Disclaimer:
Naruto © Kishimoto Masashi
Lantai Empat © Haruno Aoi
Warning: AU, OOC, TYPO(S)
.
.
.
…Lantai Empat…
Bab II
.
.
.
Hinata mulai merasakan hawa sepi apartemennya setelah Gaara meninggalkan apartemen beberapa menit yang lalu. Ia melupakan kesendiriannya dengan membereskan peralatan makan yang digunakan untuk sarapan. Hari ini Hinata memang berusaha menyiapkan sarapan untuk Gaara.
Saat mencuci piring, Hinata tersenyum sendiri karena teringat bagaimana ia mengenal Gaara dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Waktu itu, Hinata sering duduk di bangku—kereta—yang sama saat berangkat kuliah pagi, di samping orang yang sama; Gaara.
Hinata harus bersyukur karena mempunyai sifat ceroboh. Suatu hari saat pulang dari kuliah malam, dompet Hinata terjatuh dan Gaara yang menemukannya. Entah bagaimana prosesnya sehingga mereka berdua bisa menjadi akrab dan mulai menjalin hubungan.
Saat ulang tahun Hinata yang ke-22, Gaara melamarnya dan mereka menikah tidak lama setelahnya. Kata Gaara, masakan Hinata enak dan ia ingin memakannya setiap hari. Hinata tidak keberatan untuk itu, dan ia juga ingin selalu bersama Gaara.
Terkadang keputusan menikah memang hanya didasarkan pada sesuatu yang sederhana; tidak perlu alasan yang terlalu spesial.
Hinata menganggap pernikahannya dengan Gaara sebagai hal yang sangat istimewa dalam hidupnya. Menjadi pasangan suami istri dengan Gaara yang selama ini adalah orang lain, dan tinggal seatap dengannya; adalah sesuatu yang aneh dan tak terbayangkan oleh Hinata.
Beberapa orang menganggap pernikahan sebagai peristiwa yang perlu dirayakan. Namun, perayaan itu biasanya hanya sesaat. Yang menanti keduanya setelah itu adalah keseharian yang sama seperti biasanya. Pagi yang sama seperti sebelum menikah; harus bangun, makan, dan bekerja seperti biasa. Karena itu, Hinata memilih Gaara yang bisa hidup seperti biasa bersamanya.
Tiba-tiba Hinata merasakan perasaan aneh saat mengelap tangannya yang masih basah ke celemek ungu mudanya. Ia merasakan hawa dingin di tengkuknya. Hinata dengan cepat melepas celemeknya dan segera berbalik. Tidak ada siapa-siapa.
Hinata melihat ke sebelah kiri; pandangannya tertuju pada tirai jendela yang melambai. Apa yang membuat tirai itu bergerak seperti tertiup angin? Padahal semua jendela apartemennya tertutup dan AC sedang tidak dinyalakan. Nafas Hinata memburu, jantungnya berdetak lebih cepat, dan ia hanya bisa menelan ludah. Tangannya yang gemetaran mencengkeram meja dapur yang dijadikan sandaran sebagian tubuhnya.
Hinata ingin menutup matanya, tapi seolah ada yang membuatnya tetap terbuka. Ia benar-benar takut, apalagi saat mendengar suara langkah kaki dari luar apartemennya. Seperti suara derap langkah seorang anak kecil atau orang dewasa yang sedang berlari; mungkin keduanya. Keringat dingin mulai meluncur di pelipis Hinata. Telapak tangannya juga mulai berkeringat saat suara-suara itu terdengar semakin jelas.
"KYAAA!"
Hinata jatuh terduduk ketika pintu gesernya menuju balkon mendadak terbuka dengan sendirinya. Padahal tidak ada angin yang berhembus, sama seperti sebelumnya. Ia merasakan kakinya lemas, sehingga sulit untuk berdiri. Apalagi perutnya terasa sedikit nyeri. Rasanya ia ingin menangis. Ia sangat takut.
"Oneechan ngapain?"
Hinata mendongak untuk melihat ke sumber suara; gadis berambut coklat panjang yang mempunyai mata sewarna milik Hinata. Ia berdiri tak jauh dari tempat Hinata terduduk.
"Hanabi…" gumam Hinata dengan bibir bergetar.
Gadis yang bernama Hanabi itu mendekat pada Hinata, dan membantunya untuk bangun. Kemudian, Hanabi membopong Hinata ke sofa.
"Kenapa bisa jatuh?" tanya Hanabi dengan suara meninggi. Walaupun begitu, tampak kekhawatiran di wajahnya saat melihat Hinata menggigit bibir bawahnya sambil memegangi perutnya.
