"Ku-Kuloko Tetcuya desu."

HAAAAAAH?!

What the Hell?

2/?

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

OC © Kuro Kid

AkashixKuroko

GoMxKuroko

YAOI. Chibi!Kuroko. OOC. Typo

Krik.

Hening. Tidak ada satupun suara yang bergema di dalam gedung gym SMP Teiko. Semua orang yang berada didalam sana tengah mengalami shock.

Ini lebih horor daripada sosok Akashi yang tiba-tiba menjadi super ceria seperti Kise—maaf, sebenarnya itu juga horor.

Tapi demi semua koleksi lucky item milik si maniak Oha-Asa!

Gerombolan remaja warna-warni yang menamai diri mereka sebagai Kiseki no Sedai itu tidak pernah menyangka jika hal aneh seperti ini terjadi.

Kuloko Tetcuya.

Bukankah itu sama saja dengan,

Kuroko Tetsuya?

Demi semua gunting Akashi! Bagaimana ceritanya seorang remaja berumur 15 tahun tiba-tiba berubah—menyusut—menjadi bocah—super imut—berumur 5 tahun?

"Ka-kau jangan berbohong nanodayo!" sanggah sang maniak Oha-Asa, Midorima, yang sudah sembuh dari shock therapynya. Kelima kepala lainnya menangguk serempak, mengamini perkataan Midorima.

Bocah—super imut—yang mengaku sebagai Kuroko Tetsuya itu justru menatap Kiseki no Sedai dan Momoi dengan tatapan polos dan memiringkan kepalanya, "Aku tidak belbohong onii-chan. Kata Kaa-chan belbohong itu tidak baik."

Krik.

"Sialan, aku butuh tisu." Umpat Aomine sambil memencet hidungnya yang sepertinya sudah bersiap mengucurkan darah segar.

Sedangkan sang makhluk kuning bernama Kise itu terdiam dengan mulut menganga dan mata berbinar. Terlihat ekor anjing imajinernya bergoyang kesana-kemari dengan cepat.

Murasakibara berhenti mengunyah snacknya. Ia nampaknya terlalu kaget dengan fenomena yang ada didepan matanya hingga melupakan snack kesayangannya. Ini adalah kejadian langka, dimana seorang Murasakibara Atsushi berhenti tiba-tiba memakan snacknya.

Kacamata Midorima retak, ia membeku ditempat. Bahkan, lucky itemnya yang sedari tadi digenggamnya menggelinding jatuh begitu saja dan diabaikan olehnya. Oke, ini juga kejadian langka dimana Midorima mengabaikan lucky itemnya.

Momoi menatap bocah itu dengan pandangan berbinar. Ia menggenggam erat tangannya, ia berusaha menahan keinginannya untuk tidak memeluk bocah itu dan meremukannya dengan pelukan mautnya.

Sedangkan Akashi?

Rupanya sang Kapten masih terdiam dengan wajah datarnya, namun uh-oh, lihatlah wajahnya yang memerah hampir menyaingi warna rambutnya itu.

Bocah itu memandang bingung kumpulan remaja didepannya yang tengah menatapnya dengan pandangan—yang menurutnya—menakutkan, "Ano—"

"Cu-cukup jangan bicara lagi." Ucap Akashi dengan sedikit membentak. Bocah biru itu menundukkan kepalanya sambil menutup mulutnya dan berjalan mundur, membuat dirinya terjatuh karena tersendung kakinya sendiri.

"Hiks—"

"O-oi! Kau tidak apa-apa?" tanya Aomine panik ketika ia mendapati bocah itu mengeluarkan seperti menangis.

"Hiks—Hiks—"

Pundak bocah itu bergetar dan suara tangisnya kini semakin terdengar, membuat kelima remaja yang berada disana bingung. Mereka tidak bisa menghadapi anak kecil, satu-satunya orang yang pandai menghadapi anak kecil justru berubah menjadi anak kecil itu sendiri.

"Tetsu-chan, jangan menangis ne?" ucap Momoi. Ia berjongkok didepan sang bocah. Wajahnya terlihat panik sekarang. Ayolah, jangan sampai bocah manis ini terus menangis.

