Chap. 2 UP! khekhekhe.. gomen lama :D
yang ini lebih panjang dari yang Chap. 1. Semoga kalian terhibur ^^

oke langsung aja..


BLIND

Disclaimer: Masashi Kishimoto | Author: KuroYupi

Genre: Romance, Hurt/Comfort | Rating: T | Pair: SasuSaku & ada SasoSaku juga ^^ |

Warning: Typo (palingan ada), alur pasaran, EYD keseleo & beberapa keanehan lainnya.. kalau ada kesamaan ide, harap maklum~ ini fic pertama Yupi, jadi gomen kalau bnyak kekurangan. Masih butuh pengalaman ^^

Summary:

Sakura ingin menyelamatkan Haruno Corp dari ancaman Fugaku yang mengancam hubungan kerja sama antara Uchiha Corp dengan perusahaan orang tuanya yang baru saja meninggal. Disatu sisi, misteri pembunuhan orangtuanya justru membuat ia terjebak hubungan aneh dengan Sasuke.

.

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

Enjoy it ^^

Blind bagian 2: We meet again .

.

.

Hari sudah larut. Kesunyian yang terasa mendominasi kini berhasil membuat sepasang manik indah Sakura setengah menutup. Entah sudah yang keberapa kalinya ia menguap di saat menemani ibu Uchiha menunggu sang buah hati yang sampai saat ini tak kunjung pulang. Dengan mata yang hanya mempunyai daya sedikit lagi, Sakura memperhatikan gerak-gerik Mikoto yang terlihat cemas. Bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja, Sakura menundukkan kepalanya lalu ia merasa tidak kuat untuk mempertahankan panca indranya untuk tetap sadar.

"Sasuke, kemana lagi anak itu?!"

Mikoto bergumam sendiri sambil meremas-remas tangannya melihat kelakuan anak bungsunya. Bukan kali ini saja bungsu Uchiha itu tidak pulang saat sang ayah tak ada di rumah. Hal itu membuat Mikoto tak heran lagi dengan kelakuannya yang seenaknya saja dan membuat wanita onyx itu merasa kesepian.

"Sakura-chan?"

Mikoto yang melihat Sakura tertidur di sofa merasa kasihan karena gadis emerald itu ikut menunggu anak bungsunya pulang. Sakura terlihat begitu damai dalam tidurnya. Mikoto mengelus pelan surai pink itu. Kehadiran Sakura saat ini setidaknya bisa menghilangkan rasa kesepiannya yang selalu di tinggal pergi oleh suami dan anak-anaknya. Terlebih lagi keinginannya mempunyai seorang anak perempuan.

"Engh-"

Sakura yang baru saja tertidur kemudian terbangun saat merasa ada yang menyentuhnya. Seketika itu Mikoto terkejut dan langsung menarik tangannya.

"Sumisasen, obasan. Aku tertidur."

Sakura mengusap wajahnya pelan berusaha mengembalikan kesadarannya seutuhnya lagi. Mikoto kemudian tersenyum melihat jawaban gadis itu.

"Ii. Aku yang harusnya minta maaf padamu. Kau tidak seharusnya ikut menunggu Sasuke pulang. Sekarang sudah pukul setengah duabelas dan kau pasti lelah. Pergilah ke kamarmu untuk beristirahat. Besok kau akan kembali bersekolah, kan?"

Ingin rasanya bibir mungil Sakura menolak untuk mematuhi perintah Mikoto. Namun tubuhnya tidak kuat lagi jika harus bertahan bersama dengan Mikoto yang masih menunggu. Melihat Sakura yang terdiam dengan wajah yang kusut Mikoto tahu apa isi pikiran gadis itu.

"Baiklah, Sasuke pasti menginap di rumah Naruto lagi. Ayo kita istirahat. Malam sudah larut."

Mikoto tersenyum sambil menepuk punggung Sakura. Sakura yang terlihat sangat ingin terlelap itu hanya bisa mengembangkan senyuman tipis sambil berdiri dengan lesu dan berjalan menuju kamarnya. Mikoto yang merasa cukup kelelahan juga menuju kamarnya yang berada di lantai satu.

