Katekyou Hitman Reborn © Amano Akira

Vongola 11th : Next Generation

Remakable from :

Vongola Next Generation © Ciocarlie

Warning: AU, OOC, Future-fic, Shou-ai, Straight

Kou Hibari | 1

Yang ia ingat saat itu hanyalah ia yang dibawa oleh ayahnya ke Italia. Tidak pernah melihat sosok ibunya—yang meninggal ketika ia lahir, yang ia tahu hanyalah ayahnya yang selalu ada walau sesibuk apapun. Hari itu, ia untuk pertama kalinya dibawa oleh ayahnya ke sebuah tempat—yang pasti berada di luar Jepang. Ia dibawa kesebuah rumah yang sangat megah dan besar.

"Ayah, kenapa kita disini—"

Anak itu—yang saat itu baru berusia 3 tahun tampak hanya menoleh kearah ayahnya yang menggandeng dan membawanya kesalah satu kamar disana. Ayahnya hanya diam, melihat kearah sebuah kamar yang sudah dipenuhi oleh beberapa orang berpakaian hitam. Ayahnya membuka pintu, dan di dalamnya seorang anak berambut hitam tampak hanya diam menatap seseorang yang terbaring disampingnya.

"Yuu—" ayahnya memanggil anak itu, dan anak itu hanya menatap ayahnya dan menghampirinya. Tatapannya tampak kosong—menatap kearah ayahnya sebelum menundukkan kepalanya, "—ini Kou, dan mulai sekarang ia adalah adikmu..."

...

Menatap kearah Kou, anak bernama Yuu itu tampak tersenyum. Senyuman tulus—tetapi entah kenapa ia merasakan kehampaan dari tatapan itu. Tetapi setelah itu, hanya kehangatan pelukan yang bahkan jarang ia dapatkan dari ayahnya yang ia rasakan.

"Salam kenal Kou—namaku adalah Yuu, mulai sekarang aku adalah kakakmu..."

'...u...Kou...'

"Kou-kun!" Kou yang sedaritadi sedikit melamun sambil mengingat sesuatu tersentak ketika Sayaka memanggil namanya. Dan yang ia lihat saat itu adalah pemandangan dapur yang mengerikan. Beberapa tempat tampak hancur berantakan—dan di tengah keributan itu Yuu dan Aiko tampak sedang bertempur—lebih tepatnya Aiko yang terus menyerang Yuu tanpa bisa Yuu ketahui apa sebabnya, "kalau tidak segera dihentikan Yuu-san bisa terluka parah!"

"Ta—tapi apa yang bisa kita lakukan dengan semua kekacauan ini?"

"Dia bisa menghindarinya—" suara itu membuat Sayaka dan Kou menoleh dan menemukan sosok pria berambut hitam dengan luka gores di dagunya itu tampak berdiri masih dengan jas hitam dan juga kemeja putihnya—serta pedang yang terselip di pinggangnya.

"Otou-san—"

"Itu Yuu yang kau ceritakan Kou-kun?" Yamamoto mengelus kepala Sayaka dan juga Kou sambil tersenyum kearah mereka dan Kou hanya mengangguk. Seakan tidak terjadi keributan sama sekali di depannya, "dia tampak kuat—hanya sepertinya ia mencoba menyembunyikannya..."

"Kekuatanmu lumayan juga—" Aiko melempar pisau dapur yang ia gunakan untuk menyerang Yuu itu. Yuu tampak terpojok dan mencoba untuk tidak panik. Aiko tersenyum manis dan tenang—mengambil dua senjata yang ada dibalik punggungnya, "—aku tidak akan menahan kekuatanku lagi..."

"Oke sudah cukup—" Yamamoto memegang kedua tangan Aiko sambil tersenyum menepuk kepala Aiko dan menatap Yuu. Aiko dan Yuu menatap balik Yamamoto, "—kau anak Hibari? Salam kenal, namaku adalah Yamamoto Takeshi..."

