Christmas
.
Genre : Romance and Fantasy
Warning : YAOI, gaje, typo(s), dan keanehan lainnya.
Disclaimer : Nana mengaku para cast disini bukanlah milik Nana. Tapi fic ini murni milik Nana karena ide yang keluar dari otak Nana. Jika ada kesamaan dalam cerita, maka itu tidak sengaja.
.
.
Don't Bash Don't Flame!
Don't Like Don't Read!
.
.
Story is Start...
.
.
"Ni hao!"
"Ni hao!"
"Salah! Nadanya tidak datar seperti itu, hyung. Pada huruf terakhir di kata pertama itu menggunakan nada ketiga. Di huruf kedua di kata kedua juga menggunakan nada ketiga."
Suho menghela napas panjang. Ternyata belajar Bahasa Mandarin lebih sulit dari apa yang dia bayangkan. Bahasa Mandarin menggunakan 4 nada. Nada pertama adalah suara tinggi datar. Nada kedua, suara rendah kemudian meningkat tinggi. Nada ketiga, suara menurun, lalu perlahan meningkat tinggi. Dan nada terakhir, nada keempat adalah suara hentakan dari tinggi ke rendah.
"Hyung, mungkin kita cukup belajar sampai disini dulu," ucap Tao memandang cemas Suho yang terlihat kelelahan belajar mengolah nada. Padahal mereka baru memulai belajar dari 15 menit yang lalu. Suho menggeleng pelan. "Tidak, mana mungkin aku hanya belajar 2 kata dalam 15 menit!" ucap Suho tegas.
"Kau tidak perlu memaksakan diri, hyung. Belajar Bahasa Mandarin itu sangat sulit dan butuh proses. Salah satu nada saja sudah membedakan artinya."
"Aku tidak akan berhenti ditengah jalan Tao."
"Baiklah jika itu mau mu," Tao berucap pasrah.
Suho menatap Tao dengan wajah bersalahnya. "Ah, mianhae. Kau lelah ya?" Tao menggeleng dan tersenyum manis. "Tidak. Ayo kita lanjutkan!"
"Baiklah, aku akan membenarkan pengucapanku dalam kalimat sapaan tadi," Suho menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. "Ni hao!"
Tao langsung bertepuk tangan dengan riangnya. Suho menatapnya heran. "A-ada apa, Tao?" tanyanya bingung.
"Cara pengucapanmu! Yang seperti itu baru benar!"
"Benarkah?" Suho menatap Tao tidak percaya. Setidaknya, ini adalah awal yang baik bagi seorang pemula seperti dirinya.
Tao mengangguk. "Ayo kita teruskan lagi!" ucap Tao semangat. Suho mengangguk. "Zaijian. Kata ini artinya sampai jumpa. Gunakan nada keempat di huruf kedua dan keenam."
"Zaijian!"
"Kurang hentakan sedikit lagi!"
"Zaijian!"
"Benar! Sekarang adalah kalimat terimakasih. Bahasa Mandarin nya xiexie. Gunakan nada keempat di huruf ketiga."
"Xiexie."
"Benar! "
Suho yang mulai memahami nada dalam Bahasa Mandarin membuat Tao sangat bersemangat dalam mengajarkan Bahasa Mandarin kepada Suho. Suho benar-benar merasa tertolong. Semoga saja, saat ia mulai melaksanakan tugasnya ia sudah bisa menggunakan Bahasa Mandarin dengan baik dan benar.
Ciiip Ciiip Ciiip
Kicauan burung gereja ikut menyemarakkan suasana pagi didunia Santa Claus. Di sebuah kamar bercorak hitam putih terlihat seorang lelaki berambut lurus berwarna hitam arang masih terlelap dalam tidur nyenyaknya. Beberapa detik kemudian lenguhan mulai keluar dari kedua belah bibir peach miliknya.