Momoi terus membujuk bocah biru itu, sampai akhirnya sang bocah berhenti menangis, ia menatap Momoi dengan mata yang masih berkaca-kaca, hidungnya memerah—begitu juga dengan pipi dan bibirnya, "Onii-chan... celam. Hiks—"

ASTAGA!

'Aku tidak sanggup lagi.'

"Aka-chin~ hidungmu mengeluarkan darah."

.-.-.

Kini Kiseki no Sedai dan Momoi kini sudah kembali normal. Tidak ada keributan aneh lagi yang terjadi, tidak ada Aomine yang kebingungan mencari tisu, tidak ada Murasakibara yang mengabaikan snacknya dan tidak Akashi yang tersipu malu.

Akashi berdehem, ia memandang kembali bocah—super imut—yang masih menatapnya dengan tatapan takut. Akashi ingin berteriak pada bocah itu untuk tidak menatapnya dengan pandangan yang sungguh—membuatnya meledak-ledak.

Oh Akashi, kau OOC sekali sekarang.

"Jadi, kau benar-benar Kuroko Tetsuya?" tanya Akashi lagi—memastikan. Bocah mungil didepannya itu menganggukkan kepalanya.

Kise yang berada tak jauh dari Akashi berteriak heboh, "Jadi kau benar-benar Kuroko-cchi? Kuroko Tetsuya?!" bocah itu kembali mengangguk, ia menatap Kise dengan pandangan bingung—dan takut. Ia ingin bertanya, tapi makhluk merah—yang menurutnya—menyeramkan tidak memperbolehkannya untuk bicara. Jadi, ia lebih memilih diam sambil memainkan kaos yang berukuran sangat besar itu.

"Baiklah. Kami percaya jika kau adalah Kuroko Tetsuya." Ucap Akashi. Apa boleh buat, mau tidak mau mereka harus percaya. Jika dilihat dari fisiknya, bocah ini memang sangat mirip dengan pemain bayangan Kiseki no Sedai. Kulit pucat, mata bulat berwarna biru secerah langit musim panas dan rambut berwarna baby blue. Tapi, wajah bocah itu lebih terlihat berekspresi, dan tentu saja, tetap terlihat kawaii.

"Tapi apa yang sudah membuat Kuroko kembali menjadi anak berumur 5 tahun begini nanodayo?" tanya Midorima sambil menaikkan kacamatanya, yang sekali lagi, tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya.

Akashi terdiam sejenak, "Sebentar lagi orang yang sudah membuat Tetsuya seperti ini akan kemari."

"EH?" teriak Kise kaget. Yang benar saja?

"Minna~!" teriak sebuah suara dari arah gerbang gym. Semua kepala yang berada didalam gym menoleh dan mendapati seorang gadis berambut baby blue sepunggung yang berlari kearah mereka. Manik gold milik gadis itu menatap heran teman-temannya yang justru terdiam.

"Kalian belum pulang? Dan kenapa kalian menatapku dengan tatapan seperti itu?" tanya gadis itu, ia merasa agak risih.

Kise pun mendekati gadis itu, "Rika-cchi, anu—kenapa kemari?" tanyanya. Gadis yang dipanggil Rika—Yukimura Rika—itu pun tersenyum lebar sembari menepuk kedua tangannya.

"Ah! Terimakasih sudah mengingatkanku Ryou-chan! Itu, sebenarnya aku hanya ingin mengambil botol berisi penemuanku yang tertinggal." Jelasnya.

Akashi menatap tajam Rika, "Jelaskan."

Rika mendengus kesal, "Aku ingin mengambil botol berisi penemuanku yang baru. Botol itu berisi cairan yang sudah kubuat untuk aku berikan kepada adiknya Shin-chan yang memintaku untuk membuat anjingnya kembali menjadi anak-anak kembali."

Midorima yang mendengar namanya disebut menatap tajam gadis itu, "Jangan menyebar fitnah nanodoya. Mana mungkin adikku meminta hal yang begitu bodoh. Dan satu lagi, memangnya adikku mengenalmu nanodayo?"

