Ohayou minna-san,
Jonetsu sudah masuk chapter kedua (tidak disangka). Saya akan sangat senang kalau readers menikmati cerita aneh ini.
Walau jelek, author harap readers menikmatinya…
JONETSU. Chapter II
RIICHIRO INAGAKI & YUSUKE MURATA
Warning : Future fic, OOC, typo disana-sini, gaje, abal, nggak bisa komentar apa-apa lagi
Hurt/comfort, Romance
Hiruma Yoichi x Anezaki Mamori
Keadaan Mamori yang kritis membuatnya harus dirawat intensif di rumah sakit. Hiruma terlihat sangat cemas menunggu kabar di ruang tunggu, sementara itu Yamato dan Akaba yang mendengar berita tentang Mamori juga sudah ada dirumah sakit bersama dengan Suzuna dan Karin.
"Aku tidak tau kalau Mamo-nee punya penyakit…"
Suzuna menghentikan ucapannya saat melihat wajah Hiruma yang memucat. Wajah seorang pria yang tak pernah dilihatnya selama hidupnya itu.
"Kanker otak." Lanjutnya lagi setengah terisak. Tangan Suzuna bergetar hebat. Kenyataan berat tentang penyakit 'kakak' kesayangan yang tiba-tiba menimpanya terasa sangat berat buat Suzuna.
"Tenanglah Suzuna-chan. Mamori akan baik-baik saja" Karin tersenyum disela kekhawatirannya. Walau ia tau, Mamori sebenarnya tidak baik-baik saja.
"Fuh~ duduklah, melodi kalian berisik!"
"Kau juga Hiruma, relax saja. Aturlah nada musikmu." Akaba menepuk pundak Hiruma yang dari tadi berdiri. Hiruma bersandar di dinding dengan wajah yang agak pucat. Tangannya dimasukkan kedalam saku celananya, sementara mulutnya sibuk mengulum permen karet mint kesukaannya.
"Oh ayolah Yamato. Kau bukan sedang nonton Sadako, kan? Fuh~ tenang lah sedikit." Diantara mereka berlima, mungkin hanya Akaba yang terlihat santai, walau sebenarnya ia juga khawatir. Akaba memang biasa mencairkan suasana yang agak kaku, tapi tidak untuk saat ini.
Yamato yang masih kesal pada Hiruma tidak membuka mulutnya sedikitpun kecuali bila ia ditanyai oleh Akaba. Sementara itu, Hiruma hanya menunjukkan wajah malas dan tidak peduli walau Yamato berulang kali memberinya death glare.
Tiba-tiba Yamato melangkah mendekati Hiruma.
"Kalau kau sampai terjadi sesuatu pada Mamori…" Yamato menggepal tangannya kuat, lalu mengangkat tinjunya tepat diwajah Hiruma. "Tangan ini, akan jadi tangan terakhir dalam ingatanmu." Lanjutnya.
Hiruma menepis tangan Yamato kuat lalu mendorongnya sampai menabrak dinding.
"Apa kau tidak merasa bersalah juga, sialan?! Kau yang membuat manajer sialan itu begini! Dia berlari mengejarmu ditengah terik matahari. Semua itu salahmu! Berhenti menyalahkan orang lain, dasar banci!"
"Jangan menyalahkan aku. Kau mengetahui kenyataan ini dan malah menyembunyikannya? Sialan kau! Dan jangan panggil dia dengan sebutan itu, dasar bajingan!"
"Aku juga baru tau, sialan. Dan berhenti mendorong… KU!" Hiruma menyentak tangan Yamato lagi lalu mendorongnya kuat sampai tersengkur.
"KAU CARI MATI?!" Yamato menarik kerah baju Hiruma dan mengangkatnya dengan kasar.
"You-nii hentikan!"
"Yamato-kun, tenanglah!"
