Genre : Drama, Romance, history dan lain-lain

Disclaimer : ● Heshikiri Hasebe (Touken Danshi *Uchigatana)

● Shokudaikiri Mitsutada (Touken Danshi *Tachi)

● Mikazuki Munechika (Touken Danshi *Tachi)

● Kashuu Kiyomitsu (Touken Danshi *Uchigatana)

● Yamatonokami Yasusada (Touken Danshi *Uchigatana)

● Yagen Toushirou (Touken Danshi *Tantou)

● Honebami Toushirou (Touken Danshi *Wakizashi)

● Tsurumaru Kuninaga (Touken Danshi *Tachi)

● Para tokoh diatas dan yang muncul lainnya bukan kepemilikan saya, tetapi sepenuhnya karya kerja keras DMM & Nitro +

● Heroine bernama Ishida Yui yang bukan milik saya, tetapi milik seseorang yang sangat spesial.

Warning : Terdapat kata-kata yang GaJe atau tidak bermakna (?), abal-abalan, kalimat yang membuat salah fokus atau gagal paham (?), beberapa/banyak TYPO yang akan terbaca, OOC (Out of Character) ALERT, dan kemungkinan nggak terasa romancenya (?) dan referensi cerita mungkin akan menyimpang.. Mohon maaf sebesar-besarnya.

OKE! Enjoy reading! Terima Kasih telah membaca

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Hari sudah pagi dan matahari telah menyinari Citadel yang luas itu. Gadis berkepang pita merah itu telah terbangun dan sekarang sedang asyik mengurus tanaman bonsainya. Setelah sakit selama seminggu akhirnya dirinya sekarang sudah sehat. Ia bisa bernapas lega dan menikmati wangi musim semi yang indah.

"Aruji-sama," Yasusada tiba-tiba datang menghampirinya, dari belakang ia melihat Kashuu mengikuti pedang berpakaian biru cantik itu.

"Ah, ada apa Yasusada?" Yui meletakkan gunting yang dipakainya untuk merapikan tanaman bonsai dan melihat ke arah wajah Yasusada. Pedang kebanggan Okita Souji itu lalu memeluk sang saniwa yang lebih tinggi 10 cm darinya. Ada senyum lega terpasang dari pemuda berkucir buntut kuda itu.

"Syukurlah kau baik-baik saja, Aruji-sama." Yasusada dengan erat memeluk gadis itu dan Kashuu menepuk pundak Yui dengan senyum manisnya. Tuannya yang cantik itu juga ikut tersenyum dan mengelus-elus kedua pedang berwujud pemuda itu.

Angin berhembus lembut bersama pohon sakura menaburkan keindahannya. Gadis yang sekarang berusia lebih dari 1000 tahun itu telah memiliki segalanya untuk bertahan hidup. Dulu kesendiriannya adalah hal yang mematikan untuk dijalani. Walau berat dan tak pasti, sepertinya sekarang semuanya akan baik-baik saja. Walau, kenangan pahit masih berbekas di hati kecilnya.

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Hari telah berwarna jingga dan matahari mulai ingin menidurkan dirinya, Yui sedang berjalan-jalan melihat keadaan Citadel, beristirahat setelah mengerjakan semua tugasnya yang menumpuk seminggu lalu. Langkahnya yang kecil dan anggun menenangkan mata siapapun yang lewat. Hanya saja, waktu itu sepi dan para pedang sedang mengerjakan tugas yang diamanatkan sesuai kesepakatan.

Yui menghela napas dan melihat ke arah pohon besar yang berdiri sendiri di atas bukit. Kakinya dengan otomatis berjalan ke arah tempat yang nyaman itu.

Tumbuhan hijau raksasa itu telah beratus tahun hidup dekat Citadel dan gadis itu tahu betul, berada di bawah dedaunannya yang rimbun. Membuat tenang pikirannya yang terkadang berkabut.

"Eh?.." Langkahnya terhenti saat melihat Mikazuki yang berdiri tenang melihat ke arah pohon raksasa itu. Seketika lelaki itu menengok ke belakang, ia tersadar ada yang melihatnya.

