Disclaimer © Masashi Kishimoto

Story © Felicia Novresca a.k.a

Pair © Uchiha Sasuke, Hyuuga Hinata

Rated © T

WARNING : OOC akut, typo, alur cepat dan teman-temannya.

Summary ©

.

.

.

A Letter at 3 a.m.

Chapter 2

.

.

.

Kantor polisi Konoha ramai oleh siswa-siswi KHS mengikuti teman mereka yang ditahan oleh polisi. Gaara duduk di depan polisi yang menanyainya sambil melipat kedua tangan di depan dada, Sasuke dan Naruto berdiri di belakang Gaara, Hinata dan Sai menunggu agak jauh dari yang lainnya.

"Kenapa kau tidak pulang saja?" tanya Sai memandang Gaara yang dari tadi berbicara dengan nada suara ketus saat ditanyai polisi. Sai hanya khawatir dengan keadaan Hinata yang kemarin pingsan saat pelajaran berlangsung.

"Aku ingin menemani Gaara, meski aku tidak bisa melakukan apapun saat ini tapi aku yakin bukan Gaara yang melakukannya" Hinata melangkah ke meja polisi meninggalkan Sai yang menarik nafas dalam-dalam.

"Darimana kau tahu?" tanya Sai penasaran saat Hinata membelakanginya.

"Apa kau mencurigai temanmu? Teman yang selama 3 tahun sekelas denganmu? Apa kau sebodoh itu, Sai?" Jleb. Sai tidak ingin berbicara berbicara lebih jauh dengan Hinata.

"Jam berapa kejadiannya?" tanya Hinata beridiri disamping Gaara.

"Shion sekitar jam 03.00 dan Kiba sekitar jam 03.30" jelas polisi bernama Danzou.

"Pertama, Jarak antara rumah Shion menuju rel kereta api memakan waktu sekitar 10 menit dengan berjalan kaki, menggunakan kendaraan mungkin sekitar 3 menit., sedangkan jarak dari rel kereta api ke rumah Kiba memakan waktu lebih dari 20 menit. Gaara tidak mungkin melakukan semuanya dalam rentang waktu 30 menit." Hinata mencoba menganalisa menggunakan rentang waktu, ia tidak ingin temannya berlama-lama di kantor polisi. Danzou tampak berpikir.

"Kedua, Bagaimana bisa Gaara membuka pagar, pintu rumah, dan pintu kamar Shion? Tidak ada tanda-tanda kerusakan di ketiga pintu tersebut, Gaara tidak mungkin memiliki duplikat kunci rumah Shion" Hinata menyambung argumennya.

"Sudah ku bilang ini terlalu tidak mungkin. Aku memang tinggal sendirian dan tidak ada jaminan bahwa aku tidak kemana pun malam itu, tapi ayolah.. hanya karena aku yang pertama kali melihat surat itu di laci meja Kiba bukan berarti aku yang melakukannya" Gaara meyakinkan polisi saat Hinata baru saja memberi penjelasan.

"Belum lagi, Gaara belum pernah ke rumah Shion. CCTV rumah Shion malam itu mati, Gaara bahkan tidak tahu di rumah Shion ada CCTV atau tidak" Sasuke menambahkan.

"Tapi di percakapan pesan antara Kiba dan Shion membahas tentang Gaara" Danzou memeriksa dokumen yang ada di hadapannya.

"Itu karena Gaara ingin membuat pesta untuk merayakan Anniversary mereka, Kiba dan Shion adalah sepasang kekasih" Sai muncul dari belakang menambahkan.

"Ku bilang juga apa, lalu masalah miscall di Iphone Kiba malam itu karena aku ingin menanyakan soal Biologi nomor 20 yang tidak ku tulis" mendengar alibi yang diberikan oleh teman-temannya, Gaara semakin tidak terima ia di seret ke kantor polisi.

"Kenapa harus Kiba, kau masih punya teman-teman yang lain?" tanya polisi penuh selidik.

"Itu karena Kiba selalu tidur larut malam, tapi malam itu Kiba tidur cepat untuk pertama kalinya" Naruto juga menambahkan.

Seorang pegawai kepolisian memberikan beberapa dokumen kepada Danzou. Danzou memeriksa dokumen hasil analisa tulisan dan kertas surat yang ditemukan di TKP.