Lelaki itu terbangun. Dia meregangkan otot-ototnya yang kaku kemudian mengusap kedua mata panda miliknya. Kalian masih ingat dengan lelaki ini bukan? Seorang Santa bernama lengkap Huang Zi Tao dengan ciri khas mata panda miliknya. Itu bukan berarti dia kurang tidur, tapi dia sudah terlahir dengan mata seperti itu. Aneh? Itulah keunikan dalam dirinya.
Tao meraba-raba ranjang tidurnya. Seketika matanya yang tadi masih terkantuk langsung terbuka lebar. "Mr. Panda, Mr. Panda. Dimana dia? Kenapa tidak ada disini? Aku yakin semalam aku memeluknya," wajah Tao mulai khawatir. Dia mengangkat bantal tidurnya dan selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya. "Kenapa tidak ada? Hiks... kau dimana Mr. Panda?" mata Tao mulai berkca-kaca.
"Ah!" Tao menjerit senang. Ia segera turun dan memeluk sebuah boneka panda dengan hiasan topi berwarna coklat muda yang terletak manis diatas kepalanya yang tadi sempat tergeletak diatas lantai kamarnya yang dingin. "Ternyata kau disini, Mr. Panda. Jangan buat aku khawatir seperti itu. Aku tidak akan bisa hidup tanpa dirimu~" ucap Tao manja.
Beberapa menit kemudian, setelah Tao melampiaskan kekhawatirannya terhadap sang boneka, Tao mulai melepaskan pelukannya. "Aku mau mandi dulu. Setelah itu kau ikut aku turun ke Bumi untuk menjalankan tugas. Kau mau kan?" tanya Tao dengan senyum ceria yang tertera dibibirnya. Boneka itu tidak menjawab. "Kuanggap diam berarti 'iya'!" ucapnya kemudian.
Tao mencium bibir boneka itu lalu meletakkannya diatas ranjang. "Kau diam disini dulu. Jangan kemana-mana, oke?" ucapnya riang kemudian meninggalkan boneka itu menuju kamar mandi yang terletak di sudut kamar miliknya.
.
.
.
20 menit berlalu setelah Tao meninggalkan Mr. Panda untuk pergi mandi. Sekarang dia dan Mr. Panda beserta koper berukuran sedang yang dia bawa sudah berada di stasiun kereta yang akan mengantarkannya menuju tempat yang sudah ditentukan. Tentunya Suho dan Baekhyun menemani melepas kepergiannya untuk menjalankan tugas.
Kereta yang akan Tao naiki sudah datang. "Berhati-hatilah Tao," ucap Baekhyun. Tao mengangguk. "Sayang sekali aku hanya bisa belajar Bahasa Mandarin sebentar denganmu. Mungkin aku akan meminta bantuan Luhan hyung," ucap Suho kecewa.
"Maafkan aku, hyung," Tao menunduk. Suho mengelus halus bahu Tao. "Tidak masalah. Yang penting, kau harus melakukan tugas pertamamu dengan baik. Mengerti?"
"Iya!"
Tao berjalan menuju gerbong, namun sesaat kemudian ia berhenti dan berbalik menuju tempat Suho dan Baekhyun. Tao mengeluarkan sebuah kamus tebal dari dalam tas yang ia selempangkan lalu menyerahkannya kepada Suho. "Ini,hyung. Semoga membantumu dalam belajar Bahasa Mandarin."
Suho tersenyum dan menerima buku itu dengan senang hati. "Xiexie," ucap Suho. "Bu ke qi, ge," balas Tao. Tao kembali berjalan menuju gerbong. "Zaijian, Tao!" teriak Suho ketika Tao sudah benar-benar memasuki gerbong. "Zaijian, ge!"
Kereta mulai berjalan. Tao melambaikan tangannya kearah Suho dan Baekhyun melalui kaca jendela. Suho dan Baekhyun membalasnya hingga kereta itu benar-benar menghilang.