"Tanya saja pada adikmu. Lagipula aku tidak berbohong kok! Itu salahmu yang bercerita pada adikmu jika kau punya seorang manager seorang maniak ilmiah! Dan ya, adikmu mengenalku karena aku adalah orang yang mengantar adikmu pulang tempo hari saat kau sibuk disiksa oleh Sei-chan." Jelasnya sambil melipat kedua tangannya didepan dada dan menatap Midorima sengit.

Gadis itu, Yukimura Rika. Gadis berambut baby blue sepinggang dan memiliki mata berwarna gold, yang merupakan teman sekelas Kuroko sekaligus manager tim basket Teiko selain Momoi. Sekilas memang tidak ada yang aneh dengan gadis ini, namun jika dilihat dari sisi hobinya, ia merupakan anak—yang cukup—aneh. Hobinya adalah, membuat berbagai larutan merepotkan yang tentu saja merugikan orang disekitar mereka.

Dan kali ini korbannya tak lain dan tak bukan adalah,

Kuroko Tetsuya.

"Sepertinya kau sudah membuat masalah baru lagi, Rika." Ucap Akashi sambil tersenyum. Dibelakang punggungnya sudah tersiap gunting tajam yang siap memotong gadis manis itu.

Rika bergidik ngeri, "He-hei, Sei-chan, jangan begitu. Aku janji akan membuat penawarnya." Ucap Rika sambil menyakinkan Akashi.

Akashi hanya mengangguk mengiyakan. Lagipula sang biang masalah sudah berjanji untuk menyelesaikannya.

"Oi Rika, berapa lama kau bisa membuatnya?" tanya Aomine sambil menatap malas gadis itu. Rika terlihat berpikir sejenak, "Um, paling lama 3 bulan. Aku harus mengujinya berulang kali dahulu."

CKRIS

"Kau pikir 3 bulan adalah waktu yang singkat? Ri-Ka?" ucap Akashi sambil memainkan gunting merah ditangannya. Rika bergidik lagi.

"La-lalu aku harus menyelesaikannya kapan?"

"Aku beri kau waktu satu bulan." Ucap Akashi mutlak.

Rika membulatkan matanya, ia berkacak pinggang, "Satu bulan itu terlalu sebentar. Membuat penawarnya itu bukan hal yang mudah Sei-chan. Aku harus memastikan apakah penawarnya tidak merugikan untuk tubuh Tetsu-chan." Jelasnya. Kiseki no Sedai yang lain menatap Rika dengan tatapan kagum sekaligus prihatin.

'Jika aku jadi kau, aku tidak akan pernah menolak perintah iblis merah itu.'

CKRIS

"Oh rupanya kau sudah berani membantahku, Yukimura Rika?" ucap Akashi santai, ia tetap memainkan guntingnya, ditambah dengan aura hitam yang semakin menguar dari tubuhnya. Membuat Rika terdiam dengan keringat dingin yang mulai mengucur. Rika langsung menggelengkan kepalanya ketika melihat sang Kapten meminta jawaban darinya.

"Bagus. Lagipula kau harus bertanggung jawab untuk masalah yang kau timbulkan." Putus Akashi. Kini ia menyimpan kembali guntingnya ditempat yang seharusnya. Rika menghela nafas, sepertinya sebulan ini ia akan menjalani hari-hari yang sangat melelahkan.

Kuroko menatap mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan, ia takut dengan sosok Akashi yang memainkan guntingnya dan juga aura seram yang keluar dari sosoknya, namun disisi lain, ia kagum dengan sosok Akashi, ia terlihat begitu dihormati oleh teman-temannya, bahkan teman-temannya menuruti apapun perkataan Akashi.

Kuroko, sebenarnya mereka bukan hormat, tapi takut jika nyawa mereka melayang seandainya membantah.

Midorima yang sedari tadi terdiam dan duduk disebelah Kuroko bangkit, ia berdehem, "Jadi, masalah penawar sudah ditangani oleh Rika. Sekarang, siapa yang akan mengurus Kuroko? Kita tidak mungkin membawanya pulang dengan keadaan seperti ini."

