SEVENTEEN POWER COUPLE.

.

.

Kwon Soonyoung.

Lee Jihoon.

.

.

.


Ini sudah lebih dari seminggu semenjak jihoon menjadi salah satu dari bagian divisi marketing shinhwa corporation. Jihoon pun melangkah gontai, menuju ruangan khusus divisi tempat ia bekerja sekarang.

Biarpun tempat yang ia tempati sekarang cukup jauh, setidaknya ia bersyukur akan satu hal. Tak ada yang benar-benar mengetahui bagaimana dirinya dengan baik.

"hyung! Jisoo noona datang!"

Soonyoung yang sedang menghisap batangan nikotin dalam ruangan mereka, langsung mematikannya kedalam sebuah asbak. Tak jauh dari komputernya.

"oh! Jisoo noona! Kau membawa chaeyoung?"

Seorang wanita cantik bersurai hitam pekat yang diikat menyerupai ekor kuda, tersenyum lebar pada soonyoung.

"aish. Orang satu ini. Sudah beberapa kali diingatkan oleh choi sajang, masih saja merokok dalam ruangan. Tak ada kapoknya sama sekali"

Soonyoung terkekeh mendengar gerutuan dari wanita tersebut dan langsung mengambil alih bayi dalam gendongan wanita bernama Kim Jisoo tersebut. Lalu, gelak tawa geli terdengar dari lelaki kelahiran namyangju itu saat tengah bermain dengan gadis kecil dalam dekapannya. Tak menyadari ada sepasang lensa coklat pekat menatapnya dengan tatapan yang tak bisa terjelaskan.

..

..

"oppa"

Soonyoung menoleh pada jaewoo, sepupunya dari tali darah ibu –hanya beberapa yang mengetahui hubungan kerabat keduanya, sekejap lalu kembali terfokus pada jalanan yang tengah ia belah dimalam hari ini dengan Kia K7 miliknya.

"apa?"

"kulihat, kau senang sekali saat jisoo sunbae datang"

Soonyoung terkekeh ringan lalu mengangguk.

"tentu saja. Jisoo noona kan datang dengan chaeyoung"

Jaewoo menyamankan tubuhnya pada kursi penumpang sebelah soonyoung lalu menatap kakak sepupunya itu.

"kupikir, kau masih menyimpan rasa pada jisoo sunbae, oppa"

Soonyoung melirik lalu tergelak.

"apa? Apa yang kau bicarakan?"

"kudengar dari mingyu sunbae, kau menyukai jisoo sunbae"

Soonyoung menggeleng mafhum.

"apa-apaan? Dari mana hoax itu? Kim mingyu sudah beralih profesi menjadi narasumber berita hoax ternyata"

Jaewoo tertawa geli.

"mana ada ceritanya, aku menyukai jisoo noona. Suka pun hanya suka sebatas atasan yang menyukai bawahannya karena pekerjaannya yang bagus"

Jaewoo mengangguk kecil, paham.

"menurutmu, kalau jihoon sunbae, bagaimana?"

Soonyoung melirik jaewoo.

"jihoon? Kenapa dengan jihoon?"

Jaewoo menegakkan tubuhnya.

"ya… bagaimana menurutmu jihoon setelah mengenalnya hampir sebulan ini, oppa?"

Soonyoung mengulum bibirnya. Ia rasa, ini adalah sebuah pertanyaan jebakan. Ya, karena soonyoung sudah mengenal jaewoo, lebih baik dari siapapun selama ia hidup sampai sekarang.

"kau maunya aku menjawab apa?"

Decakan tercipta dari bibir jaewoo. Soonyoung yang menyaksikannya, hanya tergelak ringan dan langsung menarik tuas rem tangan saat mobilnya telah terparkir dengan apik di depan sebuah rumah megah yang dikelilingi oleh tembok batu di ujung gang.

"tinggal jawab saja menurut dirimu"

Soonyoung merangkul sang sepupu yang berbeda 2 tahun dibawahnya itu dengan erat sambil melangkah memasuki pekarangan rumah tersebut.

