[machine command running… Define 'player'…]

[Player / noun; players. Verb; play—plays.]

[1. A player is someone who takes part in a game or sport; a football player. 2. A player is also a performer on a musical instrument; a piano player. 3. A player is also an actor or actress.]

[Player adalah seorang 'pemain'. Adalah sebuah 'alat 'dari kesadaran seseorang yang aktif memainkannya. Terpengaruh terhadap berbagai macam keadaan tanpa menyebabkan kerusakan bagi orang yang menggunakan. Hanya akan mengurangi Life Points. Kerusakan yang di alami seorang player bisa di hilangkan dengan banyak cara.

Seorang player tidak memiliki kekuasaan atau kewenangan untuk merubah atau mengganti alur perintah dan jalan suatu program. Player di ciptakan untuk berjalan sesuai dengan arus program. Tak ada player yang bisa melawan program. Karena player adalah pion dari sebuah program, agar program bisa berjalan sesuai dengan tujuannya.]


Disclaimer: When the world is in its end, Narutowill be mine…

Warning: Boys Love, soon-to-be Yaoi, crack (I guess), OOC-ness (if there aren't any of it, this story won't be a fan fiction), the using of weird-devices, self-insert, etc.

A/N: Ahh! Thanks for the lovely review! Nami loves ya all! Jawaban dari review ada di bagian paling bawah… moga-moga chapter ini ga mengecewakan~ ENJOY the DISH! XDD

For everyone that so precious to me; "my Heartbreaker", my-dear-foolish-little-sister, and Lavender Hime-chan

/dream/

'thinking'

"dialogue"

[machine command]


T H E H I D D E N V I L L A G E S chapter II

Can you hear me? Are you near me? Can we pretend to live again and meet again when both our cars collide? (Helena-My Chemical Romance)

Kaki-kaki langsing yang terlihat bagus karena banyak latihan mengayuh sepeda dengan semangat. Sama seperti Matahari yang tak pernah lelah menyinari bumi, senyuman lebarnya tetap bisa membuat orang merasakan hangatnya hari. Wajah oval dengan kulit yang terlihat seperti madu menoleh ke kanan dan kirinya seraya dua buah indra penglihatannya mengedarkan pandangan ke tempat-tempat yang familiar. Dia masih bisa melihat paman pemilik toko komik langganannya yang sedang membuka toko.

Tinggal di Jepang tak akan lebih baik dari ini. Itulah yang ada dalam pikirannya. Ia memiliki sebuah keluarga yang sangat ia sayangi dan menyayanginya. Ia punya banyak teman yang selalu ada di sampingnya. Dan ia juga punya notebook yang selalu menemaninya. Pemuda bermarga Namikaze ini memberhentikan sepedanya di depan sebuah toko buku.

"Jiji! Ohayou!"

Seorang pria paruh baya memunculkan kepalanya di balik sebuah pintu dengan garpu yang menggantung di bibirnya. Sejenak dia melihat dan kembali ke dalam ruangan. Naruto bisa mendengar si paman mengucapkan sumpah serapah. Mungkin cup Ramen-nya tumpah atau apa. Naruto hanya tertawa kecil saat dia bisa menebak apa yang sedang terjadi. Lagipula Shin'ichiro-san dan Naruto punya kesamaan dalam hal ketagihan-makan-Ramen.

Yang bersangkutan keluar dengan tampangnya yang seperti biasa. Meski Shin'ichiro menyeramkan sebenarnya dia paman yang baik, "oh, ada apa?"

Suara berat si ayah single itu terdengar datar di telinga Naruto. Wajah yang di buat oleh Shin-jiji sebenarnya bisa membuat seorang anak kecil menangis mencari-cari ibunya. Shin'ichiro Kusunoki memiliki mata sipit, wajah yang sedikit 'kotak' dan perangai yang orang bisa bilang 'sangar'. Naruto hanya tertawa kecil sekali lagi melihat ekspresi yang menurutnya lucu, "Jiji-san tidak boleh berwajah begitu. Nanti anak-anak kecil bisa menangis."

Shin hanya mengangkat bahu, "lagipula bukan aku yang menangis saat pertama kali membeli komik di sini dan tanpa pemberitahuan orang tua, kalau aku tidak salah ingat."

"Hey! Lagipula, siapa suruh punya wajah begitu! Tidak heran menurun pada Nami-nee."

"Hmm… Ada apa pagi-pagi begini?"

"Aku mau menanyakan komik terbaru! Ada yang bisa kau rekomendasikan?"

"Stok belum ada. Datanglah lagi besok, mungkin sudah akan datang."

Naruto menyunggingkan senyuman Rubah-nya yang terkenal, "okay! Bai-bai Jiji-san!"

Mata coklat gelap sang paman tertutup membentuk 'n' saat melihat bocah Matahari itu pergi. Yah, dia tahu, meski anak konglomerat itu punya banyak uang tapi dia tetap tidak berubah. Mungkin tidak akan pernah berubah. Senyumnya selalu bisa membawa orang lain bahagia.

Pemuda Rubah itu kembali mengayuh sepedanya melewati jalan menuju ke sekolah. Sebenarnya dia sudah di tawari untuk di antarkan dengan mobil oleh Kaa-san-nya. Hanya saja dia menolak. Naruto tahu, Kaa-san sangat menyayanginya. Terkadang dia berharap mempunyai seorang adik atau kakak untuk berbagi kasih sayang itu. Sayangnya dia adalah anak tunggal di keluarganya.

