Disclaimer: Harry Potter Milik JK Rowling.
Pairing: Draco Malfoy x Hermione Granger
Rating: T / M (saya tidak yakin, bagaimana menurutmu?)
Warning : OOC. No Magic. Based on Feltson's life story dengan tambahan sana sini yang murni karangan penulis.
.
.
honestly,, I am a little embarrassed to post this second chapter, tapi... mau gimana lagi, ini benar-benar harus diposting kan? Sudah saya coba untuk membuatnya ga keterlaluan di bagian 'itu', semoga memang masih pantas.
Hope you all happy reading... :)
"Apa maksudmu mengungkit masa lalu kita ke media?" Draco membelakangi Hermione dan menatap langit malam dari tepi balkon. Rambut pirangnya berkibar lembut tersapu angin malam.
"Apa maksudmu?" Hermione tertawa sambil mengerutkan alisnya.
"Kau tahu maksudku, aku sudah bersama Astoria, dan kami saling mencintai. Aku tak mengerti apa yang fans kita pikirkan sampai mereka terus terobsesi menyatukan kita, bahkan dalam cerita fiktif khayalan mereka sekalipun, kau tahu? Astoria selalu benci jika namamu atau segala hal tentangmu berada diantara kami. Ku harap kau mengerti." Draco memejamkan matanya merasakan semilir angin yang menerpa wajahnya.
"Greengrass cemburu padaku eh?" Tanya Hermione sambil mengangkat sebelah alisnya dan Draco tidak memandangnya, hanya menaikan bahunya.
"Lagipula kau ini terlalu percaya diri Draco, kau pikir aku mengharapkanmu? Seperti tak ada pria lain saja." Hermione memutar bola matanya. "Masih banyak pria yang bersedia mengejarku dengan senang hati kalau kau mau tau." lanjut Hermione sambil tersenyum bangga didepan Draco, namun dalam hati ia merutuk kesal sekaligus meratap sedih atas pernyataan Draco.
"Lerman itu? Ah jadi benar gossip itu? Apa kau menyukainya?" Tanya Draco dengan suara penuh rasa penasaran.
"Maaf Draco, tapi kurasa itu bukan urusanmu kan?" Hermione menahan senyumnya. Draco kembali memasang tampang datar dan dingin.
"Ah ya tentu saja itu bukan urusanku." Draco kembali menatap langit malam yang hitam pekat tanpa hiasan bintang.
"Lagipula bulan depan aku akan pindah ke Amerika untuk melanjutkan kuliahku disana, jadi tenang saja, aku tak akan mengganggu hubunganmu dengan Greengrass."
"Amerika? Kau kembali ke Brown? Bukankah kau sudah pindah ke Worcester College, Oxford?" Draco membalikan tubuhnya menghadap Hermione.
"Ya tadinya, tapi aku pindah ke Oxford hanya untuk menyelesaikan syuting kita. Karena sekarang syuting sudah selesai, maka aku akan kembali ke Brown University untuk menyelesaikan kuliahku." Hermione tersenyum pada Draco, namun Draco hanya diam.
"Aku pasti akan merindukan kalian." Hermione melanjutkan. Suasana mendadak hening beberapa saat.
"Ngomong-ngomong selamat atas film barumu. Bagaimana rasanya bekerjasama dengan Lerman itu eh?" Draco memecah kecanggungan yang menggantung di antara mereka dengan mengalihkan pembicaraan mereka.
"Terima kasih. Ya menyenangkan bekerjasama dengannya, seperti dengan Harry dan Ron." Hermione terkekeh mengingat ketiga rekan lelakinya itu.
"Ya, kau terlihat nyaman bermain dengannya, aku bisa melihat itu. Kau lebih terlihat natural saat bersama Lerman dibanding saat berakting di film yang satu lagi." Draco bicara panjang lebar tanpa tau apa yang ia bicarakan.
"Pardon... film yang satu lagi? Apa maksudmu Bling Ring? Begitukah menurutmu? Err kau telah menonton keduanya? Oh merlin! Aku malu sekali kalau begitu! Kelakuanku disana benar-benar parah, sangat tidak Emma" Hermione merona mengingat adegan-adegan yang ia lakukan dalam film itu, wajahnya kian bertambah semerah tomat saat membayangkan bahwa Draco Malfoy melihat aksinya di film itu,ya walaupum hanya sebuah film, tapi itu tetap membuatnya malu, mengingat dirinya merupakan gadis baik-baik dan terpelajar persis dengan perannya sebagai Emma Watson.
