Bismillah…

Disclaimer Masashi Kisimoto-sama

Thanks to review-ers UchiHaruno Sya-chan, aidaverdyky, hanazono yuri, echaNM, diniavivah23, Lady Bloodie

Juka byk typo yg tidak diinginkan…

Mohon diabaikan…

karena

Cara ngetik saya masih labil

Sakura's POV

Aku duduk berdua dengan Gaara dibawah pohon yang namanya sama sepertiku, Sakura.

Menenangkan sekali saat seperti ini. Sudah 2 bulan ini aku menjadi pacar Gaara. Kami saling mengenal sejak awal masuk Konoha high scool ini. Awalnya di kelas 1 kami sekelas, kemudian setelah itu kami tidak pernah sekelas lagi. Tapi komunikasi yang sering, bahkan setiap hari itu membuat hubungan kami dekat. Sampai saat setelah ujian kenaikan kelas ke kelas 3, Gaara mengungkapkan perasaannya padaku dan aku mengiyakan. Seluruh isi sekolah tau kabar hubungan kami karena tentu saja, Gaara adalah cowok yang paling populer di sekolah, yah walaupun sebelum ada Uchiha itu.

"Sakura.."panggil Gaara membuyarkan lamunanku tentang masa-masa lalu bersama dengannya.

"Ya. Gaara kun?"aku tersenyum tipis.

Lalu Gaara membelai rambut panjangku, sedikit menariknya, lalu mencium ujung rambutku.

"Rambutmu harum sekali Sakura" Gaara menatapku tajam sambil tetap mengendus ujung rambutku.

Aku sedikit, ah tidak. Aku terlalu gugup. Aku tau hari ini akan datang. Aku masih belum siap.

"Ah. Aku lupa. Aku belum mengerjakan PR sastra ku" aku segera berdiri meninggalkannya.

"Sakura…" panggilnya yang sekarang terdengar kejauhan.

Baka! Selalu seperti ini.

'Ingat kau itu gadis paling beruntung bisa berpacaran dengan Gaara. Mengingat banyaknya saingan yang telah kau kalahkan' jeritku dalam hati, memarahi diriku sendiri.

Tidak. Tadi itu rasanya aku tidak berani melakukannya. Ada apa denganku? Disaat semua pasangan menginginkan ini, ciuman. Bahkan sekalipun aku belum merasakannya.

Aku berlari ke atap gedung sekolah. Lalu bersembuyi di balik pintu masuk atap.

"Fiuuuh" aku menghela nafas "Tadi itu hampir saja"

"Hampir apanya?" Tanya suara yang jelas aku kenal. Uchiha Sasuke. Kenapa dia ada disini?

"Aa…kau disini rupanya. Haha" tawaku sedikit miris ketika ketahuan bersembunyi seperti ini.

"Jadi kau sudah sukses berciuman?" tanyanya langsung menjurus. Dadaku sedikit sesak mendengarnya

"Bukan. Tidak" jawabku kacau. Sedikit malu menjawabnya. Apalagi itu dihadapannya. "aku.."

"Kau tidak menyukainya?"

"bukan. Aku hanya tidak siap" ucapku keceplosan.

Uchiha itu meringis. Seperti menertawakanku.

"untuk apa aku menjelaskannya padamu Sasuke. Lagipula kenapa kau ada disini?" tanyaku sedikit kesal gara2 senyuman dinginnya.

"Aku hanya…" Sasuke melihatku tajam "menikmati hari yang cerah" senyum tipisnya ia suguhkan. Semakin membuat wajah tampannya sempurna.

Deg.

"Aku akan kembali ke kelas" aku berbalik dan turun. Berjalan menuju kelas.

Apa-apaan tadi itu. Rasa yang aneh.

.

.

Sasuke's POV

Hari ini payah sekali. Motorku masih di bengkel untuk diservis, berangkat di antar Itachi-nii, tapi pulang tak dijemput. Aku menuju halte sekolah. Disana sudah terlihat Naruto dan Sakura.

"hai. Teme!" sapa Naruto dengan tampang baka nya.

"motormu kemana?" tanya Sakura terheran melihatku ikut menunggu bis.

"Masih di servis" jawabku datar.

" hahaha.. Kalau tidak begini kan kita tidak akan pulang bareng" celetuk Naruto sepertinya senang.

Memang sudah lama. Sejak kami masih kecil, kami sering pulang bersama, bertiga. Aku jadi sedikit rindu dengan kenangan itu.

"ah. Bis nya sudah datang" seru Sakura. Kami pun berdiri berjalan menuju bis itu.

Tiba-tiba Hinata datang berlari menghampiri Naruto. Mereka bicara sebentar kemudian dengan aba-aba "Sasuke, Sakura! Kalian pulang duluan saja. Aku mau menemani hime ke toko buku"

Aku sedikit terkejut dengan pernyataannya. Itu berarti hanya kami berdua, aku dan Sakura.

Saat bis hampir melaju lagi karena sedikit lama menunggu kami, aku menarik tangan Sakura agak ikut naik dan tidak ketinggalan bis. Bis pun akhirnya melaju.

