Aduh rasanya udah berabad-abad gak update...
Rasanya sengsaraaaaaa deh gak bisa ngedapetin ide cemerlang yang emang biasanya didapetin gak sengaja.
Untuk readers yang dengan setia dan sabar menunggu fic saya update, saya persembahkan Day By Day Team Natsu : I Want To Be A Teacher Chapter 2!
Selamat membaca!
Pairing : Natsu D. & Gray F. & Jellal F.
Genre : Humor
Disclaimer : Hiro Mashima
Warning : Kayaknya sih kejadian kayak gini gak ada di dunia nyata...
Pagi hari yang cerah di komplek B.
Seperti biasa, orang-orang bangun pagi untuk membersihkan rumah, mengantar anaknya sekolah, dan berkerja. Kita bisa melihat Natsu, dan Gray yang keluar rumah pagi-pagi dengan kemeja rapi dan celana jeans.
Mari kita cek Natsu.
"Hati-hati di jalan ya! Ngajar yang bener!" Kata Lucy yang masih pake celmek karena lagi masak.
"Iya, kau juga jaga rumah baik-baik!" Jawab Natsu yang memakai setelah kemeja merah dengan jeans dan sepatu. Rambutnya diberi gel supaya rapi. Dengan kacamata hitam yang gak ada kacanya yang nyantel di depan matanya.
"Aku pergi!" Teriak Natsu yang berlari meninggalkan Lucy di rumahnya yang besar.
"Y-ya..." Kata Lucy sambil melambaikan tangannya.
"Buat apa dia pake kacamata kalau dia gak rabun? Atau jangan-jangan dia rabun? Atau biar keliatan pinter?" Batin Lucy yang masih berdiri di depan rumahnya.
Selanjutnya mari kita lihat Gray.
"Gray-sama terlihat keren! Lebih keren daripada yang lain!" Puji Juvia pada Gray yang memakai setelah kemeja putih dengan dasi yang terikat rapi di lehernya.
"Tentu saja! Pasti!" Kata Gray sambil tersenyum dan menyibakkan kerah kemejanya.
"Pasti semua murid di kelas nanti pada teriak! Terus terus pada loncat-loncat! Terus terus pada lari-lari! Terus terus—"
"Stop! Aku pergi!" Kata Gray yang berjalan santai meninggalkan istrinya yang masih terpesona.
Terakhir, mari kita lihat Jellal.
"Sayang! Sarapannya udah jadi belom?" Tanya Jellal yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Apaan sih lu sayang-sayang!? Cepet sini!" Teriak Erza dari dapur.
Jellal berjalan malas ke dapur. Ia menemukan Erza yang lagi ngelap meja sambil ngoceh-ngoceh.
"Ini orang pagi-pagi kerjanya ngoceeeeh aja... gua gak kerja, ngoceh. Gua kerja, ngoceh juga... bingung ah!" Batin Jellal sambil melihat Erza yang masih ngelap meja dengan kasarnya.
"Nih!" Kata Erza dengan kasar sambil menyodorkan sepiring nasi plus telor rebus sama krupuk udang.
"Ah... hah?" Jellal mengedip-ngedipkan matanya pada piring yang sekarang ada di tengannya.
"Apaan nih? Kok cuma ada nasi, telot rebus, sama krupuk?" Tanya Jellal dengan mulut menganga.
"Kalau mau nambah kecap, ambil di dapur." Kata Erza yang sedang menuang susu untuk anak-anaknya.
"Cih!" Batin Jellal menggerutu. "Aku makan mie aja." Akhirnya dengan malas, pria yang memakai kemeja biru muda dengan celana jeans itu memasak 2 bungkus mie instan.
Di taman komplek yang biasa.
"Mana nih orang? Udah jam segini masih belom dateng!" Kata Natsu sambil melihat jam tangannya.
"Tau dah. Mungkin masih tidur kali ya?" Kata Gray sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Bentar lagi jam 7 nih!" Kata Natsu yang agak panik.
"Emang kenapa kalo jam 7?" Tanya Gray yang sama sekali gak ngerti.
"Gray, plis deh... kita tuh kerja jadi guru. Murid itu masuknya jam 7, nah kalo gurunya aja datengnya pas-pas-an, mau jadi apa murid kita, ya gak readers?!" Kata Natsu yang mendapat tepuk tangan dari orang-orang di depan layar.
"Ya sih... kayaknya gak ada tuh guru yang datengnya pas-pas-an... tinggalin aja ah... " Kata Gray yang langsung beranjak pergi.
"Eh! Tungguin gua, woi!" Natsu pun berlari mengejar Gray.
Akhirnya Jellal ditinggal sendiri. Dia masih enak-enak sarapan di rumah.
Chapter 2
Natsu Sensei!
Natsu POV
Waduh! Aku kehilangan jejak Gray nih! Tapi gak masalah... toh aku tau sekolahannya kok...
