Buat readers, kami sadar jika kami memang bukan author yang baik. Kami jarang, bahkan tidak pernah, mengungkapkan rasa terima kasih kami dengan layak, untuk kalian semua yang sudah mengapresiasi fic kami. Tapi percayalah, dari lubuk hati kami yang paling dalam, kami menempatkan kalian semua di dalam tempat yang istimewa di dalam sudut hati kami berdua *halah* :D

Untuk kalian, Chapter2.

Happy Reading…

.

Title: Lost and Render

Author: Gin and Amaya

Characters/ Pairing: Hatake Kakashi & Haruno Sakura

Type: Multiple Chapter

Genre: Romance/ Family

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

.

(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Om MK ini.)

.

LOST AND RENDER

(Chapter 2)

Love and Game, Lovegame?

.

"Ohayou gozaimasu!" Pria yang berdiri di hadapan 30 mahasiswa itu mengangguk sekilas sebelum menulis di whiteboard. HATAKE KAKASHI. Dia lalu meletakkan spidol ke atas meja dan berkata dengan tenang, "Aku akan mengajar mata kuliah 'Manusia dan Kehidupannya' semester ini. Ada pertanyaan?"

Seorang gadis cantik berkuncir yang duduk di deretan paling depan, mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. "Hatake-sensei, kenapa kau memakai masker? Apa kau jerawatan parah? Atau ada tompel sebesar tatakan cangkir barangkali?" tanyanya jahil yang disambut tawa seisi kelas membuat Sakura menyeringai puas.

Kena kau.

Sepasang mata Kakashi membentuk huruf 'n', sangat jelas dia sedang tersenyum di balik maskernya. "Aku sudah memakainya sejak dulu jadi kuharap kalian tidak merasa terganggu." Lalu Kakashi berjalan perlahan ke samping gadis berkuncir tadi, sedikit membungkuk dan berkata pelan dengan suara baritonnya yang menggoda sementara matanya intens menatap gadis itu, "Atau mungkin saja aku sangat tampan sehingga aku tidak mau mahasiswiku malah fokus pada wajahku dan bukan pada materi kuliahku. "

Gadis itu seketika merasakn jantungnya berhenti berdetak. Aroma tubuh Kakashi begitu hangat dan menggoda. Dia merasa terpesona dan pipinya merona. Dengan cepat dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Oh, ti-tidak apa-apa, Sensei! Kami tidak merasa terganggu sama sekali!" katanya gugup dan terbata-bata.

Dalam sekejap seringai Sakura langsung hilang. Dia mengerang. Ohh, dasar playboy. Korbannya mulai berjatuhan.

"Bagus."

"Sakura, aku tidak tahu kalau Kakashi-sensei adalah dosen di sini," bisik Ino pada Sakura yang menatap tajam pria itu. Ino adalah satu-satunya orang di kelas, yang tahu jika Kakashi adalah wali Sakura.

"Aku juga," sahut Sakura pelan dengan mata tak beralih dari pria rambut perak itu. Meski sudah tinggal dengannya selama sembilan tahun, pria itu tetap saja merupakan misteri baginya.

"Tidak ada pertanyaan lagi?" Kakashi melihat seisi kelas―matanya sempat beradu dengan mata Sakura yang berkilat penuh kesal―lalu kembali berkata, "Jika tidak ada lagi, kurasa cukup untuk hari ini, karena kita masih sesi perkenalan. Tapi sebelumnya, aku ingin memberi tugas. Tolong dicatat: 'Berapa Persen Manusia Menggunakan Otaknya?'. Buat resume, minimal dua halaman. Tugas ini akan menjadi pengantar untuk masuk ke materi minggu depan. Terima kasih." Dia mengangguk lalu berjalan keluar meninggalkan kelas yang mulai kembali gaduh.

"Huh!" Sakura mendengus lagi.

"Begitu saja? Kenapa dia buru-buru sekali?" tanya Ino melihat punggung pria itu menghilang di balik pintu.