"Arigatou, obasan"

Jawab Sakura dengan sedikit membungkukkan badannya.

"Jangan seformal itu, Sakura-chan. Istirahatlah."

Gadis emerald itu tersenyum mendengar perkataan singkat Mikoto. Wanita itu sangat baik padanya meskipun dia bukanlah siapa-siapa-untuk sementara waktu-. Sakura memasuki kamarnya dengan langkah gontai. Tempat tidur adalah tujuan utamanya saat ini, namun sebelum itu ia harus ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sekedar mencuci muka dan gosok gigi sebelum pergi bermimpi di tempat tidur. Bisa dikatakan ritualnya sebelum tidur.

Secepat mungkin Sakura melakukan kegiatan yang sudah ia lakukan sejak kecil itu. Gadis emerald itu kemudian menarik selimutnya hingga sebatas dada dan memejamkan matanya yang sejak tadi terasa berat.

Belum lama ia memejamkan matanya, tiba-tiba ada suara berdecit dari arah pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Suara itu seketika membuat Sakura terbangun dan membelalak kaget. Apalagi muncul siluet manusia dari balik horden putih yang menutupi pintu kaca itu. Sakura merasa darahnya dipompa lebih cepat saat sosok manusia itu dengan terang-terangan memunculkan dirinya dari balik horden. Sakura yang terkejut plus panik dan takut refleks berteriak dan agaknya membuat orang yang tak dikenal itu terkejut dengan adanya kehadiran Sakura di situ.

"KYAAAA!"

Dengan panik orang itu melihat ke arah Sakura yang ketakutan. Ia berlari dan menindih tubuh mungil gadis itu sambil menutup mulut gadis itu dengan sebelah tangannya. Kini Sakura dapat melihat jelas mata orang itu meski keadaan di kamarnya cukup gelap. Iris mata onyx yang kelam. Mata yang sama dengan Mikoto itu terlihat kesal mendengar teriakan Sakura.

"Cih. Jangan berisik!"

Dari suara orang itu, Sakura dapat mengetahui kalau orang yang berada di atasnya ini adalah seorang laki-laki. Menyadari hal itu, Sakura bertambah panik karena mereka berada pada posisi yang sangat tidak menggenakkan baginya.

"Mmph- lepas-"

Sakura yang mulutnya ditutup mencoba meronta. Kakinya yang bebas menendang ke segala arah namun itu sama sekali tidak berpengaruh pada posisinya saat ini. Tangan putihnya mencoba melepaskan tangan besar lelaki itu dari wajahnya. Tapi itu sama sekali tidak berhasil karena tenaga lelaki itu lebih kuat dibandingkan dengan dirinya.

"Cih. Diam!"

"Lepaskan-"

"Aku akan melepaskanmu kalau kau diam!"

Lelaki itu membentak Sakura dengan kasar. Melihat pancaran sinar mata onyx yang dingin itu membuat nyali Sakura seketika menjadi ciut. Sakura diam.

Merasa kalau Sakura tidak lagi memberontak, lelaki itu berdecak kesal lalu melepaskan tangannya yang menutup mulut Sakura. Ia masih menatap kesal Sakura yang baginya sangat merepotkan.

"Si-siapa kau?!"

Sakura bertanya dengan was-was di nada bicaranya yang terputus-putus setelah lelaki itu tidak lagi menindih dirinya. Lelaki itu kemudian kembali menatap kesal Sakura setelah ia mengambil barang yang terlihat seperti tas yang tadi ia lempar. Mendapat tatapan seperti itu, gadis mana yang tidak takut? Sakura memeluk lututnya dengan erat seolah melindungi dirinya jika tiba-tiba lelaki itu melakukan hal yang sama seperti tadi.

"Seharusnya aku yang bertanya padamu!"

Sakura mengerutkan keningnya yang mendengar jawaban dari si lelaki bermata kelam yang membuatnya takut setangah mati. Lelaki itu dengan santai melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Sakura dan membukanya. Ketika ia hendak menutup kembali pintu itu, lelaki itu berhenti sejenak sambil sedikit menolehkan wajahnya yang samar-samar terlihat oleh Sakura.