Naruto memberi salam ke beberapa penjaga toko di sepanjang jalan yang ia kenal. Cowok kelahiran sepuluh oktober ini suka sekali melihat pemandangan indah dan merasakan udara segar dari alam. Tapi, hal itu tak akan kau temui jika kau tinggal di Tokyo. Karenanya, ia memilih bersepeda ke sekolah, alih-alih melihat jalan dan toko-toko. Setidaknya dia bisa merasakan angin yang berhembus di wajahnya. Naruto tidak segan-segan memutar jauh hanya untuk mengambil rute yang melewati taman kota.

Gerbang besi yang megah terlihat di ujung sana. Dia bisa melihat gedung putih yang tertata seperti kotak-kotak kardus. Rapi memang, namun Naruto tidak bisa tahan untuk tidak memisalkannya dengan kardus. Mungkin karena imajinasi-nya yang terlewat 'gila', begitu kata , jika bukan karena imajinasi-nya, ia bukanlah Namikaze Naruto!

line break-don't bother to look at me, I ama death eaters who ready to kill you-line break

Wajah lelaki tujuh belas tahun itu mengerut. Merasakan sesuatu yang basah dan hangat mengelapi wajahnya. Perlahan sepasang mata berwarna gelap terbuka dari kelopaknya. Membuat gambaran blur di antara hitam dan putih. Setelah beberapa detik mendapatkan kembali fokus matanya, Sasuke melihat ketiga temannya, Mikoto, Itachi dan Tenshi melihat ke arahnya dengan tatapan khawatir. Err, pengecualian untuk dua yang terakhir; Itachi tetap memakai 'topeng' stoic Uchiha, hanya saja sorot mata berwarna ebony itu terlihat khawatir, dan Tenshi? Well, dia hanya anjing jika kau bisa melihat dari sepasang telinga dan ekor berbulu gelap yang bergerak kesana-kemari itu.

"Sasuke-kun—"

"Boss, kau tidak apa-apa?", potong Suigetsu.

Mikoto menghela nafas lega melihat anak keduanya siuman. Dia meraih kening putranya seraya berkata, "lebih baik kalian pulang dulu, besok Sasuke akan menjelaskan sesuatu."

Mikoto memberi isyarat pada Sasuke. Dan ketiga temannya hanya bisa mengangguk dan segera pulang. Mikoto menuntun Tenshi keluar dari kamar dan berkata akan segera kembali. Itachi hanya diam berdiri di sisi ruangan yang berjendela. Matanya yang nyaris identik dengan Sasuke menyorot jalanan kecil di antara rumah mereka dengan rumah pembuat roti di sebelah.

Sasuke tahu, hal yang telah terjadi beberapa menit yang lalu tidaklah bagus. Dia sangat tahu, bahwa hal seperti ini akan terjadi. Hanya saja, dia selalu berkata pada manajer muda Akatsuki Technology di seberang kamarnya saat ini, dia akan baik-baik saja. Dia bahkan sembunyi-sembunyi dari Itachi saat dia 'bermain'. Meski begitu, dia yakin dia tidak akan tidak terdeteksi. Lagipula, Itachi-lah yang mengajarinya semua teknik dan strategi yang ia kuasai sekarang. Entah itu hack, 'berperang', atau bela diri.

"Sasuke, aku sudah bilang berhentilah 'bermain'. Itu berbahaya", ujar sang anak sulung.

Suara rendah baritone Itachi yang memang terdengar lebih bijak hanya membuat Sasuke marah. Sasuke paham benar; meski di mata orang tua mereka Itachi, Sasuke dan Yukiko adalah sama tapi, dia selalu merasa tidak akan pernah lepas dari bayang-bayang kakak sulungnya. Di sekolah, di tetangga-tetangga mereka, bahkan teman-teman kerja Itachi mengenalnya. Ya, karena dia adalah adik dari Uchiha Itachi atau lebih di kenal dengan Ian Hemlock(1).

"Sasuke—"

"What! Bisakah kau diam? Aku tahu Aniki tidak suka aku bermain THV. Aku selalu bertanya 'kenapa' tapi kau tidak pernah menjawab! Kau selalu mendesakku!"

Itachi mendesis saat mendengar adiknya berbicara seperti itu, "adik bodoh, dengarkan aku. Kau masih belum tahu betapa berbahaya-nya permainan itu! Jadi, sebelum terlambat dengarkan nasihatku dan berhenti!"

"APA! Memangnya apa yang berbahaya, Itachi? Beritahu aku!"

"…"

"Ha! Kau bahkan tidak bisa menjawab. Jadi diam sajalah! Permainan macam ini bahkan tak akan bisa membunuh seseorang—"

BUAK

Mata gelap Sasuke melebar beberapa milimeter saat ia menyadari apa yang di lakukan Itachi padanya. Kakaknya memukulnya tepat di wajahnya! Kakak yang pernah ia kagumi, kakak yang di matanya selalu sempurna memukulnya—

"KAU TIDAK TAHU APA-APA, FOOLISH LITTLE BROTHER. DAN JANGAN PERNAH KATAKAN ITU LAGI DI HADAPANKU!"

Sasuke berdiri mematung di tempat dia di pukul. Meski dia bisa merasakan denyut perih di pipi bagian kanan setelah kakaknya memukul, dia tidak bisa bereaksi. Apa dia sudah membuka 'sesuatu' yang pahit di masa lalu Itachi? Apa karena dia tidak menuruti kata-kata Itachi?

Tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa bergerak. Tak ada kata-kata yang bisa ia katakan pada Itachi yang mulai melangkah pergi dari kamarnya. Sesaat dia bisa melihat tatapan Itachi saat dia mulai beranjak pergi; dingin, tak berekspresi, dan serasa tidak ada kehidupan di sana. Bukan, itu bukan Itachi yang ia kenal. Sepertinya kali ini dia benar-benar membuat saudara favoritnya marah.

