Ahh.. Yamanaka..

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Cast: Sai, Yamanaka Ino, Other

Pair: InoSai

Rated: MA[Lemon Parah]

Warning: LEMON/RAPE!

Summary:

"Apa yang sebenarnya kau inginkan Yamanaka-san?" Tanya Sai pada gadis yang ia ketahui sebagai teman sekelasnya itu yang bahkan selama dua tahun berturut-turut mereka berada di dalam kelas yang sama belum pernah saling sapa dan berbincang-bincang."AAARRGGGHHTT… Sakit… kau benar-benar besar Sai-kuun aaahhh… sakit." Isak Ino saat dengan perlahan junior Sai merasuki tubuhnya. "Aku pergi, Ai shiteru..." Ucap Ino yang mengecup kilat bibir Sai sebelum ia mengendap-endap keluar dari kamar pemuda itu kembali ke asramanya.

Ini hanyalah FF semata~

Happy reading ~~~

don't like don't read...

-000-

Gadis itu terdiam, tertunduk. Apakah sudah benar keputusannya? Dia tahu jika dia melakukan hal ini, dia akan menanggung malu seumur hidupnya, tetapi, hey, siapa yang tahu tentang hidup seseorang? Mungkin saja ini adalah kesempatan terakhirnya. Who knows?

Mungkin, justru hanya saat itulah kesempatannya bersama Himura Sai. Benar kan?

One night with him, satu malam, hanya satu malam. Yamanaka Ino akan menyerahkan segala yang dia miliki.

Sai memejamkan matanya, sesak,ya itulah yang sekarang dia rasakan. Ino, Gadis berandalan sang Ratu Kampus malam itu menemuinya, dan siapa yang mengira sang Ratu yang terkenal player masih Virgin meski sekarang sudah melepasnya karena kebodohannya sendiri.

' Ckk.., Yamanaka apa yang kau pikirkan malam itu? Shitt..!! Kenapa bayang2 malam itu masih terasa sampai sekarang..' batin pemuda itu mendesah frustasi.

"Bisa kita bicara sebentar, Yamanaka san" Pemuda tampan dengan kulit putih pucat porcelain itu berdiri di hadapan Ino, dia terlihat gugup, terlihat dari caranya berdiri kaku dan kepalanya yang masih menunduk seakan ingin menghilang dari tempat itu detik itu juga.

"Tentu, aku sudah menunggumu." Ujar Ino sembari perhatikan gerak-gerik Sai yang mungkin sedikit tidak nyaman. "Masuklah.." Ino melangkah kesamping,memberikan ruang agar Sai bisa masuk ke Kamarnya. Tanpa kuasa Ino memandang punggungnya yang lebar, perasaannya sajakah atau bahu Sai memang bergetar? Ino hanya bisa menghela nafas panjang, tidak ada lagi hal yang bisa dia lakukan untuk mengubah segalanya, bukan?

Sai tanpa disadari menatap Ino dengan kedua manic mata hitamnya, Gadis itu sedang menyeduh teh untuk mereka, ah, atau lebih tepatnya secangkir teh untuk Sai dan secangkir Americano untuk dirinya sendiri.

Ino kembali kehadapan Sai, meletakkan cangkir-cangkir berisi minuman panas yang masih mengepul di atas meja, Sai yang menghirup aroma caffeine itu dalam-dalam, berusaha menenangkan syaraf-syaraf yang dirasanya sangat tegang hari ini.

"Yamanaka, aku.." Belum selesai Sai berucap, Ino sudah membungkamnya dengan tatapan mata yang menyiratkan kepedihan yang sangat, meskipun dia tersenyum memperlihatkan dimples nya yang sangat menawan, tetap tidak mengurangi gurat kelelahan yang terpancar dari wajahnya. "Hentikan, Sai. cukup sampai disitu. Tolong jangan diteruskan …" Sai menggigit bibir bawahnya. Dia sadar, dialah yang membuat Ino seperti ini.

"Maaf…aku tak bisa"Lirih Sai kehilangan kata-kata. Lagipula apapun yang hendak dikatakannya toh tidak akan mampu mengubah keadaan.