Sekarang yang jadi masalah itu adalah udah mau jam 7 dan aku masih ada di dalam komplek! Dengan terburu-buru aku nyari tumpangan. Eh aku nemu bajai!
"BANG! BAJAI!" Teriakku sambil melambai-lambai tangan.
Bajai itu datang ke arahku.
"Mau kemana pak?" Tanya si tukang bajai.
"Ke sekolahan sebrang warung kopi."
"Oh ya bisa. 15.000." Kata si tukang bajai itu.
"Weh! Mahal amat! Biasanya Cuma 7.000!" Kataku mencoba menawar. "Lagian saya ini sukarelawan buat sekolahan di sono! Ngajar anak bang! Biar pinter! Abang tau sendiri, guru-guru pada mogok kerja..." Lanjutku. "Ah! Bodo amat! Mau mogok gak mogok, tetep sama aja! Anak gua emang gak sekolah kok!" Kata tukang bajai itu. Tukang bajai ini ngotot, ya udah deh, aku ngalah sebagai pelanggan yang baik.
Akhirnya aku dateng ke sekolah tepat waktu. 06.59. Idih! Satu menit lagi aku musti ada di kelas! Dengan semangat nyot-nyot aku berlari ke kelas. Dan akhirnya sampailah aku di dalam kelas.
"Ada guru! Ada guru! Woi! Diem!" Teriak anak-anak di dalam kelas saat melihat kedatanganku.
Oh iya, aku ini jadi guru buat anak SMP. Untungnya ada juga beberapa sukarelawan di sini. Dan aku kebagian ngajar anak SMP, ya, ngajar semua mata pelajaran. Namanya juga membantu pendidikan se-Magnolia...
"Berdiri! Beri salam!" Ujar salah satu anak yang aku yakin itu pasti ketua kelasnya.
"SELAMAT PAGI PAK!"
"Y-ya... duduk, duduk." Kataku sambil menaik-turunkan pergelangan tanganku menyuruh mereka duduk.
"Pelajaran pertama apa anak-anak?" Tanyaku pada anak-anak itu. Maklum, karena telat jadi aku belum sempat liat jadwal.
"Matematika pak!" Jawab satu kelas.
"Oke,keluarin buku matematikanya. Udah belajar sampe halaman berapa?" Tanyaku sambil membolak-balik halaman demi halaman.
"107 pak!" Jawab si ketua kelas.
Natsu pun membuka halaman 107.
"Aah... lingkaran... " Gumam Natsu malas.
"Ya udah! Bapak akan menerangkan soal lingkaran! Lingkaran itu rumusnya... ngg... lihat di cetak! Lalu rumus lingkaran ada banyak! Ada luas, keliling, luas juring, panjang busur, setengah lingkaran, seperempat lingkaran dan lain-lain. Kalian harus menghafal itu ya!" Jelas Natsu.
"Pak! Ada Pr kemarin! Kapan mau dibahas?" Tanya salah seorang murid.
"Ya udah, bahas aja sekarang. Pr-nya halaman berapa?" Tanya Natsu.
"105 pak!" Jawab anak itu.
"Baiklah,... kau! Kau! Yang kacamata! Kerjakan nomor 1 di depan!" Kata Natsu memanggil seorang murid perempuan yang memakai kacamata.
Anak perempuan itu pun maju sambil membawa buku cetak.
"Kau yang lagi ngrobrol di pojokkan! Kerjakan nomor 2!" Kata Natsu sambil menunjuk anak laki-laki yang sedang asik mengobrol bersama temannya.
"Pak! Kalo suruh temen-temen yang ngerjain mah lama! Langsung bapak aja yang bahas!" Kata salah seorang murid yang duduk di depan Natsu.
"Emang guru yang biasa gitu ya?" Tanya Natsu. Murid itu mengangguk.
"Ngg... gimana yah... saya kan cuma sukarelawan aja... jadi ya gitu... gimana... ngg... " Kata Natsu gugup.
Murid itu menghela nafas kecewa. "Ini orang pernah sekolah gak sih?" Batin anak itu.
"Ya udah deh, yang di depan, duduk balik!" Suruh Natsu pada 2 anak yang sedang menulis di depan.
Natsu melihat soal di cetak. Ia berpikir sejenak. "Waktu gua sekolah cuma ada rumus luas sama keliling doang. Kenapa jadi beranak? Ada anaknya luas, luas juring, ada panjang busur, aduh apaan nih!" Batin Natsu sambil garuk-garuk kepala.
"Nah, kebetulan nomor satunya udah selesai dikerjain. Nah, siapa yang jawabannya 58 cm, betul." Kata Natsu sambil membetulkan posisi kacamata bolong yang ia pakai.
"Pak! Dia hasilnya bener tapi caranya salah pak!" Kata salah satu murid.
"Salahin!" Jawab Natsu tegas.
