Disclaimer: Bungou Stray Dogs bukan milik Riren. The story of Me & Young Yakuza is my original story.

Rate: T

Pair : Dazai Osamu & Atsushi Nakajima

Genre : Romance, hurt/comfort, humor, and crime .

Warning: AU, OOC, typo, gaje, gak sesuai dengan EYD, shonen ai romance, and many more.

.

.

.

.

"Atsushi... Asa dayo. Bangunlah."

Tidak ada respon dari sang pemilik nama. Orang yang membangunkan pemuda yang masih bergelung di balik selimutnya itu pun memiliki sebuah cara yang mungkin ampuh untuk membangunkan pemuda kecil yang malas bangun itu.

"Wah... ternyata kini Atsushi sudah menjadi Shirayuki yang menunggu seorang pangeran untuk membangunkannya dengan sebuah ciuman. Dengan senang hati aku akan menjadi pangeran itu dan memberikanmu sebuah ciuman. Bersiaplah watashi no Shirayuki."

"IIEEEEEEEE!"

Segera Atsushi berguling menghindari ciuman maut dari Dazai hingga dirinya jatuh dari tepat tidur dan kepalanya sempat terhantuk pinggiran meja kecil yang berada di samping ranjangnya.

"Ittai..."

Atsushi pun mengelus bagian kepalanya yang terhantuk pinggiran meja tadi. Dazai pun menghampiri Atsushi yang masih mengelus kepalanya.

"Atsushi kun, daijobu desuka?"

"Kau lihat sendiri kan? Gara-gara kau kepalaku jadi terhantuk meja."

"Salahmu sendiri yang bangun dengan heboh dan sulit untuk di bangunkan."

"Tapi aku tidak suka apabila kau membangunkanku dengan cara tadi. Dasar hentai no baka."

"Baiklah, aku minta maaf. Sekarang kau mandi dulu setelah itu aku ingin berbicara sesuatu padamu dan sekalian kau sarapan."

"Bicara soal apa?"

"Nanti akan ku jelaskan setelah kau selesai mandi. Apa kau ingin ku temani mandi?"

"Tidak sudi."

"Handuk dan pakaian serta dalamannya sudah di siapkan dan di taruh di lemari kecil dalam kamar mandi."

"Sankyu."

"Douita."

Segera Atsushi pergi menuju kamar mandi. Sementara itu Dazai menunggu Atsushi hingga selesai dengan membaca buku yang di bawanya di sofa kecil yang terletak dekat pintu.

.

.

.

.

.

.

"Oi..."

Merasa ada yang memanggilnya, Dazai pun mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang di baca olehnya. Ternyata Atsushi yang telah selesai mandi. Kini Atsushi memakai kemeja berwarna putih yang hanya menutupi 3/4 lengannya saja dan celana yang panjangnya sama seperti lengan bajunya dan berwarna hitam. Dazai pun tersenyum melihat penampilan Atsushi yang terasa semakin imut.

"Ne... Atsushi, kau tahu?"

"Apa?"

"You're so kawaii. Boleh aku memelukmu?"

"Dalam mimpimu dan sampai kapan pun aku tak sudi di peluk olehmu."

"Hidoi..."

"Kimochi warui. Katanya kau ingin membicarakan sesuatu denganku."

"Aku hampir lupa. Ayo, kita ke ruanganku sekalian kau sarapan di sana. Kau suka pancake dengan sirup apa?"

"Sirup apa saja tak masalah."

"Baiklah. Ayo kita segera ke sana."

Dazai dan Atsushi pun pergi menuju ruangan pribadi milik Dazai. Selama perjalanan menuju ke sana tak ada yang bersuara kecuali ketika Dazai meminta seorang pelayan untuk membawakan sarapan untuk Atsushi dan sake untuk dirinya. Tak lama keduanta pun sampai di depan pintu sebuah ruangan. Dazai pun membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya yang di ikuti oleh Atsushi. Keduanya kini duduk di sofa yang saling berhadapan yang di pisahkan oleh sebuah meja kecil.

"Jadi... apa yang mau kau bicarakan denganku?"