Ia memakai jinbei biru malam dan di kepalanya terikat slayer kuning seperti biasanya. Wajahnya masih segar walau hari sibuk telah berlalu. Dia tidak lelahnya memasang senyum manisnya yang misterius. Matanya yang biru berpadu kuning denganlembut melihat sang saniwa yang terdiam.

Sepertinya Yui teringat saat itu Mikazuki menjenguknya dan memberinya buah persik yang manis. Waktu itu bulan sabit menerangi gelapnya malam di Citadel bersamaan hatinya yang lelah akan sakit.

"Nona... Bolehkah aku menyisir rambutmu?"

"Ukh,.." pipi gadis itu memerah dan sekarang kepalanya tertunduk, ia tak sanggup melihat wajah pedang tachi yang kalem itu. Ia merasa malu dan speechless menghadapi Mikazuki yang sekarang melangkah mendekatinya. Semenjak ia datang, hatinya tak bisa setenang air yang mengalir seperti biasanya. Sekarang, hatinya seperti air terjun yang deras dan bersuara keras saat bersamanya. Pedang tua itu membuat matanya yang bermanik merah tak bisa melepaskan pandangannya ke dirinya yang indah.

"Nona, kau baik-baik saja?" Lelaki bersurai biru itu hendak menepuk kepalanya. Tetapi Yui tiba-tiba refleks memegang tangannya yang lebih besar itu. Ada sedikit perasaan yang tak begitu jelas diantara mereka dan ia tak ingin membuat pedang itu kebingungan.

Saat ia sakit dan sekarang sembuh, takdir seperti memproses pertemuannya dengan pedang bijak itu. Datang tak diundang dan ia tak bisa merasakan apapun dari Mikazuki sebelum datang. Itu aneh baginya dan membuatnya lemah..

Ia tak bisa bertanya hal itu padanya, karena ia yang seharusnya lebih tahu akan dirinya saat akhirnya datang. Ia yang seharusnya lebih kuat untuk melindungi semua pedang yang ia panggil. Ia yang seharusnya berusaha mengerti kekuatan mereka dan tahu semuanya akan terjadi ke depannya. Tetapi sekarang...

Lemah dan tak berdaya adalah yang terjadi padanya sekarang. Semuanya tak bisa ia seimbangkan dan kontrol. Luka yang tak berdarah seperti menyelimuti tubuhnya yang mungil. Air matanya seperti ingin keluar tapi ia tak bisa. Karena ia tahu, kuat adalah hal terpaksa sekarang saat berdiri bersama Mikazuki.

"Nona!" Lelaki bersurai biru itu langsung mendekap Yui yang ingin terjatuh. Wajah gadis itu sekarang kelihatan gelisah dan sedih. Seperti ia baru saja terhanyut sungai yang deras dalam cuaca badai. Mikazuki menatapnya dan berusaha menenangkannya.

"Tenanglah Nona."

"Mikazuki..."

"Tenanglah Nona, tenang, kau akan baik-baik saja."

"Sepertinya aku tak bisa hidup lama lagi.. "

Mata lelaki itu membulat, ia terkejut mendengar pernyataan itu dari mulut kecil Yui. Mikazuki terdiam sebentar dan ia menghela napas.

Kemudian dengan lembut menggenggam tangannya yang dingin. Ia tahu semuanya telah terlupakan, tetapi semua itu tak akan menghalanginya mewujudkan perasaan kuatnya.

"Nona, dengarkanlah aku. Kau akan baik-baik saja, percayalah padaku. Tunggulah waktu itu datang.."

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Sebulan telah lewat dan suasana Citadel sama seperti biasanya. Ada para touken danshi yang menjalankan misi dan bertugas soal urusan rumah tangga. Semuanya kelihatan tenang, bahagia dan damai. Hari-hari begitu indah dan menyenangkan untuk semuanya. Musim semi masih menghiasi markas besar milik mereka.

"Aruji-sama." Yagen memanggil tuannya yang baru saja keluar dari ruang kerja. Yui menoleh ke arahnya.

"Ouh ternyata kau Yagen. Ada apa?" Tidak biasanya Yagen memanggilnya. Matanya menangkap lipatan kertas di tangan anak berkacamata itu.

