Percayakah kalian akan keberadaan vampir?

Maksudku,

Bisakah kalian mempercayai kalau mereka benar-benar nyata di dunia ini?

Karena, aku masih tidak percaya kalau yang menjadi pacarku selama ini adalah seorang vampir tampan, dengan mata heterokromia miliknya. Tepat. Ia adalah Seijuro Akashi.

( ͝סּ ͜ʖ͡סּ)

Bunyi decitan sepatu di lantai membuat telingaku ngilu, berdiam diri disini selama berjam-jam. Pemuda bersurai merah yang sedari tadi bermain di tengah lapangan basket indoor, menepuk tangannya menandakan tanda istirahat.

Aku menghela nafas lega begitu mengetahuinya. "Oh yes, sebentar lagi pulang!" Seruku dengan suara kecil. Sangat kecil, sampai bisa dikatakan sebagai bisikan.

"Aku yakin benar, aku tidak mengatakan sebentar lagi kita pulang."

Bulu kudukku berdiri tegak seketika. Oh astaga, sejak kapan dia di belakangku? "Tapi, Sei-kun, aku lelah menunggumu latihan terus, tambah lagi telingaku sakit mendengar decitan-decitan sepatu kalian!" Rengekku, lalu membalikkan badanku kearahnya, sambil mengembungkan pipiku kesal. "Lagipula, Momo-chan, juga ijin, kenapa aku tidak boleh?"

"Aku memperbolehkanmu dengan alasan yang spesifik. Jadi bisa beri tahu alasan apa yang kau punya kali ini?"

"Pertama, a-"

"Kau tidak ikut ekstrakurikuler basket. Kedua, kau tidak kuat dengan decitan-decitan sepatu.

Ketiga, kau merasa bosan, melihat pemandangan yang monoton.

Alasan lain?"

Aku memanyunkan bibirku. "Itu sudah alasan spesifik! Kau bilang sendiri kan, orang lain, selain anggota ekstrakurikuler basket tidak boleh masuk!" Seruku, kesal.

"Sebenarnya, kau bukan orang lain, bagiku, melainkan-" belum sempat Sei menyelesaikan kalimatnya barusan, ia melihat pemuda raksasa bersurai ungu itu mencoba diam-diam mengambil snacknya, yang ditahan oleh Sei. "Atsushi, kau ambil sama dengan lari lima puluh kali lapangan."

"Ayolah~~~~ walaupun hanya satu, Aka-chin?"

"Tidak, sampai kita pulang, Atsushi."

Atsushi mengangguk malas. "Hai' hai'~" ujarnya, ringan.

Akashi menatapku kembali, sehabis berbicara dengan Atsushi barusan. "Sampai dimana kita tadi?"

Aku mengangkat bahuku ringan. "Sampai dimana kau mengatakan aku bukan orang lain, melainkan...?"

"Oh, itu. Kau bukan orang lain, melainkan-" mataku berbinar-binar, tak sabar menunggu jawaban Sei. Tapi, janganlah, berharap terlalu tinggi padanya, karena semua yang kau harapkan akan berakhir dengan sia-sia. Percayalah. "-asupan makananku sehari-hari."

Apa aku bilang?

( ͡° ͜ʖ ( ͡° ͜ʖ ( ͡° ͜ʖ ( ͡° ͜ʖ ͡°) ͜ʖ ͡°)ʖ ͡°)ʖ ͡°)

Kami berjalan pulang bersama-sama seperti biasa, dengan suasana yang tidak biasa. Kali ini, sengaja aku menjaga jarakku dengannya, sampai kita masuk ke dalam apartemen milik kami berdua.

Ya. Sei memang keturunan orang yang bisa dibilang sangat bercukupan. Tapi karena gen dari ayahnya yang memang keturunan vampir asli, membuat Sei menjadi vampir juga. Dikarenakan sang ayah tidak ingin, membuat sang ibu mengetahui hal serupa, maka ia menyuruh Sei mencari apartemen untuk tinggal, dan disinilah kita sekarang. Di apartemen kita berdua.

Aku menghempaskan diriku diatas sofa, dan tidur diatasnya. Membiarkan, badanku, relaks, masuk ke dalam spons-spons sofa yang empuknya luar biasa, sedangkan Sei masuk ke kamarnya.

Aku menutup mataku yang terasa berat dikarenakan faktor kecapaian, ditambah sofa yang empuk. Aku hampir tertidur lelap, namun gagal akibat aroma shampoo, Akashi yang khas menyeruak masuk ke hidungku.