"Kalian berdua tadi bicara apa sih? Aku tidak mengerti," tanya Baekhyun kepada Suho. Suho terkikik sebelum menjawab, "Rahasia~"
Baekhyun mengerucutkan bibirnya imut. "Hyung, menyebalkan!" ucap Baekhyun kesal. Suho hanya tertawa melihat wajah imut milik Baekhyun. "Ayo, pulang. Aku harus belajar Bahasa Mandarin lagi."
Baekhyun mengangguk masih dengan mengerucutkan bibirnya.
.
-_Tao Side_-
Tao bersandar pada sandaran bangku kereta. Dia tidak sabar untuk segera tiba di tempat seseorang yang bernama lengkap Wu Yi Fan. Tao memandang pemandangan bersalju dari kaca kereta sambil memeluk boneka panda nya.
.
.
5 jam berlalu dan kini Tao sudah berada didepan rumah yang sangat mewah dengan pintu gerbang berwarna putih platinum tanpa tercetak setitik karat disana. Tao menelan menghirup napas dalam-dalam kemudian menekan bel rumah itu.
Ting Tong... Ting Tong...
Bzzzt bzzzt...
"Siapa disana?" tanya seseorang dari seberang sana.
"Aku Huang Zi Tao. Aku ingin melamar pekerjaan," jawab Tao.
"Kalau begitu tunggu sebentar. Saya akan membukakan pintu gerbang untuk anda," beberapa detik kemudian setelah seseorang di seberang sana mengatakan itu, pintu gerbang perlahan mulai terbuka secara otomatis. "Silahkan masuk," lanjutnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Tao mulai menarik koper nya dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah mewah itu. Di sepanjang jalan memasuki halaman rumah itu, Tao tidak henti-hentinya mengucapkan kalimat pujian. Halamannya, walaupun tertimbun salju tetap saja terlihat sangat indah. Dan... Oh! Lihat itu! Sebuah pohon cemara yang sangat tinggi dan besar yang sudah dihiasi oleh hiasan natal! Itu benar-benar hebat! Tao kira pohon cemara setinggi dan sebesar itu hanya ada didunia Santa. Ternyata tidak, didunia manusia pun pohon setinggi dan sebesar itu juga ada dan pohon itulah buktinya.
Tao terus berjalan hingga pintu utama rumah itu yang sudah dibuka oleh seorang maid yang sekarang -mungkin- sedang menunggu kehadiran Tao didepannya.
"Annyeonghasimnika," maid itu membungkuk sopan. Tao balas membungkuk. "Annyeonghasimnika," balasnya. "Tuan Kris masih berada di kantor nya. Mungkin dia akan pulang sekitar dua sampai tiga jam lagi. Apa anda mau menunggunya?" tanya maid itu kepada Tao. Tao mengangguk. "Baiklah, silahkan masuk."
Maid itu membimbing Tao masuk menuju ruang tamu yang sangat luas. Sofa dan bangkunya terbuat dari bahan yang berkualitas sangat baik. Kayu yang menjadi sanggahan tangan terbuat dari kayu jati impor yang sangat baik. Perapiannya terhias dengan hiasan natal yang sangat ilegan dan mewah. Dan juga pohon cemara berukuran sedang terletak di sudut ruangan beserta dengan hiasan-hiasan yang menggantung di pohon itu. Tao benar-benar dibuat terkesima.
"Silahkan duduk," sang maid menawarkan Tao untuk duduk disalah satu sofa didalam ruangan itu. Tao duduk di sofa berwarna merah bercorak bunga mawar.
"Akan saya hidangkan minuman. Anda ingin coklat panas?"
"Ti-tidak perlu. Lagipula aku tidak kedinginan," Tao menjawab dengan gugup. Maid itu tersenyum. "Tidak perlu sungkan seperti itu. Baiklah, saya akan membuatkan satu untuk anda," sang maid membungkuk kemudian mulai berjalan meninggalkan Tao untuk membuat coklat panas.
