Halo semua…!

Chapter dua-nya datang. Maaf ya lama. Sekali lagi aku ingetin, disini aku pake bahasa loe_gue, jadi maaf kalo ada yang gak suka. Oke, langsung aja…

Silahkan dibaca…

.

.

.

Disclaimer : Boboiboy milik Animonsta Studio

Genre : Hurt/Comport – Family – Drama

Rate : T

Pairing : Halilintar – Yaya

Warning : AU – OOC – typo(s) – Bahasa Tidak Baku – EYD berantakan – Author-nya masih belajar – No super power – Alien\Human.

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan itu hanya merupakan kebetulan semata.

DON'T LIKE DON'T READ

.

..

...#C.I.N.T.A#...

..

.

Chapter 2 : Pertemuan

Mentari bersinar dengan teriknya. Namun panasnya terkalahkan oleh hembusan angin yang membuat sejuk. Hembusan angin menerbangkan dedaunan kering dari bawah pohon besar. Gundukan-gundukan tanah terlihat disekitar pohon besar tersebut.

Pemakaman. Ya, tempat itu adalah sebuah pemakaman. Disana terlihat seorang pria tampan yang tengah memandang sendu salah satu makam. Tertulis nama Hanna Mutiara di nisan makam tersebut. Ia lalu meletakan seikat bunga mawar merah seraya mengelus lembut nisan itu.

"Aku kangen kamu Hanna."

..

...#C.I.N.T.A#...

..

Kuala Lumpur. Sebuah kota yang merupakan ibukota dari Negara Malaysia. Sebuah kota ramai dengan kepadatan penduduknya.

Panas matahari, debu yang bertebaran serta asap kendaraan yang membuat tak nyaman menjadi suasana yang selalu terjadi setiap harinya. Suara-suara bising berbagai kendaraan turut meramaikan suasana. Tak hanya itu, para pejalan kali pun turut ambil bagian.

Sebuah bus tiba-tiba berhenti disamping jalan, seorang pemuda berusia sekitar 19 tahun turun dari bus tersebut. Celana jeans dengan lubang besar dilutut, T-shirt berwarna biru tua, topi berwarna putih yang dipakai menyamping serta sepatu kets kusam. Pakaian yang sederhana. Ia juga memegang sebuah gitar akustik serta plastik yang berisikan lembaran uang receh. Bisa di tebak, ia adalah seorang pengamen.

Taufan. Nama pemuda itu. Hanya Taufan, tidak ada nama keluarga atau nama panjang. Hanya Taufan. Seorang pemuda sebatang kara yang harus berjuang untuk bertahan hidup. Di usia yang masih terbilang muda, ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanpa ijazah apapun yang ia miliki membuatnya kesulitan mencari pekerjaan, sehingga mengamen pun menjadi jalan terakhirnya.

Ia bersedia bekerja apa saja. Dari mulai menjual koran, pedagang asongan, pencuci mobil dan kerja serabutan lainnya. Sejak usia 16 tahun ia harus membiayai hidupnya sendiri.

Setelah mengamen di bus tadi, ia lalu berjalan meninggalkan keramaian jalanan ibukota. Senandung kecil keluar dari mulutnya dengan suara yang cukup merdu. Akhirnya ia sampai di sebuah taman yang sepi, ia lalu duduk bersandar dibawah sebuah pohon besar. Ia meletakan gitar akustik-nya di samping ia duduk.

"Wiihh… dapet berapa ya gue hari ini," gumamnya seraya mengeluarkan uang recehan di plastik yang sedari tadi ia bawa. Lalu ia mulai menghitungnya.

"Wahh… ada yang dapet duit banyak nih," tutur seseorang yang membuat Taufan menghentikan kegiatan menghitung uang hasil mengamen-nya.

Taufan mendongkak melihat siapa orang yang telah menggangu kegiatan-nya. Di depannya tiga orang pemuda memandang remeh kearahnya dengan seringaian mengejek. Taufan memutar bola matanya bosan.

"Dia lagi? Gak bisa apa ya libur sehari aja kagak gangguin gue," batin Taufan menggerutu.