"Jangan beritahu siapa pun, atau kau akan tahu akibatnya!"

Lelaki itu mengancam dengan nada yang sangat menakutkan di pendengaran Sakura. Sakura hanya dapat mematung melihat sosok lelaki bertubuh tinggi itu menghilang di balik pintu. Lelaki menakutkan itu kini berada di dalam rumah yang sama dengannya saat ini. Sakura dengan takut-takut kembali membaringkan tubuhnya.

Selimut itu kembali ia tarik hingga membatasi tubuhnya sebatas leher. Bayang-bayang lelaki itu terus menghantuinya. Apalagi sorot matanya yang membuatnya tak berkutik sungguh membuatnya takut. Mengingat kejadian yang baru saja dialaminya itu membuat kantuk kembali menyerangnya hingga gadis itu terlelap dengan masih dibayang-bayangi sosok misterius yang baru saja bersikap kasar terhadapnya.

.

.

.

Surya pagi mendesak masuk melewati tirai horden putih yang sedikit terbuka. Berniat membangunkan sang penghuni kamar, namun itu tak berhasil karena kini orang itu tengah berdiri di depan cermin berukuran besar yang berada tepat di samping lemari pakaian berwarna lavender. Dengan gerakan cekatan ia memakai seragam barunya yang masih terasa asing. Baru kemarin ia pindah ke rumah seorang teman bisnis orang tuanya yang seminggu lalu meninggalkannya seorang diri tanpa sanak keluarga yang lain.

Meninggalkan sekolah lamanya adalah satu pilihan yang sebenarnya terpaksa untuknya. Berat baginya untuk meninggalkan teman-teman yang sudah membuat hari-harinya tidak terasa hampa karena orang tuanya yang sibuk dengan urusan kantor. Namun apa boleh buat, Fugaku dan Mikoto menyuruhnya untuk bersekolah di sekolah yang sama dengan anak bungsu mereka. Alasannya agar ia bisa diawasi dan hubungan mereka –anak bungsu mereka dan dirinya- bisa semakin dekat.

Hubungan- itulah alasan gadis emerald itu terpaksa mengambil keputusan bodoh yang mungkin orang lain tidak akan mau untuk menyetujuinya. Hubungan orang tuanya dengan sang partner bisnis orang tuanya.

"Baiklah, kurasa aku sudah siap."

Sakura tersenyum melihat dirinya dengan seragam barunya. Ia kembali merapikan helaian pinknya yang sedikit menutupi matanya yang indah. Sakura kemudian beranjak dari depan cermin dan duduk di tepi ranjangnya yang sudah rapi. Ia menatap kosong sebuah foto yang terpajang di atas meja kecil di samping ranjangnya. Foto yang menunjukkan dirinya dengan kedua orang tuanya yang tengah tertawa bersama saat ia masih berumur dua belas tahun. Sorot matanya menunjukkan perasaan yang tak dimengerti oleh orang lain. Gigi-giginya yang putih terdengar menggertak, beradu satu sama lain. Entahlah gadis itu sedang dalam suasana hati apa.

"Sumisasen, Sakura-san."

Tiba-tiba seraut wajah keriput muncul dari balik pintu yang terbuka. Sakura nampaknya agak terkejut dengan kehadiran orang itu. Raut wajah itu terlihat ramah dan bersahabat.

"Baasan? Kau mengejutkanku."

Sakura terlihat agak salah tingkah ketika orang itu masuk ke dalam kamarnya. Seperti panggilan Sakura padanya, pelayan yang satu itu sudah ia anggap seperti neneknya sendiri, meski ia baru mengenalnya kemarin. Nenek Chiyo pun tak keberatan jika Sakura memanggilnya demikian, karena ia juga merindukan sosok seorang cucu. Wanita yang hampir pensiun itu hanya tersenyum melihat gadis pinky itu terkejut dengan kehadirannya.

"Sedang melakukan apa?"

"Iie. Bukan apa-apa."

Sakura membalas senyum pelayan tua itu.

"Kau sudah ditunggu Mikoto-sama di ruang makan. Kalau sudah selesai beberes, pergilah."

"Ha'i. Aku akan ke sana sebentar lagi."

