"Kenapa aku harus kehilangan orang yang kusayangi lagi?" Sasuke memeluk lututnya sendiri. Dapat dipastikan dia sedang menangis. Naruto pun menangis di sampingnya. Aku masih menggendong Aki, sampai Aki menangis juga. Sasuke tersentak dan menatap Aki yang ada di gendonganku. Dia turun dari tempat tidurnya dan menghampiriku –sebenarnya anaknya. Dia menggendong Aki dan menatapnya sendu.

Entah apa yang ada dipikiranku saat itu tapi tanpa sadar aku berkata, "Sasuke, aku akan membantumu merawat Aki."

.

.

.

Quid Pro Quo by Chiha Asakura

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Romance

Warning: Typo(s) / OOC / EYD? Maaf saya masih belajar / Gaje / FutureCanon / Cover from .com / Sakura's POV/

Don't Like Don't Read

.

.

.

Dia kembali.

Orang yang selalu membuatku menangis setiap malam sudah kembali.

Aku mengira air mata ini akan mengering saat dia kembali.

Tapi tidak.

Justru air mata ini mengalir dengan derasnya.

Tak bisa berhenti.

Lagi.

.

.

.

Sasuke hanya menatapku sebentar lalu berbalik keluar ruangan sambil menggendong Akihiro. Bukannya menanggapi pernyataanku sebelumnya dia malah bertanya, "Dimana Karin?"

"Masih diruangan tadi," jawab Naruto yang juga menyusul Sasuke keluar. Akupun mengikuti mereka, menatap punggung Sasuke selama berjalan. Sesekali Naruto yang berjalan beriringan denganku menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Aku mendengus, entah untuk apa.

.

Tsunade-sensei menatap kedatangan kami. Sepertinya beliau baru saja selesai membersihkan tubuh Karin. Sasuke mendekati Karin dan menatapnya sendu. Wanita cantik itu sudah menutup matanya untuk selama-lamanya. "Arigato sudah memberikan Akihiro," kata Sasuke lembut.

Tsunade-sensei mengambil Akihiro dan menggendongnya, paham bahwa Sasuke butuh waktu berdua dengan Karin. Namun kami semua tidak keluar dari ruangan itu hanya menatapnya dari ujung ruangan dekat pintu masuk. Bukannya kami tidak memberikan privasi pada Sasuke. Tapi kami hanya takut kalau-kalau dia benar-benar akan melakukan hal bodoh. Seperti mengaktifkan Gedo Rinne Tensei misalnya?

Sasuke mengelus lembut rambut Karin. "Aku berjanji akan memberikan yang terbaik pada Aki, aku akan menepati semua janjiku padamu." Sasuke mencium bibir pucat Karin cukup lama. Ini pertama kalinya aku melihat Sasuke mencium Karin. Padahal Karin sudah mati tapi tetap saja aku merasa… sakit. Astaga!

Setelahnya dia mengatakan hal yang paling tidak ingin kudengar, "Aishiteru Uchiha Karin," dia mencium kening Karin untuk terakhir kalinya. Aku menggigit bibir bawahku melihat hal-hal yang dilakukan oleh Sasuke saat ini. Aku lupa sejak kapan Naruto menggenggam tanganku tapi sekarang aku malah balas menggenggam tangannya dengan erat.

Sasuke menggendong Karin dan membawa Karin ke tempat pemakamannya. Suasana pemakaman Karin terlihat sepi, ini semua untuk menghargai Sasuke sang Hokage yang memang tidak suka dengan keramaian. Terlihat Suigetsu yang menangis dan Juugo yang juga menitikkan air mata dalam diam. Tiba-tiba Aki menangis digendonganku. Sasuke menggendongnya dan berbisik, "Kita akan baik-baik saja Aki, Ayah berjanji." Karin kau sangat beruntung dicintai oleh orang-orang seperti mereka. Sungguh aku iri padamu.

.

.

.

Sekarang aku tinggal di kediaman Sasuke. Sasuke memang tidak mengatakan Iya atau Tidak saat aku mengajukan diri untuk merawat Aki. Tapi Sasuke sendiri paham dia tidak bisa merawat Aki sendiri tanpa bantuan seorang perempuan. Aku berinisiatif sendiri membawa semua barangku ke rumah Sasuke saat itu, dia membukakan pintu dan nampak sedikit terkejut melihatku membawa banyak barang. Sadar bahwa perkataanku kemarin bukan main-main dia berlalu masuk kembali ke rumahnya yang aku anggap sebagai persetujuan dari Sasuke. "Disana," tunjuk Sasuke pada sebuah ruangan yang aku anggap itu sebuah kamar. Dan ternyata benar itu adalah kamar.