Taufan lalu berdiri. Ia memandang malas mereka. Terutama pemuda dengan rambut hijau yang sepertinya merupakan pemimpin dua orang di belakangnya. Ejo Jo nama pemuda itu, sedangkan dua orang di belakangnya Tom dan Bagogo. Ejo Jo merupakan musuh terbesar Taufan.

"Mau apa lagi loe?" tanya Taufan dengan ekspresi datar.

"Gue gak mau apa-apa. Gue cuma loe sengsara dan itu buat gue bahagia," tutur Ejo Jo dengan tawa mengejek.

"Buat gue sengsara? Hahaha tarung lawan gue aja loe kalah mulu. Gimana mau buat gue sengsara," tutur Taufan santai dengan senyum mengejek-nya yang membuat Ejo Jo naik pitam.

"Sialan. Maksud loe apa ngomong kayak gitu, hah?" kesal Ejo Jo. "Loe denger ya, kali ini gue yang bakal menang, loe gak liat dua orang dibelakang gue. Jadi gue pastiin kali ini loe yang kalah,"

"Hahaha pengecut, beraninya main keroyokan. Tapi gak papa, belum tentu juga loe bertiga menang lawan gue," ujar Taufan masih dengan sikap santainya.

"Banyak omong loe. Kalian berdua maju."

..

...#C.I.N.T.A#...

..

Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dengan pakaian kumal terlihat berjalan menyusuri keramaian jalanan ibukota. Ia melompat-lompat seraya bernyanyi riang. Wajahnya manis namun sayang terlihat kumal penuh debu. Pakaiannya pun demikian, tampak usang.

Tiba-tiba ia berhenti. Kedua tangan mungilnya memegang perut seraya meringis.

"Api lapel, tadi pagi gak salapan," gumam lirih anak yang ternyata bernama Api itu.

Api lalu mengedarkan pandangan mata dengan iris merah cerahnya kesekitar. Sampai akhirnya, pandangannya berhenti pada penjual nasi lemak yang berada tak jauh dari tempat ia berdiri. Ia tersenyum lebar melihatnya, namun tak lama senyumannya menghilang, tergantikan dengan raut cemberut khas anak kecil, mengembungkan kedua pipinya.

"Tapi Api gak punya uang," lirihnya seraya memandang sendu penjual nasi lemak itu. Lalu ia alihkan pandangannya pada jalan raya yang sedang macet karna lampu merah. Ia tersenyum, mendapat ide agar ia bisa mendapatkan uang.

Kaki-kaki kecilnya yang tanpa alas kaki berlari menghampiri kemacetan itu. Ia berhenti di sebuah taksi yang jendela bagian belakangnya terbuka, memperlihatkan seorang wanita cantik dengan hijab berwarna merah muda yang menutupi kepalanya.

"Pelmisi tante cantik, Api mau nyanyi boleh?" sapa Api dengan senyuman lebar memperlihatkan barisan gigi putihnya.

Wanita cantik yang sedari tadi focus pada smartphone di tangannya mengalihkan pandangan saat mendengar suara seseorang di sampingnya. Ia tersenyum saat mendapati seorang anak laki-laki manis yang tengah tersenyum lebar kearahnya.

"Tante, Api mau ngamen, boleh?" Tanya Api polos.

"Lho.. kenapa ngamen? Kalo adek mau uang, tante bisa ngasih," tutur wanita cantik itu ramah.

"Gak mau. Kata Bunda, kita gak boleh nelima uang dali olang dengan pelcuma, karna itu namanya mengemis. Dan mengemis itu untuk olang-olang yang tidak mampu bekelja, Api kan masih mampu bekelja," jelas Api dengan raut wajah serius yang justru terlihat lucu.

"Baiklah. Kalo gitu nyanyiin satu lagu untuk tante, nanti tante kasih uang," tawar wanita itu lembut.

"Oke tante…" Api pun mulai bernyanyi dengan suara cemprengnya seraya bertepuk tangan. "Pelangi, pelangi, alangkah indahmu, melah kuning hijau di langit yang bilu, pelukismu agung siapa gelangan, pelangi, pelangi ciptaan Tuhan." Api mengakhiri nyanyiannya dengan senyuman lebar.