"Ini untukmu Aruji-sama." Yagen memberikan kertas itu dan langsung berbalik lari. Sang saniwa terdiam kebingungan dan lalu membuka lipatan kertas yang diberikannya.

Malam ini, aku akan menunggumu. Pergilah ke pohon besar di atas bukit.

"Heh?"

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Kesunyian malam menemani langkah Yui yang pendek. Semua yang berada di Citadel telah tertidur nyenyak dan hanya dia dan orang yang ia tunggu masih terbangun.

Sesampainya di atas bukit, ia menemukan Mikazuki menunggu di bawah pohon besar itu. Ekspresi gadis bersurai hitam itu kelihatan biasa-biasa saja. Sepertinya ia tahu mengapa pedang tachi itu memintanya kesini.

" Selamat malam, Nona. Hari ini bulannya indah ya.." Lelaki itu sekarang memakai baju furisode nya yang khas bersimbol bulan sabit. Rumbai-rumbai di atas kepalanya berayun mengikuti arah angin malam.

Pesonanya memikat Yui yang berbalut haori putih dan berhakama merah. Rambutnya sekarang terurai tanpa hiasan apapun. Matanya telah sejajar dengan sang pemilik iris biru berpadu kuning. Suasana antara mereka sedikit canggung dan gadis itu segera tersadar dari mantra menawan Mikazuki.

"Bb-ba-iklah, selanjutnya apa?" Gadis itu tak biasanya gugup dan malu dihadapan siapapun. Tetapi jika yang didepannya Mikazuki, semuanya menjadi kacau balau.

Mikazuki tertawa kecil dan meraih tangan Yui yang kecil, kemudian menariknya dengan lembut.

"Aku akan memberitahumu semuanya dan akan membahagiakanmu selanjutnya." Senyum adalah ciri khas paling menonjol darinya dan jantung Yui sekarang berdegup lebih cepat.

Beberapa detik kemudian ia lalu menarik gadis itu dan..

"Tung-" Yui terkejut dan menutup matanya. Mereka berdua menabrak pohon besar itu dan menghilang.

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Flashback Start

Zaman Eiroku, dimana Mikazuki Munechika telah menjadi milik Ashikaga Yoshiteru. Di sebuah kediaman rumah Jepang yang besar dan luas. Disanalah kehidupan tachi bersimbol bulan sabit itu tinggal. Empat musim telah ia lewati bersama tuan pertamanya itu. Dipergunakan bukan hanya untuk bertarung, tetapi juga menjadi barang hias yang dipamerkan.

Mikazuki terkadang diistirahatkan di ruang kerja tuannya. Pedang Tachi itu menunggu dengan sabar dan bosan terkadang. Bertahun-tahun dikeluarkan dan disimpan membuatnya lelah. Dalam hati kecilnya, ada harapan kecil mustahil yang selalu ia dambakan.

"Aku ingin sekali punya teman berbicara..."

Bagi Mikazuki, sebagai seorang pedang yang mempunyai harapan. Itu sudah cukup membuat jiwanya hidup walau ia tahu orang-orang melihatnya sebagai benda mati. Tinggal menunggu apakah, harapan itu terwujud seperti bunga yang bermekaran.

.

.

.

"Ishida! Pel lantai ini sampai bersih!" Suara wanita tua bersuara serak terdengar dari luar ruang kerja tuannya. Mikazuki yang mendengarnya agak sedikit terkejut dan ia melihat bayangan wanita itu.

"Baik, nyonya." Lalu bayangan gadis muda muncul dan ia terlihat seperti membawa ember yang mungkin berisi air. Ia lalu mulai mengerjakan tugasnya.

"Setelah selesai, sapu halaman belakang ya!" Wanita tua itu memberikan tugas selanjutnya dan langsung melangkah pergi.

"Baik Nyonya." Gadis itu mematuhi perintahnya, ia mengepel lantai cepat-cepat agar segera melanjutkan tugas berikutnya. Mikazuki melihat bayangannya dari luar, ia merasa kasihan mengapa orang muda sepertinya tak menikmati kebahagiaan hidup.

"Gadis yang malang.."