"Asal tahu saja, dia mau membaca buku pornonya lagi!" sahut Sakura sebal sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Haah, aku tetap tidak bisa membayangkan ternyata dia adalah walimu. Kalian sangat berbeda. Kau hanya cakep alakadarnya sedangkan dia sangat menawan," desah Ino penuh damba sambil meletakkan telapak tangannya ke dagu dan mengabaikan tatapan ala yakuza Sakura. Andai tatapan bisa membunuh, pasti Ino sudah mati tiga kali sekarang. "Benar loh Sakura! Dia terlihat sangat menawan dengan pakaian seperti itu. Dan maskernya... meskipun sangat konyol tapi lucu juga. Hei, hei, Sakura... apa kau pernah melihat wajahnya? Apakah dia tampan?" tanya Ino antusias.

"Asal kau tahu saja ya, Ino!" sergah Sakura panas. "Dibalik sosoknya yang menawan, sebenarnya di dalam tubuhnya, Kakashi menyembunyikan setan yang sudah dikurung seribu tahun!"

Sakura pergi sambil menggetok kepala Ino yang terbahak di belakangnya.

.

Sakura menemukan Kakashi sedang membaca novel bersampul oranye dengan gambar seorang wanita berambut panjang terurai berpakaian mini sedang dikejar seorang pria. Sakura mencibir. Dari sampulnya saja yang norak itu, sudah terlihat betapa mesumnya otak pria yang sedang membacanya. Kakashi kini sedang di bangku taman dekat perpustakaan pusat. Dia begitu serius sampai-sampai tidak menyadari kehadiran gadis itu. Atau mungkin saja dia hanya pura-pura tidak sadar.

"Bisakah kau tidak membaca buku porno itu selama satu hari? Atau setidaknya, tidak di kampus ini?"

"Ini bukan buku porno," kata Kakashi tanpa mengangkat wajahnya.

"Yeah, benar. Lalu apa?"

"Buku romantis yang penuh filosofi kehidupan. Kau harus membacanya," sahut Kakashi lagi dengan santai.

"Tidak, meski di tujuh kehidupan berikutnya," ujar Sakura sambil menjatuhkan bokongnya di sebelah pria itu. Sambil memandang orang-orang yang berlalu-lalang di depan mereka―beberapa di antaranya menujukan mata mereka pada Kakashi, tentu saja, merasa tertarik dengan penampilannya―dia berkata, "Kau tidak bilang kalau kau menerima pekerjaan ini."

"Haruskah?"

"Terkadang kau membuatku mual," dengus Sakura lalu bersandar pada punggung bangku.

"Kalau begitu, cepatlah minum obat maag-mu."

"Kakashi!" Sakura mendelik pada si rambut perak yang masih terpaku dengan bukunya. Dilihatnya Kakashi membuka halaman berikutnya dengan jari tengahnya yang ramping. Kemeja putihnya tampak licin, begitu pula dengan dasinya. Simpel tapi tetap enak untuk dilihat, dan jeans hitam yang membungkus kakinya yang panjang. Mata hijau Sakura beralih pada rambut peraknya. Poninya menjuntai di sisi kiri wajahnya untuk menutupi bekas luka yang berbentuk horizontal dari alis hingga ke bagian tengah pipinya. Sakura selalu bertanya-tanya dalam hati dari mana pria itu mendapatkan bekas luka tersebut. Luka yang justru menambah daya tariknya.

Ino benar. Dia memang sangat tampan...

"Kaka-sensei, rambutmu... sudah panjang."

"Ng?" Dengan mata yang tak pernah sekali pun beralih dari buku di bawahnya, Kakashi mengangkat tangan untuk menyentuh ujung rambut yang sudah menutupi batang lehernya itu. "Kau mau mencukurnya untukku?"

"Pergilah ke tukang cukur, Baka!" Kemudian dia menarik ransel Kakashi yang diletakkan di bawah bangku lalu memeriksa isinya dengan brutal. "Hei, kau membawa makan siang?" tanya Sakura sambil mengangkat kotak plastik berwarna biru cerah.

"Itu untukmu. Kau belum sarapan 'kan?"

"Untukku? Kaka-sensei, kadang-kadang kau bisa baik juga!"

"Hn."

Sakura menemukan pancake apel yang dilumuri karamel. Dengan mulut penuh dia berkata, "Aku akan membuatmu kalah terus-menerus dalam permainan kita, Kaka-sensei." Dia mengingat beberapa permainan yang mereka lakukan di mana Kakashi selalu kalah dan mendapat hukuman untuk melakukan pekerjaan rumah. "Tapi aku tidak mau kau mencuci pakaianku lagi... ups!"