"Pak, tulisannya tidak jelas tapi kata-kata yang tertulis diyakini 80% menggunakan Bahasa Inggris" pegawai kepolisian berbicara mengenai hasil analisa tulisan yang ada pada surat tersebut.

"Bahasa Inggris? Aku dan Gaara bahkan duduk bersama saat kami harus remedial di ujian Bahasa Inggris" Naruto memberikan pembelaan yang sedikit menggores harga diri Gaara.

"Bagaimana dengan kertasnya?" tanya Danzou kepada rekannya.

"Tidak ada sidik jari apapun, bahkan kertas surat tersebut di perkirakan sudah berumur lebih dari 10 tahun"

.

.

.

5 siswa-siswi KHS keluar dari kantor polisi dengan omelan-omelan sekaligus perasaan lega. Berdasarkan semua keterangan dari teman-temannya, Gaara bisa bebas. Gaara, Hinata, Sasuke, Naruto dan Sai berjalan bersama meninggalkan kantor polisi. Hari ini kelas mereka sengaja di liburkan karena kasus Kiba dan Shion.

"Arigatou" ucap Gaara.

"Kami tidak akan membiarkan warga kelas XII.1 menghabiskan masa muda mereka di penjara" Naruto memberikan cengiran khas lima jari miliknya.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Untuk sementara polisi menganggap kejadian ini bunuh diri karena belum menemukan petunjuk logis tentang adanya pembunuhan. Belum lagi Shion dan Kiba adalah sepasang kekasih" Sai membuka pembicaraan.

"Mereka tidak memiliki masalah apapun" Sasuke memandang langit yang sedang mendung.

Sasuke, Naruto, Gaara dan Sai larut berbicara tentang kematian Kiba dan Shion, mereka sedang berdiri di depan halte menunggu bus. Bus berwarna biru lewat, Hinata menatap jendela bus tersebut dan betapa kagetnya dia ketika mendapati seorang gadis berseragam sekolah menyeringai ke arahnya sambil memegang sebuah kertas berwarna biru, persis seperti surat yang ditemukan di TKP Kiba dan Shion.

Ada banyak sekolah di Konoha dan Hinata hampir hafal semua seragam yang digunakan oleh siswa-siswa dari berbagai sekolah di Konoha tapi seragam yang digunakan oleh gadis tersebut belum pernah Hinata lihat sebelumnya.

"Seragam kita..." gumam Hinata pelan menggantung kalimatnya.

"Ada apa dengan seragam kita?" tanya Gaara.

"Kau tidak menyukai seragam kita?" tanya Naruto dengan bodohnya.

"Sejak sekolah kita berdiri, apa seragam siswa KHS selalu seperti ini?" tanya Hinata kepada teman-temannya sambil memandang kosong ke bawah.

"Memangnya kenapa?" tanya Sasuke. Sebenarnya ada yang ingin Sasuke katakan berkenaan dengan pertanyaan Hinata mengenai seragam KHS, Sasuke tahu sesuatu tentang 'seragam KHS' tapi ia terlalu takut berbicara kepada Hinata yang tidak bisa di tebak isi pikirannya.

"Ayo, busnya sudah datang" lagi-lagi Hinata meninggalkan kebingungan di benak Sasuke, bahkan sekarang bukan hanya Sasuke tapi juga Naruto, Gaara dan Sai.

Hinata dan yang lainnya menaiki bus, kursi sudah penuh akhirnya mereka berdiri di perantara kursi penumpang. Sai merogoh tasnya, mengambil Iphone untuk menghubungi Ino, tanpa Sai sadari sebuah surat biru sudah terselip di bukunya yang ada di dalam tas.

"Kalian akan kemana?" tanya Naruto kepada teman-temannya.

"Aku ada janji dengan Ino, katanya dia menungguku di depan toko kacamata di perempatan sana" kata Sai membuka lock screen Iphone-nya, mengirim pesan kepada Ino.

"Bagaimana kalau kita makan ramen, mendengar kematian Kiba dan Shion membuatku tidak nafsu makan tapi aku belum makan dari pagi. Kalian pasti belum makan juga kan?" Naruto menawarkan.

"Boleh... Aku juga belum makan, belum lagi harus di bawa ke kantor polisi. Kalau orang tuaku di Suna tahu, aku pasti akan dipulangkan ke Suna" Gaara berkeluh kesah.

"Aku juga-" Sasuke sebenarnya sangat lapar tapi kata-kata Hinata membuatnya mengurungkan niat untuk makan bersama Naruto dan Gaara.