Ya! Kelakuanmu parah sekali! Sampai-sampai membuatku terus bermimpi basah tentangmu setiap selesai menontonnya berkali-kali! Rutuk Draco dalam hati.
"Errr, tidak. Aku belum menontonnya, aku hanya melihat trailler-nya di bioskop waktu itu." Draco merutuki mulutnya yang terlalu banyak bicara.
"Oh." Hanya itu yang sanggup Hermione katakan. Hanya kata 'Oh' dengan nada penuh kekecewaan yang dengan susah payah ditutupi olehnya yang keluar dari bibir Hermione. Draco menyadari itu dan suasana kembali sunyi.
"Kenapa kau tak naik ke panggung saat namamu di panggil untuk membacakan nominasi di MMA?" Hermione kembali membuka pembicaraan.
"Eh, itu... Err... Astoria tiba-tiba tidak enak badan dan meminta pulang lebih awal." Draco menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Begitukah? Kupikir dia menyeretmu karena tak rela melihatmu berdiri berdampingan bersamaku di depan banyak orang." Hermione mengatakannya dengan nada menyindir tajam.
Draco hanya diam tak membantah dan suasana kembali sunyi.
"Ehm, baiklah kurasa aku harus pulang. Senang bisa berbincang seperti ini lagi bersamamu setelah 4 tahun." Hermione tersenyum sendu pada Draco yang sama sekali tak menatapnya.
"Jangan berlebihan, kita baru saja menyelesaikan film kita 5 bulan lalu, dan kita berbincang Granger." Draco memutar bola matanya.
"Tapi tidak seperti saat kita menjalani syuting untuk tahun ketiga dan keempat di Hogwarts. Terutama semenjak kau bertemu dengan dia. Kita hampir tidak pernah bicara lebih dari 10 kalimat sejak kau bersama dengan pacarmu itu." Hermione memunggungi Draco.
"Karena kita akan lama tak bertemu, boleh aku mendapatkan pelukan perpisahan darimu Drake?" Hermione mengucapkan kalimat terakhirnya dengan suara pelan sekali sambil menunduk menatap sepatunya.
"..." tak ada jawaban dari Draco.
"Err... Baiklah, aku mengerti. Bye Malfoy." Hermione memutar tumitnya untuk keluar dari balkon kediaman Mrs. Rowling. Belum sempat kakinya melangkah keluar pintu, pintu tersebut terdorong menutup. Mengejutkan Hermione yang sedari tadi berjalan sambil menunduk malu sekaligus sedih dan kecewa karena lagi-lagi pria yang amat sangat di cintainya menolaknya mentah-mentah. Hermione mendongakan kepalanya dan melihat sebuah tangan kekar menahan daun pintu yang tadi tiba-tiba menutup. Tangan milik Draco Malfoy. Hermione menatapnya bingung.
"Kenapa kau memanggilku Malfoy?" Draco menatap tajam kedalam mata cokelat Hermione.
"Bukankah memang itu namamu?" Hermione memutar bola matanya. Yang benar saja, pria bodoh namun tampan ini mengagetkannya hingga hampir serangan jantung hanya karena ingin bertanya kenapa dia memanggilnya Malfoy? Itu kan memang nama warisan orang tuanya sejak lahir!
"Bukan itu maksudku Granger! Sepanjang pembicaraan kita tadi kau memanggilku Draco, bahkan kau sempat memanggilku Drake saat meminta pelukanku tadi!" Draco maju selangkah.
"Lupakan! Dan jangan berlebihan! Apakah begitu penting mengurusi apa panggilanku padamu eh? Kurasa jawabanya tentu tidak kan? Lagipula barusan kau juga memanggilku Granger. Minggir Malfoy! Aku harus pulang, aku butuh istirahat!" Hermione mendorong dada Draco untuk membuatnya menyingkir dari hadapannya. Namun Draco terlalu kuat dan tak bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri.