Sakura mengembangkan senyum manisnya sekali lagi. Pelayan tua itu kemudian meninggalkan kamar Sakura setelah menepuk pelan punggung gadis itu. Sakura segera memasukkan buku-buku pelajarannya ke dalam tas. Sekali lagi ia melihat sejenak isi foto tersebut.

'Semoga kalian senang di sana, Tousan, Kaasan." batinnya. Setelahnya ia baru keluar dari kamarnya dan menuju ke arah ruang makan tempat Mikoto menunggunya.

Baru sampai di ruang tengah rumah mewah itu Sakura mendengar omelan Mikoto yang di tujukan pada seseorang yang sepertinya juga berada di ruang makan. Sakura memperlambat langkahnya untuk mendengar apa yang dikatakan oleh ibu Uchiha itu.

"Kau dengar Sasuke? Jangan berbuat seenaknya! Kau tahu kalau kaasan menunggumu semalaman, eh?"

Terdengar suara Mikoto meninggi saat mengoceh pada seseorang bernama Sasuke yang Sakura tahu adalah anak bungsu Mikoto. Kemarin Mikoto memberitahu nama kedua putranya supaya Sakura mengenal siapa anggota keluarga Uchiha. Itu adalah salah satu hal penting, mengingat status apa yang akan ia terima dari keluarga ini.

"Hn."

"Lalu kenapa kau pulang diam-diam?! Kaasan menghawatirkanmu!"

"Aku bukan anak kecil, kaasan. Jangan mengkhawatirkanku."

"Apa?! Anak ini-"

Hampir saja Mikoto mengeluarkan satu jurus yang menjadi andalah ibu-ibu yang sedang marah pada anaknya(?), kalau ia tidak menyadari kehadiran Sakura. Sakura terdiam melihat pemandangan di depannya. Mikoto yang marah-marah pada seorang pemuda yang ehm- sangat tampan. Kulitnya yang putih terlihat kontras dengan warna seragam yang ia kenakan. Rambutnya yang hitam menambah kesan cool pemuda itu meski ia memilik model rambut yang terbilang cukup aneh.

Pemuda itu tengah menikmati sepotong sandwich dengan jus tomat segar tanpa menghiraukan omelan Mikoto yang terdengar menakutkan. Ia tahu pasti pemuda itu juga tidak menghiraukan dirinya yang tentunya tidak saling mengenal. Setelah beberapa detik terpaku dengan sosok pemuda itu, Sakura mengalihkan pandangannya pada Mikoto. Dengan sopan Sakura memberikan salam padanya.

"Ohayou gozaimasu."

"O-ohayou Sakura-chan. Kau terlihat cocok dengan seragam itu."

"Arigatou, obasan"

Tanpa berlama-lama, Mikoto mempersilahkan Sakura duduk berseberangan dengan Sasuke. Kemudian dengan segera ia menuangkan segelas susu dan sandwich sebagai sarapan Sakura. Gadis itu kembali berterima kasih pada Mikoto yang hanya membalasnya dengan sebuah senyuman lebar.

"Sakura-chan, kau pasti belum mengenal pria nakal satu ini. Dia Sasuke, anak bungsuku."

Mikoto melirik Sasuke yang masih acuh dengan keadaan di sekitarnya. Bahkan sosok gadis manis di depannya tidak membuatnya tertarik sama sekali biarpun hanya untuk meliriknya sekalipun.

"Sasuke-san, salam kenal. Aku Sakura Haruno."

Dengan senyuman manis yang mengembang di bibirnya, Sakura mengajukan tangannya untuk bersalaman dengan pemuda raven itu. Sedetik, dua detik tak ada respon sama sekali dari Sasuke untuk menjabat tangan putih Sakura.

Merasa di acuhkan, Sakura tersenyum miris sambil menarik kembali tangannya. Melihat hal itu, Mikoto mencubit pelan lengan Sasuke yang sukses membuat Sasuke melihat ibunya dengan tatapan kesal. Ya, mood anak itu sangat tidak menentu. Sasuke berdecak pelan lalu melihat sebentar sosok gadis musim semi di depannya dengan tatapan dingin.

