25 Days in December

Disclaimer :Vocaloid, Yamaha

Warning! Typo dimana-mana, Bahasa berantakan, EYD kacau…

.

.

Well… \(^w^)/

.

.

Happy Reading!


2ndDecember


"Gumi..."

Gumi berusaha membuka kedua matanya. Ia mendengar suara yang sangat dirindukannya saat ini. Saat ia membuka kedua matanya, ia mendapati kekasihnya, Yuuma. Gumi tengah tertidur dipangkuan Yuuma.

"Yuuma?"

"Ohayou, Gumi..."

Gumi sangat terkejut melihat Yuuma yang tengah tersenyum padanya, spontan Gumi langsung bangun lalu ia memeluk Yuuma dan mendekapnya sangat erat. Dada Gumi terasa sangat sakit, ia menangis sambil memeluk Yuuma. Namun Yuuma hanya membelai pelan kepala Gumi.

"Gumi.. Ayolah, jangan menangis lagi.."

"Ta-tapi Yuuma... Aku sangat rindu padamu!Aku tidak mau kehilangan kamu lagi!"

"Gumi, kau tidak akan kehilangan aku kok.."

Gumi melepaskan pelukannya dan menatap tepat kearah kedua mata emas milik Yuuma. Yuuma lalu tersenyum pada Gumi dan ia menyeka air mata dikedua mata Gumi.

"Be-benarkah, Yuuma?"

"Hmmm... Aku akan selalu berada disini.. didalam hatimu.."

Yuuma seraya menunjuk dada Gumi tepat di jantung Gumi. Gumi sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh kekasihnya itu, Gumi menatap Yuuma dengan tatapan bingung dan seolah menuntut Yuuma untuk menjelaskan apa maksud perkataannya tadi.

"Gumi... Aku senang sekarang kau bisa tertawa bersama orang lain.."

"Ta-tapi itu tidak sebahagia saat aku bersamamu, Yuuma... Kenapa kau meninggalkanku? Hiks.. kenapa kau harus pergi ke tempat yang tidak bisa kujangkau? Hiks.. hiks.."

"Gumi, jangan menangis... Aku memang harus pergi, itu sudah takdirku.."

"Ta-tapi..."

Yuuma menempelkan jari telunjuknya di bibir Gumi. Yuuma lantas menggelengkan kepalanya. Yuuma tidak ingin Gumi membantahnya dengan argumen apapun. Yuuma lalu tersenyum pada Gumi. Yuuma memang selalu begitu setiap kali ia bersama Gumi, ia lebih banyak tersenyum saat mereka berdua sedang bersama. Dan itulah yang paling di sukai oleh Gumi dari Yuuma.

"Ngomong-ngomong Gumi, gomen.." guman Yuuma.

"Kenapa, Yuuma?"

"Aku membiarkan kamu kedinginan tadi, bahkan Akaito jadi semakin memperhatikanmu. Aku cemburu loh..."

Yuuma berbicara dengan nada menggoda Gumi. Ia juga memanyunkan bibirnya, bahkan Gumi dapat melihat pipi Yuuma yang sedikit memerah. Gumi lantas mengacak-acak rambut merah muda Yuuma dengan lembutnya.

"Tidak ada yang bisa menggantikanmu Yuuma..."

"Benarkah, Gumi?" wajah Yuuma tampak sedikit sedih.

Ekspresi wajah Yuuma membuat Gumi bingung. Ia tidak mengerti kenapa Yuuma bisa memasang ekspresi seperti itu, apa Yuuma tidak percaya pada Gumi lagi itulah yang dipikirkan Gumi. Mereka duduk berhadapan diatas kasur Gumi. Tiba-tiba Yuuma menatap jam digital dimeja Gumi yang menunjukan pukul 04.45 a.m. Ia lalu tersenyum dengan manisnya pada Gumi.

"Saatnya pergi Gumi.. Jaa naa..."

"Eh? Yuuma?"

Yuuma turun dari kasur Gumi dan berjalan menuju balkon kamar Gumi. Cahaya yang sangat terang menerangi kamar Gumi dari luar balkon kamar itu. Saat Gumi mengejar Yuuma dan tangannya hendak menggapai Yuuma...

BIIP! BIIP! BIIP! BIIP!

Gumi membuka kedua matanya. Ia menatap kesekelilingnya, ia tampak kebingungan. Tubuhnya berkeringat, kedua matanya basah karena air mata dan nafasnya tersengal. Jam digital Gumi masih saja berbunyi, Gumi hanya menatap jam itu. Ia lalu duduk dan mematikan alaram jamnya itu. Ia menutupi wajahnya lalu ia menyibak rambutnya dengan kedua tangannya.

"sakenda yo!" batin Gumi.

Ia menatap kearah jendela kamarnya. Ia teringat akan mimpinya tentang Yuuma semalam. Ia lalu berjalan mendekati jendela kamarnya, ia membuka gorden jendela kamarnya dan menatap cahaya matahari yang mulai tampak dikejauhan.

"Yuuma, apa maksudnya mimpi itu? Kenapa kau tampak sedih?"