"Yuu—Yuu Hibari," nafasnya tampak sedikit memburu ketika itu, dan menundukkan badannya didepan Yamamoto dan Aiko, "senang berkenalan dengan anda..."

"Ma, ma—tidak usah seformal itu," Yamamoto hanya tertawa sambil menatap Yuu, "Aiko apa yang sedang kau lakukan didapur—kalau ada yang ingin kau masak, bisa meminta Jii-san dan Sayaka bukan?"

"Aku bukan ingin makan—"

"Y—Yah," Sayaka langsung menutup mulut Aiko dan mencoba untuk menyembunyikan sesuatu dari Yamamoto, "sesekali aku ingin mengajarinya untuk memasak, jadi tidak apa-apa kan? Lalu, kenapa ayah ada disini?"

"Tsuna tidak memperbolehkanku untuk memasuki markas Vongola, entah kenapa—" Yamamoto menutup sebelah matanya dan hanya menghela nafas panjang, "—baiklah, aku akan berganti baju dulu!"

"Kalau begitu sebaiknya ayah istirahat saja—" Sayaka masih menutup mulut Aiko dan hanya melambaikan tangannya kearah Yamamoto yang berjalan masuk kedalam kamar.

"Takeshi, setelah itu bantu aku membereskan semua ini!" Tsuyoshi tampak berteriak kearah anaknya itu, dan Yamamoto hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanannya.

"Yuu-nii," Kou menghampiri Yuu dan memegang tangannya lagi, "kau tidak apa-apa?"

"Tentu saja—" mengacak rambut Kou yang tampak menjadi berantakan, Yuu menghampiri Tsuyoshi yang sedang membereskan tempat itu, "—aku akan membantumu Tsuyoshi-san..."

"Ah terima kasih Yuu-kun!"

"Tidak apa-apa—" Yuu tampak tersenyum sambil mengambil sebuah papan yang tadi terjatuh di bawah karena pertempurannya, "—karena aku juga jadinya seperti ini..." Memegangi dadanya, Yuu menyadari sesuatu sudah hilang dari tubuhnya, "huh?"

"Ah, Yuu-nii mencari ini?" Kou berlari kecil sambil memegang sebuah kalung dengan liontin berwarna perak.

"Ah benar, terima kasih Kou..."

"Aku juga akan membantu," Kou membersihkan beberapa tempat yang ada disana, menatap kearah Sayaka yang tampak sedikit terdiam dan terkejut melihat kalung yang tadi dibawakan Kou untuk Yuu, "ada apa Sayaka-nee?"

"H—hum? Tidak apa-apa," Sayaka langsung mengalihkan pandangannya dan membersihkan beberapa bagian ditempat itu. Tetapi sesekali pandangannya masih tertuju pada Yuu yang sudah memakai kalung itu lagi. Sementara Aiko tampak membersihkan tempat sambil menjaga jarak dengan Yuu dan memberikan tatapan menusuk kearahnya.

"A—apakah selalu seperti ini Tsuyoshi-san?"

"Yah, Aiko memang seperti itu sifatnya—karena sering bersama dengan ayahmu, bagaimanapun dia kan ketua komite disiplin NamiChuu. Jadi ia malah terbiasa bersikap seperti ayahmu daripada ayahnya..."

"Begitu?" Yuu tampak tertawa kecil mendengarnya. Sementara Kou yang sedang membersihkan tempat itu tiba-tiba menoleh kearah pintu depan untuk tiba-tiba terdiam dan menatap dengan tatapan kosong, "Kou?"

Kou—tanpa disadari seseorangpun melihat flame yang membara, berwarna merah seperti api yang menyala. Ia meletakkan semua alat yang digunakan untuk membersihkan semuanya, dan berjalan kearah luar tanpa mendengarkan perkataan Yuu.

"Kou-kun?"

Yuu menyadari sesuatu yang aneh terjadi pada Kou. Ketika ia melihat kearah pintu, ia juga melihatnya—flame berwarna merah yang membara disana. Terkejut dengan itu, dan ia melihat Kou yang sudah keluar dari tempat itu langsung membuatnya bangkit dan berlari kearah luar.