Ino yang mendengar gumaman dari mulut pemuda yang duduk diseberangnya, terkesiap. Ini juga bukan salah Sai. Sai tidak bersalah. Dialah yang harus disalahkan yang jelas-jelas karena cemburu dan hormon sialan merencanakan ide jahat untuk bisa menguasai pemuda itu. "Jangan meminta maaf, Sai. Tidak ada yang salah. Justru… Mungkin kamulah yang paling tersakiti. Maafkan aku, aku takkan pernah melepasmu..." Ino memjijat kepalanya perlahan. Pikirannya menerawang.

Tiba-tiba dirasakannya dua tangan menangkup pipinya perlahan, memaksa Ino untuk mendongakkan kepala. Mata mereka bertemu. Iris biru cerah dan obsidian hitam sepekat malam yang selalu mampu membuat Ino terlena. Kecupan lembut itu mendarat dibibir plum Ino. Sai menciumnya lembut, ciuman yang manis, sekaligus menyesakkan. Hanya sepersekian detik dan Sai bergumam lirih dengan bibir yang masih sedikit menyapu permukaan bibir seorang Yamanaka Ino.

"Apa yang kau tambahkan diminumanku, Yamanaka…. Ahhkk... Shiittt.. Kau..." Tidak, kata-kata itu bukan diucapkan dengan nada yang seduktif, tetapi justru dengan nada yang menyayat hati. yang membuat Ino hampir menangis dibuatnya.

"Arrggghh…hhh..."Nafas memburu pemuda itu yang menerpa wajah Ino, geraman serak yang jelas seakan menahan gejolak nafsu yang tidak sanggup dia tolak.

Ino menyeringai.. Umpannya telah termakan. Ya.. dia telah menambahkan beberapa tetes obat perangsang pada minuman sai dan ia tak menyangka bisa secepat itu.

Lime Warning...

Sai melingkarkan kedua tangan kekarnya di pinggang Ino, menariknya mendekat. Dia tidak ingin menjawab perkataan sai, biarlah pemuda berkulit pucat itu mengetahui jawabannya lewat tindakannya, karena Ino sendiri tidak yakin apa yang mungkin keluar dari mulutnya sendiri.

Mereka berciuman, saling melumat satu sama lain. Bibir satu meraup bibir lainnya. Sai mulai menjilat bibir Ino, membasahi bibir yang menggoda itu dengan salivanya, kemudian menyesap perlahan, menggigit-gigit kecil bagian bawah bibir Ino, membuat Ino mendesah perlahan dan tanpa sadar membuka mulut, memberi akses Sai untuk memperdalam ciumannya. Lidah Sai yang mulai memasuki rongga mulut Ino, menjelajahi gigi gusi, bahkan membelit lidah Ino, saliva mulai berdecakan, tercampur. Jijikah mereka? Tentu saja tidak. Bahkan Ino yang menikmati dan Sai yang hampir lupa daratan hanya tersadar saat tubuh mereka berteriak meminta asupan oksigen.

"Ahh, Saii.." Ino mendesah tertahan, saat bibir Sai bergerak perlahan menyusuri pipi,telinga, memberikan gigitan kecil dan menghisap cuping telinga Ino, menjilat dan menghisap. Sedikit meniupkan hembusan napas hangat. Membuat bulu roma Ino merinding. Sensasi yang menyenangkan. Lidah itu kembali menyapu permukaan kulitnya. Turun hingga ke leher jenjang Ino. Jemari Sai mulai naik, meraba buah dada Ino dan melepaskan kancing kemeja nya satu persatu. Tanpa melepaskan pagutannya, Sai melepaskan kemeja yang dipakai Ino, memperlihatkan bra hitam dan belahan buah dada gadis itu. Dengan tergesa dilepasnya bra ino menampakkan buah dada dan puting tegak menantang seakan ingin dijamah.