Aku membereskan semua barang-barangku di kamar itu saat aku mendengar suara Aki yang menangis. Aku berlari keluar dan mendapati Sasuke sedang memarahi Suigetsu yang membuat Aki menangis. Aku menggendong Aki dan menimang-nimangnya sampai dia tertidur. Sasuke mendengus keras dan terduduk di sofa di ruangan itu.

"Maafkan aku Sasuke," kata Suigetsu.

"Hn."

"Sakura terima kasih sudah membuat Aki berhenti menangis," kata Suigetsu kembali. Wah yang berterima kasih bukan Sasuke?

"Iya tidak apa-apa. Aku disini memang untuk Aki," Iya… untuk Aki tidak lebih. Karena aku sudah berjanji pada Karin.

Flashback On

Aku masih mengalirkan chakra hijauku pada perut Karin siang itu. Sasuke sedang berada di kantor Hokage melaksanakan tugasnya sebagai Hokage yang baik dan aku disini merawat istrinya.

"Mungkin aku akan mati," kata Karin sambil tersenyum tipis.

"Kau tidak akan mati, kau tidak akan sanggup membiarkan anakmu tumbuh tanpa dirimu. Kau kan keras kepala."

"Haha memang aku keras kepala, tapi terkadang ada hal yang tidak bisa dimenangkan hanya dengan kekeraskepalaan pinky!" Sialan, wanita ini seenak jidatnya memberikan nama panggilan itu padaku. Aku tidak suka! Aku tidak suka padanya! Huh!

"Lalu kau mau mati begitu saja?"

"Kau pikir aku tidak menyadari keadaanku sendiri? Kemampuan medisku bahkan jauh lebih hebat darimu. Sebenarnya aku tidak perlu kalian untuk mendiagnosa apa yang salah dengan tubuhku karena aku sudah sangat tahu." Karin mengakhiri kalimatnya dengan mendengus.

"Ya kemampuan medismu yang sangat hebat itulah yang membuatku berada disini sekarang untuk merawatmu." Karin menunduk dan mengelus perutnya yang sudah membesar.

"Iya… karena kemampuan ini aku harus disini bersamamu. Dan aku sadar aku akan mati Sakura."

"Berhentilah bicara seperti itu, Sasuke-kun akan marah padamu."

"Aku hanya bicara fakta." Aku tidak memperhatikan Karin, aku terus saja mengalirkan chakraku pada perutnya mengabaikan semua perkataannya.

"Kau suka Sasuke 'kan?" Aku tersentak, hampir kuputuskan chakra yang mengalir dari tanganku ini.

"Iya." Aku tidak punya alasan untuk berbohong. Terserah dengan apa yang dipikirkan Karin saat ini. Toh, aku memang tidak akan pernah mendapatkan Uchiha Sasuke. Karin tersenyum tipis.

"Aku mau bercerita sedikit, mungkin semua orang berpikir selama ini aku hanya menjadi fangirl Sasuke dan beruntung bisa dilamar olehnya." Jujur aku mengiyakan kata-kata Karin saat ini.

"Aku bertemu pertama kali dengan Sasuke saat ujian chunin."

"Ujian chunin?" jelas aku terkejut. Karena ujian chunin yang pernah Sasuke ikuti hanya ujian chunin kami dulu sebelum Sasuke pergi ke tempat Orochimaru. Sasuke bertemu Karin disana?

"Aku mengikuti ujian chunin itu bersama kedua temanku dari Kusagakure, mereka menghilang dan menyisakan aku yang akan dimakan oleh beruang besar. Aku pikir aku akan mati, aku gemetar dan menangis saat beruang itu semakin dekat. Sasuke tiba-tiba datang dan mengalahkan beruang itu, karena gulungan yang kupunya sama dengan kalian dia pergi meninggalkanku. Itulah pertama kali aku bertemu dengan Sasuke." Aku hanya diam mendengarkan cerita Karin. Sesungguhnya aku sangat terkejut karena ternyata mereka sudah saling kenal selama itu.

"Tapi, Sasuke tidak ingat masalah itu. Haha. Buat apa dia mengingat gadis yang hampir dimakan beruang sepertiku 'kan?" aku masih diam saja.

" Lalu aku merasakan kembali chakra Sasuke saat di markas Orochimaru. Aku sangat senang saat itu, Sasuke memutuskan untuk ikut bersama Orochimaru. Akhirnya kami bertemu kembali. Aku bertemu kembali dengan cinta pertamaku yang tampan." Karin tertawa singkat. Aku hanya mendengus lumayan keras padanya.