"kau pasti sudah tahu jawabannya. Kan kau sering bilang tak ada yang mengetahui aku sebaik dirimu"

Mendengar itu, jaewoo mendecih. Menimbulkan tawa geli dari kakak sepupu terdekatnya satu itu. Gagal mendapatkan atas apa yang ingin ia ketahui lebih mendalam.

..

..

"hansol!"

Seorang lelaki bersurai coklat madu menoleh begitu namanya diserukan. Jaewoo yang baru saja masuk kedalam kedai kopi itu, berlari kecil. Mencapai tempat yang diduduki oleh Choi Hansol, lelaki berwajah kaukasian, sahabat kentalnya semenjak sekolah dasar.

"sudah lama? Mana kekasihmu? Kau datang sendiri kesini?"

Hansol menggeleng.

"seungkwan dalam perjalanan. Dia baru pulang semenit yang lalu"

Jaewoo mengangguk paham lalu bangkit untuk memesan makanan.

"jae"

Jaewoo mengalihkan atensinya dari minuman pada hansol.

"kudengar dari soonyoung hyung, di tempatmu ada karyawan baru?"

Jaewoo mengangguk.

"kenapa?"

"apa namanya lee jihoon?"

Mata jaewoo mendelik seketika. Jaewoo pun kembali mengangguk.

"kenapa kau bisa tahu, sol?!"

Hansol menghela nafasnya perlahan sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat duduk. Membuat mata jaewoo menyipit.

"ya. Choi hansol. Kenapa kau—sebentar—"

Hansol menatap jaewoo yang kini sudah membulatkan mata sipitnya.

"jangan bilang kau mengenal jihoon sunbae, sol! Kau satu divisi dengannya di sekang?"

Hansol mengangguk pelan.

"serius?! Woah!"

"aku tahu, aku mungkin tak pantas bercerita ini padamu. Tapi jaga jihoon hyung, jae. Aku tak mau dia mengalami kejadian buruk 2 kali"

Jaewoo mengernyit.

"kejadian buruk?"

Hansol mengangguk.

"kau tahu kenapa jihoon hyung mengundurkan diri dari perusahaan kami, sedangkan dia adalah karyawan teladan?"

Jaewoo mencondongkan tubuhnya, mendekat pada hansol.

"apa alasannya sangat—buruk?"

Hansol kembali mengangguk dengan tatapan nanar.

"jihoon hyung adalah orang yang tertutup. Sangat. Kaku dan idealis. Sampai beberapa waktu, kami mulai merasakan adanya perbedaan dari sifatnya. Ia yang biasanya hanya mau tersenyum tipis, mulai tersenyum lebar. Mulai mau bergabung untuk sekedar makan malam kecil sepulang kantor. Begitu lah. Sampai ada sebuah rumor yang mengatakan kalau jihoon hyung adalah seorang gay. Dan dia berubah menjadi lebih ceria karena dia menjalin kasih dengan salah seorang rekan di departemen kami"

Jaewoo sukses menjatuhkan rahangnya.

"lalu?"

"dan orang yang dirumorkan sebagai kekasih jihoon hyung, mengelak. Membantah tuduhan tersebut dengan balik menuduh jihoon hyung lah yang memaksanya. Bahkan ia bilang kalau jihoon hyung melakukan pelecehan padanya agar ia menjadi kekasih jihoon hyung"

Hansol menjeda ceritanya sembari mengamati wajah kawan kentalnya yang lebih keras dibandingkan tadi. Ia paham, amarah pasti sudah menguasai diri jaewoo.

"Mulai dari situ orang-orang menjauhi jihoon hyung. Bahkan, ada yang terang-terangan mencaci jihoon hyung. Dan tanpa sengaja, saat sehabis rapat, aku mendapati kalau lelaki yang dirumorkan itu tengah memeluk jihoon hyung dan memohon maaf. Dia bilang… kalau dia sengaja melakukan hal tersebut karena ia tak mau dipandang buruk oleh rekan-rekan kami. Itu… benar-benar buruk"

"sialan"

Jaewoo menggeram rendah. Hansol menatapnya dengan senyum getir.

"jihoon hyung tak akan pernah melupakannya"

Jaewoo menatap hansol dengan nyalang.