Ibu jari Sai mengusap puting kanan Ino dengan gerakan melingkar, sedikit menggodanya, membuat Ino mendesah. Kedua tangannya menggenggam erat sisi sofa. Meremas, memelintir puting kecilnya, mencubit perlahan. Tak puas hanya dengan itu, Sai mulai menurunkan kepalanya, Hidung mancung Sai mulai menyusuri lekukan di payudara Ino, lidahnya menjilat puting kenyal itu, sedikit memberikan gigitan ringan dengan gigi seri, biarlah Sai tidak mengingat apapun yang nanti mungkin akan terjadi, biarlah Ino melepaskan beban yang selama ini bersarang di pundak ringkih itu, hanya malam ini saja, biarlah mereka menikmati rasa memliki.

"I-ino… " Satu tangan Sai meraba punggung Ino, memberikan kenyamanan, sedang satu tangan lainnya mulai menyusup kedalam celana Ino.

"Oh my God.. Saaii kuunn….." Bukan hanya desahan, sekali ini erangan yang keluar dari mulut Ino. bagaimana tidak, jemari Sai yang menelusuri perutnya, kini berada tepat di pubic hairnya. Membuat gerakan memutar dan memelintir. Tangan besar itu perlahan namun pasti menyentuh belahan vagina Ino, memijat perlahan dengan jarinya.

Sai kembali mengusap klistoris Ino dan tak lupa memainkannya. Jari-jari panjangnya mulai keluar masuk lubang vaginanya membuat basah. Ino yang mulai terengah engah bahkan mulai tidak sanggup membuka matanya, dia sedang meresapi perlakuan lembut Sai. Tangan Ino mencengkeram sofa semakin kuat saat Sai melepaskan celana jeans beserta celana dalam yang dipakainya, menelanjangi Ino tanpa ada seutas benang apapun di tubuh putih mulus itu.

"Saaii… ahhhhh.. ahhhhh…." Belum selesai Ino bicara, Sai langsung berlutut di hadapan gadis itu, kedua kaki Ino dibukanya lebar, dan Sai menatap vagina Ino yang mulai basah.. "Kau yang memulainya Yamanaka …" Sai berkata sebelum mulutnya dia dekatkan ke bibir vagina Ino. Mulut Sai membuka, mulai bermain menggunakan lidahnya, dia menjilat dari klistoris ke dalam lubang vaginanya membasahi vaginanya dengan saliva nya agar tidak terlalu perih saat ia terobos nantinya.

"Ah-astaga.. S-saaiii.. Hmmmmhhh…" Ino menutup mulutnya sendiri, meredam desahan yang semakin liar saat mulut terlatih Sai melahap bibir vaginanya. Sensasi hangat yang menyelimuti bibir vaginanya, belum termasuk friksi yang diciptakan Sai, gigi dan lidah yang bergesekan dengan kulit syaraf vagina. Kenikmatan tersendiri.

Lidah yang masih bergerak maju mundur memasuki liang vagina, dan tangan Sa mulai meremas bongkahan kenyal. Ibu jari Sai sudah menyentuh, meraba-raba, membuat Ino sedikit berjengit, namun perhatiannya teralihkan oleh gerakan mulut Sai yang masih setia menjilati vagina Ino.

Ino tersentak, perutnya terasa melilit, seperti sesuatu hampir meledak. "Aggghhhh.." dia melenguh panjang ketika memuntahkan klimaksnya untuk yang pertama kali dan yang dengan tanpa rasa jijik ditelan sebagian oleh Sai.

Menggunakan sisa sisa cairan Ino, Sai melumuri jemarinya. "Tahan, Yamanakaa…" Satu jari Sai memasuki lubang vagina Ino.

"MMMMppphhhhh.." Ino mendesah, memang tidak sakit, tapi rasanya sangat tidak nyaman ketika ada benda asing berada dalam tubuhmu, meski hanya satu jari saja. Sai mendiamkan jari telunjuknya disana, menikmati kehangatan vagina Ino. Aliran darah Sai kembali berpusat ke penisnya. Kalau satu jari saja sudah begini menyenangkan, apalagi jika juniornya yang berada didalam sana. Perlahan, Sai menggerakkan telunjuknya, memutar dan memaju mundurkan.