"Aku takut…" ucap Hinata sambil memeluk Hanabi; mencegah Hanabi berdiri dari duduknya di sofa.
"Kenapa sih?" Hanabi khawatir saat Hinata mulai terisak dan meneteskan air matanya.
"Apa kamu yang membuka pintu kaca itu?" Hinata masih belum berani melihat pintu yang ada di sebelah kanannya.
"Bukan."
Pelukan Hinata semakin mengerat setelah mendengar jawaban singkat Hanabi. Sepertinya Hanabi sudah mengerti mengenai penyebab ketakutan Hinata.
"Jangan takut. Aku akan menemani Oneechan," kata Hanabi sambil mengelus punggung Hinata. Ia mencoba memberikan ketenangan dan kenyamanan untuk kakak perempuannya satu-satunya itu.
Sebuah suara membuat Hinata melepas pelukannya. Kemudian, ia mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Saat menemukan sumber suara di dekat pintu apartemennya, Hinata menatap Hanabi dengan wajah yang tidak terbilang senang.
"Kenapa bawa kucing? Aku kan—"
"Iya, iya, aku nggak lupa. Neko-chan nggak penyakitan, kok. Dia juga bersih," potong Hanabi dengan mantapnya sambil memandang kucing putihnya yang berbulu lebat.
"Tetap saja, Hanabi. Aku takut…"
Hanabi menyeringai. Ekspresi cemas Hinata selalu menjadi pemandangan yang menarik untuknya.
"Hanabi…" desis Hinata sebal.
Hinata terkikih geli. "Aku anterin ke dokter, ya?"
Hinata mengangguk, lalu tersenyum lembut karena melihat Hanabi yang mendadak berwajah khawatir.
.
.
.
Hinata berbaring di ranjangnya. Ia melihat Hanabi yang sudah tidur pulas di depannya. Ia menyuruh Hanabi menemaninya tidur karena masih terbayang-bayang dengan kejadian yang dialaminya tadi pagi. Ia belum bisa terlelap walaupun sebenarnya sudah mengantuk.
Sedari tadi Hinata tampak gelisah. Boleh dibilang kalau ia sedang takut untuk tidur. Ia hanya takut mengalami mimpi buruk. Yang saat ini paling ia harapkan kehadirannya adalah Gaara, suaminya. Selama Gaara berada di sisinya dan memeluknya, ia tidak pernah mengalami mimpi buruk.
Hinata mengambil ponselnya yang ada di dekat ranjang. Ia jadi sangat ingin menghubungi Gaara. Ia yakin kalau Gaara juga masih terjaga. Ia menekan nomor Gaara dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.
"Anata…" panggil Hinata dengan manja saat Gaara menjawab teleponnya.
"Hm? Sudah rindu padaku?" Suara Gaara masih terdengar jernih. Benar dugaan Hinata; Gaara memang belum tidur.
"Iya. Aku kangen…" Suara Hinata yang manja terdengar seperti rengekan anak kecil.
"Jujur sekali."
Gaara tertawa kecil di seberang sana. Padahal Hinata ingin melihat tawa itu secara langsung, bukan hanya mendengarnya. Karena Hinata jarang sekali melihat Gaara tertawa.
"Kenapa belum tidur?"
"Nggak bisa tidur karena menunggu telepon dari suamiku," jawab Hinata dengan suara yang terdengar lucu, karena ia berbicara sambil sedikit mengerucutkan bibirnya.
Gaara tertawa lagi. Untuk beberapa saat, Hinata masih menunggu Gaara menghentikan tawanya. Ia ikut tersenyum walaupun Gaara tidak bisa melihatnya.
"Hina-chan…"
"Ya?" Hinata mengubah posisinya menjadi berbaring miring membelakangi Hanabi.
"Mau oleh-oleh apa?"
"Tadi pagi aku kan sudah bilang…" Hinata menghela nafas pelan. "Oleh-olehnya Gaara-san yang pulang dengan selamat."
Sekali lagi Gaara tertawa. Hinata heran; kenapa suaminya itu jadi sering tertawa? Hinata kan tidak sedang melawak.
"Mm… Anata…"
"Hm?"
"Belikan cokelat, ya…" pinta Hinata malu-malu. Kenapa tidak bilang dari tadi kalau oleh-olehnya cokelat? Tapi, sepertinya yang ini adalah keinginan dadakan.
"Hm," gumam Gaara menyanggupi.
Sayangnya Hinata tidak bisa melihat Gaara yang sedang tersenyum senang di seberang sana.