"apa? Mantan kekasihnya yang brengsek itu?"

Hansol menggeleng lalu menepuk 2 kali pucuk kepala jaewoo.

"bukan. Perlakuan buruk yang ia terima akibat lelaki itu"

Jaewoo memejamkan matanya. Mungkin, kalau lelaki yang diceritakan oleh hansol ada didepannya, ia sudah melayangkan tinjunya pada lelaki brengsek itu. Ia pun mengatur nafasnya yang memburu. Ia benar-benar dikuasai oleh amarah saat ini.

"aku tak menghakimi orientasi jihoon hyung. Tapi, sebagai rekan kerja yang cukup dekat dengannya, aku merasa sangat buruk. Tak bisa berbuat apa-apa saat jihoon hyung dilanda masalah seperti itu"

Hansol mengusak surainya sehingga terlihat berantakan. Jaewoo menatapnya lurus lalu menepuk-nepuk pundak lelaki yang sudah ia kenal belasan tahun itu.

"sol. Kalau pun aku ada di posisimu saat itu, aku yakin. Aku tak bisa melakukan apa-apa juga. Begitu banyak yang menentangnya. Ditambah dengan fakta kalau ia tidak melakukan apa yang lelaki brengsek itu katakan. Kurang sekali bukti yang akan kita tunjukan kalau jihoon sunbae tak melakukan apa yang dibilang pada rumor jahat tersebut"

Hansol menatap jaewoo lalu melemparkan senyuman tipisnya.

"maka dari itu, karena jihoon hyung sekarang ada dekat denganmu, jaga dia. Jangan sampai kejadian itu terjadi lagi"

Jaewoo mengembangkan senyum lembutnya.

"tentu"

"dan rahasiakan ini. Jangan sampai bocor"

"tanpa kau minta pun akan aku lakukan, bodoh"

Hansol tersenyum lebar.

"sepertinya sedang nostalgia ya?"

Seorang wanita cantik bersurai sebatas bahu menyambangi keduanya.

"hai, honey"

Wajah muram hansol, langsung berubah cerah saat wanita tersebut mengambil tempat tepat disebelah jaewoo.

"nostalgia apa. Kau baru pulang?"

Wanita tersebut mengangguk lalu melempar senyum pada hansol.

"kalian menunggu lama ya? Jalanan benar-benar macet parah"

"memang. Makanya aku pakai sepeda juniorku untuk kesini"

Pasangan kekasih itu menatap jaewoo dengan aneh.

"kau akan kembali lagi ke kantor, jae?"

Jaewoo menjawab pertanyaan kekasih hansol, Boo Seungkwan, dengan anggukan.

"aku lembur. Menggantikan salah satu seniorku. Aku diijinkan beristirahat sampai jam delapan nanti oleh soonyoung oppa"

Seungkwan, menyisir surai coklat pekat berpotongan pendek milik jaewoo dengan senyum geli.

"bagaimana bisa kau menggantikan seniormu itu, jae? Kau bertukar shift?"

Jaewoo mengangguk.

"2 hari yang lalu seharusnya aku lembur. Tapi kan aku kerumah sakit, mengantar halmae melakukan check-up"

Seungkwan mengangguk mengerti. Lalu terlibat percakapan ringan dengan kekasihnya dan segera bangkit, menuju meja pemesanan disana.

"ini. Makanlah. Kau sering sekali mengambil jatah lembur. Tubuhmu sudah kurus, terlihat semakin kurus kesini-sini"

Jaewoo menatap bungkusan plastik yang baru saja ditaruh oleh seungkwan dihadapannya, dengan mata yang berbinar. Beberapa makanan ringan bercita rasa gurih dan 2 gelas americanno dingin, tersaji didepannya.

"boo seungkwan memang yang terbaik!"

Seungkwan tergelak geli. Jaewoo tersenyum lalu mengusal pada seungkwan yang sudah ia kenal 7 tahun lalu, semenjak wanita itu dikenalkan oleh hansol sebagai kekasih lelaki kelahiran New York satu itu.

Hansol menggeleng maklum.