Untuk pertama kalinya sejak kedatangan Sakura di taman, Kakashi menurunkan bukunya dan melihat ke arah gadis itu, yang kini sedang menjilati tetesan karamel yang menuruni dagunya. Karamel itu hilang dengan cepat namun bekas saliva masih membekas di tempat karamel tadi berada. Tangan Sakura lalu terangkat untuk membersihkan dagunya.

"Kau punya minum?" tanya Sakura yang tiba-tiba menoleh padanya.

"Huh? Minum? Oh, di dalam ransel." Kakashi yang tadi sempat terpaku menatap Sakura yang menjilat dagunya, buru-buru mengalihkan wajahnya kembali ke buku. Tapi melalui sudut matanya, dia tahu Sakura kembali merogoh ranselnya untuk mengambil sebotol air mineral.

"Di sana kau rupanya!" seru seorang wanita yang melintasi rumput untuk mendekati mereka. "Kakashi-kun!"

Sakura langsung tersedak minumannya mendengar panggilan itu. Wanita yang kini berdiri di hadapan mereka itu memiliki tubuh jangkung dan rambut hitam pendek. Sakura memperhatikannya lagi, dan tampak jelas wanita itu memakai eyeliner tebal untuk memperindah matanya yang berwarna coklat terang.

"Aku mencarimu ke mana-mana. Aku ingin mengatakan sesuatu... hei, siapa kau?" tanya wanita itu pada Sakura yang mendongak melihatnya dengan wajah polos.

Seksi sekali… tapi pakaian itu tidak pantas dikenakan di lingkungan kampus. Aku bahkan berani bertaruh jika dia membungkuk sedikit saja, celana dalamnya akan terlihat. Korban Kakashi lagi.

Sakura sepertinya masih sibuk dengan pikirannya sendiri hingga Kakashi langsung berdiri dan memperkenalkan mereka.

"Dia Sakura." Kakashi berdehem sebelum melanjutkan, "Sakura, dia Mitarashi Anko." Rupa-rupanya Sakura terpesona dengan Anko hingga Kakashi harus memukul kepala gadis itu dengan buku untuk menariknya kembali ke dunia nyata.

"Ouch!" Sakura terpekik sambil mengusap-ngusap kepalanya yang sakit. Sebelum dia sempat memutuskan untuk membuang Kakashi yang sudah memukul kepalanya dengan semena-mena ke kandang buaya atau kandang serigala, dia melihat Anko yang menatapnya dengan alis sedikit naik. Sakura berdiri dan membungkuk sedikit. "Senang berkenalan denganmu, Mitarashi-san."

"Kalian bersaudara atau…" Anko menatap mereka bergantian. Nampak jelas kecurigaan memancar di matanya.

"Aku kakaknya," jawab Kakashi singkat.

Sakura sampai terbatuk-batuk seru mendengarnya.

"Kakak?" Anko menyipit horror, "Kalian tidak mirip sama sekali."

"Sebenarnya rambut Sakura pun warnanya perak. Tapi dia senang mewarnai rambutnya dengan warna pink. Maklumlah, remaja sekarang kadang sedikit alay," jawab Kakashi asal.

WTF! ALAY?

Sakura benar-benar ingin mencekik Kakashi sampai mati. Anko tampak tersenyum lega secerah matahari di musim panas, kemudian Sakura mendapati tangan wanita itu tiba-tiba menggenggam kuat tangan Kakashi seakan ingin mengumumkan pada dunia jika Kakashi adalah miliknya. "Kau tidak pernah cerita kalau kau punya adik. Kukira tadi dia pacarmu, Kakashi-kun."

Kakashi berdehem sesaat dan menjawab, "Aku tidak harus menceritakan semuanya padamu, 'kan?"

Sakura menatap mereka bergantian sebelum tertawa dalam hati. Bersiaplah, Anko-san. Kau tidak tahu pria seperti apa Kakashi itu, kalau tidak salah hitung kau adalah korbannya yang keseratus tiga belas.Tidak ingin berlama-lama, Sakura berkata, "Uh, aku harus pergi. Kuliahku dimulai jam 10. Mitarashi-san, maaf merepotkan. Kaka-nii, aku ke kelas dulu. Jaa~ Nii!"

Nii? Ugh!

.