Gumi lalu menoleh kearah meja belajarnya. Ia mendapati handphonenya bergetar, tampaknya seseorang telah mengiriminya pesan. Gumi segera membaca pesan itu, pesan itu dari Luka!

"Gumi, nanti aku pinjam buku catatanmu ya? Oke?! Luka."

Gumi meletakan kembali handphonenya dan berjalan menuju kamar mandi. Mimpi Gumi semalam benar-benar terasa begitu nyata baginya. Ia merasa senang karena ia dapat bertemu dan berbicara lagi dengan orang yang sangat ia cintai, Yuuma.

"Kalau saja itu bukan mimpi..." batin Gumi.


Gumi sudah bersiap, tidak lupa ia membersihkan kaca kacamatanya. Ia lalu keluar dari kamar dan berjalan menurunu tangga.

"Ah, Gumi.. Kau sudah bangun? Ini bekalmu dan bekal Akaito-kun."

"Eh? Bekal Akaito?"

"Kau kemarin membawa pulang kotak bekal Akaito! Ibu mencucinya kemarin saat ibu melihatmu dikamar, tapi kau sudah tidur."

Gumi menepuk dahinya, tampanya ia benar-benar lupa dengan kotak makan milik Akaito itu. Ia segera mendekati ibunya dan menerima dua kotak bekal dari ibunya. Gumi hanya bisa tertawa saat ibunya sedikit memarahinya.

"Hehehe... Gomen nee, Okaa-san..."

"Hah.. sudahlah, hati-hati dijalan.."

"Hai..."

Tidak lupa Gumi mengecup kedua pipi ibunya, lalu ia mengenakan sepatunya dan berjalan keluar dari rumah. ia menggunakan syal warna putih, ia memasukan syal merah milik Akaito didalam tasnya. Ia ingin mengembalikan syal serta kotak bekal milik Akaito tepat pada pemiliknya.

Udara terasa semakin dingin hari ini. Musim dingin benar-benar telah tiba. Gumi berjalan sedikit lambat dari biasanya, ia berjalan sambil melamun. Ia memikirkan banyak hal, tentang Akaito, tentang Yuuma serta tentang ujian yang akan dihadapinya besok, belum lagi ia harus latihan drama untuk pentas seni 18 Desember yang akan datang.

"Gumi-san!"

Gumi mendongak, ia mendapati Piko tengah berlari menghampirinya, ia berlari dari arah yang berlawanan. Gumi mengedip-kedipkan kedua matanya dengan sedikit cepat. Ia tidak menyangka ia akan bertemu dengan Piko sepagi ini.

"Eh? Pi-piko-kun?"

"Ohayou, Gumi-san.."

"O-ohayou..."

"Bareng yuk? Len dan Rin sudah berangkat sejak tadi.. Hehehe..."

"Ah.. i-iya.."

Mereka berjalan berduaan. Piko terus-terusan bercerita mengenai ia dan Kagamine bersaudara. Bahkan ia juga memberi tahu Gumi tentang kelasnya, 2-3. Ia bercerita dengan penuh semangat, bahkan tampaknya udara dingin tidak mengusik laki-laki berambut perak dengan mata hijau itu.

"Oh iya, Gumi-san... Aku ingin tahu ceritamu.. Maukah kau menceritakannya padaku?"

DEG!

Gumi menekan dadanya, ia tidak tahu apa yang harus ia ceritakan pada Piko. Yang ia tahu hanyalah semua cerita tentang ia dan Yuuma, kekasihnya yang telah meninggal dunia itu. Gumi menunduk dalam, Piko juga dapat merasakan aura 'suram' dari arah Gumi.

"Aku anak tunggal dari keluarga Yoshikuni. Ayah dan Ibuku sudah bercerai sejak aku berumur 7 tahun. Dan aku sekarang hanya tinggal bersama ibuku."

Piko sama sekali tidak menyela perkataan Gumi, ia mendengarkan dengan seksama apa yang akan diucapkan oleh Gumi.

"Go-gomen nee..."

"Ahaha.. tidak apa kok, itu sudah cerita lama. Jadi aku sudah tidak apa..."

"Jangan bohong! Walau itu sudah lama, tapi rasa sakit itu selalu kau pikul kan?"

Tanpa pikir panjang Piko mengusap-usap pelan kepala Gumi. Gumi sedikit terkejut, itu adalah hal yang selalu dilakukan oleh Yuuma padanya saat ia sedang sedih. Tangan Gumi dengan cepat mencengkram tangan Piko, ia menatap lurus kearah Piko.

"Yu-yuuma!" teriak Gumi.

"Eh?" Piko terkejut.

Piko semakin terkejut melihat kedua mata Gumi yang berair. Piko langsung terlihat bingung, ia tidak tahu apa yang telah ia lakukan sampai membuat Gumi menangis. Tiba-tiba Gumi sadar bahwa orang yang bersamanya ini bukanlah Yuuma melainkan Piko, Utatane Piko! Gumi segera melepaskan tangan Piko dan berlari meninggalkannya seorang diri.