"Waaah, rumah ini benar-benar hebat. Bahkan lebih hebat dari rumah para Santa. Wu Yi Fan pasti benar-benar memperlakukan waktu untuk mencari uang dengan baik," puji Tao. Tao berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kaca jendela yang sangat besar sehingga kalian bisa melihat keadaan diluar sana yang kini sudah mulai dituruni oleh butiran kecil berwarna putih dan berbentuk seperti kapas yang lembut. "Ah, salju mulai turun lagi," gumamnya.
"Tuan Tao, ini coklat panasnya," maid itu kembali sambil membawa nampan dengan gelas berwarna putih diatasnya. Tao segera kembali duduk. "Kamsahamnida, uhm..."
"Victoria. Panggil saja aku Victoria," kata maid itu seakan tahu apa yang ingin Tao katakan. "Ah, ne. Kamsahamnida Victoria-ssi," ucap Tao kemudian. "Kau tidak perlu menggunakan embel-embel ssi ,Tuan Tao," kata Victoria. Tao mengangguk.
Victoria kemudian berjalan menuju jendela. "Salju mulai turun lagi ya. Sepertinya besok Minho dan Onew harus bekerja keras untuk membersihkan salju dari jalur utama pintu gerbang,"ujarnya.
"Oh iya, kau ingin melamar pekerjaan menjadi apa? Koki?" Victoria bertanya sambil memandang kearah Tao berada. Tao menggeleng. "Aku ingin menjadi buttler," Victoria mengangguk sambil mengucapkan kata 'oh'.
Ting Tong...
Suara bel berbunyi nyaring.
Bzzt bzzt...
"Hei Victoria, ini aku Kris. Bukakan gerbangnya," ucap seseorang diluar sana yang mengaku sebagai Kris melalui loudspeaker bel rumah.
Victoria terkaget. Seingatnya majikannya Kris akan datang sekitar dua hingga tiga jam lagi.
"Victoria, kau ada didalam? Cepat bukakan gerbangnya!"
"Maaf Tuan Tao, saya pamit sebentar untuk membukakan pintu gerbang dan menyambut kedatangan Tuan Kris," ucap Victoria terburu-buru. Ia membungkuk sebentar kemudian langsung melesat menuju pintu depan.
Victoria segera menekan tombol untuk membuka gerbang secara otomatis sesampainya dipintu depan. Lalu ia membukakan pintu utama sambil berdiri menunggu majikannya masuk. Perlahan dari arah gerbang, sebuah mobil sport berwarna hitam mengkilat mulai terlihat. Kris yang mengemudi mobil itu segera memasukkan mobilnya kedalam garasi mobil miliknya yang dihuni oleh beberapa mobil lagi dengan merk dan jenis yang terkenal.
Kris keluar dari dalam mobilnya dan berjalan masuk kedalam rumah mewah miliknya. "Selamat datang, Tuan Kris," ucap Victoria lembut sambil membungkuk hormat. Kris memandang Victoria dari sudut matanya. "Kenapa tadi kau lama sekali membukakan gerbangnya?"
"Mianhamnida, Tuan Kris. Tadi saya sedang berada di ruang tamu," jawab Victoria seadanya. Kris menaikkan sebelah alisnya. "Ada tamu?" tanyanya. Victoria mengangguk. "Namanya Huang Zi Tao. Dia bilang dia ingin melamar pekerjaan menjadi buttler disini."
Kris mengangguk dan langsung berjalan menuju ruang tamu diikuti oleh Victoria di belakangnya. Di ruang tamu, Kris menemukan seorang lelaki berambut lurus dengan warna hitam arang tengah duduk sambil menggenggam segelas minuman hangat yang Kris yakini minuman itu adalah coklat panas buatan Sungmin, salah satu koki spesialis minuman di rumah ini.
Kris berjalan mendekati Tao. "Jadi kau yang bernama Huang Zi Tao?" Tao langsung tersentak kaget begitu Kris bertanya secara tiba-tiba. "I-iya," jawab Tao gugup. Jantungnya mulai berdebar kencang kembali. Kira-kira, pertanyaan apa saja yang akan ditanyakan oleh seseorang yang sebentar lagi akan menjadi Tuan nya ini?
