Moshi-Moshi semua nya. Arrigatou gozaimasu udah nge ripiew Chapt one tachi, tachi sangat berterima kasih skali buat para senpai yang ada di fandom bleach…^^

Balesan ripiew nih :

BakaMirai : makasih., Tenang ja..Ini kan baru awalnya aja. Ntar jadinya Ichiruki kug..

Yumemiru reirin : Makasih akan coba perbaiki di chapt. Ini….^_^

Himecchama : Uwaaa..makasih. Hmmm..aq jadi penasaran ama cerita-crita kamu. Di jamin pasti lebih bagus dari punya aq , Pingin baca ahh..

Yuinayuki : Makasih dah ngeripiew. Ea, di cerita awal ini tachi emank sengaja ngejodohin Ichihime. Tapi, ntar jadinya ma ichiruki kug..^_^

Shirayuki haruna : hahahaha..makasih dah nge ripiew, di rumah ku banyak tisu kug. Mau??^_^

Rukia - agehanami 021093 : Hahahahaha * ketawa mpe' gulung-gulung* Makasih ya dah maw ripiew. Iya pazti RukiaXIchigo.

Sampai di kelas aku sama sekali tidak bisa menyerap pelajaran yang di ajarkan pak terus melamun hingga tak sadar bahwa pak guru sudah ada di samping.

"Rukia, coba kamu artikan Halaman 120" perintah pak guru.

Aku masih sama sekali tidak sadar kalau yang di perintah pak guru itu adalah aku. Dengan menahan amarah pak guru mengulang pertanyaannya lagi.

"Rukia, Terjemahkan halaman 120!!" katanya sedikit berteriak. Di bentak seperti itu spontan aku kaget dan tidak sadar telah menjatuhkan tempat pensil di sebelahku.

"Eh..ah maaf pak tadi saya tidak mendengarkan" kataku sambil memunguti alat tulis yang berserakan di lantai . tentu saja sambil menahan malu.

TeeT…teeT……

Bel istirahat sama sekali tidak punya tenaga untuk berdiri apalagi untuk naik ke malas ..aku sebenarnya takut akan apa yang terjadi nanti. Matsumoto yang kebetulan lewat di depan kelasku menghampiriku.

"Rukia, sedang apa di sini?? Ayo kita ke atap !! Semua sudah menunggu"Kata Matsumoto Ramah sambil menggandeng tanganku.

Aku menurut saja karna semua pasti akan merasakan ada sesuatu yang aneh pada diriku dan Bisa-bisa mereka akan mengetahui perasaanku terhadap Ichigo.

Setelah sampai di atap Ichigo menyambutku dengan ramah tidak seperti biasanya. Tiba-tiba Ichigo mengucapkan kata-kata di luar dugaan kami.

"Aku….Jadian dengan Inoue " ungkap Ichigo jujur.

Di belakang Ichigo aku melihat wajah Inoue yang merona. Entah kenapa saat itu aku begitu muak melihat sakit sekali.

"Selamat ya akhirnya Kau berhasil mengatakan perasaanmu sejak sekian lama" Kata Matsumoto riang sambil memeluk Inoue seperti sedang menghadiri pesta pernikahannya.

Lalu giliran Renji mengucap selamat sambil menjabat tangan Ichigo Dan sekarang tibalah tidak tahu apa yang akan sahabat yang baik seharusnya aku bisa dengan mudah mengucapkan satu kalimat itu. Air mataku langsung mengalir deras di depan mereka semua. Aaah bodohnya aku.., mengapa aku menunjukkan wajah ini di hadapan mereka semua??? Seharusnya ..aku bahagia melihat Sahabatku ??

Inoue dan yang lain langsung panik melihatku boleh buat,,aku harus berpura-pura mengucapkan selamat kepada kalian berdua. Aku mendekati Inoue dan memeluknya , dengan suara lirih aku mengucapkan selamat kepadanya dan berpura-pura tersenyum kepada mereka. Ichigo dan Inoue kelihatan Gembira karna semua mengucapkan selamat kepada mereka.

"Kalau begitu Gimana kalau malam ini kita Makan-makan atas jadiannya Inoue dan Ichigo Setujuu!!" Kata Matsumoto memberi saran. Dan langsung di jawab dengan anggukan Ichigo dan Inoue

"Biar aku saja yang membayar semua" Usul Ichigo.