"Tu-tunggu!" teriak Piko.

Walau ia mendengar teriakan Piko, ia sama sekali tidak menoleh ataupun berhenti. Gumi terus berlari dan membiarkan Piko yang kini terlihat seperti orang ling-lung dikejauhan. Piko juga hanya bisa menatap sosok Gumi yang semakain menjauh darinya, menjauh dari jangkauan tangannya.

"A-apa yang telah kulakukan?" Piko kebingungan.

Ia menatap bingung kearah tangannya yang ia gunakan untuk mengusap-usap kepala Gumi. Ia merasa aneh saat mengusap kepala Gumi.

"Lembut..." pikir Piko.

"Jadi ingin menyentuhnya lagi..." Guman Piko pelan.

Ia berjalan sambil bersiul senang.


"Haah.. haah..."

Nafas Gumi tersengal. Ia dari tadi berlari, dan ia baru saja berhenti berlari ketika ia sudah mencapai gerbang sekolah. Nafasnya terasa semakin berat dengan udara dingin disekitarnya. Ia merasa sangat capek.

"Haah... haah... A-aku harus kembali ke kelas.." batin Gumi.

Ia mulai merapikan seragamnya dan juga rambutnya yang sedikit berantakan. Setelah merasa cukup rapi ia mulai masuk ke dalam gerbang sekolah. Dari kejauhan ia melihat seorang gadis berambut merah muda. Gadis itu sangat mirip dengan Yuuma. Gumi mempercepat langkahnya, ia ingin sekali menyapa gadis itu.

"O-oha..."

Belum sempat Gumi bicara, gadis berambut merah muda itu sudah menoleh kearahnya. Dan dengan cepat gadis itu mengalihan pandangannya dari Gumi, ia bahkan terlihat mempercepat langkahnya. Tampaknya ia tidak ingin bertemu ataupun bicara dengan Gumi.

"Mi-mizki... kenapa kau begitu padaku?" Gumi terdengar lirih.

Ia kemudian meneruskan langkahnya menuju loker sepatunya. Gumi pun mengganti sepatunya, lalu ia berjalan ke kelasnya dengan wajah muram.

"Gumi! Aku pinjam catatanmu!" Luka berlari mendekati Gumi.

"..." Gumi terdiam.

"Gu-gumi?"

Gumi berjalan melewati Luka dan ia duduk dibangkunya sendiri. Gumi hanya membuka tasnya dan menyerahkan buku catatannya pada Luka tanpa bicara sepatah katapun. Ia terlihat lebih muram dari sebelumnya. Tentu saja, itu semua karena Mizki. Fujioka Mizki, adik perempuan Yuuma, ia masih marah pada Gumi bahkan setelah 6 bulan berlalu. Mizki menyalahkan Gumi atas apa yang telah menimpa kakaknya, Yuuma.

"Apa dia pikir hanya dia yang kehilangan? Apa dia tidak tahu kalau aku juga merasa sangat kehilangan Yuuma?" pikir Gumi.


Selama jam pelajaran berlangsung, Gumi sama sekali tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh gurunya. ia hanya duduk bertopang dagu sambil menatap keluar jendela. Ia tampak seperti mendengarkan apa yang dikatakan oleh gurunya.

Dari jendela kelasnya, Gumi dapat melihat dengan jelas seluruh lapangan yang ada disekolahnya. Ia dapat melihat beberapa anak berlarian disetiap lapangan. Bahkan ia juga dapat melihat anak-anak yang tengah bermain atau hanya sekedar nongkrong diluar kelas.

"Baiklah, bapak akan membagikan kartu ujian kalian. Bapak harap kalian belajar dengan sungguh-sungguh!"

Tatsumi-sensei mulai memanggil satu per satu nama murid kelas 2-2. Hingga tiba saatnya beliau memanggil nama Gumi, tapi Gumi sama sekali tidak menghiraukan panggilan gurunya itu. Bahkan walau Luka dan Miku sudah berusaha memberitahu Gumi, ia sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Kedua matanya sedang tertuju pada seseorang yang sedang duduk dibawah pohon diseberang kelasnya itu.

"Megupoid Gumi!" Teriak Tatsumi-sensei.

"I-iya pak?!" Gumi tersadar dari lamunannya.

Saking terkejutnya Ia bahkan sampai berdiri dari bangkunya. Teman-teman sekelas Gumi mentertawakan Gumi. Wajah Gumi jadi memerah karenannya. Ia segera berjalan menuju gurunya dan mengambil kartu ujiannya. Saat ia kembali duduk dibangkunya, seseorang yang ia lihat tadi tengah menatap kearahnya. Orang itu melambaikan tangannya pada Gumi. Gumi hanya mendesah pelan, dan tidak membalas lambaian tangan orang itu.

"Dasar Piko, Apa sih maunya?" batin Gumi.