Semuanya terdiam dan saling berpandangan satu sama lain.

"AKU! AKU SAJA!" heboh dua gadis yang saling berebut itu. Suara mereka yang tidak bisa dibilang kalem itu menggema dalam gedung gym.

"Diam."

Sunyi kembali. Ah, aura Akashi memang yang terbaik.

"Satsuki maupun Rika tidak bisa membawa pulang Tetsuya. Aku tau apa yang ingin kau lakukan pada Tetsuya." Jelas Akashi. Momoi dan Rika langsung terdiam. Terkutuklah Akashi dan kemampuannya, mereka tidak bisa bermain dengan mini Kuroko.

Lalu tatapan Akashi jatuh pada keempat Kiseki no Sedai yang sedari terdiam, "Tetsuya jika tidak bisa tinggal dirumah Daiki. Kau terlalu pemalas untuk mengurusi anak kecil."

Aomine menguap sebentar, "Tapi jika itu Tetsu, aku rasa—"

"Jika aku bilang tidak bisa, maka tidak bisa." Titah Akashi. Tak lupa gunting kesayangannya itu muncul kembali. Aomine hanya bisa mendengus. Gagal sudah rencananya untuk menghabiskan waktu berdua dengan makhluk manis itu.

"Lalu, Tetsuya juga tidak bisa tinggal dirumah Ryouta. Ia terlalu berisik dan kakaknya terlalu menyeramkan, itu bisa membahayakan Tetsuya." Jelasnya lagi. Kise yang mendengarnya ingin protes, namun ketika ia melihat Akashi tersenyum padanya, ia urungkan niatnya. Ia masih menyayangi nyawanya.

"Tetsuya juga tidak bisa tinggal dirumah Atsushi ataupun Shintarou. Aku tidak ingin Tetsuya mati gara-gara terlalu banyak diberi makanan oleh Atsushi dan aku tidak mau Tetsuya tertular sifatmu, Shintarou. Jadi, sudah kuputuskan jika Tetsuya akan tinggal dirumahku." Ucapnya mutlak. Anggota Kiseki no Sedai yang lain hanya bisa melongo.

'Halah, bilang saja kau ingin tinggal serumah dengan Tetsu/Kurokocchi/Kuro-chin/Kuroko.'

"Ano—Rika-nee..." panggil sebuah suara. Gadis itu menoleh mencari orang yang memanggilnya. Namun ia tak melihat teman-temannya memanggilnya. Gadis itu menoleh kebawah ketika ia merasakan ada sesuatu yang menarik roknya.

"Eh? Tetsu-chan? Ada apa?" tanya Rika lembut. Kuroko menunduk, ia mengisyaratkan Rika untuk berjongkok. Rika pun menurutinya, tanpa diduga, Kuroko berbisik pada gadis itu.

Anggota Kiseki no Sedai bergidik ngeri ketika mereka menyadari adanya aura yang tidak mengenakkan keluar dari kapten mereka tercinta. Mata dwi warnanya itu tak pernah luput dari sosok mini Kuroko yang tengah berbisik ria kepada Rika.

Rika mengangguk mengerti, Kuroko sudah selesai berbicara dengan gadis itu dan langsung bersembunyi dibelakang gadis yang memiliki surai senada dengan surainya.

"Jadi apa yang Tetsu katakan?" tanya Aomine penasaran. Yang lainnya pun sama. Mereka terdiam menanti Rika berbicara.

Rika berdehem, "Begini, emm—Tetsu-chan bagaimana jika kau bilang sendiri?"

Kuroko yang mendengar ucapan Rika tersentak, ia menatap Rika dengan pandangan memelas, "Ayolah, jangan begitu. Bilang saja langsung."

Kuroko terdiam, ia terlihat berpikir, kemudian menganggukan kepalanya imut, "Tapi, Sei-nii melalangku untuk bicara Nee-chan."

SINGG

Semua mata kini menatap tajam Akashi—seolah mereka lupa siapa Akashi. Dipikiran mereka, betapa jahatnya sosok Akashi sampai anak kecil pun menjadi korban kegalakannya. Namun sang objek justru terdiam dan menghiraukan tatapan tajam teman-temannya.