"Saat mendapat misi bersama Sasuke untuk menangkap para tahanan yang melarikan diri aku sangat senang. Tapi ternyata benar dia tidak mengingatku lagi." Karin tersenyum tipis sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Tapi bagiku itu bukanlah masalah besar, bisa bersama dengan Sasuke saja aku sudah sangat senang. Setelahnya aku ditugaskan Orochimaru untuk menjaga para tahanan yang ada di markas selatan. Ini membuatku menjadi jauh dengan Sasuke tapi aku tidak bisa menolak Orochimaru tentunya. Sampai saat itu saat Sasuke mengajakku ikut dengannya setelah dia mengalahkan Orochimaru. Sungguh aku sangat senang." Karin tersenyum tipis kembali.

"Selama bersamanya aku sangat senang. Dia bahkan menyelematkan nyawaku saat kami menangkap hachibi, dia hampir mengorbankan diriya untuk menyelamatkanku. Untuk kedua kalinya dia menyelamatkan nyawaku." Aku tahu Sasuke memang orang yang baik. Tanpa sadar aku juga tersenyum.

"Sampai pada saat itu, dia mencoba membunuhku. Haha."

"Ya karena aku ada di sana."

"Dan kau yang seharusnya membunuhku saat itu."

"Tapi tidak kulakukan 'kan?"

"Ya, dan kau bodoh. Kau hampir dibunuh oleh Sasuke saat itu."

"Lalu apa? Apa dengan membunuhmu itu menjamin bahwa dia tidak akan membunuhku? Aku rasa itu sama saja. Dia tetap akan membunuhku Karin."

"Maafkan suamiku." Urgh~ menyebalkan! Pakai kata suami segala.

"Sasuke itu terlalu sulit ditebak. Dia hanya jatuh dalam kegelapan. Dulu dia memang bodoh tapi sekarang dia sudah kembali menjadi Sasuke yang dulu, kau tenang saja. Asal kau tahu chakra Sasuke itu sangat manis hihihi."

"Memangnya kau bisa makan chakra, huh?"

"Bukan begitu, tapi aku memang bisa merasakan semua jenis chakra."

"Begitu ya.. kau beruntung sekali Karin."

"Maksudmu karena bisa menjadi istri Sasuke?"

"Yah begitulah dan kemampuanmu benar-benar diakui oleh Sasuke."

"Sebenarnya aku sendiri tidak pernah menyangka kalau dia akan memilihku. Jujur saja aku pikir dia akan memilihmu untuk mendampinginya. Kudengar kalian lumayan dekat 'kan?"

"Hahaha…" aku hanya tertawa pahit.

"Sakura... kalau terjadi apa-apa denganku. Maukah kah kau merawat anakku?"

"Kenapa harus aku?"

"Dan kenapa harus orang lain? Kau yang paling dekat dengan Sasuke. Kau pikir Sasuke mau memakai jasa orang lain?"

"Kau pikir dia akan menerima jasaku?"

"Kenapa tidak?"

"Terserahlah…" tiba-tiba Karin memegangi tanganku.

"Aku serius Sakura," dia menatapku sungguh-sungguh. Dan aku hanya menganggukkan kepalaku.

Flashback Off

"Tadaima…"

"Okaeri Sasuke-kun," sapaku yang masih menggendong Aki. Sasuke mendekatiku –maksudnya anaknya dan menggendongnya. Dia tersenyum lembut pada anaknya. Sungguh pemandangan yang sangat indah di mataku. "Kau sudah makan?"

"Belum."

"Mau kubikinkan sesuatu?"

"Terserah." Sikapnya masih sangat dingin bahkan lebih dingin dari sebelumnya sejak kepergian Karin. Aku bergegas pergi ke dapur dan memasak sesuatu untuk Sasuke. Setelahnya aku menyajikannya di atas meja makan dan memanggil Sasuke yang masih asyik dengan anaknya.

Aku menempatkan diriku di seberang meja makan Sasuke dan menggendong Aki selama Sasuke makan. "Kau tidak makan?" tanyanya. Aku menggeleng.

"Sudah tadi."

"Hn." Setelah Sasuke selesai makan aku melihatnya membereskan piring makanannya dan berniat untuk mencucinya.

"Tidak usah aku saja."

"Kau bukan pembantuku. Aku bisa mencuci piringku sendiri. Kau disini hanya untuk anakku." Ucapannya sangat dingin dan mampu membuatku membeku ditempat. Dia pikir aku melakukan itu sebagai pembantu? Dasar bodoh! Aku melakukannya dengan ikhlas Sasuke! Tapi aku tidak mau mendebatnya jadi aku hanya diam saja.

Kami kembali keruang keluarga. Sasuke masih asyik dengan anaknya dan aku mulai melipat pakaian Aki. Canggung sekali sebenarnya. Aku ini siapa? Kenapa aku berada disini? Kenapa aku mau melakukan hal ini? Apakah hanya karena sebatas janji pada Karin? Entahlah.