Tanpa sengaja, ujung jari Sai mengenai G spot Ino, membuat Ino menggelinjang nikmat. Tubuhnya terlonjak, seakan tersengat listrik. "Ahhh.. Ah…S-saaiii agghhhh~~~~~" Ino membelalak. Sai terdiam, dia jelas-jelas tidak ingin menyakiti Ino. Ino begitu berharga untuknya, meskipun entah bagaimana jalan cerita mereka nanti, tapi saat ini, dia ingin memberikan kenangan yang berharga.

Sai berusaha menyentuh titik itu lagi dan lagi, bahkan ia menambah dua jarinya di lubang vagina Ino. membuat Ino menggeram perih, tapi langsung tergantikan desahan erotis saat lagi lagi tiga jari itu menyentuh titik yang membuatnya mendesah tanpa peduli jika ada yang mungkin mendengar.

"Ssss-saaiii…" Ino mengerang kencang. Kedua kalinya dia mencapai klimaks, peluh bercucuran, wajah yang merah padam, tubuh yang terkulai lemas.

"Saii…" Ino memanggil, tangannya menggapai Sai, memeluk erat, sampai dia memutuskan untuk membuka kancing baju Sai. "Jangan curang, Sai kuun…" Sai menyeringai. Juniornya memang minta dibebaskan sedari tadi.

Ino menatap tubuh didepannya dengan nafas tercekat. Himura Sai, he looks like a sex Greek god. Penis Sai yang sudah tegak sempurna, abs yang terpahat tanpa cela. Sai mengangkat kedua kaki Ino, menempatkan kaki Ino di atas bahunya. Dengan posisi Ino yang masih duduk di sofa, dan Sai berdiri didepannya, mempermudah sex position mereka. Sai mencengkeram lutut Ino lalu membentangkannya. Mata Sai kembali menatap vagina Ino yang sudah sedikit membuka, merah dan berkedut.

"Kita mulai.." Sai berbisik, mencium cuping telinga Ino, membuat Ino mendesah pelan, apalagi Sai sengaja menggesekkan penis kerasnya di bibir vagina Ino. "Lakukan.." Ino sedikit menahan nafas, dia tahu, ini kedua kalinya pasti masih sakit. Tapi, ini Sai nya. Sai tidak akan melakukan hal yang akan menyakitinya.

Perlahan namun pasti, Sai mendorong penisnya memasuki vagina Ino yang masih saja sempit. "Ghhhh… Ahhhh.." Ino berteriak. Ingin rasanya meronta. Sakit sekali. Sai yang melihat Ino mulai menteskan airmata, kembali memberikan kecupan dan jilatan di pipi dan mulutnya. "Maaf…."

"Ahhhhh.."

Ino tidak bisa berhenti mendesah meski Sai mendiamkan penis nya di vaginanya dan tidak langsung menghajarnya. Tapi, Ino bisa rasakan dengan jelas, penis besar Sai yang memenuhi vaginanya, berdenyut-denyut dan panas, seakan merobek bibir vaginanya, tapi disisi lain juga menimbulkan sensasi yang penuh, dan nyaman.

"Lanjuutt?" Tanya Sai sembari menjilat sisa-sisa airmata Ino. "Iya..bergeraklah, please?" Ino memohon. Dia tau Sai merasa tersiksa dengan mendiamkan penisnya disana. Dan sai sendiri, butuh segala kekuatan untuk dirinya tidak langsung ejakulasi dengan penis besarnya yang seperti diremas2 hangat dan kuat di vagina Ino.

Sai mengangguk. Ia mencium bibir Ino, melumatnya perlahan, sedang pinggulnya mulai ia maju mundurkan.

"Ahhhh…."

"Mhhh, leb-bih cepat….." Ino kembali mendesah, ia tahu Sai sangat berhati-hati karena tidak ingin menyakitinya tetapi, Ino ingin merasakan malam ini seutuhnya, tanpa ada batas atau penghalang.