Perempuan bernama Ishida itu kemudian setiap harinya, mengawali tugasnya dengan mengepel lantai di depan ruang kerja Tuan Ashikaga Yoshiteru. Kakinya yang pendek dan bertenaga, membuat pekerjaannya ringan tetapi juga melelahkan. Pedang tachi itu termenung tak bisa membantunya, ada sedikit perasaan bersalah.

.

.

.

Sudah sebulan gadis itu telah bekerja di kediaman Ashikaga Yoshiteru, Mikazuki selalu melihat bayangannya. Ada Tuannya ataupun tidak, gadis muda itu akan selalu terlihat mengepel lantai di teras depan. Pedang tachi itu tak pernah melihat wajahnya, ia hanya bisa melihat bayangannya dari luar. Gadis muda itu tak pernah sekalipun masuk ke ruang kerja Tuannya.

"Aku penasaran dengan wajahnya.."

"Apakah dia cantik?.."

"Atau dia agak gendut tapi menggemaskan?.."

"Imut? Sepertinya mungkin cocok..."

"Wha! Aku penasaran!.."

Suara dalam hatinya selalu penasaran dengan gadis yang selalu mengepel lantai teras di depan. Mungkin karena hanya dirinya yang sering berada di dekatnya. Tapi apalah daya, dia hanyalah pedang milik seorang samurai. Benda mati yang terkadang membawa kematian bagi manusia yang melawan Tuannya dan juga sebagai lambang kebanggaan yang mewah. Padahal sesungguhnya, tujuan sebenarnya adalah membawa kemenangan adil bagi Tuannya. Malahan sebaliknya, ia harus berada di jalan yang penuh dengan lumuran darah.

.

.

Tak mungkin takdir dilawan jika memang jalan hanya tersisa satu saja untuk berada di sampingnya.

.

.

Di suatu siang yang tenang, Tuannya sedang berada di ruang kerja. Mikazuki berada di sampingnya dan melihat pekerjaannya. Sepertinya pekerjaannya sangatlah banyak dan ia tak bisa keluar dari ruang itu. Tadi pagi ada seorang pelayan yang mengantar sarapannya, kemungkinan siang ini juga ada yang membawa makan siangnya.

Tok,tok,

Ada yang mengetuk pintu, Tuannya pun berhenti menulis.

"Permisi Tuan, kami mengantarkan makan siang anda." Bayangan seorang wanita dan seorang gadis berada di luar. Tuannya segera mempersilahkan mereka masuk.

Srettth..

Wanita itu membuka pintu, ia terlebih dahulu masuk dan lalu diikuti oleh gadis muda di belakangnya. Mikazuki melihat sosok gadis muda yang membawa makanan itu. Ada perasaan terkejut dan bahagia di dalam hatinya, gadis yang biasanya mengepel lantai menampakkan dirinya.

Dia memakai kimono berwarna merah muda dan memiliki rambut hitam sebahu. Tetapi yang membuat Mikazuki takjub melihatnya adalah manik merahnya yang sehangat api unggun. Wajahnya yang seputih bunga lily berdamping dengan rona merah di pipinya. Pedang tachi itu seperti baru saja melihat pelangi sehabis hujan, begitu indah tetapi masih sederhana.

"Oh Tuhan, gadis itu manis sekali... "

.

.

.

Sudah 6 bulan lewat, tidak ada perubahan sama sekali di kediaman Tuannya dan gadis itu masih tinggal disana. Hari-hari Mikazuki sedikit berubah dan itu menyenangkan baginya. Ada seseorang yang menemani kesendiriannya, walau lucunya ia tahu gadis itu tak mungkin melihat dan mendengar jiwanya. Ia ingin sekali melangkah lebih maju lagi, tetapi itu tak mungkin, pedang tetaplah pedang dan manusia tetaplah manusia. Semua berakhir sesuai takdir yang ditentukan dan ia tak mungkin menyimpang darinya. Dunia ini indah walau terkadang harapanmu tidak berjalan seperti yang diinginkan. Itulah yang dipikirkan olehnya dan ia merasa agak sedih.

"Aku ingin berbicara dengannya walaupun itu hanyalah mimpi belaka.."