"Kau ini to the point sekali. Baiklah, dengarkan aku baik-baik Atsushi dan kau boleh berkomentar tapi tidak boleh protes."

"Kenapa begitu?"

"Sudah dengarkan saja. Cerita ini lah yang menjadi alasanmu ada di sini. Semua berawal dari keluarga besarku yang berniat menjodohkanku dengan anak dari keluarga Yakuza yang dekat dengan keluargaku. Tentu saja aku menolak karena aku tidak mau di jodohkan dengan orang yang tak ku kenal. Untuk menghindari hal tersebut, aku ingin kau berpura-pura menjadi perempuan sekaligus menjadi kekasihku hingga keluarga besarku menyerah atas perjodohan itu. Apa kau mau membantuku, Atsushi?"

"Aku tidak mau."

"Kenapa tidak mau?"

"Karena memalukan dan membuatku repot."

"Souka. Padahal aku telah menyiapkan sesuatu untukmu jika kau mau membantuku."

"Sesuatunya itu apa?"

"Katanya kau tidak mau."

"Aku akan memikirkannya jika kau mau memberitahu sesuatu itu apa."

"Baiklah, aku akan memberitahunya tapi aku ingin kau berjanji untuk membantuku. Deal?"

Atsushi tampak berpikir sebentar atas tawaran Dazai. Lalu Atsushi memutuskan pilihannya.

"Deal. Jadi apa sesuatu itu?"

"Aku akan mengabulkan satu permintaanmu. Apa pun yang kau minta."

"Kalau aku meminta di bebaskan dari sini?"

"Tidak dengan yang itu dan sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu, Atsushi kun."

"Cih..."

"Bagaimana kalau aku mengajakmu ke tempat yang ingin kau kunjungi atau sesuatu hal yang kau inginkan? Seperti makanan atau benda."

"Tidak ada yang lain. Pilihannya biasa saja."

"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang spesial dan aku yakin kau pasti suka."

"Ke mana?"

"Rahasia. Jadi, kau setuju?"

"Terserah kau saja. Aku capek berdebat denganmu."

"Akan ku artikan kau menyetujui permintaanku. Terhitung mulai hari ini kau akan menjadi kekasihku dan saatnya belajar tentang tata krama dan hal lainnya yang biasa di lakukan oleh perempuan. Aku akan menyiapkan segalanya untuk keperluanmu. Bersiaplah Atsushi."

"Ya."

Tak lama seorang pelayan datang membawa pesanan yang di minta oleh Dazai. Atsushi tidak tahu jika di depannya telah banyak hal yang menyakitkan datang menunggunya. Tentu saja menjadi kekasih seorang Yakuza penuh dengan resiko dan bahaya walaupun hanya sebagai kekasih bohongan.

.

.

.

.

.

.

Setelah hampir satu minggu lamanya, Atsushi merasa seperti berada di neraka. Setiap hari dia harus melakukan hal-hal yang membuatnya tersiksa. Sekujur tubuhnya terasa sakit dan pegal setelah menjalani latihan sebagai kekasih Dazai yang tentunya hanya fake atau bohongan. Memakai gaun dan heels membuatnya sulit berjalan. Belum lagi pelajaran attitude yang membuatnya hampir gila karena gurunya sangat galak sekali dan tak jarang Atsushi mendapat omelan dari guru tersebut. Atsushi juga memakai wig yang sewarna dengan rambut aslinya dan sedikit make up yang membuatnya benar-benar mirip perempuan.

Hari ini ada pelajaran dansa yang sangat di benci oleh Atsushi karena sangat susah. Berkali-kali di ajarkan tetapi Atsushi tetap tidak bisa berdansa dengan benar. Guru dansanya pun mulai menyerah dengan Atsushi hingga membuat Dazai ikut turun tangan dalam pelajaran dansa.

"Atsushi sama, mulai hari ini saya tidak akan mengajarkan anda karena saya merasa tidak sanggup. Oleh karena itu, Osamu sama yang akan mengajarkan anda berdansa."