"Aku jadi ngantuk," kata Hinata setelah menutup mulutnya karena menguap.
"Tidurlah."
.
.
.
Pagi-pagi sekali Hinata sudah bangun. Mulai sekarang, ia tidak lagi mengerjakan komiknya di malam hari karena takut. Sesudah sarapan, ia melanjutkan mengerjakan komiknya. Sai sudah datang sejak pagi, karena mengira Hinata di apartemen sendirian setelah ditinggal Gaara ke luar kota. Sai tahu kalau Hinata sangat penakut, makanya Sai ingin menemaninya.
Sai duduk di kursi depan meja kerja Hinata, seperti biasanya. Ia sedang membaca koran yang dibawanya ke apartemen Hinata. Sesekali ia juga akan berhenti dan membantu Hinata jika diminta.
Setelah Hinata memberhentikan asistennya, Sai sering membantu memberikan tone atau tenbyo di sela-sela gambar Hinata. Keahlian menggambar Sai tidak boleh diragukan, bahkan ia lebih berpengalaman daripada Hinata.
Sebenarnya yang membuat Hinata gemar menggambar adalah Sai. Sai tidak menyadarinya, tetapi Hinata mengakuinya.
Hinata menghentikan pekerjaannya saat ada 'sesuatu' yang menetes di mejanya. Hinata mulai berkeringat dingin karena tetesan cairan merah itu tidak kunjung berhenti. Hinata merasakan jantungnya berdetak semakin cepat. Ia memberanikan diri mendongak ke langit-langit apartemennya, tetapi tidak ada apa-apa di sana. Ia ingin mengeluarkan suaranya untuk memanggil Sai, namun lidahnya terasa bertulang.
Hinata merasa kalau tubuhnya mendadak menjadi kaku. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Jantungnya masih berdegup kencang karena ketakutan. Hinata merasakan pandangannya buram karena air mata. Ia hanya bisa berusaha memanggil Sai yang terlihat tenang membaca koran. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, tetap seperti itu. Ia merasa berada di waktu yang berbeda dengan Sai.
Tiba-tiba Hinata dikejutkan dengan ujung rambut yang semakin mengganggu penglihatannya ke Sai. Mata Hinata membelalak dan tidak bisa untuk dipejamkan. Padahal di saat seperti ini Hinata tidak ingin membuka matanya. Rambut di depan wajah Hinata itu semakin turun, turun, dan akhirnya bisa menampakkan wajah pemiliknya yang pucat dan tersenyum kepada Hinata. Darah keluar dari sudut bibir yang tersenyum itu, dan akhirnya darah membasahi seluruh wajahnya.
"KYAAAAA!"
"Ada apa?" tanya Sai khawatir melihat Hinata yang ketakutan.
Hanabi yang baru bangun tidur karena teriakan histeris Hinata, tidak jadi keluar kamar karena melihat Sai menenangkan Hinata.
"Da… darah…" jawab Hinata terbata sambil menunjuk cairan merah di mejanya.
Sai segera mengerti. "Tidak apa-apa, biar kubersihkan," ujar Sai sambil membersihkan sedikit darah di meja kerja Hinata menggunakan tissue yang diambilnya dari meja makan.
"A… aku benar-benar bisa gila kalau terus-terusan mengalami ini…" gumam Hinata.
Hinata membuka laci meja kerjanya dan mengambil kantung kertas dari apotek tertentu. Sai menepis kasar tangan Hinata ketika melihat Hinata mengeluarkan beberapa tablet dan akan memakannya. Hinata hanya menangis dalam diam. Baru kali ini ia melihat wajah Sai yang tanpa senyum. Ia hanya pasrah saat Sai merebut kantung kecil di tangannya.
"Dari psikiater?" Sai tidak perlu jawaban dari Hinata karena ia bisa membaca sendiri apa yang tertulis di kantung itu. "Kenapa kamu mendapatkan obat dari psikiater? Kamu tidak gila!" Suara Sai meninggi.
Hanabi terkejut. Ia tidak pernah tahu tentang obat-obatan itu. Ia ingin keluar dari kamar Hinata, tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya ia masuk ke dalam pembicaraan Hinata dan Sai. Ia mengamati Sai yang sedang melemparkan kantung obat Hinata ke dalam keranjang sampah yang ada di dapur. Sama seperti Hinata, ia juga baru kali ini melihat Sai berwajah datar tanpa senyum ramahnya.
"Ke… kenapa dibuang?"
"Kamu tidak boleh mengonsumsi obat sembarangan! Seharusnya kamu lebih tahu daripada aku!" Suara Sai masih terdengar tinggi. "Gaara pasti belum tahu tentang itu, kan?" Sai menunjuk keranjang sampah tempat ia membuang obat-obat Hinata.