Kris memandang Victoria. Victoria yang tahu arti dari pandangan Kris segera membungkuk pamit dari ruangan itu. Kris duduk di sofa dihadapan Tao. "Aku dengar dari Victoria, kau ingin melamar pekerjaan menjadi buttler disini. Apa itu benar?" Tao mengangguk. "Apa sebelumnya kau pernah menjadi buttler atau bekerja di sebuah café?" Tao menggeleng.
Kris memandang Tao tidak percaya. "Bagaimana bisa kau ingin melamar pekerjaan menjadi butter sedangkan kau belum pernah melakukan profesi ini? Kau bercanda?" tanyanya. Tao menggeleng keras. "A-aku tidak bercanda. Walaupun ini pertama kalinya aku melakukan tugas di dunia i- ah, maksudku melakukan profesi seperti ini, tapi aku tidak bercanda. Aku bersungguh-sungguh!" napas Tao tersengal-sengal. Hampir saja dia kelepasan.
"Sudahlah, lupakan saja. Seorang amatir sepertimu tidak mungkin menjalankan tugas sebagai seorang buttler dengan baik. Apalagi ini pertama kalinya bagimu. Hah, dasar bocah. Sebaiknya sekarang kau bawa kembali kopermu dan melamar di tempat lain. Rumahku tidak memerlukan seorang amatir sepertimu," ucap Kris remeh.
Tao memandang Kris tidak suka. 'Apa-apaan dia? Sombong sekali!' batinnya.
"Hei, mau sampai kapan kau disini? Sudah sana pergi," ucap Kris lagi.
"Aku tidak akan pergi sampai kau menerimaku bekerja di rumah ini!" kata Tao keras kepala.
"Terserah padamu. Lebih baik aku segera menuju kamar kerjaku dan meneruskan pekerjaan kantor yang lebih penting daripada dirimu," Kris segera bangkit dan berjalan meninggalkan Tao.
"Aku akan tetap ada disini sampai kau menerimaku sebagai buttler!" teriak Tao. Kris tersenyum miring mendengar perkataan Tao. 'Dasar bocah keras kepala. Kita lihat saja sampai kapan dia tahan untuk menunggu persetujuanku.'
.
.
.
.
To Be Continued
Yuhuuuuu~ *dateng sambil naik rusa*
HUP!
Dui bu qi, Nana lama update. Niatnya sih mau update cepat, ternyata gak lama setelah publish prolog Nana dikabarkan kalau ada kegiatan yang sangat-sangat penting. Dan Nana gak terlalu yakin kalau Chapter ini bagus. Nana malah berpikir kalau Chapter ini absurd banget. Hueeee... T^T
Dui bu qi... Dui bu qi... T^T
Oh iya! Disemua sudut ruangan yang ada di rumah Kris (kecuali kamar mandi, gudang, dan bagasi mobil) itu diletakkan sebuah pohon cemara kecil beserta dengan hiasan natalnya. Pohon cemara yang berukuran sedang hanya ada di ruang tamu, ruang makan, dan ruang utama. Kalau pohon cemara yang tinggi dan besar hanya ada di satu tempat, yaitu halaman rumah Kris. Lagipula tidak mungkin kan pohon dengan tinggi 9 meter dan berdiameter 1 meter bisa masuk kedalam rumah walaupun rumah itu sebesar rumah yang Kris miliki?
Sekalipun ada, mungkin orang itu terlalu berlebihan hingga nekat memasukkan pohon cemara seperti itu ke dalam rumahnya -_-
Ada typo? Seperti biasa, langsung saja bilang ke Nana, oke? *wink*
Baiklah, cukup sampai disini. Ppai-ppai~ *naik rusa lagi*
No SiDers!
Review please~ *bbuing-bbuing*
2014 01 07
Sign,
Nana EXOfficialCouple Fujoshi