"HEI"
Jeritan Akaba seketika menghentikan aktifitas mereka. Bagi Hiruma, Yamato, dan Karin, Akaba adalah orang yang sangat jarang menjerit apalagi membentak. Entah kenapa, dibentak Akaba secara tiba-tiba memberi efek lain buat mereka.
"Berhenti berkelahi atau kalian berdua aku pukuli dengan gitar ini sampai mati!" Akaba menunjuk gitar mengkilap berwarna biru dengan grafiti 'Saikyodai' berwarna red blood keemasan.
"Dewasalah kalian! Apa kalian tidak memikirkan Mamori yang mungkin sedang meregang nyawa didalam sana? Dan kalian malah bertengkar seperti anak kecil." Akaba mendorong Yamato dan menarik Hiruma kasar.
"Yamato-kun, tidak ada yang bisa disalahkan disini. Tapi bukan berarti kita semua merasa benar. Lebih baik kita tenang dan berdoa untuk Mamori" Karin berdiri didepan disamping Yamato, merangkul kekasihnya itu pelan dan menjauhi Hiruma.
"Maaf Hiruma" Karin membungkukkan badannya.
"Fuh~ jernihkanlah otak kalian" ucap Akaba kepada sahabatnya yang sempat akan saling memukul itu.
Hiruma memperbaiki kerah bajunya yang berantakan lalu melangkah menjauh meninggalkan teman-temannya.
"Mau kemana kau?" tanya Akaba setengah berteriak.
"Menjernihkan otak, seperti kata si mata merah sialan itu!" jawab Hiruma cepat tanpa membalikkan badannya. Ia terus berjalan sementara Suzuna mulai terdengar terisak pelan.
"Bagimana ini bisa terjadi Akaba?" tanya Karin pelan saat Hiruma sudah sangat jauh dari mereka.
"Kejadiannya sangat cepat. Ritmenya berjalan tanpa diduga. Seperti musik heavy metal yang menyantak"
"Etto.. Akaba. Aku mohon jangan menambah imbuhan apapun, aku tidak mengerti"
"Fuh~ Waktu itu, kau dan yang lainnya sedang didalam. Saat break pertandingan, Hiruma dan Yamato berkelahi ditengah hujan, aku dan Banba yang ada disitu mengira meraka hanya bercanda seperi biasa. Sampai Yamato meninju Hiruma keras."
.
.
Flashback
"Sudahlah teman-teman. Kita hanya ketinggalan satu touchdown. Lagi pula, ini cuma pertandingan persahabat dengan anak SMA. Kalian baru kali ini kalah. Dengan jarak lima menit, kalian masih bisa mencetak dua touchdown. Dan tentu saja bisa!" Mamori berdiri di depan Hiruma dan menahan dada bidang Yamato.
"Minggir Mamori, aku tidak mempermasalahkan itu" Yamato membentak Mamori.
"Jangan membentaknya, rambut liar sialan!"
"Hoo, sekang kau terlihat perduli?! Setelah selama ini kau menganggap Mamori tidak ada?"
"Apa maksudmu? Ngomong yang jelas, rambut liar sialan!"
"Hei… Hei" Banba menarik tangan Yamato, namun Yamato malah menghentak tangan Banba kasar.
"Fuh~ biar saja Banba. Aku rasa musim panas ini meledakkan jiwa musik mereka."
"Sejak kapan kau tau?" Yamato berdiri didepan Hiruma setelah ia berhasil menggeser Mamori dari hadapannya.
"Tau apa? Tau kalau kau homo?" Hiruma menjawab asal dan memalingkan wajahnya.
Akaba tertawa terbahak-bahak, Banba hanya menyerngit. Salah satu ciri khas Hiruma, menutupi kebohongan dengan bualan dan cacian. Sementara Akaba masih terlihat tertawa, ia tidak bisa melewatkan setiap banyolan yang dikeluarkan dari mulut Hiruma yang tajam. Hiruma hanya menyeringai keras dan menarik tangan Mamori untuk duduk disebelahnya.