"Gomen, ada yang harus kulakukan" kata Hinata menatap Naruto yang menawarkan makan bersama.

"Kau juga, kau juga kenapa Sasuke?" tanya Gaara kepada Sasuke yang belum menyelesaikan kalimatnya.

"Aku juga, ada yang harus ku lakukan. Lain kali saja" Ayolah, Sasuke sudah menyusun rencana sedemikian rupa untuk mengikuti Hinata.

Ino menunggu Sai di depan toko kacamata, Sai berpamitan kepada teman-temannya lalu menghampiri Ino. Supir bus melanjutkan rute yang akan dilewati, Sasuke diam seribu bahasa tidak berani mengajak Hinata berbicara, sementara Naruto dan Gaara masih menjelek-jelekkan polisi tua yang menyeret Gaara ke kantor polisi dengan alasan yang tidak jelas.

Bus berhenti di depan restoran ramen terenak versi Uzumaki Naruto, Gaara turun mengikuti Naruto. Naruto menyempatkan melambaikan tangan kepada Hinata dan Sasuke sebelum bus meninggalkan 'Ichiraku Ramen'.

"Kiri..." Hinata memberikan isyarat kepada supir bus untuk menghentikan bus di depan sebuah rumah makan. Hinata turun dari bus di ikuti oleh Sasuke yang kebingungan, ia pikir Hinata akan melakukan sesuatu tapi ternyata makan. Apa Hinata tidak suka makan bersama?

"Ku pikir ada yang ingin kau lakukan" kata Sasuke yang duduk di kursi berhadapan dengan Hinata. Pelayan datang mencatat pesanan mereka, setelah mengangguk pelan dan memohon untuk menunggu sebentar pelayan tersebut meninggalkan Hinata dan Sasuke.

"Aku memang akan melakukan sesuatu, kau juga belum makan dari tadi pagi" kata Hinata memandang Sasuke, yang dipandang gelagapan semacam... Salting.

"Kau perhatian sekali..." gumam Sasuke sambil menunduk, menyembunyikan wajahnya yang berusaha menahan senyum.

"Aku tahu kau akan mengikutiku. Kalau belum makan kau akan pingsan, aku tidak kuat sepertimu. Aku tidak bisa mengangkatmu saat kau pingsan" Hinata mendengar dari Lee bahwa Sasuke yang menggendongnya ke UKS saat ia pingsan.

"Darimana kau tahu aku akan mengikutimu?" tanya Sasuke heran,

"Hanya perasaanku saja"

"Memangnya apa yang akan kau lakukan, Hinata?" tanya Sasuke mulai serius.

"Pertama, kita harus mencari tahu seluruh design seragam KHS dari pertama kali sekolah kita berdiri" Hinata mulai meniup makanan panas di depannya.

"Untuk?" tanya Sasuke meminum jus tomat yang ia pesan.

"Teman kita dibunuh..." kata Hinata pelan.

"Uhhuuukkk... uuhhuukkk.." Sasuke tersedak jus tomatnya saat mendengar kata yang baru saja keluar dari bibir mungil Hinata.

"Kau terlalu banyak membaca buku misteri" Sasuke membersihkan seragamnya dari percikan jus tomat.

"Kiba dan Shion adalah sepasang kekasih, mungkin saja ada orang yang iri ataupun cemburu kepada mereka. Pelakunya, siswa KHS. Mereka jarang menampakkan hubungan mereka di depan umum, Kiba tidak dekat dengan gadis manapun dan Shion gadis pemalu yang tidak mengenal orang lain selain orang di dalam kelas. Hubungan mereka hanya diketahui oleh siswa KHS" Hinata tidak mengalihkan pandangannya dari makanan yang ada dihadapannya, Ia hanya mengaduk tanpa berniat menghabiskannya.

"Kau tahu dari mana? Kenapa kau bisa seyakin itu?" Sasuke menyerah membersihkan bajunya yang tak kunjung bersih. Ia lebih memilih berbicara kepada gadis yang ada dihadapannya.

"Hanya perasaanku saja" Hinata menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.

"Kalungmu bagus... Beli dimana?" tanya Sasuke memandang kalung Hinata dari balik kerah baju Hinata.

"Kalung Ibuku"

.

.

.