Hinata tidak berani membayangkan jika Gaara tahu kalau ia sudah beberapa kali memakan obat yang biasanya diberikan kepada seseorang yang mengalami gangguan jiwa itu. Gaara pasti marah besar. Apalagi mengingat kondisi Hinata yang sekarang.
"Aku tidak ingin memperburuk hubungan Gaara-san dengan keluarganya."
"Memperburuk?" Sai menurunkan volume suaranya. Ia mencerna kalimat Hinata. Keluarga Gaara? Sai jadi menebak kalau psikiater yang memberikan obat ke Hinata adalah paman Gaara.
Hinata menundukkan kepalanya. "Semuanya salahku. Sai-kun tahu kan kalau akhir-akhir ini sikapku menjadi aneh?"
"Kamu memang selalu aneh," jawab Sai sedikit bergurau.
Bisa-bisanya Sai kembali tenang setelah terlihat begitu marah? Hinata dan Hanabi menjadi heran kepada Sai. Hinata langsung mengangkat kepalanya dan menatap Sai.
"Aku serius…" desis Hinata diikuti wajah cemberut.
Sai tersenyum lalu mengangguk pelan, mempersilahkan Hinata untuk melanjutkan ceritanya.
"Sejak para penghuni apartemen lantai empat banyak yang pindah, aku jadi sering mengalami kejadian yang menyeramkan. Keluarga Gaara-san bilang kalau aku sudah gila. Bahkan, mereka menyuruh Gaara-san untuk menceraikanku…"
Sai tidak berkomentar dan kembali berwajah datar, entah apa yang dipikirkannya. Hanabi menutup mulutnya, dan matanya tampak melebar. Ia tidak mengira kalau hubungan Hinata dengan keluarga Gaara menjadi seburuk itu. Setahu Hanabi, akhir-akhir ini keluarga Gaara hanya menjadi tidak peduli kepada Hinata.
Sai mendekat pada Hinata dan menepuk-nepuk pelan pundak Hinata.
"Sepertinya 'mereka' tidak senang jika masih ada yang menempati lantai empat ini, 'rumah mereka'. Makanya, 'mereka' ingin agar para penghuni apartemen di lantai ini pindah semua, termasuk kamu dan Gaara."
Sai mengembangkan senyumnya ketika melihat ekspresi bingung Hinata.
"Kamu tidak lupa kan kalau aku sedikit 'peka'?" tambah Sai.
Hinata tersenyum, namun terlihat dipaksakan. "Hanabi juga bisa merasakannya. Tapi, Gaara-san tidak. Keluarganya juga tidak. Karena itu, Gaara-san selalu meragukan ceritaku. Bahkan, tidak pernah percaya…"
Setelah itu, Hinata jatuh ke pelukan Sai. Seperti biasanya; ia mencurahkan apapun yang mengganjal pikiran dan hatinya kepada Sai. Selama ini, Sai sudah seperti diary berjalannya.
Hanabi pura-pura tidak tahu, dan tetap berada di dalam kamar Hinata. Terkadang, ia merasa takut melihat kedekatan Hinata dan Sai. Kalau dulu, Hanabi senang dengan hubungan spesial Hinata dan Sai. Tapi kalau sekarang, ia khawatir karena Hinata sudah menjadi istri Gaara. Apalagi setelah mendengar pengakuan Hinata mengenai hubungannya dengan keluarga Gaara.
Hanabi mendadak menjadi bingung memikirkan cara agar bisa ke kamar mandi tanpa sepengetahuan Hinata dan Sai. Kamar mandi berada di luar kamar Hinata. Hanabi sempat berpikir untuk keluar kamar begitu saja. Tapi, rasanya tidak enak mengganggu mereka berdua.
Memangnya sampai kapan mereka berdua dalam posisi seperti itu? Hanabi kan sudah kebelet…
.
.
.
"Hinata-chan…" Suara ceria ini sudah menyambut Hinata setelah Hinata membuka pintu apartemennya.
"Ino-chan…" Hinata terlihat senang dengan kedatangan wanita berambut pirang panjang yang diikat tinggi itu. Mereka berdua lalu berpelukan. "Aku senang sekali Ino-chan ke sini…"
"Kalau Shikamaru sedang dinas ke luar kota, kamu juga sering datang ke apartemenku, kan…" kata Ino saat mengikuti Hinata memasuki apartemennya.
"Aku jadi tidak kesepian karena dari kemarin ada yang menemaniku ngobrol."