Mikoto berjalan perlahan menuju kamar Sasuke saat ia melihat Itachi keluar dari kamar adiknya. Mikoto tidak tuli. Dia mendengar semua ucapan Itachi dan Sasuke. Dia tidak bisa tidak merasa sedih. Dia hanya bisa merasakan lubang hati yang terasa sakit mengingat apa yang di katakan Sasuke di kalimat terakhir sebelum ia di pukul. Tapi, bagaimanapun itu bukan salahnya.

"Itachi."

"…", Itachi berhenti di ujung anak tangga dan tidak membalik badan.

"Aku mohon, minta maaflah pada Sasuke besok. Dia tidak tahu apa-apa. Dan Kaa-san tahu, kau terlalu sakit hati untuk menceritakan 'alasan'mu."

"Hn", dengan itu Itachi menghilang dari balik tembok.

Sebagai ibu, Mikoto tidak bisa membiarkan salah satu dari anaknya menderita atau merasa sedih. Ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Sasuke. Melihat putra kedua yang ia sayangi berdiri di sana. Sepertinya ia sama sekali tidak bergerak dari situ setelah kejadian tadi. Pipi kanannya yang pucat terlihat merah. Mikoto yakin itu akan berubah menjadi biru kehitaman esok hari.

"Sasuke, minum airnya dulu."

Tampaknya Sasuke tersadar dari lamunannya dan menerima segelas air putih dari ibunya. Sasuke hanya bisa diam dan duduk di tepi tempat tidurnya. Mikoto juga duduk di samping putranya. Dia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja. Dia hanya berharap kejadian yang seperti dahulu tidak terulang dan firasat buruk yang ia takutkan untuk segera pergi.

"Sasuke, Kaa-san ingin mengatakan sesuatu padamu."

Sasuke hanya diam dan tidak bereaksi apapun. Mikoto menganggap Sasuke akan mendengar apa yang akan ia katakan, "Aku harap kau mau minta maaf pada Aniki-mu. Kau tidak tahu bahwa yang kau katakan itu membawa memori buruk padanya. Memori yang susah payah ia kubur—"

"Kaa-san—"

"Dengar Sasuke, Kaa-san tidak melarangmu bermain dengan alat-alat itu. Kaa-san hanya mau kau bermain sesedikit mungkin. Kaa-san khawatir padamu. Itachi khawatir padamu. Apa kau tahu betapa takutnya Kaa-san saat Karin berlari ke bawah dengan pucat dan berkata bahwa kau tak sadarkan diri setelah bermain itu? Kau pingsan cukup lama Sasuke. Apa kau tahu betapa berbahayanya itu?"

Sasuke hanya diam melihat ibunya berkata seperti itu. Sejujurnya ia tak tega melihat Kaa-san-nya khawatir apalagi bersedih gara-gara dia. Tapi dia butuh alasan kuat kenapa dia harus berhenti sementara Itachi bekerja di dalam dunia maya itu sendiri tanpa ada larangan?

"Apa aku tidak cukup pandai Kaa-san? Apa kau mau aku harus seperti Itachi agar kau dan Aniki mau memperlakukanku sebebas yang aku inginkan?"

Mikoto menghela nafas, "tidak, bukan itu Sasuke."

"Lalu apa? Apa Kaa-san pikir aku hanya akan diam saja? Aku butuh alasan yang jelas."

"Tidurlah Sasuke. Kau membutuhkan itu saat ini."

Mikoto beranjak pergi dengan gelas air yang setengah kosong di tangannya, "dan jika kau ingin tahu kau bisa tanyakan alasannya pada Itachi. Bukan tempat Kaa-san untuk menceritakan hal ini Sasuke. Oyasumi nasai…"

Sasuke diam seribu bahasa. Ia tak tahu harus melakukan apa. Pikiran kosongnya terpecah saat Tenshi menjilati wajahnya. Anjing berumur dua tahun itu melihat ke arahnya dengan sepasang mata yang juga nyaris sama gelapnya dengan milik Sasuke. Pemuda pandai ini membawa kedua kakinya ke atas kasur. Menyelimutkan tubuhnya dari dunia luar bersama dengan Tenshi yang menggulungkan badannya di bagian ujung kasur yang berwarna navy-blue.

"Hey, Tenshi, seandainya aku pergi dari dunia ini, apa mereka akan merindukanku?"

Tenshi memandang pemiliknya dengan tatapan bingung. Mungkin dia memang tidak mengerti apa yang di katakana masternya tapi, sepertinya hal itu adalah sesuatu yang buruk. Dan dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi dengan masternya. Tenshi memiringkan kepalanya sebelum memberi satu jilatan basah ke wajah Sasuke.

Suara yang di buat anjing kesayangannya tampaknya membuat Sasuke sedikit tenang. Setidaknya dia tahu, Tenshi tak akan senang dia pergi. Mungkin Imouto-nya juga akan merindukannya sedikit. Dia tidak terlalu yakin dengan ayahnya. Fugaku tidak terlalu sering menunjukkan bahwa dia memang sayang terhadap anak-anaknya.

Sasuke melihat ke sekeliling kamarnya. Rasa kantuk belum menghantuinya. Ia melihat meja belajar yang penuh dengan buku. Notebook miliknya yang masih tergeletak dengan modem terpasang. The Hidden Villages…

Dia kembali memikirkan apa yang terjadi sebelum ia kembali sadar. Sesuatu yang hangat dan bau yang segar. Seperti hutan di musim semi. Apa itu hanya bayangannya saja? Apa itu hanya lamunannya? Karena tidak mungkin dia bisa merasakan kehangatan atau bau sesuatu selama online di dalam THV. Apa hal itu berhubungan dengan guncangan di dalam Dungeon? Sasuke tak bisa menjawab itu. Ia akan membahasnya dengan Suigetsu atau Juugo besok.