Tak lama Dazai pun masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi wajah yang menyebalkan bagi Atsushi. Sang guru dansa Atsushi pun langsung meninggalkan mereka berdua. Suasana hening pun tercipta hingga Dazai menyetel musik waltz untuk memecahkan keheningan yang ada.

"Atsushi kun, aku akan mengajarkanmu cara dansa ala tuan Dazai yang hebat ini. Ayo, mendekatlah padaku biar kita bisa memulai dansanya."

Atsushi pun berjalan mendekat ke Dazai yang telah mengulurkan tangannya bagaikan pangeran dalam cerita fairy tale. Ragu-ragu Atsushi meletakkan tangannya di atas tangan Dazai.

"Fokuskan pikiranmu dan ikuti apa yang aku ucapkan."

"Baiklah."

"Saat melangkah ke depan dan ke belakang, kau harus mengarahkan ujung kaki dan ingatlah untuk bergerak mulai dari lutu ke bawah. Lalu anggaplah pasanganmu sebagai boneka yang di gerakan oleh tali. Lemaskan saja tubuhmu supaya kau bisa mengikuti irama dan nikmati musiknya. Apa kau mengerti?"

"Ya. Aku mengerti. Ayo, kita coba."

Dazai dan Atsushi pun memulai dansa mereka. Ajaibnya Atsushi tidak menginjak kaki Dazai sama sekali dan begitu luwes mengikuti alunan musik. Keduanya pun berdansa hingga lagu selesai.

"Kau sangat cantik saat berdansa tadi, Atsushi. Sungguh membuatku ingin terus berdansa bersamamu."

"Terima kasih atas hinaannya dan aku mau istirahat. Terima kasib telah membantu dan menemani ku berdansa."

Tak lama sebuah ciuman pun mampir di pipi putih Atsushi. Ya... Dazai yang mencium pipi Atsushi. Dazai merasa gemas saat melihat Atsushi mengucapkan terima kasih dengan wajah yang imut dan pipi yang agak memerah. Setelah itu Dazai langsung mengambil langkah seribu sebelum high heels yang di pakai Atsushi mendarat di kepalanya. Tak lama terdengar teriakan Atsushi...

"HENTAI NO BAKA! DAZAI NO BAKA!"

.

.

.

.

.

.

.

3 hari setelah kejadian Dazai yang mencium Atsushi di adakan sebuah pesta dansa di hotel milik salah saudara dari keluarganya Dazai. Atsushi pun di minta oleh Dazai untuk menemaninya ke pesta dansa tersebut dengan tujuan untuk mengenalkan Atsushi pada keluarganya sekaligus mengagalkan pertunangan dengan anak Yakuza lain.

Gaun lengan panjang berwarna baby blue dengan aksen menumpuk pada bagian roknya. Tak lupa renda kecil dan halus berwarna putih pada bagian leher, ujung lengan, dan bagian bawah roknya. Sebuah jepitan mutiara kecil menghiasi wig yang di tata membentuk bandana yang terbuat dari kepangan rambut. Tak lupa heels berwarna putih dan make up natural serta clutch berwarna putih gading membuat Atsushi tampak cantik dan anggun. Sementara itu Dazai memakai jas putih yang di padu dengan kemeja hitam di dalamnya serta celana kain berwarna putih. Rambutnya di biarkan seperti biasa. Tak lupa sebuah dasi berwarna light grey melengkapi penampilannya. Sepasang sepatu yang senada dengan jasnya telah menghiasi kaki jenjangnya.

Dazai sempat terpesona pada Atsushi sebelum keduanya masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan menuju tempat pesta, Atsushi merasa tak nyaman karena merasa di perhatikan terus oleh seseorang. Ya... Dazai yang sedari tadi melihatnya dengan tatapan yang sulit di jelaskan.

"Bisakah kau menghentikan tatapan mu itu?. Menjijikan tahu."

"Maafkan aku, Atsushi kun. Aku jadi terlalu melihatmu karena kau terlalu cantik malam ini."

Seketika Atsushi merasa ingin muntah mendengar ucapan Dazai barusan.

"Oh, ya, Atsushi... aku ingin kau memakai ini."

Dazai menunjukkan sebuah cincin berwarna perak.

