Author : BabyJisoo

Title : Beautiful

Cast :

Ong Seongwoo

Kang Daniel

Wanna One's member

Genre : Family, Brothership

Length : Chaptered

.

.

.

.

Seoul, 20 Juli 2017

Seongwoo meletakkan panci yang berisi ramyeon yang baru matang di atas meja. Beberapa hidangan lain sudah tersedia disana. Bibirnya tersenyum, menatap puas hasil kerjanya di dapur sejak setengah jam yang lalu.

"Wah, kau yang memasak semuanya?"

Seongwoo menoleh dan melebarkan senyumnya pada nenek Jung yang baru saja keluar dari kamar. Bukan, nenek Jung bukanlah neneknya Seongwoo. Dia hanya wanita tua kerabat dari ibu Seongwoo, yang 14 tahun lalu diberi tanggung jawab untuk mengasuk Seongwoo saat kedua orang tua pemuda itu pergi meninggalkannya. Namun Seongwoo menyayangi nenek Jung seperti neneknya sendiri.

"Ayo kita makan, nek."

Nenek Jung duduk di depan meja. Ia terlihat senang dengan hidangan yang telah disiapkan oleh Seongwoo.

"Selamat makan..."

Seongwoo mulai menyumpit ramyeon yang telah ia pindahkan ke piring dan memakannya dengan pelan. Rasanya sangat enak walaupun hanya hidangan sederhana. Namun ia berhenti mengunyah ketika menyadari neneknya tidak ikut makan.

"Nek, kenapa tidak dimakan?"

"Apa kabar Daniel? Apa dia makan dengan baik? Apa dia tinggal di tempat yang nyaman?"

Nenek Jung menatap selebaran yang telah dicetak sebanyak 300 lembar oleh Seongwoo. Seongwoo mengikuti arah pandangan neneknya, kemudian tersenyum tipis.

"Daniel pasti baik-baik saja. Dia anak yang kuat dan tangguh. Nenek jangan khawatir, sebentar lagi aku akan menemukan Daniel."

"Tapi ini sudah lewat 14 tahun."

Seongwoo meremas sumpitnya pelan. Memang 14 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Pasti ada banyak hal yang telah terjadi, termasuk dengan keadaan adiknya, Daniel, yang hingga kini ia tidak tahu dimana keberadaannya. Seongwoo tidak pernah tahu apakah Daniel sehat? apakah Daniel tidur di tempat yang nyaman sepertinya? apakah Daniel makan dengan enak sepertinya? Pertanyaan itu selalu berputar dikepala Seongwoo.

"Aku pasti akan menemukan Daniel." Seongwoo tersenyum untuk menenangkan nenek Jung. "Ayo dimakan, nek. Nanti tidak enak kalau sudah dingin."

'Daniel, kau dimana? Hyung rindu padamu...'

oooOooo

Suara decitan sepatu dan pukulan terdengar disebuah ruangan yang penuh dengan barang-barang dan sebuah ring di tengah ruangan tersebut. Seorang pemuda terlihat serius mengarahkan pukulannya pada seorang laki-laki di depannya.

"Bagus, Jihoon. Arahkan pukulanmu lebih akurat lagi."

Jihoon terlihat sangat serius berlatih. Ya, ia adalah seorang fighter profesional. Sudah 3 tahun ia menggeluti olahraga yang cukup berbahaya tersebut. Namun Jihoon menikmatinya.

Lain Jihoon, lain pula denga pemuda yang sedang menatap dengan tangannya yang memegang gagang pel. Kelopak sempitnya terlihat serius mengamati Jihoon sambil sesekali berpura-pura mengikuti gerakan Jihoon.

"Daniel, sedang apa kau?"

Teguran Jaehwan membuat Daniel sedikit kaget. Namun ia langsung tersenyum lebar pada pemuda yang ada disampingnya itu.

"Jihoon keren sekali, ya. Aku jadi ingin seperti Jihoon."

"Bangun dan segeralah pel ruangan ini. Pelatih akan marah kalau ruangannya masih kotor."

"Aish, aku selalu saja mengacaukan angan-anganku, Jaehwan."

"Jangan pernah berangan-angan yang mustahil. Jihoon bisa seperti sekarang ini karena pelatih adalah pamannya."

"Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Semuanya bisa terjadi, Jaehwan."

"Hei, kalian berdua! Kenapa malah mengobrol?!"

Jaehwan dan Daniel berjengit kaget ketika suara pelatih terdengar bergema di ruangan tersebut. Mereka segera melanjutkan pekerjaan mereka. Jihoon terkekeh kecil melihat dua sahabatnya yang takut pada pamannya.

"Aku membantu mereka dulu, paman. Nanti malam kita latihan lagi."

"Nanti kau lanjutkan sendiri latihanmu. Aku tidak bisa menemani."

Jihoon melepas sarung tinju yang tadi ia pakai dan melemparnya ke meja. Ia meraih alat pel lain dan berjalan ke arah Daniel.

"Butuh bantuan?"