Ia biasa berbicara sendiri mengenai perasaannya dan itu cukup untuk menenangkan dirinya yang terkadang terbawa perasaan. Mikazuki waktu itu juga terbilang masih muda pada zaman itu. Ia mempunyai jiwa layaknya hampir seperti manusia.

"Hei.." Gadis yang biasanya mengepel lantai itu tiba-tiba memanggil seseorang. Mikazuki mendengarnya dan melihat bayangannya. Apa ada seseorang di dekat sini?

"Tuan Pedang, aku bisa melihatmu." Suaranya tidak begitu keras tetapi masih bisa terdengar oleh Mikazuki. Pedang Tachi itu sekarang shock, bagaimana ia bisa melihatnya.

"Jawablah aku Tuan Pedang.. Tuan Pedang, apa kau ada di dalam?" Gadis berambut sebahu itu meminta responnya. Dalam bayangan Mikazuki, ia melihat seorang gadis polos yang meminta perhatian seseorang. Ia tak mungkin mendiamkannya saja.

Mikazuki kebingungan dan berpikir berkali-kali, jika ia menjawab apakah gadis itu akan mendengarkannya. Pedang tachi itu tak ingin dibenci dan membuatnya sedih. Jika memang ia bisa melihatnya, itu berarti...

.

.

Apalah arti mencoba, mungkin berhasil...

.

.

"Hahaha, aku mendengarmu Nona kecil." Nada suara bahagia keluar dari pedang Tachi itu. Semoga ini berhasil dan membuatnya bahagia.

.

Keajaiban akan datang bagi mereka yang mencoba dan berharap.

.

"Wah, ternyata jiji-san.." Gadis muda itu agak terkejut, ia tak menduga pedang itu terdengar tua. Mikazuki kembali lagi tertawa, ia senang gadis itu tak takut mendengar suaranya. Perasaannya sekarang lebih dari ungkapan pucuk dicinta ulam pun tiba. Suasananya seperti bunga sakura berjatuhan diantara mereka

.

.

.

"Apa kau ingin keluar?"

Sudah berbulan-bulan lewat, gadis muda itu sekarang sangat dekat dengan pedang kesayangan Ashikaga Yoshiteru. Mereka sering berbicara hal-hal yang menarik dan menyenangkan untuk melawan perasaan bosan. Terkadang juga mereka bermain bersama walau terhalang pintu ruang kerja Tuannya. Kekuatan gadis Ishida itu sangatlah unik dan membuatnya seperti menjadi manusia. Gadis itu tak sadar, bahwa bayangannya sekarang sama seperti miliknya. Tetapi pada hari itulah ia ingin mengejutkannya.

"Iya, apakah tak apa-apa?" Nada suara Mikazuki terdengar memelas, sepertinya ia ingin sekali keluar.

"Tapi, aku tak bisa membawamu.."

"Siapa suruh kau akan membawaku?.."

"Heh?"

"Aku yang akan membawamu bersamaku."

Mikazuki terdengar percaya diri dan itu membuat gadis Ishida itu panik.

"Tt-tta-pi!" .

"Hahaha, mungkin agak aneh, tapi.."

Srrethh...

Suara langkah kaki terdengar dari ruang kerja Tuannya. Sosok bertubuh tinggi keluar dari ruangan itu. Ia memakai kimono biru malam dan senyum manis terpasang di wajahnya.

"Ayo, berkencanlah denganku, Nona kecil."Nada suara pemuda itu membuat gadis yang berada di depannya sekarang terdiam dan bingung ingin berteriak atau tidak. Mikazuki dalam tubuh pemuda itu tak ambil pusing dan lalu langsung menggendongnya. Sekarang ia bisa menyentuhnya dengan nyata.

"Heh—" Perempuan itu ingin berteriak tetapi lelaki itu langsung memberi isyarat, jari telunjuk kanannya berada di depan bibir gadis itu.

"Ssst, nanti ada yang dengar loh." Mikazuki merendahkan suaranya.

Ini adalah pertama kalinya, ia menatap langsung matanya dengan dekat. Sekarang wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Ia merasa ada sesuatu yang lebih besar yang akan terjadi pada mereka, tapi lelaki itu mengabaikannya. Entahlah, rasanya akan membahagiakan nantinya dan itu yang terpenting.

