Haai! Maafkan aku karena sudah lama tidak mengupdate cerita ini. Yah...

Check this out! –if you want-

Alunan

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Pair: Naruhina/Konohana

Chapter 2

Warning!: Jika tidak menyukai tokoh yang ada OOC ,AU dan GAJE nya biarpun hanya sedikit, dimohonkan bagi anda untuk TIDAK MEMBACANYA. Apalagi dengan Gaya Bahasa yang Berubah-UBAH

KECUALI KALAU MAU

Hanabi mendatangi beranda yang ada di kamar raksasanya. Ditutupnya pintu yag menghubungkan kamarnya dengan teras atas tersebut rapat-rapat. Dipandangnya langit malam yang cerah dengan bulan sebagai penerangnya. Bintang-bintang bagaikan berserakan di lautan yang dinamakan langit malam.

Lebay ah...

"Hikari, Akari! Jangan kejar-kejaran! Nanti jatuh!"

"Ahahaha! Hikari! Sini! Tunggu aku!"

"Makanya, Akari jangan lelet!"

"Hei, kalian ini ah..."

Hanabi sedikit tersentak begitu mendengar suara tadi, dilihatnya dari atas teras itu seorang ibu yang membawa belanjaannya sambil memanggil kedua anak perempuannya yang sedang bermain kejar-kejaran. Sepertinya mereka kembar. Namun bukan itu yang diperhatikan Hanabi. Gadis belia ini memandang keceriaan yang tampak pada wajah kedua anak kembar tadi. Entah kenapa begitu melihat keceriaan mereka, Hanabi merasa ada lubang menganga di dalam dadanya.

'Ada apa ini? Kenapa denganku?' Pikir Hanabi.

Akhirnya dia pergi meninggalkan beranda tadi untuk melupakan perasaan itu. Meskipun masih terngiang dalam bayangan tadi tawa dan keceriaan anak-anak tadi. Dia melemparkan tubuhnya ke kasurnya dengan posisi tengkurap. Hanabi menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya. Tak lama kemudian, terdengar dengkuran kecil dari gadis itu.

"Kau ini benar-benar membuatku hampir terkena serang jantung ya." ujar Hinata, terselip kelegaan di setiap kalimatnya. Pemuda yang di depannya itu tersenyum bangga

"Tapi berkat itu kita bertemu kan?" balasnya. Hinata tersenyum simpul menatap pemuda itu. Dia tidak berubah, pikirnya.

Uzumaki Naruto, nama pemuda tadi. Terakhir mereka bertemu kira-kira 6 tahun yang lalu saat mereka Hinata berumur 11 tahun dan pemuda tersebut berumur 12 tahun pada saat Konoha Festival Jazz 4 sedang berlangsung, di sanalah dia melihat seorang anak kecil berambut kuning sedang duduk di bawah pohon sambil bermain saxophone kecil berwarna emas.

Kini, di hadapannya sudah ada pemuda itu. Rambut kuningnya yang tidak berubah, cengirannya yang khas, juga 3 gerutan di pipinya yang seperti kumis kucing. Hanya tinggi badannya saja yang bertambah. Naruto yang dulu sepundak Hinata kini malah sudah melewati kepala Hinata.

Sejenak Hinata tertegun, dia merasa ada sesuatu yang aneh. Tapi apa ya?

Oh iya! Hinata tersentak.

"Err... Naruto?" panggil Hinata pelan. Naruto mengangkat sebelah alisnya, tanda bahwa dia mendengarkan.

"Kenapa...Kenapa kamu mengajak aku ketemuan di sini? 'Kan kamu bisa datang langsung ke rumahku..." tanyanya. Naruto memasang tampang berpikir.

Sebenarnya sih dia mau datang ke rumah Hinata. Tapi dia punya dua masalah.

Pertama, dia yang nyalinya besar pasti akan menciut juga melihat Hiashi Hyuuga yang menyambut dari balik pintu dengan tatapan tajam dan dingin. Uzumaki Naruto pasti akan gemetaran ditambah keringat dingin hanya untuk berkata

"Permisi. Saya mau bertemu dengan Hinata"

Kedua, Hyuuga Neji. Sepupu Hinata yang sama dinginnya dengan sang paman. Dia juga tukang menguping. Mana ada sih yang mau didengerin pembicaraannya ketika lagi berduaan? (ehem...)

Tapi gak mungkin'kan Naruto mengucapkan dua hal itu? Bisa-bisa nanti Hinata akan mengeluarkan air matanya dan berlari pergi. Akhirnya Hinata gak mau lagi bertemu dengan Naruto. Terus dia bakal nolak Naruto dong!