Tatsumi-sensei selesai membagikan kartu ujian. Ia segera meninggalkan ruang kelas dan mengizinkan murid-muridnya untuk pulang dan belajar. Gumi membereskan bukunya dengan sangat malas, ia masih belum mau pulang. Biasanya kalau ia malas ia akan pergi jalan-jalan bersama Yuuma. Tapi sekarang ia tidak tahu harus kemana jika ia malas pulang seperti ini. Belum lagi ini baru pukul 09.00 a.m.

"Gumi, ayo pulang.." Luka menunggu Gumi didekat pintu kelas.

"Hmm.. Kalian memangnya mau langsung pulang?" Gumi berjalan mendekati Luka dan Miku.

"Mungkin. Memangnya kau mau kemana, Gumi-chan?"

"Aku malas pulang, Miku-chan.."

Tiba-tiba Akaito dan gakupo berjalan mendekati ketiga gadis itu. Mereka berdua tampak sangat bersemangat. Gumi menatap wajah Akaito, wajah Akaito tampak sangat merah. Gumi langsung teringat akan kotak bekal Akaito yang dibawakan oleh ibunya tadi. Ia segera mengeluarkan kotak bekal itu dan menyerahkannya pada Akaito.

"A-akaito-kun, ini bekal untukmu. Ibuku yang membuatkannya.." Gumi tersenyum pada Akaito.

"..." Akaito terdiam.

"Dan ini... syalmu, terima kasih.."

Gumi mengeluarkan syal merah milik Akaito yang ia simpan dalam tasnya. Diberikannya syal itu pada Akaito. Ia tersenyum didepan Akaito dengan santainya. Akaito terkejut melihat senyuman Gumi, rasanya sudah lama ia tidak melihat Gumi benar-benar tersenyum seperti tadi.

"Gu-gumi..." guman Akaito.

"Iya ada apa, Akaito-kun?"

"gak kok.. err.. ngomong-ngomong besok jadwalnya apa?"

"Hmmm, etto... Geografi sama Kimia"

Akaito merasa sangat bodoh didepan Gumi. Ia bahkan tmenggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal didepan Gumi. Gakupo, Luka dan Miku yang melihat kelakuan mereka berduapun menahan tawa. Tiba-tiba Miku menepuk bahu Akaito dari belakang.

"Eh?"

Akaito tampak terkejut. Miku hanya tertawa kecil melihat ekspresi wajah Akaito, ia lalu mengalihkan pandangannya ke Gumi.

"Gumi-chan, kau bilang kau malas pulang?"

"Hmmm... Aku lagi nggak ada kerjaan soalnya. Kenapa?"

"Kenapa kau tidak pergi bersama Akaito saja? Kalian bawa bekal yang sama, kan?" Miku menyeringai.

"Eh? Eh?Heeh?" Akaito terlihat kebingungan.

Gumi tampak berpikir. Ia bahkan menyilangkan kedua tangannya. Ia menatap Akaito dari atas kebawah, lalu ia menatap syal merah Akaito. Ia meminta kembali syal itu dan memakaikannya pada Akaito.

"Ayo kita cari tempat piknik yang pas.." Gumi berjalan duluan.

"PIKNIK?!" Luka, Miku, Gakupo dan Akaito bersamaan.

Mereka sangat terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Gumi. Sekarang sudah bulan Desember, dan udara sudah semakin dingin. Tapi kenapa Gumi mengajak Akaito pergi piknik? Bukankah aneh jika kau piknik di musim dingin?

"Memangnya salah?"

"Gu-gumi-chan, tentu saja itu salah... Ini sudah bulan Desember.."

"Memangnya kenapa, Miku-chan?"

"Miku benar, Gumi. Bukankah umumnya orang piknik pada musim panas?"

"tapi, Luka..."

Gumi memanyunkan bibirnya. Ia tampak begitu kesal. Melihat wajah Gumi yang tampak begitu lucu membuat Akaito tertawa, ia bahkan sampai memegangi perutnya. Kini giliran Akaito yang menjadi pusat perhatian keempat temannya.

"Hahaha... gomen.. gomen.. hahaha..."

"Akaito? Kau baik-baik saja?" Gakupo mendekati sohibnya yang masih tertawa itu.

"Hahaha.. iya, aku baik-baik saja.. Sudahlah, Gumi-chan. Jangan buat wajah seperti itu lagi, ayo kita pergi piknik.." Akaito tersenyum pada Gumi.

"HAH?" Kini hanya Gakupo, Luka dan Miku saja yang terkejut mendengar ucapan Akaito.

Mereka tahu kalau Akaito menyukai Gumi. Itu sudah menjadi rahasia umum, bahkan mereka juga sudah tahu sejak kapan Akaito menyukai Gumi. Jujur saja itu sangat menyakitkan saat melihat Akaito yang selalu berjuang untuk Gumi, tapi Gumi sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan setelah Yuuma meninggal, Akaito tidak bisa merebut tempat Yuuma dihati Gumi.

"Baiklah, kalian bertiga ikut juga kan?" Gumi tampak ceria.

Gumi menatap Luka, Miku dan Gakupo. Mereka bertiga menggaruk kepala mereka masing-masing yang tidak gatal. Mereka hanya meringis tidak jelas tanpa menjawab pertanyaan Gumi.