Izumo dan Kotetsu membukakan gerbang kepada dua orang siswa yang sudah sangat terlambat, tapi berkat penjelasan dan izin libur kelas mereka akhirnya Hinata dan Sasuke diperbolehkan masuk lagipula mereka masih menggunakan seragam sekolah.

Sasuke mengikuti Hinata berjalan ke ruang arsip KHS, Hinata membuka pintu dan mendapati petugas ruang arsip sedang membaca koran yang memuat berita tentang kematian Kiba dan Shion.

"Sumimasen..." Hinata masuk ke ruang arsip menemui Kabuto, petugas ruang arsip.

"Ada perlu apa?" Kabuto melipat kembali koran yang ia baca, menanyakan kepentingan siswa yang sedang berdiri di depannya.

"Kami ingin melihat design seragam KHS dari awal berdirinya KHS sampai sekarang" kata Sasuke.

"Hmm... tanpa keperluan yang jelas, hal itu tidak diperbolehkan" Kabuto menyeruput kopi hitamnya.

"Aku seorang model fashion show, aku ingin mencari seifuku untuk dikenakan. Tema acara tersebut 'Vintage School' jadi ku pikir mengenakan seragam KHS akan menambah citra tersendiri bagi sekolah kita" kata Hinata disertai dengan senyum yang paling manis, Sasuke bahkan tidak berkedip memandang Hinata. Kabuto akhirnya luluh.

Kabuto berjalan menyusuri rak-rak yang berisi kardus besar berisi dokumen-dokumen arsip KHS, Sasuke dan Hinata mengekor di belakang Kabuto. Sampai akhirnya Kabuto mengangkat sebuah kardus besar lalu membongkar isinya untuk mencari album arsip seragam KHS.

"Ini dia..." Kabuto menyerahkan sebuah album foto yang tidak terlalu tebal kepada Hinata.

"Arigatou" ucap Hinata menerima album yang diberikan oleh Kabuto.

Hinata membuka lembar demi lembar album foto yang kini ada di tangannya, Sasuke ikut memperhatikan Hinata. Jujur saja, Sasuke belum tahu apa yang sedang Hinata lakukan dengan memeriksa semua jenis seragam KHS. Satu hal yang Sasuke tahu, ia hanya ingin bersama Hinata. Itu saja.

"Ini... Seragam ini digunakan saat tahun berapa?" Hinata menemukan design seragam yang mirip dengan yang digunakan oleh gadis yang ia lihat di dalam bus.

"Kalau tidak salah, sekitar 9 atau 10 tahun yang lalu" kata Kabuto memperhatikan kode yang tertera di foto tersebut.

"Apa anda punya buku tahunan siswa angkatan 9 atau 10 tahun yang lalu?" tanya Hinata menyerahkan album foto kepada Kabuto.

"Beberapa bangunan sekolah kita pernah terbakar, termasuk ruang arsip. Buku tahunan beberapa angkatan hangus terbakar. Apa untuk menjadi model kau juga harus meniru gaya siswa di tahun tersebut?" tanya Kabuto mulai tidak yakin dengan alasan Hinata ingin melihat arsip seragam KHS.

"Tidak, terima kasih" Hinata keluar dari ruang arsip.

.

.

.

Hinata dan Sasuke meninggalkan KHS, akan sulit untuk menemukan foto siswa angkatan 10 tahun yang lalu. Hinata mulai putus asa.

"Kakakku juga alumni KHS, kalau tidak salah ia punya beberapa foto yang menggunakan seragam seperti yang kau tunjuk di foto tadi" Sasuke berusaha mengingat-ingat.

"Benarkah?" tanya Hinata dengan mata membulat lebar.

"Iya, dulu Kakakku ketua Osis" lanjut Sasuke.

"Kita harus menemui Kakakmu, ketua Osis pasti memiliki arsip buku tahunan di tahun ia menjabat ataupun tahun di atasnya bisa juga tahun di bawahnya" Hinata menarik tangan Sasuke,

"Kakakku sedang keluar kota, ada rapat besar perusahaan ia tidak bisa di ganggu"

"Kapan kakakmu pulang?" tanya Hinata tidak sabar.

"Mungkin besok..."

Sasuke dan Hinata menaiki bus yang berbeda untuk kembali ke rumah masing-masing. Sebenarnya Sasuke mau saja menaiki bus yang sama dengan Hinata tapi Hinata hanya memberi dua pilihan.

"Kau pulang duluan atau aku yang pulang duluan?"