"Cincin? Untuk apa?"

"Untuk melengkapi rencana yang telah ku buat. Aku juga minta kerja samamu malam ini sebagai lady yang menawan. Aku ingin bilang padamu jika kau harus berhati-hati pada mereka karena mereka sangat licik tapi tenang saja karena aku akan melindungimu dari mereka."

"Baiklah, aku mengerti."

Kemudian Dazai memakaikan cincin tersebut di jari manis kiri Atsushi. Entah kenapa moment tersebut membuat Atsushi merasakan hal aneh. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat seperti saat Dazai menciun kening dan pipinya waktu itu. Atsushi pun mencoba menenangkan detak jantungnya.

"Atsushi..."

"Ya?"

"Terima kasih telah membantuku."

"Ya, sama-sama. Ingat janjimu yang waktu itu. Awas saja bila kau ingkar."

"Tenang saja. Aku tak akan mengingkari janjiku padamu."

Sekali lagi Atsushi merasa jantungnya berdetak tidak normal. Sepertinya tidak baik melihat Dazai yang seperti ini, lembut dan menawan yang membuat jantung Atsushi berdetak tidak normal.

.

.

.

.

.

.

Sesampainya di tempat pesta dan turun dari mobil, Dazai langsung menyuruh Atsushi untuk menggenggam lengannya. Mereka pun masuk ke dalam hotel. Setelah masuk ke dalam ruang pesta, Atsushi merasa aura di sekitarnya berbeda, serasa di tatap oleh puluhan mata dengan pandangan tidak suka. Dazai menepuk punggung tangan Atsushi pelan sebagai kode 'kau akan baik-baik saja selama bersamaku.

Atsushi merasa tenang ketika Dazai memberikan kode tersebut. Sungguh rasanya tidak nyaman jika ada di posisi Atsushi yang di pandang sinis oleh keluarga dari Dazai.

"Atsusha..."

Atsushi tidak sempat merespon panggilan Dazai karena ibu jari Dazai tiba-tiba menyapu tepi bibir bawah miliknya. Jantung Atsushi kembali berdetak tidak normal, bahkan lebih tidak normal ketika masih di mobil tadi.

"Sekarang sudah cantik. Tadi lipstikmu sedikit berantakan."

"Arigatou gozaimasu, Dazai san."

Dazai pun tersenyum saat melihat ada rona merah di pipi putih milik Atsushi. Keduanya pun berjalan menuju orang penyelenggara pesta tersebut.

"Selamat malam, Mori Ougai oji sama. Terima kasih telah mengundangku ke pesta ini."

"Sama-sama, Osamu kun. Oji sama senang karena kau mau hadir. Oh, ya, siapa yang berada di sebelahmu?"

"Oji sama perkenalkan dia adalah Atsusha Nakajima, kekasihku dan Atsusha kenalkan ini Mori Ougai oji sama, dia adalah suami dari kakak ayahku."

"Suatu kehormatan bisa mengenal anda, Mouri Ougai sama."

"Suatu kehormatan juga bisa berkenalan dengan nona secantik kamu, Nakajima san."

Paman Mori langsung menatap Dazai dengan tatapan yang bercampur aduk.

"Tapi, Dazai kun bukankah kau akan di tunangankan dengan salah satu anak dari keluarga Yakuza lain?"

"Aku tidak suka dengan pilihan mereka dan aku tidak mau menikah dengan orang yang tak ku cintai. Jika aku di suruh menikah maka aku akan menikahi dia. Tidak ada yang lain, hanya Atsusha yang akan ku nikahi."

Beberapa orang langsung menatap ke arah mereka bertiga dengan berbagai macam pandangan. Dazai tidak peduli dengan tatapan mereka yang berusaha mengintimidasinya karena Dazai cukup berkuasa di dunia yakuza. Tiba-tiba Kunikida Doppo, orang kepercayaan Dazai sekaligus pelayan pribadinya pun datang mendekat ketiga orang itu.

"Dazai sama, para ketua lain ingin memberi salam pada anda."

"Aku akan segera ke sana. Kunikida, tolong jaga Atsusha sebentar."