"Sekarang kau menarik tangannya?"
"Apa masalahmu sialan? Manajer sialan ini pacarku. Terserahku mau menariknya, menginjaknya, atau mau memperkosanya sekalipun!"
"Fuh~ bercandamu mulai keterlaluan Hiruma"
"Mamori, bukan wanita yang bisa kau permainkan sesukamu! Setelah selama ini yang kau perbuat padanya, kau..."
Yamato menggepal tangannya kuat. Dan…
BUAKH!
"Sialan, apa yang kau lakukan?!" Hiruma memegangi perutnya yang ngilu. Pukulan Line Backer-nya itu benar-benar mengerikan.
Banba berdiri dari duduknya dan menahan tangan Yamato kencang. Sementara Akaba hanya menonton darah segar yang keluar dari sudut mulut Hiruma.
"Lepaskan Aku, Banba"
"Yamato-kun" Mamori melepaskan pegangan tangan Hiruma dan berlari mengejar Yamato.
Hening.
"Fuh~ tentang apa ini?" tanya Akaba sambil melihat Mamori yang berbincang dengan Yamato diujung sana. Ia bisa melihat Hiruma menggeram kesal saat Mamori mengelus rambut Yamato.
"Apa?!"
"Ayolah, kami bukan bocah lagi" Banba memberi Hiruma sebuah kain lap dan sport drink didekatnya.
"Apa benar Yamato homo? Kau menemukan komik yaoi di kamarnya?" canda Akaba.
"Tidak lucu!"
"Dia, kena kanker" jawab Hiruma sambil membersihkan lukanya, setelah itu meneguk sport drink-nya.
"Fuh~"
"HAH?!"
"Ya dia kena penyakit sialan itu sejak bersamaku di Mao, SMP. Aku mengupingnya berbicara dengan orang tuanya"
"Kau bercanda?"
"Apa pukulan si rambut sialan itu candaan, botak sialan?"
"Fuh~"
Banba terdiam, begitupun Akaba. Hiruma kembali meneguk sport drink-nya, lalu menendang botol itu ke tanah.
"Kapan kau tau?"
"Tidak penting!"
"Apa kami tidak boleh tau? Tuan poker face?"
"Cih, berhenti memberiku julukan aneh mata merah sialan!"
"Berhenti bercanda, kalian!"
"Tadi, saat break pertama. Manajer sialan itu berlari ke kamar mandi saat ponselnya berdering. Apa dia perlu kekamar mandi saat menjawab panggilan? Karena aneh, aku mengikutinya. Dan begitulah"
"Begitulah apanya!"
"Begitulah aku mengetahui penyakit sialannya, dasar botak sialan!"
"Apa parah?"
"Stadium Akut"
"Fuh~"
"Kau bercanda?"
"Tidak."
"MAMORI?!" Yamato menjerit saat wanita di depannya terhuyung. Darah pekat mengalir dari hidungnya.
Hiruma membalik badannya dan berlari kencang kesumber suara, disusul Banba dan Jumonji.
"Sialan! SIALAAN!"
End Flashback
.
.
"Begitulah. Banda dengan cepat memanggil ambulance. Sementara Aku, Hiruma, Yamato yang membawa Mamori kesini" Akaba mengakhiri ceritanya dengan petikan gitar.
"Bagaimana hasil pertandingan kita?" lanjutnya.
"Menang telak Akaba-san, seperti biasa. Tanpa kalian pun, Taka, Agon, Jumonji, Ikyu dan lainnya masih bisa bermain"
"Fuh~ aku tidak pernah memandang remeh mereka, Karin-chan. Bukannya kita sempat kalah satu touchdown dari mereka di lima menit terakhir?"
"Taka emosi pada Ikyu yang membasahi bukunya. Jadi dia berkolaborasi dengan Agon-san untuk membantai mereka."
"Hoo~"
"Taka mengerikan..." lanjutnya.