Sebagai laki-laki, Sasuke lebih memilih pulang belakangan. Hinata menyetop bus setelah itu Sasuke menyetop bus yang berbeda. Hinata memilih duduk di kursi paling belakang dekat jendela. Matanya menerawang jauh mengingat kejadian yang menimpa teman-temannya.

'Jangan menghalangiku...' Hinata mendengar suara bisikan pelan yang sangat mengerikan.

Hinata menutup matanya, ia tidak berani memutar pandangannya untuk melihat siapa yang telah membisikkan suara mengerikan di telinganya. Hinata tahu tanpa harus melihatnya dengan mata.

"Tadaima..." Hinata membuka sepatunya di depan pintu.

"Okaeri, Hinata-chan.." Hiashi menyahut dari ruang keluarga sambil menonton acara TV.

"Kau... Mengenakan kalung Ibumu?" tanya Hiashi saat melihat kalung keramat melingkar di leher Hinata.

"Ummm" Hinata hanya mengangguk berlalu meninggalkan Hiashi yang masih kebingungan menatapnya.

"Apa kau yakin? Apa sesuatu telah terjadi?" Pertanyaan Hiashi hanya di jawab oleh kepergian Hinata menaiki anak tangga menuju kamar.

Hinata's POV

Aku tidak pernah pingsan sebelumnya, aku pingsan untuk yang pertama kalinya hari itu. Aku tidak bisa tidur sebelum pukul 3 pagi. Aku insomnia tapi aku tidak pernah pingsan hanya karena kurang tidur. Aku pingsan karena aku... ketakutan.

Aku terlahir di keluarga yang memiliki kemampuan yang agak berbeda dari orang lain. Ayahku dan Ibuku, mereka berdua bisa merasakan sesuatu. Maksudku... merasakan sesuatu yang tidak bisa di jelaskan secara logis. Kurasa kalian sudah mengerti apa itu.

Aku hanya ingin menjadi gadis biasa tapi aku tidak bisa menolak faktor keturunan. Yah, aku mendapat sedikit kemampuan itu tapi aku tidak mau mendalaminya. Aku hanya ingin hidup normal dan menjalani hari-hariku seperti biasanya.

Setelah kejadian hari itu, aku merasa ada yang sesuatu mengejarku dan teman-temanku. Apa itu? Seseorang dari masa lalu. Untuk apa? Entahlah. Apa yang Ia inginkan dariku dan teman-temanku? Entahlah. Aku belum tahu. Mengapa ia mengejarku dan teman-temanku? Kami telah melakukan kesalahan. Kesalahan apa? Aku tidak tahu.

Hari ini, Kiba dan Shion meninggal dunia dan ada surat berwarna biru di TKP mereka. Waktu kejadian sekitar pukul 3 pagi. Hanya petunjuk itu yang ku dapat saat ini, aku tidak bisa menyimpulkan apapun. Ada banyak hal yang ingin ku ketahui. Tidak. Aku tidak ingin mengetahuinya, aku hanya ingin menyelesaikannya tapi mustahil jika aku tak mengetahui banyak hal. Oleh karena itu, setelah aku pingsan dan kembali ke rumah, aku mengenakan kalung Ibuku.

Di keluarga kami, saat seorang anak telah mengenakan kalung turun temurun tersebut berarti sang anak telah siap untuk mewarisi segala sesuatu yang berhubungan dengan kemampuan 'khusus' tersebut. Ayahku heran saat aku mengenakan kalung ini karena dari awal aku tidak ingin melakukannya, aku mengharapkan kakak sepupuku, Neji, yang akan melakukannya. Aku tidak punya pilihan lain. Demi teman-temanku aku harus mengenakan kalung ini sebagai pertanda aku siap mewarisi kemampuan khusus tersebut. Mewarisi kemampuan khusus akan lebih memudahkanku menyelesaikan kegilaan ini. Aku siap menghadapi apapun yang terjadi, asalkan kegilaan ini berhenti sebelum ada korban lain.

.

.

.

Di sebuah ruang keluarga apartemen yang tidak terlalu besar, seorang pemuda berambut hitam dengan kulit pucat tertidur pulas di depan LCD TV yang dibiarkan menyala. Meja kecil di depan sofa penuh dengan makanan ringan dan soft drink.

Tek... tek.. tek..