Melihat hal itu, Sakura bergidik. Teringat sosok lelaki yang semalam datang di kamarnya, menindih tubuhnya, dan juga mengancamnya, saat Sakura melihat tatapan pemuda raven itu. Tak salah lagi, Sasuke adalah sosok lelaki yang semalam.

Meski Sakura tidak dapat melihat jelas wajahnya karena situasi ruangan yang agak gelap, namun sorot mata lelaki itu tidak pernah bisa ia lupakan. Hanya lima detik melihat Sakura, Sasuke kembali melanjutkan aktifitasnya tadi. Meneguk setengah jus tomat segar kesukaannya.

"Hn. Kita sudah pernah bertemu."

Sakura membulatkan matanya. Dugaannya benar, memang Sasuke. Mikoto berpikir apakah dunia ini terlalu sempit. Ia tidak tahu kalau anaknya sudah pernah bertemu dengan Sakura, di kamar gadis pinky itu.

"Sou ka? Kapan kalian bertemu?"

Sakura menundukkan wajah yang menunjukkan semburat merah di wajahnya ketika medengar pertanyaan Mikoto. Tidak mungkin ia mengatakan hal yang sebenarnya kalau mereka bertemu di kamar Sakura dengan cara yang cukup tidak menyenangkan. Apalagi satu pesan menakutkan di pendengaran sakura saat itu. Pesan ancaman dari Sasuke untuk Sakura sesaat sebelum ia keluar dari kamar Sakura.

Melihat tak ada tanda-tanda dari salah satu dari mereka berdua, Mikoto mengerutkan keningnya. Kemudian dengan penuh pengertian, Mikoto melupakan pertanyaannya barusan yang sukses membuat Sakura takut Apalagi setelah mendapatkan satu tatapan sadis dari Sasuke.

"Baiklah kalau kalian tidak mau memberitahu. Demo, Sasuke-kun, kau sudah tahu siapa Sakura, kan?"

Sasuke diam tak menjawab. Hanya ekor matanya bergulir melihat Mikoto yang tengah cengar-cengir sendiri *ditabok Mikoto*. Mikoto yang tahu satu hal bahwa putra bungsunya itu belum tahu apa-apa, kemudian mengembangkan suatu senyum kemenangan yang entah untuk apa.

"Calon is-tri-mu."

Mikoto dengan satu senyum mengerikan khas seorang ibu(?), memberikan setiap penekanan pada kata terakhirnya barusan. Dengan santai Sasuke kembali meneguk jus tomatnya. Seolah baru bisa mencerna kata-kata Mikoto barusan, Sasuke tersedak dengan jus tomatnya. Hampir saja ia menyembur gadis musim semi di depannya kalau ia tidak dapat menahannya. Mata onyx miliknya membulat sempurna melihat Mikoto yang malah asik senyum-senyum sendiri.

"Nani?! Calon istri?!"

-BLIND-

Sepuluh menit, sepuluh menit yang diam. Hening. Tak satupun dari mereka yang angkat bicara. Mobil sport hitam itu terus melaju dengan kecepatan sedang menuju tempat tujuan mereka saat ini, Konoha High School. Terlihat emerald si pinky dengan gelisah bergulir menyusuri jalanan sepi lewat jendela di sampingnya.

Ia merasa sangat canggung berada di samping pemuda raven tampan itu, terlebih saat menerima tatapan tajam onyxnya sejak sarapan di kediaman Uchiha. Memang mengejutkan, ia pun tidak menyangka akan jadi seperti ini. Menjadi seorang istri yang bahkan tidak mengenal calon suami yang saat ini berada di sampingnya.

Bayangan pemuda raven itu terpantul di kaca jendela mobil, yang mau tidak mau harus tertangkap oleh iris emeraldnya. Yang diinginkan oleh gadis pinky saat ini hanya ingin mengalihkan perhatiannya dari kejadian tadi pagi. Ia ditolak mentah-mentah oleh bungsu Uchiha itu. Ia tidak bisa melupakan bagaimana respon Sasuke saat tahu ia akan menikah dengan seorang gadis pinky yang biasa-biasa saja. Jujur saja, author bilang Sakura manis, kok *eh? Kok muncul?!*.