"Kemarin? Siapa? Hanabi?" Ino terlihat penasaran karena wajah Hinata terlihat begitu sumringah. Sepertinya ia ragu kalau yang dimaksud Hinata adalah Hanabi. Ditemani adiknya yang cerewet itu tidak mungkin bisa membuat Hinata sesenang ini, kan? Pikir Ino.
"Sai-kun."
Ino sudah menduganya. "Apa suamimu tidak cemburu kalau Sai sering menemuimu?"
"Sai-kun kan editorku. Lagian, Gaara-san tidak pernah cemburu tuh…" Hinata mendahului Ino menduduki sofa merahnya.
"Itu kan menurutmu…" Ino duduk di samping Hinata. Ia mengambil biskuit cokelat di toples kaca bulat di depannya, dan memakannya. "Hmm, ini enak."
"Buatanku," sahut Hinata dengan wajah memerah karena pujian Ino.
Ino mengangguk-angguk. Tidak terkejut, karena ia tahu kalau Hinata sudah pandai memasak sejak SMA. Ia mengambil toples Hinata dan meletakkannya di pangkuannya. Ia memasukkan satu per satu biskuit cokelat buatan Hinata ke dalam mulutnya.
"Eh, aku dengar dari Shikamaru kalau Gaara mau diangkat menjadi pimpinan proyek yang baru…"
Hinata terlihat terkejut. "Kenapa Gaara-san tidak memberitahuku kalau dipromosikan?"
"Mungkin kejutan? Berarti aku lancang, ya…" Ino tertawa hambar.
Hinata semakin bangga kepada suaminya. Sepertinya promosi yang mendadak itu disebabkan prestasi kerja dan sifat Gaara yang baik.
"Katanya, para pegawai di sana membujuk Gaara untuk mengadakan pesta saat ia kembali nanti…" tambah Ino diikuti tawa.
Hinata tertawa kecil melihat Ino yang tersedak karena makan sambil tertawa. Temannya sejak SMA itu memang terbiasa tertawa dalam segala keadaan.
"Datang sama siapa?" tanya Hinata.
"Sendiri. Aku meninggalkan Shikamaru bersama si kecil." Ino tertawa lepas. Seolah tidak memiliki beban ketika mempercayakan anak perempuannya kepada suaminya yang tidak bisa mengganti popok dan membuatkan susu.
"Ino-chan tidak takut?" tanya Hinata ragu.
"Hah? Takut apa?" Ino balik bertanya dengan polosnya. "Shikamaru mungkin akan ngomel sebentar, tapi—"
"Bu… bukan itu. Maksudku, kenapa Ino-chan masih berani ke apartemenku sendirian? Di sini penghuninya tinggal aku dan Gaara-san…"
Ino tertawa lagi. "Aku kan pemberani," ujar Ino dengan bangganya.
Hinata masih ingat kalau Ino pernah cerita kepadanya setelah melihat hantu di dalam lift. Waktu masuk lift, Ino sendirian. Tetapi saat lift mulai naik atau turun, ia melihat pantulan perempuan berambut panjang dan berantakan yang duduk meringkuk membelakanginya di pojok lift. Dari pintu lift itu, Ino juga bisa melihat pantulan laki-laki yang berdiri membelakanginya.
Ino pernah mencoba menoleh ke belakang, tetapi ia tidak melihat orang lain di sana. Setelah melihat pintu lagi terkadang pantulan sosok itu hilang, kemudian muncul lagi secara tiba-tiba.
Awalnya Ino memang takut, namun ia jadi terbiasa karena sering melihatnya saat datang ke apartemen Hinata. Menurutnya, sosok itu hanya menampakkan diri dan tidak mengganggunya—dalam arti; tidak mencelakainya. Tapi sampai kapanpun, kejadian seperti itu pasti sangat mengagetkan.
Beda dengan Ino, Hinata jadi tidak berani menggunakan lift setelah ia melihat langsung apa yang ada di dalam lift apartemennya. Karena itu, belakangan ini Hinata jadi sering berdebat dengan Gaara hanya karena masalah lift. Padahal Gaara hanya merasa khawatir ketika Hinata menggunakan tangga.
.
.
.
Hinata menyiapkan sarapan. Sebenarnya ia malas, tapi karena ada Hanabi ia jadi memiliki semangat untuk memasak. Selain Gaara, Hanabi yang selalu memuji masakannya. Jadi, Hinata senang saat memasak untuk mereka.
Hinata mendengar suara kucing Hanabi ketika ia menata masakannya di meja makan. Sebenarnya ia tidak takut pada kucing. Ia hanya takut mengganggu kesehatannya.