Matanya kini terasa berat. Sepertinya rasa kantuk sudah menemukan jalannya ke dalam sistem syaraf Sasuke. Ia melihat ke arah anjingnya sekali lagi sebelum masuk ke dalam kegelapannya sendiri.

line break-Point of View; Itachi; on-line break

/Sepasang mata gelap itu melebar saat mengetahui apa yang salah. Apa yang tidak seharusnya terjadi. Suara yang memang sudah jarang ku dengar tanpa teriakan yang biasa ia luncurkan padaku melayangkan sebaris dialog yang menurutku tak ingin aku dengar.

"Ti-tidak kau harus pergi, Uchiha… Jangan kemari, kau-kau tidak boleh di sini—"

"Jangan panggil aku 'Uchiha'. Dan, aku tidak akan pergi tanpa membawamu, bodoh", potongku.

Kepalanya kembali menoleh dengan cepatnya. Matanya berkilat marah, "kubilang pergi! Idiot!"

Aku melihatnya mengetikkan sesuatu di 'selembar' screen tembus pandang yang muncul di hadapannya. Aku berjalan cepat, berharap bisa meraih tangannya dan pergi dari sini. Aku tahu, seharusnya aku tidak ke sini sendiri. Aku tahu, seharusnya akulah yang menyelesaikan kesalahan ini, bukan dia. Tapi, belum sampai aku meraihnya, pandangan yang ada di hadapanku mulai berubah menjadi garis-garis putih dan abu-abu. Aku bisa melihat barisan angka dan alphabet berwarna hijau transparan yang mencoba membuatku tersadar dari dalam device.

"Kau—apa yang kau lakukan!", kataku.

"Maafkan aku."/

Aku terbangun dari mimpi buruk yang sudah aku usahakan untuk aku lupakan. Aku tidak tahu kenapa kejadian itu kembali berputar dalam pikiranku. Apakah ini tandanya aku harus benar-benar menjauhkan siapapun dari permainan itu?

Aku sudah tidak mau kehilangan siapapun lagi. Tidak dengan cara yang sama dengan yang di alaminya. Aku—aku ingin mencarinya. Kakashi bilang aku masih bisa mencarinya saat itu. Tapi, aku tidak melakukannya. Aku bodoh. Aku yakin bisa mencari jejaknya saat ini. Tapi, aku tidak yakin dia akan senang melihatku. Lagipula pertemuan pertamaku dengan si manusia crossdressing itu saja sudah tidak baik. Apalagi sekarang?

Memori itu menyakitkan. Memori saat aku masih remaja bodoh berumur 16 tahun. Aku tidak mau menceritakan itu pada Sasuke. Tapi, Sasuke harus tahu akan hal itu. Aku juga harus meminta maaf padanya karena memukulnya tadi malam. Aku menghela nafas seraya membaca jam yang duduk dengan manis di atas meja dekat tempat tidurku. Jam digital itu menunjukkan pukul 02:47 A.M.

Masih pagi sekali. Aku tidak bisa tidur setelah mimpi itu. Mata gelapku terbuka lebar tanpa merasakan berat atau apapun. Aku beranjak dari tempat tidur dan duduk di meja tempatku biasa mengerjakan sasuatu. Kamar ini sudah semakin kecil saja. Aku tahu aku seharusnya sudah bisa membeli rumahku sendiri atau menyewa apartemen. Lagipula gajiku sudah lebih dari cukup. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Siapa yang akan mengontrol adik laki-laki-ku yang bodoh dan gegabah itu kalau bukan aku?

Aku membuka laptop berwarna putih milikku. Modem yang memang aku biarkan terpasang aku switch on. Aku membuka browser dan mencari-cari informasi tentang sesuatu.

Sudah tiga tahun sejak kepindahanku dari Jepang. Tiga tahun sejak aku lulus dari beasiswa itu. Tiga tahun sudah sejak kali terakhir aku berurusan dengan The Hidden Villages. Sekarang aku adalah salah satu manajer di Akatsuki Technology. Perusahaan yang juga bergerak bersama Konoha Inc.

Konoha. Aku penasaran dengan perusahaan itu. Apakah perusahaan itu masih seperti dulu atau malah mengalami masalah yang lebih besar. Aku harap kakek tidak melakukan sesuatu yang bodoh lagi kali ini. Sistem Konoha Inc. cukup rumit untuk ukuran perusahaan. Tidak seperti Akatsuki Technology atau Sharingan Company. Hn, setidaknya aku tidak perlu bekerja di Sharingan, di bawah kakek Madara. Bukannya aku membencinya, lagipula sudah insting seorang Uchiha untuk mendapatkan apapun yang mereka inginkan. Hanya saja, cara yang di pakai kakek itulah yang aku tidak suka.

Aku membuka laci dan melihat cyber glasses dan headphone tergeletak di dalamnya. Apa aku masih bisa menggunakan itu? Sudah tiga tahun aku meletakkannya di sana. Aku sudah bersumpah tak akan menggunakannya lagi saat kejadian menyakitkan itu terjadi. Tapi, aku…

Aku meraih dua device itu dan memasangnya. Membuat set up baru dan mencoba melihat apakah masih bisa di gunakan. Saat aku melihat kata-kata 'connect' segera aku lakukan beberapa prosedur lain. Hanya beberapa menit saat aku mengakses browser dan melihat tampilan halaman awal The Hidden Villages beserta musik pengiringnya bermain dalam headphone yang ku pasang.

[Username Enter…]

Aku mengetikkan Yeux_Rouge (2) dan memandang sejenak sebelum aku melihat kota dialog di bawahnya.