"Kou—" ketika ia menoleh kearah luar, ia menemukan sosok yang berada dalam flame berwarna merah itu menggendong Kou yang sudah tidak sadarkan diri. Sosok berambut merah dengan tatto di pipi sebelah kanannya.

"Dimana Kou!" Aiko dan Tsuyoshi yang melihat keluar juga sepertinya tidak bisa melihat flame itu maupun Kou yang tampak masih dibawa olehnya. Dan beberapa saat kemudian, sosok itu menghilang dan membawa Kou yang ada di gendongannya.

"Sial—" Yuu segera berlari dan mencoba untuk mencari Kou. Ia benar-benar tidak bisa habis fikir dengan semua yang terjadi. Sosok yang memiliki flame merah yang membawa Kou begitu saja—sosok Storm Guardian Primo, G.

'...u...sa...ngarku...?'

Langkahnya terhenti—ia menatap kearah sekitarnya, ia mendengar suara yang mengelilinginya. Tetapi tidak ada siapapun disana.

'...ngarkan...kau bisa...kan...?'

Memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdengung hebat. Ia memegangi kepala dan juga kalungnya yang tampak bersinar dan terasa panas. Ketika ia membuka mata—yang ia temukan flame berwarna orange yang membara di depannya. Tepat di depan cahaya yang tersorot dari kalung perak miliknya yang sekarang bersinar menjadi orange. Sosok berambut kuning, yang memiliki flame yang membara di dahinya, sorot mata yang kosong dan juga dingin.

'...Mia...Tempo...Guardiano...'

"Kau—"

Kou Hibari

Sementara itu, Kou yang masih tidak sadarkan diri berada disebuah taman yang sepi. Berbaring di salah satu bangku yang ada disana, sementara sosok G tampak menatapnya dengan tatapan dingin—mengulurkan tangannya seolah ia akan mencekik Kou. Tetapi, yang ia lakukan adalah mengalungkan sesuatu. Sebuah kalung yang memiliki liontin yang sama dengan milik Yuu. Sebuah batu berwarna merah berbentuk Hexagonal dengan sebuah besi yang dibentuk menjadi tali yang melilit batu itu. Semuanya sama kecuali warna batu itu yang menjadi merah.

"Kou!" Yuu yang berlari kearah taman itu, entah bagaimana caranya ia menemukan tempat Kou tampak menatap sosok itu yang memegang leher Kou seakan mencekiknya, "kau!"

'Sampai jumpa Yuu...'

Beberapa kata tampak tidak bisa didengar dengan jelas. Tetapi, melihat gerakan bibirnya, Yuu bisa menebak apa yang dikatakannya—kata yang membuatnya terkejut dan terdiam sampai sosok itu menghilang.

"Yuu! Dimana Kou?" Tampak sosok Yamamoto, Aiko, dan Sayaka yang ada disana menyusul Kou. Sadar dengan keadaan itu, Yuu langsung menghampiri Kou dan mencoba memeriksa keadaannya.

"Kou, kau tidak apa-apa?"

...

"Apa maksudmu tidak akan membawa Yuu bersamamu, Kyouya-san—" Kou yang masih dalam keadaan tertidur seolah bermimpi dan melihat kejadian pada saat ia masih kecil. Ketika ia berada di Italia ketika umurnya 3 tahun—satu tahun setelah pertama kali ia bertemu dengan kakaknya. Ketika itu, ia melihat ayahnya yang sedang berbicara dengan beberapa orang di rumah tempatnya bertemu dengan Yuu.

"Ia akan tetap berada disini—sampai aku menjemputnya kembali ke Jepang..."

"Jangan bercanda—" yang lainnya tampak menimpali keputusan Hibari, "—Yuu membutuhkan sosokmu melebihi apapun. Dan kau mau meninggalkannya disini sendirian setelah—"

"Aku tidak akan merubah keputusanku," Hibari segera memotong pembicaraan mereka dan beranjak dari tempatnya duduk, "aku tidak akan membawa Yuu ke Jepang, dan hanya akan membawa Kou..."