Hinata melihat kucing Hanabi seolah memandangi pot tanaman yang ada di sebelah rak sepatu dekat pintu apartemennya. Dari tadi kucingnya tidak bergerak dari sana, dan tidak berhenti mengeong. Hinata menelan ludahnya. Perasaannya sudah tidak enak.
Hinata memberanikan diri mendekati kucing putih yang gendut itu. Semakin dekat, Hinata jadi tahu apa penyebabnya. Nafas Hinata mendadak memburu saat melihat daun tanamannya bergerak dengan sendirinya seperti tertiup angin. Sama seperti kejadian beberapa hari yang lalu; jendela kaca Hinata, pintu geser menuju balkon, dan pintu depan apartemen Hinata tertutup semua. AC juga sedang tidak dinyalakan.
Jantung Hinata memompa darah lebih cepat ketika Hinata mengamati kucing yang tatapannya masih tertuju pada tanaman yang bergoyang itu.
"Ha… Hanabi…" gumam Hinata pelan karena bibirnya terasa bergetar dan lidahnya terasa kelu. "Hanabi…" Suara Hinata sudah semakin keras dari sebelumnya, namun belum bisa untuk membangunkan Hanabi yang masih terlelap.
"Hanabi…!" Hinata mundur dan terpojok di punggung sofa ketika kucing Hanabi—Neko—mendadak menatapnya dengan tajam dengan mata yang berubah semerah darah. "HANABI…!" teriaknya saat Neko tiba-tiba mencakar rok selututnya.
"Neko-chan…!" Suara Hanabi membuat Neko kembali tenang. Ia membawa Neko ke dalam gendongannya. Neko terlihat bermanja-manja di pelukannya.
Hinata berusaha untuk mengatur nafasnya yang terengah. Ia masih merasa takut. Ia memberanikan diri untuk melirik Neko yang berada dalam gendongan Hanabi. Hinata belum bisa tenang, apalagi ketika melihat Neko yang seolah menyeringai kepadanya.
"Oneechan tidak apa-apa, kan?"
Hinata mengangguk pasrah karena ia tidak ingin membuat Hanabi khawatir.
.
.
.
"Kemarin Gaara-nii menyuruhku untuk menemani Oneechan ke rumah sakit. Hari ini ada jadwal bertemu dokter, kan?"
"Ah, iya. Kok bisa lupa, ya…"
"Pikun."
"Mm… mungkin karena belum terbiasa."
Hinata berhenti sejenak dari kegiatannya membereskan tempat tidurnya. Ia menegakkan badannya untuk melihat Hanabi yang sedang mengaca di cermin kamarnya. Hanabi terlihat segar karena baru saja selesai mandi. Tumben menurut Hinata. Biasanya Hanabi malas mandi pagi kalau sedang libur kuliah.
"Kenapa Gaara-san tidak mengingatkanku?" gumam Hinata sambil melanjutkan kegiatannya semula.
"Percuma deh. Oneechan kan pelupa," ujar Hanabi dengan santainya, tanpa mempedulikan perasaan kakaknya.
Hinata sudah maklum dan sering bersabar dengan gaya bicara Hanabi yang ceplas-ceplos.
"Oneechan itu selain ceroboh, cengeng, dan penakut… ternyata juga masih pikun. Kasihan Gaara-nii. Pasti sangat bersabar mempunyai istri kayak Oneechan…" Hanabi lebih mendramatisir dengan mendecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kalau Gaara sangat bersabar memiliki istri seperti Hinata. Berarti Hinata amat sangat bersabar sekali karena dianugerahi adik semacam Hanabi. Hinata membuka mulutnya, ingin mengeluarkan suaranya. Tetapi…
"Satu lagi. Gaara-nii nggak ngebolehin Oneechan buat lewat tangga. Nggak boleh dibantah lagi. Titik."
Hinata menutup mulutnya lagi. Niat membantahnya sudah benar-benar hilang. Sebenarnya yang menjadi adik itu siapa? Mengapa Hinata selalu tidak bisa menang melawan Hanabi?
"Tenang saja. Nggak perlu takut. Kan ada aku…" Hanabi menepuk dadanya sendiri.
Hinata memang berani kalau ada yang menemaninya memasuki lift apartemennya. Tetapi jika sendirian, mungkin ia akan tetap setia menggunakan tangga. Padahal lift berada tepat di samping apartemennya, sedangkan tangga terletak di ujung yang sebaliknya. Menurut Gaara, akan lebih menyeramkan menggunakan tangga karena melewati koridor panjang apartemen yang saat ini tidak berpenghuni. Tetapi kekhawatiran Gaara terkadang memicu pertengkaran kecil dengan Hinata.