"A-aku harus membantu ibuku dirumah, Gu-gumi-chan.."

"A-aah, A-aku ingat aku harus membeli sesuatu di supermarket ..."

"Hmm.. Akaito, ka-aku tau, Aku arus mengurus Shiro, anjingku.."

Mereka bertiga tampak begitu bingung. Bahkan mereka sampai melakukan gerakan yang aneh-aneh. Mereka bertiga lalu saling memandang dan mengangguk bersamaan.

"Jaa naa!" Mereka bertiga bersiap berlari.

Tapi Akaito dan Gumi lebih cepat dari mereka bertiga. Gumi berhasil menangkap kerah baju Luka dan Miku, sedangkan Akaito berhasil meraih leher Gakupo dan merangkul leher Gakupo itu.

"Kau mau kabur ya?" Akaito tampak sedikit menyeramkan.

"Huaaa.. Ayolah, Akaito! Jangan libatkan kami jika kalian ingin kencan! Dan kami memang harus melakukan apa yang kami katakan tadi!" Gakupo sedikit menangis.

BLUUUSH!

Wajah Akaito dan Gumi memerah bersamaan. Mereka lalu melepaskan teman-teman mereka. Akaito sesekali melirik kearah Gumi, sedangkan Gumi hanya menunduk. Gumi tampak gemetaran, ia mengepalkan kedua tangannya. Bahkan air mata menetes dari kedua mata Gumi. Akaito tampak khawatir, ia ingin menyentuh pundak Gumi.

"Gumi-chan, kau tidak apa?"

Akaito mengulurkan tangannya, namun...

PLAAAK!

Gumi menampar tangan Akaito.

"A-akaito memang penting bagiku. Tapi, Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat baikku saja! A-aku tidak mau merusak hubungan itu!"

Ia lalu mendongak dengan wajah basah dan memerah.

"Dan kalian salah jika menganggap ajakanku ini kencan! Bagiku hanya Yuuma, hanya dia yang bisa mengisi hatiku! Ingat itu!"

"Gu-gumi-chan..."

Gumi berlari meninggalkan keempat temannya. Ia tidak melihat arahnya berlari. Yang ia tahu hanya ia ingin lari, lari dan lari. Ia ingin berlari menjauh dari tempat itu saat ini. Ia ingin segera pulang dan tertidur, agar ia dapat bertemu dengan Yuuma. Ia selalu berharap jika kematian Yuuma hanyalah mimpi buruknya, dan ketika ia bangun Yuuma akan tersenyum disampingnya. Namun semua itu hanyalah harapan kosong yang tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya.

BRUUUK!

Gumi menabrak seseorang. Ia jatuh menimpa seseorang yang ditabraknya.

"Aduh! Go-gomenasai.."

"Iie, nandemonai... Eh, Gumi-san?"

Gumi menyadari siapa orang yang telah ditabraknya itu. Dia adalah Utatane Piko. Lagi-lagi Gumi bertemu dengan laki-laki berambut perak ini. Gumi mencoba untuk bangun dari atas tubuh Piko. Ia segera membungkuk dan meminta maaf sekali lagi padanya.

"Gomenasai, Piko-kun.."

"Hahaha.. Gak apa kok. Memangnya kenapa kau berlari seperti itu?"

"A-aku..." Gumi tampak kebingungan.

Ia bahkan terdiam cukup lama. Piko hanya tersenyum padanya lalu ia mengusap-usap kepala Gumi dengan lembutnya.

"Kau tidak perlu menceritakannya jika kau tidak mau... Eh? Tanganmu berdarah!"

"Eh?" Gumi menatap tangannya, benar saja tangannya terluka dan mengeluarkan darah.

"Haduh! Kau ini seorang gadis! Jaga baik-baik dong, sini aku obati."

Piko mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Itu adalah sebuah plester bermotif kucing. Dengan sigap Piko menempelkan plester itu ke tangan Gumi yang terluka.

"Nah, sudah! Nanti sampai rumah kau harus segera mengobatinya ya?" Piko tersenyum pada Gumi.

"Ba-baik.." jawab Gumi pelan.

Gumi menundukan kepalanya. Ia tidak mau jika Piko atau siapapun melihat wajahnya yang memerah saat ini. Ia merasa sangat malu karena jatuh dan terluka seperti itu. Ia seperti anak SD saja! Itulah yang ia pikirkan. Melihat Gumi menunduk membuat sesuatu dalam diri Piko ingin menyentuhnya lagi. Ia mengusap-usap kepala Gumi sambil tertawa senang.

"Aneh ya, Gumi-san... Rambutmu begitu enak untuk disentuh.. Daisuki!"

Dari kejauhan tampak Akaito yang sedang berlari. Ia berlari dengan wajah kebingungan, ia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah ia sedang mencari sesuatu. Keringat menetes dari setiap helai rambutnya, nafasnya yang tampak begitu berat dan bajunya tampak sedikit berantakan. Mungkin semua itu karena ia telah berlari sedari tadi.