"Wahh hebat, ya udah nih tante kasih uang karna kamu udah ngehibur tante," ujar wanita itu seraya memberikan Api selembar uang 10 ringgit. Api menerimanya dengan senang hati.

"Makasih tante cantik, tapi bukannya ini telalu besal ya?" tanya Api seraya memandangi uang di tangannya. Meskipun ia belum sekolah, namun ia tahu bahwa nominal uang yang ditangannya ini besar.

"Gak papa, sisanya buat di tabung," ucap wanita itu ramah.

"Wahh.. sekali lagi telimakasih tante cantik yang baik hati. Api pelgi dulu ya, dadah..." ucap Api kemudian berlari meninggalkan wanita itu.

"Tunggu..!" seru wanita itu, namun sayang Api tidak mendengarnya karna suara bising klakson kendaraan saling bersahutan karna lampu hijau sudah menyala.

Wanita itu pun hanya bisa menghela nafas, karna tidak mungkin ia keluar dari taksi untu mengejar anak kecil pengamen tadi saat seperti ini. "Padahal aku masih mau ngobrol sama dia. Kasian anak sekecil itu harus hidup dijalanan kayak gini. Semoga lain kali aku ketemu dia lagi."

..

...#C.I.N.T.A#...

..

Sementara itu Api yang telah mendapat uang bergegas untuk membeli nasi lemak yang di lihatnya tadi. Setelah itu ia berjalan untuk mencari tempat yang nyaman untuk ia makan. Akhirnya ia sampai di taman yang sepi.

Ketika ia hendak membuka bungkusan nasi lemak itu, tiba-tiba terdengar suara-suara aneh. Karna penasaran, Api pun mencari asal suara itu, hingga ia menemukan empat orang pemuda yang sedang terlihat perkelahian. Sampai akhirnya salah seorang pemuda yang memakai topi putih yang dipakai menyamping sedikit lengah hingga tidak menyadari dua orang dibelakangnya yang langsung memegangi kedua tangannya.

"Sialan. Lepasin gue," bentak pemuda bertopi putih itu sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman di kedua tangannya.

"Hahaha… kenapa? Takut lo?" tawa mengejek seorang pemuda berambut hijau.

Api melihatnya tidak suka. Menurutnya perkelahian itu tidak seimbang, satu lawan tiga. Ia kasihan dengan pemuda bertopi putih itu. Ia lalu mengambil batu sebesar kepalan tangan mungilnya. Ia mengangkat batu itu tinggi-tinggi hendak melemparkannya pada pemuda berambut hijau yang sedang menghampiri pemuda bertopi putih.

"Sial, kalo gini gue bakalan kalah," runtuk Taufan dalam hati.

"Kali ini loe yang bakal kalah." Ejo Jo menghampiri Taufan dengan kepalan tangan yang siap dilayangkan pada wajah Taufan. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat sesuatu yang keras mengenai punggungnya. "Aarrgh.." ringgis-nya seraya melihat apa yang telah mengenai punggungnya, sebuah batu. "Siapa yang berani ngelempar gue pake batu?" Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling taman yang sepi, sampai akhirnya pandangannya terhenti pada seorang anak kecil dengan pakaian kumal. Api.

"Owh.. jadi loe bocah yang berani ngelempar gue pake batu hah?" bentak Ejo Jo kesal.

"Abisnya Api kasian ngeliat om itu. Kan gak adil, masa om itu sendilian lawan beltiga," tutur Api tanpa rasa takut.

"Berani banget bocah ingusan kayak loe ngomong kayak gitu. Karna loe udah berani ikut campur urusan gue, gue bakal kasih pelajaran buat loe. Loe berdua, tangkep tuh bocah," perintah Ejo Jo yang langsung dijalankan oleh Bagogo dan Tom.

"Baik Bos," ucap keduanya bersamaan. Mereka lalu berlari mengejar Api yang sudah lari terlebih dulu. Nasi lemak yang belum ia makan terlupakan begitu saja.

Taufan yang melihat anak itu sedikit prihatin. Bagaimana pun anak itu sudah menolongnya. "Gila lo ya, anak kecil aja loe lawan, bener-bener pengecut," sindir Taufan sinis.