Jarum jam menunjukkan pukul 3 pagi, Sai sangat lelap dalam tidurnya. Pukul 03.05, Sai menggeliat tak nyaman saat mendengar Iphone-nya berdering menganggu tidurnya. Ternyata sebuah pesan. Sai membuka Lock Screen Iphone-nya membaca pesan masuk.

From : 03.00

Uchiha-san, bagaimana suratku?

Sai melongo tidak mengerti, nomor macam apa yang mengiriminya pesan? Belum lagi, isi pesan tersebut menyebut 'Uchiha-san'. Uchiha? Berarti Sasuke. Itu yang ada di pikiran oleh Sai.

"Sial, seseorang baru saja mengerjaiku. Nomor ini bukan nomor Sasuke" gumam Sai mulai mengetik pesan untuk membalas pesan aneh yang diterimanya.

"Uchihaa... san.." seorang gadis melangkah perlahan dari balik TV LCD, entah darimana datangnya.

"Da-da-daree...?" Sai beranjak dari sofa tempatnya tidur, ia berdiri mengambil jarak dari gadis yang muncul tiba-tiba di hadapannya.

"Aku... aku yang mengirimu surat" gadis berseragam sekolah berucap dengan pelan.

"Surat... jangan-jangan kau yang membunuh Kiba dan Shion..." Sai terpojok di tembok apartemenya. Sepulang dari pemakaman, Sai belum pernah memeriksa tasnya. Seandainya Sai memeriksa tasnya maka ia akan menemukan surat warna biru yang sama dengan yang ditemukan oleh Kiba sebelum kematiannya.

"Kau tidak menemukan suratku, bahkan sekarang kau menyebut nama perempuan lain. Uchiha-san,.." gadis tersebut mengambil pisau yang tadi digunakan Sai untuk mengupas buah.

Sai melempari gadis tersebut dengan apa saja yang bisa diraih oleh tangannya, bantal, keramik dan terakhir vas bunga yang melukai kepala gadis yang kini mendekatinya sambil membawa sebuah pisau.

Vas bunga mengenai kepala gadis yang telah membunuh Kiba dan Shion, darah bercucuran dari dahinya menetes perlahan menuruni wajahnya.

"Aku akan membuatmu mati secara menyakitkan, sampai jam 3 pagi aku menunggumu menghubungiku tapi kau tidak menghiraukanku. Aku terluka, Uchiha-san"

"AARRRRGGHHH...!" Sai mengerang kesakitan saat pisau tajam menembus kulit pergelangan tangan kanannya, memutuskan seluruh urat nadinya.

"UCHIHA...APA MAKSUDMU, UCHIHA? Aku bukan dia..." Sai terduduk lemah bersandar di tembok apartemennya, darah mengalir deras dari pergelangan tangan kanannya.

"Kekasihmu juga akan menderita, sebagaimana aku mendertia.."

"AAAARRRGGHHH...!" lagi-lagi Sai berteriak kesakitan saat pisau yang tadinya menyayat nadinya kini menyayat lehernya. Sai tersungkur di lantai, pandangannya mulai kabur, tubuhnya kedinginan kehabisan darah lalu semuanya menjadi gelap. Sai menghembuskan nafas terakhirnya.

Tidak ada surat biru di sekitar jasad Sai karena surat tersebut tidak di temukan Sai. Jika Sai menemukannya, ia pasti akan membuangnya dan pengirimnya akan menemukan surat tersebut. Arwah gadis pembantai tak menemukan suratnya, ia kecewa Sai tidak menemukan suratnya. Ia kembali mengincar seseorang...

.

.

.

Seorang gadis berambut pirang tertidur dengan nyaman dengan balutan selimut hangatnya, jam menunjukkan pukul 03.30, kediaman Yamanaka telah didatangi seseorang yang tidak perlu dibukakan pintu untuk menemui orang yang ingin ditemuinya.

"La...laaa...laaa..." suara pelan yang mengalun dari bibir pucat terdengar di telinga Ino.

Mata aquamarine Ino terbuka, lantunan lagu yang tak jelas masih terdengar di telinganya. Ino dapat merasakan seseorang sedang bernyanyi sambil tertidur disampingnya, degup jantung Ino berdetak tidak karuan, keringatnya mulai bercucuran, air mata Ino perlahan-lahan mengalir dari kedua matanya, Ino ketakutan.

"Pe-pergi, kumohon..." Ino menutup matanya tak berani menatap orang yang sedang mengambang di atasnya, rambut gadis yang telah membunuh Sai menutupi wajah Ino.