Tiba-tiba kedua mata Akaito tertuju pada dua orang yang berada tidak jauh darinya. Seorang berambut perak dengan mata kehijauan dan juga seorang gadis berambut hijau pendek tengah berduaan. Mereka tampak begitu dekat hingga membuat Akaito merasa marah dan cemburu.

Akaito segera berlari mendekati kedua orang itu. Ia bahkan menarik tangan Piko yang mengelus-elus kepala Gumi. Ia menatap Piko dengan tatapan marah. Gumi terkejut melihat ekspresi wajah Akaito yang seperti itu. Sudah lama ia tidak melihat Akaito semarah itu saat berada di depannya.

"Teme! Apa yang kau lakukan padanya?!"

Akaito berteriak pada Piko. Tangannya masih mencengkram kuat tangan Piko tadi.

"Eh? A-aku tidak tahu... apa yang kau maksudkan, Akaito-kun..."

"Kamu nggak perlu pura-pura!"

Akaito kini sudah menarik kerah baju Piko. Ia benar-benar terbakar emosi karenanya. Akaito mulai melepaskan Piko, lalu ia menoleh ke arah Gumi. Ia menggenggam lembut tangan gadis berambut hijau itu.

"Gumi, Ayo!"

Gumi hanya menurut saja saat Akaito menariknya. Ia mengikuti kemana pun Akaito membawanya pergi. Ditengah udara yang dingin, Gumi merasakan sebuah kehangatan yang menjalar dari tangannya. Ia sudah mengenal Akaito sejak lama. Tapi Gumi tidak pernah merasakan hal yang spesial darinya. Bagi Gumi, Akaito adalah sahabat terbaiknya. Ia benar-benar tidak mau merusak hubungan itu.


"Akaito-kun? Ke-kenapa kita ketempat ini?"

"Hmmm? Bukankah mengajakku piknik? Kita pernah ke tempat ini bersama Yuuma setahun yang lalu, kan?"

Akaito berjalan mendekati sebuah ayunan. Ia dan Gumi kini berada disebuah taman bermain didekat kompleks perumahan Gumi. Tempat itu terasa begitu sepi dan sunyi karena angin dingin yang sedari tadi tidak berhenti berhembus.

"Gumi-chan, kemarilah.." Akaito melambaikan tangannya.

"Ha-hai'..."

Gumi pun berjalan mendekati Akaito. Ia duduk di ayunan yang berada disebelah Akaito. Mereka berdua mulai berayun-ayun pelan di atas ayunan itu. Akaito tampak menatap langit sedari tadi. Ia masih memikirkan apa yang dikatakan Gumi tadi dan apa yang ia lihat. Ia takut jika ia harus bersaing lagi dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Ia sudah cukup menderita saat melihat Gumi bersama Yuuma. Ia tidak mau Gumi bersama orang lain lagi.

"Ayo kita makan, Gumi-chan.." Akaito mengeluarkan kotak bekalnya.

"Hmmm..." Gumi mengangguk pelan.

Gumi dan Akaito mengeluarkan kotak makan mereka.

"Itadakimasu..." Gumi mulai menyantap makannannya.

"Itadakimasu..."

Akaito terdengar lesu. Ia bahkan tidak menyentuh makannannya sama sekali. Tiba-tiba saja ia tersenyum masam.

"Biasanya kita bertiga yang datang kemari.." guman Akaito.

Gumi menoleh kearah Akaito. Ia berhenti makan dan meletakkan sumpitnya diatas kotak bekalnya. Ia sangat mengerti tentang apa yang tengah dibicarakan oleh Akaito. Akaito sedang membicarakan Yuuma.

"Dan kau selalu berada diayunan tengah, kau selalu berada diantara kami, Gumi-chan..."

"Ya.. Aku memang selalu berada diantara kau dan Yuuma, Akaito-kun.."

"Bahkan setelah Yuuma pergi, kau tetap berada diantara kami.."

Gumi menoleh kearah Akaito. Kedua mata Akaito tengah menatap lurus kearah Gumi. Kedua mata Akaito memancarkan sebuah kesedihan yang mendalam. Bahkan kedua mata merah itu tampak berair.

"Bisakah kita tidak membicarakan ini lagi?" Gumi menunduk dalam.

"Apakah Aku benar-benar tidak memiliki kesempatan sama sekali?"

DEG!

Gumi merasakan sebuah tekanan yang berbeda. Ia merasa seolah sesuatu yang sangat berat menimpa hatinya. Perasaannya menjadi sangat tidak enak dengan perkataan Akaito barusan. Gumi bahkan tidak cukup berani untuk menatap wajah Akaito saat ini. Ia semakin menundukan kepalanya.

"Go-gomen, A-akaito-kun..." jawab Gumi lirih.

Kedua tangan Gumi mengepal meremas rok sekolahnya. Ia merasa bahwa ia telah sangat jahat pada Akaito dan Yuuma. Bahkan Gumi tidak menyadari Akaito juga tengah mengepalkan tangannya dan bersiap melayangkan tinjunya pada tiang besi yang ada didekatnya.