"Diem lo, ini bukan urusan loe. Urusan loe tarung lawan gue," ujar Ejo Jo yang telah siap dengan posisi bertarungnya.

Taufan yang melihatnya hanya memutar mata malas. Namun ia tetap bertarung dengan Ejo Jo. Mereka pun terlibat perkelahian sengit satu lawan satu yang tentu saja dimenangkan oleh Taufan. Jangan salah, Taufan adalah petarung jalanan, meski ia tidak belajar beladiri secara spesifik, namun pengalaman hidup keras di jalanan membuat ia terbiasa terlibat pertarungan.

"Denger ya, suatu saat nanti gue bakal buat loe menderita. Inget itu!" tutur Ejo Jo seraya pergi meninggalkan Taufan dengan wajah babak belur.

Taufan hanya memandangnya kepergiannya dengan tatapan bosan. Ia lalu menghampiri gitar akustik yang berada di bawah pohon yang ia sandari tadi, lalu melangkah meninggalkan tempat itu. Namun ia menghentikan langkahnya saat mengingat sesuatu.

"Oh ya, tuh bocah gimana ya? Ah.. bodo amat lah, salah sendiri mau ikut campur urusan orang gede." Taufan kembali berjalan, namun ia kembali berhenti. Ia tiba-tiba merasa khawatir dengan keadaan anak itu. "Gue tolongin aja kali ya, gimana pun juga kan dia udah nolongin gue tadi." Taufan pun memutuskan untuk menolong anak kecil tadi.

..

...#C.I.N.T.A#...

..

Api berlari sekuat tenaga menghindari dua orang pemuda berbadan besar yang berusaha menangkapnya. Kaki-kali kecilnya menyusuri taman yang tampak lenggang dengan cepat. Namun secepat apupun ia berlari takkan bisa mengalahkan orang dewasa yang tengah mengejarnya. Ia tertangkap salah seorang pemuda dengan kacamata merah, Tom.

"Lari loe cepet juga bocah, tapi loe gak bakalan bisa ngalahin gue," bentak Tom seraya mencengkram pergelangan tangan Api dengan erat.

"Lepasin Api om, tangan Api sakit," ucap Api seraya berusaha melepas cengkraman Tom pada pergelangan tangannya.

"Sakit? Suruh siapa lo campurin urusan orang gede hah? Ini akibatnya," timpal pemuda yang lain, Bagogo.

"Sekarang loe ikut gue, biar Bos yang kasih pelajaran buat lo," seru Tom seraya menarik tangan Api agar mengikuti langkahnya.

"Gak mau, lepasin Api." Api terus memberontak, meski sia-sia karna sudah pasti ia kalah tenaga dari mereka.

"Woi… lepasin dia. Urusan loe berdua ama gue, bukan ama tuh bocah." Terdengar suara seorang pemuda yang tak lain adalah Taufan.

"Kenapa loe ada disini, harusnya kan lo lawan Bos Ejo Jo?" tanya Tom yang bingung melihat Taufan.

"Bos loe udah gue kalahin, tinggal loe berdua. Sini kalo berani," tantang Taufan dengan seringaian mengejek.

"Sialan…" umpat Tom kesal. Lalu Tom dan Bogogo maju menerjang Taufan bersamaan. Namun Taufan dapat berkelit. Mereka bertiga pun terlibat perkelahian yang lagi-lagi dimenangkan oleh Taufan. Mereka berdua pun pergi disertai umpatan kekesalan karna kalah bertarung dengan Taufan.

"Wah.. om hebat, sendilian tapi bisa ngalahin dua olang. Api mau donk belajal sama om, biar Api bisa ngalahin olang yang jahat kayak tadi," tutur Api kagum pada kehebatan Taufan dalam bertarung.

Taufan yang mendengar suara kekaguman anak kecil yang ditolong dan menolongnya tadi hanya memandang dengan ekspresi malas. "Belajar beladiri maksud lo? Huh… ngomong R aja belum bisa mau belajar beladiri," tutur Taufan dengan pandangan meremehkan.