"Kau memanggilku Malfoy karena kau marah aku tak memberikanmu pelukan." Draco menyeringai. Membuat tangan Hermione gatal ingin menampar wajah tampannya.
"Terlalu percaya diri Malfoy." Hermione berusaha menahan amarahnya yang mulai terpancing oleh konfrontasi Draco.
"Ya, memang. Dan aku tau bahwa aku benar." Malfoy menyilangkan lengannya di dada.
"Minggir!" Hermione mendorong Draco kesamping dengan sekuat tenaga. Tapi kemudian Draco menggapai pinggang ramping Hermione yang berbalut gaun satin hitam dan memeluknya dari belakang. Hermione yang terkejut belum bisa membuat otaknya berpikir dan mencerna kejadian yang sedang terjadi, jadi ia hanya diam sambil membelalak dan membentuk mulutnya seperti huruf 'O'.
Draco memanfaatkan keterkejutan Hermione dengan melanjutkan aktivitasnya. Draco menenggelamkan wajahnya di leher Hermione dan menghirup harum tubuhnya yang membuat Draco kesetanan. Ya, Draco memang sudah kesetanan dan telah kehilangan akal sehatnya. Dia melupakan semuanya dan tidak mempedulikan segala hal yang selama ini mengganjal obsesinya pada Hermione.
Draco menghirup aroma rambut cokelat lembut Hermione, menciumi bahu telanjangnya terus menuju ke leher jenjangnya dan menghisapnya. Saat itulah Hermione sadar dari keterkejutannya dan mencoba menyentakan tangan Draco yang sedang melingkari pinggangnya, namun pelukan Draco terlalu kuat, dan justru malah bertambah erat setelah penolakan dari Hermione. Hermione terus berusaha melepaskan diri sampai Draco tiba-tiba berbisik di telinga kanannya "Ini kan yang tadi kau minta? Pelukan Perpisahan?" Draco memberi kecupan singkat di pipi Hermione yang merona, kemudian ia memutar tubuh Hermione untuk menghadap kepadanya. Hermione menatap Draco bingung namun terselip pandangan senang dimatanya.
"Kau manis sekali Hermione, mengapa aku begitu bodoh hingga memilih Astoria daripada Princess sepertimu?" Draco berbisik dekat sekali dengan wajah Hermione hingga mereka dapat merasakan napas mereka satu sama lain. Draco mengelus kedua pipi Hermione yang merona. Jemarinya turun mengusap bibir pink Hermione yang basah. Tanpa sadar Draco menjilat bibir bawahnya sendiri dan saat itulah mata Draco menggelap dan langsung menempelkan bibir dinginnya ke bibir Hermione yang membuatnya hilang akal. Hermione membalas ciuman Draco malu-malu. Kemudian Draco menggoda Hermione dengan menjilat-jilat bibir bawah Hermione lalu menggigitnya, Hermione refleks membuka mulutnya yang langsung di serang oleh Draco. Lidah Draco menjelajah liar di dalam mulut Hermione, mengajak lidah Hermione bergelut bersama. Mereka terus seperti itu sampai akhirnya mereka butuh untuk menghirup oksigen.
Saat bibir mereka terlepas, Draco langsung menurunkan ciumannya ke arah leher jenjang Hermione yang terekspos. Hermione melenguh lembut dan meremas rambut Draco.
Draco menghisap kembali leher Hermione hingga meninggalkan bercak merah di lehernya.
Setelah puas menjamah leher wanita pujaannya, Draco kembali melumat bibir ranum Hermione dengan ganas. Hermione mengalungkan tangannya ke leher Draco.
Draco mendesak Hermione ke dinding sebelah pintu balkon, semakin memperdalam ciumannya. Hermione telah melingkarkan sebelah kakinya ke pinggang Draco, kemudian Draco mengangkat kaki Hermione yang satu lagi sehingga sekarang Hermione benar-benar sepenuhnya bergelayut pada Draco tanpa memijak lantai. Saat Draco memegang pahanya untuk mengangkatnya, Hermione merasakan sesuatu yang mengeras dan mendesak dari dalam celana Draco dan menekan pinggulnya kuat. Draco menggeram dan meremas bokong Hermione, menimbulkan lenguhan yang lolos dari bibir Hermione.