"Tadaima.."

Piko berjalan masuk kedalam sebuah toko ramen. Toko itu terlihat sangat ramai walau masih sepagi ini. Piko melirik kearah jam tangannya.

"Baru jam 12 ternyata. Kupikir ini sudah siang.." batin Piko.

"Oh, Piko.. Okaeri.. Tidak biasanya kau pulang jam segini?"

Ibu Piko mengintip dari dapur toko. Ia menggunakan sebuah celemek dan ikat kepala. Serta di kedua tangannya tampak dua buah mangkuk yang berisikan ramen matang. Piko segera berjalan mendekati Ibunya. Sesekali ia tersenyum pada pengunjung toko ramennya itu.

"Hmmm... Besok Ujian, jadi Kmi pulang lebih awal bu.." Piko tersenyum pada ibunya.

"Oh iya Piko, tolong segera ganti pakaianmu dan bantu ibu.."

"Baik, bu.."

Piko berjalan menuju dapur. Ia berjalan menuju sebuah pintu yang menghubungkan toko dengan rumahnya. Ia berjalan terus hingga mendekat pada sebuah tangga turun dan ia mulai menuruni tangga itu. Tangga itu berakhir pada sebuah pintu, pintu itu terlihat bergitu bersih dan juga tempat itu tidaklah gelap seperti pada umumnya.

Miko membuka pintu ruangan itu. Ia menaruh tasnya di atas sebuah meja yang sediki penuh dengan buku. Beberapa buku milik Piko tersusun rapi diatas meja belajarnya itu. Piko mulai melepaskan dasinya perlahan, dalam kepalanya muncul bayang-bayang akan gadis berambut hijau yang baru mengenalnya kemarin.

"Megupoid Gumi.. Dia benar-benar menarik." batin Piko.

Dalam kepala Piko muncul bayangan akan wajah sedih Gumi tadi pagi. Ia juga ingat bagaimana pertama kali ia menyapa Gumi kemarin. Piko terus membayangkan Gumi sambil mengganti pakaiannya. Setelah selesai berganti pakaian, Piko langsung bergegas keluar dari kamarnya.

CKLEK!

Piko menutup pintu kamarnya perlahan. Ia berbalik sambil tersenyum senang.

"Padahal aku hanya ingin tahu namanya karena Len bilang gadis itu selalu memandangnya dengan tatapan ingin memangsa... Tapi setelah Aku bicara dengannya, Aku malah jadi ingin terus bicara dengannya... Aneh.." batin Piko.

Ia berjalan menuju dapur. ia lalu tersenyum senang saat ia melihat ibunya yang tengah memasak ramen pesanan pelanggan mereka. Melihat anak lelakinya tiba-tiba tersenyum padanya, Ibu Piko menatap dengan heran.

"Pi-piko? Kau kenapa?"

"Ah, Okaa-san! Aku hanya merasa senang saja.."

"Hah.. sudah cepat pakai celemekmu, dan bantu ibu melayani pesanan.."

"Hai'.. hai'..."

Piko berjalan mendekati celemek yang tergantung di dinding dekat pintu. Ia segera menggunakan celemek itu dan berjalan keluar dari dapur. ia tersenyum ramah pada setiap pengunjung. Ia berjalan mendekati pengunjung yang baru datang dan menawarkan menu ramen tokonya.

SRAAAK!

Seseorang membuka pintu toko Ramen Piko. Ia seorang laki-laki yang cukup tinggi, ia menggunakan seragam SMA yang sama seperti milik Piko. Rambut coklatnya yang berkibar tertiup angin. Piko menoleh kearah pintu dan sedikit berteriak.

"Irrashaimase! Ah, Hiyama-senpai! Tumben kau kemari? Sendirian?"

Piko berlari mendekati laki-laki itu. Laki-laki itu lalu melepaskan kacamatanya yang berembun dan membersihkannya. Ia berjalan mendekati Piko sambil membersihkan kacamatanya, setelah kacamatanya bersih ia memasang kacamatanya itu.

"Ah, Piko. Well, aku sedang ingin sendiri.. karena lapar aku jadi ingin makan ramen buatan ibumu.."

"Ahaha.. Sepertinya kau sedang sedih senpai! Ya sudah, ramen yang biasanya kan?"

"Hmm.. Arigatou.."

Piko mengantar Kiyoteru menuju sebuah bangku yang masih kosong. Ia lalu berlari menuju dapur dan meneriakan pesanan Kiyoteru. Tidak lupa Piko membuatkan minuman hangat untuk Kiyoteru. Kedua wajah Piko tampak sangat berseri, itu semua karena orang yang ia kagumi sekarang datang ke tempatnya.

Piko selalu mengagumi Kiyoteru sebagai sosok kakak laki-laki yang kuat, cerdas dan bisa diandalkan. Bahkan Kiyoteru sering membantunya jika ia dalam masalah sejak kecil. Piko tidak dapat melupak jasa-jasa Kiyoteru yang sudah merubahnya menjadi lebih tegar saat ini.

"Senpai! Ini, kubawakan kopi hangat untukmu.."