" Anu.. kau tak usah menggendongku Mikazuki. Aku bisa berdiri sendiri.." Wajah perempuan yang ia gendong sekarang memerah seperti kulit apel yang baru matang dan wajahnya tertunduk. Ia sepertinya malu melihat wajah pedang tachi itu pertama kalinya. Sungguh menawan seperti lukisan seorang bangsawan.

Mikazuki menggelengkan kepalanya dan mendekapnya erat. Sepertinya inilah yang ia ingin selalu lakukan berbulan-bulan lalu.

"Hari ini aku ingin bersamamu pergi ke suatu tempat." Ia membisikkan kalimat itu ke telinganya. Lalu kemudian, Mikazuki melangkah pergi membawa gadis itu. Mereka menghilang tertelan langit pagi yang berangin dan sunyi itu.

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Flashback End

Langkah kakinya yang panjang terhenti di sebuah hutan yang gelap bermandikan cahaya bulan di atas langit. Ia membawa gadis itu bersamanya, ia masih menggenggam erat tangannya.

"Kita sudah sampai." Mikazuki tersenyum dan mengelus rambut sang saniwa itu. Yui menoleh ke arahnya dengan wajah kesal yang lucu.

"Kau seharusnya bilang siap-siap, bukan langsung menarikku begitu saja!" Gadis itu langsung melepaskan tangannya dan menyingkirkan elusan lembutnya.

Mikazuki terkejut dan lalu tertawa. Dia memang Tuan barunya, tetapi ia tetap melihatnya sebagai seorang gadis yang memikat hatinya. Sifatnya sama seperti dulu, manis-manis pendiam tetapi agak cerewet.

Yui menghela napas dan lalu berjalan, Mikazuki mengikutinya dari belakang.

"Kau mau kemana Nona?" Lelaki bersurai biru bertanya.

"Entahlah, ikuti saja aku." Jawab gadis itu sambil melihat jalan di depannya. Lelaki itu terdiam dan terus tersenyum di belakangnya.

"Aku tahu kau pasti mengingatnya.."

Mereka berjalan diiringi suara-suara malam yang menyejukkan hati. Yui berjalan terus ke dalam hutan, langkah-langkahnya menginjak dedaunan kering di jalan yang ia lewati. Debaran jantung gadis itu berdebar sangat cepat, ia merasa ingin cepat-cepat sampai kesana.

oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Flashback again.

Mikazuki dan gadis muda itu tertawa bersama melihat indahnya pemandangan musim semi waktu itu. Pohon-pohon terlihat hijau segar, bunga-bunga bermekaran cantiknya dan angin lembut menenangkan hati mereka. Waktu berjalan begitu cepat dan hari-hari kebersamaan mereka sangatlah berharga.

Sampai akhirnya empat tahun sudah terlewati dan mereka masih bisa bersama. Ada sesuatu hal yang menjadi masalah kecil antara mereka.

"Mikazuki.." Gadis Ishida itu memanggilnya, Mikazuki menoleh ke arahnya dan tersenyum.

"Ada apa?.." Lelaki itu sedang membuat mahkota bunga untuk teman tersayangnya itu.

Hutan yang berada dekat di kediaman Tuannya menjadi tempat favorit mereka berdua. Mikazuki dan Yui bisa berbicara tanpa harus dengan suara kecil dan merebahkan diri di atas rumput yang hijau. Sinar matahari yang cerah menyembuhkan masalah-masalah di hati mereka.

"Bagaimana kalau kita tidak berteman saja?"

Mahkota bunga yang dibuat lelaki bersurai biru itu jatuh dan wajahnya sangat terkejut. Seperti mendengar piring yang pecah di tengah malam.

"Aku ingin kita menikah saja!" Perempuan itu langsung memeluknya dan dalam waktu sedetik itu, debaran jantung pedang tachi itu berhenti.

"Hh-hh-heh!?" Mikazuki membeku dan merasakan wajahnnya menjadi panas. Pipinya menyentuh rambut panjang gadis muda itu.

