"Soul gem, Soul gem ini bisa dikatakan sebagai sumber kekuatan kita, para Puella Magi. Semakin keruh soul gem-mu, kekuatan kita makin berkurang dan saat Soul gem sudah bersih kembali kekuatan kita akan kembali seperti semula."

"Lalu bagaimana cara mem'bersih'kannya?"

"Dengan bibit duka."

"Bibit duka?"

"Ya, Bibit duka adalah sejenis 'Gem' yang kita dapat kan dari membunuh para majo."

"Heee, ternyata lumayan susah juga ya, menjadi Puella Magi," Shiori berjalan menyusuri gang di malam hari sambil memainkan 'Soul Gem' nya ditangannya.

"Jangan bilang susah, nanti jadi beneran susah." Orang yang daritadi berbincang dengan Shiori adala Misaki. Ternyata Misaki juga seorang Puella Magi. Saat itu Mereka berdua sedang patroli mencari majo.

"Baiklah, sepertinya sepertinya hari ini kita cuma dapat 1 bibit duka." Misaki mengakhiri patroli mereka sambil menunjukan bibit duka yang mereka dapatkan.

"Hari ini hari mu, jadi ambil saja." Ia memberikan Bibit dukanya pada Shiori.

"Terima kasih" Sebuah senyum tertulis di wajah Shiori setelah mendapat gajiannya.

"Lalu bagaimana caranya?" Namun ia masih belum mengerti cara menggunakan Bibit dukanya.

"Dekatkan saja pada Soul Gem mu."

"Oh, oke."

Saat bibit duka itu di dekatkan pada Soul gemnya, bibit duka itu menyerap semua kekeruhan di Soul gem itu.

"Wooah, Jadi bersih lagi!" Shiori takjub melihat Soul Gemnya yang agak keruh menjadi bersih lagi.

"Nih, giliran mu." Setelah bibit duka itu membersihkan Soulgemnya, ia memberikan bibit dukanya pada Misaki.

Melihat itu, Misaki tersenyum kecil. "Terima kasih, tapi tidak mungkin Shiori-san. Bibit duka ini hanya bisa sekali pakai."

"Hah? Sekali pakai? Beneran? Jadi kalau sudah dipakai di apain lagi dong?"

"Buang saja."

"Hee? Bukannya sayang, padahal kalau dibuang? Padahal kita juga lumayan susah mendapatnya." Shiori tertunduk lesu.

"Kalau di koleksi juga siapa yang mau lihat, kalau begitu.." Tiba-tiba kostum 'Puella Magi' Misaki berubah menjadi seragam sekolahnya. "Ayo kita pulang."

"Hmm." Shiori mengangguk.

"Hey, Misa-chan? Apakah menurut mu menjadi menjadi Puella Magi itu salah?" Saat Shiori dan Misaki berjalan pulang, tiba-tiba Shiori teringat dengan kata-kata Shirousagi siang tadi. Ia menanyakan hal itu dengan sedikit ragu.

"Hmm? Apa maksudmu?" Misaki sepertinya tidak terlalu mendengar perkataan Shiori.

"Ahh, bukan apa-apa, omong-omong, Misa-chan, bukankah tadi Naomi-chan tidak masuk?" Sambil berjalan pulang di pinggir jalan yang sudah gelap, Shiori mengganti topik perbincangannya dan Misaki.

"Naomi-san? Eh iya ya, dia tadi ga masuk." Misaki menjawabnya, namun ia tiba-tiba terlihat sedikit ragu dan kaget.

"Bagaimana kalau kita mengunjunginya?" Ia menawarkan nya pada Misaki sambil membungkukan sedikit badannya dan memandang Misaki dari bawah.

"Me-mengunjunginya? Ba-bagaimana jika dia sedang sakit? Bukankah kita akan mengganggunya?" Misaki mengatakannya dengan tergagap-gagap dengan muka yang berpaling kemana-mana.

"Hee? Bukankah itu bagus? Nanti bakal lebih nge-'feels' jenguknya? Lagi pula dia tinggal sendiri kan akhir-akhir ini? Lebih baik kita membantunya." Keinginan Shiori untuk menjenguk tidak berpudar.