Malam sudah menjelang pukul 10 saat Sakura tiba di rumah. Lampu-lampu belum dinyalakan. Kakashi ternyata belum pulang. Gadis itu lalu meregangkan otot-otot tubuhnya yang lelah sambil berjalan gontai ke kamar mandi. Dia baru saja pulang dari kedai tempatnya bekerja. Kemudian dia melepas pakaiannya satu-persatu sebelum memutar kran dan melangkah ke bawah pancuran. Tak ada waktu untuk berendam karena matanya tak bisa lagi menahan kantuk. Begitu selesai, dia keluar dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk, memakai piyama buluk bergambar kodok dan berjalan ke ruang tengah. Tak berapa lama, dia pun jatuh tertidur di atas sofa.

.

Mata Sakura langsung terbuka lebar saat telinganya menangkap suara seorang wanita mendesah pelan. Lalu suara seorang pria mengerang, beradu dengan suara-suara langkah kaki. Suara pakaian dibuka, ritsleting ditarik turun, kemudian erangan lagi dan napas sepasang anak manusia yang terengah-engah.

Tubuh Sakura menegak perlahan di sofa dan melihat melalui kegelapan. Begitu matanya terbiasa, dia menangkap siluet tubuh jangkung Kakashi yang tinggal memakai jeans hitamnya tadi siang dan tubuh Anko yang melingkarkan kedua kakinya di pinggul pria itu, melintasi koridor menuju kamar utama. Mereka tak menyadari kehadiran Sakura yang menatap mereka tanpa berkedip.

"Ahh, Kakashi..." desah Anko. Pinggulnya beradu dengan pinggul Kakashi.

"Apa aku harus menyalakan lampu?" tanya Kakashi terengah dengan napas memburu di antara ciumannya yang semakin bertubi-tubi.

Sakura menelan ludah dengan napas tertahan melihat secara live adegan rated MA di hadapannya.

"Tidak usah... uhn, ahh!" bisik Anko dengan sensual sambil menggigit lembut daun telinga Kakashi. Pria itu kembali mengerang saat Anko mengusap punggungnya kemudian menutup bibir Kakashi dengan bibirnya. Lalu pintu kamar menutup dengan keras, membuat Sakura tersentak. Dari balik ruangan itu, desahan Anko semakin keras. Suara Kakashi kini terdengar serak dan sangat menggoda, membuat Sakura terengah-engah akan dirinya sendiri.

Sialan kau, Kakashi! Besok pagi, aku akan benar-benar membunuhmu!

Dia lalu menarik hoodie-nya yang digantung di dekat pintu masuk, memakai keds lusuhnya dan mengendap-endap keluar menuju jalanan, menikmati angin malam untuk mendinginkan kepalanya dan mencoba menghapus bayangan serta suara-suara tadi dari benaknya. Sejak malam ini, dia harus mengucapkan selamat tinggal pada kepolosannya.

Kakashi sialan!

.

Cahaya matahari menembus celah-celah di antara tirai jendela di kamar Kakashi. Pria itu membuka mata, merasakan tenggorokannya amat kering lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Dia menoleh ke kanan dan tak menemukan Anko di sebelahnya. Tubuhnya pun menegak. Kepalanya terasa sakit sekali karena terlalu banyak minum semalam. Dia beralih pada bufet untuk mengambil segelas air hangat dan sebutir aspirin yang pastinya telah disediakan oleh wanita itu kemudian meminumnya.

Disingkapnya selimut biru navy yang menutupi tubuh bagian bawahnya sebelum menjejakkan kaki di lantai kayu dan memakai celana. Dia berjalan ke kamar mandi dengan langkah gontai. Begitu sampai di wastafel, kepalanya menegak dan hidungnya mengendus udara, mengenali aroma yang tak asing berputar di ruangan itu.

Aroma stroberi? Sakura?

Begitu selesai membersihkan diri, sebuah handuk hitam melingkar di sekeliling pinggulnya yang ramping, membuat benda itu nampak kontras dengan kulit pucatnya. Lalu mata beda warna miliknya menangkap seragam kerja milik Sakura di keranjang pakaian kotor. Dengan tergesa-gesa dia keluar dari kamar mandi menuju ruangan Sakura, mengetuk-ngetuk pintunya namun tak ada jawaban sama sekali dari dalam. Dia memegang gagang pintu yang ternyata tak terkunci dan menemukan kamar bernuansa hijau itu kosong.