"A-arigatou.."

"Senpai, ceritakan padaku apa yang terjadi padamu... Hihihi.." Piko tertawa senang.

"Ahaah.. Sepertinya kau senang melihatku menderita, Piko?"

Kiyoteru menepuk pelan kepala Piko. Ia lalu tersenyum pada Piko. Kiyoteru meneguk kopi hangat yang diberikan Piko padanya. Ia lalu meletakan gelas kopinya dimeja dan ia menyangga kepalanya dengan tangan kanannya.

"Baiklah. Apa kau ingat gadis yang dulu kuceritakan padamu dulu?"

"Hmmm.. Gadis yang mana, Senpai? Kau selalu menceritakan masalah gadis padaku.. Aku jadi bingung.." Piko berusaha mengingat.

"Aho! Yang kumaksud adalah gadis yang menolakku!"

"Hmm..."

Piko berpikir cukup keras. Ia berusaha mengingat seperti apa gadis yang dibicarakan oleh Kiyoteru. Setelah beberapa menit Piko mulai mengingat gadis yang dimaksudkan oleh Kiyoteru.

"Ah! Gadis itu.. Memangnya ada apa dengan gadis itu?"

"Aku tadi melihatnya bersama seorang laki-laki. Mungkin laki-laki itu adalah pacarnya.."

"Heee? Oh, benar juga. Kau bilang padaku 3 bulan yang lalu kalau gadis itu sudah punya pacar. Tapi senpai, gadis itu unik ya.." Piko tersenyum penuh arti.

"Apa maksudmu?"

"Dia berani menolak seorang 'Oujisama' sepertimu, senpai. Padahal sebelumnya tidak ada satu gadis pun yang pernah menolakmu."

Kiyoteru dan Piko saling bertatapan. Kiyoteru tidak bisa membalas perkataan Piko barusan. Semua yang dikatakan oleh Piko terlalu benar baginya. Itu adalah kali pertama Kiyoteru untuk mendapat penolakan dari seorang gadis.

"Piko! Pesanannya!" Ibu Piko berteriak.

"Baik, bu.. Ah, senpai. Aku ambilkan dulu pesananmu.."

Piko meninggalkan Kiyoteru seorang diri. Piko tertawa kecil saat melihat ekspresi wajah Kiyoteru tadi. Ia sangat tahu bagaimana sifat Kiyoteru, ia sedikit senang bisa menggoda kakak kelasnya seperti tadi. Tapi dalam hati Piko merasa sangat penasaran tentang gadis yang menolak Kiyoteru, ia sangat ingin tahu siapa gadis yang telah berani menolak Oujisama sekolah mereka itu.

"Siapa ya kira-kira gadis itu... Benar-benar menarik, mirip sekali dengan Gumi.." batin Piko.


Langit semakin gelap, Akaito pun memandang ke arah jam yang ada ditaman tempatnya piknik bersama Gumi. Ini sudah pukul 5 sore. Bahkan bekal Gumi dan Akaito juga sudah habis. Mereka hanya duduk-duduk diatas ayunan sambil berayun. Sunyi, senyap... itulah yang terasa.

"Dulu... Aku tidak tahu jika kau tengah berpacaran dengan Yuuma."

"..." Gumi terdiam. Ia sedang tidak ingin membahas hal itu saat ini.

"Kupikir, kalian berdua hanya dekat karena kalian berdua satu kelas. Bahkan aku tanpa ragu-ragu menanyakan banyak hal tentangmu pada Yuuma."

"A-akaito-kun?" Gumi terdengar lirih.

"Aku juga menceritakan pada Yuuma tentang perasaanku padamu. Dia sama sekali tidak marah ataupun memukulku. Ia malah tersenyum dengan senangnya kepadaku."

"Kenapa?"

"Eh? Apanya yang kenapa, Gumi-chan?"

"Kenapa kau menceritakan ini padaku?"

Keheningan terasa diantara mereka berdua. Gumi dan Akaito hanya saling memandang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan angin sore yang begitu dingin tidak mampu menggerakkan mereka.

"Aku tidak ingin kau jatuh kepelukan orang lain. Cukup Yuuma saja! Hanya dia yang pantas menjadi sainganku!"

"Akaito-kun..."

"Well, sudah selarut ini. Sebaiknya kita pulang saja, tidak baik bagi seorang gadis pulang terlalu malam. Ibumu pasti khawatir."

Akaito berdiri dari ayunan yang didudukinya. Ia berjalan keluar dari taman bermain itu. Gumi mengikutinya dari belakang. Gumi sedikit menjaga jarak dari Akaito. Rasanya hatinya begitu sakit saat mendengar apa yang dikatakan oleh Akaito tadi. Ia tidak pernah bermaksud menyakiti Yuuma ataupun Akaito.

"Yuuma.. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan..." batin Gumi.


To be Continue


Jangan Lupa Reviewnya ya... xD

Ini telat pake banget ya? Maaf, Yumi lagi super sibuk..

Jadi ngirimnya telat..

Gomen nee, Mina-san!