"PERRGIIII...!" Ino berteriak histeris.

"Bangun dan temui kematianmu..." jari jari dengan kuku panjang tak terawat mengelus wajah Ino, air mata Ino semakin deras, Ino semakin ketakutan.

"Apa salahku," Ino memberanikan diri berbicara meski ia belum berani membuka matanya.

"Kau telah mengambil orang yang kucintai.." tangan dingin gadis yang telah dibangkitkan oleh Naruto memegang kedua sisi kepala Ino.

"LEPASKAANN...!" tangis Ino semakin menjadi saat ia merasakan kepalanya di pegang.

"AARRGGHHHH...!" dengan sekali gerakan, leher Ino telah dipatahkan.

.

.

.

Gadis berambut pink menggigil pucat, matanya sembab terlalu banyak mengeluarkan air mata saat menatap foto Sai dan Ino diletakkan di atas peti mati, temannya yang lain berusaha menenangkannya. Dua peti mati diisi oleh mayat teman mereka, Sai dan Ino. Ino adalah sahabat baik Sakura, dalam dua hari kelas XII.1 di tinggalkan 4 orang siswanya yang meninggal dengan cara misterius dan sangat tragis.

"Kejadian yang sama, lewat pukul 03.00 a.m. Korbannya sepasang kekasih..." gumam Hinata duduk berdampingan dengan Sasuke dan Gaara.

"Aku menemukan ini.." Naruto berbisik dari belakang memperlihatkan sesuatu.

"Su-surat ini..." Gaara heran, surat yang di pegang oleh Naruto sama persis dengan surat yang ia temukan di laci Kiba.

"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Sasuke.

"Ku temukan di tas Sai, polisi tidak menemukannya saat olah TKP. Kusembunyikan, aku tidak yakin tapi kurasa surat ini mungkin sebuah petunjuk" kata Naruto memberikan surat kepada Hinata.

"Mungkin juga sebuah penyebab" kata Hinata pelan.

"Bukankah surat ini yang ada di TKP Kiba dan Shion, mengapa kembali utuh dan ada di tas Sai?" Gaara kembali terheran-heran.

"Kita harus menyelesaikan misteri ini" kata Hinata menatap horror pada surat yang ada di genggaman tangannya.

"Misteri?" tanya Sasuke, Gaara dan Naruto bersamaan.

Naruto menghampiri Sakura dan Matsuri mengajak kedua gadis tersebut untuk pulang tapi Sakura dan Matsuri menolak, mereka masih ingin tinggal lebih lama di kuil. Naruto tidak bisa melakukan apapun, ia juga tidak bisa memaksa. Dengan menggunakan mobil Sasuke, Hinata, Gaara dan Naruto menuju ke suatu tempat.

"Semua orang yang mengalami kejadian aneh di hari itu terbunuh satu per satu" gumam Hinata yang duduk di jok penumpang depan, disamping Sasuke.

"Maksudmu, hari yang mana?" tanya Gaara.

"Hari disaat aku pingsan" lanjut Hinata.

"Keanehan?" tanya Sasuke.

"Pulpen yang terjatuh, botol air minum yang hilang di tas, pensil yang hilang, kancing baju yang copot..." Hinata mengingat satu per satu kejadian aneh yang menimpa teman-temannya.

"Dasi yang tiba-tiba terlepas" Gaara mengingat kejadian aneh yang dialaminya di hari Hinata pingsan.

"Soal nomor 20 yang hilang..." gumam Naruto,

"Kertas soal yang sobek..." Sasuke juga mengingat kejadian aneh yang dialaminya.

"Kertas soal yang tiba-tiba hilang..." Hinata menunduk menatap kedua tangannya yang mulai berkeringat saat menyebutkan kejadian aneh yang dialaminya.

"Berarti..." Gaara mulai berpikir tentang kesimpulan yang akan terjadi.

"Kita semua juga akan..."Naruto berpikiran sama dengan Gaara.

"Mati..." lanjut Sasuke menepikan mobilnya saat mereka sudah tiba di depan sebuah rumah tempat mereka akan mulai memecahkan misteri sebelum mereka juga menjadi korban.

.

.

.

TBC

Kayaknya ceritanya udah sedikit kebayang gimana-gimananya yaa...

Yang masih nunggu chap depan mana suarannyyyaaa... :v *Hening*