Sai menarik pinggulnya hingga lalu menghentakkannya keras, membuat penisnya menusuk keras vagina Ino, Menarik penisnya sampai ujung nya yang tertinggal, dan memasukkannya lagi dengan sekali hentakan, terus dan terus.

"Saaiii! Ah! Ah! .. Ahhhh!" Ino tidak lagi berusaha menutupi erangan yang keluar dari mulutnya, tangannya mencengkeram erat sofa sampai buku jarinya memutih.

Penis Sai yang bergerak semakin cepat, menyodok G spotnya membuat Ino tidak kuasa menghentikkan desahan-desahan yang keluar dari bibir sintalnya. Sai menundukkan tubuhnya, memperdalam tusukannya ke vagina Ino sembari mencium-melumat-menggigit buah dada dan puting Ino. Tangan Ino yang sedari tadi hanya pasif mencengkeram sofa, mulai bergerak, memeluk punggung Sai, otot Sai tercetak jelas disana, setiap gerakan, Ino memeluk erat punggung yang dibasahi keringat itu.

Kaki Ino pun melingkar di pinggang sexy Sai, berusaha lebih memperdalam keintiman mereka. "Mhhh…" Sai dan Ino sama-sama mendesah.

"Berbalik Yamanaka," tanpa melepas penis kebanggaannya, Sai membimbing Ino turun dari sofa. "HHHHhhggggmmmpppht.…" Ino mendesah ketika Sai membalikkan tubuh Ino. Sehingga kini Ino menungging di depannya. Doggy Style, eh? gggmmmpppht., Sai membimbing berusaha lebih memperdalam keintiman mereka. Sai mencengkeram pinggang Ino kuat, kembali dia menggerakkan pinggulnya. Brutal.

"Aaargh Saiii! Aaaargh… Aaaargh…"

Erangan, desahan, teriakan, entah apapunitu keluar dari mulut Ino. Nikmat, dan mengharap lebih. Lebih lagi sampai mereka mencapai puncak tertinggi.

Sai menegakkan tubuhnya, tangannya tidak tinggal diam, meremas pantat Ino. Pantat kenyal, bundar yang selalu dilirik oleh orang-orang diluar sana.

"Saaaiihhh..!" Ino mengerang. Dia merasakannya lagi, saat vaginanya terasa akan memuntahkan cairannya. Sai tersenyum.

"Tunggu…" Sai mengarahkan tangan satu nya kearah klistoris Ino. mengusap-usap perlahan memberikan rangsangan tambahan pada vaginanya. "S-ssaiii…. " Ino membelalakkan matanya,

Sai terus menerus menghujam G spot-nya.

"Aghh, Ugh… Agh…" Ino mendongak sambil mengerang.

"Hgghhh.. Ino mengerang keras. Penis besar dan panjang itu semakin membesar, berkedut-kedut dan Ino bisa merasakannya.

Sai melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ino menggerakkan pinggulnya membabi buta. "AGGHHHHH…" baik Sai dan Ino mengerang bersama. Keduanya mencapai klimaks bersamaan, Sai dengan sengaja memuntahkan cumnya didalam vagina Ino.

Sai bisa merasakan spermanya mengalir begitu keras dan banyak, sampai tidak tertampung dan mengalir keluar, menetes dipaha putih mulus Ini. Sai masih sedikit mengerakkan penisnya, mengeluarkan semua cum nya di dalam vagina Ino.

Perlahan dia melepaskan penisnya dari jepitan vagina hangat itu. Sai membalik tubuh Ino, sehingga mereka berhadapan, dengan lembut dia mengangkat tubuh Ino kekamar tidurnya, merebahkan tubuh polos itu di ranjang king sized milik Ino.

Wajah Ino merah dan basah penuh dengan keringat. Deru nafas Ino yang sedikit terputus-putus membuat buah dada itu sedkit bergerak naik turun.

Lama Sai memandang wajah Ino. Perasaan itu kembali membuncah dalam dadanya. Perasaan yang Sai sama sekali tidak bisa jelaskan. Sai menarik wajah Ino dan mencium- melumat bibirnya dengan lembut. "mmmhh…" Ino mendesah.