Bukan itu yang membuat Sakura jadi down saat ini, tapi kata-kata dari Sasuke yang begitu menusuk indra pendengarannya, membuatnya sakit hati. Ia sendiri tidak ingin menikah dengan pria yang bahkan tidak bersikap baik padanya. Hanya saja karena Haruno Corp dan kedua orang tuanya yang membuatnya mau untuk menyetujui sebuah perjanjian konyol dengan Fugaku.

Sakura menghela napas panjang sambil kembali mengalihkan pandangannya dari pantulan Uchiha itu. Tanpa ia sadari onyx itu sedikit meliriknya dengan tatapan stoic khasnya. Hanya sebentar ia melirik Sakura yang tengah memainkan dasinya, tatapan onyx itu kembali fokus menghadap jalan di depannya. Tak lama mobil sport hitam itu nampak memasuki gerbang mewah bertuliskan 'Konoha High School'.

Tak bisa dipungkiri, iris emerald itu tidak dapat berhenti memandangi bangunan megah di depannya. Bangunan bercat putih kebiruan itu memang sangat menarik perhatian. Sekolah itu terlihat sangat elit baginya. Mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk ke sekolah tersebut. Beberapa menit kemudian mobil sport hitam itu berhenti di tempat parkir sekolah yang terbilang luas. Pengaturan parkir di tempat itu sangat-sangat rapi, sehingga tidak ada tempat yang terbilang kosong saat jam sekolah mulai.

Hembusan angin pelan menerpa wajah gadis bermarga Haruno itu. Ini adalah langkah pertamanya di Konoha High School, sekolah barunya. Sekolah yang elit itu mungkin hanya berpenghuni orang-orang yang memiliki derajat yang tinggi dan tentunya banyak uang. Terlihat kepala gadis pinky itu menengok kiri dan kanan berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Mobil sport hitam yang ia kendarai bersama bungsu Uchiha itu kemudian terbuka pintu pada bagian mengemudi. Sakura menoleh melihat sosok yang baru saja keluar dari mobil milik Uchiha itu. Pemuda raven nan dingin itu menatap tajam Sakura untuk beberapa lama seraya menutup kembali pintu mobil sportnya dengan sedikit hentakan.

Gadis emerald itu takut untuk mendapatkan tatapan tajam Sasuke. Dengan langkah ringan Sasuke berjalan membawa tasnya dan perlahan mulai meninggalkan Sakura sendirian di tempat parkir. Melihat pemuda raven itu mendahuluinya tanpa ada ajakan untuk masuk bersama, Sakura mulai ragu karena ia harus melapor dulu di ruang guru sebelum bisa mulai belajar seperti biasa.

Dengan suara bergetar, Sakura memanggil bungsu Uchiha itu dan sukses membuat Sasuke menghentikan langkahnya.

"A-anoo, Uchiha-san. A-aku harus melapor dulu-"

Sasuke sedikit pun tak menoleh mendapatkan tatapan cemas Sakura. Terlihat jelas kalau pemuda raven itu acuh tak acuh dengan dirinya.

"Itu urusanmu!"

Setelah beberapa kata singkat itu, Sasuke melanjutkan langkahnya. Sakura hanya menghembuskan napas berat menghadapi situasi seperti ini. Sasuke jelas-jelas menunjukkan rasa ketidaksukaannya padanya. Padahal ia akan menjadi istri dari bungsu Uchiha itu, namun sepertinya hal itu tidak akan terjadi.

Sebenarnya Sakura juga menginginkan hal itu, namun kalau ia gagal menjadi istri Sasuke maka perusahaannya akan terancam, satu-satunya peninggalan berharga orang tuanya. Itulah kesepakatan yang ia terima dari Fugaku.

Dengan langkah berat Sakura menyusuri sekolah yang masih sangat asing baginya. Ia harus mencari ruang guru. Hal yang mudah jika setidaknya Sasuke berbaik hati mau memberitahu di mana letak ruang guru. Ya, apa boleh buat. Sepertinya Sasuke memang benar-benar tidak menyukainya sama sekali. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah mencari dimana sebenarnya ruang guru itu.