[Password Enter…]

Setelah mengetikkan password aku melihat bahwa banyak yang berubah dari THV terakhir kali aku melihatnya tiga tahun lalu. Aku bahkan tidak ingat ada gunung dengan ukiran patung wajah-wajah 'Hokage' di sana. Tidak ada Matahari di dalam permainan ini, yang kulihat adalah Bulan dengan semua keindahannya melayang-layang di atas langit virtual.

Suasana di malam hari-pun tidak ada bedanya dengan siang hari—sepertinya. Aku melihat dua orang dengan pakaian hitam-hitam dan topeng binatang terpasang. Hn, yeah. Sepertinya Konoha Inc. benar-benar berubah sekarang. Aku terus berjalan dan memutuskan untuk melihat-lihat sebentar sebelum memutuskan untuk 'kembali' nanti. Sesaat aku melihat ke atas langit itu. Langit malam yang di terangi bintang-bintang palsu. Hh, seandainya aku bisa mengulang waktu mungkin semua yang sudah terjadi pasti akan aku coba untuk perbaiki. Hey, apa kau bisa mendengarku?

Aku hanya ingin menggantikan tempatnya. Seharusnya aku yang terjebak di sini. Bukan kau.

line break-Point of View; Itachi; off-line break

Juugo melangkahkan kakinya di atas bumi. Tempat berpijak semua orang. Meski begitu, ia tak yakin ia akan menginjaknya lagi beberapa tahun ke depan. Sebenarnya yang Juugo inginkan adalah tak lebih dari kematian.

Setiap pagi dia terbangun dengan Matahari yang menatap kejam ke bumi. Hidupnya-lah yang kejam. Ia tinggal di panti asuhan dari kecil bersama dengan seseorang yang sangat ia sayangi.

Kimimaro.

Mata cokelatnya (3) menatap tanah di antara kakinya seraya dia berjalan. Dia tak tahu bagaimana keadaan pemuda berambut silver itu lagi semenjak dua tahun lalu. Ya, dua tahun lalu. Sebelum hari itu, mereka berdua masih tinggal dip anti asuhan. Pergi kemanapun selalu bersama. Entah itu sekolah, ke perpustakaan kota atau menyelinap di bagian komputer di dalam panti. Ia tahu, ia tidak terlalu pandai. Ia selalu mengagumi sahabatnya itu, karena Kimimaro benar-benar orang yang multi-talenta. Terkecuali badannya yang lemah dan berpenyakitan.

Keduanya menjadi sahabat, atau mungkin lebih dari itu. Keduanya juga tidak ada yang mau mengadopsi. Untuk Juugo mungkin karena tubuhnya yang 'berbeda' dengan kebanyakan anak dan untuk Kimimaro mungkin karena tubuhnya yang lemah.

Cowok besar ini benar-benar benci dengan orang-orang yang menilai orang lain hanya dari tampak fisik saja. Dia benci itu. Seolah-olah hanya orang-orang sempurna secara fisik saja yang diperlukan. Hal itu membuat dia dan Kimimaro seolah tak di perlukan. Seolah tidak layak untuk hidup. Karena itu, dia senang saat hari di mana seorang tuan berjas hitam itu datang dan menjeput Kimimaro. Sahabatnya berkata tuan Orochimaru akan menjadikannya seseorang yang penting dan semua orang akan mengenalnya. Bukan sebagai anak yang lemah, tapi karena apa yang ia lakukan.

Ya, Juugo senang. Setelah hari itu, dia selalu duduk sendiri hingga umurnya mendekati enam belas. Hari itu, adalah hari yang tak berbeda yang di penuhi dengan pekerjaan panti asuhan dan teriakan-teriakan anak kecil. Dia ingat dia hanya duduk di taman tak jauh dari 'rumah'. Saat itulah dia melihat Sasuke.

Bocah brengsek. Begitulah kesannya saat melihat pemuda berambut gelap itu. Mungkin karena kebenciannya terhadap orang-orang perfect seperti Sasuke yang membuatnya berpikir begitu. Tapi, setelah hari itu, mereka menjadi teman. Ya, teman. Sesuatu hal yang tak lagi ia punya setelah Kimimaro pergi. Sasuke membuat ayahnya mengadopsi Juugo. Juugo menganggap pemuda itu sebagai saudara setelah itu.

Dan di sinilah dia sekarang. Berjalan dari apartemen ke sekolah. Kini dia bisa berjalan bebas setelah kesepakatannya dengan keluarga Uchiha selesai. Dia akan di adopsi dan akan di perbolehkan hidup sendiri setelah tujuh belas tahun. Karena itu, ia bisa menyewa apartemen yang kini ia tempati. Ia bekerja setelah pulang sekolah.

Mata milik pemuda tinggi besar ini menangkap bayangan pintu gerbang sekolahnya. Ia menuju loker dan mengambil beberapa buku. Pikiran-pikiran tentang sahabatnya masih berputar-putar. Ia tahu, Kimimaro bekerja bersama dengan seseorang yang ia sebut 'Tuan Orochimaru'. Apa yang di maksud adalah Orochimaru yang ada hubungan darah dengan si Yakushi itu? Jika ya, ia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja. Ia tak mau melihat sahabatnya menderita.

Mata miliknya menangkap sosok yang familiar, "ohayou."

line break-don't bother to look at me, I am Malin who betrayed his own mother-line break

Sasuke membuka perlahan kedua matanya. Daya akomodasinya kembali secara perlahan. Hal pertama yang ia ingat adalah ia harus meminta maaf kepada Aniki-nya. Ia tahu hal itu adalah hal yang mungkin dan atau tidak mungkin ia lakukan. Kalian bingung? Karena Sasuke sendiri juga bingung.