Daniel tersenyum lebar melihat Jihoon yang mengepel di sampingnya.

"Latihanmu sudah selesai?"

"Belum. Nanti malam masih harus lanjut lagi." Jihoon memeras kain pel yang baru saja ia celupkan ke ember dan mengosokkannya ke lantai. "Selebarannya sudah jadi?"

"Entahlah. Sungwoon hyung yang membuatnya."

"Apa kau yakin bisa menemukan hyung-mu?"

Daniel terdiam sejenak. Selama ini dia sudah berusaha mencari Seongwoo kemana-mana, bahkan ke tempat yang sering mereka kunjungi sekalipun. Namun ia tidak pernah menemukan kakaknya itu.

"Tentu saja. Aku pasti akan bertemu dengannya. Seongwoo hyung pasti sangat merindukanku, sama seperti aku merindukannya."

Nada optimis Daniel membuat Jihoon tersenyum. Pemuda yang ada disampingnya ini selalu terlihat bersikap positif dalam keadaan sulit sekalipun. Jihoon tahu, 14 tahun memendam rindu pada seseorang yang berarti di hidup kita sangatlah sulit. Namun Daniel terlihat tidak pernah menunjukkan itu padanya ataupun teman-temannya yang lain. Sebaliknya, Daniel selalu berusaha untuk menemukan kakaknya dengan caranya sendiri.

"Tapi kita tidak tahu apakah hyung-mu masih hidup atau tidak. 14 tahun itu tidak singkat, Daniel."

"Aku tahu. Tapi aku pasti bisa menemukan Seongwoo hyung apapun yang terjadi."

Daniel membereskan alat pelnya dan menaruhnya di lemari penyimpanan. Ia mengembuskan nafasnya pelan. Bagaimanapun ucapan Jihoon barusan seperti menyadarkannya kalau semua hal bisa terjadi dalam kurun waktu 14 tahun. Daniel tidak tahu dimana Seongwoo sekarang. Tetapi ia merasa kalau kakaknya itu baik-baik saja.

'Seongwoo hyung, apa kabarmu? Aku sangat merindukanmu, hyung.'

oooOooo

Seongwoo menempelkan selebaran yang berisi informasi tentang Daniel di mading kampusnya. Untuk sejenak ia menatap selebaran itu. Rasanya sedikit tidak yakin ia akan menemukan Daniel dengan foto 14 tahun yang lalu seperti ini. Tetapi hanya ini yang bisa ia lakukan agar ia bisa bertemu dengan adiknya.

"Huft~"

Seongwoo kemudian segera masuk ke kelasnya. Ketika ia membuka pintu, dosennya sudah berdiri di depan menjelaskan materi hari ini. salah seorang teman Seongwoo melihat dan mengisyaratkan untuk tidak berisik. Seongwoo berjalan mengendap-endap pelan dan duduk di bangkunya.

"Apa aku terlambat lama, Minhyun?"

"Tidak. Pelajaran baru di mulai 10 menit yang lalu." Minhyun mengulurkan sebuah koran pada Seongwoo. "Aku sudah menyebarkan iklan tentang adikmu di koran. Semoga ini membantumu."

Seongwoo tersenyum dan menepuk bahu Minhyun pelan. "Terima kasih, ini sangat membantuku."

"Ngomong-ngomong, pendaftaran untuk calon polisi sudah dibuka. Kita jadi mendaftar, kan?"

"Tentu saja. Mungkin dengan aku menjadi polisi, aku bisa bertemu dengan Daniel."

Seongwoo dan Minhyun memang ingin masuk akademi kepolisian. Mereka sudah merencanakan ini sejak lama. Namun Minhyun menunggu Seongwoo, yang mengumpulkan uang dengan bekerja sebagai biaya test masuk, agar bisa mendaftar bersama. Alasan Seongwoo ingin masuk akademi kepolisian adalah agar ia bisa menemukan Daniel, disamping menjadi polisi memang cita-citanya sejak kecil.

"Besok minggu depan kita akan mengikuti test. Mau belajar bersama?"

"Ide yang bagus. Setelah mata kuliah ini selesai, kita belajar bersama."

Seongwoo dan Minhyun ber-high five pelan kemudian saling melempar senyum. Mereka berharap bisa masuk ke akademi kepolisian bersama seperti yang direncanakan, supaya mereka bisa menemukan Daniel.

oooOooo

"Daniel, aku sudah mencetak selebarannya."

Sungwoon berlari kecil menghampiri Daniel yang sedang mengobrol dengan Jihoon dan Jaehwan di depan kios yang tutup. Teman-temannya yang lain pun ikut mendekat ketika Seungwoon mengulurkan selebaran itu pada Daniel.

"Wah, terima kasih, Sungwoon hyung."

"Ayo segera sebarkan ini ke seluruh kota. Semakin cepat disebarkan, mungkin kita bisa menemukan hyung-nya Daniel hyung."

"Tapi apa berhasil? Kita menggunakan foto lama di selebaran ini."