"Hmmm..maaf aku tidak bisa ikut bersama ada acara lain" kataku beralasan. "Baiklah kalau begitu kalau Kira??"Tanya Inoue sedikit kecewa.

"Aku juga tidak bisa..aku juga ada acara"Kata Renji.

"Ehh..kenapa tidak bisa??ayolah Renji ikut ya..ya" Matsumoto memohon

"Baiklah tapi Cuma sebentar ya!!" akhirnya Renji pun menyetujuinya.

TEET….TEET...

Bel akhirnya berbunyi dan menyuruh kami untuk kembali ke kelas masing-masing.

"Duluan ya kita bertemu sepulang sekolah" Kataku mendahului.

Aku tidak ingin berlama-lama berada di antara mereka. Dadaku terasa sesak setiap melihat mereka bersama. Saat aku menuruni tangga tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing dan akhirnya aku jatuh dari tangga dan tidak sadarkan -sayup aku mendengar teriakan mereka dan tangisan itu Aku merasa ada yang menggendongku menuruni tangga tapi aku tidak tahu siapa.

Saat kesadaranku pulih aku melihat wajah Renji yang melihatku dengan cemas. Saat aku berusaha bangun kaki dan kepalaku terasa sakit sekali. Kata Nanao-sensei, kakiku terkilir dan kepalaku sedikit berdarah karna sewaktu jatuh kepalaku terbentur dengan keras. Ya, itu Cukup terbukti dengan kepala dan kaki yang masih terbalut dengan perban.

"Kau tidak apa-apakan" Kata Renji dengan cemas dan wajahnya itu benar-benar terlihat… Menggelikan.

"Aku tidak apa-apa koq. hanya kepalaku agak sedikit pusing." Kataku tersenyum. Tiba-tiba Renji langsung menubrukku begitu saja

"Aku kira aku akan kehilanganmu" kata Renji. Entah mengapa tiba-tiba saja Jantungku berdegup kencang.

"Aduuh bagaimana ini kalau sampai kedengaran olehnya" Batinku. KUKURUYUUK tanpa sadar perutku berkokok dengan kerasnya.

"Ehh... apa bunyi barusan dari perutmu??" Kata Renji. Aku hanya mengangguk saja dengan wajah merona merah. Setelah itu Kira langsung melepas pelukannya dan tertawa sampai aku yakin dia tidak bisa bernapas.

"Sebentar ya!! Aku belikan makanan ke kantin dulu" katanya seraya berlalu.

Beberapa menit kemudian dia datang sambil membawa semangkok bakso dan segelas teh hangat di tangannya. Dengan sabar dia menyuapkan sesendok bakso ke mulutku. Aku yang di perlakukan seperti itu jelas menolak

"tidak apa-apa koq aku tidak akan meminta balasanmu untukku" katanya sambil tersenyum.


Esok Harinya………

"Selamat pagi Rukia-chan!" Sapa Inoue riang.

Aku Terlompat kaget , lalu menoleh ke belakang

"Inoue??? Cepat sekali kau datang?" Kataku. Heran. "Mana yang lain?" Lanjutku Setelah sadar Inoue Sendirian.

"Oooh…yang lain sedang ada urusan, kita di suruh berangkat duluan saja" ujar Inoue menerangkan.

Akhirnya, Aku dan Inoue hanya berangkat berdua ke sekolah. dalam perjalanan, dia selalu bercerita tentang Ichigo. Ichigo suka dengan inilah.., Ichigo ternyata..Bla..bla..bla dan lain-lain. Aku benci mendengarnya, seolah-olah dia tahu lebih banyak tentang Ichigo daripadaku. Tanpa sadar, kata-kata itu terlepas dari mulutku

"Sebenarnya.., apa sih kelebihanmu, sampai-sampai Ichigo lebih memilihmu ketimbang aku?"Kataku seperti bergumam.

"Eh? kau bilang apa?" Tanya Inoue bingung. Tentu saja, aku juga bingung dan kaget, Mengapa kata-kata itu meluncur dari mulutku?? Dasar Bego..!!