Ia tak ingin meminta maaf karena ia tahu ia tidak bersalah. Tapi, di sisi lain ia ingin meminta maaf. Karena ia tahu ia sudah menyinggung sesuatu yang tidak seharusnya ia singgung. Mungkin di bagian 'mati'. Lagi, dia berpikir. Apa mungkin karena sesuatu hal yang berhubungan dengan kematian ini yang menyinggung Itachi? Karena sejauh yang ia tahu, kakak laki-lakinya itu pandai sekali menyembunyikan perasaan. Kaa-san pernah bilang, jika dia ingin menjadi seorang aktor, dia pasti akan menjadi pemain yang hebat. (4)

Sasuke beranjak pergi dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Dia sedang tidak ingin pergi sekolah hari ini. Tapi, dia tidak bisa menorehkan 'coretan' di atas prestasi sempurna Uchiha miliknya. Karena itulah dia segera mengusir rasa malas dan segera membuka t-shirt, celana hingga boxer miliknya.

Air hangat turun membasahi tubuh pucatnya dari shower. Lengan jenjang miliknya meraih sampo dan mengeluarkan sedikit isi cairan berwarna kebiruan. Aroma mint dari sampo itu memenuhi udara di dalam kamar mandi. Setelah selesai di bagian rambut, Sasuke mengambil sabun dan menggosokkannya dari tangan hingga ujung kaki.

Tak butuh waktu lama menyelesaikan mandi singkat di pagi hari. Kecuali kalian adalah spesies manusia tertentu yang masih bernyanyi atau melakukan hal-hal lain di dalam kamar mandi. Sasuke mengambil pasta gigi berikut dengan sikatnya. Setelah semuanya ia rasa selesai, cowok berambut gelap nan kelam ini melilitkan handuk di pinggangnya.

Secara fisik, bisa di bilang dia adalah Sex God yang berjalan di atas muka bumi. Hm? Bukti? Oke, bayangkan saja, kulit yang halus seperti alabaster, otot yang terlatih terlihat terekspos apalagi mengingat saat ini dia hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Air yang menetes dari tubuhnya belum sepenuhnya kering. Masih ada yang menetes basah dari rambutnya turun ke wajah dan dagu.

Oh, cukup. Kita lupa bahwa dia harus pergi. Sasuke memasangkan pakaian dan segera menuruni tangga untuk sarapan.

"Aniki, ohayou", ujar Yuki.

Sasuke mengangguk dan memberinya ucapan 'ohayou' sebelum meraih sandwich yang ada di atas meja. Mata onyx-nya melihat Mikoto datang membawa jus tomat, "ohayou Sasuke."

"Ohayou Kaa-san."

Mikoto memberikan gelas berisi sari tomat itu kepada Sasuke sebelum berkata, "Itachi berangkat lebih pagi hari ini. Cobalah meminta maaf padanya nanti malam."

Sasuke menatap ibu-nya sejenak sebelum mengangguk dan pergi berangkat sekolah. Ia memakai t-shirt polos berwarna biru gelap dan celana jeans. Jaket hitam kesayangannya ia masukkan ke dalam tas. Saat ia mulai beranjak Yuki mengikuti dari belakang.

"Aku ikut", ujarnya sambil membungkuk sebentar untuk memberi elusan 'selamat pagi' kepada Tenshi. Anjing jinak itu mengonggong dan menjilat pipi sang gadis seraya menggoyang-goyangkan ekornya.

Kedua remaja kakak-adik itu berjalan menuju sekolah. Mereka memutuskan untuk naik bus hari ini. selama perjalanan mereka-seperti biasa- mereka mendapatkan tatapan 'lapar' dan 'nafsu' dari makhluk adam dan hawa. Karena memang orang Jepang jarang ada di New York. Dan lagi, konon orang barat bilang bahwa orang-orang Asia memiliki suatu daya tarik eksotis tersendiri. Hm, sepertinya kata-kata itu ada benarnya juga.

Sasuke dan Yuki berpisah saat di halaman sekolah. Cowok berambut unik ini menuju lokernya untuk mengambil beberapa buku dan alat tulis. Notebook kesayangannya masih tetap di dalam tas dan tentunya-aman. Ia mengedarkan pandangannya sejenak ke sekeliling. Melihat remaja putri dan segelintir cowok melihat ke arahnya dengan pandangan yang Sasuke sendiri sama sekali tak suka. Kemudian mata onyx-nya mendapati Juugo berdiri menatap lokernya sendiri sebelum menoleh ke arah Sasuke.

"Ohayou."

Sasuke membalas dengan singkat seperti biasa. Juugo hanya mengangguk dan mulai menanyakan tentang kejadian di The Hidden Villages malam itu.

"Aku tidak tahu. Mungkin hanya kesalahan teknik, aku harap. Aku tidak ikut kelas Kalkulus hari ini. lagipula Asuma-Sensei tak akan peduli kalaupun aku tidak ada."

Cowok Berserker di hadapannya mengangguk, "baiklah. Semoga Karin tidak 'memburumu'."

"Hn."

line break-don't bother to look at me, I aman ugly little duck which has ugly face-line break

The Hidden Villages mendapati Matahari buatannya sedang merangkak naik. Memberi arti bahwa di mulai hari baru di dalam game virtual ini. Meski baru 'pagi hari' pengunjung di dalam game ini sudah banyak sekali.

Bunyi suara burung-burung berkicau menambah bersahabatnya gambaran yang tampak di dalamnya. Pohon-pohon menghijau dengan aliran sungai yang merefleksi sinar Mentari, memperoleh efek berkilau bagai berlian. Bias air terjun di sungai itu menampakkan tujuh macam warna. Sebuah gua kecil di dekatnya tengah di jaga seekor hewan besar. Bulunya berwarna merah oranye yang terlihat mencolok. Seolah mengejek lawan dan menyuruhnya untuk di serang. Hewan itu membuka mata merahnya saat ia mencium bau majikannya. Sepasang telinga tajam terfokus pada satu arah.