Tanpa ia sadari, sesosok pemuda tengah mengamati gerak-geriknya dari kejauhan. Iris coklat itu tak lepas dari sosok Sakura yang perlahan menghilang di balik tembok sekolah.

.

.

Bel istirahat pertama telah berbunyi. Murid-murid lain tentu beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju sebuah tempat di mana mereka bisa mendapatkan segala jenis makanan. Mungkin hanya beberapa saja yang tinggal di kelas karena masih ada tugas yang harus mereka selesaikan.

Beradaptasi dengan lingkungan baru tentunya bukan hal yang mudah untuk seorang asing seperti Sakura. Sampai saat ini ia belum dapat mendapat seorang teman yang bahkan bisa ia ajak bicara. Satu-satunya orang yang ia kenal ialah Sasuke, seorang pemuda yang sangat dingin.

Ingin rasanya ia mengajak pemuda itu bicara, tapi perasaan takut terus menghantuinya ketika bertemu pandang dengan mata onyx kelamnya. Bukan hanya sekali mereka tak sengaja bertemu pandang. Namun pandangan pemuda itu sama sekali tidak menunjukkan keramahan.

Bahkan saat ia memperkenalkan dirinya di depan kelas pagi tadi, ia melihat iris onyx itu terus menatapnya tajam seolah berkata 'jangan beritahu hubungan kita' pada gadis emerald itu. Pertanyaan dari sensei mengenai mengenai alasan kepindahnya pun tak ia jawab karenanya.

Emerald Sakura sekali lagi menoleh melihat sosok Sasuke yang saat itu tidak sedang sendirian. Sakura meneguk ludahnya saat melihat apa yang dilakukan penuda raven itu. Bukan karena ia juga ingin melakukannya, tapi ia merasa sangat-sangat jijik pada perilaku pemuda itu.

Bayangkan saja, Sasuke tengah berciuman panas dengan seorang gadis berambut blonde yang dengan liarnya meraba-raba bagian dada Sasuke. Ia bahkan tidak tahu dimana ia sedang berada. Ya, Sasuke tidak merasa canggung jika melakukan hal itu di tengah umum. Ia sudah terbiasa, bahkan sangat terbiasa dengan kegiatannya itu.

Kening gadis bersurai pink itu bertaut. Ia muak melihat perilaku calon suaminya yang sangat tidak tahu malu baginya. Dengan tiba-tiba ia berdiri, membuat orang-orang di sekitarnya menoleh ke arahnya. Bahkan Sasuke tanpa sadar melirik Sakura sekilas tanpa menghentikan kegiatannya dengan gadis itu. Sakura bergegas keluar dari ruangan itu dan pergi entah ke mana.

"Hentikan."

Sasuke tiba-tiba melepaskan ciuman panasnya yang meninggalkan jejak-jejak saliva mereka akibat saling bercumbu terlalu lama. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, memperlihatkan wajahnya yang terlihat cantik.

"Kenapa, Sasuke-kun? Aku belum puas hanya dengan ini, kau tahu, kan?"

Gadis yang berada di atas pangkuan pemuda tampan itu dengan manja menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke dengan terus meraba-raba dada Sasuke.

"Ck, kau membosankan. Minggir!"

Sasuke tiba-tiba menyingkirkan tangan gadis itu, dan berdiri meninggalkan gadis bernama Shion itu dengan santai. Tangan kekar pemuda itu ia masukkan ke dalam kantong celananya. Shion yang terlihat seperti orang bodoh itu hanya berdecak pelan melihat kepergian Sasuke yang perlahan menghilang bersama dengan seorang pemuda berambut kuning spike, yang selalu memperlihatkan cengirannya yang khas.

.

.

Sakura memilih pergi ke kantin untuk sekedar membeli beberapa cemilan ketimbang harus menyaksikan pemandangan menjijikkan calon suaminya. Ia merasa risih saat mendapatkan pandangan-pandangan aneh dari anak laki-laki yang tengah berkumpul di salah satu meja dekat pintu masuk kantin. Ia berusaha berpura-pura tidak tahu tentang pandangan aneh mereka.