Waah! jangan dong!

Nanti author repot merubahnya!

"Eh... Itu..." Naruto menjawab dengan ragu-ragu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Eh, tapi gak tahu juga sih, siapa tahu sebenarnya kepalanya lagi gatal...

"Eh...Aku..."

"Ya?" tanya Hinata

"Aku... Aku hanya ingin bertemu denganmu saja." Naruto langsung tersenyum lega begitu berhasil mengatakannya. Sontak wajah Hinata memerah. Perlahan, warna memerahnya menjalar dari dagu, ke hidung, akhirnya ke ubun-ubun.

Tuut! Keluar asap dari wajah Hinata yang polos.

Hehehe...

Itu sih bayangan saja...

Naruto yang bingung dengan keadaan mendekati gadis manis itu. Hinata memainkan jari telunjuknya dengan ling-lung.

"Be-benarkah?" tanya Hinata dengan terbata-bata. Naruto yang baru sadar dengan apa yang dikatakannya langsung salah tingkah. Dia membuang mukanya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana.

"Yah..."ucapannya tertahan, lalu dia menyeringai. Menutupi kesalah-tingkahannya. Lalu melanjutkan "kurang lebih begitu."

Hinata dengan wajahnya yang memerah melihat Naruto dengan malu-malu.

"Ka-kalau kamu gak keberatan, sebenarnya lusa nanti Hyuuga's Leaf Orchestra akan konser di Main Hall Konoha Convention Center. Kamu... Kamu mau menonton konser kami?" tanyanya. Wajahnya semakin memerah. Naruto mengerjapkan matanya sekali. Lalu menyeringai sambil berkacak pinggang.

"Kamu bercanda? Pastinya aku datang! Sahabatku yang sudah lama terpisah akan mengadakan konser seminggu setelah aku pulang? Tentu saja aku akan datang!" jawabnya sambil mengacungkan jempolnya di depan wajah Hinata. Hinata tersenyum simpul.

"Benarkah? Aku senang sekali, Naruto." kata Hinata. Lalu dia tersadar. Ada satu hal yang dia bingungkan sejak awal'kan?

"Naruto, aku mau tanya..." Hinata menatap Naruto dengan bingung.

"Ya? Apa itu?" Naruto balas bertanya.

"Sebenarnya BUN itu apa sih?" tanya Hinata. Naruto menyeringai lebar.

"Di Paris, aku dipanggil BUN oleh teman-teman. Itu sih hanya singkatan dari kata 'BLONDE UZUMAKI NARUTO'. Hehehehe" jawab Naruto seadanya. Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dasar kreatif...

Naruto melihat jam tangan yang menghiasi tangan kirinya. Sudah jam 8, sebaiknya mereka pulang. Udara malam gak bagus buat anak muda.

"Hee... Sudah jam 8 ya." ucap Naruto dengan nada sedikit kecewa. Hinata otomatis melihat jam tangan yang terikat manis di lengan kirinya. Benar. Jam 8.

"Aku... Kurasa aku harus pulang." ujar Hinata. Kemudian dia tersenyum manis kepada Naruto.

"Sampai jumpa lusa, Naruto..." ujarnya dengan riang, namun dengan nada pelan. Hinata langsung pergi menuju rumahnya, meninggalkan Naruto yang stunning begitu melihat senyuman Hinata.

Tanpa sadar, Naruto tersenyum sayu.

"Wew... Senyumannya benar-benar manis..."

Sehari sebelum konser...

Hanabi berjalan di pinggiran trotoar di tengah kota. Akhirnya dia sampai di tempat yang ingin dia tuju.

Taman kota.

Well, ini kejadian langka mengingat Hanabi bukanlah tipe orang yang suka berjalan-jalan keluar rumahnya. Dia berjalan pelan menuju kursi taman yang kebetulan sedang kosong. Dia duduk sambil meremas celananya. Kemudian menghela nafas panjang.

KLOTAK! DUK!

Sebuah handphone terlempar dan jatuh di depan kakinya disusul dengan bola basket yang memantul entah ke mana. Hanabi mengambil handphone itu dan mengernyit. Orang macam apa yang gak menghargai barang seperti ini? Ternyata di zaman seperti ini masih ada saja orang yang sombong seperti itu.

"HUWAA! GAWAT! GAWAT!"