Ck, sial. Mana sesak begini. Tidak ada tempat duduk.

"Sasuke..maaf" kata Sakura saat kami berhimpit, ada yang mendorongnya sehingga mau tidak mau aku harus menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Aku mendekapnya. Seperti tidak ada jarak.

Kalau tau sesak sekali penumpangnya, mana mau aku naik bis ini. Tapi, melihat Sakura yang setengah memejamkan mata ketika kepalanya bersandar tepat di dadaku. Rasanya ada sesuatu. Apa dia mencoba mendengar degub jantungku?

Semakin aku memikirkan apa yang sedang dia rasakan, rasanya jantungku berpacu cepat. Semoga yang aku bayangkan tidak benar.

Kami berhenti di pemberhentian bis dekat rumah kami. Kami pun turun dari bis. Kalau jarak ini ke rumah kira2 harus berjalan sekitar 10menit.

Tak ada yang kami bicarakan. Aku rasa suasananya jadi semakin canggung.

Melihat taman bermain, Sakura menghentikan langkahnya. Akupun demikian. Memandang tempat itu seperti kami kembali ke masa anak-anak dulu.

"Sasuke.." panggilnya tanpa menolehku, masih menatap lekat tempat itu.

"Hn" jawabku singkat.

"Apa yang pernah terjadi disini?"

Aku berfikir sebentar. Apa yang terjadi? Apa maksudnya? "tentu saja kita sering bermain disini"

"Bukan. Bukan itu maksudku" serunya. Lalu berbalik menatapku "apa aku pernah punya kenangan buruk disini? Aku rasa, setiap melihat tempat ini, hatiku rasanya sakit"

Aku terenyak mendapatkan kalimatnya. "aku tidak tau"

Sakura menghela nafas. "sudahlah. Buat apa diingat" Sakura melanjutkan berjalan.

Beberapa detik kemudian aku menyusul langkahnya "kenapa tidak ingin mengingatnya?"

"Sebenarnya ingin, tapi setiap aku berusaha mengingatnya. Kepalaku akan sakit. Jadi aku putuskan untuk benar-benar melupakannya" jelasnya "lagipula waktu itu mungkin aku masih anak-anak, jadi kenangannya mungkin tidak terlalu penting"

Aku mengingat kembali apa yang sudah pernah aku lakukan pada Sakura sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan kota ini, saat itu aku merasa sangat jahat padanya dengan mengatakan dia menyebalkan dan aku tidak ingin menemuinya lagi.

"Sakura. Aku ingin menceritakan sesuatu yang hanya kau dan aku yang tau" kataku, membuat langkah kami terhenti lagi.

"Apa itu?"

"itu…."

"Sakura!" panggil cowok berambut merah dengan tampang baby face nya. Mendekat berlari kearah kami.

Sakura menoleh kearah sumber suara itu "Sasori-nii"

"kau lama sekali sih, kau lupa kita harus mengantar bubur untuk nenek?"

"Ah. Iya kakak." Jawab Sakura tertegun "aku lupa." Kemudian melihat kearaku lagi "aku duluan ya Sasuke" mereka berdua berlari mengejar waktu.

Nyaris saja. Aku hampir membuatnya terluka lagi kalau aku mengatakan yang sebenarnya.

.

.

Sakura's POV

Kejadian kemarin, rasanya aneh. Saat aku mendengar degub jantungnya. Seolah menyimpan sesuatu. Apa yang tidak aku ketahui tentangnya, Sasuke Uchiha.

"ibu aku berangkat" salamku sambil berlari keluar rumah.

Aku melihat Sasori nii sedang mengelus motornya.

"Sasori-nii! Antarkan aku yah yah yah" mataku berkedip genit pada kakaku.

Sasori menghela nafas "Tidak bisa. Kakak masih mau membersihkannya. Kalau mau menunggu ya tidak apa"

"Haa? Itu artinya sama saja aku terlambat" rengekku memelas,"aku traktir nanti deh. Kumohon kakak"

"kau ini!" Sasori nii menoleh ke sebrang jalan "ah kebetulan. Sasuke!" teriaknya.

Aku menoleh juga ke arahnya. Sasuke menghentikan motornya di depan kami.

"kebetulan Sasuke. Bawa Sakura juga ya" kata aniki baka ku.

Aaa…kenapa harus dia?

"cepat naik Sakura" perintah Sasuke. Mau tak mau aku harus ikut, daripada nanti terlambat.

"Helm nya?" tanyaku sambil naik motor sport nya.

"Tidak usah. Kita lewat jalan pintas" katanya langsung melajukan motornya melesat cepat. "Pegangan yang kuat"

Pegangan yang kuat itu artinya…. Aku harus memeluknya erat.

Kali ini, jantungku yang berdegub kencang. Bahkan sambil memejamkan mataku.

Dan tak terasa juga sudah sampai di halaman sekolah.

"Mau memelukku sampai kapan Sakura" kata Sasuke membuatku setengah malu. Aku langsung turun dari motornya.

"Aku masuk kelas dulu deh. Jaa nee" aku berlari meninggalkannya. Kalau berjalan dengan dia tentu saja nanti bisa heboh, apalagi sampai ketahuan Gaara.