Ia masih ingat, ketika itu ia tampak benar-benar sedih. Selama 1 tahun bersama dengan Yuu, ia sudah benar-benar menyukai sosoknya yang ia anggap sebagai kakak yang sempurna. Dan ia tidak ingin ayahnya memisahkan mereka berdua tanpa ada alasan yang jelas. Ia mengurung diri disebuah lemari ketika hari dimana ia harus kembali ke Jepang.

Ketika itu, ia hanya meringkuk—berharap ayahnya tidak menemukannya dan ia tidak perlu kembali ke Jepang. Tetapi seseorang membukanya, dan ketika ia melihatnya, ia melihat sosok Yuu yang tersenyum kearahnya.

"Kau disini—" Yuu berjongkok dan mengelus kepalanya, "—ayah mencarimu, kau harus berangkat ke Jepang..."

"Aku tidak mau—" Kou menggelengkan kepalanya, dan menatap Yuu, "—aku ingin tetap disini bersama denganmu..."

"Jangan bersikap seperti itu Kou—" sosok ayahnya tampak berdiri dibelakang Yuu sambil menyilangkan tangannya didepan dada, "—kita harus segera pergi dari sini sebelum kita terlambat untuk pesawat..."

"Tetapi aku—"

"Mau kuberitahu sebuah rahasia?" Yuu tampak tersenyum dan membisikkan sesuatu ditelinganya, "ayah, mudah sekali kesepian—kalau kau disini, ayah bisa sedih..."

"Lalu bagaimana dengan Yuu-nii?"

"Disini ada banyak orang yang menemani, aku tidak akan apa-apa—" tertawa kecil, Yuu mengulurkan tangannya, "—ayo keluar dari sana, ini bukan pertemuan kita yang terakhir bukan?"

"Ya—" Kou membalas uluran tangan Yuu, dan berjalan mendekati ayahnya. Setelah sampai di pintu depan, diantar oleh Yuu dan beberapa orang lainnya, Kou tampak memasuki mobil.

"Kou—" mendengar namanya dipanggil oleh Yuu, ia menoleh—menemukan raut wajah cemas dan sedih dari kakaknya itu.

'...u...Kou...'

"Kou...?" Yuu mengguncang-guncangkan tubuh Yuu perlahan.

"Yuu-nii?" Mata hitamnya tampak membuka perlahan dan menatap mata cokelat milik Yuu. Tatapan yang sama dengan saat Kou pergi meninggalkan Italia. Menghela nafas lega, Yuu mencoba membantu adiknya untuk bangun dan duduk disana.

"Kau tidak apa-apa?" Mengulang perkataan Kou, Yuu mencoba melihat apakah ia sudah sadar sepenuhnya atau belum.

"Iya—" Kou memegang lengan baju Yuu dan membuat Yuu tertarik dan Kou membisikkan sesuatu padanya, "—jangan katakan pada ayah..."

"Ah baiklah kalau memang kau ingin seperti itu—" Yuu mengelus kepala Kou dan merangkulkan tangannya di bahu Kou. Tanpa sengaja ia melihat kearah kalung itu, menatapnya dengan tatapan terkejut.

'Kalung itu—'

"Kou—" Yamamoto menatap kearah Kou dengan tatapan serius, "—kau benar-benar tidak apa?"

"Iya Yamamoto-san—aku lupa ada urusan disini sebentar, jadi tanpa sadar malah berlari kesini—" Kou tampak tertawa dan menggaruk leher belakangnya, "—tenang saja, aku tidak apa-apa kok..."

Setelah beberapa kejadian yang membingungkan semua orang, pada akhirnya mereka pergi ke markas Vongola—dan Yamamoto sudah mendapatkan kejutan dengan kedatangan semuanya disana termasuk Mukuro dan Hibari.

"Selamat ulang tahun Yamamoto!" Ketika Yamamoto membuka pintu menuju ke ruangan utama Vongola bersama Yuu, Kou, Aiko, dan Sayaka, semuanya sudah menunggu disana dengan sebuah pesta kecil.