"Baiklah."

Dazai pun pergi menemui para ketua yakuza lainnya. Sementara itu, Atsushi merasa tidak nyaman saat Dazai tidak ada di sampingnya. Tiba-tiba dia merasa ingin ke kamar mandi.

"Ano... Kunikida san, aku ingin ke kamar mandi sebentar."

"Baiklah. Perlu ku temani ke sana, Atsusha sama?"

"Tidak perlu. Kau tunggu di sini saja. Aku akan kembali."

Atsushi pun berjalan menuju toilet yang berada di sudut ruangan. Sesampainya di depan toilet, Atsushi bingung akan masuk ke kamar mandi yang mana dan pada akhirnya dia masuk kamar mandi perempuan untuk menghindari hal-hal yang tak di inginkan.

.

.

.

.

.

Setelah selesai dari hal yang di lakukan dalam toilet, Atsushi pun menatap dirinya yang berada dalam cermin. Menatap dirinya yang seperti perempuan dengan gaun dan dada palsu yang di pakainya. Lalu tangannya secara tak sadar memegang bibirnya yang di sentuh Dazai tadi. Entah kenapa sentuhan itu masih terasa dan tiap kali mengingatnya mampu membuat Atsushi berdebar-debar. Atsushi tak mengerti mengapa terasa seperti ini.

Atsushi langsung menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan kejadian beberapa saat lalu dan dia pun berjalan keluar dari toilet. Sesampainya di ruangan pesta, dia tidak melihat Kunikida di tempatnya berdiri tadi.

Tiba-tiba Atsushi mendengar beberapa orang menyebutnya namanya dalam pembicaraan mereka sambil berbisik-bisik dan menatap tak suka pada Atsushi.

"Jadi itu kekasih tuan Osamu? Terlihat seperti perempuan biasa, tidak ada kesan seperti kelas atas."

"Terlihat seperti anak kecil."

"Pasti hanya jadi mainan bagi tuan Osamu."

"Salah paham akan arti dirinya dan dengan yakinnya dia datang ke sini. Dasar tidak tahu malu."

Atsushi sadar ucapan mereka bertujuan untuk menyakiti perasaannya. Seketika Atsushi sadar jika secara tak langsung dia membuat nama Dazai jadi ikut jelek tapi Dazai berkata akan melindunginya. Rasanya Atsushi ingin menangis dan pergi dari pesta ini namun di urungkannya saat salah satu orang berbicara padanya dengan nada bicara yang sangat sombong.

"Kasihan sekali tuan Osamu memilih perempuan sepertimu yang terlihat biasa saja dan murahan. Bagaimana nasib keluarga tuan Osamu nanti, ya?"

Atsushi langsung menatap tajam pada orang yang berbicara kasara tadi. Atsushi memberanikan diri untuk bicara demi nama baik dirinya dan juga Dazai.

"Bisakah anda menjaga ucapan anda agar tidak berkata seenaknya pada orang lain?. Belum lagi hanya bisa bicara di belakang padahal dirinya adalah Yakuza yang punya moto rasa tanggung jawab dan kasih sayang. Benar-benar membuat malu nama Yakuza. Jika ada lagi yang ingin kau katakan padaku, bicara saja langsung dan berhenti untuk mengatakan hal jelek soal Dazai!."

Seketika orang-orang mulai ribut saat Atsushi berani membalas perkataan orang tersebut. Kunikida pun panik saat tahu orang yang jadi pusat perhatian orang-orang saat ini adalah Atsushi tapi dia tidak bisa ke tempat Atsushi berada karena terlalu banyak orang yang berkumpul di depannya.

"Cih... sombong sekali kau, perempuan murahan."

"Hanya itu yang ingin kau katakan?"

"Cerewet!"

Orang itu pun berjalan mendekat ke arah Atsushi dan dia memberi sebuah tamparan yang cukup keras pada Atsushi hingga membuatnya jatuh dan menabrak meja yang berada di belakang tubuhnya. Ruam merah pun tercetak jelas di pipi Atsushi dan belum lagi rasa sakit di kepalanya setelah terhantuk meja.