"Oh, iya. Gaara-nii menyuruh Oneechan untuk menghubunginya setelah pemeriksaan nanti."
"Nggak mau," balas Hinata dengan tenangnya.
"Lho? Kenapa?"
Hinata menyeringai. "Pasti Gaara-san yang menghubungiku. Bahkan sebelum kita keluar dari ruangan dokter."
Hanabi melongo. "Masa?" tanyanya tak percaya.
"Mau taruhan?" tantang Hinata.
"Nggak, ah. Pasti aku yang kalah…"
Hinata menunjukkan senyum kemenangannya kepada Hanabi. Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa juga menang dari Hanabi.
"Gaara-san sedang apa, ya? Aku kangeeen…" gumam Hinata sambil memeluk bantalnya.
Hanabi jadi merona mendengar suara Hinata yang samar-samar itu. Kenapa jadi Hanabi yang merasa malu?
.
.
.
Hinata tersenyum saat menemukan Sai di balik pintu yang dibukanya.
"Suamimu sudah pulang?" tanya Sai setelah Hinata mempersilahkannya masuk.
"Belum," jawab Hinata seraya menduduki kursi di depan meja kerjanya.
"Bukankah sudah lima hari?"
"Iya, sih. Tapi, kalau pulang hari ini berarti memaksakan diri. Akan lebih baik jika Gaara-san pulangnya besok pagi."
Sai tersenyum karena melihat Hinata yang sepertinya tidak sabar menunggu kepulangan suaminya. Ia ikut bahagia ketika Hinata tersenyum senang.
"Bawa apa itu?" Hinata memusatkan perhatiannya pada kantung plastik berwarna putih yang ditenteng Sai. Sepertinya Sai baru saja belanja di swalayan 24 jam dekat apartemen Hinata.
"Pudding untukmu," jawab Sai dengan senyum yang setia menghiasi wajahnya. Ia meletakkan kantung itu di meja Hinata, kemudian duduk di kursi yang ada di seberang Hinata.
"Waaah… Sai-kun tahu saja kalau aku sedang ingin ngemil."
Mata Hinata berbinar saat melihat kantung yang berisi pudding dengan rasa kesukaannya. Ia mengambil satu cup pudding dan dengan tidak sabar memakannya.
"Hmm… enak sekali…"
"Makannya nanti saja sesudah makan malam." Sai hampir menenggelamkan matanya karena senyumnya semakin lebar. "Kamu kan harus menyelesaikan komikmu."
"Itu salah Sai-kun karena membawakanku pudding…"
Sai tertawa kecil karena melihat wajah Hinata yang seperti memelas. Hinata yang menjadi bahan tertawaan hanya memelototi Sai.
"Hanabi kemana?" tanya Sai setelah menghentikan tawanya.
"Keluar sebentar untuk menemui temannya," jawab Hinata sambil terus menyendokkan pudding ke mulutnya.
Hinata mendekatkan sendokan terakhir puddingnya ke mulut Sai, memberikan isyarat kepada Sai agar membuka mulutnya. Sai akhirnya menurut, tetapi Hinata malah menyuapkannya ke mulutnya sendiri. Hinata cekikikan karena berhasil menggoda Sai. Sai menyeringai—tanda kalau ia tidak akan tinggal diam.
"Puddingmu aku sita dulu."
Sai meletakkan satu kantung pudding yang dibawanya di meja dapur. Ia tahu kalau Hinata akan terlalu malas untuk mengambilnya. Senyum kemenangan terukir di wajahnya. Hinata hanya menghela nafas tanda menyerah. Akhirnya Hinata melanjutkan pekerjaannya. Sai kembali duduk dan memperhatikan sketsa yang dibuat Hinata, saat tangan Hinata menggerakkan pennya.
"Goresan gambarmu memang kasar, makanya yang jadi malah komik horror…" komentar Sai dengan setengah candaan.
"Anda benar."
Hinata dan Sai tertawa kecil setelahnya. Selain memaklumi Hanabi yang suka bicara ceplas-ceplos, Hinata juga mengerti kalau Sai suka berbicara blak-blakan. Mereka berdua bisa dikatakan hampir sama, menurut Hinata. Apa jadinya jika dua orang yang begitu 'jujur' disatukan?
"Aku mau mandi dulu. Sudah sore." Hinata berdiri dan meregangkan ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk.
"Ya," balas Sai sambil melihat-lihat hasil pekerjaan Hinata.