Aroma mint yang segar membuat rasa kantukku hilang begitu saja. Masih dengan mata tertutup aku menggapai tanganku dan menemukan sehelai rambut yang masih basah sehabis mandi. Sontak aku langsung membuka mataku karena kaget. "Sei-kun!?"

Sei menatapku datar mengintimidasi. "Aku rasa aku menginginkannya sekarang. Kalau kau memperbolehkan tentu saja. Tapi, kau harus melakukannya kan? Karena perintahku absolut."

Ha? Aku bangun dan duduk dari tempatku sambil mengedipkan mataku, bingung. Ingin apa? ...oh. Aku menghela nafas berat. "Tapi Sei, kau baru saja melakukannya kemarin."

"Aku tahu."

"Lalu, kenapa sekarang lagi?"

"Karena aku ingin. Tidak boleh, kah?"

"...sedikit saja, ok?"

Sei masih menatapku datar. "Kau tidak berhak untuk mengatur raja, bukan?" ulasan senyum kecil terbentuk di bibirnya, yang ntah kenapa membuatku merinding.

Sei yang sedari tadi berdiri di ujung sofa maju untuk meraihku, lalu menempelkan bibirnya diatas bibirku.

Aku membelalakkan mataku kaget, urat-uratku serasa menegang. Detak jantungku berdentum kencang seakan-akan seseorang memainkan drum di dalamnya. Aku terbuai, untuk sekian kalinya. Aku terbuai oleh aromanya yang segar. Terbuai oleh bibirnya yang manis bercampur pedas oleh pasta giginya yang juga beraroma menthol.

Sekarang aku bertanya-tanya. Kenapa Sei begitu menyukai rasa mint?

Sei mendominasi kecupannya di bibirku, yang membuat tubuhku merinding bukan kepalang. Membuatku mengingat disaat pertama dan terakhir kali kami bertemu dan ia menciumku seperti sekarang ini.

Kami sering bertemu, dikarenakan Sei yang menjadi ketua osis, dan aku sebagai wakil ketua. Ia sering membuatku kesal setengah mati karena banyak memberiku tugas-tugas berat, sampai-sampai aku harus mengerjakannya sendiri di apartemen. Namun, suatu hari saat, disekolah hanya tersisa kami berdua, tiba-tiba ia menciumku, dan mengajakku menjadi pacarnya.

Yang menjadi sebuah misteri adalah-kenapa ia mau menjadi pacarku?

Tak lama kemudian, ia melepaskan tautannya di bibirku, dan melanjutkannya di pipi, lalu turun hingga ke leher. Helai-helai rambutnya terasa mengelitikku di bagian leher, membuat bulu kudukku berdiri.

Jujur saja, leherku tidak bisa disentuh oleh orang lain. Tapi, ntah kenapa kalau itu Sei, leherku sanggup menerimanya.

Detik selanjutnya, aku dapat merasakan gigi taring Sei, menusuk kulitku, paksa, dan menghisap darah dalam uratku. Uratku kaku, badanku terasa panas. Rasanya seakan-akan darahku diambil dokter untuk sampel darah, tapi perbedaannya adalah, kalau dokter mengambil darah melalui tangan, kalau Sei mengambil darah, lewat leher, yang rasanya sudah pasti sakit.

Aku menutup mataku, dengan tanganku yang meremas baju Sei, untuk menahan rasa sakit. "SEI-! CUKUP!" Erangku, tidak kuat.

Sei berhenti, dan melepaskan gigi taringnya dari leherku.

"Kau janji, tidak banyak-banyak kan!" Seruku, sambil menutup leherku yang tadi digigit olehnya.

"Aku yakin, aku tidak mengatakan hal serupa."

"-!" Aku ingin melontarkan sesuatu yang jelas berupa caci makian, tapi aku habis akal. Aku mengakui, kalau Sei memang tidak berjanji begitu.

Ia masih menatapku datar. "Terima kasih atas makanannya." Angguknya pelan. "Dan ciumannya."


whaaaa! maaf gue jarang online ;;;;;;;

update juga jaramg

bentar lagi un sih, gue pusing keras les setiap hari :(((( doain gue ya

nah ini maaf lama uploadnya, dan gue baru ada ide untuk Akashi.

next chap, kalian review minta Kuroko/Midorima, karena kemaren banyak yang minta mereka

maaf untuk yang Akashi juga seems ooc banget ;;;;;

dan sshhh, sebenarnya yang Vampire Boyfriend punya Murasaki itu salah doc. ada doc yg udah gue revisi, tapi udah keburu di upload. maaf ya DDD:

btw, gue tunggu reviewnya ya ;D

sekali lagi, maaf kalo akashi w ooc banget!

kkkkkkk rivaichin kkkkkkk