Bukan hanya itu, anak-anak perempuan pun menoleh ke arahnya dengan tatapan sinis. Sekali lihat pun ia sudah tahu bahwa kehadirannya tidak disukai mereka. Dengan segera ia membeli beberapa cemilan yang ia sukai lalu tanpa banyak tingkah, Sakura bergegas kembali ke kelas yang baginya masih asing itu.

Namun sepertinya itu bukan suatu keinginan yang mudah. Tubuhnya yang mungil tiba-tiba ditarik saat sedikit lagi akan keluar dari daerah kantin tersebut. Iris emeraldnya membulat sempurna saat mengetahui siapa yang tengah mencegatnya secara kasar saat itu. Wajah pertama yang tertangkap indra pengelihatannya itu menyeringai nakal padanya.

"Kau murid baru, ya?"

Pemuda berambut pirang panjang yang setengahnya diikat tinggi itu semakin menipiskan jarak antara dirinya dan Sakura. Sakura tak bisa mengelak saat itu. Hal itu dikarenakan pemuda itu tidak hanya sendiri. Masih ada beberapa pemuda lain yang mengelilingi dirinya seolah tidak membiarkan gadis emerald itu pergi.

Bukan Sakura namanya kalau tidak melawan. Gadis itu menepis keras tangan pemuda berwajah aneh dengan gigi-giginya yang tajam.

"Hei, tenang saja. Kami hanya ingin berkenalan denganmu, manis."

Pemuda berambut silver dengan kacamata bulat yang membingkai matanya itu tiba-tiba memegang pipi Sakura dengan kasar. Sakura ingin meminta tolong pada orang-orang yang berada di kantin itu, namun emeraldnya menangkap situasi yang berbeda. Orang-orang yang berada di sekitar kantin itu seakan acuh tak acuh dengan apa yang dialami Sakura.

"Lepaskan dia, Kabuto!"

Suara bariton yang terdengar familiar di telinga Sakura tiba-tiba muncul dari belakang Sakura. Pemuda bernama Kabuto itu berdecih pelan menanggapi sang pemilik suara itu. Setelahnya, ia kemudian melepaskan genggamannya dari wajah Sakura.

"Kau tidak berubah. Masih saja mengganggu gadis seperti itu."

"Heh, kali ini jangan ikut campur. Dia milikku."

Suara pemuda itu terdengar terkekeh sesaat mendengarkan jawaban dari pemuda berambut pirang itu.

"Kau salah. Aku memilikinya lebih dulu. Kau tak ingin berakhir seperti dua minggu lalu, kan?"

Pemuda pirang itu kemudian berdecih pelan sambil memandang sebentar wajah Sakura yang tertunduk dalam.

"Ambil saja! Aku tidak tertarik!"

Dengan kasar pemuda pirang itu mendorong tubuh mungil Sakura ke belakang hingga tubuhnya menubruk keras sesosok lelaki bertubuh tinggi yang sontak menahan tubuhnya yang oleng.

Terlihat pemuda pirang dan rombongannya itu pergi meninggalkan Sakura dan lelaki misterius yang berbaik hati menolong gadis emerald itu, disertai dengan tatapan orang-orang yang berada di dalam kantin.

"Sakura, daijoubu?"

Suara itu terdengar lagi. Sakura mengganggukkan kepalanya dengan lemas sambil menolehkannya dengan perlahan. Alangkah terkejutnya Sakura saat matanya bertemu pandang dengan iris coklat lelaki berambut merah itu. Dengan cepat ia mendorong tubuhnya hingga agak menjauhi lelaki itu.

Sakura masih belum berkedip mendapatkan sosok tampan di hadapannya, yang dengan mata sayunya masih terus memandanginya dengan senyuman yang mengembang tipis di wajahnya.

"Se-senpai?!"

.

.

.

TBC

.

.

.

.


A/N: Wooaa, gomen telat update.. Yupi nunggu abis ujian, biar bisa merasakan kebebasan(?). Makasih banyak-banyak buat yang dah review ^^ Yupi yang masih amatir bisa tersupport karenanya ^^a

sekali lagi, semoga fic ini menghibur. Akhir kata arigatou ne~

C U next chapter 'w'7

MIND TO REVIEW?