Sai melepas ciumannya.

"Maaf.." ujar Sai perlahan, jarinya mengusap lembut pipi Ino. "jangan… jangan merusak moment ini Sai.." Sai merebahkan tubuhnya disamping Ino, memeluk pinggang Ino dan menariknya mendekat, bersandar di dada bidangnya.

"Saat ini hanya ada kita… Biarkan besok tetap menjadi besok, Sai… Kumohon…." Ino mencium perpotongan leher Sai menghirup aroma tubuh yang selalu disukainya.

"Iya… aku mengerti , Yamanaka…" Sai menggenggam tangan Ino yang masih setia melingkar dipinggangnya.

Dia membalikan tubuhnya, sekali lagi membuat mereka berhadapan. "Saaiikuun… Cium aku.." Ino meminta… Iris biru itu sedikit berkabut. Sekali lagi mereka berciuman panas,basah dan menyesakkan.

"Ai shiteru Himura Sai.."

Dan mereka berdua terlelap.

Yamanaka Ino duduk sambil menyesap morning coffee nya. Ketika dia bangun, dia sudah tidak mendapatkan Sai disampingnya, meski Ino sudah menduga itu, tapi tidak dipungkiri bahwa dia masih berharap.

TV masih menyala , menyiarkan headline news pagi ini.

"Pengusaha Yamanaka Group hari ini akan melangsungkan pertunangan. Meskipun banyak menuai kontroversi, dikarenakan pertunangan sejenis pemegang tahta Himura Group, sang juru bicara berkata bahwa mereka tidak akan mengambil pusing tentang hal ini. Dan Yamanaka Naruko yang akan segera menyandang marga Himura yang akan ditunangkan dengan cucu dari pengusaha game ternama Himura Corp Himurai Sai siswa Konoha High School dengan Prestasi sempurna dan yang baru saja ditemukan keberadaannya setelah 10th menghilang."

Ino berdiri, berjalan menuju kamar tidurnya, tempat dia dan Sai menghabiskan malam indah mereka. Pikirannya menerawang. Tangan Ino meraba tempat tidur dimana Sai berbaring dipelukanya.

Kecewa.

Tapi dia tahu dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak sanggup dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Ino menghela nafas berat. Sayup-sayup masih terdengar anchor membacakan berita dan reporter yang sedang mewawancarai narasumbernya.

"Suara lembut berkharisma itu menjawab pertanyaan sang reporter. Kami sangat dekat semenjak kami masih anak-anak, saya, saudara laki-lakiku dan calon tunanganku.

"Jadi kapan pesta pertunangannya ?

"Akan dilangsungkan malam ini. Saya baru kembali dari USA bulan kemarin. Tetapi, terimakasih kepada setiap orang yang membantu, semuanya sudah siap sekarang." mengedipkan matanya kearah kamera. Tersenyum lebar, menandakan bahwa dia tengah berbahagia hari ini.

Sang reporter melambai membungkuk kearah yang dibalas dengan anggukan kepala ketika memasuki mobil pribadinya dikawal beberapa bodyguard.

"That was our interview with . Congaratulations for both Himura Sai and Miss Yamanaka Naruko. We wish you a happy relationship."

Mata Ino terpejam menahan tangis. Seandainya waktu bisa diputar kembali. Seandainya dia tidak sebodoh itu dan membuat semua ini menjadi begini.

Penyesalan itu selalu datang terlambat, itulah yang sekarang menghantui seorang Yamanaka Ino.

..TBC..or The End?

Sekilas tentang Himura Sai

Himura Sai seorang siswa berprestasi yg mengunakan beasiswa untuk bisa bertahan di Konoha High School. Walaupun dia adalah cucu satu2 nya pengusaha Himura Corp. Dia memilih menyembunyikan identitasnya dan menjadi siswa biasa.

Dan Yamanaka Naruko adalah kekasihnya yg ia harapkan bisa menerimanya apa adanya ternyata telah bekerja sama dengan kakeknya agar ia bisa kembali ke keluarga himura.