Aku bosan dengan kesunyian ini jadi aku akan memulai pembicaraan terlebih dahulu. "Suigetsu dan Juugo sekarang tinggal dimana?" Iya aku tahu Suigetsu dan Juugo sudah pindah dari rumah Sasuke sejak Sasuke menikah dengan Karin.

"Dua rumah dari kanan rumah ini."

"Oh jadi rumah mereka masih disekitar sini ya?"

"Hn."

"Hmm… Sasuke-kun maaf tapi persediaan makanan mulai menipis. Aku akan berbelanja besok dengan Aki. Bolehkah? Tidak mungkinkan aku meninggalkannya sendirian. Atau kau ingin aku menitipkan Aki dengan Suigetsu dan Juugo?"

"Jangan, Suigetsu bisa membuat Aki menangis lagi. Aku akan ikut denganmu besok."

"Eh tapi aku bisa sendiri, bagaimana dengan pekerjaanmu sebagai Hokage?"

"Tidak akan lama, aku akan memastikan Aki baik-baik saja." Oh… untuk Aki ya. Haha aku pikir tadi apa. Terlalu berharap kau Haruno Sakura!

"Baiklah…"

.

.

.

Sasuke menggendong Aki dan aku yang berbelanja. Dia mengekor kemanapun aku pergi. "Beli saja tomat yang banyak."

"Iya iya." Aku tersenyum mendengarnya. Sasuke masih penggila tomat rupanya.

"Sasuke-sama sedang belanja? Wah Aki manis sekali," sapa ibu-ibu yang lewat di depan kami. Sasuke hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Begitu seterusnya, Sasuke dan Aki selalu disapa warga Konoha dan Sasuke hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan.

Selesai berbelanja aku dan Aki kembali ke rumah Sasuke dan dia kembali ke kantor Hokage. Aku membuatkannya makan siang, seperti yang sering kulakukan sebelum Sasuke menikah dengan Karin. Aku yakin Sasuke belum makan siang jadi aku membawakannya bento dengan ekstra tomat. Aku juga membawa Aki bersama.

.

.

.

"Teme! Buat apa kau baca buku itu? Jangan bilang kau ingin…"

"Berisik Naruto!"

"Tidak akan kubiarkan kau menggunakan jurus itu! Kau tahu bagaimana bahayanya 'kan?"

"Diamlah… Aku hanya ingin menghidupkan Karin kembali."

DEG

Aku yang berdiri di depan pintu kantor Hokage seketika membeku. Karena mendengar suara Naruto aku malah menguping pembicaraan mereka. Tadi itu apa? Sasuke masih berniat untuk menghidupkan Karin kembali? Sebegitu cintanya kah dia pada Karin?

"Teme kumohon… itu jurus yang berbahaya… Kakek Rikudo sudah pernah bilang kan kalau yang sudah mati itu tidak seharusnya untuk dihidupkan kembali?"

"Kau… tidak tahu rasanya."

"Aku tahu! Aku kehilangan orang tuaku, aku kehilangan Jiraiya-sensei, dan Neji mati di hadapan mataku untuk melindungiku. Kau pikir aku tidak tahu rasanya?"

"Aku…"

"Sasuke… terimalah. Takdir tidak bisa dirubah."

Akhirnya aku masuk dengan membawa Aki, aku rasa aku tidak bisa berlama-lama menghilangkan chakraku dan menjadi penguping.

"Hai Naruto, untung aku membawa bento berlebih jadi kita bisa makan siang bersama hehehe."

"Terima kasih Sakura-chan, Oh hai jagoan kecil." Naruto mendekatiku dan mengelus pipi gembung Aki. Aku menatap Sasuke yang juga sedang menatapku dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Wajahnya kali ini terlihat sangat … menyedihkan. Oh Sasuke sebegitu cintanya kah kau dengan Karin? Haahh…..

.

.

.

TBC

.

.

.

Balas review~

Hadinamikaze: Maaf ya gak bisa panjang-panjang hehe Ini sudah lanjut :3 Makasih sudah review :)

Akina Takahashi: Terima kasih :) Agak gaje yah? Haha bingung juga mo bikin stressnya Sasuke itu versinya gimana lol Makasih ya udah review hehehe

LovelyMina: Salam kenal :D Yup ini sudah lanjut dan entah kenapa aku semangat juga ngetik ini hihi Makasih udah review :)

a/n: Chapter ini masih galau-galaunya Sasuke hihi Makasih ya yang udah mau mampir dan baca :)

Quid Pro Quo itu artinya semacam bantuan dibalas bantuan. Nanti makna judulnya akan terungkap kok hehe

Minta reviewnya minna ^_^