Gadis muda yang kecil itu membawa topik yang kurang cocok pada watu itu. Pikiran pedang tachi itu tiba-tiba blank tak bisa memproses kalimat yang dikeluarkan gadis itu.

Lelaki itu lalu mendengar napas yang tidak teratur dari gadis yang memeluknya. Sepertinya ia sangat gugup mengatakan hal itu. Sesuatu yang begitu serius dan tiba-tiba saja keluar dari mulut kecilnya.

"Ak-akk-akku.. Tak ingin kita berpisah Mikazuki..." Ia melepaskan pelukannya dan wajahnya tertunduk. Nada suara gadis manis itu seakan-akan ingin menangis. Suasana diantara mereka berangsur-angsur menjadi canggung.

"Aku merasa nantinya, kita tak akan bertemu lagi, hiks." Air mata gadis Ishida itu akhirnya keluar dan membasahi pipi merahnya. Mikazuki terkejut dan menyapu air yang keluar dari manik merahnya.

"Tenanglah Nonaku, kita tak mungkin berpisah." Lelaki itu mengeluarkan suara yang paling lembut untuk menenangkannya. Tetapi, gadis itu malah semakin sedih dan menangis.

"Hiks, hiks, huh.." Tangisannya begitu menyakitkan bagi Mikazuki. Lelaki itu tersenyum dan matanya memandang wajahnya yang menangis. Siapa yang tidak terluka, ketika orang yang mereka sayangi sedang ketakutan dan bersedih.

Pedang tachi itu membuka kedua tangannya dan merangkulnya. Dia tahu ada suatu saat dirinya tak bisa bertahan dan gadis itu akan sampai pada usianya akhirnya. Tetapi, apapun yang terjadi...

"Apapun yang terjadi Nonaku, semuanya akan baik-baik saja. Tenanglah, walaupun ada saatnya semua berakhir. Ingatlah, hati kita pasti terhubung, dimanapun kita berada dan kapanpun. Jika memang takdir kita sangatlah panjang nantinya, aku berani berjanji Nonaku. Kebahagiaan kita akan selalu bersemi selamanya seperti bunga bermekaran yang kita lihat ini.."

Gadis yang dirangkulnya itu berhenti menangis dan matanya berkaca-kaca terfokus pada lelaki itu. Apa yang ditakutkannya berangsur-angsur menghilang setelah mendengar kata-kata bijak Mikazuki.

"... Bersemi selamanya?.." Ia menatap pemuda bersurai biru itu dengan tatapan polos. Mikazuki menganggukkan kepalanya dan memandang langit biru yang tak berawan.

"Hmpph, menikah ya?" Lelaki dengan baju kimono biru itu seakan ingin tertawa, tetapi tak tegaan melihat gadis Ishida itu mungkin kembali lagi menangis. Mikazuki terdiam dan berpikir untuk beberapa detik. Lalu seperti biasanya senyuman manis misterius itu kembali muncul.

"Ide yang bagus.." Ia menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut dan perlahan jari-jari kanannya menyisir rambut panjang gadis itu.

Flashback End

oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Keduanya terdiam dan mendapati danau kecil dalam hutan itu. Pantulan permukaanya menampilkan bulan yang bersinar terang. Disekeliling mereka banyak sekali kunang-kunang yang mengeluarkan cahaya. Semuanya begitu indah dan sangat mententramkan. Yui berada dalam lamunannya, seperti mengingat-ngingat puzzle kenangan yang hilang.

"Jadi, kita akan selalu bersama!"

"Iya, untuk selamanya.."

"Hmm, baiklah. Bersediakah kau menjadi suamiku, Mikazuki?

"Hahaha, aku bersedia Nonaku. Bersediakah kau menjadi istriku?

"Iya, aku bersedia."

Kedua kelingking mereka telah terikat pita merah yang panjang. Mikazuki dan gadis muda itu bersama-sama mengucapkan.

"Aku bersedia untuk saling mencintai dan menyayangimu."

Sentuhan terakhir, pemuda bersurai biru itu memejamkan matanya dan mengecup kening gadis itu. Setelahnya, mereka berdua tertawa dan merasa sangat bahagia.

oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

~Continue Chapter 3~