Taufan lalu berjongkok untuk menyamakan tinggi Api dengannya. "Gue peringatin nih ya, lo itu jangan sok jagoan pake nantang mereka kayak tadi. Beruntung gue lagi baik mau nolongin, coba kalo gak, udah abis loe dijadiin sate ama mereka, mau loe?" tutur Taufan yang terdengar seperti ancaman.

"Hii… selem, Api gak mau dijadiin sate om," ucap Api seraya bergidik ngeri.

"Makanya mendingan sekarang loe balik ke rumah loe, daripada nanti mereka balik lagi terus loe di jadiin sate ama mereka," perintah Taufan seraya berdiri.

"Tapi Api gak punya lumah om, semenjak bunda Amy pelgi ke sulga, Api sendilian. Api diusil sama om Jambul, katanya Api gak boleh tinggal di lumah bunda Amy lagi. Api boleh ya tinggal sama om?" mohon Api seraya memandang Taufan penuh harap.

Taufan terdiam, ia sedikit merasa kasihan mendengar cerita Api. "Pergi ke surga? Meninggal maksudnya? Hmm.. Kasian juga sih nih bocah, masih kecil tapi udah tinggal di jalanan kayak gini. Atau gue bolehin aja dia tinggal bareng ama gue. Tapi gak ah. Gue aja susah makan, apalagi ngurusin anak orang, terus kalo dia bandel, nangis terus, bisa repot gue," batin Taufan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Gak, enak aja mau tinggal ama gue, hidup gue udah susah, nambah susah kalo ada lo," tolak Taufan sengit.

"Tapi om, api gak punya siapa-siapa lagi. Api takut tinggal sendilian." Api terus memohon, ia merasa Taufan orang baik yang bisa menjaganya. Ia merasa aman berada dekat dengannya.

"Gue gak peduli. Dan jangan panggil gue om, gue bukan om loe. Kapan gue nikah ama tante loe?" tolak Taufan kembali.

"Tapi om…"

"Udah deh, loe tuh bikin gue pusing tau gak. Gue mau pergi, jangan ngikutin gue, awas kalo lo ngikutin gue," ancam Taufan sambil memberikan tatapan membunuhnya saat melihat Api yang hendak mengikutinya. Api pun mundur seraya menundukan kepalanya, takut melihat tatapan Taufan.

Taufan tersenyum puas, lalu ia berjalan meninggalkan Api. Namun entah mengapa ia merasa tak enak meninggalkan Api sendirian. "Kok gue jadi gak enak gini ya ninggalin dia sendirian. Kalo di pikir-pikir kasian juga sih tuh bocah, kalo dia diculik terus dijual gimana?" Taufan mulai berpikiran yang tidak-tidak. Tapi memang masuk akal, meski terlihat kumal dan kotor, namun Api terlihat manis jadi pasti banyak orang yang mengincarnya.

"Ah bodo amat lah, kenapa juga gue jadi mikirin anak gelandangan itu sih." Taufan berusaha untuk tidak memperdulikan Api, namun hatinya menyuruh ia untuk membawa Api untuk tinggal bersamanya. "Aduuhh… gue kenapa sih? Ya udah lah gue tolongin aja."

Taufan lalu kembali berjalan ke tempat terakhir kali ia bertemu Api dan ternyata anak itu masih disana. Sedang duduk dibawah pohon seraya memeluk kakinya sendiri sambil menundukan kepala.

"Berdiri lo," perintah Taufan ketika ia telah berada di depan Api.

Api mendongkakkan kepalanya ketika mendengar suara berat khas laki-laki dewasa. Ia terlihat senang melihat Taufan tengah berdiri angkuh di depannya. "Om…" pekik Api senang.

"Udah gue bilang jangan panggil…" Ucapan Taufan terhenti saat Api memeluk pinggang Taufan erat, tinggi Api memang hanya sepinggang Taufan. Ia terlihat sangat senang akan kehadiran Taufan.

"Api tau, om itu pasti olang baik," ucap Api masih memeluk Taufan.

Taufan tertegun. Entah mengapa ia merasa hatinya menghangat saat Api memeluknya. Meski enggan mengakuinya, namun Taufan sedikit merasa senang Api memeluknya. Ia merasa seperti memiliki adik. Tanpa sadar, ia tersenyum tipis. Namun ia segera enyahkan pikiran tersebut. Senyumnya menghilang digantikan dengan raut wajah kesal.