Seorang anak laki memakai topi seumuran dengannya berlari dengan tergesa-gesa ke arah kursi tempat Hanabi duduk. Dengan nafas terengah-engah, dia melihat sekeliling kursi Hanabi. Lalu nyengir ke arah Hanabi.

"Maaf, apa kamu melihat sebuah handphone yang jatuh sekitar sini?" tanya pemuda itu. Hanabi menatap anak itu. Wajahnya hanya terlihat mulut dan hidungnya saja karena tertutup topi. Apa mungkin handphone yang berwarna biru tua itu miliknya ya? Hanabi menunjukkan handphone yang dia ambil tadi.

"Ini?" tanya Hanabi. Pemuda itu diam. Lalu mengambil handphone itu.

"Iya!" dia memainkan handphone itu sejenak. "Masih hiduup... Makasih ya!" anak itu mendongakkan wajahnya ke arah Hanabi. Membuat wajahnya kini terlihat sepenuhnya. Hanabi membelalakkan matanya. Dia kenal anak ini.

"Konohamaru!" kata Hanabi dengan tidak percaya. Anak bernama Konohamaru itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu tersenyum lebar.

"Waah! Rupanya Hanabi ya! Wah! Yare-yare... Tadi aku gak sadar kalau itu kamu lho!", kata Konohamaru sambil memamerkan giginya yang berderet dengan rapi. Hanabi terdiam. Lalu tersenyum kecil. Konohamaru membalas senyumannya, dan duduk di sebelah Hanabi.

"Sedang apa kau di sini?", tanya Konohamaru. Hanabi menatap langit dan bersandar pada kursi taman.

"Hmm... Entahlah... Aku sendiri juga gak tahu kenapa aku bisa ke sini." jawab Hanabi, lalu dia menoleh ke arah Konohamaru "Kau sendiri?"

"Aku hanya melewati taman ini saja sambil menelepon teman, tiba-tiba ada bola basket melesat ke arahku. Aku berhasil menghindar tapi handphone yang satu ini enggak. Oh... Untung kamu gak apa-apa sayang~" ujarnya sambil memeluk handphonenya dengan mesra. Hanabi langsung illfeel melihatnya.

Konohamaru Sarutobi, cucu dari Hiruzen Sarutobi yang merupakan Walikota Konoha. Hanabi adalah teman sekelasnya di Konoha Junior High School. Satu-satunya hal yang dia kenal adalah, Konohamaru adalah anak paling jahil di kelas yang juga paling jago dalam matematika.

"Hei! Kau gak apa-apa'kan?"

Konohamaru dan Hanabi menoleh. Seorang gadis berambut orange dikuncir dua bersama cowok berkacamata bertampang ngantuk berlari kecil menghampiri Konohamaru.

"Eh! Kalian! Aku gak apa-apa kok. Tenang saja! Hehehe", Konohamaru nyengir sambil berpose ala Rock-Lee.

Dasar, apa dia gak punya gaya lain? Masa' gaya orang diikutin sih...

Moegi, gadis berambut orange tersebut melirik Hanabi dengan agak heran.

"Err... Kamu kok mirip Hanabi ya?"

He?

"Dia memang Hanabi tauk!", jawab Konohamaru.

"Ehh!" ujar Moegi dengan kaget. Hanabi sweatdropped. Apa dia tidak terlalu terkenal ya? Moegi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ehehe, habisnya kamu beda sih. Kalau gak pake kacamata."

Iya sih. Hanabi selalu memakai kacamata kalau di sekolah dan bermain piano. Di luar itu, kacamatanya dilepas.

Tapi masa' beda gitu sih?

"Eh? Sudah jam segini! Kakek bakal marah besar nih kalau aku sampai pulang telat!" Konohamaru melihat jam tangannya dengan kaget. Lalu berlari meninggalkan taman. Kedua temannya mengikuti dari belakang.

"Sampai besok!" suara Konohamaru masih terdengar dari kejauhan.

"Duluan ya!" susul Moegi dan Udon. Hanabi melambaikan tangannya, lalu kembali bersandar di bangku taman. Masih terasa di dalam dirinya perasaan saat bertemu mereka bertiga. Biarpun singkat, tapi benar-benar merubah perasaan seorang Hanabi. Entah kenapa dia merasa iri melihat kedekatan mereka bertiga.

Haah...

Apa ini yang rasanya kesepian?

TBC.

...

Huwaa! Maaf ya! Aku benar-benar hampir membuat fic ini terbengkalai! Thedakk!

Maaf karena lama update! *Bungkuk 45 derajat

Yuri-chan