Orang-orang pun hanya melihat dan tidak menolong Atsushi. Ada juga yang berteriak saat Atsushi terkena tamparan orang tadi. Hal tersebut pun membuat Dazai datang ke tempat itu karena terasa sangat ribut.

"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali, Kunikida? Mana Atsusha?"

Sebelum Kunikida menjawab, sepasang iris caramel milik Dazai membulat melihat Atsushi yang jatuh terduduk di dekat meja dan seorang laki-laki berdiri di hadapannya dengan tangan terangkat. Segera Dazai berjalan ke sana dengan aura yang membuat siapapun ketakutan. Tanpa aba-aba Dazai pun menendang wajah orang tersebut hingga jatuh tergeletak di lantai. Tak cukup dengan itu, Dazai pun menginjak dada orang itu sambil tersenyum menakutkan dan memegang sebuah pisau yang entah sejak kapan ada di tangannya. Dengan suara lirih dan dingin, Dazai mulai berbicara pada orang itu.

"Francis, ketua cabang Osaka. Aku akan memberimu pilihan yang tentu saja menyenangkan bagimu."

"Eh?"

"Mulut yang telah menghina kekasihku atau tangan yang telah melukai kekasihku. Mana duluan yang ingin di potong? Aku memberimu waktu 3 detik."

"Hiiii..."

Orang-orang yang di ruangan itu tidak ada yang berani bergerak atau menolong orang itu apalagi ketika Dazai seperti ini. Bisa-bisa mereka kena sasaran juga.

"Kunikida aniki, tolong hentikan Osamu sama!. Berbahaya jika sampai terjadi perkelahian di sini!"

"Percuma saja, Kenji. Jika dia sudah seperti itu tak ada yang bisa menghentikannya termasuk diriku."

"Ittai..."

Mendengar suara rintihan sakit, Kunikida langsung menghampiri Atsushi.

"Atsusha sama, bagaimana luka anda?"

"Aku tidak terluka."

"Lalu noda merah di taplak meja itu?"

"Itu wine, bukan darahku. Dazai mana?"

"Soal tuan..."

Tak lama Atsushi melihat Dazai sedang bersiap mengayunkan pisau yang di pegangnya ke arah orang yang tadi menampar dirinya. Segera Atsushi mencoba berdiri dan berjalan menghampiri Dazai yang sedang gelap mata. Sementara itu Dazai memulai hitungan mundurnya...

"Tiga... dua..."

Orang bernama Francis itu semakin ketakutan ketika hitungan semakin mendekati nol.

"Satu..."

Tiba-tiba seseorang memeluk Dazai dari belakang. Seseorang yang membuat Dazai seperti ini. Ya... dia adalah Atsushi.

"Jangan, Dazai..."

"Lepaskan aku, Atsusha! Dia harus ku beri pelajaran karena berbuat kurang ajar padamu."

Atsushi tidak melepaskan pelukannya pada Dazai, malah tambah mengeratkannya. Lalu perlahan-lahan kemarahan Dazai pun mereda dan Dazai menjatuhkan pisau yang di genggamnya ke lantai. Orang-orang di sekitar mereka pun bernafas lega karena tidak terjadi pertumpahan darah di pesta itu. Begitupula Atsushi yang langsung jatuh ke pelukan Dazai karena tubuhnya terasa lemas.

"Kau benar-benar nekat, Atsusha."

.

.

.

.

.

Setelah kejadian itu, Atsushi pun mengganti dress nya yang terkena tumpahan wine dengan sebuah terusan sederhana tanpa lengan berwarna baby blue. Setelah berganti pakaian, keduanya pun berniat pulang ke rumah. Keduanya pun menunggu mobil yang menjemput mereka datang di depan lobby hotel.

"Lain kali kalau ada orang seperti dia lagi, aku tak akan segan menghabisinya."

"Sudah ku bilang tadi bukan? Itu wine, bukan darah!"

"Ya, aku tahu. Tapi, tetap saja dia bersalah karena melakukan kekerasan padamu, Atsushi. Mana bisa aku diam saja melihatmu di sakiti oleh orang lain."