"Kakashi-kuuun, sarapan sudah siap!" teriak Anko dari dapur.

Kakashi menutup pintu kamar gadis itu sebelum melewati selasar dan di ruang tengah matanya kembali mendapati sofa panjang dengan sebuah selimut hijau serta bantal kepala berwarna senada, masih terlihat berantakan. Dia menuju ruang makan dan bertanya ragu, "Apa kau melihat Sakura semalam?"

"Awww, Kakashi! Kau seksi sekali, terutama luka itu!" Alih-alih menjawab, Anko malah meletakkan piring di tangannya ke atas meja dan langsung melompati pria rambut perak itu hingga mereka berdua terjatuh di lantai ruang makan.

"Anko... kupikir kita akan sarapan!" Kakashi berusaha mendorong tubuh langsing wanita itu yang kini berada di atasnya, menciumi bekas luka yang memanjang dari dada kirinya hingga perut bagian kanannya dengan penuh hasrat.

"Itu benar, Kakashi. Kau adalah sarapanku..." Anko menyeringai sambil memutar pinggulnya dengan Kakashi.

Kakashi pun mengerang pelan. "Tidak, Anko... Sakura... ah, semalam dia pasti..."

"Jangan banyak bicara lagi." Wanita bermata indah itu menunduk untuk menggigit bibir bawah Kakashi dan menciumnya keras, membuat pria itu berhenti bicara.

Sementara itu, Sakura menapaki halaman depan berkerikil sebelum membuka pintu depan namun langkahnya berhenti di ruang tamu saat dia kembali melihat kejadian yang paling ingin dihindarinya dalam 18 tahun masa hidupnya. Kakashi, dengan handuk setengah terbuka dan Anko yang memakai kemeja pria itu, berada di atasnya. Sakura kemudian mundur selangkah untuk bersembunyi di balik dinding. Lalu tangan kanannya terjulur menyentuh sebuah vas bunga di atas rak dan sengaja menjatuhkannya. Meski benda itu tidak pecah, namun cukup untuk mengalihkan perhatian kedua orang dewasa tersebut dari kegiatan mereka yang dengan sangat jelas telah membuatnya sakit kepala.

Kakashi langsung mendorong tubuh Anko agar lepas dari tubuhnya. Dengan cepat dia mengatur napas dan berkata, "Sebaiknya kau pulang sekarang."

Mengeluh, wanita itu pun mengikuti saran si rambut perak. Setelah mengganti baju, dia berjalan menuju ruang tamu dan menemukan Sakura berjongkok dekat pintu masuk sambil memainkan tali sepatunya, menatap benda itu dengan dahi berkerut dan bergumam tak jelas. "Pagi, Sakura-chan." Anko menyapanya meski tidak mendapat jawaban sedikit pun. Meliriknya pun tidak. Dia langsung merasa tidak enak dan dengan terburu-buru, menutup pintu dari luar.

Sakura membuka kedsnya dan menegakkan tubuh. Vas yang sengaja dijatuhkannya tadi, ditendangnya hingga menggelinding. Dia pun langsung berjalan ke ruang makan, menarik kursinya sebelum menyendok omelet ke dalam mulutnya. Kakashi yang baru keluar dari kamarnya―pagi itu dia memakai kaos putih, seperti biasa sebuah masker menutupi bagian bawah wajahnya serta celana hitam yang mencapai betisnya―langsung menemui gadis itu.

"Sakura..."

Si rambut pink mengangkat telunjuknya, sinyal agar pria itu tidak bertanya saat dia sedang makan. Kakashi pun menunggu gadis itu selesai mengisi perutnya sambil memperhatikan penampilannya yang terlihat agak berantakan. Setelah meneguk jus jeruk, Sakura bersendawa keras sekali, seolah telah melupakan etika yang selama ini dipelajarinya. Sambil menepuk-nepuk perutnya yang kekenyangan, dia bersandar pada kursi untuk menatap pria di depannya, menunggunya untuk berbicara.

"Kau terlihat berantakan." Kakashi tidak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan kaku ini. Semuanya menjadi terasa janggal hingga membuatnya kehabisan kata-kata.

"Kau seharusnya menghubungiku, Kakashi, agar aku tidak pulang semalam."

