Chapter 2 :
YUTA SI BUCIN BIN KERDUS SARIMIE SOTO KOYA
warn! chap ini (agak) panjang karena tokohnya Yuwin hEhE
.
.
Kalian tahu gak, rasanya dicuekin sama gebetan? Atau, di friendzone? Kalau kalian gak tau. Biar kuberitahu–eh Yuta yang akan memberitahu. Jadi, sudah hampir dua tahun ia menjadi rekan satu grup dari seorang Dong Sicheng, atau nama panggungnya, Winwin.
Dan sejak ia bertemu dengan anak ayam itu, Yuta ingin bisa dekat dengan Winwin. Habisnya, Winwin benar-benar lucu. Ia seperti bayi yang menggemaskan. Yuta kan ga cuat.
Sejak ia masih jadi trainee, ia selalu mengidamkan untuk mempunyai adik yang manis di grup debutnya nanti. Yang bisa ia cekcoki dengan hal-hal yang luar binasa–Astagfirullah, Yut.
Sayang seribu sayang, yang jadi maknae malah Haechan. Yang kelakuannya–sebenarnya tidak terlalu berbeda jauh dengannya. Evil dan savage abis. Kalau gini, kan yang ada malah Haechan yang ngejailin Yuta terus.
Tapi akhirnya, datanglah seorang malaikat dari syurga, yaitu Winwin.
Wajah tampan dan polos. Sifat yang lucu dan menggemaskan–beuh udah tipe Yuta banget. Saking lucunya, Winwin sering disebut maknae asli dari NCT. Semua member menyayangi Winwin seperti adik mereka sendiri. Bahkan Jisung yang sebenarnya lebih muda 4 tahun.
Tapi, ada satu kekurangan dari pria China itu. Bisa dimaklumi sih, namanya juga manusia yang punya salah dan dosa.
Winwin itu gak peka.
Semua afeksi yang selalu Yuta tunjukan, yang selalu Yuta berikan, bagaikan dihempas jauh-jauh dengan Cuma-Cuma oleh seorang Dong Sicheng. Anak itu selalu merespon seadanya.
Yuta kan berharap ada timbal baliknya, gitu.
Misalnya, jika ia membantu Winwin, Winwin akan memeluknya atau menemaninya menonton anime tanpa ia ajak, gitu? apalagi kalau anime hentai, kan leh ugha.
Tapi, entah kenapa Yuta merasa kalau Winwin selalu menolaknya. Tapi ia begitu perhatian dengan Taeil. Memang sih, Taeil itu sepuh. Tapi kan ia juga lebih tua dari Winwin, ia juga berhak mendapat perhatian Winwin.
Dan sekarang, ia sudah muak.
Sudah cukup.
Ia tak kuat lagi.
Sudah cukup sudah,
Cukup sampai disini saja..
EKHEM.
Jadi, ia memutuskan untuk mengajak Winwin keluar malam-malam. Lebih tepatnya dini hari, jam dua malam hanya untuk makan ramyeon di minimarket.
Yuta memang tidak waras.
Ditengah udara yang dingin sampai menusuk tulang, mereka keluar hanya dengan piyama dan jaket tipis. Tanpa penyamaran pula.
"Ini." Yuta menyerahkan semangkuk ramen siap saji dihadapan Winwin yang sedang sibuk menggosok tangannya.
"Terima kasih, hyung." Winwin menerima ramyeon itu dengan senang lalu mulai makan dengan tenang.
Yuta hanya mengangguk sebagai respon lalu duduk didhadapan Winwin sambil ikut memakan ramyeon miliknya. Sedap sekali bosque. Hangat hangat menggelora.
"Tapi, kenapa kau mengajakku keluar hanya untuk makan ramyeon? Padahal aku bisa membuatkanmu ramyeon di dorm. Atau mungkin meminta bantuan Jaehyun atau Doyoung hyung." Tanya Winwin.
Yuta menepuk sumpitnya pelan dan berirama. Mencoba mencari jawaban yang masuk akal. Karena sebenarnya ide mari-mengajak-winwin-kencan-makan-ramyeon-di-mini-market datang tiba-tiba saat ia sedang pup.