"Ma, ma—pantas saja aku tidak boleh datang ke markas Vongola," menggaruk dagunya ia tertawa kecil.

"Yah, agak susah mengumpulkan mereka semua. Tetapi, akhirnya aku bisa mengumpulkan semuanya," pemuda berambut kuning yang merupakan Capofamiglia Vongola—Sawada Tsunayoshi menghampiri Yamamoto yang ada disana, "ini juga berkat Aiko, Kou, dan Sayaka—" Tsuna melihat kearah Yuu, "hm? Jadi kau yang bernama Yuu?"

Yuu hanya mengangguk—

"Ryu, kau pasti bisa berteman baik dengannya—" Tsuna memanggil memanggil seorang pemuda berambut cokelat yang mirip dengan Tsuna, "—namanya adalah Sawada Ryutaro, ia seusia denganmu Yuu..."

"Salam kenal, namaku Ryu—"

"Yuu, salam kenal juga," Yuu menundukkan kepalanya didepan Ryu begitu juga dengannya. Sifat Tsuna sepertinya tampak menurun pada anaknya Ryu.

"Jepangnya cukup bagus Hibari-san—" Tsuna menghampiri Hibari yang hanya diam menyilangkan kedua tangannya, hanya jawaban 'hn' yang ia dapatkan meluncur dari mulut Hibari, "—Ryu, dimana Ryou?"

"Hm, sepertinya tadi—"

DHUAR!

"E—Eh?" Mendengar suara ledakan yang berasal Tsuna dan juga Ryu tampak terkejut dan segera berlari diikuti oleh Gokudera dan juga Yamamoto serta yang lainnya. Kearah aula besar dibawah tanah—tempat Tsuna berlatih dulu, dan dipenuhi oleh asap putih bekas ledakan, "Ryou!"

"I—ittei," pemuda berambut kuning tampak kotor karena ledakan itu. Mirip dengan Ryu, hanya warna rambut dan matanya saja yang berbeda. Melihat pemuda itu, Ryu dan Tsuna serta yang lainnya langsung menghampirinya, "Shin jangan terlalu kasar..."

"Yang membuatnya meledak Akito kok," seorang pemuda berambut biru tua dan memiliki mata cokelat itu tampak hanya menghela nafas panjang sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.

"Katamu tidak mengurangi kekuatan, jadi aku membuat ledakan seperti itu—" seorang pemuda berambut cokelat tua dan memiliki mata berwarna hijau tosca itu menghampiri Ryou sambil tertawa jahil, "—lagipula makanya jangan terlalu bersemangat berlatih Ryou..."

"Shin, jangan mengerjainya seperti itu—" perempuan berambut putih pendek sebahu itu tampak menghampiri dan mencoba untuk mengecek keadaan Ryou, "—kau tidak apa-apa?"

"Ya, tenang saja Aoi..."

"Ryo, apa yang kau lakukan?" Tsuna langsung menghampiri pemuda bernama Ryou itu untuk melihat keadaannya. Yuu tampak sedikit bingung dengan keadaan disana memutuskan untuk diam saja, dan Kou memutuskan untuk menghampirinya.

"Yuu-nii bingung—?" Yuu menoleh kearah Kou, "yang tadi terjatuh itu saudara kembar Ryu-nii, lalu yang rambutnya perak dengan mata cokelat itu Gokudera Ikuto, anak Hayato-jii, lalu Sasakawa Aoi anak Ryouhei-jii, dan Shin Rokudo anak dari Mukuro-jii dan Chrome-san. Adik Shin-nii adalah Rio-kun, tetapi ia jarang ada disini dan selalu menyendiri."

"Jadi kau anak Hibari-san? Perkenalkan namaku Sasakawa Aoi—salam kenal..." Anak perempuan berambut putih pendek itu menundukkan kepalanya didepan Yuu.