Dan melihat kalian berdua melakukannya di depan mataku. Kenapa aku baru menyadari jika diriku telah dirusak secara permanen oleh bagaimana cara diriku dibesarkan? Tousan, apa yang ada di pikiranmu saat menyerahkan aku pada pria mesum ini?

Ah, Kakashi terlalu mabuk semalam sampai-sampai dia lupa akan hal itu. Sejak kedatangan Sakura di rumahnya, jika dia ingin melakukan hal yang berbau privasi, dia akan keluar. Begitu Sakura sudah legal untuk memiliki ponsel, dia akan selalu menghubungi gadis itu untuk menginap di rumah Ino jika ingin 'melakukannya' di rumah―yeah, setiap minggu harus ke hotel, bisa membuat isi kantongnya terkuras habis.

"Lalu kenapa kau tidak menghubungiku kalau kau semalam menginap ke rumah Ino?"

"Cek ponselmu, Baka! Dan bilang padaku ada berapa panggilan masuk dari seseorang bernama Sakura!" Sakura yang sedari tadi mencoba untuk tenang, kini hilang kesabaran. Dia memukul meja di bawahnya dengan kepalan tangan, gigi-giginya bergemeretak karena kesal.

"Sakura, aku minta maaf." Untuk saat ini, dia hanya bisa mengatakan itu. Jika ada yang lebih dari sekedar maaf, dia pasti melakukannya.

Sakura memijat-mijit dahinya yang berdenyut sambil berkata, "Aku akan memaafkanmu asalkan..."

Perasaan buruk langsung melanda Kakashi saat itu juga.

"Kerjakan semua pekerjaan di rumah ini selama sebulan. Tidak ada tawar-menawar. Mengerti? Oh, satu lagi. Kerjakan resume milikku mengenai tugas yang kau berikan kemarin." Sakura menatap pria itu sambil menyeringai seperti setan. Sekarang ini, itulah yang terbaik. Dia tidak punya hak melarang Kakashi untuk melakukan kegiatan privasinya karena walau bagaimana pun, Kakashi adalah seorang pria dewasa.

"Hei, syarat kedua itu, kau harus mengerjakannya sendiri!" seru Kakashi pada gadis itu yang kini mendorong kursinya ke belakang untuk meninggalkan meja makan.

"Ya, ya, ya. Kau yang harus melakukannya, Kakashi. Atau akan kulaporkan kau pada Tousan karena telah melakukan pelecehan seksual melalui mata padaku," sahut Sakura cuek sambil melenggang menuju kamarnya dan menutup pintu dari dalam. Sakura belum puas. Dia membuka lagi pintu kamarnya kemudian menendangnya hingga tertutup.

Kakashi yang ingin mengekori Sakura, tiba-tiba menghentikan langkah. Dia mendesah pelan saat menyadari rentetan kalimat gadis itu barusan.

Tousan? Gadis itu belum tahu jika…

"Tsk, baiklah."

.

Kakashi langsung memasang earphone saat ponselnya berbunyi. Dia melirik sesaat pada nomor yang tertera di layarnya. Nomor baru? Daerah di antara kedua alisnya berkerut.

"Halo?"

Di dalam mobil, Sakura yang duduk di sebelahnya dengan melipat kedua kakinya ke dada, hanya menatap keluar pada gedung-gedung tinggi berwarna monoton: abu-abu dan putih kusam. Sinar matahari hanya menembus sela-sela di antara gedung-gedung yang menjulang di kiri dan kanannya. Beberapa kedai yang menyediakan menu untuk sarapan masih nampak ramai dengan pengunjung-pengunjung setia mereka. Meski sepasang mata hijaunya tampak menerawang, telinganya masih menangkap lengkingan suara seorang wanita dari ponsel Kakashi.

"Ayame? Ini kau?" seru Kakashi tak percaya. "Sudah lama sekali―ah, tidak―kau ke mana saja?"

Ahh, salah satu mantan lama. Sakura lalu memutar kepalanya, mencoba melirik Kakashi yang berbicara dengan mata tertuju pada jalanan di depan mereka.

"Baiklah―di mana―ya, jam empat ―sampai bertemu lagi." Kakashi menekan satu tombol pada earphone-nya meski tak melepasnya.