Hinata masuk ke kamar mandinya dengan perasaan was-was. Ia menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya.
Hinata sudah mulai santai setelah air shower menyentuh kulitnya. Ia menutup matanya untuk lebih menikmati setiap tetesan air yang mengguyur tubuhnya. Saat ia membuka matanya lagi, ia merasa ada yang aneh. Lampu di kamar mandi hidup dan mati secara terus-menerus. Jantungnya mulai memacu lebih cepat, dan tubuhnya mulai gemetaran.
Tidak mungkin lampunya rusak karena Gaara baru menggantinya beberapa hari sebelum dinas ke luar kota. Sai juga tidak mungkin mengerjainya karena sakelar lampu kamar mandi ada di dalamnya. Dengan cekatan, Hinata meraih jubah mandinya dan keluar setelah mengikatnya.
"Sai-kun…"
Sai menoleh dan terkejut karena melihat Hinata yang keluar kamar mandi hanya dengan balutan jubah mandinya yang berwarna putih. Setiap langkah kaki telanjang Hinata meninggalkan jejak air di lantai. Rambutnya masih basah, dan wajahnya juga basah—Sai yakin kalau bukan hanya karena air dari shower. Sai tahu kalau Hinata menangis. Sai segera berdiri dari duduknya dan mendekat pada Hinata.
"Kenapa?" tanya Sai lembut.
Hinata menghambur ke dada Sai. Sai bisa merasakan tubuh Hinata yang gemetaran.
"Aku diganggu di kamar mandi…" gumam Hinata di tengah isak tangisnya.
Hinata mengeratkan lingkaran tangannya karena ingin mendapatkan perasaan aman. Sai bisa merasakan kemejanya basah karena air mata, juga karena air dari rambut basah Hinata.
"Sai-kun percaya padaku, kan?"
"Aku selalu percaya padamu, Hinata."
Sai membalas pelukan Hinata. Bukan pelukan yang sama seperti saat statusnya menjadi kekasih Hinata, tetapi lebih mendekati kasih sayang kepada adik perempuannya. Sai sama sekali tidak memiliki niat buruk.
"Padahal yang suamiku adalah Gaara-san. Tapi, Gaara-san tidak percaya padaku. Gaara-san selalu menganggapku berhalusinasi…"
Sai bisa merasakan tangannya yang basah karena tetesan air dari rambut Hinata. Ia juga bisa merasakan pelukan Hinata yang semakin mengerat.
"Jangan tinggalkan aku, Sai-kun…"
"Iya," gumam Sai di telinga Hinata.
Sai mengelus punggung Hinata dengan lembut, dan sesekali ia berbisik di telinga Hinata; menggumamkan kata-kata yang ia harapkan bisa membuat Hinata merasa lebih tenang dan aman.
Saat pandangan Sai mengarah pada pintu apartemen, mendadak matanya membelalak. Kulit wajahnya yang putih terlihat lebih pucat. Kedua lengannya terkulai lemas di kedua sisi tubuhnya.
"Gaara…" gumam Sai.
Hinata yang mendengar gumaman Sai, merasa lebih takut daripada sebelumnya. Hinata perlahan melepaskan pelukannya dan menjauhkan diri dari Sai. Ia tidak berani untuk melihat ke arah pintu. Ia tidak ingin percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut Sai. Ia berharap Sai sedang mencoba untuk mengejutkannya atau mengerjainya.
Hinata seolah membeku. Dengan takut dan ragu, Hinata menoleh ke pintu apartemennya. Ia bisa melihat Gaara berdiri di sana dengan wajah dinginnya, dan mata yang menatap tajam padanya. Sejak kapan Gaara berada di sana? Apa saja yang sudah didengar oleh Gaara?
Hinata ingin bersuara untuk mengatakan sesuatu pada Gaara; mungkin semacam ucapan selamat datang? Tetapi tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya.
Apa yang harus dijelaskan Hinata ketika suaminya memergokinya sedang berpelukan dengan pria lain? Berpelukan dengan mantan kekasihnya…
.
.
.
Bersambung?
.
.
.
Tenbyo = memberi efek dengan titik.
Terima kasih kepada:
Nerazzuri, Merai Alixya Kudo, Shaniechan, OraRi HinaRa, Hina bee lover, Lollytha-chan, Illyasviel von hyuchiha, yuuaja, Moe chan, Zoroute, mayra gaara, kana seiran, Kingi. Dawn, Sanada, aguz vidiz namikaze, Dindahatake
.
.
.
Maaf dan Terima Kasih…
19 Januari 2011
CnC? RnR?