"sudah sana, kembali ke kantor. Ini sudah hampir jam 8. Kau tahu bukan soonyoung hyung bagaimana? Biarpun serampangan, ia benar-benar disiplin waktu"

Jaewoo bangkit masih dengan senyum lebarnya dan tangan yang menggenggam erat makanan yang dibelikan oleh seungkwan tadi.

"aku pergi ya. Hati-hati dijalan, kalian"

Hansol melambai kecil saat langkah jaewoo mulai menjauh. Bahkan saat ia akan mengayuh sepeda gunung pinjamannya, ia masih melambai. Seungkwan menggeleng mafhum. Sudah terlampau memahami bagaimana kelakuan kawan sehidup kekasihnya itu.

..

..

Jihoon hampir saja menabrak soonyoung jika saja ia tak segera memberhentikan langkahnya sedetik sebelumnya. Ia pun mendongak, menatap soonyoung yang juga sedang menatapnya dengan pandangan yang dalam. Soonyoung berdeham pelan. Memutuskan kontak mata mereka lalu memutar tubuhnya.

"tolong kalian handle sisanya selama aku disana. Changkyun. Kupercayakan semuanya padamu sementara aku tak ada"

"oh. Aku tahu. Kau pergi sana! Nanti tertinggal kereta"

Soonyoung melambai.

"jae! Jaga dirimu! Jangan mencoba bertukar shift dengan mingyu yang dapat jatah lembur minggu ini"

"cerewet!"

Soonyoung melemparkan kiss-bye pada jaewoo yang langsung dibalas oleh tatapan jijik dari gadis satu itu. Membuatnya tergelak hebat.

Ia pun beralih pada jihoon yang masih bertahan ditempatnya dengan tatapan aneh.

"aku pergi dulu. Jaga dirimu, hoon"

Lalu soonyoung melangkah setelah menepuk pucuk kepala jihoon dengan lembut. Jihoon pun mencapai kubikelnya.

"jae"

Jaewoo yang duduk disebelah jihoon, memanjangkan lehernya, melewati kubikelnya.

"iya, sunbae?"

Jihoon menyeret kursinya, mendekati sekat yang memisahkan kubikelnya dengan milik jaewoo.

"soonyoung, tumben sekali memakai jas. Bukankah hari ini tidak ada rapat dengan sajang-nim?"

Jaewoo diam sebentar, sampai jihoon menatapnya dengan aneh.

"jaewoo?"

Jaewoo mengerjap.

"oh. Itu… opp—ah. Soonyoung sunbae ada tugas dinas ke busan. Katanya disuruh menangani masalah pemasaran produk di anak cabang sana, sunbae"

Jihoon mengangguk paham.

"berapa lama, jae?"

Jaewoo terlihat menghitung dengan tangannya.

"mungkin—2 minggu? Bisa juga lebih, sunbae. Ada apa memangnya?"

Jihoon sedikit tersentak dan lantas menggeleng.

"hanya ada dokumen yang harus kuperlihatkan padanya"

Jaewoo membeo.

"kalau itu, kau bisa meminta bantuan pada changkyun sunbae. Soonyoung sunbae sudah mengerahkan tanggung jawabnya pada changkyun sunbae, sementara ia ke busan"

Jihoon mengangguk lagi.

"baiklah"

Lalu menyeret kursinya. Menghadap meja kerjanya lagi. Tak memperhatikan bahwa sinar tatapan jaewoo berubah padanya, setelah ia menjauh dari sekat mereka.


Seluruh divisi dan kegiatan dalam pekerjaannya, asli karangan. Saya belom paham dengan dunia kantoran, hehehe. Maafkan jika sikap berikut sifat mereka, saya buat jadi keluar dari karakter mereka yang sebenarnya hehehe. Tidak ada maksud begitu, karena ini hanyalah dunia imajinasi saya.

Mohon dimaklumi jika ada kesalahan dalam penulisan maupun pemilihan katanya. Kritik dan saran diperlukan agar menjadi cerminan diri saya untuk kedepannya agar lebih baik.

.

.

Nantikan kelanjutan dari cerita ini /itupun kalo ada yang nungguin. /Gede rasa amat lu coeg/

hehehe