"Hey, majikan bodoh. Kenapa kau menyelamatkan manusia itu? Biarkan saja dia mati terjebak di sini. Dengan begitu kau akan punya teman bercinta."

Sang majikan menyorot tajam mata safir miliknya, "Kyuubi, kalau aku jadi kau, aku akan duduk manis dan diam."

"Cih."

Tangan berwarna karamel terjulur keluar dari dalam jubah biru gelap yang ia kenakan. Tangan itu mengelus bagian belakang telinga sang Rubah. Membuat hewan itu berusaha untuk tidak mengerang manja. Pemuda berjubah itu tertawa kecil, "kau hanya takut aku tidak akan memberi perhatian lagi padamu, iya kan?"

"Hn."

Pemuda itu menghela nafas, "kau jadi terdengar seperti Itachi-nii."

Sosok yang tak lewat dari 160 sentimeter itu berjalan ke dalam gua. Melihat sosok lain di dalamnya terbaring tak hidup. Ia tahu, bahwa sosok itu akan terbangun beberapa saat lagi. Seolah menjawab pertanyaannya sepasang mata onyx terbuka. Bagaikan robot, ia bangun dan duduk sebentar sebelum menoleh ke arah cowok lain di dalam gua.

"Kau siapa?"

Itulah yang pertama di katakana cowok berkulit alabaster padanya, "aku? Namaku Arashi. Salam kenal!"

Sang Avenger menatap tanpa ekspresi pada lelaki di hadapannya. Cowok berjubah di hadapannya tampak biasa. Tidak tampak seperti seseorang berlevel tinggi. Bahkan ia berani bilang ia tampak bodoh. Apalagi saat ia melihat senyum yang lebar itu. Tiga garis aneh di setiap pipi cowok itu membuat senyumannya tampak seperti Rubah.

"Hn. Dobe."

Mata cemerlang yang tadinya ramah berubah menjadi berkilat-kilat, "hey! Begitukah caramu berterima kasih pada orang yang sudah menyelamatkanmu?"

"Lagipula aku tidak butuh bantuanmu", Sasuke berdiri dan berjalan ke mulut gua. Ia membeku sejenak meski tetap tak berekspresi saat melihat Rubah merah seukuran mobil mini buatan Jepang dengan Sembilan ekor yang masing-masing tergeletak malas mengelilingi tubuhnya. Hewan itu melihat ke arahnya dengan mata merah dan sorotan tajam.

"Hah, dia hebat. Tidak berteriak atau ketakutan saat melihatku", ujar Rubah itu.

"…"

Sang Uchiha tetap diam di sana. Dia tidak membeku! Nope, no duh, no way in hell, and still no in a thousand years later. Meski ia melihat pet yang bisa bicara. Memang ia tak mempunyai pet. Sebagai seorang yang berlevel tinggi pet hanya akan membuatnya repot. Ia tidak suka itu. Tapi, ia tahu pet seperti apa yang umum di gunakan dan atau yang 'di jual' di dalam The Hidden Villages. Ia adalah jenius, damnit! Tapi, memangnya ada pet yang bisa bicara!

"Oh, tapi Kyuubi sepertinya kau berhasil membuatnya terkejut."

Avenger menoleh ke arah cowok berambut pirang di sampingnya, "aku? Terkejut? Hn. Tidak mungkin, dobe."

"Grr, teme!"

Rubah itu berdiri dan bagi sang Assassin terlihat makin besar, "hahaha, dia bahkan sudah memberimu petname, majikan bodoh."

"Kau juga Kyuubi! Diam, dasar Rubah tua!"

"Hey, hey, kau yang membuat aku berdiri di sini sekarang, ingat?"

Sepasang mata berwarna biru muda itu berputar sebelum menyadari bahwa sang player berambut hitam tadi sudah menghilang dari pandangannya. Arashi berjalan cepat, berharap menemukan player itu. Sudah lama ia tak berhubungan dengan siapapun selain Rubah berekor Sembilan dan seorang sahabat yang ia jarang temui. Ia berharap pemuda yang berpenampilan bagai 'malam' tadi bisa menjadi temannya.

Matanya melihat sosok yang di maksud berjalan santai menuju arah Konoha. Cepat-cepat ia menyusulnya, "hey, hey, tunggu!"

Player Assassin itu menoleh dan menghela nafas saat ia mendapati 'dobe' yang ia temui mengejarnya, "apa?"

"Kau belum berterima kasih padaku!"

"Hn."

Arashi bisa merasakan kedutan di dahinya menyeruak keluar. Ia yakin pembuluh darahnya akan terlihat persis seperti yang ada di dalam anime yang pernah ia lihat, "huh, setidaknya tidakkah kau mau mengetahui kenapa kau terbangun di gua itu, bukannya 'terbangun' di dalam Konoha seperti yang biasa kau lakukan?"

Sasuke berhenti sejenak mendengar itu, "memangnya kenapa?"

"Kau itu terjatuh ke dalam Pembuangan Data saat terjadi 'guncangan' saat itu. Aku terkejut kau tidak mati di dalamnya."

"Pembuangan Data?"

Pemuda di hadapannya mengangguk dan meneruskan, "ya, Pembuangan Data. Itu terjadi secara periodik di dalam game ini. Misalnya saat kau selesai mengalahkan suatu monster atau makhluk mereka masih terlihat tergeletak di sana sampai kau pergi. Mereka memang 'kalah' dan 'mati'. Mereka akan di buang ke dalam Pembuangan Data dan akan di regenerasi kembali membentuk monster atau makhluk yang sama untuk para player lain. Tapi, setelah 'guncangan' saat itu tidak hanya moster yang 'mati' yang di kirim ke Pembuangan Data tetapi juga beberapa 'file' lain."