"T-tapi, WAAAH Handphone ku bunyi, H-halo? Ibu? Ada apa? Ibu lupa bawa kunci rumah?! Maaf Shiori-san! Tapi aku harus cepat-cepat! Kau lebih baik pulang saja! Malam bukanlah waktunya gadis berjalan seorang diri di luar rumah!" Setelah itu, Misaki langsung berlari menjauh dari hadapan Shiori dengan cepat.

"Kenapa dia? Tiba-tiba aneh begitu, Apa jangan-jangan?" Shiori memasuki mode berfikir.

"Misa-chan punya perasaan ke Naomi-chan!? Ngga, ngga, ngga, mana mungkin homo-an gua bisa homo sama orang lain?" Pikiran Shiori mulai kemana-mana.

"Eeh! Buset! Gua baru aja bilang kalo Misa-chan itu homo-an gua!? Terus kenapa gua harus homo sama Misa-chan?! Tenang Shiori, tenang, jernihkan pikiraan. Tapi pertama-tama , maaf Misa-chan, sudah sejauh ini aku tidak mungkin melewatkannya." Akhirnya ia memutuskan untuk menjenguknya sendiri.

Sesampainya di depan pintu apartemen Naomi, Shiori langsung memanggilnya. "Naomi-chan, maen yuk~" Tetapi tidak ada jawaban sama sekali.

"Ah, tentu saja, orang sakit tidak bisa membukakan pintu untuk tamunya." Pikir Shiori.

"Jangan Khawatir Naomi chan! Aku bisa buka kan pintunya sendiri! Aku tau dimana letak kunci cadangan mu!" Setelah itu Shiori langsung mengangkat pot yang ada di sebelah pintu apartemen Naomi, disana tempat kunci cadangan Naomi berada.

Tetapi secara tidak sengaja, pinggul Shiori mengenai pintu Naomi. Pintunya pun langsung terbuka sedikit.

"Tidak dikunci?" Shiori kaget.

"Kalau begitu aku masuk.." Tanpa pikir panjang Shiori langsung membuka pintu dan masuk. Tetapi saat ia masuk, keadaan ruangan itu sangat gelap gulita dan dingin, sama dinginnya dengan udara malam.

"Are? Kok disini gelap sekali?" Shiori tetap melajukan langkahnya masuk ke dalam.

"Hey, Naomi kenapa kau tidak menyalakan lampu-" Shiori tetap saja memanggil Naomi, namun seiring ia masuk ke dalam apartemen, ia melihat hal yang tak pernah dia kira. "-nya?"

"Naomi, sudah tidak ada!" Seorang gadis smp yang tidak dikenali Shiori duduk santai di sofa yang tepat di belakang sofa itu adalah sepasang jendela yang terbuka lebar. Sehingga angin berhembus masuk dan mengibaskan rambut merah gadis smp itu.

Keadaan hening sesaat. Mata Shiori terbelakak mendengarkan perkataannya.

"Apa maksudmu 'tidak ada?!" Dengan spontan, Shiori berubah menjadi wujud Puella Magi lalu melingkari dual-swordnya ke leher gadis smp itu.

"Apa kau membunuhnya?! Mengapa kau membunuhnya?!" Shiori makin murka dan nafasnya terengap-engap saat ia melihat muka gadis smp itu.

"Waaa! Tunggu dulu, tunggu dulu! Aku tidak membunuhnya! Aku tidak membunuhnya! Kepada kakak pendekar pedang, mohon turun kan pedangnya!" Gadis itu malah kewalahan dengan tingkah Shiori yang tidak ia kira.

Setelah kedua pedang itu diturunkan, Gadis smp itu langsung melepas ke kepanikannya.

"Haah.. Ternyata 'pickup line' yang kupakai ini salah, padahal kukira akan terlihat keren." Tetapi dia malah menyalahkan kata-katanya.

"Hmm?" Dia terlihat sedikit terkejut melihat kostum unik yang dipakai Shiori.

"Tak kusangka, kau juga seorang 'Puella Magi' " Gadis smp itu tersenyum kecil.

"Cukup basa-basinya, aku tidak peduli jika kau ternyata seorang Puella Magi juga, Sekarang beritahu aku! Dimana Naomi?" Shiori berkata dengan tegas dan lancang sambil menghunus kan pedangnya ke Gadis smp itu.

"Tunggu, tunngu pertama-tama kita perkenalkan diri dulu." Dengan santai gadis itu tetap melanjutkan pembicaraan.