Dia terdiam, dengan tatapan kosong. Namun wajahnya kini ternodai semburat merah muda.

Intinya,

Akashi tengah berbunga-bunga.

Tetsuyanya—sekali lagi, TetsuyaNYA memanggilnya dengan nama kecilnya dan suaranya terdengar begitu merdu ditelinga Akashi.

Ah betapa indahnya dunia ini.

"Sei-chan?" panggil Rika, ia khawatir karena Akashi justru terdiam saja, sedangkan Kuroko semakin bersembunyi dibelakang kaki Rika—ia takut Akashi marah dan mengacunginya dengan gunting seperti yang ia lakukan terhadap teman-temannya tadi.

Akashi tersentak, "Ah ya, kau boleh bicara sesuka hatimu Tetsuya."

Kuroko tersenyum senang, ia melongok dari balik kaki Rika, "Benalkah?"

Surai merah darah itu mengangguk. Kuroko lalu menatap Akashi polos, "Kenapa Tetcu halus kelumah Sei-nii? Okaa-chan dan Tou-chan kemana?"

Semua orang terdiam, sampai akhirnya Rika langsung menjawab sekenanya, "Okaa-chan dan Otou-chan sedang pergi keluar kota, Tetsu-chan dititipkan pada Sei-chan."

Kuroko menatap Rika bingung, namun ia memutuskan untuk percaya, lagipula Rika tidak pernah berbohong padanya. Kali ini Kuroko menatap Akashi takut, ia semakin takut ketika Akashi justru menatapnya tajam.

"Tapi, Sei-nii menyelamkan. Tetcu takut. Lalu, Sei-nii juga membenci Tetcu." Katanya lirih. Matanya berkaca-kaca.

Mereka semua terdiam. Tidak kuasa melihat kadar keimutan Kuroko yang melebihi batas.

TAP

Kiseki no Sedai dan duo manager menatap Akashi bingung. Sosok kapten mereka itu kini berjalan mendekati Kuroko yang masih setia menatap Akashi dengan pandangan berkaca-kaca. Pandangan mata mereka masih tak bisa terlepas dari sosok bersurai merah yang kini semakin mendekati Kuroko.

Mereka menahan nafas ketika melihat Akashi berjongkok dihadapan Kuroko.

Dan mereka semua merasa roh mereka ditarik keluar dari raga ketika melihat sosok Akashi—

"Aku tidak membenci Tetsuya. Aku menyayangi Tetsuya."

—tersenyum manis kepada Kuroko.

Kuroko tersenyum lebar, ia langsung menerjang Akashi, "Yay! Tetcu juga cayang Sei-nii!"

Mari abaikan para manusia warna-warni yang belum sadar dari shock mereka.

.-.-.

"Kita mau kemana Nii-chan?" tanya Kuroko pada Akashi. Tangan mungilnya melingkar manis pada leher Akashi. Saat ini Kuroko tengah berada dalam gendongan Akashi, sedangkan teman—budaknya—mengikutinya dengan wajah masam.

Sudah jelas bukan alasannya?

Itu karena, Akashi melarang mereka semua untuk menggendong sosok Kuroko.

"Hanya aku yang boleh menggendong Tetsuya."

Mereka semua masih cukup menyayangi nyawa mereka dengan tidak protes kepada sang kapten.

"Membelikan baju baru untuk Tetsuya." Jawab Akashi singkat. Sosok digendongannya itu memiringkan kepalanya bingung.

"Untuk apa?" tanyanya lagi. Kise yang berada disamping Akashi yang sedang menggendong Kuroko tersenyum sambil mengacak surai birunya gemas, "Memang Tetsuya-cchi tidak ingin punya baju baru-ssu?"

"Ung, bukan begitu. Tetcu cenang kok!" Ucapnya semangat.

"Kalau begitu kita beli baju yang banyak untuk Tetsuya-cchi ya!" ucap Kise semangat.

