak baik, Lu," ulang Minseok lagi, "Berikan dia kesempatan."
.
Esok harinya kejadian yang sama terulang. Sehun memesan minumnya di kasir dan Minseok memberi Luhan tatapan penuh ekspektasi.
Luhan menggigit bibirnya dan berdiri. Langkahnya terasa berat ketika ia berjalan ke kasir. Semakin ia mendekat aroma Sehun semakin kuat dan ia merasa semakin rileks. Kulit-kulitnya seperti dibelai oleh sesuatu yang lembut dan ia mendapati dirinya ingin sensasi itu semakin kuat. Luhan mengeraskan rahangnya. Insting omega sialan.
Sehun lebih tinggi dari Luhan. Rambutnya hitam pendek dan kontras dengan kulitnya yang pucat. Ia mengenakan seragam dari sekolah swasta elit di dekat sini. Anak sekolah berumur enam belas tahun. Luhan menghela nafas.
"Sehun," panggilnya.
Ketika Sehun menolehkan kepalanya, menatapnya dengan mata terbelak dan ekspresi yang begitu terkejut, Luhan merasa jantungnya seperti diremas. Ia merasa bersalah. Tapi kemudian ada senyum lebar di wajah anak itu dan Luhan merasa perutnya menjadi hangat. Ia menggosok tengkuknya, mencoba mencari kata-kata.
"Duduklah bersama kami," ujarnya akhirnya.
Senyum di wajah Sehun bertambah lebar dan ada warna merah muda di pipinya ketika ia mengangguk.
.
Sehun yang datang dan menatap Luhan dari kejauhan sudah tidak ada sekarang. Sekarang ia duduk di antara Luhan dan Minseok, membawa pekerjaan rumahnya sendiri sementara yang lain mengerjakan tugas kuliah. Yixing menyukai Sehun, ia bertanya banyak hal dan mengingatkannya untuk makan karena Sehun terlalu kurus dan ia masih dalam pertumbuhan! Minseok mengajarinya matematika, memberikan tutor gratis tiap Sehun mengerjakan pekerjaan rumah.
Luhan kadang membantu tugas Bahasa Korea-nya dan terkejut ketika mengetahui bahwa Sehun membaca buku-buku sastra, Hwang Sunwon dan bahkan Chang Younghee. Mereka berbicara panjang mengenai buku-buku baru dan toko buku bekas di Samcheongdong yang menjual buku langka.
.
"Kau punya buku cetakan pertamanya?" Luhan terlihat takjub, "Dosenku menyuruh kami membaca And So Flows History minggu depan."
"Hm, Ayahku penggemarnya. Ia punya semua buku Han Moosook."
Luhan merasakan jari Sehun yang dingin menyentuh wajahnya, menyibakan rambutnya ke pinggir agar tidak menghalangi matanya.
"Aku akan membawakannya untukmu besok."
.
Sehun selalu duduk di sebelahnya, dan Luhan tidak pernah mempertanyakan.
Kadang Sehun menyentuhnya. Memegang lengannya ketika ia meminta atensi Luhan, menyentuh lututnya ketika ia tertawa. Luhan mulai terbiasa dengan cara bicara Sehun yang unik dan senyuman yang selalu merekah setiap Luhan melihat ke arahnya.
.
.
.
Sebulan kemudian siklus Luhan datang. Kali ini tidak begitu buruk, ada aroma Sehun yang bercampur dengan miliknya hingga tidak ada alpha yang mencoba mendekatinya. Ini minggu pra-siklus terbaik yang pernah dialaminya. Tidak ada alpha tidak dikenal yang menghentikannya di jalan, membuat komentar-komentar tentang Luhan dan wajahnya yang manis.
Sehun menjadi ekstra protektif. Ia duduk begitu dekat dengan Luhan sampai bahu mereka bersentuhan. Beberapa kali ia mendapati Sehun menghirup aromanya dan membuat ekspresi puas.
Luhan merasa bersalah, tapi ketika siklusnya datang, ia mengurung diri di apartment Yifan.
.
.
.
.
Tubuhnya terasa lengket. Luhan menggeliatkan tubuhnya, meluruskan tungkai-tungkainya yang pegal seraya bangkit dari tempat tidur. Pikirannya kembali awas setelah selama seminggu tidak bisa merasakan apapun selain keinginan seksual. Ia mengambil pakaian bersih yang diletakan Yifan di atas nakas.
Ia meletakan kembali pakaian itu dan mengambil smartphone-nya yang mati. Untuk pertama kali setelah seminggu Luhan menyalakan smartphone-nya. Ratusan pesan masuk dan Luhan mengernyitkan keningnya. Tapi matanya membelak ketika ia melihat hampir semuanya berasal dari kontak Sehun. Ia membuka dan membaca sekilas beberapa, semuanya bernada sama: 'kamu di mana? Apa kau tidak apa-apa? Tolong katakan padaku kau baik-baik saja'.
Rasa bersalah menggerogotinya. Tapi tidak ada yang menonjoknya lebih keras daripada ketika ia menemukan pesan dari Minseok, dikirim beberapa hari yang lalu. Pesannya hanya satu kalimat.
'Belum pernah aku sekecewa ini padamu, Luhan'
.
.
.
Yifan mengantarkannya pulang dengan mobil. Sepanjang perjalanan Luhan tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia merasa sesuatu mencakari hatinya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Yifan, mengerling sekilas sebelum ia kembali memperhatikan jalanan, "kau bisa tinggal di tempatku beberapa hari lagi."
Luhan menggelengkan kepalanya.
"Aku harus menghadapi ini," ujarnya lirih.