Dan begitulah keadaan kelas yang diajar Natsu pada saat pelajaran matematika.
"Beridiri! Beri salam!" Teriak ketua kelas.
"Terima kasih, pak!"
"Anak-anak, abis matematika, pelajaran apa?" Tanya Natsu yang beranjak pergi dari kelas itu.
"IPA pak!" Jawab murid yang duduk di dekat Natsu.
"Oke deh, saya ambil buku IPAnya dulu di kantor." Natsu pun pergi ke kantor untuk mengambil buku IPA.
"Satu relawan satu kelas, berarti relawannya banyak juga ya... kelas 1 SMP aja ada 5 kelas, kelas 2 SMP, ada 4 kelas. Berarti 4 relawan termasuk aku. Lalu kelas 3 SMP... kalo gak salah 3 atau 4 kelas gitu... yaa... lumayan... berarti mereka punya pemikiran yang sama kayak aku! Bagus! Bagus! Kalian mengerti perasaan anak-anak yang mau belajar!" Gumam Natsu di kantor guru.
Natsu pun kembali ke dalam kelas yang diserahkan kepadanya.
"Berdiri!" Teriak ketua kelas itu lagi.
"Ah! Udah! Udah! Gak perlu! Berisik!" Kata Natsu sambil melambai-lambaikan tangannya.
Murid-murid yang sudah berdiri itu pun kembali duduk.
"Oke, udah keluarin buku IPAnya?" Tanya Natsu.
"Udah pak... " Jawab murid-murid.
"Pak! Bai de wei bapak belom memperkenalkan diri lho..." Kata salah satu murid.
"Hah? Iya ya?" Tanya Natsu. "Nama saya Natsu. Panggil aja Natsu sensei!" Lanjut Natsu.
"Buka bukunya halaman... 120... 120 ya?" Tanya Natsu pada murid-muridnya.
"Iya, sensei... " Jawab murid-muridnya.
"Wah, soal lensa ya..." Gumam Natsu. "Ngomong-ngomong soal lensa, sensei jadi inget waktu sensei ke dokter mata... " Kata Natsu.
"Kenapa sensei? Cerita dong... " Kata Si ketua kelas.
"Jadi waktu itu, sensei ke dokter mata, terus sensei nanya, 'Dok, usus saya sakit gitu kenapa ya?' terus dokter itu jawab 'wah, saya gak tau deh.' Dan sensei harus bayar 50 ribu buat jawaban 'gak tau'!" Kata Natsu bercerita. Ia tampak sedikit emosi mengingat cerita itu.
"Lagian sensei! Nanya usus ke dokter mata! Ya jelas dia gak tau lah!" Gerutu salah satu murid.
Natsu berpikir sejenak. Ia pun tidak mempedulikan kata-kata anak itu.
"Ya udah, kerjain nih, halaman 121, yang essay ya. Kerjain di buku ps." Kata Natsu. Ia pun duduk di kursi sambil memperhatikan murid-muridnya yang sedang mengerjakan soal.
"Dulu mah waktu gua sekolah, pas ada ps IPA, pasti Erza, Gray, sama gua langsung pindah tempat duduk deket Lucy... kita selalu nyontek waktu itu... ya, 1 nomor 5 ribu, bisalah, kan patungan... Batin Nastsu sambil bernostalgia.
Karena bosan ia melakukan pen spinning. Dia menjepit pen itu di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, dan menggerak-gerakkan pen itu kiri-kanan. Ya, pen spinning ala Natsu Dragneel.
Sudah hampir setengah jam waktu berlalu, salah satu murid mengangkat tangannya.
"Apa?" Tanya Natsu.
"Nomor 12 caranya gimana sensei!" Tanya murid itu.
Natsu melihat soal essay nomor 12. Ia bener-bener gak ngerti sama sekali. "Bentar, sensei mikir dulu." Kata Natsu. Ruangan hening sejenak. Sekitar 30 detik berlalu. Murid itu bertanya.
"Sensei mikir?"
Natsu melihat ke arah anak itu.
"Iyalah! Tapi sayanganya sensei gak ngerti..." Jawab Natsu dengan tampang sinis.
"Itu karena dia gak mikir kan?" Pikir murid itu.
Kelas pun hening kembali.
Bel tanda istirahat pun berbunyi. Murid-murid pun berhamburan keluar.
"Bener-bener capek jadi guru itu..." Gumam Natsu.
"Gimana ya Gray sama Jellal? Kira-kira mereka lagi ngapain ya sekarang?" Pikir Natsu.
To Be Continued
Hai! Hai! Udah lama author gak update! Ini di karenakan karena Tuan Ide yang gak mau berkunjung ke kepala author! Oke, 2 chapter berikutnya, menceritakan keadaan Gray dan Jellal pada waktu yang bersamaan tapi di kelas dan chapter yang berbeda.
Di tunggu ya!
Akhir kata,
Jangan lupa review! :D