"Ah perkenalkan namaku Yuu..." Menatap kearah belakang Aoi—Shin, Ikuto, Ryou tampak menatap mereka. Tetapi yang membuatnya sedikit tersentak adalah kalung yang digunakan Shin. Persis dengannya—berwarna hitam, hanya itu yang membedakan. Sepertinya Shin juga menyadari kalung yang digunakan oleh Yuu—yang sama dengannya, dan berwarna perak.

"Hei, jadi namamu Yuu?" Shin berjalan dan mengulurkan tangannya—menjabat tangan Yuu, "perkenalkan namaku Shinryuu Rokudo..."

"Ya, namaku Yuu..." Mengabaikan perasaan masing-masing yang tampak aneh dengan kalung itu, baik Yuu maupun Shin hanya mencoba untuk tersenyum tipis.

"Kalau begitu semuanya lengkap bukan—" Tsuna menatap kearah semuanya, menyilangkan kedua tangannya dan tersenyum penuh arti, "—Rio sedang berada di Korea bersama Nagi, tetapi mereka menitipkan selamat untuk Yamamoto-kun, jadi kita mulai saja pestanya oke?"

Waktu menunjukkan pukul 1 malam—semua yang ada di aula tadi sudah kembali ketempat masing-masing. Aula itu tampak gelap dengan tidak adanya penerangan. Tetapi tidak diruangan sang Capofamiglia Vongola itu. Tsuna masih berkutat dengan pekerjaannya, dan seseorang mengetuk pintu.

...

"Shin—masuklah..."

Pemuda berambut biru tua dengan mata berwarna cokelat itu tampak berjalan masuk kedalam tempat itu. Menatap sang Don Vongola tanpa mengatakan apapun dan menunggu Tsuna mengatakan sesuatu terlebih dahulu.

"Jadi—bagaimana menurutmu tentang Yuu?"

"Ia sama denganku—" Shin menatap Tsuna dengan tatapan datar, "—bukankah begitu?"

"Aku tidak tahu—hanya saja, Yuu adalah anak dari Hibari-san. Entah bagaimana caranya ia mendapatkan kalung itu," Tsuna menghela nafas panjang dan menyenderkan tubuhnya di kursi yang ia duduki.

"Aku akan mencoba menyelidikinya Tsunayoshi-san—" Shin menundukkan kepalanya, membalikkan badannya dan berjalan kearah pintu keluar.

"Shin—" panggilan dari Tsuna membuatnya menoleh kearah Don Vongola itu dari sudut bahunya, "—apakah kau tidak bisa memanggilku seperti dulu?"

"Aku—hanya tidak ingin membuat Ryuuta dan Ryouta bingung," menutup matanya, mencoba untuk mengeluarkan hembusan nafas yang tampak berat untuk dikeluarkan, "seharusnya, kau tahu statusku sekarang sebagai anak dari Mukuro Rokudo—ayah..."

"Setidaknya, panggillah aku seperti itu hanya jika kau bersamaku Shin—walaupun kau adalah anak angkatku dan Mukuro, kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri..."

"Aku mengerti, selamat malam ayah..."

Di sisi lain dan pada waktu yang hampir sama, tampak sang Storm Guardian Vongola yang berjalan dilorong yang remang dan juga sendirian. Membawa beberapa laporan—sesekali membacanya.

"Sayaka, ada apa kau mengikutiku seperti itu?" Ia menoleh kebelakangnya untuk melihat sosok perempuan berambut perak dengan mata berwarna hitam itu. Dengan sedikit ragu, Sayaka segera bergerak kearah Gokudera dan menundukkan kepalanya sebelum menanyakan sesuatu.

"Aku—ingin membicarakan masalah kalung yang ada padaku," Sayaka tampak sedikit ragu, dan ketika melihat raut wajah Gokudera yang tampak terkejut itu Sayaka semakin ragu mengatakannya, "a—aku mengerti Gokudera-san tidak ingin membicarakannya, sama seperti Otou-san. Tetapi—"

"Tidak apa-apa Sayaka, aku juga melihatnya—Yuu memakainya juga bukan?" Sayaka tampak sedikit terdiam dan akhirnya mengangguk, "apakah kau tidak pernah melihatnya sebelum ini?"