"Hmm...Gak papa kok…" "oh iya, bagaimana hubunganmu dengan ichigo?" Tanyaku dengan senyum di paksakan.

"Baik, Kemarin sepulang sekolah dia mengajakku…." Inoue berhenti melanjutkan kalimatnya , berbalik ke arahku dan senyum kecil menghiasi wajah manisnya. " Kemarin kami berkencan" Lanjutnya Riang.

DEG!!!

Aku lalu menghentikan langkahku. Kuangkat wajahku ke arah Inoue.

"Berkencan??" ulangku memastikan. Aku berharap apa yang baru saja ku dengar hanya mimpi buruk belaka.

"Iya.., kami Berkencan. Lalu dia…" Inoue memotong kalimatnya sejenak. Lalu memandangku tersipu. "Dia menciumku" Lanjutnya.

BRUUKK!!

Tanpa sadar, tas yang semula ku pegang, sukses jatuh ke tanah.

"Ahh... Maaf" Kataku sambil memungut isi tas yang berserakan.

Tiba-tiba saja, sebutir air mata menetes dari kelopak mataku. Dengan segera, ku usap air mataku sebelum inoue melihatnya.

"Rukia, kau gak apa-apa kan kan?" Tanya inoue panik

"Hahaha… gak apa-apa kok, cuman kelilipan aja" ujarku berbohong. "Ayo kita jalan, nanti bisa terlambat lho" lanjutku sambil mendahului langkah Inoue.

Sesampainya di kelas, aku langsung membanting tasku ke meja dan berlari menuju kamar mandi. Dadaku terasa sesak sekali. Ada apa ini..? seharusnya aku bahagia melihat sahabat yang paling ku sayangi bahagia. Aku benar-benar sahabat terburuk di dunia! Batinku. Pertahananku akhirnya runtuh, aku menangis sekencang-kencangnya saat itu juga sampai bel masuk berbunyi. Aku benar-benar tidak bisa menatap wajah inoue, itu akan membuatku merasa benar-benar buruk.

Jam pelajaran pertama, ku putuskan untuk ijin ke UKS. Entah mengapa , tak ada satupun tenaga yang tersisa di tubuhku. Untuk menuju ke UKS pun aku harus bertumpu pada tembok di sebelahku. ' Begini ya.., rasanya patah hati? ' Bisikku pada diri sendiri lalu menyeka air mata yang hampir menetes lagi.

***

Keesokan harinya, aku tidak masuk sekolah. Sejak tadi pagi, entah mengapa badanku terasa sakit semua. Terutama hatiku.., mungkin kalau ada alat pemantau hati, hatiku pasti akan terlihat amat sangat hancur. Rasanya, berat menerima kenyataan bahwa orang yang kita sukai ternyata menyukai orang lain, apalagi kalau dia adalah sahabat kita sendiri !!.

TING…TONG…

Samar-samar aku mendengar suara bel di bunyikan. ' AAAh..! biar kak Byakuya saja yang membukanya.' Batinku malas lalu membenarkan letak selimutku yang melorot.

TING…TONG…KRINGGG…

Kali ini terdengar suara bel di bunyikan di sertai bunyi jam alarm bergambar Tweety yang menunjukkan angka 10 di sampingku. 'OH… MY GOAT !!! Apa di dunia ini sudah tidak ada tenggang rasa lagi!!! Siapa juga sich yang menciptakan jam alarm seberisik ini??' omelku sambil melempar jam alarm YANG TAK BERDOSA itu ke lantai.

TING..!TING..! TONG..!TONG..!!

Ini ke 3 kalinya bel berbunyi. Dan kali ini di sertai es cendol yang lewat. Dengan masih memakai piyama, dan rambut masih berbentuk seperti orang kesetrum, ku putuskan untuk turun ke bawah.

GREEKK…

Pintupun terbuka. Gak ada hujan, gak ada angin, juga gak ada buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya (he..hehe.^-^) , Seorang cowok jangkung berambut merah berdiri di hadapanku dengan senyum lebarnya.

"Renji??" kataku kaget + shock berat. Sedang apa Renji di sini?? Ini kan masih jam 10 pagii…

Seolah tahu apa yang aku pikirkan, dia menjawab semua pertanyaanku.