"Maksudmu 'file' lain, seperti player?"

Arashi mengangguk, "ya. Aku khawatir akan hal itu. 'Guncangan' sering terjadi beberapa tahun terakhir karena dua program yang saling terbentur. Ketidak-sinkronan antara program itu membuat cara kerja The Hidden Villages terganggu. Hasilnya adalah yang kau rasakan saat itu. Dan seharusnya kau tidak selamat di dalam Pembuangan Data. Kau ini 'siapa'?"

Sasuke mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum memandang pemuda pirang berjubah di hadapannya. Seharusnya…

"Seharusnya aku yang bertanya, kau ini 'siapa'? Kau tahu terlalu banyak tetang suatu hal yang bahkan aku saja tak tahu. Aku sudah bermain di sini cukup lama. Aku adalah Professional Assassin. Dan kau pasti tahu untuk mencapai itu di butuhkan waktu yang cukup lama. Sekali lagi aku bertanya kau 'siapa'?"

Sang pemuda bermata bagai langit itu diam dan melihat ke arah sosok yang lebih tinggi darinya, "aku Arashi."

"Aku tidak tanya namamu, dobe."

"… A-aku harus pergi. Senang bertemu denganmu."

Avenger itu melihat Arashi pergi dengan cepat. 'Damn, pemuda berjubah itu memiliki agility yang besar. Occupation macam apa yang ia punya dengan kecepatan dan jubah, ah, Rubah itu juga', pikirnya.

Sasuke tak sempat mendapatkan informasi yang ia mau. Itu melanggar apa yang seharusnya di gariskan kepada seorang Uchiha. Seorang Uchiha akan mendapatkan apapun yang mereka inginkan. Dan dia akan mendapatkan entah informasi atau apapun yang ia inginkan. Hn, tentu saja dia akan menemukan pemuda itu lagi. Lagipula apa susahnya mencari pemuda player dengan rambut pirang, mata safir bagai langit, dan tiga pasang garis tipis di setiap pipinya?

Oh, poor Arashi… Ia tak tahu apa yang sudah ia lakukan. Ia malah menggali kuburnya sendiri dengan membuat seorang Uchiha penasaran.

.,:;T.B.C;:,.


(1) Hemlock; semacam nama kode untuk Itachi di dunia maya dan tempat kerjanya. Hemlock; di ambil dari nama tanaman beracun yang menyebabkan terhambatnya system syaraf. Klo nama 'Ian', Nami Cuma ngarang, kayanya cocok aja, gtu…

(2) yeux_rouge; ini diambil dri bhasa prancis. Yeux artinya mata, rouge artinya merah.

(3) mata cokelat; Nami ga tau warna mata-nya Juugo. Jadi, buat readers yg tau, kasi tau Nami…

(4) dia pasti akan menjadi pemain yg hebat; emang iya, kalo bukan karena acting-nya yg hebat, Itachi ga bakal bisa berbohong sejauh sampai kejadian dimana dia dibunuh Sasuke di seriesnya. Itachi pernah bilang "kau tidak tahu ilusi-ku Sasuke". Yap, ilusi yg dimaksud adl sandiwara besar dari dia membunuh klan-nya sampai dia mati dengan senyuman di tangan Sasuke.


Tsukishiro Ushagi: mirip hack/sign? emang kurang lebih YA! hehehe... Nami nge-fans banget ma tu anime! COOL! tnang aj, Naru-chan bkal lebih bnyak muncul kok~

Lavender Hime-chan: tingkat akut? Err-mungkin...? Udah apdet ni, HARUS bin WAJIB review!

Aozora17: arigatou *bow* udah mo review... Nami tunggu review berikutnya~ ^^

Qieya: Ahh, arigatou ne~ *bow*Nami mau review darimu lagi, donk...? ^^

Harucha hana: mmm, chapter ini sebenarnya lebih panjang dri sebelumnya, cuma, waktu mo nglanjutin ke 6ribu kata... err-tangan Nami udah ga mampu, hehehe ^^

NhiaChayang: Nhia jadi reviewer tetap Nami ya? Nami tersanjung lho... hiks-hiks, arigatou-domo arigatou~ *bow* fb Nhia namanya ap? Nami mau donk jadi sibling-mu...

Raika Carnelian: *blush* ahh, arigatou... hehe, emang si jarang, waktu Nami browse juga yg genre-nya sci-fi cuma buatan Nami ma author senior di sini... Nami lupa nama id author itu, tapi, Nami pengen bisa bkin fict yg keren2 spti punya dia...

Kyu's Ne: eh, lemak, bner ga tuh nama id-mu? ni, nama-mu udah muncul, sneng kan? udah apdet ni, tmen sekelas tak berperi-ke-kucingan (?) tiap hari kerjaan-nya menganiaya mlulu... Pokonya kudu review. buat yg 'Comiket' sory, Q ga bisa publish, klo mo baca ga ap2, cuma 300kata tuh di FD... Don't forget, REVIEW! Hyung-Dien-mu tu juga, katanya janji mo review...

Shinyuu L. White: arigatou *bow*udah apdet ni, Nami minta review darimu juga~ ^^

blackROSE: hmm? manggil Nami pake apapun juga boleh kok... arigatou dah review *bow*. Pertanyaan? Pertanyaan apa ya?

Misyel: Misyel! Kau juga, reviewer tetap Nami... Makasi, Arigatou, Matur-nuwun, Thanks, *bow* mau jadi sbling Nami ga di-fb? Review lagi ya? ^^

arcafia: arigatou *bow* udah mo review... Nami dah apdet ni, mohon bantuannya juga~ ^^