"Ung!" Kuroko mengangguk semangat. Ia tertawa melihat tingkah Kise—yang menurutnya begitu lucu.

Tidak sadarkah dia, bahwa dirinya yang sekarang terlihat begitu lucu dan menggemaskan?

Tidak perlu waktu yang lama untuk sampai disebuah toko baju anak yang masih buka. Mereka langsung masuk—lebih tepatnya duo manager mereka—menerobos masuk dan langsung sibuk memilihkan pakaian yang imut untuk mini Kuroko.

"Tetsu-chan, ini bagus untukmu!" teriak Rika sambil berlari menghampiri Kuroko yang kini tengah duduk dipangkuan Akashi. Ditangannya ada satu set pakaian—celana pendek dan jaket dengan hiasan telinga kucing pada tudungnya berwarna putih dan biru muda. Manis sekali.

Mata Kuroko berbinar, ia mengangguk semangat. Entah kenapa baju itu terlihat bagus sekali. Sebenarnya, itu karena Kuroko tidak memiliki baju semacam itu.

Akashi mengamati pakaian yang ditawarkan Rika itu. Memang benar, pakaian itu terlihat bagus, warnanya cocok untuk Kuroko. Selain itu, pada tudung jaketnya terdapat telinga kucing, mungkin jika Kuroko mengenakannya ia akan bertambah imut.

"Bagus. Tak kusangka seleramu bagus juga." Tanggap Akashi.

Rika berjingkrak senang, ia mengacak surai lembut Kuroko, "Nee-chan akan membelikannya untuk Tetsu-chan."

Kuroko tersenyum senang, "Aligatou Nee-chan!"

Rika pun tersenyum manis, ia segera pergi kekasir untuk membayarnya.

Setelah Rika pergi, kali ini seorang pemuda bersurai pirang menghampiri Kuroko. Ia tersenyum lebar.

"Lyou-nii kenapa?" tanya Kuroko sambil memiringkan kepalanya imut.

Kise menahan dirinya untuk tidak menjerit dan menerjang sosok manis dihadapannya itu. Ia masih cukup waras untuk tidak melakukan itu, mengingat sosok manis itu berada dipangkuan iblis merah dengan gunting saktinya.

Pemuda pirang itu masih tersenyum, "Coba tebak Nii-chan membawa apa?"

Akashi menatap jengah Kise yang nampak bertele-tele, "Jangan membuang waktu dengan hal yang tidak penting Ryouta."

Kise cemberut, "Akashi-cchi tidak asik. Tara~! Ini untuk Tetsuya-cchi! Tetsuya-cchi suka?" tanya Kise sambil mengulurkan satu set pakaian, celana panjang berwarna putih dan kaos kuning dengan gambar pesawat terbang dan kemeja berwarna biru muda.

Kuroko tersenyum senang, ia mengangguk. Akashi pun mengangguk, selera Kise tidak buruk juga, mengingat temannya itu berkerja sebagai model, jadi selera berpakaiannya tak perlu diragukan lagi.

Seperginya Kise, sekarang sang manager bersurai merah muda yang datang. Tak lupa dengan suara melengkingnya yang khas ketika memanggil nama Kuroko.

"Ne, ne, Tetsu-chan, lihat! Aku bawakan baju yang manis untuk Tetsu-chan. Kau pasti suka kan?" tanya Momoi. Ia membawa sebuah baju panjang berwarna merah muda dan celana pendek berwarna putih dengan garis berwarna merah muda.

Ayolah Momoi, apa kau tidak salah memilihkan warna untuk seorang anak laki-laki?

Kuroko memandang pakaian di tangan Momoi dengan pandangan ragu. Pakaian yang dibawa oleh Momoi terlalu manis. Merah muda? Ayolah.

Tapi, Kuroko tidak tega untuk menolaknya, wajah Momoi terlihat begitu senang, ia terlihat puas dengan pilihannya dan Kuroko tidak mau membuat Momoi sedih, jadi ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum, "Ung, aku suka."

Momoi yang mendengarnya langsung meloncat senang, "Sudah kuduga Tetsu-chan akan menyukainya! Nee-chan akan membelikannya untuk Tetsu-chan! Tetsu-chan harus memakainya ya!"