"Bagaimana keadaannya?" ucap Yamato khawatir kepada seorang perawat yang baru saja keluar dari kamar Mamori.
"Kondisinya stabil, namun ia belum sadarkan diri. Kalian bisa membesuknya nanti. Baiklah, saya permisi." perawat itu tersenyum lalu meninggalkan Mereka.
Yamato berjalan kearah Akaba, Karin dan Suzuna, lalu duduk disebelah mereka.
"Maaf sudah bertingkah seperti ini di depan kalian, Karin-san, Suzana."
"Hei, bukannya kau si cheer mungil Enma yang selalu tampil semangat." Akaba menatap Suzuna yang dari tadi diam, syok.
"Bukan 'si' Akaba-san, namanya Suzuna. Dan apa itu si 'cheer mungil Enma?' Ini bukan saatnya bercanda"
"Maaf, saat ini nada musikku sedikit bermasalah. Kau pacaran dengan Sena?"
"Aku istrinya, Baka-san!"
"Maaf?"
"Ah, maksudku Akaba-san"
"Hoo gadis kecil, kau merusak melodiku!"
"Akaba... kaba... baka tidak buruk" gumam Karin.
.
JONETSU
.
Hiruma berjalan pelan di lorong rumah sakit. Pikirannya benar-benar membuatnya berulang kali merutuki dirinya sendiri. Hiruma merasa sebenarnya dialah orang yang membuat Mamori jatuh pingsan, seandainya dia mengatakan kenyataan tentang penyakit kanker otak yang diderita Mamori pada yang lain, maka Mamori tidak akan mengalami hal seperti ini.
"Cih!" Hiruma berjalan menuju sebuah bangku panjang yang ada di ruang tunggu itu.
Pikiran Hiruma diliputi rasa cemburu kepada rekan setimnya itu. Mamori melihat Yamato sangat dekat dan lekat, hampir tidak berkedip. Itulah yang membuat Hiruma terlihat bodoh dan malah membiarkan lawannya menyolong satu touchdown dengan mudah.
"Halo, oh aku sialan!"
"You-nii, ini sudah cukup larut. Aku sudah pulang dengan Sena, sementara Karin-san dan Akaba-san dijemput Taka dan Banba. Yamato-san masih disana. Kau tidak apa-apa?"
"Hn"
"You-nii"
"Hm?"
"Kalau ada kabar apapun mengenai Mamo-nee, hubungi aku atau Sena ya?"
"Hm!"
"You-nii?"
"Apa lagi, sialan!"
"Ganbatte!" dam Hiruma menutup ponselnya sepihak.
Setelah dirasa cukup lama ia termenung dan melamun, Hiruma berdiri dan melangkah kembali ke kamar Mamori. Namun langkahnya terhenti saat ia berpapasan dengan Yamato.
"Bagaimana keadannya?" tanya Hiruma.
"Apa pedulimu?"
"Tentu saja aku peduli, sialan!"
"Jika kau peduli, harusnya kau menjaganya. Bukannya malah membuatnya sedih dengan tingkah anak-anakmu itu yang terus-terusan mengacuhkannya."
"Hah?"
"Kau tau, sekeras apapun kau mengacuhkannya dia selalu mengirimimu semangat. Baik dengan SMS, perkataan langsung, dan doa. Aku pernah melihat Mamori menangis di tengah doannya saat menyebut namamu. Apa kau gila? Apa yang membuatmu begitu mengacuhkannya? Sebesar apa salahnya padamu sampai kau membuatnya seperti ini? Kalau kau bilang ini candaan, akan kupukul kau sampai mati!"
Hening.
"Jangan diam, bajingan! Kau pikir kenapa dia sampai repot-repot datang kepertandingan persahabatan kita dengan anak SMA yang bisa diadakan setiap saat sampai kita muntah darah itu? Ini hanya untukmu! Dia tidak mau melewatkan satupun pertandinganmu! Dia tidak ingin melewatkan satupun momen bersama denganmu! Dia rela mencabut selang infus yang ada ditangannya saat Agon mengirimi SMS tentang pertandingan kita. Lalu apa yang kau lakukan? Kau malah membentaknya karena dia terlambat lima menit! Kau gila!"