"Udah ah gak usah peluk-peluk, badan lo bau tau gak, berapa hari sih loe gak mandi?" tanya Taufan seraya mendorong Api menjauh dari tubuhnya.

"Dua hali," jawab Api polos yang membuat Taufan sweatdrop.

"Pantesan. Loe boleh ikut gue, tapi jangan seneng dulu, gue training lo dulu selama seminggu," tutur Taufan sambil berjongkok agar tingginya sejajar dengan Api.

"Tlening itu apa om?" tanya Api dengan wajah bingung.

Taufan mendengus. "Aaah…males gue jelasinnya, pokoknya gini deh, dalam seminggu kalo lo bandel, ngerepotin gue, gue bakal langsung usir loe. Ngerti?" ancam Taufan sambil memberikan pelototan tajamnya pada Api.

Api mengerjap, lalu mengangguk antusias seraya tersenyum lebar. "Ngelti om. Api janji Api gak akan bandel, Api bakal nulutin semua kata om," janji Api.

"Api?" Taufan baru sadar bahwa sedari tadi anak ini selalu berkata Api.

"Iya, nama Api, Api. Nama om siapa?"

"Nama lo aneh. Gue Taufan,"

"Oke, om Topan,"

"Taufan bukan Topan," kesal Taufan karna Api salah menyebut namanya.

"Om Topan?"

"Taufan," koreksi Taufan kembali berusaha untuk sabar.

"Om Topan,"

"TAUFAN," Taufan sudah diambang batas kesabarannya sehingga ia meninggikan volume suaranya.

"OM TOPAN," Api pun ikut meninggikan suaranya, suara cemprengnya membuat Taufan tersentak. Sehingga reflek menggosok-gosok telinganya yang sempat berdengung karna suara cempreng Api.

Taufan menghela nafas pasrah. "Terserah lo deh. Ya udah ayo ikut gue,"

"Kemana om?" tanya Api.

"Gak usah banyak nanya, ikut aja,"

"Oke om."

"Bawa nih gitar. Jangan sampe jatoh, awas kalo ada yang lecet, lo langsung gue usir," ancam Taufan dengan tatapan bengis kemudian berjalan meninggalkan Api setelah memberikan gitarnya.

"Siap bos," ucap Api senang. Dengan antusias ia mengikuti Taufan dengan membawa gitar yang hampir menyamai tinggi badannya.

..

...#C.I.N.T.A#...

..

Sementara itu di tempat lain, di sebuah rumah mewah terlihat sebuah mobil yang baru saja terparkir di halaman rumah tersebut. Sang pemilik mobil pun keluar dari pintu kemudi. Seorang pria tampan dengan tatapan tajam mata berwarna merah. Ia berjalan memasuki rumah itu mengabaikan sambutan selamat datang dari para pelayan.

"Dari mana aja kamu, Halilintar?" tanya seseorang yang membuat pria bernama Halilintar itu menghentikan langkahnya menuju kamar pribadinya.

Halilintar. Atau yang bernama lengkap Halilintar Boboiboy adalah seorang pria berusia 26 tahun yang dapat membuat para wanita takluk kepadanya dan membuat para pria iri kepadanya. Bagaimana tidak? Ia berwajah tampan dengan tubuh tinggi tegap, mata tajam berwarna merah yang menambah pesonanya. Bukan hanya penampilan fisik, namun ia juga kaya dan cerdas. Ia sudah memimpin perusahaan sendiri, meskipun itu perusahaan ayahnya yang ia teruskan.

Ia nyaris sempurna untuk ukuran seorang manusia, namun ia memiliki kepribadian yang buruk. Ia pendiam, dingin dan tidak bersahabat. Ia jarang berkomunikasi dengan orang lain selain tentang pekerjaan, bahkan dengan keluarganya sekalipun. Semua ini berawal karna suatu kejadian yang membuat ia terpuruk dan merasa bersalah. Kejadian yang membuat ia kehilangan sesuatu yang berharga.