Kuroko kembali mengangguk, Momoi pun langsung berlari kearah kasir dengan perasaan berbunga.

"Kau terlihat tidak terlalu menyukai pilihan Satsuki." Akashi bertanya pada Kuroko, ia menyandarkan dagunya pada kepala mungil Kuroko.

Anak itu melirikkan matanya keatas, berusaha melihat sosok Akashi, "Eh itu, Tetcu hanya tidak cuka walnanya. Tapi Satsu-nee cuka cekali. Tetcu tidak mau membuat Nee-chan cedih."

Pemuda bersurai merah menyala itu terdiam, jawaban Kuroko begitu polos, namun tersirat jika Kuroko mementingkan kesenangan orang lain diatas dirinya sendiri. Ia tersenyum lembut, benar-benar sifat Kuroko.

"Ehem." Sebuah suara dari makhluk berwarna hijau memecah suasana romantis yang tercipta diantara si merah dan si biru muda.

"Sepertinya Aka-chin sibuk dengan Tetsu-chin ya." Kini makhluk ungu yang bersuara, sedangkan makhluk biru yang berada disampingnya hanya menguap.

"Tetsu, ini untukmu." Ucap Aomine sambil memberikan satu kantong berisi pakaian dari mereka bertiga, dari Midorima, Murasakibara dan dirinya sendiri. Mereka terlalu malas—dan gengsi untuk menanyakan pendapat tentang pakaian pilihan mereka kepada Kuroko. Mereka yakin, Kuroko pasti akan senang dengan pilihan mereka.

Bocah mungil itu menerimanya dengan senyum lebar yang menghiasi paras manisnya, "Aligatou Nii-chan!"

Mereka bertiga pun turut tersenyum. Aomine sebenarnya ingin mengacak rambut biru muda milik bayangannya itu, namun melihat ada kepala merah diatasnya, ia mengurungkan niatnya.

Ketiga orang itu pun meninggalkan Kuroko dan Akashi—karena Akashi sudah melayangkan tatapan tajam kepada mereka yang berarti untuk segera pergi dari hadapannya.

Hah, terkadang merepotkan juga memiliki kapten dengan tingkat kesadisan diatas rata-rata.

"Sei-nii tidak mau pulang? Meleka cudah mau pulang." Ucap Kuroko, tangan mungilnya menunjuk kumpulan teman-temannya yang menunggu dirinya dikasir, dengan berdebat tentunya.

Akashi tersenyum tipis, "Sebentar, Tetsuya ikut denganku."

"Eh?" Kuroko kaget ketika Akashi tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan menggendongnya dibahu tegap milik pemuda bersurai merah itu. Akashi menggendongnya seolah membawa karung beras. Kuroko hanya bisa diam, ia tidak berani protes.

Eh, tapi untuk apa membawanya kedalam ruang ganti?

"Are, Tetsu-chan dan Sei-chan kemana?" tanya Rika ketika ia menyadari jika dua orang dari kerumunan mereka menghilang.

Semua mata yang ada disana langsung bergerak kesana-kemari, menyusuri sudut toko pakaian anak sederhana itu untuk mencari dua orang yang sedari tadi terdiam saja dan kini justru menghilang tanpa jejak.

"Hueee~ Tetsuya-cchi jangan tinggalkan aku." Raung Kise—hiperbola.

"Kecilkan suaramu Ryouta."

"GYAAAA!" jerit Kise. Bukan hanya Kise sebenarnya, Momoi dan Rika juga ikut menjerit, dengan alasan yang berbeda pastinya.

Bocah mungil berambut biru muda yang baru datang bersama dengan Akashi itu reflek langsung bersembunyi dibalik kakinya. Ia kaget dan juga takut mendengar jeritan super yang dikeluarkan oleh orang –orang paling berisik di Kiseki no Sedai.

Rika dan Momoi menghiraukan teriakan Kise dan juga reaksi Kuroko yang sepertinya ketakutan. Ah mereka tidak peduli!

Yang menjadi tujuan mereka kali ini adalah Kuroko!