"Namaku Shinonono, 12 tahun tapi sudah menjadi Puella Magi veteran!" Ia mulai pamer dengan identitasnya dengan percaya dirinya.

"Shiori, Kelas 3 Smp, Sekarang beritahu dimana dia?!" Shiori tetap tegas padanya.

"Hey tunggu! Aku masih belum selesai memperkenal kan diri! Warna favoritku merah! Makanan favoritku-" Saat Shinonono belum selesai berbicara, Shiori langsung mengurangi jarak antara pedangnya dengan leher Shinonono.

"Aku tidak peduli! Sekarang beritahu dimana di-" Dan sebelum Shiori selesai berbicara juga, tiba-tiba pedang yang di hunuskannya pada Shinonono pecah berantakan. Shiori kaget melihat salah satu pedangnya hancur berantakan. Tiba-tiba tangan Shiori terikat rantai dan tertarik ke tembok dengan kencang sehingga ia terhantam lumayan keras. Kembaran pedangnya juga terjatuh saat ia terjatuh.

"Ahhk!" Shiori teriak kesakitan saat terhantam.

"Maafkan aku, Kakak pendekar pedang, namun jika saja kau tidak sekasar itu mungkin ini tidak akan terjadi." Tiba-tiba tatapan dan cara bicara Shinonono menjadi dingin. Saat ia berbicara ruangan apartemen itu perlahan diselimuti oleh rantai-rantai magis.

"Padahal aku sudah menunggu mu dari kemarin dan inikah yang tamu ku lakukan pada ku?!" Ia mulai membentaki Shiori.

"Tamu-mu..? Padahal ini bukan rumahmu.." Shiori yang kesakitan tetap saja menyelanya.

Tiba-tiba Rantai yang menarik tangannya terikat makin kencang.

"Ghh!" Shiori menahan sakitnya.

"Berisik! Lu udah kepojok gini masih aja ngelawan!" Rantai itu mengikat makin kencang seiring makin kesalnya Shinonono.

"Beri- beritahu saja.. Dimana Naomi.."Tetapi Shiori tetap berusaha menanyakan tentang Naomi.

"Hahh? Bukannya sudah kubilang? Naomi mu sudah tidak ada? Dia sudah ti-dak-a-da!" Lama-lama Shinonono makin menjengkelkan bagi perempuan yang diikat kuat itu. Shiori pun langsung menggertakan giginya.

"Kalau begitu, Beritahu aku siapa pembunuhnya?!" Shiori makin geram dan makin geram.

"Hee hee, sebenarnya daritadi aku menunggu mu menanyakan hal itu." Mendengar Shiori menanyakan itu Shinonono terlihat senang.

"Cepat .. Beritahu saja.. Pembunuhnya.."

Tiba-tiba Shinonono menodongkan mata pedang Shiori yang jatuh ke muka Shiori.

"Diam! Lu pingin tahu kan pembunuhnya kan?!" Bentak Shinonono

Shiori tidak bisa berbuat apa-apa, jadi dia terpaksa mendengarkannya.

"Akhirnya kamu bisa diam." Shinonono tersenyum kecil.

"Sebenarnya ini kejadian kemarin, dan juga aku tidak hanya ingin menjelaskan tentang pembunuhnya. Aku juga ingin menjelaskan detailnya." Lanjut Shinonono.

Saat itu, aku sedang berjalan-jalan di gang sepi. Tiba-tiba aku menemukan sebuah dompet. Kulihat kanan, kiri. Depan belakang. Tak ada siapa-siapa. Aku pun langsung mengambil dan membuka dompet itu, isinya hanya sekitar empat ribu yen dan sebuah kartu pelajar. Karena aku penasaran, jadi ku lihat saja kartu pelajar itu. Di kartu pelajar itu tertera nama 'Naomi' , identitas, dan pas fotonya. Dari fotonya dia terlihat seperti gadis yang baik.

Karena saat itu aku sedang berbaik hati, aku berniat untuk mengembalikannya. Aku naiki gedung-gedung, ku susuri gang-gang untuk mencari keberadaannya. Sampai akhirnya ku temukan dia. Namun saat itu sangat mengejutkan sekali. Aku tidak tahu kalau Naomi juga seorang Puella Magi, tapi saat itu ia sedang berhadapan dengan sebuah majo, namun ia kelihatannya terpuruk sekali.