Hermione menekan tubuhnya ke tubuh Draco lebih erat, tak ada jarak antara mereka. Tangan kanan Draco yang semula menopang paha Hermione, kini merambat naik keatas meraba pinggul dan pinggangnya terus naik keatas mengelus perutnya hingga sampai ke tempat tujuannya, ke dua buah gundukan menggoda yang sejak berbulan-bulan lalu dia impikan dalam mimpi basahnya. Draco menangkupkan tangannya ke gundukan kenyal itu, meremasnya lembut hingga menimbulkan suara desahan nikmat dari sang empunya. Ternyata benar apa yang ditulis wartawan, bahwa tubuh Hermione jauh lebih menawan di bandingkan tubuh Astoria yang rata itu. Baru sebentar bersama Hermione, Draco sudah lupa bahwa Astoria adalah kekasihnya yang seharusnya dia bela. Draco benar-benar telah hilang akal.
Draco menyusupkan jari telunjuknya kedalam belahan dada Hermione dan memainkannya disana, lalu mengelusnya, dan kembali menangkupnya dan meremasnya, kali ini Draco menggunakan kedua tangannya. Hermione merintih menahan erangan nikmat.
Jemari Draco menarik kemben gaun Hermione kebawah dan menurunkan bra hitam tipis berenda yang melapisinya.
Ciuman keduanya lepas karena kehabisan napas. Namun Draco belum berhenti bermain dengan gadisnya, Draco memandang dada Hermione dengan mata berkilat penuh nafsu seperti setiap kali dia menonton film Hermione dan menyaksikannya menari striptist. Hermione merona melihat pandangan Draco yang berkilat penuh gairah ke arah dadanya yang benar-benar telah terekspos tanpa di tutupi sehelai benangpun akibat ulah Draco.
Draco menjilat bibirnya hingga basah dan melirik Hermione yang sedang menatapnya penuh rona, pandangan Draco kembali ke objek favoritnya, dada Hermione yang sedang naik turun karena megap-megap setelah di cium olehnya. Hermione masih bergelayut di lehernya dan kakinya masih melingkari pinggang Draco, nampaknya dia nyaman dengan desakan dari dalam celana Draco.
Draco menyeringai dan menangkup kembali kedua dada Hermione, ia menghisap dada kanan Hermione dan mengulum puncak dadanya kemudian menjilatnya lembut hingga membuat Hermione menjerit tertahan dan menjambak rambut Draco, sedangkan tangan kirinya sibuk bermain di dada sebelahnya, jemarinya menari menggoda mengelilingi puncak dada Hermione. "Dra..coo..hh.. Uh Draaake.."
"Ya princess?" Draco kembali menggoda wanitanya dengan menggigit lembut puncak dada Hermione. Tubuh Hermione bergelinjang merasakan rangsangan atas perlakuan Draco terhadapnya.
"Hentikan Drake, sebelum kau membuatku gila." Hermione meminta Draco berhenti namun tangannya terus menekan kepala Draco untuk menempel pada dadanya.
"Bagaimana aku bisa berhenti jika kau terus mendekapku erat dan menenggelamkan wajahku dalam parit gundukan surgamu ini eh?" kekeh Draco menarik wajahnya dari dada Hermione. Hermione cemberut sambil merona dan memukul dada Draco main-main.
"Kau cantik sekali Mione." Bisik Draco di telinga Hemione. Draco mengelus paha Hermione dan merabanya dengan lembut dengan ujung jarinya. Tangannya menyusup ke balik rok gaun Hermione dan terus naik mencari tempat tujuannya. Sampai! Tempat yang lembab dan basah namun diselimuti dengan bulu halus. Draco menelusupkan jemarinya ke dalam celana dalam Hermione tanpa merobeknya. Jemari Draco bermain disana, mengelusnya, menggodanya agar memuntahkan sesuatu dari dalamnya. Tangan Hermione turun dari leher, ke bahu, dan kemudian sampai ke kerah kemeja Draco, ia meremas kerah kemeja Draco dan menariknya kedalam ciumannya. Draco membalasnya dengan senang hati, tapi jemarinya tetap bermain di bawah Hermione dan memanjakannya dengan elusan lembutnya sampai akhirnya jari Draco menjadi basah.