Ah demi semua koleksi benda kesayangan mereka! Kuroko manis sekali. Super duper mega giga imut!

"Kya~ Tetsu-chan kawaii!"

"Kyaa~ kyaa~ Tetsu-chan imut sekali!"

Kuroko semakin bersembunyi dibelakang sosok Akashi. Dua kakak perempuannya itu terlihat mengerikan sekali. Mereka seperti ingin memakannya hidup-hidup.

Memangnya apa yang terjadi dengan Kuroko?

Ah rupanya tadi Akashi membawa Kuroko kedalam ruang ganti adalah untuk mendandaninya. Ia tidak mungkin tega membiarkan Kuroko memakai baju kebesaran miliknya sebelum menyusut.

Sebenarnya, penampilan Kuroko tidak terlalu aneh. Akashi hanya memakaikannya kaos lengan panjang berwarna putih polos dan jaket berwarna merah dipadukan dengan celana hitam sebetis, tidak lupa sepatu berwarna hitam membungkus kakinya yang sedari tadi tak mengenakan apapun.

Dari leher kebawah memang normal. Yang tidak normal adalah... rambutnya.

Akashi mengikat poni panjang miliki bocah itu keatas. Dan itu, membuatnya semakin manis. Bahkan yang tidak mengenal Kuroko. Mereka akan mengira jika Kuroko adalah seorang bocah perempuan berpenampian tomboy.

Pemuda berambut merah itu menghela nafas melihat tingkah laku anak buahnya yang begitu OOC.

"Berhenti membuat keributan. Hari semakin malam, sebaiknya kalian pulang kerumah." Titahnya.

Para Kiseki no Sedai dan duo manager itu hanya bisa menghela nafas, waktu mereka bermain dengan mini Kuroko sudah habis.

Menyedihkan sekali.

.-.-.

"Sei-nii?" panggil Kuroko kepada Akashi yang masih sibuk dengan buku ditangannya. Akashi menutup bukunya dan menatap Kuroko yang menghampirinya dikamarnya.

Akashi tersenyum begitu melihat Kuroko mengenakan piyama pilihannya tadi. Piyama berwarna merah polos. Bocah mungil itu memeluk boneka anak anjing yang tadi sempat dibelikan olehnya.

"Ada apa Tetsuya? Apa kau takut tidur sendiri?" tanya Akashi sambil tersenyum kecil. Senyumannya berubah menjadi kekehan ketika ia melihat sosok mungil itu mengeratkan pelukannya pada boneka anjingnya, dan jangan lupakan wajahnya yang memerah itu.

Uh, rasanya sungguh memalukan untuk Kuroko.

Akashi menghampiri sosok Kuroko dan mengacak rambutnya lembut, "Tidurlah bersamaku."

Bocah mungil itu tersentak, ia menatap Akashi dengan mata bulatnya, senyum lebar terlukis sempurna diwajah manisnya. Kaki mungilnya mengikuti langkah Akashi yang beranjak kekasurnya. Ia menyamankan diri diranjang milik Akashi.

Mata bulatnya masih setia menatap Akashi yang sedang menyelimutinya dengan selimut tebal berwarna merah maroon.

"Oyacuminasai Sei-nii."

Akashi tersenyum lembut, "Oyasuminasai Tetsuya."

To Be Continued

a/n:

Hai~ Saya kembali membawa chapter 2.

Special thanks untuk Bona Nano, spring field sakura, Monokurobo, ningie cassie, Ichika07 atas dukungan kalian untuk tetap melanjutkan ff ini. Saya jujur merasa senang, ketika ff saya direspon positif oleh para reader. Padahal cerita ini begitu... absurd.

Dan untuk Bona Nano, rasanya ada kesalah pahaman, Akashi dan Murasakibara itu tidak berpacaran, maksud saya Murasakibara dan pacarnya itu adalah, Murasakibara dan snacknya. Salah saya membuat kalimat yang sulit dipahami-_-

Sebagai penulis baru, tentu saya tidak luput dari yang namanya kesalahan, karena itu saya menerima kritik dan saran.

So, review? ^^~