Halilintar terdiam, enggan menjawab pertanyaan sang ayah. Bahkan sekedar berbalik menghadap sang ayah pun tidak ia lakukan. Ya, orang itu adalah ayahnya. Boboiboy. Seorang pengusaha sukses yang memiliki banyak perusahaan. Usianya sudah lebih dari setengah abad, sehingga membuatnya hanya bisa memantau perusahaan yang di pimpin oleh anak keduanya di rumah. Ia sudah kehilangan istrinya sejak anak-anaknya masih kecil, namun ia tidak pernah berniat untuk menikah lagi, ia tetap setia pada mendiang istrinya meski saat itu banyak wanita-wanita yang mendekatinya.

"Ayah bertanya padamu Hali, jadi jawab pertanyaan ayah!" tutur Boboiboy yang mulai kesal dengan sikap sang anak.

"Tanpa aku menjawab, ayah pasti sudah tau jawabannya," ucap Halilintar datar.

"Hali, sampai kapan kamu seperti ini? Ayah mengerti tapi kamu punya tanggungjawab terhadap perusahaan, jangan mentang-mentang kamu pemimpin kamu seenaknya membatalkan janji dengan klien. Beruntung mereka mau mengerti, jika tidak, kita akan rugi besar," tutur sang ayah yang tidak habis pikir dengan sikap seenaknya Halilintar. Ia mengerti Halilintar masih terbayang dengan kejadian itu, namun itu sudah berlalu selama empat tahun. Sekarang saatnya Halilintar bangkit kembali.

"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Halilintar. Sang ayah menghela nafas. Ia sudah bingung apalagi yang harus ia katakan pada Halilintar agar ia mengerti, bahwa ia tidak sendiri, bahwa ia masih memiliki orang yang menyayanginya.

"Hali, cuma kamu dan Kak Gempa yang sekarang ayah punya. Ayah mohon, kembali seperti Halilintar yang dulu, Halilintar yang selalu menjadi pelindung keluarga kita." Tutur sang ayah penuh pengharapan. Perkataannya lembut, khas seorang ayah pada anaknya.

Namun Halilintar hanya diam, meski Boboiboy tau Halilintar mendengar perkataannya. Namun sepertinya anak keduanya ini tak berniat untuk menanggapi. Sang ayah kembali menghela nafas pasrah.

"Ya sudah terserah kamu, ayah gak tau harus ngomong apa lagi sama kamu. Oh ya, tadi Suzy sekertaris kamu melapor sama ayah kalo kamu abis pecat dia, benar?" tanya Boboiboy, namun Halilintar hanya diam. "Ayah anggap itu sebagai jawaban 'iya'. Kenapa Hali, bukankah sekretaris kamu memiliki prestasi yang baik, dia selalu teliti dalam bekerja, kenapa kamu pecat dia?"

"Aku gak suka dia campurin urusan aku, aku gak suka dia larang-larang aku mengunjungi makam Hanna," ujar Halilintar yang kali ini menghadap sang ayah.

"Ayah yang nyuruh dia untuk ngelarang kamu mengunjungi makam Hanna," tutur sang Ayah memandang sang anak datar.

Halilintar terlihat sedikit terkejut mendengar perkataan ayahnya. Ia memandang sang ayah tajam. "Maksud ayah apa ngelarang aku mengunjungi makam istriku sendiri?" tanya Halilintar dengan nada sedikit tinggi.

"Ayah tidak melarang kamu untuk mengunjungi makam istrimu, kamu bebas mengunjungi makam Hanna kapan pun asal bukan saat jam kantor. Apalagi saat ada acara penting seperti tadi. Kamu tidak bisa seenaknya memecat sekretaris kamu seperti itu, memang sudah sepantasnya Suzy melarang kamu untuk tidak pergi kemana-mana saat akan ada rapat penting," tutur Boboiboy panjang lebar.

"Aku gak peduli. Pokoknya aku gak suka siapapun mencampuri urusan aku, apalagi sampai melarang aku untuk mengunjungi makam istriku, termasuk ayah," ujar Halilintar lalu berbalik meninggalkan Boboibooy menuju kamar pribadinya yang sempat tertunda tadi.