Majo itu terlihat seperti ingin melahapnya. Tanpa pikir panjang aku mencoba menolongnya. Tapi tiba-tiba, ribuan tombak meluncur dari angkasa. Dan akhirnya Majo itu tewas juga. Setelah itu, seorang Puella Magi turun dari atas dengan anggunnya. Entah kenapa saat itu aku merasa sangat kagum.

Saat ia menapak tanah ia melihat ke arahku, dan tentu saja aku kaget dan langsung bersembunyi di balik tembok. Entah kenapa aku malah bersembunyi di sana. Aku tetap bersembunyi di sana sampai situasi menurutku aman. Tetapi saat aku mengintip lagi, hal sangat mengejutkan terjadi. Tiba-tiba Puella Magi penyelamat itu memegang kepala Naomi , dan tiba-tiba juga, Tubuh Naomi seakan lenyap dan di serap oleh Puella Magi itu. Dan otomatis aku pun langsung panik dan pergi dari tempat kejadian perkara itu.

"Jadi dengan kata lain Naomi telah di 'tiada' kan oleh Puella Magi lainnya" Shinonono menjelaskan

"Jadi siapa yang membunuh Naomi? Kau masih belum menjawabnya." Shiori tampak kesal.

"Sebenarnya itu lebih tepat dibilang di'tiada'kan daripada dibunuh." Shinonono tetap saja berbasa-basi

"Siapa dia?! Siapa yang meniadakan Naomi?!" Shiori makin kesal dengan Shinonono.

"Oh iya, akhir-akhir ini aku sering menggambar, jadi ku gambar saja si 'Puella Magi Killer' itu." Kata Shinonono sambil mengorek-ngorek sesuatu di kantongnya.

"'Puella Magi Killer?'" Shiori kebingungan.

"Iya, si Puella Magi yang meniadakan Naomi itu." Ia masih tetap mengorek-ngorek kantongnya.

"Tapi kata mu dia bukan membunuh?!" Shiori mulai membentak.

"Memang bukan membunuh." Ia menjawab dengan santainya.

'Tapi Killer kan artinya pembunuh' dalam pikir Shiori.

"Nah! Ketemu, Nih, Gambar 'Puella Magi Killer'" Ia memberikan gambarnya pada Shiori.

Saat Shiori melihat gambar itu matanya langsung terbelakak karena saking kagetnya.

"Kenapa? Kau kenal dia?" Shinonono bertanya.

"Tidak.. Aku tidak kenal dia.." Shiori menjawabnya dengan mulut agak merinding.

"Ooh baiklah, kalau begitu-" Shinonono menjentikan jarinya lalu semua rantai hilang begitu saja. "-Kita bertemu lagi lain kali Iori-san!" Gadis itu langsung lompat dari jendela dan mengucapkan salamnya, namun ia tidak tahu, ia salah mengucapkan nama Shiori.

"Dia pergi begitu saja? Dan salah mengucapkan nama ku?" Dalam pikiran Shiori.

Shiori beranjak dari tembok dimana ia terhantan dan pergi ke salah satu laci di apartemen Naomi sambil memegang tangan kirinya yang terluka akibat rantai-rantai itu. Dia nampaknya sedang mencari perban untuk menutupi lukanya itu.

"Ini bohong kan? Semua ini bohong kan?" Dalam pikiran Shiori, ia terus memikirkan gambar Shinonono.

"Kenapa dia melakukan hal seperti ini?" Lanjut dalam pikiran Shiori, ia makin bertanya pada pikirannya saat ia juga mengingat-ngingat apa yang terjadi di sekolah tadi siang.

"Kenapa harus aku?" Shiori terlihat makin takut dan khawatir dengan dirinya saat makin memikirkannya.

Saat lukanya sudah selesai di balut ia merapikan apartemen Naomi lalu beranjak pulang dengan muka yang sedikit sedih. Tak lupa ia mengunci kembali kunci apartemennya.

"Hey, Shirousagi, apakah aku yang akan menjadi korbanmu selanjutnya?"

Ternyata 'Puella Magi Killer' yang ditakut-takuti Shiori adalah Shirousagi, sang murid pindahan.

-CHAPTER II END-

.

.

.

To Be Continued