"Hari ini…aku membolos." Ujarnya santai.

WHAATT?? Renji membolos? Dia kan seorang anak kepala yayasan dan juga ketua osis di sekolah?? Oke..,oke, mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi seandainya Ichigo atau matsumoto yang bilang begitu ke aku, aku pasti tidak akan sekaget ini.

"Boleh aku masuk?" Tanya Renji membuyarkan lamunanku.

"Eh? Ah..iya" kataku gelagapan.

Renji lalu masuk ke dalam dan mulai menyalakan TV seperti yang biasa ia lakukan.

"Em…mau minum apa??" ujarku menawarkan.

"Terserah deh.." jawabnya tanpa melepaskan pandangan dari televisi.

Saat aku hendak menuju dapur, entah kenapa kepalaku terasa sangat pusing. Dan setelah itu semua terasa gelap..

***

Putih… Itulah yang pertama kali ku lihat. Oh iya! Ini kan kamarku sendiri?? Sejak kapan aku berada di sini? Aku ingat! Terakhir kali, aku menuju dapur, lalu...Arrrgh! aku sama sekali tidak bisa mengingatnya.

"Rukia, kau sudah sadar? " Tanya Renji yang baru masuk ke kamarku dengan kompres di tangan kanannya.

"Renji, apa yang terjadi? Tanyaku kebingungan. Sambil berusaha duduk.

"Tadi kau pingsan dekat dapur, dan aku yang membopongmu ke sini." Katanya sambil tersenyum " Kau lumayan berat juga lho" lanjutnya berusaha bercanda. Aku hanya pura-pura memasang wajah cemberut dan mencubitnya pelan. Lalu kami tertawa bersama-sama.

"Sudah, kau istirahat saja!" perintah Renji lembut, sambil memasang kompres di atas hanya menanggapinya dengan tersenyum. Tuhan…mengapa bukan Renji saja yang aku sukai? Renji kan lebih baik dari Ichigo? Mengapa harus Ichigo…? Rintihku dalam hati.

"Renji…" panggilku pelan.

"Hmm.." Yang dipanggil hanya bergumam tidak jelas.

"Aku mau kok jadi pacarmu." Ucapku tulus. Ku lihat sekilas raut mukanya. Tidak ada perubahan. Renji lalu mendekatiku dan memgang pipiku.

"Aku senang kalau kau mau jadi pacarku..tapi…" katanya menatapku sendu.

"Kenapa kau terlihat mau menangis??" lanjutnya sambil mengusap pipiku lembut.

Tanpa terasa, lagi-lagi air mataku meleleh. Aku benci! Aku benci sekali diriku yang seperti ini. Mengapa aku jadi cengeng sekali sih.

"Maaf…" ucapku bergetar. Rukia bodoh, kenapa kau tega sekali menjadikan Renji alat pelarianmu dari Ichigo sich makiku dalam hati. Dan itu makin membuatku menangis lebih keras lagi.

Renji lalu menarikku ke dalam pelukannya. Mendekapku erat berusaha menenangkan tangisanku yang semakin keras. Berjam-jam lamanya aku menangis dalam pelukan Renji. Saat itu, Renji hanya diam saja. Dia tidak berbicara apalagi menghiburku. Tapi aku bisa tahu, dia benar-benar ingin menghiburku.

"Hei.., apa kau selalu memeluk orang setiap orang itu menangis?" tanyaku mencairkan suasana.

"Hahaha... gak kok. Aku hanya memeluk orang yang paling ku sayang." Katanya sambil mengusap kepalaku. Tentu saja aku jadi tersipu mendengar kalimat Renji itu. Nyaman, rasanya nyaman sekali berada dalam pelukan Renji. Sampai akhirnya, aku tertidur kelelahan dalam pelukannya.

BERSAMBUNG...


Hhhh…akhirnya selesai juga dech chapter yang ke dua, setelah tapa di gunung api. –d'gebukin para senpai-, konsultasi ama ki joko bodho – di lempar sapu ama kyai-

Mohon ripiew nya dari para senpai yang cuantik..cuantik n cuakep..cuakep…-d'karungin-

Maap kalo tachi banyak salah dalam menulis fict ini hiks..hiks ( para senpai gak usah ikut nangis ya..)