"Tunggu Hali!" Seruan ayahnya membuat Halilintar yang baru menaiki beberapa anak tangga terhenti. "Ayah sudah carikan sekretaris baru untuk kamu yang lebih berprestasi dari Suzy, ayah tidak menerima protesan kamu. Dan kamu tidak bisa memecat dia, karna ia dibawah perintah ayah. Mulai besok ia akan mulai bekerja, ayah harap kamu bisa menerimanya," tutur sang ayah datar.

Halilintar tak menanggapinya, ia bergegas melanjutkan perjalanannya ke kamar pribadinya setelah sang ayah selesai berbicara. Sementaraa itu Boboiboy hanya bisa menatap sendu kepergian sang anak.

Sementara itu, tak jauh dari sang ayah berdiri terlihat seorang pria dengan manik mata berwarna kuning emas yang sedari tadi menguping pembicaraan sang ayah dan Halilintar.

"Kakak, kangen kamu yang dulu Hali, juga…"

..

...#C.I.N.T.A#...

..

BERSAMBUNG…

.

.

.

Chapter dua selesai. Kayaknya cerita sama judul gak nyambung ya, jujur aku paling susah bikin judul..

Cerita nya monoton banget ya, aku yakin readers pasti bisa nebak alur ceritanya. Tapi semoga readers suka dan mau baca, apalagi sampe mau review. Aku bakal seneng banget, karna review itu semangat buat aku. Aku suka senyum-senyum sendiri kalo baca review readers waktu di ff Seperti Bulan…

Aku gak tahu uang 10 ringgit kalo di rupiah jadi berapa. Tapi kayaknya nominalnya lumayan besar deh kalo di rupiah…

Saatnya balas review…

Delia Angela : Makasih, hehe aku pusing lho bikin summary yang bagus biar narik pembaca. Apa daya, bisanya Cuma kayak gitu. Tapi aku seneng banget ada yang bilang summary-nya menarik. Salam juga dari aku. Makasih udah mau review J

Kagayaku Mangetsu-Chan : Ini udah di lanjut. Hahaha Api galak banting-banting orang. Salam kenal juga Yaku. Makasih udah mau review J

Nisa Arliyani : Hai juga Nisa. Makasih udah ngasih saran, tapi maaf kayaknya aku berubah pikiran. Aku buat ibunya udah gak ada, ayahnya aku kasih nama Boboiboy. Hehe.. ini udah dilanjut, makasih udah mau review J

Meltavi011003 : Aduhh… maaf banget ya, pair-nya gak sesuai keinginan kamu. Soalnya fic aku yang pertama kan TauYa, sekarang aku buat HaliYaya dan kemungkinan fic aku selanjutnya GempaYaya. Kalo untuk Ying, nanti abis Yaya selesai. Maaf banget ya. Semoga kamu tetep mau baca dan makasih semangatnya. Ini udah dilanjut, maaf lama.. makasih udah mau review J

YellowMoonFlower : Makasih.. ini udah dilanjut. Makasih udah review J

Rampaging Snow : Makasih udah dibilang menarik dan makasih udah ngasih saran. Tapi maaf ya aku berubah pikiran, ibunya aku bikin udah gak ada dan ayahnya aku kasih nama Boboiboy. Ini udah dilanjut. Makasih udah mau baca J

Luna Nightingale : Waw masa sih, aku seneng banget dengernya. Ini udah aku lanjut, maaf lama. Silahkan ikuti perjalanan Api dalam mencari cintanya *smile* Makasih udah mau review J

Fast for Speed : Makasih udah suka sama fic ini. Ini udah dilanjut, makasih udah mau review J

Taufania : iya waktu di musim satu itu. Aku gak ngeerti maksudnya apa ya kamu bilang kamu perempuan. Hehe.. Makasih udah mau review J

Yuka : Makasih udah dibilang keren, makasih juga udah mau review J

Nika : Makasih udah dibilang bagus, ini udah dilanjut, makasih udah mau review J

Oke udah aku balas semua. Maaf kalo ada nama-nama yang salah ketik, jawaban review kurang memuaskan atau ada kata-kata aku yang salah atau apapun itu…

Ya udah deh, segitu aja catatannya..

Seperti biasa KRITIK DAN SARAN sangat dibutuhkan…

Makasih udah mau baca