Draco menyeringai dalam ciuman panasnya dan berbisik "Kau basah Granger."
"Seperti aku peduli saja!" dengus Hermione.
"Kau mau sekalian melanjutkan yang lebih eh?" Draco menatap nakal Hermione.
Hermione turun dari gendongan Draco dan merapikan gaunnya yang tadi di acak-acak Draco.
"Tidak." Hermione menjawab tawaran Draco.
"Walaupun aku sangat ingin. Tadi itu memang gila, di luar akal sehat. Barusan itu kita diliputi gairah yang membuncah, dan aku mengakui bahwa aku menikmatinya. Menikmati setiap sentuhanmu, baik itu dari jari-jarimu maupun dari bibirmu. Aku memang menginginkannya sejak lama, itu pengakuanku. Mungkin tadi aku terlihat seperti perempuan murahan, tapi aku bukan pelacur. Aku tak akan merusak hubungan orang Drake. Termasuk hubungan pria yang aku inginkan, karena aku tak ingin hal itu menimpaku kelak ketika aku harus menerima karmanya. Aku tetap seorang Hermione Granger yang menjunjung tinggi kehormatan dan etika seorang wanita. Aku tak menyesal melakuakan semua hal tadi bersamamu, karena aku memang menginginkanmu. Ya, menginginkanmu, seperti para fans kita yang begitu menginginkan kita bersama, akupun juga menginginkannya. Selama ini semuanya hanyalah anganku dan aku memuaskannya dengan berimajinasi setiap aku membaca fanfiction yang mereka buat tentang kita, aku menikmati melihat setiap gambar kita berdua yang mereka ciptakan dengan keahlian edit mereka yang seadanya. Membuatku merasa itu semua memang benar dan nyata. Barusan kita telah mewujudkan setiap rekayasa yang fans kita buat, itu membuatku sangat puas. Dan itu tadi adalah hubungan fisik paling jauh yang pernah kulakukan, bahkan tidak dengan semua mantan kekasihku. Hanya kau yang pernah menjamah tubuhku sejauh itu. Tapi aku tak mengizinkanmu untuk menjamahku lebih dalam lagi. Karena sebesar apapun harapanku padamu, aku hanya akan menyerahkan diriku pada seseorang yang akan menikahiku kelak." Hermione tersenyum manis kepada Draco yang tertegun mendengar kata-katanya. Hermione maju mendekat pada Draco dan menangkup kedua pipi Draco, berjinjit sedikit, kemudian menciumnya lembut.
"Thanks." bisiknya. Kemudian Hermione pergi meninggalkan Draco sendirian di balkon dan memandangi kepergiannya.
To Be Continue...
Niatnya sih udh pingin posting chapter ini sejak 2 hari lalu, tapi apa daya kesibukan membuat saya harus menunda untuk memposting chapter ini. Apalagi besok saya harus sidang skripsi, mohon doanya ya teman-teman :D
Special thanks banget buat semua riviewers [ RinaaKartikaa, CallistaLia, Ochan Malfoy, emaa, Nha Chang, Guest 1, Guest 2, Looly, undhott, Clairy Cornell, and yellowers, caesarpuspita, sentiia15 ] ini mungkin bukan pertama kalinya saya nulis, tapi ini pertama kalinya saya berani mempublikasikan tulisan amatir saya. Ternyata efek dari respon positif kalian itu bener-bener luar biasa. Jujur saya seneng banget. Sebenarnya saya sendiri juga seorang reader dan reviewer ff dramione yang pasti nongol di kolom review pada cerita-cerita yang saya suka, tapi saya menggunakan nama lain dan akan selalu begitu walaupun sekarang saya sudah punya account sendiri :)
Soal judul He for She, sebenarnya ini bukan kesalahan grammer atau apa, memang kalimat yang benar itu He for Her karena kata ganti orang ketiga wanita disini seharusnya posisinya adalah sebagai objek, bukan subjek. Tapi dasar daripada judul ini sendiri adalah suatu slogan dari gerakan yang mendukung feminisme. Nanti lebih jelasnya ada di chapter 3. Maka saya tidak akan mengubah judulnya.