"Jadi, apa aku HARUS tidak pulang lagi malam ini?" tanya Sakura sinis sambil melihat mobil berbelok ke kiri.

"Kau kira aku ini orang seperti apa, Sakura? Aku sudah menerima hukuman yang kau berikan tapi kau masih saja sinis padaku." Kakashi tersenyum sambil melihat gadis itu melalui sudut matanya.

"Memangnya aku bilang apa? Penjahat kelamin?"

Kakashi menekan tiba-tiba pedal rem, membuat mobil berhenti seketika. Mereka bisa saja terlempar menghantam kaca depan jika tidak memakai sabuk pengaman. Lalu si rambut perak menoleh pada Sakura dan berkata tajam sambil mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu, "Aku tidak mengencani sembarang wanita, Sakura."

"Oh, yeah? Datang dan pergi dengan wanita berbeda setiap malamnya, bukankah itu bisa dibilang penjahat kelamin?" tantang Sakura. Kedua mata hijaunya beradu dengan mata beda warna milik Kakashi. Lalu dia merasakan tangan Kakashi yang besar memegang lengan kanannya dengan keras, membuatnya meringis kesakitan. "Apa yang kau lakukan, Kakashi?"

"Jaga kata-katamu, Gadis kecil!"

Sakura gemetar dan terpesona pada saat bersamaan begitu mendapati kilatan aneh yang tak asing di dalam mata pria itu. Sebelah kanan yang berwarna abu-abu cerah kini berubah gelap dan yang sebelah lagi berwarna merah darah, seolah menghipnotis dirinya hingga tak sanggup untuk bergerak. Dia pernah melihat kilatan itu, saat Sakura berusia 12 tahun, di mana dia hampir membakar salah satu seri Icha Icha Paradise milik Kakashi. Dia tidak tahu jika buku itu bukanlah sekedar 'buku' yang langsung diletakkan di rak begitu selesai dibaca dan tak pernah dibuka lagi.

Dan hal itu kembali terulang.

"Kukira masalah ini sudah selesai tadi pagi. Kapan aku mengajarimu untuk mengatakan hal-hal seperti itu? Lagipula, kehidupan pribadiku bukanlah urusanmu! Kuakui aku memang salah karena tidak menghubungimu semalam dan aku sudah minta maaf untuk itu, tapi bisakah kau tidak menghinaku seperti itu, Sakura? Bisakah kau?"

Rahang Kakashi berkedut-kedut menahan amarah, napasnya memburu, suaranya pun turut bergetar. Genggamannya pada tangan gadis di depannya semakin menguat namun melihat air yang kini mulai tergenang di mata Sakura, genggamannya perlahan melonggar.

"Sial!" Dia memaki dirinya sendiri sebelum memukul stir mobil lalu memegangnya dan menjatuhkan kepalanya di sana. Pundaknya yang lebar tampak naik turun menarik napas panjang untuk meredam kemarahannya. Dia telah lepas kontrol dan untuk kedua kalinya, dia membuat sepasang mata hijau itu kembali mengeluarkan air mata. "Maafkan aku, Sakura. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu menangis."

Sakura mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan, "Aku... yang harusnya minta maaf, Kaka-sensei. Meski kita sudah bersama selama sembilan tahun, tapi aku tetap tidak berhak untuk memasuki kehidupan pribadimu. Maafkan aku."

Tubuh Kakashi menegak. Dengan tangan tak terlepas dari stir, dia bersandar pada kursi sembari membayangkan wajah Sakura beberapa saat lalu yang membuatnya sangat bersalah. "Apa aku menakutimu?"

Sakura menarik tangannya dan menjawab, "Err, sedikit."

"Bagus, kalau begitu kita impas. Kau jika sedang berubah menjadi T-Rex betina pemarah juga sering membuatku takut," sahutnya datar dan kembali menjalankan mobil menuju Universitas Konoha.

Sakura tidak tahu apa dia harus tersenyum lega atau tidak karena sekali lagi... pria itu tetap saja merupakan misteri baginya.

ooOOoo

TBC

.

Gin Note : Buat Amaya. Thx sudah ada buatku selama ini. For You, How Can I Not Love You-nya soundtrack Anna and The King.

Amaya Note : *mangap* Tumben mammoth bisa manis *laugh, hug* Thx ya Hunnz

For Readers, Ripyu plis? Bantai juga boleh. XDDD