Untuk beberapa saat mereka terdiam mendengar pertanyaan Daehwi. Benar yang dikatakannya, tingkat keberhasilan menyebarkan selebaran dengan foto lama sangatlah kecil. Mereka sendiri sedikit pesimis dengan kemungkinan tersebut.

"Aku hanya punya foto ini. Untuk berhasil atau tidaknya kita tidak tahu karena kita belum mencoba. Tapi setidaknya kita sudah berusaha untuk mencari Seongwoo hyung."

Lihatlah Daniel dengan semua optimismenya. Pemuda itu bahkan tersenyum lebar sambil memandangi selebaran yang ada di tangannya. Hanya ini satu-satunya cara agar ia bisa menemukan Seongwoo walau kemungkinannya sangat kecil.

"Kalau begitu ayo segera disebarkan. Tempelkan ini disemua tempat di kota ini."

oooOooo

"Menurutmu mana jawaban yang sesuai?"

Minhyun membaca soal yang ditunjuk oleh Seongwoo di buku latihan. Saat ini mereka berdua sedang belajar bersama untuk test masuk akademi kepolisian. Karena jam kuliah sudah berakhir, mereka memutuskan untuk makan siang sambil membahas beberapa soal yang diprediksi akan keluar dalam test masuk.

"Yang nomor 5. Menurutku hanya itu yang mendekati jawaban yang sesuai."

"Eyy, bukannya nomor 2?"

"Kenapa bisa begitu?"

"Tidak tahu. Hanya feeling saja."

"Aish, mana ada jawaban test berdasarkan feeling."

Minhyun mendengus sebal, sementara Seongwoo tertawa lebar. Ah, selalu seperti ini kalau belajar bersama Minhyun yang terkenal serius dan saklek. Tapi itulah yang membuat mereka bisa bersahabat. Hanya Seongwoo yang bisa memahami sifat kaku Minhyun.

"Setelah ini kau mau bekerja?"

"Eum. Makanya kita harus segera menyelesaikan semua latihan ini agar aku bsia segera pergi bekerja."

"Kau hebat, ya."

"Eh?"

Seongwoo memandang bingung Minhyun yang sedang menulis jawaban di lembar kertas kosong.

"Kau bisa kuliah, belajar, bekerja dan mengurus rumah diwaktu yang hampir berdekatan. Melakukan semua hal dengan sangat baik tanpa mengganggu urusanmu yang lain. Kau hebat."

"Tidak, aku tidak sehebat yang kau pikirkan. Aku hanya berusaha untuk menjadi lebih baik agar nanti saat aku bertemu dengan Daniel, dia memiliki kehidupan yang layak. Aku ingin mengganti seluruh kesusahannya selama 14 tahun karena terpisah denganku dengan hasil kerja kerasku. Paling tidak, dia bisa membanggakan kakaknya yang telah meninggalkannya."

Seongwoo tersenyum kecil ketika mengingat adiknya. Daniel kecil adalah sosok yang penakut dan cengeng. Setiap malam ia akan mengganggu Seongwoo dengan meminta agar tidur bersama. Daniel juga sangat takut pada serangga. Seongwoo pernah menemukan adiknya menangis di kebun karena sekelompok serangga yang mengerumuni mainannya. Ah, rasanya itu sudah lama, tetapi Seongwoo masih bisa mengingat semuanya dengan baik.

"Ah, kita lanjutkan belajarnya besok. Aku harus bekerja."

"Perlu kuantar ketempat kerjamu?"

"Tidak usah. Terima kasih untuk hari ini. Sampai bertemu besok, Minhyun."

Minhyun melambaikan tangannya pada Seongwoo yang sudah berlari keluar kelas dengan buru-buru. Untuk sejenak, Minhyun menatap punggung sahabatnya itu dengan kagum. Seongwoo tidak pernah mengeluh dengan apa yang terjadi dihidupnya. Sahabatnya itu selalu bersyukur dan optimis dalam menjalani hidup. Namun Minhyun tidak bisa memungkiri kalau Seongwoo juga menyimpan banyak luka dan penderitaan. Hanya saja ia tidak ingin menampakkannya pada siapapun.

'Beruntungnya Daniel memiliki hyung sepertimu, Seongwoo. Dia mendapatkan kasih sayang yang tulus darimu tanpa kau pernah meminta untuk membalasnya. Aku rasa aku perlu banyak belajar darimu.'

.

.

.

.

TBC

Semoga chapter pertama ini nggak mengecewakan kalian. FF ini dibuat berdasarkan MV-nya Wanna One yang Beautiful. Betapa geregetannya aku sama MV itu, aku bener-bener dibuat terpesona sama aktingnya Daniel sama Seongwoo, plus jalan ceritanya yang gantung. Aku sengaja buat FF ini soalnya aku pengen realisasiin ending dari MV itu menurut versiku. Mungkin beberapa diantara kalian juga punya jalan pikiran yang sama sama aku :D

Makasih banyak buat yang udah baca dan review FF ini. Love you all~