Iya, saat bersemedi di wc.
Jangan salah, wc itu sumber mencari inspirasi terbaik.
"Ngggggggggg–"
"Jangan ngeden gitu, kaya bumil aja, hyung." Canda Winwin sambil terkekeh pelan, membuat Yuta terpesona.
Yuta pun ikut tertawa kecil. Duh dia jadi shy shy njing gara-gara liat Winwin ketawa. Focus, Na Yuta! Focusz!
"Sebenarnya, ada yang ingin kubicarakan." Kata Yuta dengan nada yang serius. Winwin yang mendengarnya jadi agak kaget karena biasanya, hyung bokepnya itu selalu bercanda.
Akhirnya, demi menghormati pembicaraan yang serius, aman, nyaman, damai, tentram, dan sejahtera, akhirnya Winwin menghentikan sejenak acara makan ramyeonnya.
"Ada apa?"
Yuta terdiam.
"Kau tahu kalau aku sangat sayang padamu? Kau itu bagaikan adik manis yang sangat manis melebihi susu kental manis indomilk. Lebih sweet dari sugar sugar." Kata Yuta.
Winwin mengangguk sambil blushing gemes.
"Begini, kau tahu kan kalau aku sering mengganggumu? Ketahuilah aku seperti itu karena ingin perhatianmu. Tapi, sepertinya kau merasa risih dengan itu."
"Maafkan aku jika aku menyebalkan. Aku hanya mencoba untuk dekat denganmu, Win. Terkadang aku iri dengan Taeil hyung ataupun Jaehyun yang sangat dekat denganmu."
Yuta menghela nafas, lalu menatap Winwin sedih, "Apa aku harus jadi INDOMI dulu biar jadi seleramu?"
CRINGE NYA EDAN SIH.
Winwin terdiam. Sebenarnya ia agak geli geli gimana gitu dengar gombalannya si atuy. Tapi, ayo kita fokus!
Sebenarnya, Winwin memang agak risih jika Yuta terus mengganggunya–dimanapun kapanpun apalagi jika pria Jepang itu tidak peduli situasi. Sebenarnya Taeil juga sama saja. Itulah alasan mengapa ia sempat marah pada Taeil.
"Aku bukannya risih hyung," Winwin menggaruk tengkuknya canggung, "Hanya saja.. didepan kamera, kita harus menjaga sikap, bukan? Agensi selalu mengatakan itu padaku, jadi kupikir– aish, bicara apa aku ini."
Winwin menutup mukanya frustasi, ia merasa sulit untuk menjelaskan pada Yuta. Apalagi bahasa Koreanya pas pasan.
"Jadi maksudku, jika ada kamera merekam kita, aku tidak boleh bertingkah semauku. Kau tahu kan hyung, maha besar netijen dengan segala kebenarannya? Salah bersikap sedikit saja pasti langsung masuk lambe turah. Kan gak like aku tu."
"Woah woah, oke oke. Jadi ternyata kau follow Lambe Turah juga ya?"
"HUHEHEHE maklum hyung, Winwin kan nax hitz. Harus taulah gosip teranyar."
Dan mereka ketawa cengengesan berdua, kaya kuda lumping. Untung aja mbak kunti gak ikutan. Kalau sampe ikutan ketawa kan ngeri njing.
"EKHEM. Fokuzz!" Sela Yuta.
"Jadi, aku boleh mengganggumu kalau tidak ada kamera, gitu?" Tanya Yuta jahil sambil mengangkat-turun kan alisnya.
"Yee, ya gak gitu juga kali bakwan kol!" Kata Winwin kesel.
Yuta ketawa ngakak. Dia ngerasa super plong banget setelah ngeluarin unek-uneknya. Kayak abis nahan boker setahun terus dikeluarin, mantap djiwa. EW.
Jadi sebenernya, Winwin itu gak benci Yuta.
Dia Cuma jaga image.
Cih, sok jual mahal ih.
Tapi gapapa, Yuta tetep sayang.
HEHEHEHE.
Nakamoto Yuta, si budak cinta.
End oke
Kapalku berlayar yipii hEhE
ripiunya boleh qaqa?