Sampai dikelas pun...

"Heh jidat! Enak saja kau ini! Sudah numpang, seenaknya meninggalkan orang yang ngasi tumpangan" keluh Sasuke.

"Hehee maaf sasu, aku hanya tidak mau.." aku melirik ke arah lain.

"tidak mau ketahuan si rambut merah itu" celetuknya.

Tepat sekali.

"Ahaahaa" aku tertawa kecut didepannya.

Sasuke's POV

"Dobe! Aku titip jus tomat" kataku pada Naruto yang hendak pergi membeli makanan.

"Aa kenapa tidak kau saja sendiri yang beli" gerutu naruto sambil tetap bejalan.

Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkahnya yang dari dulu tak berubah.

Aku mengalihkan pandanganku lagi ke lapangan basket itu. Tiba-tiba seseorang sudah ada di sebelahku sambil menepuk pundakku.

"kau ya, Uchiha Sasuke" sapa Gaara dengan tatapan tajam matanya.

Onyxku juga tak mau kalah balas menatapnya lebih tajam.

"Hn. Angin apa yang membawamu kesini?" tanyaku langsung.

"kau to the point sekali ya" Gaara tersenyum sinis "ini tentang pacarku"

Pacarnya? Sakura si Jidat itu maksudnya?

"aku kesini hanya memperingatkanmu bahwa dia adalah pacarku! Sakura Haruno. Tidak peduli kau teman masa kecilnya atau apa"

"apa maksudmu?"

" jangan berpura2 bodoh! Aku juga lihat yang tadi pagi itu, jelas itu kau dan Sakura"

Aku tersenyum sinis, benar saja, dia seperti menantangku "kalau memang Sakura, coba saja siapa yang benar-benar bisa merebut hatinya" tantangku sekalian.

"Kau..." Gaara geram mendengar kalimatku "tentu saja, aku kan pacarnya"

"Kalau kau tidak ragu, tidak mungkin kau ada dihadapanku sekarang" tambahku lagi.

Gaara semakin geram, "cih lihat saja nanti"

Dia berlalu dari hadapanku. Yang benar saja, dia cemburu?padaku?

Aku jadi ingin benar-benar berkencan dengaan Sakura. Awas kau Gaara!

.

.

Sakura's POV

Akhir2 ini hubunganku dengan Gaara-kun semakin memburuk. Apa gara2 aku yang kurang peka? Aku tidak konsen memikirkan semua ini. Sebenarnya aku ingin curhat. Tapi aku tidak tau kepada siapa. Naruto sangat urakan takutnya keceplosan, ino si mulut ember jelas tidak mungkin, hinata terlalu pendiam nanti malah Cuma dngerin dan gag ngasi saran. Sasuke.. Dia tidak akan membantu. Huft….

"kau komat kamit sendiri jidat, berisik!" Sasuke dengan tampang stoic nya, kepalanya tertidur diatas meja memandangku tajam.

Aku meliriknya sedikit sambil mengerucutkan bibirku.

"Hei. Jidat!" Panggilnya lagi.

Kali ini aku balas melihatnya. Menyandarkan kepalaku juga di atas meja. Bertatapan dengan onyx yang tajam itu. Lumayan dekat. Kami saling berpandangan. Dilihat dari ekspresinya sekarang, rasanya dia sedikit kaget dengan kelakuanku. Memangnya dia akan tergoda? Dia kan tidak respek sekali sama cewek. Aku masih belum mengerti arti tatapannya selama ini., apa dia menaruh dendam padaku ?

"Sasuke" panggilku balik sedikit lirih.

"Hn"

"Dulu aku gadis yang seperti apa?"

Sasuke benar-benar melihatku tajam, menerawang bola mataku, aku semakin tidak mengerti yang dilakukannya.

"Kau gadis yang tomboy, cerewet, maunya menang sendiri" jawabnya datar.

"lalu,kenapa kau mau berteman denganku?"

Sasuke diam sesaat, memejamkan matanya sebentar, lalu membukanya lagi. Tangannya mengarah ke wajahku, dan menyentuh pipiku "karena kau gadis yang sangat baik, Sakura"

Deg. Deg. Deg… Tiba-tiba saja degub jantungku seperti meronta. Wajahku memerah seketika.

"Woi! Teme! Sakura! Kalian jangan pacaran dikelas. Aku dan hinata saja jaga sikap walaupun kami pacaran" suara Naruto mengagetkan kami.

Aku langsung mengangkat wajahku dari meja.

"kau semakin berisik Dobe!" Sasuke membalikkan wajahnya menghadap tembok tetap tertidur di meja.

"Si.. Siapa yang pacaran,huh" jawabku kesal.

"hahahaha.. Aku hanya bercanda"tawa naruto pecah "tapi aku lebih suka bila kau pacaran dengan Sasuke, ketimbang si merah Gaara itu"

"Narutoo…"

"Hihihihi"

Apa-apaan sih naruto membuatku semakin merona. Tapi Kenapa aku jadi merasa senang.

Ini benar-benar aneh.

.TBC

Speechless