Yifan tidak mengatakan apa-apa lagi dan Luhan bersyukur bahwa ia tidak perlu menjelaskan apa-apa. Kepalanya penuh dengan berbagai macam hal. Apa yang ia inginkan, apa yang ia percayai.
Ketika mereka sampai dan Luhan keluar dari mobil, ia tidak menyangka akan langsung diserang oleh aroma yang sudah terlalu familiar. Luhan menahan nafas dan menolehkan kepalanya. Benar saja, Sehun menunggu di depan gedung tempat tinggalnya. Ada Minseok dan Yixing di belakangnya, tapi mereka tidak bergerak dari tempat mereka ketika Sehun berlari ke arahnya. Bola mata anak lelaki itu membesar, bergerak-gerak awas. Luhan tidak sempat mengatakan apapun sebelum Sehun membenamkan wajahnya di ceruk antara leher dan bahunya.
Sesaat Luhan membiarkan aroma Sehun merengkuhnya—rasanya seperti pulang.
"Kenapa kau memiliki baunya?"
Lalu rasa yang menggerogoti hatinya datang kembali.
Luhan mengangkat kepalanya, menatap wajah Sehun. Anak laki-laki pemalu yang menyukai novel sastra tidak ada di sana. Hanya ada alpha Sehun. Ada geraman tertahan dan Luhan tidak bisa melakukan apapun saat Sehun membenamkan gigi di lehernya.
Berbeda dengan dulu ketika Sehun menggigitnya tepat di kelenjarnya, kali ini ia tidak menggigitnya di sana. Yang Luhan rasakan hanya sakit dan lehernya seperti dirobek. Semuanya berlangsung cepat. Tiba-tiba Yifan datang dan menarik Sehun lepas, membantingnya ke tanah.
"Bocah."
Sehun meraung.
"Dia milikku!" Ia memperlihatkan taring-taringnya, warna matanya menguning seperti mata serigala, "Beraninya kau menyentuhnya!"
Yifan hanya menyilangkan lengannya, menatap anak laki-laki yang terduduk di tanah dengan tatapan meremehkan.
"Mungkin karena dia tidak menginginkanmu."
Sehun meraung dan mencoba menyerang Yifan. Tapi pemuda yang lebih tua itu berhasil mendorongnya jatuh hanya dengan sebuah pukulan di perut.
Sehun meringkuk memegang perutnya dan merintih. Luhan tahu ia seharusnya ke sana, ia harus menenangkan Sehun. Ia harus melakukan sesuatu. Tapi sakit di lehernya membuatnya tidak bisa bergerak dan darah yang mengotori bajunya membuatnya pusing.
"Kau tidak pantas menjadi partner Luhan, bocah."
Mata Sehun membesar. Serigalanya hilang dan anak laki-laki berumur enam belas tahun itu kembali. Ia terlihat tidak yakin dan matanya—Luhan tidak tega melihatnya. Ia terlihat terluka dan kecewa dan Luhan tahu itu semua salahnya. Perlahan ia mencoba melangkah mendekat, kepalanya pusing, tapi ia butuh melakukan sesuatu. Sehun.
Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Sehun.
Tapi anak itu menepis tangannya dan berlari pergi.
"Sehun!"
Luhan ingin mengejar Sehun tapi Yifan menarik lengannya.
"Xiao Lu…"
"Aku harus bicara padanya," gumam Luhan sembari membebaskan lengannya dari cengkraman Yifan.
.
.
"Sehun, tunggu."
Kepalanya masih pusing tapi ia berhasil mengejar Sehun. Anak itu tetap berjalan tanpa menghiraukannya .
"Sehun!"
Luhan berlari.
Ia menarik bagian belakang baju Sehun, memaksanya untuk berhenti. Lehernya masih terasa sangat sakit tapi aroma Sehun membuatnya tenang. Sehun berhenti dan sesaat Luhan merasa lega. Tapi ketika Sehun bicara, rasa yang menggerogoti hatinya muncul lagi.
"Kau setidaknya bisa memberitahuku dari awal kalau kau tidak menginginkanku."
Tidak.
"Sehun tolong, dengarkan dulu."
"Aku sudah tahu dari Minseok-hyung," suaranya getir dan bergetar dan Luhan tidak suka mendengarnya, "Kau selalu menghabiskan siklusmu dengannya. Apalagi yang mau kau katakan?"
Luhan tidak bisa bicara. Ia menatap punggung Sehun, tidak tahu harus mengatakan apa.
"Kau tidak menginginkanku. Aku mengerti."
Bukan.
"Maaf sudah menandaimu," suara Sehun terdengar lirih. Ia membalikan tubuhnya menghadap Luhan. Matanya merah dan ekspresinya kaku dan Luhan tahu itu semua salahnya tapi—
"Aku tahu tidak mudah untuk melepas tandaku," Sehun menyentuh lehernya, jarinya seperti mengatakan maaf dan Luhan tahu ini bukan apa yang ia inginkan. "Tapi kau bisa melakukannya."
Tidak.
"Aku tidak akan mengganggumu lagi."
.
Sehun pergi dan Luhan tidak bisa melakukan apapun.
.
.
.
tbc
.
.
Update!
Aku nggak nyangka ternyata banyak yang suka cerita ini O_O aku sendiri nggak begitu ingin nerusin ini karena… well, omega!verse seringkali tipikal dan berakhir klise dan aku nggak yakin bisa membuat cerita yang bagus. Tapi aku akan mencoba… ._.
On another note, karena banyak yang nyaranin untuk bikin IG, I made my account: DearestLu do say hi to me there :D