"Aku sangat berterima kasih padamu karena telah melindungiku tapi aku tidak ingin kau jadi terlihat seperti penjahat yang bisa membunuh orang dengan tenang."

"Lalu kau ingin aku seperti apa untuk membalasnya?"

"Cukup memaafkannya. Percuma apabila kekerasan di lawan oleh kekerasan. Berjanjilah untuk tidak seperti itu lagi, Dazai."

"Baiklah, aku berjanji. Tapi, lain kali aku akan melarangmu ikut bersamaku ke pesta lagi."

"Kenapa?"

"Aku tidak mau kau mengalami hal yang sama dan aku juga tidak ingin kau terluka lagi. Aku juga tak ingin di benci olehmu, Atsushi kun."

Atsushi merasa jantungnya kembali berdetak tidak normal setelah Dazai berkata seperti itu. Dazai tidak ingin di benci olehnya. Atsushi tidak mengerti hal itu.

"Kalau mendengar kata-kata menyakitkan aku sudah terbiasa sejak di panti dulu. Asal kau tahu Dazai, aku tidak selemah itu. Oleh karena itu, aku... Hatsyi!"

Atsushi pun bersin akibat udara dingin dan tiba-tiba sebuah mantel menyelimuti bahunya.

"Pakailah. Aku tidak ingin kau masuk angin."

"Arigatou. Tapi, apa kau tidak kedinginan?"

"Kalau aku kedinginan, aku tinggal peluk Atsushi saja. Pasti rasanya hangat sekali. Ne, Atsushi kun, jika masih merasa kedinginan, aku bersedia memelukmu. Kemarilah."

"Si... siapa yang kedinginan, hah?"

Berlawanan dengan ucapannya, Atsushi malah semakin mengeratkan mantel milik Dazai pada tubuhnya. Dazai pun tersenyum melihat tingkah laku Atsushi yang tsundere. Tanpa aba-aba, Dazai menarik lengan Atsushi hingga tubuh Atsushi jatuh ke dalam pelukannya. Atsushi yang terkejut hanya bisa diam dan tak melawan saat Dazai memeluknya dan memegang tangan kirinya.

"Ku mohon seperti ini sebentar saja."

Atsushi pun memberi anggukan kecil tanda dia setuju dengan perkataan Dazai tadi. Rasa hangat pun di rasakan oleh keduanya dan detak jantung keduanya pun terdengar seirama. Tapi, kehangatan itu harus hilang saat Kunikida dan Rampo sampai di hadapan keduanya.

Sungguh malam yang unik dan hangat...

.

.

.

.

.

つづく

.

.

.

.

.

Author Note:

Konbanwa minna san ^_^

Riren balik lagi nih hohoho XD *plak* . Chapter selanjutnya udah publish nih. Rasanya cukup pegal juga saat menulis chapter ini karena Riren rasa lebih banyak dari chapter sebelumnya. Riren mau berterima kasih kepada Yuchika Kissui san dan stupidjelly san yang telah memasukkan ff Riren ini ke dalam list mereka *Riren benar-benar terharu T^T *

Sebagai ucapan terima kasih atas review dan yang lainnya, Riren persembahkan chapter selanjutnya bagi keduanya dan juga para reader lainnya. Riren harap para reader menyukai chapter ini dan memberikan review baik saran atau kritikan akan Riren terima dengan senang hati.

Mungkin cukup sekian cuap-cuap dari Riren karena berhubung waktu sudah malam dan sebentar lagi mau sahur. Sampai jumpa di chapter selanjutnya dan semoga Riren bisa cepat publish chapter selanjutnya ^_^ *kalau gak kena WB dadakan*.

Oh, ya, sekedar cerita aja nih sama para reader. Selama menulis ff ini Riren masih di temani oleh lagu yang sama yang seperti Riren sebutkan di chapter pertama pada bagian Author Note. Beberapa adegan dalam ff ini sengaja Riren buat mirip dengan adegan dalam manga buatan Yu Toyota dan sedikit percakapan yang hampir mirip dengan manga buatan Chie Shimada.

Jaa matta ne, minna san... Oyasuminasai ^_^

RIREN