"Go—Gokudera-san seharusnya tahu bukan—"

"Sayaka, tidak ada seorangpun ditempat ini—tidak bisa kau memanggilku seperti dulu?" Gokudera tampak menatap Sayaka yang semakin tampak ragu untuk melanjutkan pembicaraan mereka.

"Te—tetapi aku hanya tidak ingin Ikuto-kun dan Aiko—" Sayaka terdiam ketika melihat wajah Gokudera yang menatapnya dengan tatapan sedih. Membuatnya langsung melingkarkan tangannya di pinggang pria yang lebih tua darinya itu.

"Maaf membuatmu bingung Sayaka..."

"Aku mengerti—ayah..."

Berdiri di depan sebuah lukisan yang besar—lukisan yang berwajah mirip dengan ayahnya itu tampak terpampang disana. Didepan semua foto yang berada disatu zaman dengannya itu.

"Cloud Guardian Vongola Primo—Alaude..." Suara itu tampak membuat lamunan Yuu buyar, menatap sosok Shin yang muncul tiba-tiba dari kegelapan seolah ia menyatu dengan kegelapan itu sendiri, "benar-benar mirip dengan ayahmu kan?"

...

"Ya—ia juga menjadi orang yang paling kuhormati setelah ayah, karena semua cerita yang kudengar di Italia..."

...

"Ngomong-ngomong ada yang ingin kutanyakan padamu—" menatap Shin yang ada disampingnya, Yuu memegang kalung yang ada dileher Shin, "—kalung ini..."

"Kau memilikinya—sama sepertiku dan Sayaka, kau bukan anak kandung dari Hibari-san—bukankah kau juga sama seperti kami, berasal dari Vendice?" Ketika perkataan itu berakhir, tepat juga sosok Sayaka yang menatap kearah mereka dengan tatapan terkejut karena selama ini bahkan ia tidak tahu kalau Shin memiliki kalung yang sama dengannya.

Chapter 1 Kou Hibari, End

Cio : selesai juga ._."a sedikit tentang Kou Hibari dan semua anak dari guardian Vongola.

Ulang ya :D

Hibari Kyouya

Yuu Hibari Di Chapter ini ketahuan kalau Yuu bukan anak anak kandung Kyouya, dan yang lainnya tetap belum ada kejelasan :p

Kou Hibari di Chapter ini Kou bisa ngeliat flame merah punya G, dan itu artinya~ *spoiler*

Yamamoto Takeshi

Sayaka Yamamoto dan inilah yang gw sebut ada unsur Yaoi ._. Di chapter ini, Sayaka nyebut Gokudera 'ayah' dan semuanya bakal diberitahu nanti di chapter mendatang ;) yang pasti bukan MPreg!

Aiko Yamamoto not change~

Sawada Tsunayoshi

Ryuuta Sawada salah satu anak kembar Tsuna, punya mata dan rambut yang warnanya kuning seperti Kyoko. Sifatnya sedikit banyak mirip Giotto :/

Ryouta Sawada berbeda sama diunremake VnG, Ryouta disini lebih ke anak yang easy going + karena sifatnya udah diambil Aiko :p

Shinryuu Rokudo belum dijelasin kenapa Shin yang merupakan anak Mukuro manggil Tsuna dengan sebutan Ayah.

Gokudera Hayato

Gokudera Ikuto anak satu-satunya Gokudera, memiliki warna rambut cokelat dengan mata berwarna hijau tosca, anak dari Hayato dan Haru :/

Sayaka Yamamoto belum diketahui kenapa Sayaka memanggil Gokudera 'ayah'

Rokudo Mukuro

Shinryuu Rokudo walau menyandang nama Rokudo, belum tahu kenapa ia memanggil Tsuna dengan 'ayah'

Sasagawa Ryouhei

Sasagawa Aoi anak perempuan dari Ryohei dan Hana, memiliki warna rambut perak dan mata hitam. Sifatnya lebih kalem dari ayahnya walaupun tetap bersemangat

Mind to review? ;)