"Ap.. apa?"
"Ya, dia rela memberimu semangat walau keadaannya seperti itu. DIA KABUR DARI RUMAH SAKIT!"
"Tapi…"
"Apa? Kau pikir aku tidak tau keadaanya? Ibuku berteman dekat dengan ibunya, karena kau tidak pernah cerita tentang hal itu, akupun tidak begitu memperhatikan gosip itu. Lagi pula, Anezaki-san memang suka berlebihan."
Masih hening.
"Kau tau harus kepada siapa dia bercerita? Aku pernah melihatnya tertunduk sambil menangis dengan sapu tangan yang penuh dengan darah ditangannya. Kau tau apa yang dikatakannya. Dia bilang itu DARAH KUCING YANG TERLUKA! Kau tau betapa sakitnya dia memendam ini? Tapi kau tidak mengerti! Kau malah semakin menekannya dengan sikap kekanak-kanakan itu! Dia ingin cerita denganmu, berbagi kesakitan denganmu. TAPI APA YANG KAU LAKUKAN?!"
"Aku juga baru tau, rambut liar sialan! Tadi, sepuluh menit sebelum kita berkelahi!"
"Kau bohong!"
"Aku tidak bohong. Harusnya aku marah padamu! Kenapa kau tidak bilang padaku saat mendengar gosip sialan itu?!"
"Sekarang kau menyalahkanku?!"
"Kau memang salah, rambut liar sialan!"
"Dengar, kapten yang selalu merasa benar! Aku mencintainya, SANGAT! Namun, dia sudah memilih hatinya kepadamu. Aku memberi kepercayaanku padamu untuk menjaganya dari pertama kali kita masuk kuliah. DUA TAHUN LALU! Sekarang, lihat apa yang kau lakukan!"
Hening…
"Aku mencintainya sejak di Mao. Saat kelas dua!" Aku Hiruma, yang membuat Yamato mengannga lebar.
"Baik aku maupun Mamori, kami tidak pernah mengatakan kata cin... cin... cint..."
"Cinta?"
"Ya! Tapi, hubungan kami spesial. Saling mengirimi email dan saling menghubungi. Kencan diwaktu senggang, makan bersama. Kami benar-benar seperti pa... pa... paca..."
"Pacaran?"
"Ya!"
"Jadi, kau mencintainya Hiruma?"
"TENTU SAJA! AKU SANGAT MENCINTAINYA!"
"Kau tak ingin dia mati kan?"
"TIDAK AKAN PERNAH!"
"Pergilah, Mamori sudah sadar"
Hiruma memberikan senyum singkatnya dan menepuk punggung sahabatnya itu. Lalu berlari kencang kekamar Mamori di rawat.
OWARI
Cerita ini masih akan berlanjut (keajaiban). Ini semua berkat para readers sekalian. Saya sangat berterima kasih pada pembaca, khususnya Nabila Mahfuza, Mayu, Hiruma Yuuzu, Aika Licht Yoichi yang sudah me-riviews cerita sebelumnya, benar-benar terimakasih.
Balasan reviews :
NurHasanah : Yup, Mamori mati. Dengan indahnya (?) makasih udah review ya…
Nabila Mahfuza : Bagus deh kalau sedih, aku seneng ada yang menikmati cerita ini sampai berlinangan air mata. Tapi kalau kamu ketawa, aku juga senang kok (?) ini udah update. makasih udah review ya…
Mayu : makasih buat reviewsnya Mayu. Okeh, saya kan tetap semangat! makasih udah review ya…
Kritik dan saran silahkan tulis di kotak dibawah ini, saya sangat SANGAT menghargai setiap reviews para readers. Terimakasih sudah membaca, sampai jumpa…
